IMG-LOGO
Pustaka

Ta'limul Mubtadiin, Kitab Aqaid Sewidak Sekawan Karya Ulama Tegal

Rabu 4 Januari 2017 13:2 WIB
Bagikan:
Ta'limul Mubtadiin, Kitab Aqaid Sewidak Sekawan Karya Ulama Tegal
Kitab Ta’limul Mubtadi’in fi Aqa’idid Din ditulis KH Said bin Armiya, kia besar Nusantara dari Tegal Jawa Tengah (w 1395 H/ 1974 M). Kitab ini membahas kajian ilmu tauhid yang biasa dikenal dalam bahasa Jawa tentang Aqa’id Seket (red Akidah Lima Puluh). Namun dalam kitab ini ada pengembangan empat belas.

Kitab ini ditulis dengan huruf pegon atau aksara Arab yang digunakan untuk menuliskan bahasa Jawa dan kadang diselingi dengan bahasa Arab. Kitab ini dicetak Majelis Ta’lim wad Dakwah at-Tauhidiyah oleh Pondok Pesantren At-Tauhidiyah Cikura Bojong Tegal Jawa Tengah dengan tebal 103 halaman.

Sinopsis tesis yang dilakukan oleh Aripin tentang pengajaran ilmu tauhid di Pondok Pesantren At-Tauhidiyah Cikura Bojong Tegal menjelaskan bahwa kitab ini memiliki corak tauhid Asy’ariyah dengan mengkhususkan pada kajian pemikiran tokoh Imam Muhammad As-Sanusi yang mengemukakan konsep ‘aqaid lima puluh dalam pemahaman akidah. Namun pemikiran As-Sanusi dikembangkan oleh KH Said Armiya dalam kitabnya menjadi enam puluh empat (aqaid sewidak sekawan).

Kitab ini berjumlah dua jilid. Kitab ini dapat dilkasifikasikan menjadi tiga bagian, pertama ilmu tauhid khusus mempelajari ‘aqaid lima puluh (aqaid seket), yaitu 20 sifat wajib bagi Allah, 20 sifat mustahil bagi Allah, 1 sifat jaiz bagi Allah, 4 sifat wajib bagi rasul, 4 sifat mustahil bagi rasul, dan 1 sifat jaiz bagi rasul.

Sedangkan aqaid sewidak sekawan meliputi aqaid seket, di mana sifat jaiz bagi Allah dari jumlah satu menjadi sepuluh, sifat jaiz bagi rasul dari jumlah satu menjadi dua. Sehingga dijumlah menjadi 60. Kemudian semua itu ditambah rukun iman 4, yaitu iman kepada para nabi dan rasul, iman kepada para malaikat, iman kepada kitab-kitab Allah, dan iman kepada hari akhir. Jika ditotal, semuanya menjadi 64 aka’id.

Kedua, ilmu tauhid  tentang doktrin ma’rifat kepada Allah Swt yang hanya dapat diketahui dengan mengetahui sifat-sifat wajib, mustahil, dan jaiz Allah.

Sedangkan yang ketiga, ma’rifat kepada Allah harus mengetahui dalil-dalil tentang aqaid seket karena aqa'id seket tersebut merupakan penjabaran dua kalimat syahadat. Kitab itu menjelaskan bahwa mengetahui aqa'id sewidak sekawan hukumnya wajib secara syar’i. (Ahmad Rosyidi)

Tags:
Bagikan:
Senin 2 Januari 2017 12:30 WIB
Tashilul Masalik, Terjemah dan Syarah Alfiyyah Berbahasa Sunda
Tashilul Masalik, Terjemah dan Syarah Alfiyyah Berbahasa Sunda
Ini adalah halaman muka dari kitab “Tashîlul Masâlik” yang merupakan terjemah dan penjelasan (syarh) berbahasa Sunda atas nazham al-Khullâshah atau Alfiyyah Ibn Mâlik, puisi seribu bait yang menghimpun teori ilmu gramatika Arab secara lengkap dan sangat populer keberadaannya.

Pengarang kitab “Tashîlul Masâlik fî Syarh Alfiyyah Ibn Mâlik” yang berbahasa Sunda beraksara Arab (pegon) ini adalah Ajengan Muhammad Abdullah bin Hasan dari Kampung Kongsi, Caringin, Sukabumi. Saya mendapatkan kitab ini di perpustakaan keluarga di Mirat Majalengka, milik adik saya al-Fadhil A. Gumilar Irfanullah, yang merupakan koleksi beliau saat dulu belajar di Pesantren Bait al-Arqom, Bandung.

Dalam lembaran sejarah keilmuan Islam, kitab Alfiyyah Ibnu Mâlik demikian populer dan melegenda. Alfiyyah Ibnu Mâlik adalah salah satu pusaka dan referensi ilmu Nahwu-Sharaf (gramatika-morfologi Arab) yang paling pucuk. Pengarangnya, Ibnu Malik, dinobatkan sebagai Tâj ‘Ulamâ an-Nuhât, Mahkota Ulama Nahwu.

Semenjak masa ditulisnya hingga masa sekarang, kitab tersebut banyak dikaji dan dijadikan panduan utama di bidang kajian linguistik Arab, baik di Timur atau pun Barat. Di kalangan akademisi Barat, kitab ini terkenal dengan sebutan The Thousand Verses. Puluhan syarah (komentar atau penjelasan), hâsyiah (ulasan panjang, komentar atas komentar), dan ikhtishâr (ringkasan) telah lahir dari kitab berisi seribu bait nazmah (puisi) tersebut.

Nah, kitab Alfiyyah Ibnu Mâlik ini kemudian diterjemah dan disyarah dalam bahasa Sunda oleh Ajengan Muhammad Abdullah bin Hasan Kongsi (Sukabumi). Terjemah dan syarah ini terdiri dari dua volume (juz). Belum diketahui tahun berapa karya ini diselesaikan. Edisi pertama versi cetakan kitab ini dikeluarkan oleh “Maktabah Anda” Sukabumi (tanpa tahun), lalu dicetak ulang oleh “Maktabah al-Haram Carain” Jeddah-Singapura-Indonesia (juga tanpa tahun).

Tentang sosok penulis syarah ini, yaitu Ajengan Muhammad Abdullah bin Hasan, juga belum banyak saya dapatkan data dan informasinya. Pada kitab tersebut beliau menuliskan berasal dari Kampung Kongsi, Desa Caringin, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Tertulis dalam pembukaan kitab;

دترجمهكن كان بسا سوندا كوجلم أنو ضعيف تر بودو محمد عبد الله بن حسن أوراع كمفوع كوعسي ديسا جريعين كجامتن جي بداك كبوفتين سكابومي، كليان دعرانن اي ترجمة كو تسهيل المسالك في ترجمة ألفية ابن مالك

(Diterjemahkeun kana Basa Sunda ku jalma anu doip tur bodo Muhammad Abdullah bin Hasan urang kampong Kongsi, Desa Caringin, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi. Kalayan dingaranan ieu tarhamah ku “Tashil-ul Masalik fi Tarjamah Alfiyyah Ibnu Malik”).

Saat ini, Desa Caringin sudah menjadi kecamatan tersendiri yang merupakan pengembangan dari Kecamatan Cibadak. Saya pun mencoba menelusuri informasi keberadaan beliau dengan pergi ke Caringin, Sukabumi, yang juga kampung mertua saya.

Tak jauh dari Caringin, yaitu di Desa Babakan Tipar, Cicantayan, Sukabumi, ada sebuah pesantren salaf bernama “as-Salafiyah II”. Pengasuh pesantren ini, yaitu Ajengan KH Syihabuddin, adalah kawan dekat sang pensyarah. Diceritakan oleh istri beliau, bahwa Ajengan KH Syihabuddin dan Ajengan Muhammad Abdullah dulu sama-sama belajar di Pesantren Cibeureum, Sukabumi, pada KH Syuja’i.

KH Syuja’i Cibeureum adalah sosok yang terkenal sebagai pakar ilmu alat (nahwu) di Tatar Sunda. Salah satu kitab yang sering beliau bacakan dan ajarkan adalah Alfiyyah Ibnu Malik. Nah, keterangan yang diberikan oleh Ajengan KH Syuja’i itulah yang kemudian dirangkum oleh Ajengan Muhammad Abdullah dan dikembangkan menjadi “Tashîlul Masâlik fî Tarjamah wa Syarh Alfiyyah Ibn Mâlik” dalam Bahasa Sunda.

Selain merujuk dari keterangan KH Syuja’i Cibeureum, pensyarah juga merujuk pada kitab-kitab syarah Alfiyyah lainnya yang ditulis dalam bahasa Arab, seperti Syarah Ibn ‘Aqîl, Audhah al-Masâlik, Tanwir al-Hawalik, Dahlân Alfiyyah, Hasyiah al-Khudhari, dan lain sebagainya.

Ajengan Muhammad Abdullah termasuk sosok “santri kelana”. Beliau tidak menetap di satu tempat. Bahkan hingga usia “matang” pun beliau masih tetap belajar dari pesantren ke pesantren. Meski lahir dan besar di Kampung Kongsi, Caringin, Sukabumi, beliau pernah berkarir di Pesantren Babakan Tipar bersama KH Syihabuddin, lalu pindah ke Cisaat, lalu pindah lagi ke Cikidang. Di sanalah beliau sempat membuka pesantren hingga wafat.

Selain Ajengan Muhammad Abdullah Kongsi (Sukabumi), terdapat juga beberapa ulama Nusantara lainnya yang menulis teremah dan syarah atas nazham “Alfiyyah Ibn Mâlik”, di antaranya adalah KH Bisri Musthofa (Rembang, Jawa Tengah, ayahanda dari KH Musthofa Bisri atau Gus Mus), yang menerjemahkan dan mensyarah Alfiyyah dalam bahasa Jawa (beraksara Arab Pegon) dan diterbitkan oleh Penerbit Menara Kudus pada tahun 1960-an.

Terdapat pula KH Abul Fadhol (Senori, Tuban), yang menulis syarah Alfiyyah dalam bahasa Arab, berjudul “Tashîlul Masâlik fî Syarh Alfiyyah Ibn Mâlik”. Judul ini sama dengan yang dipakai oleh Ajengan Muhammad Abdullah Sukabumi. Syarah milik KH Abdul Fadhol Senori ditulis dalam bahasa Arab yang sangat bagus dan sempurna, juga dengan kulaitas syarah yang sangat luar biasa. Saat ini syarah tersebut dipelajari di beberapa pesantren di Jawa Tengah dan Jawa Timur, di antaranya adalah Pesantren Sarang Rembang (Jawa Tengah) dan Pesantren Mamba’us Sholihin Gresik (Jawa Timur). (A. Ginanjar Sya’ban)

Ahad 1 Januari 2017 18:34 WIB
Fathul Qadir, Metrologi Islam Nusantara Karya Kiai Jombang (1921)
Fathul Qadir, Metrologi Islam Nusantara Karya Kiai Jombang (1921)
Kitab Fathul Qadîr fî ‘Ajâibil Maqâdîr dikarang oleh KH Ma’shum Ali, ulama besar Nusantara dari Jombang, Jawa Timur (w. 1351 H/ 1933 M). Kitab ini membahas kajian ilmu ukur dan timbangan, atau yang juga disebut metrologi dan surveying (the science of measurement).

Kitab ini ditulis dalam bahasa Arab dan Melayu beraksara Arab (Jawi), dan kadang diselingi dengan bahasa Jawa. Dalam kolofon, disebutkan jika kitab ini diselesaikan pada tahun 1339 Hijri (1921 Masehi). Kitab ini lalu dicetak oleh Maktabah Salim Nabhan, Surabaya (tanpa tahun). Versi cetakan Nabhan, tebal kitab ini sebanyak 24 halaman.

Dalam ensiklopedi Wikipedia, disebutkan jika metrologi adalah disiplin ilmu yang mempelajari cara-cara pengukuran, kalibrasi dan akurasi di bidang industri, ilmu pengetahuan, dan teknologi. Ilmu ini erat kaitannya dengan satuan ukuran dan timbangan. Dalam tradisi Arab-Islam, bidang ini dikenal dengan terma “ilm al-maqâdîr wa al-maqâyîs wa al-masâhah”, yang erat kaitannya dengan “ilm al-jabr wa al-riyâdhiyyât” (ilmu hitung dan eksakta Islam).

Meski tipis, namun kitab ini secara ringkas merangkum pelbagai macam satuan ukuran dan timbangan dalam dalam enam pasal besar, yaitu (1) pasal tentang “al-Maqâyîs” (neraca hitung), (2) pasal tentang “Maqâdîr al-Khuthûth” (ukuran jarak), (3) pasal tentang “al-Suthûh” (satuan geodesi), (4) pasal tentang “Maqâdîr al-Ajsâm” (satuan ukur jarak dan berat benda), (5) pasal tentang “al-Awzân al-Jâwiyyah” (ukuran dalam tradisi Jawa), dan (6) pasal tentang “al-Awzân al-‘Arabiyyah” (ukuran dalam tradisi Arab).

Satuan ukur dan timbangan yang dikaji dalam kitab ini berasal dari tiga tradisi yang berbeda-beda, yaitu satuan ukuran dan timbangan dalam tradisi Arab-Islam, Barat, dan Jawa. Dalam kitab ini juga disebutkan panduan menyamakan (qiyâs) antar satuan ukuran dan timbangan dalam tiga tradisi yang berbeda itu.

Dalam tradisi Arab-Islam, misalnya, terdapat satuan ukuran “Shâ’”, “Qushbah”, “Qullah”, “Qîrâth”, “Farsakh”, dan lain-lain. Dalam tradisi Barat, terdapat ukuran “gram”, “meter”, “pound”, “mil”, “hektar”, dan lain-lain. Sementara, dalam tradisi Jawa, terdapat satuan ukuran luas seperti “Bahu”, “Kikil”, “Jengkal”, “Lupit”, “Kecrit”, “Idu”, dan lain-lain.

Sosok pengarang kitab ini, yaitu KH Ma’shum Ali Seblak (Jombang), terhitung sebagai sosok cendikiawan Islam Nusantara yang unik. Meski berasal dari latar belakang kalangan Islam Tradisional, namun beliau menguasai pelbagai macam ilmu pengetahuan eksakta secara mumpuni.

KH Ma’shum bin Ali bin Abdul Jabbar dilahirkan di Maskumambang, Gresik, pada tahun 1305 H (1887 M). Beliau adalah cucu dari KH Abdul Jabbar Maskumambang, sekaligus keponakan dari KH Faqih bin Abdul Jabbar Maskumambang. KH Ma’shum Ali juga menantu dari Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU).

Selain menulis dalam bidang metrologi dan surveying sebagaimana yang tertuang dalam “Fathul Qadîr fî ‘Ajâib al-Maqâdîr”, KH Ma’shum Ali juga menulis dua buah karya dalam bidang astronomi, yaitu “al-Durûs al-Falakiyyah” dan “Badâi’ al-Masâil”. Karya beliau lainnya adalah “al-Amtsilah al-Tashrîfiyyah” dalam bidang morfologi Arab (ilmu sharaf), yang sangat populer di kalangan para pengkaji gramatika Arab di Nusantara. (A. Ginanjar Sya’ban)

Jumat 23 Desember 2016 11:0 WIB
Membongkar Kerancuan Islam dan Islamisme
Membongkar Kerancuan Islam dan Islamisme
Islam dan Islamisme sampai saat ini terus menerus menjadi perhatian publik dunia, sehingga memicu lahirnya terminologi saintifik tentang studi ‘islamologi’. Yakni sebuah kajian Islam dengan kerangka ilmu sosial berbasis penelitian yang mengaitkan realitas keislaman dengan konflik internasional di dunia politik, seperti halnya Sovietologi era awal abad XX (Prakata, VII). Dengan demikian, Bassam Tibi mencoba membeberkan alas an-alasan argumentative-ilmiah dalam bingkai sains sosial tentang “Islam” dan “Islamisme” yang tidak boleh gebyah-uyah. Sebab menurutnya, ada suatu kontradiksi dalam peristilahan (contraditio in terminis) antara Islam dan Islamisme. Islam sebagai keyakinan dan Islamisme sebagai politik keagamaan; yang menggunakan simbol agama untuk tujuan politik.

Dalam buku setebal 302 halaman tersebut, Bassam Tibi mengajak pembaca merefleksikan krisis Timur Tengah (meski tidak semua) yang gagal dalam membangun sebuah Negara atau tatanan paska kolonialisme yang melanda negeri para bangsa arab tersebut, sehingga merancukan term “Islam” dan “Islamisme”. Istilah ‘arab’ bermaksud membatasi dan sekaligus menghubungkan pesimisme yang terkoneksi dengan peristiwa perang  enam hari bangsa arab (Mesir, Yordania, dan Suriyah) dengan Israel (1967). Kekalahan tersebut menciptakan krisis legitimasi di dunia Arab, menandai awal runtuhnya sekulerisme dan bersamaan dengan munculnya politik yang diagamaisasikan dari islamisme (halaman 56-57).

Paham Islamisme kemudian diproduksi, dikembangkan, dipropagandakan dan disistematiskan pertama kali dengan istilah “harbu al-afkar”. Istilah harbu al-afkar atau perang pemikiran merupakan perwujudan konsep jihad yang dikobarkan oleh Sayyid Qutb dan Hasan al Bana dalam perseteruan kosmik iman/islam (muslim atau dia dan kelompoknya) denga kufr (Yahudi dan semua yang tidak sejalan dengan Qutb kawan-kawanya). Perang abadi antara mu’min dan kaafir oleh Qutb, kata Bassam Tibi, dalam kitab Hasan Al Bana Risalatul Jihad dan Sayyid Qutb Ma’rakatuna Ma’al Yahud (pertarungan kita dengan kaum yahudi). Sikap ini selain atas nama agama (diagamakan), juga bagian dari adanya dugaan pengecohan ummat muslim dalam keadaan dunia-politik dengan penctraan “islam yang dikepung”.

Kerangka perang (anti semitisme dalam studi barat) ini diperkuat oleh gagasan tentang ghozwul fikr (invasi intelektual) atas dunia Islam, diduga dihasut oleh orang-orang Yahudi (dalam konsep terbaru Yahudi mendompleng Barat dan juga kaum Salibiyun) halaman 80, 76, 85. Agenda penting (utama atau inti) dari gerakan-gerakan Islamisme yang disampaikan dalam buku tersebut, hemat penulis, ada enam.

Pertama, ialah Hakimiyyat Allah (pemerintahan tuhan). Asumsi utama ideologi islamis (islamisme) adalah bahwa hanya Allah, bukan manusia yang berhak memerintah dunia (halaman 137). Lawan dari ide ini adalah ide demokrasi yang dikembangkan (dipromosiskan) oleh Barat, yang menekankan “kedaulatan rakyat”, sebagaimana dalam konstitusi UUD 1945 Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sebab, menurut Islamisme, apa yang sekarang dikenal dengan azmat aldemokratiyyah (krisis demokrasi di dunia arab) dikarenakan para penduduknya tidak menggunakan hukum Allah.

Kedua, Din Wa Daulah (kesatuan antara agama dan Negara). Artinya, ketika para islamisme berbicara tentang din wa daulah agama bersatu dengan tatanan Negara, mereka menerapkan suatu ide al hall al-islam (solusi islam) bukan dalam arti demokrasi melainkan memperbarui tatanan politik yang ada dalam mengupayakan berdirinya negara syariah. Dan inilah ide utamanya, bukan kekerasan, yang merupakan cirri khas dan condition sine quo non dari Islamisme (halaman43). Hal ini sebagai sebuah bentuk perlawanan dan perang (konspirasi Yahudi dan Salibiyun) atau bentuk legitimasi kekerasan, tetapi juga untuk mengubah format jihad klasik: dari perang regular yang dilakoni oleh Negara Islam menjadi terror yang dilancarkan oleh para aktor islamis non- Negara (halaman 27, 291).

Ketiga, Nizom Islami (sistem/tatanan baru Islam). Nizom islam dimaksudkan untuk menjadi langkah pertama dalam proses bertahap. Hal yang membuat Islamisme menjadi isu global adalah bagian kedua dari visi ini: perluasan Negara islam untuk menciptakan sebuah tatanan dunia. Revolusi dunia yang diproklamasikan oleh islamis tidak hanya bertujuan untuk membuat tatanan politik dari Negara territorial, tetapi juga diarahkan menuju pembaharuan dunia. Islamisme mengubah mengubah universalisme Islam menjadi internasionalisme politik yang berusaha menggantikan tatanan sekuler yang ada dari Negara-bangsa yang berdaulat dengan satu ‘islam’(halaman, 44).

Keempat, ummah (komunitas). Inveted ummah (umat bentukan) atau meminjam istilah dari Benedict Anderson sebagai “kommunitas yang dibayangkan” (imagined community) bukanlah ummah seperti islam tradisional atau komunitas iman, tetapi gerakan politik yang anggotanya mendukung pemberlakuan hukum syariah secara ketat oleh Negara (halaman, 44). Kelima, Siyyadatul Islam (kepemimpinan islam). Bagian ini ditegaskan oleh Qutb dalam bukunya al-salam al-‘alami wa al-islam, kutib Bassam Tibi, “bahwa hanya dominasi islam yang dapat menjamin perdamaian dunia; untuk mencapainya, ia menganjurkan agar menafsirkan jihad sebagai “sebuah revolusi dunia komprehensif (internasionalisme politik islam) yang permanen dalam rangka membangun pemerintahan Allah demi menyelamatkan seluruh umat manusiai” (halaman 214).

Keenam, autentisistas islam (kemurnian Islam). ialah upaya prufikasi kontemporer yang merepresentasikan suatu reaksi balik terhadap proses (westernisasi), halaman 29. Sebagimana Daniel Bell katakana, the return of the sacred (kembalinya yang suci). The return of the sacred adalah kebangkitan program tertentu berdasarkan agama. Menurut Bassam Tibi, meski ada penampakan artifisial dari kebangkitan kembali agama, “kembalinya yang suci” bukanlah sebentuk “renaisans agama”, melainkan agama menerima suatu bentuk politis (halaman 2).

Keenam hal yang penulis ambil dari buku Bassam Tibi tersebut, merupakan manifesto politik Islamisme yang berbeda dengan Islam atau bisa dikatakan conditio sine quo non (syarat mutlak) identitas Islamisme. Bahkan, beliau berpendapat bahwa mereka (islamisme) itu paling tepat dipahami sebagai ideologi totalitarianisme religius, tidak seperti totalitarianisme pendahulunya, yaitu fasisme, komunisme yang sekuler. Disana juga banyak istilah-istilah penting yang menjadi bahasa-bahasa komunikasi Islamimisme, seperti tsaurah al ‘alamiyah (revolusi dunia), iIham (tipu daya), tadhhiyah (kurban) al-hulul al-mustauradah (solusi -solusi impor) dan lain sebagainya.

Dengan tidak mengurangi rasa hormat, pada bagian-bagian tertentu, Bassan Tibi agaknya mengeneralisir anasir-anasir islamisme di belahan Timur Tengah, seperti gerakan Hamas dan Fatah Palestine terhadap kolonialisme Israel, coup de etat di Ikhwanul Muslimin/ Hizbut Tahrir Mesir dan Libiya terhadap pemerintah tangan besi, ISIS di Suriyah dan Iraq, AKP di Turkey, Wahabi Arab Saudi dan lain-lainya. Ambisi neo-kapitalisme global kurang dilibatkan dalam analisis buku tersebut. Kesanya, Krisis Timur Tengan bersih dari campur tangan asing soal politik ekonomi, sebagaimana yang terjadi di Iraq, Libya.

Meski begitu, hemat penulis, buku hasil penelitian tiga dekade tersebut sangat membantu membuka cara pandang bahkan memperkuat pemahaman kita -sebagai warga NKRI mengutip istilah  Bassam Tibi buat Islam Indoensia (Nusantara) ialah Islam kewargaan (civil Islam) halaman135- tentang berbagai aksi teror, takfiri, khilafah, bid’ah dan key word yang selama ini kita kenal. Pada prakteknya, bentuk mereka ada yang institusionalisme (partai/parlemen) yang bermain dengan demokrasi seperti, amun ada pula yang jihadiisme dengan menggunakan jalur-jalur di luar intsitusional (non parlemen). Wallahu ‘alam

Identitas Buku:
Judul: Islam dan Islamisme
Penulis: Bassam Tibi
Penerjemah: Alfathri Adlin
Penerbit: Mizan Pustaka Bandung
Cetakan: I, Agustus 2016-12-23
Tebal: 302 halaman
Peresensi: Ali Makhrus, Kader GP Ansor-Banser Kabupaten Madiun.

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG