IMG-LOGO
Pustaka

Kontribusi Cina dalam Islamisasi Nusantara

Selasa 14 Februari 2017 9:30 WIB
Bagikan:
Kontribusi Cina dalam Islamisasi Nusantara
Proses penyebaran Islam di Nusantara telah melalui babakan sejarah yang sangat panjang. Perihal waktu yang menjadi permulaan tersebarnya agama yang pertama kali diperkenalkan di jazirah Arabia ini, para sarjana berbeda pendapat. Ada yang mengatakan sejak abad ke-7 M, yakni sejak permulaan perkembangan Islam di tanah kelahirannya, abad ke-12 M, dan seterusnya. Namun menurut Azyumardi Azra, proses laju islamisasi Nusantara yang paling cepat baru dimulai sejak abad ke-12 dan 16 M.

Dalam rentang abad ke-12 dan 16 M ini penyebaran Islam di Nusantara mulai terlihat. Sumanto Al Qurtuby yang secara khusus meneliti “islamisasi Nusantara” pada abad ke 15 dan 16 M mulai dari proses penyebarannya hingga agen-agennya menghasilkan kesimpulan yang sangat memukau. Menurutnya, islamisasi di dalam rentang waktu abad 15 dan 16 yang menjadi babakan pertama dan utama tersebarnya Islam secara luas dilakukan oleh “orang-orang Cina Muslim”.

Hasil penelitian Sumanto itu ditulis dalam bukunya yang berjudul “Arus Cina-Islam-Jawa: Peranan Tionghoa dalam Penyebaran Islam di Nusantara Abad 15 & 16” yang diterbitkan oleh penerbit buku-buku pemikiran progresif di Semarang, eLSA Press.

Dalam buku yang berasal dari tesisnya di program magister jurusan Sosiologi Agama Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga itu, secara apik dan teliti Sumanto menyajikan data-data yang sangat lengkap berkaitan dengan penyebaran Islam di Nusantara pada abad ke-15 dan 16 M. Tidak hanya menggunakan sumber-sumber lokal Nusantara seperti Babad Tanah Djawi, Babad Gresik, Babad Tuban, dan yang lainnya, ia juga mendapuk sumber-sumber lain yang berkaitan, seperti sumber-sumber Cina: Ying-yai Sheng-lan, Hsin-cha Sheng-lan, Ming Shi, dan lain-lain, sumber Portugis: Summa Oriental, sumber Arab: ‘Ajaibil Hindi, dan yang lainnya.

Selain menggunakan sumber-sumber tertulis di atas, karya intelektual NU yang kini menjadi pengajar Antropologi Budaya di King Fahd University of Petroleum and Minerals Arab Saudi, juga diperkuat dengan cerita lisan yang berkembang di masyarakat dan situs-situs sejarah seperti makam, masjid, keraton, dan peninggalan sejarah lainnya.

Dalam buku setebal 300 halaman, Sekretaris Jenderal Komunitas Nahdlatul Ulama Amerika dan Kanada itu mendedahkan bahwa keberhasilan islamisasi di Nusantara lebih banyak diperankan orang-orang Cina Muslim yang melakukan perlawatan ke Nusantara pada abad ke 15 dan 16 M, baik karena kepentingan ekonomi, politik, maupun murni untuk berdakwah (hal. 39).

Perjumpaan orang-orang Cina dengan penduduk Nusantara sendiri dimulai sejak awal abad ke 5 M, dua abad sebelum Islam datang di jazirah Arabia. Islam hadir pada abad ke-7 M dan langsung dikenal penduduk Cina pasca Nabi Muhammad wafat. Penyebaran Islam di Cina dimulai ketika Khalifah Utsman bin ‘Affan (644-656 M) mengirim delegasi ke Changan yang dipimpin Sa’ad bin Abi Waqqash yang oleh sumber Cina disebut dengan “utusan Tan-mai-mo-ni” atau dalam bahasa Arab disebut “utusan amirul mukminin” (hal. 56-57).

Bukti-bukti historis penyebaran Islam di Cina abad ke-7 ini antara lain dengan peninggalan Masjid Huaisheng di Kanton (Arab: Kanfu) yang dibangun pada tahun 627 M. Masjid ini menurut para sejarawan seusia dengan Masjid Haram di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah. Selain itu di Guangzhou Cina sendiri dipercaya terdapat makam Sa’ad bin Abi Waqqash yang hingga kini ramai diziarahi umat Islam (hal. xix, 56-57,).

Melalui penelusuran sejarah Islam di Cina, senior scholar di Middle East Institute National of Singapore ini, kemudian membuktikan penyebaran Islam di Nusantara yang disebarkan oleh orang-orang Cina Muslim yang melawat ke negeri ini. Para penyebar Islam di Jawa yang dikenal dengan “Walisongo” sebagian di antaranya adalah orang Cina, dan sebagian lain menikah dan dibantu orang-orang Cina. Pun dengan para raja di Jawa, banyak di antaranya yang orang Cina. Bahkan, Kerajaan Demak yang ditengarahi sebagai kerajaan Islam pertama di Nusantara adalah “rezim Cina” (hal. 243).

Perihal kontribusi Cina Muslim dalam penyebaran Islam di Nusantara ini berhasil didedah secara nyata oleh Sumanto Al Qurtuby, baik melalui penelusuran terhadap “teks-teks kuno” maupun situs-situs sejarah dan keterpengaruhan budaya atau yang disebutnya dengan “Sino-Javanese Muslim Culture”.

Pertanyaannya kemudian, kenapa masyarakat Muslim Indonesia lebih banyak yang meyakini peran orang-orang Arab dalam penyebaran Islam di Nusantara? Buku yang diberi kata pengantar oleh almarhum Prof. Dr. Nurcholish Madjid ini memberikan jawaban: karena sejak kedatangan penjajah Belanda ke Nusantara, orang-orang Cina selalu dijadikan “kambing hitam” atas segala kekacauan yang sebenarnya dilakukan para penjajah Belanda sendiri demi meraup keuntungan ekonomi dan politik (hal. 224-233).

Sedangkan keberadaan Arab-Muslim di Nusantara memiliki sejarah yang “mulus” tanpa ada narasi kekerasan di dalamnya, sehingga seakan-akan perannya dalam islamisasi sangat besar, padahal orang-orang Arab sendiri baru datang ke Nusantara pada akhir abad ke-18. Karena itu kontribusinya dalam penyebaran Islam di Nusantara dipertanyakan, alasannya antara lain watak Arab yang eksklusif, yakni tertutup dan tidak membuka diri untuk bersosialisasi dengan bangsa lain. Selain itu Arab Muslim juga selalu merasa superior, yakni sebagai “trah Islam tertinggi”. Dalam relasinya dengan non Arab, Arab Muslim selalu memposisikan dirinya sebagai “kelas superordinat”, sedangkan Nusantara Muslim berada di “kelas subordinat”. Relasi demikian menurut analisis penulis buku ini, tidak mungkin akan terjadi transformasi kultural dalam kehidupan masyarakat Islam Jawa (hal. 234-236).

‘Ala kulli hal, buku Arus Cina-Islam-Jawa menemukan relevansinya bagi masyarakat Indonesia saat ini yang sedang “demam keturunan Arab” dan mudah terprovokasi dengan isu-isu SARA yang terus direproduksi. Akhirnya, seperti dikatakan Ir Soekarno, bahwa “bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya”.


Data Buku

Judul Buku: Arus Cina-Islam-Jawa: Peranan Tionghoa dalam Penyebaran Islam di Nusantara Abad 15 & 16
Penulis: Sumanto Al Qurtuby
Penerbit: eLSA Press, Semarang
Cetakan: I, Januari 2017
Tebal : Iv + 300 Halaman
Peresensi: Siti Nur Halimah, Pemimpin Redaksi Majalah Justisia LPM Fakultas Syariah dan Hukum UIN Walisongo Semarang.


Tags:
Bagikan:
Senin 13 Februari 2017 11:0 WIB
Tuhan Maha Asyik
Tuhan Maha Asyik
Tuhan sangat asyik ketika Dia tidak kita kurung paksa dalam penamaan-penamaan dan pemaknaan-pemaknaan. Dia tak terdefinisikan, tan keno kinoyo ngopo. Dia tak terkmaknakan. Dia ada sebelum definisi dan makna ada. Tuhan itu anti mainstream. Tuhan itu Maha Asyik ketika kita men-taddaburi-Nya, bukan melogikakan-Nya. Dengan mencampakkan kesombongan dan taklid pada kerendahan hati. Ke manapun kita memandang, di situlah wajah Tuhan.

Sebagai bangsa berKetuhanan yang Maha Esa, saat berniat melakukan reformasi atau islah, ternyata kita melupakan yang paling --atau minimal termasuk yang paling-- pokok. Yaitu mereformasi pandangan kita tentang Tuhan. Ketika kepentingan duniawi  menguasai dan menyibukkan kita, berangsur-angsur Tuhan pun 'tersisih' dari perhatian kita. Kita merasa cukup sudah bertuhan hanya dengan doktrin yang kita dengar dari mulut ke mulut atau teks yang kita baca. 

Berpikir--seperti yang sering dianjurkanNya--jarang kita lakukan sebagai upaya lebih mengenalNya.  Banyak orang bertuhan tanpa mengenal Tuhan dan tanpa berusaha mengenalNya. Bahkan belakangan karena presepsi dan tingkah-laku mereka ini, Tuhan pun terkesankan 'Maha Menyusahkan' atau 'Maha Pemarah' dan agamaNya terkesankan sulit dan berat.

Dalam beriman membutuhkan cara berpikir, bertindak, bernalar yang santai. Tuhan Mahatahu dan Maha Rahim karena sifat Tuhan seperti itu dia tidak mengadili orang berdosa. Beriman dengan santai berarti beragama secara otentik  yakni  orang jujur dirinya dan Dia tidak memanipulasi keberagamaan yang hanya mencari untung dirinya sendiri. 

Beriman adalah belajar melihat realitas dunia bukan sisi gelap dan terang. Beriman memberi dirinya bagi terciptanya damai yang sejati. Keberimanan berarti membangun kesadaran. Membangun kesadaran keberagaman harus menjadi prioritas. Keberagamaan jangan sekadar berwajah kesalehan individual, tetapi juga sosial. 

Kaum beragama tidak boleh menghardik umat dari agama lain. Itulah wajah agama yang manusiawi karena berorientasi altruistik, bukan egoistik. Maka, tiap ibadah harus lebih dilandasi sikap hati yang tulus untuk memberi penghargaan terhadap martabat kemanusiaan.

Beriman berarti mencinta kehidupan karena kehidupan adalah rahim cinta. Dia memberikan dirinya bagi kebahagiaan sesama karena beriman secara sukarela bukan model paksaan. Agama sejati mengajak setiap orang berperilaku jujur dan mau mengampuni. Tuhan Maha Besar. Seorang beriman tidak bisa diukur dari panjangnya doa, dari hal-hal formalisme. Tuhan hanya menginginkan manusia selalu mencintai dengan kesadaran dan menghilangkan kecurigaan dan kebencian.

Buku Tuhan Maha Asyik menggambarkan konsep mengenal Tuhan secara menyeluruh (holistik), yang notebene membutuhkan pengkajian dan pemahaman mendalam, namun di buku ini di sajikan secara "renyah" dan mudah dimengerti dalam bentuk dialog kanak-kanak sehari-hari, dan kontekstual dengan kebudayaan masyarakat Indonesia, khususnya budaya spiritual. Lewat kisah-kisah singkat dan berbagai analogi yang mengena, buku ini mengajak kita meluaskan hati dan pemikiran untuk menampung ide tentang ketuhanan dan keagamaan yang lebih lapang, dan tentunya yang lebih asyik. 

Siapapun dan apa pun latar belakang paham keagamaannya, selama masih punya hati, akan mendapatkan pencerahan dalam pemahaman keagamaan dan akan memandang bahwa keberagaman dalam beragama adalah suatu keniscayaan yang sebetulnya mampu menciptakan keindahan dan harmoni dalam kehidupan dari buku ini. 

Buku yang asyik karena membicarakan "wajah Tuhan" dengan cara memuliakan Tuhan Yang Maha Asyik dan menyeret kita untuk menthawafi pengalaman Tuhan yang mengasyiki hamba-hamba-Nya.

Buku ini hadir di saat yang tepat, di saat bangsa ini dilanda dengan intoleransi, kebencian, syak wasangka antar sesama anak bangsa yang acapkali membajak 'Tuhan' untuk politik jangka pendek dan kepentingan golongan tertentu. Buku ini bisa menjadi cermin yang akan mengoreksi bahkan menampar sikap beragama kita. (Faried Wijdan)

Data buku:
Judul: Tuhan Maha Asyik
Penulis: Sujiwo Tejo dan Dr MN. Kamba
Penerbit: Imania
Terbit: Desember, 2016
ISBN: 9786027926295
Tebal: 245 halaman

Kamis 9 Februari 2017 21:0 WIB
Kisah Menarik dari Penjara Suci
Kisah Menarik dari Penjara Suci
“Kau punya uang Rp.5.000? Pokoknya aman, aku punya lapak (tempat) bagus, sunyi.” Ternyata temanku itu mau mengajak aku nyabu alias konsumsi narkoba. Pada saat itu, hatiku terketuk. Entah kenapa hatiku mengatakan aku harus pergi jauh, jauh sekali. Akhirnya terlintas di benakku sebuah ludah yang pernah kubuang dahulu, ‘pesantren’. Aku pun mengutarakannya kepada ayahku bahwa aku ingin masuk pesantren tapi harus jauh, di Jawa, tapi aku tidak tahu pesantren apa". 

Abu Dohak menceritakannya dengan bahasa yang cair dan mudah dipahami. Ia berasal dari Medan, yang kemudian menempuh pendidikan di sebuah pesantren di Jawa Timur, bahkan akhirnya ia meneruskan sampai kuliah di Hadralmaut, Yaman. Pesantren mampu mengubah hidupnya yang semula gelap menjadi terang.

Pangeran senja menyebut pesantren sebagai  ‘negeri seribu budaya’, bukan karena aneka ragam suku dan bangsa penduduknya saja, lebih dari itu, karena pesantren mengajarkan santrinya merangkai seribu keinginan, seribu mimpi, seribu keajaiban, seribu keistimewaan, seribu keindahan di mata manusia serta di sisi Allah (hal.75).

Sementara Siti Rumiatin mengungkapkan, momen istimewa ketika di pesantren ialah ketika ada acara besar seperti haul, PHBI, Muharram, Mauludan, Haflah Akhirussanah. Adapun momen yang paling menyaedihkan adalah ketika ia mengingat orangtua yang bekerja untuk menghidupinya di “penjara suci itu”, sedangkan ia merasa belum bisa bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu (hal.110).
Selain kisah tersebut, masih banyak kisah-kisah lainnya. Buku ini ditulis oleh 30 santri dari Pesantren Langitan Tubah dan Tebuireng Jombang. Ada suka dan duka, inspirasi dan motivasi, serta humor dan kenakalan kaum santri di dalamnya. 

Mereka bergabung dalam komunitas yang mereka dirikan bernama Pesantren Indonesia Menulis (PIM). Buku ini adalah karya perdana bersama mereka dan akan dilanjut karya-karya selanjutnya. Selain itu, mereka juga ingin mengajak pesantren-pesantren lainnya untuk bisa menulis dan menerbitkan buku. PIM siap membimbing pesantren mana pun yang ingin ditraining menulis. 

Berdasarkan data yang ada, kini di Indonesia telah berdiri lebih dari 25.785 pesantren dengan jumlah 3,65 juta santri. Rasanya sayang jika mereka hanya bergelut di pesantren tanpa berkarya dan dinikmati khalayak umum. 

Secara tidak langsung, buku yang diterbitan oleh Emir Devisi dari Penerbit Erlangga ini menjawab tudingan miring sebagian kalangan yang menyebut bahwa pesantren adalah biang teroris. Padahal pesantren sama sekali tidak mengajarkan hal itu. Terbukti dari kisah-kisah yang dituturkan jujur oleh para santri ini. 

Alhasil, buku ini sangat layak dibaca oleh semua lapisan masyarakat.  Bagi yang tidak kenal pesantren agar kenal dunia pesantren. Bagi yang pernah hidup di pesantren, buku ini bisa sebagai sarana nostalgia. Meski tidak dimungkiri, buku ini banyak istilah santri yang mungkin belum akrab di kalangan umum.

Data Buku
Judul : Kisah dari Bilik Pesantren
Penulis : Fathurrahman, Dkk.
Penerbit         : Emir, Erlangga, Jakarta
Cetakan : Januari 2017
Tebal : 176
ISBN : 978-602-09-3556-0
Kode buku : 808-204-010-0

Peresensi : Nida Husna, Mahasiswi Universitas Indraprasta PGRI (Unindra) Jakarta 
Senin 6 Februari 2017 17:1 WIB
Para Perempuan Teladan
Para Perempuan Teladan
Patron dalam kehidupan semestinya ada setiap manusia di bumi ini karena dengan adanya patron tersebut,kehidupan seseorang menjadi semakin terarah kemana ia harus melangkah lebih jauh. Di setiap peradaban, agama, lapisan masyarakat, mempunyai tokohnya masing-masing, demikian juga dalam Islam.

Teladan utama dan terutama dalam Islam tentunya adalah Nabi Muhammad SAW. Akan tetapi, perempuan-perempuan teladan dalam Islam, setidaknya ada empat: Asiyah isteri Fir'aun, Maryam binti Imran, Khadijah binti Khawalid, dan Fatimah Az-Zahro putri Nabi Muhammad SAW.

Asiyah binti Muzahim adalah isteri Fir'aun, seorang raja yang bengis di Mesir kuno. Asiyah memegang agama tauhid (monotheis). Saat itu, meskipun menjadi isteri Fir'aun yang karena kekadabburannya mengaku dirinya sebagai tuhan.

Menjadi isteri Fir'aun bukan berarti nyaman melaksanakan aktifitas sehari-hari dan beribadah. Meskipun Fir'aun mencintai Asiyah, namun untuk urusan ketuhanan, ia tetap keras kepala, sampai-sampai Asiyah harus menahan beratnya hantaman batu di bawah terik matahari atas interuksi Fir'aun kepada anak buahnya. Hal itu, membuat Asiyah meninggal dengan membawa kekuatan imannya, ia mati tersenyum. Akan tetapi, Fir'aun menganggapnya gila karena saat disiksa malah tersenyum. (hlm. 62-68)

Maryam binti Imran adalah wanita suci kelahiran Jerussalem, yang saat itu dikuasai kekaisaran Romawi. Maryam binti Imran adalah wanita teladan yang diabadikan kisahnya dalam Al-Qur'an. Dialah Ibunda Nabi Isa As. Wanita mulia yang tidak mempunyai suami tetapi memiliki anak. Dia dihamilkan langsung oleh Allah melalui perantara malaikat Jibril.

Memiliki anak tanpa suami bukanlah perkara mudah jika dihadapkan ke tengah-tengah masyarakat. Ia dituduh berbuat mesum dengan laki-laki, untung saja, Allah memberikan Irhas terhadap bayi mungil Nabi Isa As. Perpisahannya dengan Nabi Isa saat Nabi Isa diangkat oleh Allah ke langit membuat pilu hatinya, sebagai seorang ibu. Ujian terhadap Nabi Isa juga merupakan ujian terhadap bunda Maryam. (hlm. 259)

Khadijah binti Khawalid, istri pertama Rasulullah. Khadijah adalah orang pertama kali yang masuk Islam dan selalu mendukung Nabi Muhammad. dalam berdakwah. Wanita yang pernah dijuluki ratu mekkah karena keberhasilannya dalam berdagang itu menyerahkan seluruh kekayaannya terhadap sang Suami. Dia jugalah yang menenangkan kegelisahan Nabi saat awal-awal menerima wahyu.

Mendukung terhadap Nabi Muhammad SAW adalah pilihan dan keyakinan. Dikarenakan pilihannya itu, ia dijauh sahabat-sahabatnya. Saat melahirkan pun, tidak ada sahabatnya di sampingnya kecuali seorang pelayannya yang selalu setia terhadapnya. Akan tetapi, saat beliau hendak melahirkan Siti Fatimah, datang dari Surga perempuan-perempuan suci sebagai bidannya: Asiyah, Maryam, Sarah istri Nabi Ibrahim, dan Shafura istri Nabi Musa. (hlm. 157)

Menjelang hayatnya, Khadijah dalam kedaan kurus karena pemboikotan yang dilakukan oleh Kaum Quraish Mekkah. Akan tetapi, ia tetap tersenyum, terlebih di depan suami terkasihnya. Saya sangat terharu ketika membaca cerita menjelang kematian Siti Khadijah. Waktu itu, menjelang kematian Siti Khodijah, Rasulullah memasuki kamar Khadijah. Perlahan-lahan kepala Khatijah diangkat kepangkuan beliau. Air mata beliau, Rasulullah. mengalir, lalu Nabi bersabda, "Wahai Khadijah! Jibril datang menemuiku dan menyampaikan salam Allah kepadamu. Khadijah menjawab, "Allâhussalam waminhum salam wa 'alaikassalam wa ilaihi ya'udussalam wa 'ala jibril salam. Dalam balutan air mata, Khatijah tersenyum. Wanita hebat itu meninggal dunia. (hlm. 194)

Fatimah Az-Zahro, putri kesayangan Rasulullah dari hasil pernikahannya dengan Siti Khodijah. Dialah pelipur lara Rasulullah. Rasulullah pernah bersabda, "Fatimah adalah darah dagingku, apa yang menyusahkannya juga menyusahkanku dan apa yang mengganggunya juga menggangguku. (hlm. 116) 

Demikian juga Fatimah, ia juga sangat mencintai ayahnya. Kematian adalah kebahagiaan baginya asalkan ia bisa bersanding dengan ayahnya di Surga. Semenjak kepergian ayahnya, Fatimah selalu bersedih, kecantikannya memudar dan wajahnya selalu diliputi mendung. (hlm. 118)

Kisah empat perempuan teladan itu, dikisahkan dengan sangat apik oleh Ririn Astutiningrum. Daya tuang kepenulisan yang mengalir dan mengharukan bagi pembaca, alur ceritanya. Sangat menarik untuk dibaca.

Data buku:
Judul: Kuntum-Kuntum Surga: Tumbuh di Bumi, Mekar di Langit
Penulis: Ririn Astutiningrum
Penerbit: Mizania
Cetakan: I, 2016
Tebal: 274 halaman
ISBN: 978-602-418-035-5
Peresensi: Moh. Tamimi, mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Arab Institut Ilmu Keislaman Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep.

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG