IMG-LOGO
Nasional

Gelar Munas, KMNU Bertekad Jadi Organisasi Dakwah Berwawasan Kebangsaan

Sabtu 21 Januari 2017 16:6 WIB
Bagikan:
Gelar Munas, KMNU Bertekad Jadi Organisasi Dakwah Berwawasan Kebangsaan
Semarang, NU Online
Musyawarah Nasional (Munas) Keluarga Nahdlotul Ulama (KMNU) Ke-3 telah resmi  dibuka. Munas  akan dilaksanakan selama 2 hari, Sabtu dan Ahad (20-21/1) di Pondok Pesantren Ash-Shodiqiyah Semarang, Jawa Tengah. Kegiatan dibuka secara resmi dengan pembukaan Maulid Simthudduror dari tim hadrah Kiai Galang Sewu

Peserta yang hadir dalam acara Munas KMNU berasal dari berbagai Kampus di Indonesia. Diantaranya  KMNU UNILA, KMNU UI, IMAN STAN, KMNU IPB, KMNU ITB, KMNU UPI, KMNU Unpad, KMNU Undip, KMNU UGM, KMNU UNY, KMNU UII, KMNU Unair, KMNU Unud, KMNU Unsoed, KMNU UIN SUKA, KMNU STIS, dan KMNU STKS. Bahkan juga dari KMNU Malaysia.

Tujuan Munas KMNU ini untuk melahirkan kembali organisasi yang berwawasan kebangsaan dan  regenerasi kepemimpinan kader muda KMNU yang tetap berpegang teguh memegang prinsip sesuai Khittah Nahdlatul Ulama. 

Ketua Panitia Muhammad Zainal Fathoni menyampaikan, KMNU diharapkan menjadi sebuah organisasi yang dewasa dan profesional. Ruh KMNU sendiri adalah silaturrahmi. “Maka tujuan akhir dari munas ini pun adalah semakin eratnya tali silaturrahim,” ujar Zainal.

Sementara itu, Presidium Nasional 1 KMNU Hasan Bisri menyampaikan bahwa KMNU berdiri secara sporadis. Tema yang diangkat dari Munas KMNU ini adalah organisasi dakwah santun berwawasan kebangsaan diterjemahkan dengan ranah KMNU. “Di mana KMNU harus bisa memproduksi pemimpin-pemimpin yang profesional sesuai bidangnya masing-masing,” ujarnya.

Pengasuh Pondok Pesantren Ash-Shodiqiyah KH Shidqon Prabowo menjelaskan, Indonesia membutuhkan orang-orang yang benar, tidak sekadar orang yang pintar. Diharapkan hasil dari Munas KMNU adalah melahirkan orang-orang yang pintar dan benar untuk mengurus bangsa dan negara. 

Dari PCNU Semarang, H Anashom mengatakan, KMNU dengan kiprahnya pasti akan mengisi Nahdlatul Ulama. Menghidupkan kota-kota di Indonesia agar tidak lepas dari karakternya yang sejarahnya dilahirkan oleh para wali dan aulia. 

Diharapkan mahasiswa tidak hanya idealis dari menara gading, melainkan harus bisa mengharumkan nama kampusnya di Indonesia dengan kompetensi yang positif. Indonesia membutuhkan generasi yang membawa visi dan misi yang bermanfaat untuk semua. 

KMNU sudah tercantum di dalam AD/ART Nahdlatul Ulama, maka perlulah KMNU berdiri tidak hanya di perguruan tinggi negeri melainkan juga di perguruan swasta. Latar belakang pendidikan dari santri KMNU sangat diharapkan di NU dan Indonesia, karena KMNU akan melahirkan pemimpin yang berlatar belakang pendidikan yang tercerahkan. 

“Kebaikan yang tidak terorganisir bisa dikalahkan oleh kebathilan yang terorganisir. Dengan hadirnya KMNU diharapkan Indonesia punya stok pemimpin yang tercerahkan dari kampusnya,” ujar Anashom.

Serangkaian pembukaan munas KMNU pun diadakan pengesahan calon KMNU perguruan tinggi yang sudah mengajukan dan melalui masa percobaan 6 bulan, yaitu KMNU STKS, KMNU UIN SUKA, KMNU Udayana, dan KMNU Unair. Rencananya, kegiatan Munas ini akan ditutup dengan Seminar yang akan dihadiri oleh KH Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus. (Abdul Wahab/Fathoni)

Bagikan:
Sabtu 21 Januari 2017 22:0 WIB
Banyak Negara Muslim Hancur karena Tak Cinta Tanah Air
Banyak Negara Muslim Hancur karena Tak Cinta Tanah Air
Dr Mahir Hasan Al-Munajjid (kiri).
Kudus, NU Online
Cendekiawan Muslim Suriah (Syiria) Dr Mahir Hasan Al-Munajjid menegaskan bahwa hubbul wathan atau cinta tanah air mempunyai peran penting. Hal itu bercermin terhadap tragedi kemanusiaan yang terjadi di negaranya sendiri.

Terkait cinta tanah air ini, ia tegaskan ketika mengisi Halaqah Quraniyah bertajuk Pesan Damai dan Cinta Tanah Air dalam Kajian Al Quran di Universitas Muria Kudus (UMK), Jumat (20/1).

Menurut pengajar qiraah di Jamiah Imam Syafii Cianjur, Jawa Barat itu, banyak Negara mayoritas beragama Islam hancur akibat ulah rakyatnya sendiri. Mereka, sebutnya, tidak mengenal hubbul wathan, cinta tanah air. 

Cinta tanah air, lanjutnya, dilakukan dengan cara setiap unsur masyarakat menjaga tanah air agar jangan sampai merusak dan merobohkan tanah airnya sendiri.

Abdullah bin Umar, paparnya, merupakan sosok yang mencintai tanah air. Meski Negaranya sedang gonjang-ganjing tetapi beliau tidak berontak. Maka, ketika kita mengalami masa pemerintahan yang dzalim sekalipun, tidak boleh serta merta khuruj, memerangi pemerintah. 

Dengan kudeta, Mahir meyakini akan terjadi kekacauan yang semakin besar. “Satu hakim yang fasiq akan memunculkan dharar yang besar,” jelasnya. 

Jika penguasa berusaha dilengserkan, maka yang lain akan main hakim sendiri. “Kita patuh dengan aturan pemerintah saja,” tegasnya. 

Itu yang diajarkan oleh Abdullah bin Umar. Di samping itu, urai Dr Mahir, cinta tanah air juga harus mengedepankan majelis ilmu. Duduk bersama saling berdiskusi untuk menuntaskan berbagai problem. 

“Tentu ialah ilmu yang bersumber dari Ulama. Karena konteks hubbul wathan adalah peran ilmu dan juga Ulama,” pungkas Dr Mahir. (Syaiful Mustaqim/Fathoni)

Sabtu 21 Januari 2017 20:0 WIB
Cendekiawan Muslim Suriah: Aswaja Representasi Islam Moderat
Cendekiawan Muslim Suriah: Aswaja Representasi Islam Moderat
Kudus, NU Online
Golongan Ahlus sunnah wal jamaah (Aswaja) merupakan representasi dari Islam moderat zaman dahulu dan sekarang. Hal itu dikatakan Dr Mahir Hasan Al Munajjid, Cendekiawan Muslim Syiria saat menyampaikan Halaqah Quraniyyah di Masjid Darul Ilmi Universitas Muria Kudus (UMK), Jumat (20/1). 

Dalam halaqah bertajuk Pesan Damai dan Cinta Tanah Air dalam Kajian Al-Qur'an itu Dr Mahir menyatakan lantaran golongan Aswaja ada di tengah-tengah sehingga tidak eksklusif dan kaku dalam menyikapi khilafiyah.

Dalam kegiatan yang diikuti oleh puluhan peserta itu, Dr Mahir yang juga dosen di Jamiah Imam Syafii Cianjur tersebut berbicara menggunakan bahasa Arab. Gus Nasih sebagai penerjemah sesi pertama sedangkan Dr. Faiz penerjemah sesi kedua.

Dosen kelahiran Syiria tahun 1971 itu membeberkan, kelompok Khawarij terdiri dari orang yang keras hatinya karena hidup di padang pasir. Alih-alih ketika salah satu kelompok ini mendatangi Rasul. 

Etika yang tidak digunakannya tidak sopan, sampai-sampai memegang kerah baju Nabi. Sehingga kelompok ini disebut qaswatul qalbi, keras hatinya. 

Masih menurut Mahir, sumber perpecahan ialah ketika sahabat Umar wafat. Ketika pintu fitnah terbuka mereka saling mengkafirkan dan menyesatkan. 

Doktor jebolan jamiah Umu Darman tahun 2011 itu menegaskan, jika ingin selamat tetaplah berpegang teguh kepada jamaah. Karena kebenaran itu menyertai jamaah (mayoritas). 

Dikatakannya di dalam al-Quran sudah dijelaskan agar mengikuti jamaatil muslimin. Begitu juga di hadits agar berpegang teguh kepada jamaah. “Jamaah adalah representasi kebenaran,” imbuh Dr Mahir. 

Orang-orang yang ada di luar lingkaran Aswaja tidak boleh asal dikafirkan. Karena sebagaimana yang diajarkan Nabi, sitirnya tidak boleh dikafirkan. Karena mereka juga sesama muslim. 

Sebagai kelompok mayoritas, pengikut Aswaja juga perlu waspada utamanya kelompok minoritas. “Mereka bekerja sama dengan dengan Negara luar untuk memberangus Aswaja dari muka bumi ini,” kata Mahir. (Syaiful Mustaqim/Fathoni)

Sabtu 21 Januari 2017 19:4 WIB
Wali Nyantri kepada Kiai Said (Bagian II)
Wali Nyantri kepada Kiai Said (Bagian II)
Kiai Said bersama personel Wali
Jakarta, NU Online 
Personel Wali Band, Aan Kurnia bertanya tentang arti ulama kepada Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj. Pertanyaan itu, menurut dia, tidak hanya pertanyaannya sendiri, tapi fansnya melalui Twitter dan grup Wathsapp. 


“Mohon maaf Pak Kiai, kami jangan dianggap selebritis. Kami santri Pak Kiai,” kata Aan yang akrab disapa Apoy yang ditemani personel lain, Farhan ZM atau Faank (vokalis), Ihsan Bustomi, dan Hamzah Shopi, serta manajemen Wali, di ruangan Kiai Said.

Kiai Said menjawab pertanyaan tersebut pada pertemuan di gedung PBNU, Jakarta (18/1) dalam rangka penjajakan pelibatan Wali pada program Ayo Mondok yang akan dilakukan Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMINU).

Menurut kiai asal Cirebon tersebut, ulama adalah orang yang ahli dalam ilmu agama. “Kerjaaannya para ulama itu ta’lim, menyampaikan ilmu agama, mengajari masyarakat agar paham agama. Kalau ada orang yang tiap hari ngamuk-ngamuk, bilang “kurang ajar”, apa itu ulama?” ujar pengasuh Pondok Pesantren Al-Tsaqafah, Ciganjur, Jakarta itu.  

Menurut Kiai Said, seorang ulama harus meniru apa yang dilakukan Nabi Muhammad ketika mendapatkan kemenangan, yaitu Fathu Mekkah. 

Ketika Nabi Muhammad masuk mekkah, sebagian sahabatnya ada yang menganggap bahwa hari itu adalah untuk membalas dendam kepada kafir Mekkah. Dendam itu dalam bentuk membunuh kepada orang yang telah melakukan pembunuhan kepada orang Muslim (qishas).

Namun, Nabi Muhammad tidak membenarkan anggapan sahabat tersebut. Hari itu, menurut Nabi adalah hari silaturahim umat Islam dengan penduduk Mekkah.

“Enggak, hari ini hari membangun silaturahim, semua penduduk Mekkah saya maafkan,” ungkap Kiai Said mengumpamakan perkataan Nabi Muhammad.

Sebelum kedatangan Nabi Muhammad ke Mekkah itu, lanjut Kiai Said, ada 15 penduduk Mekkah yang kabur karena ketakutan. Lima belas orang tersebut menyangka bahwa kaum Muslimin akan melakukan pembalasan. Di antara yang kabur tersebut Ikrimah, anaknya Abu Jahal. 

“Yang lari, dijemput, saya maafkan, saya maafkan,” lanjut Kiai Said, mengumpamakan ungkapan Nabi Muhammad. (Abdullah Alawi)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG