IMG-LOGO
Nasional

Wali Nyantri kepada Kiai Said (Bagian IV)

Rabu 15 Februari 2017 9:2 WIB
Bagikan:
Wali Nyantri kepada Kiai Said (Bagian IV)
Kiai Said (bersorban) menyerahkan cendera mata yang diterima personel Wali Aan Kurnia (Apoy)
Jakarta, NU Online 
Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj membicarakan tentang bid’ah bersama para personel grup band Wali. Menurut Kiai Said, banyak bid’ah yang dilakukan umat Islam saat ini seperti ilmu tajwid, nahwu, sharaf, juga ilmu fiqih.

“Ilmu membaca Al-Qur'an, bid’ah itu, menulis Al-Qur’an, nahwu, sharaf, itu bid’ah,” katanya saat menerima manajer Wali dan personelnya yaitu Apoy yang ditemani Farhan ZM atau Faank (vokalis), Ihsan Bustomi, dan Hamzah Shopi, serta manajemen Wali, di ruangan Kiai Said, lantai tiga gedung PBNU, Jakarta, Rabu sore (18/1).


Seandainya sahabat Abu Bakar Ash-Shidiq dibangunkan dari kuburan sekarang, menurut Kiai Said, dia tidak akan mengerti ikhfa, idgham, dan iqlab. 

Abu bakar, tidak mengerti mubtada; khabar tidak mengerti,” lanjutnya. “Namun demikian, Abu Bakar mengerti dan bisa membaca Al-Qur’an dengan benar.” 


Menurut Kiai Said, sebab pada masa Abu Bakar, belum ada yang merumuskan ilmu tajwid, nahwu, sharaf, dan fiqih. Ulama-ulama yang lahir belakangan kemudian menciptakan ilmunya.

“Zaman Nabi tidak ada fiqih. Tapi kita meniru shalat Nabi, maka lahir ilmu fiqih,” kata kiai yang pernah nyantri di Kempek, Lirboyo dan Krapyak tersebut. 


Kiai Said melanjutkan, apa yang diperintahkan Allah dan Nabi harus dijalankan. Apa yang dilarang Allah dan Nabi harus dihindari. Namun, kalau tidak ada perintah dan larangan Allah dan Nabi, hal itu diserahkan kepada umat Islam. Jika baik menurut kesepatakan ulama, boleh dilakukan. 

Menurut Pengasuh Pondok Pesantren Al-Tsaqofah tersebut, shalat yang dilakukan umat Islam adalah ijma’ para ulama yang sampai kepada kita hari ini. Sebab, jika umat Islam menggali gerakan shalat dalam Al-Qur’an dan hadits tidak akan ditemukan. 

Makanya, lanjut dia, jika ada orang tidak mengaku taqlid dalam shalat itu adalah bohong. Sebab, dia tidak mungkin menggali dan mencari shalat dari Al-QUr’an. Dia pasti bisa shalat dengan baik karena belajar dari orang tua atau gurunya. Ujung-ujungnya akan belajar kepada imam mazhab dalam Islam secara berantai. (Abdullah Alawi)


Bagikan:
Rabu 15 Februari 2017 17:30 WIB
Pergunu Jatim Siapkan 9 Rekomendasi Jelang Rakernas
Pergunu Jatim Siapkan 9 Rekomendasi Jelang Rakernas
Jakarta, NU Online
Pimpinan Cabang Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) se-Jawa Timur telah bersepakat akan menyodorkan sembilan butir rekomendasi dalam Rapat Kerja Nasional Pergunu yang berlangsung pada 24-25 Februari mendatang.

Sembilan butir rekomendasi tersebut merupakan hasil rumusan dalam acara silaturahim yang dihadiri 23 PC Pergunu di Jawa Timur. Forum yang digelar 10-11 Februari 2016 di Situbondo, Jawa Timur ini juga menjadi ajang  saling berbagi pengalaman antarcabang.

“Rekomendasi tersebut akan diperjuangkan di forum Rakernas Pergunu (24-25 Februari) dan Konferwil Pergunu Jawa Timur yang rencananya akan digelar pada akhir maret 2017,” kata Ketua PC Pergunu Jombang Ahmad Faqih, dalam siaran pers, Rabu (15/2). Selain Pergunu Jombang, silaturahim tingkat provinsi tersebut juga diinisiasi PC Pergunu Kraksaan.

Berikut sembilan rekomendasi itu yang juga menjadi komitmen para pengurus PC Pergunu se-Jawa Timur:

Pertama, berkomitmen secara sungguh-sungguh untuk berjuang dan mengabdi kepada Nahdlatul Ulama melalui Pergunu.

Kedua, mengeratkan jalinan silaturrahim dan intensitas komunikasi antar-Pimpinan Cabang Pergunu untuk membangun sinergi dan penguatan kerja sama antarcabang Pergunu di Jawa Timur di bawah koordinasi PW Pergunu Jawa Timur.

Ketiga, mengusulkan kepada PBNU dan PWNU Jawa Timur untuk menerbitkan surat edaran yang berisi penegasan eksistensi Pergunu sebagai badan otonom berikut kejelasan tugas pokok dan fungsi  (tupoksi) Pergunu dengan LP Maarif NU, Muslimat NU, Fatayat NU serta banom lainnya yang juga memiliki bidang garapan pada bidang pendidikan.

Keempat, mendorong Pimpinan Pusat Pergunu dan Pimpinan Wilayah Pergunu Jawa Timur untuk melakukan akselerasi program pendampingan, penguatan, pembinaan dan konsolidasi kepada seluruh jajaran Pimpinan Cabang Pergunu di Jawa Timur.

Kelima, mendesak Pimpinan Pusat Pergunu dan Pimpinan Wilayah Pergunu Jawa Timur untuk melakukan program kaderisasi secara sistematis, massif, dan terstruktur guna membangun loyalitas dan militansi anggota.

Keenam, mendesak Pimpinan Pusat Pergunu dan Pimpinan Wilayah Pergunu Jawa Timur untuk menyusun serta menerbitkan pedoman organisasi dan administrasi (POA) Pergunu dengan memperhatihan secara sungguh-sungguh AD ART NU, peraturan-peraturan organisasi NU dan PD PRT Pergunu. 

Ketujuh, mendesak Pimpinan Pusat Pergunu dan Pimpinan Wilayah Pergunu Jawa Timur untuk segera melakukan revitalisasi system informasi dan mekanisme komunikasi organisasi utamanya kantor sekretariat, email, website Pergunu, jurnal Pergunu dan penyempurnaan sistem recruitmen keanggotaan serta aplikasi penerbitan kartu anggota Pergunu. 

Kedelapan, memohon dengan sungguh-sungguh kepada Pimpinan Pusat Pergunu dan Pimpinan Wilayah Pergunu Jawa Timur agar merumusan langkah-langkah dan program yang kongkrit guna membantu penyelesaian problem financial support (penggalian dana) yang dialami mayoritas Pimpinan Cabang Pergunu dalam rangka mewujudkan kemandirian finansial organisasi.

Kesembilan, memohon dengan sungguh-sungguh kepada Pimpinan Pusat Pergunu dan Pimpinan Wilayah Pergunu Jawa Timur agar bersedia “turun gunung” mendampingi Pimpinan Cabang Pergunu dalam membangun jaringan kerja (networking) dan menguatkan eksistensi institusi Pergunu di mata Pemerintah Daerah dan DPRD

Sembilan komitmen sekaligus rekomendasi ini ditandatangani oleh Ketua PC Pergunu Kraksaan KH Izzuddin dan Ketua PC Pergunu Jombang Ahmad Faqih atas nama 23 PC Pergunu di Jawa Timur yang hadir dalam silaturahim tersebut. (Mahbib)

Rabu 15 Februari 2017 17:1 WIB
Beda Pilihan di Pilkada, Rakyat Indonesia Tetap Bersaudara
Beda Pilihan di Pilkada, Rakyat Indonesia Tetap Bersaudara
Ketua Lakpesdam PBNU, H Rumadi Ahmad.
Jakarta, NU Online
Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak tahun 2017 yang dilaksanakan Rabu (15/2/2017) cukup menguras tenaga dan pikiran masyarakat Indonesia lewat munculnya berbagai polemik dan perdebatan, khususnya perhelatan Pilkada di DKI Jakarta.

Namun, menurut Ketua Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU H Rumadi Ahmad, walaupun berbeda pilihan, masyarakat Indonesia tetap bersaudara. Prinsip ini penting untuk tetap menjaga keharmonisan dan persatuan bangsa.

“Seberapa pun jarak yang membedakan kita dalam proses Pilkada, kita semua tetap bersaudara,” ujar Rumadi saat dihubungi NU Online, Rabu (15/2) di Jakarta.

Dia tidak memungkiri bahwa pilihan politik memang kerap menimbulkan konflik di antara anak bangsa. Padahal kendaraan politik merupakan sarana mengelola negara untuk mewujudkan masyarakat sejahtera secara keseluruhan.

“Apapun pilihan politikmu, kita semua tetap bersaudara,” tegas Dosen Pascasarjana STAINU Jakarta ini.

Rumadi menyayangkan jika proses demokrasi dalam bentuk Pilkada tersebut menimbulkan kekisruhan tak berkesudahan sehingga merusak persaudaraan.

“Kalau ada orang yang demi Pilkada merusak persaudaraan, itu seperti pepatah Jawa: golek upo, kelangan sego (mencari sepotong nasi, kehilangan nasi),” ucap pria yang juga Komisioner Komisi Informasi Pusat (KIP) ini. (Fathoni)

Rabu 15 Februari 2017 16:35 WIB
PILKADA SERENTAK 2017
Kang Said Ajak Warga Jaga Kondusivitas usai Pencoblosan
Kang Said Ajak Warga Jaga Kondusivitas usai Pencoblosan
Jakarta, NU Online
Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengajak masyarakat untuk mewujudkan Pilkada serentak tanpa konflik. Pilkada telah terlaksana, selanjutnya bersama-sama menjaga kondusivitas pascapencoblosan.

"Ayo kita kawal bersama agar suasana rukun dan guyub ini terus terjaga," kata Kiai Said Aqil sesaat setelah keluar dari Tempat Pemungutan Suara di samping kediamannya di Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Rabu (15/2).

Kiai Said menuturkan, ketenangan masyarakat pascapencoblosan sangat ditentukan oleh statemen, sikap dan tindakan politisi. Karena itu semua pihak yang berkepentingan dengan pilkada harus mengendalikan diri.

"Yang kalah harus bersabar, yang menang tetaplah rendah hati," nasihat kiai pengasuh Pondok Pesantren al-Tsaqofah Ciganjur ini.

Jika masyarakat mampu mempertahankan kondusivitas ini, bagi Kiai Said Aqil, merupakan kemajuan luar biasa. "Demokrasi makin matang dan tentu manfaatnya kembali ke masyarakat," ujar Kiai Said Aqil. 

Sebelumnya, ia mengeluarkan seruan agar warga bersikap bijak terhadap pilkada ini, termasuk dalam hal perbedaan pilihan politik. Menurutnya, perbedaan aspirasi harus disikapi secara wajar dan dianggap sebagai proses pendidikan politik warga. 

“Perbedaan pendapat itu yang membuat kita cerdas, kritis. Tapi tidak boleh kemudian saling menjatuhkan, apalagi fitnah,” ujarnya. (Red: Mahbib)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG