IMG-LOGO
Trending Now:
Nasional

Agama Butuh Teknologi dan Teknologi Butuh Agama

Sabtu 11 Februari 2017 14:30 WIB
Bagikan:
Agama Butuh Teknologi dan Teknologi Butuh Agama
KH Maman Imanulhaq.
Jakarta, NU Online
Saat ini teknologi menjadi gaya hidup dan perburuan. Adapun media sosial menjadi fasilitas yang paling diminati publik untuk mengakses informasi dan berita terkini. 

Hal tersebut disampaikan Ketua Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LD PBNU) KH Maman Imanul Haq Faqih pada acara workshop yang diselenggarakan LDNU di lantai 8, Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Sabtu (11/2).

Mudahnya dalam mengakses informasi tersebut menjadi bahaya jika pengguna media sosial yang tidak punya landasan agama yang kuat. 

Hal tersebut ditandai dengan banyaknya komentar-komentar negatif yang bersliweran di media sosial.

“Teknologi dikuasai oleh orang yang tidak berilmu agama itu akan menghancurkan,” kata Pengasuh Ponpes Al-Mizan Jatiwangi, Majalengka ini.

Ia melanjutkan bahwa agama butuh teknologi untuk menyebarkan Nasrud Dakwah dan teknologi juga butuh etika agama agar tidak dipakai orang untuk mem-bully dan memfitnah. 

“Saya bilang berkali-kali agar jangan ada orang menggunakan mimbar dakwah menjadi mimbar fitnah. Kita harus memperkuat Ahlussunnah wal Jamaah, bukan Ahlulfitnah wal Jamaah,” tegasnya. (Husni Sahal/Fathoni)

Bagikan:
Sabtu 11 Februari 2017 19:3 WIB
Sastrawan: NU Mesti Bersihkan Image Islam “Keras”
Sastrawan: NU Mesti Bersihkan Image Islam “Keras”
Jakarta, NU Online 
Sastrawan Seno Gumira Ajidarma mengusulkan peran-peran yang harus dijalankan NU saat ini. Menurut dia, NU mesti mencegah, melawan, dan menjelaskan segala sesuatu yang sekarang ini membingungkan banyak orang. 

“Image Islam yang keras, saya kira bisa dibersihkan oleh NU,” katanya selepas menjadi narasumber Ngaji Film dan Sejarah dalam rangka peringatan harlah ke-91 NU yang berlangsung di gedung PBNU, Jakarta, Senin (30/1). 

NU, menurut dia, berpotensi melakukan itu asal punya asal menjadi policy (kebijakan). Serta bergerak dengan anggun, yaitu dengan intelektual, wawasan, konstruktif, lalu menjelaskan keislaman yang benar. Hal itu harus dilakukan NU agar orang tidak pesismis terhadap Islam. 

“Kalau yang ngomong orang NU kan menjadi sah. Kenapa? Karena dia orang yang mengerti agama. Dia harus bicara. Semua orang menunggu-nunggu kenapa intelektual Islam diam saja. Kenapa organisasi Islam diam saja. Menunggu-menunggu,” jelas pria yang dikenal sebagai wartawan, penulis, fotografer, dan kritikus film itu. 

Jika diam dan tak dijelaskan, lanjut penulis Nagabumi itu, berita bohong akan menjadi kebenaran. Kebenaran yang awalnya dari kebohongan tersebut, disebabkan tidak ada alternatif lain, orang atau bacaan yang menjelaskan tentang kebenaran. Oleh karena itu, NU harus masuk kepada media baru. 

“NU didirikan kan untuk syiar Islam. Sekarang medianya sudah ada untuk menggandakan itu, tidak tergantung satu juru bicara, tidak tergantung satu da’i-da’i berbakat. Capek kan kalau orang ngomong terus. Kita tunggu.”

Penulis Atas Nama Malam ini mengaku menunggu Islam sebagai wacana kecerdasan dan pembelaan terhadap yang lemah, termasuk yang lemah pikirannya. 

“Nah, policynya saya kilik-kilik nih, sudah waktunya, sebelum semua orang bertambah bodoh,” pungkas pria kelahiran Boston, Amerika Serikat, 19 Juni 1958. (Abdullah Alawi)




Sabtu 11 Februari 2017 17:0 WIB
Ketum PBNU: Beda dalam Pilkada itu Biasa, Justru Mencerdaskan
Ketum PBNU: Beda dalam Pilkada itu Biasa, Justru Mencerdaskan
Jakarta, NU Online
Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengajak kepada warga NU untuk aktif berpartisipasi dalam pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak pada 15 Februari 2017. Partisipasi ini dinilai penting untuk menentukan masa depan daerah selama lima tahun ke depan.

Tentang perbedaan pilihan calon pemimpin, ia mengimbau agar hal tersebut disikapi secara wajar. Justru, menurut Kiai Said, ragam aspirasi itu perlu sebagai proses pendidikan politik warga.

“Perbedaan pendapat itu yang membuat kita cerdas, kritis. Tapi tidak boleh kemudian saling menjatuhkan, apalagi fitnah,” ujarnya di Jakarta, Jumat (10/2).

Kiai asal Cirebon, Jawa Barat ini menilai, banyak orang luar atau pengamat yang melihat perbedaan di kalangan warga NU secara berlebihan karena tidak memahami disiplin berpikir pesantren yang biasa berselisih pendapat.

Kiai Said juga mengimbau kepada warga untuk hati-hati dengan politik uang. Ia mengingatkan bahwa yang lebih penting dari coblosan adalah hari-hari selanjutnya setelah pemimpin terpilih menunjukkan kinerjanya selama lima tahun mendatang.

Karena itu, katanya, para pemilik hak suara perlu mempertimbangkan masak-masak siapa figur terbaik yang layak memimpin. Pertimbangan itu harus dimulai sejak sebelum, ketika, dan sesudah mencoblos. “Pemilih yang ngawur akan memilih pemimpin yang keliru,” katanya. (Mahbib)



Sabtu 11 Februari 2017 16:0 WIB
Sejumlah Pimpinan Cabang Ikuti Lakut PP IPNU di Jatim
Sejumlah Pimpinan Cabang Ikuti Lakut PP IPNU di Jatim
Gresik, NU Online
Pimpinan Pusat IPNU terus maraton melakukan kaderisasi. Setelah melaksanakan Latihan Kader Utama (Lakut) di wilayah tiga Cirebon dan khusus pengurus pimpinan pusat, PP IPNU bersama PW IPNU Jawa Timur menggelar lakut wilayah pantura Jawa Timur. 

Kegiatan yang diikuti oleh PC IPNU Gresik, Lamongan, Tuban, Bojonegoro, dan Babat ini berlangsung selama empat hari, Kamis-Ahad (9-12/2).

Ketua PP IPNU Bidang Kaderisasi Dwi Syaifullah mengatakan, bahwa lakut Jawa Timur wilayah Pantura ini diselenggarakan guna menata kaderisasi.

“Lakut Jatim wilayah pantura ini bentuk ikhtiar kami dalam menata kaderisasi, setelah sukses kita selenggarakan di Jawa Barat wilayah tiga Cirebon. Ke depan, mohon doa dan kerjasamanya dalam perbaikan kaderisasi khususnya setelah ini akan kita fokuskan di luar Jawa,” ujarnya saat pembukaan di gedung Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama Suci, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik, Jumat (10/2).

Pada kesempatan lain, Wakil Ketua PW IPNU Jatim bidang kaderisasi Winarto Eka Wahyudi mengingatkan pentingnya kader IPNU dan IPPNU meneladani pendiri organisasi. Meskipun IPNU sebagai kaum sarungan, tapi pendiri IPNU KH Tolchah Manshur memberikan contoh semangat berpendidikan tinggi. Ia tercatat sebagai ahli hukum tata negara pertama Indonesia.

Lakut yang diikuti oleh 30 peserta ini dikawal oleh tim instruktur nasional, antara lain Wakil Ketua Umum PP IPNU Imam Fadli dan Wakil Sekretaris Umum PP IPNU Bidang Kaderisasi Abdullah Muhdi. 

Hadir pula Ketua PW IPNU Jawa Timur Haikal Atiq Zamzami dan beberapa pengurus pimpinan cabang sekitar, di antaranya Sidoarjo. (Syakir/Fathoni)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG