::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Wali Nyantri kepada Kiai Said (Bagian IV)

Rabu, 15 Februari 2017 09:02 Nasional

Bagikan

Wali Nyantri kepada Kiai Said (Bagian IV)
Kiai Said (bersorban) menyerahkan cendera mata yang diterima personel Wali Aan Kurnia (Apoy)
Jakarta, NU Online 
Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj membicarakan tentang bid’ah bersama para personel grup band Wali. Menurut Kiai Said, banyak bid’ah yang dilakukan umat Islam saat ini seperti ilmu tajwid, nahwu, sharaf, juga ilmu fiqih.

“Ilmu membaca Al-Qur'an, bid’ah itu, menulis Al-Qur’an, nahwu, sharaf, itu bid’ah,” katanya saat menerima manajer Wali dan personelnya yaitu Apoy yang ditemani Farhan ZM atau Faank (vokalis), Ihsan Bustomi, dan Hamzah Shopi, serta manajemen Wali, di ruangan Kiai Said, lantai tiga gedung PBNU, Jakarta, Rabu sore (18/1).


Seandainya sahabat Abu Bakar Ash-Shidiq dibangunkan dari kuburan sekarang, menurut Kiai Said, dia tidak akan mengerti ikhfa, idgham, dan iqlab. 

Abu bakar, tidak mengerti mubtada; khabar tidak mengerti,” lanjutnya. “Namun demikian, Abu Bakar mengerti dan bisa membaca Al-Qur’an dengan benar.” 


Menurut Kiai Said, sebab pada masa Abu Bakar, belum ada yang merumuskan ilmu tajwid, nahwu, sharaf, dan fiqih. Ulama-ulama yang lahir belakangan kemudian menciptakan ilmunya.

“Zaman Nabi tidak ada fiqih. Tapi kita meniru shalat Nabi, maka lahir ilmu fiqih,” kata kiai yang pernah nyantri di Kempek, Lirboyo dan Krapyak tersebut. 


Kiai Said melanjutkan, apa yang diperintahkan Allah dan Nabi harus dijalankan. Apa yang dilarang Allah dan Nabi harus dihindari. Namun, kalau tidak ada perintah dan larangan Allah dan Nabi, hal itu diserahkan kepada umat Islam. Jika baik menurut kesepatakan ulama, boleh dilakukan. 

Menurut Pengasuh Pondok Pesantren Al-Tsaqofah tersebut, shalat yang dilakukan umat Islam adalah ijma’ para ulama yang sampai kepada kita hari ini. Sebab, jika umat Islam menggali gerakan shalat dalam Al-Qur’an dan hadits tidak akan ditemukan. 

Makanya, lanjut dia, jika ada orang tidak mengaku taqlid dalam shalat itu adalah bohong. Sebab, dia tidak mungkin menggali dan mencari shalat dari Al-QUr’an. Dia pasti bisa shalat dengan baik karena belajar dari orang tua atau gurunya. Ujung-ujungnya akan belajar kepada imam mazhab dalam Islam secara berantai. (Abdullah Alawi)