IMG-LOGO
Fragmen

Sanad Kitab ‘Sahih Muslim’ KH Hasyim Asy’ari

Ahad 5 Februari 2017 15:0 WIB
Bagikan:
Sanad Kitab ‘Sahih Muslim’ KH Hasyim Asy’ari
Kitab Shahih Muslim adalah salah satu di antara 6 (enam) kitab hadits yang menjadi rujukan kaum muslimin. Ia adalah kitab dalam tingkatan kedua setelah Shahih Bukhari di tinjau dari segi kesahihannya. Kitab ini juga banyak dikaji di pesantren. Bisa sebagai pengajian rutin, dan bisa pula sebagai pengajian kilatan khusus dalam mengisi waktu liburan atau bulan puasa.

Berikut ini adalah sanad kitab Shahih Muslim ini dari KH Hasyim Asy’ari sampai pada penulis kitab:

1.    KH Hasyim Asy’ari
2.    Dari Syaikh Mahfud Termas.
3.    Dari Syaikh Muhammad Abu Bakar Syatha Al-Makki.
4.    Dari Sayyid Ahmad Zaini Dahlan
5.    Dari Syaikh Utsman bin Hasan Ad-Dimyathi
6.    Dari Syaikh Muhammad bin Ali As-Syinwani
7.    Dari Syaikh Isa bin Ahmad Al-Barawi
8.    Dari Syaikh Ahmad bin Abdil Fattah Al-Malawi
9.    Dari Syaikh Ibrahim bin Hasan Al-Kurdi
10.    Dari Syaikh Ahmad Muhammad Al-Qasyasyi
11.    Dari Syaikh As-Syams Muhammad bin Ahmad Ar-Ramli
12.    Dari Syaikh Zain Zakariya Muhammad Al-Anshari
13.    Dari Syaikh Abdirrahim bin Al-Furath
14.    Dari Syaikh Mahmud bin Khalafiyah Ad-Dimasyqi
15.    Dari Al-Hafidh Abdil Mu’min bin Khalaf Ad-Dimyati
16.    Dari Syaikh ABil Hasan Al-Muayyad bin Muhammad at-Thusi
17.    Dari Syaikh Abi Abdillah Muhammad bin Fadhil Al-Farawi
18.    Dari Syaikh Abdil Ghafir bin Muhammad Al-Farisi
19.    Dari Syaikh Abi Ahmad Muhammad Al-Juludi
20.    Dari Syaikh Ibrahim bin Muhammad bin Sufyan An-Naisaburi
21.    Dari Imam Al-Hafidh Abil Husain Muslim bin Hajjaj bin Muslim Al-Qusyairi An-Naisaburi (penyusun)

Radliyallahu Anhum Ajmaiin.
Alfatihah.

Sumber:
Kitab Kifayatul Mustafid lima 'ala minal Asanid karya Syaikh Mahfudh Termas

(Ahmad Nur Kholis)

Tags:
Bagikan:
Senin 30 Januari 2017 9:30 WIB
Pondok Pesantren dan Sanad Keilmuan Islam Nusantara
Pondok Pesantren dan Sanad Keilmuan Islam Nusantara
Pesantren Amanatul Ummah Pacet Mojokerto.
Pondok Pesantren dalam pendidikan Islam sejak zaman dahulu mempunyai peran signifikan. Belakangan ini di tengah tantangan global, sekurangnya pesantren mempunyai peran penting pada tiga hal.

Pertama, untuk pendidikan agama/akhlak (tafaqquh fiddin); kedua, penguatan agama dan bahasa Asing (modern); ketiga, persiapan kompetisi global dengan dunia Barat (Islam dan sains). 

Satu hal yang acapkali dilupakan orang tua atau wali para santri/peserta didik adalah sanad (jaringan) keilmuan dalam pendidikan (pembelajaran) Islam hingga sebuah pesantren itu masih tetap berdiri dan berlangsung. Tentu saja, hal itu hanya berlaku bagi pesantren yang berusia cukup tua.

Berkaitan dengan itu, penulis punya pengalaman menarik, yang penulis temukan pada saat ikut dalam rombongan kegiatan Anjangsana Islam Nusantara Program Pascasarjana Magister STAINU Jakarta pada 23-28 Januari 2016 di Pulau Jawa. 

Khususnya ketika silaturahim di beberapa pondok pesantren, yaitu di Kanzus Shalawat Pekalongan (Habib Luthfi), At-Taufiqy Wonopringgo Pekalongan (Kiai Taufiq), Kaliwungu Kendal (Kiai Dimyati Rois), Raudlatut Thalibin Rembang (Kiai Mustofa Bisri/Gus Mus), Al-Anwar Rembang (Kiai Maemun Zubair, Mbah Mun), Amanatul Ummah Pacet Mojokerto (Kiai Asep Saifuddin Chalim), Tebuireng (Gus Sholah) dan Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta (Kiai Nadjib Abdul Qadir).

Dari pesantren-pesantren di atas, semuanya mempunyai silsilah (sanad) keilmuan yang jelas dengan ulama-ulama di Nusantara, wabil khusus keterkaitannya dengan para pendiri Nahdlatul Ulama. Tulisan tangan atau naskah kuno juga menjadi bukti lain dari sanad keilmuan tersebut. 

Sebagai contoh salah satunya, pesantren Amanatul Ummah milik Kiai Asep Saifuddin Chalim. Sebelum mendirikan pesantren yang sangat modern dari sisi pengelolaan dan materi pendidikannya, Kiai Asep ini adalah salah satu putra Kiai Abdul Chalim Leuwimunding Majalengka, Jawa Barat, Kiai Chalim pernah nyantri dengan Hadlratussyekh Hasyim Asy’ari dan berguru kepada Kiai Wahab Hasbullah.

Pesantren Amanatul Ummah adalah di antara sedikit pesantren NU yang telah mendesain sejak awal untuk menyongsong peradaban pendidikan global dengan tetap pada tradisi NU, mulai dari Aswaja hingga keindonesiaan-nya. Tradisi tahqiq (filologis) juga dikenalkan sejak dini, hampir setiap hari oleh para pengasuhnya. 

Oleh karena itu, apabila para alumninya yang telah belajar di perguruan tinggi ternama di Indonesia seperti UGM, UI, UNDIP, UIN, maupun di Eropa, Amerika, Asia, Timur Tengah, dan negara-negara lain, sudah dapat dipastikan mempunyai jalur sanad keilmuana Islam Nusantara. Hal itu tidak perlu diragukan lagi.

Sanad keilmuan melalui pesantren semacam itu sangat penting saat ini di tengah budaya pragmatisme umat yang hanya belajar melalui google tanpa mau belajar langsung dengan para kiai atau guru yang mempunyai sanad keilmuan yang tersambung dengan Nabi Muhammad SAW. 

Di situlah salah satu pentingnya memilih pesantren yang mempunyai sanad keilmuan yang jelas, bukan semata-mata hanya untuk kepentingan kompetisi global, tetapi juga tafaqquh fiddin tetap dijaga.

Mahrus EL-Mawa, Wakil Ketua PP LP Ma'arif NU, Koordinator Diklat Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa) Jakarta.

Jumat 27 Januari 2017 9:2 WIB
Diplomasi Politik ala Subhan ZE
Diplomasi Politik ala Subhan ZE
Bagaimana memahami diplomasi politik Subhan ZE? Sebagai seorang ahli strategi dan penggerak, Subhan ZE menjadi catatan penting dalam sejarah Nahdlatul Ulama. Namun, tidak banyak kader yang memahami secara komprehensif alur sejarah hidup, kegelisahan, pemikiran, dan jaringan yang dibangun olehnya. 

Hingga kini, nama Subhan ZE terus terngiang dalam berbagai forum diskusi dan obrolan santai, namun tidak banyak yang memahami jurus politik dan strategi diplomasinya dalam mengawal negara dan menjaga Nahdlatul Ulama.

Subhan merupakan tokoh yang lahir pada 29 Januari 1929 di Kepanjen, Malang, Jawa Timur, serta besar di Kudus, Jawa Tengah. Dari penelusuran yang dilakukan penulis, tidak banyak keluarganya di Malang yang dapat diwawancarai terkait dengan sosok Subhan. Bahkan, warisan tanah dan harta benda dari Subhan ZE yang telah dihibahkan ke sebuah lembaga pendidikan, juga telah berganti yayasan. Nama Subhan sering disebut oleh aktifis muda NU, khususnya di PMII dan Ansor, namun tidak banyak yang memahami sepak terjangnya.

Semasa hidupnya, Subhan tidak lekang oleh kontroversi. Ia sering dicitrakan sebagai pemuda yang glamour, dengan jaringan perkawanan yang luas. Mobilitasnya ditopang oleh kekuatan ekonomi dan jaringan bisnis yang telah dibangunnya, yang menghantarkan Subhan sebagai sosok mandiri yang tangguh dan mampu bergerak dengan idealisme.

Meski sering dianggap melanggar batas etika kaum santri, Subhan ternyata disayang banyak kiai. Ia juga dianggap dekat dengan kiai-kiai nasional, karena seringnya silaturahmi dan keteguhan prinsipnya menjaga negara. Subhan disebut sebagai kadernya Kiai Asnawi Kudus, serta dekat dengan Kiai Ma'shum Lasem, Kiai Bisri Mustofa Rembang, Kiai As'ad Syamsul Arifin, serta Kiai Rifai Imam Puro (Mbah Liem) Klaten. Dengan para kiai, Subhan menempatkan diri sebagai santri, sebagai murid spiritual.

Dalam catatan As'ad Said Ali, Subhan ZE merupakan kader yang dididik oleh Kiai Asnawi. Di antara kader didikan Kiai Asnawi, yakni Kiai Turaikhan, Kiai Arwani dan beberapa tokoh penggerak dari kalangan santri (Pergolakan di Jantung Tradisi: NU yang Saya Amati, 2008). Jaringan pesantren di Kudus, merupakan basis pondasi bagi Subhan untuk membangun komunikasi dengan para kiai. Selain itu, pendidikan dan jaringan bisnis Subhan juga dimulai dari Kudus, yang membuatnya memiliki ikatan pertemanan yang kuat dengan tokoh-tokoh kunci di kawasan pantura.

Dukungan para kiai tampak ketika Subhan hendak dipecat dari PBNU, pada puncak perseteruan dengan Kiai Idham Chalid. Ketika hendak dipecat oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Subhan ZE dibela Mbah Ma'shum Lasem. Tentu saja, dukungan Kiai Ma'shum berdasar pada prinsip yang kuat, dengan wibawanya di antara para kiai membuat Subhan mendapatkan legitimasi.

Atas apa yang terjadi pada Subhan, Mbah Ma'shum mengungkapkan bahwa keputusan rapat Syuriah tidak bisa memecat tanpa melalui prosedur organisasi yang sah. Menurut Mbah Ma'shum, jika PBNU hendak memecat Subhan ZE, haruslah melalui mekanisme muktamar. Dalam membela Subhan, Mbah Ma'shum bukan satu-satunya kiai yang memiliki prinsip kuat seperti itu. Pandangannya diikuti oleh beberapa kiai lain, di antaranya Kiai Mahrus Ali (Lirboyo), Kiai Abdul Malik (Demak, anggota DPR dari Partai NU), serta KH Ali Ma'shum, menantu Kiai Munawwir pengasuh pesantren Krapyak Yogyakarta. Di sisi lain, beberapa pengurus cabang NU juga mendukung Subhan. Juga, sebagian besar berpendapat bahwa apa yang dilakukan Subhan, dengan segenap keglamourannya, dilakukan sebelum menjadi pengurus PBNU. Alasan pemecatan Subhan ZE sudah usang, dan terlihat sebagai kemarahan yang terlambat (Thomafi, Mbah Ma'shum Lasem, 2007: 159).

Selain dekat dengan para kiai, Subhan ZE juga mengkader anak-anak muda pesantren, yang kelak menjadi tulang punggung Nahdlatul Ulama. Di antaranya, Kiai Tolhah Hasan, yang pernah menjadi Menteri Agama Indonesia, pada 1999-2001. Kiai Tolhah juga menjadi Rektor Universitas Islam Malang (Unisma), hingga 1998. Kiai Tolhah juga menjadi Wakil Rais 'Am PBNU (2004).

Nasaruddin Umar, dalam Kiai Multitalenta: Sebuah Oase Spiritual KH Tolhah Hasan (2006: 151), menuliskan betapa sosok Subhan ZE sangat penting bagi Kiai Tolhah Hasan. Bagi kiai Tolhah, Subhan ZE merupakan guru politiknya, yang mengkader pergerakan, organisasi, dan perjuangan kebangsaan. Inilah yang membentuk mental tanggung dalam diri Kiai Tolhah, berkat sentuhan dan diskusi intensif dengan Subhan ZE. Subhan ZE merupakan guru politik bagi Kiai Tolhah Hasan. "Subhan ZE, tokoh NU yang dikenal cerdas, kaya dan berani, juga menjadi gurunya. Ketokohannya, diakui tidak hanya di kalangan NU, tapi telah menjadi tokoh nasional. Gagasan-gagasannya sangat brilliant." Bagi Kiai Tolhah, Subhan ZE sangat berkesan dalam membangun mental anak-anak muda, agar berani bergerak dan memperjuangkan prinsip.

Subhan berpengaruh tidak hanya di kalangan pesantren, namun juga berjejaring dengan generasi muda lintas agama dan organisasi. Dengan aktifis PMKRI, HMI, PMII dan GP Ansor, Subhan ZE menjadi referensi untuk mencari celah di tengah puncak kekuasaan Soekarno. Subhan bersama anak-anak muda, melawan komunisme. Di antara yang bergerak bersama Subhan ZE, adalah aktifis penting dari PMKRI: Harri Tjan SIlalahi (Tjan Tjoen Hok).

Harri Tjan lahir di Yogyakarta, pada 11 Februari 1934. Ia mengawali karir organisasi sebagai aktifis PMKRI. Di organisasi ini, ia menjadi Ketua pada periode 190-1961. Ia juga melalangbuana untuk menghadiri forum internasional di Jakarta, Praha dan Kanada, dalam prose pembebasan Irian Barat. Selain itu, ia juga turut mendirikan Pax Romana di Roma, Montevideo, dan Buenos Aires. Pada 1957, Harri Tjan dikirim ke Amerika untuk mempelajari dinamika perburuhan di St. Jon's College di Baltimore. Ia juga berkunjung ke Detroit, Amerika Serikat pada 1962, untuk menghadiri siding ISC (International Stundent Conference).

Nama Silalahi, merupakan pemberian suku adat di Batak, ketika ia berkujung bersama kawannya di daerah itu. Di tanah Batak, ia dianggap sebagai pengganti adik temannya yang hilang pada masa kecil, sehingga diberi marga Silalahi (Tim Setyautama, Tokoh-Tokoh Tionghoa di Indonesia, 2008: 434). Harri Tjan Silalahi merupakan teman Subhan ZE dalam isu perlawanan terhadap PKI. Ia terpilih sebagai sekjen Front Pancasila, sebuah organisasi anti komunis yang dikomando Subhan ZE. Pada tahun 1965, Harri Tjan menjadi anggota Partai Katolik. Dan, tahun 1967 ia menjadi Sekjen Partai Katolik. Pada 1975, Harri Tjan ikut dalam pemilihan umum, sebagai calon dari Partai Katolik, namun tidak terpilih. Kemudian, Harri Tjan berkiprah sebagai Direktur CSIS, serta menjadi Pembina Bakom PKB (Badan Komunikasi Penghayatan Kesatuan Bangsa) Pusat bersama Jusuf Wanandi (Liem Ban Kie).

Jaringan luas Subhan ZE dapat menjadi referensi anak-anak muda pesantren, yang memiliki passion di pergerakan politik. Subhan piawai membangun komunikasi dengan para kiai sepuh, sekaligus bergerak serentas menembus komunitas lintas agama-etnis. Memahami jurus-jurus politik dan seni diplomasinya, senantiasa membuka tirai misteri bagi sejarah panjang tokoh-tokoh penggerak Nahdlatul Ulama. (Munawir Aziz)
 

Penulis adalah Wakil Sekretaris LTN Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, bukunya bertema "Gus Dur & Jaringan Tionghoa Nusantara", dalam proses terbit(Komunikasi via email: moena.aziz@gmail.com) 

Selasa 24 Januari 2017 12:1 WIB
Jurus Debat Kiai Wahab Chasbullah
Jurus Debat Kiai Wahab Chasbullah
Dalam sejarah Nahdlatul Ulama, Kiai Wahab Chasbullah (1888-1971) merupakan tokoh debat dan diplomat yang piawai memainkan jurus politiknya. Kiai Wahab merupakan rujukan, bagaimana memainkan jurus politik dalam banyak laga, dengan memperhitungkan langkah taktis lawan sembari menyusun strategi. Langkah-langkah strategis Kiai Wahab dalam sejarah panjang perjuangan pesantren dan pendirian Nahdlatul Ulama, merupakan sejarah abadi bagaimana santri-kiai mengaktualisasi fiqh as-siyasah (fikih politik).

Kiai Wahab setidaknya menjadi maestro debat dalam tradisi pesantren. Beliau menguasai ragam ilmu fiqh, ushul fiqh, manthiq, tata bahasa Arab hingga dengan cerdik melakukan gerak politik yang dilandasi etika. Kiai Wahab selalu tampil pede dalam beragam laga tandang dengan lawan politiknya, juga selalu siap beradu argumentasi dengan para kiai sepuh. Kisah-kisah yang penulis temukan dari kiai-kiai sepuh maupun Gawagis penikmat humor, Kiai Wahab kalau berdebat sangat konsisten mempertahankan prinsip dan argumentasinya. Bahkan, sampai menggebrak meja menggunakan kaki.

Sebuah kisah yang disampaikan Gus Yahya Staquf, Kiai Wahab dan Kiai Bisri Syansuri berdebat tentang hukum drum band. Dalam perdebatan ini, Kiai Bisri menggebrak meja untuk mempertahankan prinsipnya. Kiai Wahab tidak mau kalah, beliau menggebrak meja menggunakan kaki! Peserta bahtsul masail tercengang, dan khawatir jika NU menjadi bubar hanya karena drum band. Namun, ketika jamuan makan, beliau berdua berebut untuk saling melayani. Sungguh etika debat yang luar biasa. Di luar panggung perhelatan, para pesilat akan saling menghormati. Di luar ruangan bahtsul masail, para kiai akan saling melayani dan melempar tawa.

Kiai Wahab Chasbullah merupakan tulang punggung pergerakan Nahdlatul Ulama. Bersama Hadratus Syaikh Hasyim Asy'ari dan Kiai Bisri Syansuri, Kiai Wahab menggerakkan roda organisasi dengan silaturahmi ke ribuan kiai dan pesantren di seluruh kawasan Nusantara. Selama berminggu-minggu, Kiai Wahab melakukan perjalanan untuk konsolidasi jaringan pesantren. Mengaktifkan kembali para kiai agar mau bergabung dalam jam'iyyah (organisasi), tidak sekedar terikat dalam jama'ah (komunitas).   

Indonesianis Greg Fealy menggambarkan peran penting Kiai Wahab Chasbullah, dalam jurnal Tashwirul Afkar, mengungkapkan betapa Kiai Wahab merupakan ahli dekat yang dihormati. "Wahab dicirikan secara menonjol dalam hal-hal sebagai berikut. Seorang ahli debat yang giat dan semangat, mahir memadukan diskusi serius mengenai prinsip hukum dengan anekdot jenaka atau kisah yang tepat dari kitab dan sejarah Islam. Meski mendukung usaha-usaha kalangan modernis dalam pembaruan bidang pendidikan dan sosial, dia menolak serangan mereka atas ortodoksi Sunni dan keutamaan Ulama" (1996: 10).

Kisah interaksi Kiai Wahab dengan kelompok Islam modernis, patut dicermati. Pada awalnya, Kiai Wahab berkawan baik dengan Mas Mansur, yang dianggap sebagai sahabatnya. Pada 1924, Mas Mansur bertemu dengan Kiai Wahab Chasbullah. Pertemuan keduanya, terjadi dalam forum sesama anggota Indonesische Studie Club, sebuah kelompok studi yang didirikan oleh dr. Soetomo di Surabaya pada Juli 1924. Kagum akan kekompakan yang ada dalam kelompok ini, kedua kiai muda ini pernah berselisih pendapat, bersepakat untuk mengadakan sebuah pertemuan yang bertujuan menggalang persatuan.

Namun, selanjutnya cita-cita keduanya untuk membentuk satu organisasi bersama, harus tenggelam karena perbedaan prinsip. Mas Mansur membentuk Mardi Santosa, sedangkan Kiai Wahab Chasbullah mendirikan Syubbanul Wathan. Pada periode selanjutnya, Syubbanul Wathan bermetamorfosis menjadi Angkatan Nahdlatul Oelama (ANO), yang kemudian menjadi Gerakan Pemuda Ansor.

Hubungan antara kelompok Islam modernis yang dimotori Mas Mansur dan kelompok Islam tradisionalis yang dikomando jaringan pesantren Kiai Wahab, mengalami dinamika ketegangan. Keretakan hubungan ini, di antaranya karena ketidakpuasan para ulama tradisional yang aspirasinya tidak terwakili. Ketika itu, utusan ulama yang berangkat ke Makkah adalah Mas Mansur (1896-1946) dan Tjokroaminoto (1882-1934). Keduanya mewakili delegasi MAHIS (Mu'tamar al-Alamul Islami far'ul Hindish Syarqiyyah), Kongres Islam Sedunia Cabang Hindia Timur (semula bernama Kongres al-Islam), untuk menghadiri Kongres Khilafah yang diprakarsai Raja Ibn Saud di Makkah pada 1 Juni 1926. Kisah ini, terdokumentasi dalam Kiai Haji Mas Mansur 1896-1946: Perjuangan dan Pemikiran (2005: 57).  

Padahal, Kiai Wahab juga terpilih sebagai salah satu dari tiga utusan umat Islam yang berangkat ke Makkah, tapi urung dikirim sebagai delegasi. Pada kongres al-Islam ke-4 dan ke-5, nama Kiai Wahab dimunculkan sebagai utusan resmi mewakili umat Islam Hindia Belanda. Akan tetapi, Kiai Wahab tidak lantas memusuhi tokoh-tokoh muslim dari kelompok modernis. Mereka tetap bergerak untuk melayani ummat, dengan membangun komunitas yang sesuai dengan visi masing-masing.

Kisah lain, Kiai Wahab juga berani berdebat dengan Charles Olke Van Der Plas (1891-1977). Sebagai utusan Hindia Belanda, Van Der Plas memiliki kedudukan sangat penting, dalam mengatur politik dan ekonomi Belanda di negeri jajahan. Van Der Plas juga pernah menjadi Gubernur Jawa Timur (1936-1941), serta pernah menjadi konsul Belanda di Jeddah. Perdebatan antara Kiai Wahab dan Van Der Plas, dalam bidang teologi yang merujuk pada keimanan terhadap Nabi Isa dan Muhammad. Singkat kisahnya, perdebatan ini dimenangi Kiai Wahab, dengan jurus diplomasi yang bersendi ilmu manthiq.

Dalam ilmu debat dan jurus diplomasi di komunitas santri, Kiai Wahab adalah Koentji. (Munawir Aziz)

Penulis adalah Wakil Sekretaris LTN Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, buku terbarunya bertema "Gus Dur & Jaringan Tionghoa Nusantara", dalam proses terbit. (Komunikasi via email: moena.aziz@gmail.com). 

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG