IMG-LOGO
Opini

Islam Nusantara dan Tuduhan Anti-Arab

Selasa 7 Februari 2017 12:5 WIB
Bagikan:
Islam Nusantara dan Tuduhan Anti-Arab
Oleh Nadirsyah Hosen

Salah satu kegagalan banyak pihak memahami diskursus Islam NUsantara adalah dengan nyinyir seolah-olah warga NU itu anti segala hal berbau Arab. Maka mereka nyinyir kalau melihat tulisan saya mengutip sejumlah kitab Tafsir berbahasa Arab. "Anti-Arab kok mengutip kitab berbahasa Arab!" kata mereka.

Di pesantren dan madrasah, warga NU biasa belajar bahasa Arab sejak kecil. Tidak mungkin kemudian kami anti dengan bahasa Arab. Banyak santri yang sangat ngelotok memahami grammatika bahasa Arab, bagaimana mungkin kemudian kami dituduh anti-Arab?

Mereka yang menuduh juga menyindir kalau warga NU selesai sholat tidak baca assalamu 'alaikum ke kanan-kiri karena diganti dengan selamat sore- selamat malam. Atau mereka menyindir kalau warga NU wafat akan dikafankan dengan kain batik, bukan kain kafan putih. Ini tentu tuduhan ngawur yang merefleksikan ketidakpahaman mereka mengenai gagasan Islam NUsantara.

Warga NU tahu ilmunya sehingga dalam soal budaya Nusantara mereka mengakomodasinya secara proporsional. Islam NUsantara bukan menabrak Syari'at tapi mengisi aplikasi penerapan Syari'at dengan mengkomodasi budaya. Dalam bahasa Ushul al-Fiqh ini disebut dengan: al-'Adah Muhakkamah (adat kebiasaan dijadikan panduan menetapkan hukum).

Begitu juga dengan kaidah: al-Ma'ruf 'urfan ka al-Masyrut Syartan (hal baik yg sudah dikenal secara kebiasaan diterima seperti halnya syarat) atau al-Tsabit bi al-dalalah al-'urf ka al-tsabit bi al-dalalah al-nash (yang ditetapkan dengan indikasi dari adat sama statusnya dengan yang ditetapkan berdasarkan petunjuk nash). Dan juga kaidah lainnya: Ma raahu al-muslimun hasanan fa huwa 'indallah hasan (apa yang dianggap baik oleh umat Islam maka di sisi Allah pun dianggap baik).

Semua kaidah ini sudah dipelajari bagaimana penerapannya di masyarakat Indonesia oleh para kiai Nahdlatul Ulama (NU). Itu sebabnya NU itu lentur, fleksibel tapi juga lurus. Dalam bahasa lain, NU itu tawazun, tasamuh, tawasuth dan i'tidal. Kalau cuma lurus saja, belum komplet NU-nya. Kalau cuma lentur saja, juga belum komplet ke-NU-annya.

Mau pakai baju batik atau blankon, sorban dan gamis, atau peci hitam - peci putih, shalat anda sama-sama sah. Islam NUsantara tidak akan menganggap hanya yang pakai batik dan peci hitam serta sarung yang sah shalatnya. Kami juga tidak akan menganggap hanya mereka yang pakai sorban dan gamis saja yang sah shalatnya. Selama shalatnya menutup aurat dan suci dari najis, maka pakaian apapun yang dianggap baik menurut adat setempat bisa dipakai untuk shalat.

Begitu juga ungkapan akhi-ukhti, bagi kami itu sederajat dengan panggilan mas atau mbak. Mau panggil istri anda dengan ummi atau mamah atau ibu atau panggilan mesranya lainnya, silakan saja. Tidak perlu anti-Arab, tapi juga tidak perlu memaksakan orang lain untuk seperti orang Arab. Jangan sampai semua istilah lokal dan bahasa daerah maupun bahasa Indonesia mau diganti dengan bahasa Arab biar terkesan lebih islami dan kemudian memaksa orang lain untuk mengikuti anda. Ini yang tidak bijak dan kurang proporsional.

Mau makan nasi kabuli silakan. Mau makan jengkol dan pete ya silakan. Islam NUsantara mengakomodasi semuanya. Kami warga NU belajar ilmu keislaman klasik dalam kitab berbahasa Arab tidak berarti kami harus lebih arab dari orang arab. Kami tetap warga Indonesia; bukan orang Arab. Islam di Jawa sama sah dan validnya dengan Islam di Madinah. Jangan kemudian ini dipelintir bahwa tidak perlu kita naik haji ke Arab. Bukan begitu. Zaman sekarang sayangnya banyak pelintiran model Jo**u.

Entahlah, kenapa masalah yang terang benderang seperti ini saja masih banyak pihak yang gagal paham (atau memang sengaja tidak mau paham) dan terus membenturkan Islam NUsantara dengan model penafsiran dan aplikasi Islam lainnya. Atau memang ada pihak yang akan bertepuk tangan melihat kita terus gontok-gontokkan? Na'udzubillah min dzalik.

Islam Arab yes.
Islam NUsantara yes.
dan Islam Australia juga yes.


* Penulis adalah khadim warga NU di Australia - New Zealand


Tags:
Bagikan:
Selasa 7 Februari 2017 6:0 WIB
Menyelamatkan Akar Rumput NU
Menyelamatkan Akar Rumput NU
Oleh Ahmad Yahya

Nahdlatul Ulama (NU) adalah organisasi Islam terbesar di Indonesia. Keberadaan atau eksistensi NU sampai saat ini tidak lepas dari grass root atau akar rumput NU (Jamaah). Boleh dikata basis akar rumput NU adalah basis yang sangat loyal menjaga dan memperjuangkan NU, serta memperkuat dan menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Paham Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) yang dipegang teguh oleh kultur NU di pedesaan ini memberi bukti bahwa paham Aswaja mampu menyeimbangkan rasa persaudaraan antara masyarakat dilingkungan sosial warga NU. Kultur NU seperti yasinan dan tahlil, sholawat, pengajian, dan lain-lain yang dilakukan warga NU harus tetap dilestarikan. Karena kegiatan tersebut merupakan mesin religi atau religi sosial yang mampu memperkuat persaudaraan di kalangan warga Nahdliyyin.

Tumbuh kembangnya arus informasi dan teknologi yang deras sudah tidak dapat dipungkiri, pengaruh masyarakat terhadap arus informasi ini bisa disikapi secara positif dan negatif. Sikap positif ini bisa kita maknai bahwa berkembangnya informasi dan teknologi mempercepat segala informasi sampai ke desa-desa, termasuk bisa dinikmati oleh seluruh warga NU untuk belajar dan mengembangkan diri.

Unsur negatif yang timbul dari arus informasi ini adalah banyaknya kejahatan yang bersumber dari elektronik dan komputer, termasuk kejahatan pencucian uang, kejahatan terorisme, banyaknya situs-situs porno serta kejahatan dunia maya yang membahayakan kader-kader muda NU.

Fakta terungkap hari ini adalah banyaknya informasi hoax sudah menyebar di kalangan akar rumput NU, ini bisa diartikan bahwa segala sumber informasi dan kecanggihan teknologi harus di waspadai secara bijak, jangan sampai informasi yang mengandung fitnah ini menimbulkan keresahan di kalangan Nahdliyyin.

Sebagai contoh berbagai fitnah dan hasutan yang dibaca di sosial media tidak luput menyasar para kiai, ulama, sesepuh dan pengurus di kalangan NU. Perang nyata serta menyelamatkan NU akar rumput dari berita-berita hoax harus segera dibendung. 

Lain lagi yang menyasar di akar rumput NU adalah sasaran empuk para elit politik untuk mendulang suara saat mendekati pemilihan kepala daerah; gubernur, bupati atau wali kota, untuk mendukung syahwat politik mereka untuk menjadi orang nomor 1 di daerah pemilihannya. 

Ini membuktikan bahwa akar rumput NU memiliki makna dan arti tersendiri di kalangan elit politik, jangan sampai akar rumput ini dijadikan alat serta obyek mobilisasi untuk memperjuangkan kepentingan pribadi bukan kepentingan masyarakat umum.

Strategi menyelamatkan akar rumput NU

Setiap organisasi mempunyai strategi untuk mengelola dan menjaga struktur dan elemen-elemen yang terlibat didalamnya. NU sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia pastinya mempunyai rencana strategis jangka panjang dan jangka pendek untuk mengelola dan menjaga setiap unsur yang terlibat di Nahdlatul Ulama. 

Salah satu unsur yang terlibat di tubuh NU adalah warga Nahdliyyin yang tersebar di seluruh wilayah Negara Indonesia, yang mempunyai komitmen untuk menjaga paham Ahlussunah wal Jamaah (Aswaja) dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). 

Menurut penulis, strategi menyelamatkan akar rumput NU dari berbagi sumber informasi hoax dan pemanfaat elit politik tertentu yaitu; Pertama, membangkitkan kesadaran masyarakat, khususnya Nahdliyyin agar lebif selektif menerima informasi dari sumber dan obyek apapun serta melawannya.

Kedua, bukti perlawanan tersebu adalah menyeimbangkan dengan berita dan tulisan-tulisan yang inspiratif dan membangun. Maka strategi kedua ini perlunya di lakukan pelatihan-pelatihan penulisan ilmiah secara nasional diseluruh jajaran struktural NU mulai dari pusat hingga ranting. Ini sebagai usaha untuk membekali dan membentengi kaum muda NU di bidang pengetahuan dan skill jurnalistik.

Ketiga, untuk membendung benturan dan perpecahan di kalangan NU akar rumput akibat perbedaan pandangan politik serta berita-berita hoax yang berujung fitnah dan permusuhan antar umat Islam, maka perlunya gerakan kegiatan positif secara seperti penyuluhan warga NU cerdas politik, cerdas hukum dan cerdas Informasi Tekhnologi (IT). 

Memang mewujudkan akar rumput NU cerdas hukum, cerdas politik, dan cerdas Informasi Tekhnologi (IT) bukanlah hal mudah. Menyelamatkan akar rumput NU adalah sebuah keniscayaan yang harus tetap dijalankan demi tegakknya NU dan keberlangsungan menjaga paham Ahlussunah wal Jamaah (Aswaja) dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Wallahu A’lam.

Penulis adalah Ketua Lembaga Ilmu Pengetahuan dan Sosial Masyarakat IMAN Institute, Pengagum Gus Dur, tinggal di Kota Semarang, Jawa Tengah.
Senin 6 Februari 2017 12:30 WIB
Mati Syahid dan Pemahaman Imporan
Mati Syahid dan Pemahaman Imporan
Oleh KH A Mustofa Bisri

Kesukaan meniru atau ‘mengimpor’ sesuatu dari luar negeri mungkin sudah menjadi bawaan setiap bangsa dari negeri berkembang; bukan khas bangsa kita saja. Pokoknya asal datang dari luar negeri. Seolah-olah semua yang dari luar negeri pasti hebat. Tapi barangkali karena terlalu lama dijajah, bangsa kita rasanya memang keterlaluan bila meniru dari bangsa luar. Sering hanya asal meniru; taklid buta, tanpa mempertimbangkan lebih jauh, termasuk kepatutannya dengan diri sendiri. Ingat, saat orang kita meniru mode pakaian, misalnya. Tidak peduli tubuh kerempeng atau gendut, pendek atau jangkung; semuanya memakai rok span atau celana cutbrai, meniru bintang atau peragawati luar negeri.

Pada waktu pak Harto dan orde barunya ingin membangun ekonomi, sepertinya juga asal meniru negara maju; tanpa melihat jatidiri bangsa ini sendiri yang pancasilais (Padahal waktu itu ada yang namanya P4). Maka, meski tanpa ‘kapital’, selama lebih 30 tahun negeri kita seperti negeri kapitalis dan akibatnya, bangsa kita pun bahkan sampai sekarang sulit untuk tidak disebut bangsa yang materialistis.

Nah, ketika ada tren baru dari luar negeri yang berkaitan dengan keagamaan pun banyak diantara kita yang taklid buta. Kalau taklid soal mode, madzhabnya Amerika dan Eropa; soal tari dan nyanyi banyak yang berkiblat ke India; maka dalam tren keagamaan ini, agaknya banyak yang bertaklid kepada madzhab Timur Tengah, Iran, atau Afghanistan.

Seperti pentaklidan tren baru dari luar negeri yang selalu dimulai dari kota dan baru kemudian menjalar ke desa-desa, demikian pula tren yang berkaitan dengan keagamaan ini. Seperti takjubnya sementara orang kota terhadap tren mode dari luar negeri --atau takjubnya sementara orang desa terhadap tren mode dari kota-- dan langsung mengikutinya, orang-orang Islam kota atau mereka yang punya persinggungan dengan luar negeri, agaknya juga banyak yang demikian. Mereka melihat dan takjub melihat keberagamaan yang dari luar negeri yang sama sekali lain dengan yang selama ini dianut orang-orang tua mereka disini. Maka, seperti halnya orang-orang yang mengikuti mode baru dari luar negeri, mereka ini pun bangga dengan model keberagamaan baru mereka. Termasuk kecenderungan merendahkan orang yang tidak mengikuti ‘tren baru’ mereka itu.

Karena taklid buta, karena asal meniru tanpa mempertimbangkan lebih jauh, sering kali lucu dan sekaligus memprihatinkan. Ambil contoh misalnya soal jihad. Ada beberapa orang yang hanya melihat perjuangan bangsa Palestina dan Afghanistan, misalnya, yang berjihad --seperti kita dulu ketika melawan kolonialis Belanda-- dengan segala cara; termasuk mengorbankan nyawa sendiri. Lalu mereka ikutan melawan musuhnya Palestina dan Afghanistan di sini dengan cara yang sama. Mereka lupa bahwa jihad seperti yang dilakukan dan diajarkan Rasulullah SAW ada aturan dan etikanya.

Orang Palestina yang melakukan bom bunuh diri untuk melawan kolonialis Israel, bila terbunuh bisa disebut syahid. Dalam hadits riwayat imam Ahmad dari Sa’ied Ibn Zaid, disebutkan bahwa orang yang terbunuh membela haknya atau keluarganya atau agamanya, adalah syahid. Orang yang mati syahid , seperti disebutkan dalam beberapa hadits, berhak mendapatkan enam anugerah: 1. Diampuni dosanya sejak tetes darahnya yang pertama; 2. Bisa melihat tempatnya di sorga; 3. Dihiasi dengan perhiasan iman; 4. Dikawinkan dengan bidadari; 5. Dijauhkan dari siksa kubur; 6. Dan aman dari kengerian Yaumil Faza’il akbar .

Tapi orang yang melakukan bom bunuh diri di Indonsia yang tidak sedang berperang melawan siapa-siapa dan mayoritas penduduknya beragama Islam, jelas namanya bunuh diri biasa yang dilarang oleh Allah SWT, ditambah tindakan kriminalitas luar biasa: membuat kerusakan. Banyak sekali ayat Al-Quran yang menunjukkan dilarangnya berbuat kerusakan di muka bumi. Dalam perang melawan orang-orang kafir sekali pun, ada batasan-batasannya; misalnya tidak boleh membunuh perempuan dan anak-anak, merusak lingkungan, dsb.

Allah berfirman: “Walaa taqtuluu anfusakum..” (Q. 4. An-Nisaa: 29). “Dan janganlah kamu membunuh dirimu..” Menurut para mufassir, larangan membunuh diri ini termasuk juga membunuh orang lain; karena membunuh orang lain termasuk membunuh diri sendiri, sebab umat merupakan satu kesatuan. Larangan ini sangat jelas sekali. Orang yang membunuh dirinya sendiri dan sekaligus orang-orang lain yang tidak berdosa, jelas sangat jauh untuk dapat disebut syahid? Sungguh keterlaluan mereka yang mencekokkan doktrin yang jelas-jelas bertentangan dengan ajaran Al-Quran dan sunnah Rasulullah SAW. Apalagi hanya karena taklid buta terhadap tren dari luar negeri . Dan sungguh naïf mereka yang –mengaku umat Muhammad-- dengan mudah terpikat hanya oleh iming-iming bidadari, hingga mengabaikan akal sehat dan tega menghancurkan nilai agung kemanusiaan yang ditegakkan Rasulullah SAW.

Wallahu a’lam.

* Tulisan ini diambil dari catatan KH A Mustofa Bisri (Gus Mus) di akun Facebook pribadinya yang diunggah 12 Oktober 2009. Penulis saat ini mengemban amanah sebagai mustasyar PBNU.

Senin 6 Februari 2017 8:30 WIB
Keindahan yang Hampir Hilang
Keindahan yang Hampir Hilang

Oleh Ahmad Naufa Khoirul Faizun

Membalas kesalahan adalah hak. Islam membenarkan. Jika kita dipukul, berhak memukul balik. Jika kita dirontokkan giginya, berhak membalasnya dengan hal yang sama. Jika ada satu nyawa dibunuh, berhak membunuh si pembunuh. Khusus dalam konteks Indonesia, ada konstitusi yang mesti ditaati.

Namun demikian, jika itu adalah suatu kebenaran, belum tentu suatu kebaikan. Jadi, tak hanya salah-benarnya, tetapi juga baik buruknya perlu dipertimbangkan.

Ketika kecil dan ngaji cerita kisah nabi-nabi dulu, saya diceritai kisah. Suatu ketika, seorang muslim dikejar sekelompok orang Yahudi yang hendak membunuhnya. Ia berlari menuju Rasulullah yang sedang duduk dan berkata, "Wahai Rasulullah, lindungilah aku! Mereka ingin membunuhku, padahal aku tidak bersalah!"

Kemudian orang tersebut bersembunyi untuk menyelamatkan diri.Tidak lama kemudian sekelompok orang bersenjata berteriak-teriak dengan marah mendatangi Rasulullah karena kehilangan jejak incarannya, "Apakah kamu melihat seseorang lewat sini?" tanya mereka.

Rasulullah berdiri dari duduknya dan berkata,"Sejak saya berdiri di sini dari tadi, saya tidak melihat orang lewat sini." Sekelompok orang bersenjata itu pun membubarkan diri. Akhirnya selamatlah nyawa orang yang sedang dicari untuk dibunuh. Cerita ini mirip dengan kisah Nabi Ibrahim ketika ditanya oleh ayahnya: siapa yang menghancurkan patung-patung ini. Beliau menjawab: berhala ini yang paling besar. Sebuah jawaban yang politis, filosofis, dan mantiq-is.

Saya hanya ingin mengatakan: itulah jawaban yang baik. Kebenaran belum tentu mengandung keindahan. Dan bisa juga disertai kebaikan. Para dosen bahasa Indonesia tentu tahu perbedaan bahasa yang baik dan benar. Keduanya beda, meski kadang menjadi satu dan dalam bentuk yang sama. Contoh: dengan bahasa baku, kita benar memakai bahasa, tetapi tidak baik jika untuk percakapan sehari-hari dengan teman. Akan kaku dan spaneng. Itulah, ada dimensi kebaikan, selain kebenaran.

Pun demikian dalam ajaran Islam. Alkisah, suatu ketika, Imam Syafi'i ditanya tentang suatu permasalahan, tapi beliau diam saja. Lalu seseorang berkata kepadanya, "Tidakkah kamu mau menjawab?" Imam Syafi'i berkata, "Sampai aku tahu apakah keutamaan ada dalam diam atau menjawab suatu pertanyaan." Dengan jawaban itu, bukan berarti Imam Syafi'i tak tahu jawaban, tetapi menimbang apakah fatwanya benar-benar memberi kemaslahatan. Jadi, tak sekadar dimensi kebenaran, tetapi juga kebaikan, yang menurut saya itu semua ada konteksnya, ruangnya dan tentu illat-nya.

Nah, di atas itu semua, masih ada satu lagi: dimensi keindahan. Memaafkan itu, selain adalah kebenaran, juga bernilai kebaikan, adalah suatu keindahan. Jika membalas itu hak, maka memaafkan adalah kemuliaan. Jika menolong orang jatuh dari motor itu bukan kewajiban, tetapi jika kita menolongnya, adalah kebaikan yang bernilai keindahan. Jika menteri atau anggota dewan memperjuangkan partai atau konstituennya adalah hak, tetapi memperjuangkan semuanya itu adalah keindahan, melampaui sekat. Ia pemimpin nasional.

Keindahan ada pada semua lini kehidupan.  Dalam sportivitas olah raga, seni, tradisi-budaya, lingkungan, relasi-sosial sampai spiritualitas-cinta dalam dunia tasawuf.

Dari berbagai profesi, intitusi, organisasi sampai media informasi, kini banyak yang hanya berebut benar, disertai menyalah-nyalahkan lawan. Dan penghancuran-penghancuran. Belum naik derajat kepada kebaikan, apalagi keindahan. Berita misalnya, mulai banyak yang tidak mempedulikan fakta dan kebenaran. Jika pun benar, ia belum tentu baik bagi si penyimak, masyarakat luas. Apalagi bernilai keindahan, ‘ibrah dan teladan.

Dan, salah satu bentuk keindahan di dunia ini adalah humor. Dari Gus Dur, Nasrudin Hoja dan Abu Nawas, sebaiknya mereka yang ototnya keluar hanya berbicara kebenaran, perlu belajar humor lebih dalam, agar kuat menghadapi kenyataan.

Intinya, salah satu solusi untuk Indonesia yang tegang ini adalah keindahan pada humor. Dengannya, kita bisa tertawa dan menertawakan keadaan: kakakakakakaka!  


Penulis adalah kader muda Nahdlatul Ulama

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG