IMG-LOGO
Nasional

Adakah Kelompok Aswaja di Luar NU?

Selasa 24 Januari 2017 15:3 WIB
Bagikan:
Adakah Kelompok Aswaja di Luar NU?
Mojokerto, NU Online 
Buku Khazanah Aswaja dibedah di kampus Institut Pesantren KH Abdul Chalim (IKHAC) Pacet, Mojokerto, Jawa Timur. Buku itu dibedah tiga narasumber yaitu Ustadz Fathul Qadir dan Ustadz Yusuf Suharto. Keduanya adalah tim penulis buku itu. Sementara sebagai pembedah utama dan pembanding, adalah Pengurus Pusat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Dr. Rudolf. Acara ini dibuka oleh Dr. Sukadir, dekanat yang mewakili Rektor.
 
Di hadapan peserta, Yusuf Suharto yang tampil pertama, menyatakan, buku Khazanah Aswaja terdiri dari enam bab itu bisa menjadi buku pegangan para mahasiwa di perguruan tinggi NU maupun kampus berbasis pesantren.

"Buku ini terdiri dari enam bab dan ini seperti kebutuhan akan mata kuliah Aswaja yang di kampus NU dan juga di kampus IKHAC diterapkan selama enam semester," ujarnya diamini para narasumber pada bedah buku yang berlangsung pada Ahad (22/1).

Di buku ini, lanjutnya, ada bab tentang aliran dan kelompok di luar NU. Aliran klasik bukan bagian dari Aswaja yang disebut di buku ini antara lain Mu'tazilah, Syiah, dan Khawarij. Sementara itu ada kelompok-kelompok umat Islam yang juga dibahas di buku ini. Kelompok di luar NU ini ada yang Aswaja dan ada yang tidak.

Sementara Ustadz Fathul Qodir mengatakan, Aswaja itu salah satu cirinya adalah tidak mudah mengkafirkan dan tidak mudah membid'ahkan sesama umat Islam. 

“Karena untuk mengkategorikan itu harus pakai kaidah-kaidah, tidak bisa serampangan," ungkap tim penulis yang kerap muncul di TV 9.

Ustadz Rudolf mengapresiasi buku ini. "Buku ini enak dibaca. Ini saya rekomendasikan agar dibaca. Kalau bisa, jumlah oplah cetaknya diperbanyak sehingga semakin banyak orang yang bisa membacanya. Namun saya memberi masukan, agar tim 8 ini ditambah satu lagi menjadi tim 9," ujar pria yang mengaku sebagai Aswaja dari Jember ini.

Di akhir acara, Ustadz Fathul Qodir menyerukan kepada para peserta bedah buku untuk mantap dengan NU, sembari dikutipnya kata pengantar dari Rais 'Aam PBNU KH Ma'ruf Amin di buku ini.

"Hadirnya buku Khazanah Aswaja yang mengulas seluruh aspek Aswaja, sejarah, akidah, fikih, tasawuf, dan implementasinyadi lingkungan NU, secara konkret membuktikan konsistensi Aswaja NU Center PWNU Jatim dalam mengemban amanah ilmiah untuk menghadapi tantangan kekinian. Harapannya, kehadiran buku ini menjadi langkah strategis dan secara substansif dapat diserap oleh NU di seluruh level secara nasional, sesuai kondisi dan tantangan yang dihadapi," demikian kutipan sambutan Rais 'Aam. (Red: Abdullah Alawi)
 

Bagikan:
Selasa 24 Januari 2017 23:31 WIB
4 Perguruan Tinggi Negeri Resmi Bergabung KMNU
4 Perguruan Tinggi Negeri Resmi Bergabung KMNU
Semarang, NU Online
Salah satu agenda pada serangkaian acara Munas ke-3 KMNU adalah pengesahan calon anggota KMNU nasional dari sejumlah perguruan tinggi. Perguruan tinggi yang disahkan menjadi anggota KMNU di antaranya KMNU Unair, KMNU UIN SUKA, KMNU STKS, dan KMNU STIS.

Sebagai mana yang tercantum dalam SOP pendirian KMNU Perguruan Tinggi di bawah naungan KMNU, keempat perguruan tinggi negeri ini telah melalui 6 bulan masa percobaan. 

Miftahul Mujib, selaku Presidium Nasional 4 yang menggawangi kaderisasi dan perekrutan anggota KMNU, mengesahkan secara langsung keempat perguruan tinggin negeri tersebut. Masing-masing calon anggota KMNU diwakili oleh Ketua Pengurus menerima Surat Keputusan Presnas sebagai bukti telah disahkannya keanggotaan KMNU. 

Dengan bergabungnya keempat perguruan tinggi tersebut, kata Mujib, diharapkan KMNU semakin berkembang dan istiqomah dalam mendakwahkan Islam Ahlussunnah wal-Jama’ah an-Nahdliyah di seluruh penjuru negeri. 

Tak hanya itu, lanjutnya, KMNU juga diharapkan mampu menjaga para kader Nahdliyin yang tersebar di berbagai perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta. 

“Bangkitlah NU-ku, hijaulah kampusku, sejahteralah bangsaku,” pungkasnya. (el Naomiy/Abdullah Alawi)   
  

Selasa 24 Januari 2017 20:1 WIB
Kekerasan Atas Nama Agama, Ini Sikap Banser
Kekerasan Atas Nama Agama, Ini Sikap Banser
Kepala Satkornas Banser H Alfa Isnaeni
Jakarta, NU Online
Satuan Koordinasi Nasional Barisan Ansor Serbaguna (Satkornas Banser) meminta seluruh kader siaga dalam satu komando menjaga tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dari upaya segelintir orang yang menampilkan perilaku anarkis dengan mengatasnamakan agama.

"Kami telah mencermati dinamika sosial dan kebangsaan akhir-akhir ini. Masyarakat disuguhi tontonan kekerasan yang didalangi segelintir orang. Gangguan kecil itu harus segera ditangani," ujar Kepala Satkornas Banser H Alfa Isnaeni, di Jakarta, Selasa (24/1).

Banser sebagai bagian dari warga Indonesia, tergerak untuk mengambil sikap atas situasi yang memprihatinkan tersebut, mengingat aksi-aksi dimaksud telah memunculkan respon dan reaksi untuk melakukan perlawanan di berbagai daerah.

"Apa Islam agama marah? Apa Nabi Muhammad SAW berdakwah dengan marah? Islam disampaikan Nabi Muhammad dengan ramah. Maka wajar jika kita saksikan dakwah dengan kekerasan dan arogansi menimbulkan perlawanan seperti di Bali, Kalimantan Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Banten, NTB dan yang paling akhir di Bangka Belitung," paparnya.

Berkaitan dengan itu, imbuh Alfa, Banser mengajak kepada seluruh komponen bangsa yang masih mencintai Indonesia untuk bahu membahu menjaga tegaknya NKRI. 

"Banser meminta kepada negara segera bertindak tegas dan jangan sampai terlambat menangani hal tersebut karena membahayakan kelangsungan  kehidupan bernegara," kata dia lagi.

Terhadap keberadaan Front Pembela Islam (FPI) dan ormas-ormas sejenis yang melakukan ancaman dan tindakan kekerasan serta kerap menyatakan ujaran kebencian sebagai model gerakannya, Banser mengingatkan, negara jangan kalah.

"Segera ambil tindakan hukum tegas untuk menghindari terjadinya konflik horizontal. Adapun kepada seluruh jajaran Banser se-Indonesia, untuk tetap siaga dalam satu komando," demikian H Alfa Isnaeni. (Gatot Arifianto/Abdullah Alawi)

Selasa 24 Januari 2017 19:28 WIB
Cendekiawan Syiria: Amal Saleh dan Al-Qur'an Penolong di Akhirat
Cendekiawan Syiria: Amal Saleh dan Al-Qur'an Penolong di Akhirat
Dr. Mahir Hasan Almunajjid
Kudus, NU Online 
Bagi seorang Muslim, bisa membaca Al-Qur'an merupakan bagian dari nikmat (karunia) yang diberikan Allah SWT. Sebab, tak sedikit juga orang Islam yang tidak bisa membaca Al-Qur'an.

Cendekiawan muslim asal Syiria Dr. Mahir Hasan Al-Munajjid mengutarakan hal itu dalam Halaqah Qur'aniyyah yang diselenggarakan oleh Universitas Muria Kudus (UMK), Jumat (20/1).

''Bisa membaca Al-Qur'an merupakan nikmat yang luar biasa. Selain itu, Al-Qur'an juga membawa manfaat baik di dunia maupun di akhirat,'' ujar Dr. Mahir Hasan Al-Munajjid dalam halaqah yang digelar di aula masjid kampus UMK itu yang dikirim melalui siaran pers kepada NU Online.

Dia pun mengutip pernyataan Imam Syafi'i, bahwa siapa saja yang ingin meraih kebahagiaan di dunia, maka dengan Al-Qur'an. Barangsiapa yang ingin bahagia di akhirat, maka dengan Al-Qur'an. Dan barangsiapa yang ingin bahagia di dunia maupun akhirat, ya dengan Al-Qur'an.

''Al-Qur'an bersama amal salih, adalah penolong kita kelak setelah menemui kematian,'' tegasnya di hadapan sekitar seratus peserta halaqah yang terdiri atas pelajar, dosen, guru, hingga pengasuh pesantren.

Terkait hukum-hukum positif yang ada di Indonesia, dia melihat banyak yang untuk kemaslahatan (kebaikan) masyarakat meskipun tidak secara tegas mengambil sumber dari Al-Qur'an. ''Contohnya adalah Undang-Undang (UU) Lalu Lintas. UU ini adalah untuk kemaslahatan,'' tuturnya.

Sementara itu, terkait maqalah Al-Qur'an diturunkan dalam tujuh huruf (sab'atu ahruf), Dr. Mahir menilai bahwa yang dimaksud adalah tujuh dialek, sehingga kemudian dikenal ada qira'at sab'ah, bahkan ada qira'at asyrah.

''Namun ada dua syarat, siapa pun yang hendak mempelajari baik qira'at sab'ah maupun qira'at asyrah, pertama harus benar-benar menguasai satu qiraat terlebih dahulu dan menguasai kitab Syathibiyyah,'' jelasnya. (Red: Abdullah Alawi)
 

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG