IMG-LOGO
Pustaka

Novel Perjalanan Ruhani Sunan Gunung Jati

Rabu 15 Februari 2017 14:27 WIB
Bagikan:
Novel Perjalanan Ruhani Sunan Gunung Jati
“Gusti pernah bilang bila air senantiasa mengalir sampai jauh dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah. Meskipun wadahnya berbeda-beda, air selalu memiliki permukaan yang datar. Ini adalah gambaran kodrat Gusti Allah. Dan air tidak pernah melawan kodrat Gusti Kang Murbeng Dumadi. Watak air akan membawa seseorang menempuh jalan kehidupan dengan irama yang paling mudah, dan pada akhirnya akan masuk ke samudra anugerah Gusti Allah,” ujar Patih Keling. 

“Bagaimana ketika air itu mengalir ke Pakuan Pajajaran, hingga akhirnya saling berhadapan dengan Kanjeng Eyang,” batin Syarif Hidayatullah.  

Dialog spiritual di atas menjadi semacam energi yang mengantarkan Sunan Gunung Jati menemui eyangnya, menghabiskan waktu untuk berdakwah. Jauh sebelum itu secara emosional ibunya, Syarifah Mudaim – telah memberi bekal berbagai kearifan yang tak ditemukan di tanah kelahiran suaminya. Kearifan yang akan menjadi modal utama dalam melakukan dakwah, maupun bergaul dengan para wali tanah Jawa. Melalui cerita, ia telah memberi pemahaman bagaimana bibit Islam disemaikan di daerah Caruban, diawali oleh seorang saleh bernama Syaikh Datuk Kahfi. 

Dalam Babad Tanah Sunda Babad Cirebon yang ditulis Pangeran S. Sulendraningrat, penyebar islam ini disebut dengan nama Syeh Nurjati. Santri generasi pertama yang berguru kepada Syaikh Datuk Kahfi, tak lain putra-putri Prabu Siliwangi dari permaisuri Nyai Ratu Subanglarang. Nama Nyimas Rarasantang, putri kedua Sri Baginda Maharaja Prabu Siliwangi dari permaisuri Nyai Ratu Subanglarang, setelah menunaikan ibadah haji dan menjadi istri Syarif Abdullah, Sultan Palestina. 
Jauh sebelum itu di Tanjungpura, Karawang, juga telah berdiri Pesantren Quro. Salah seorang santrinya adalah Nyai Subang Larang putri Ki Gedeng Tapa dari Kerajaan Singapura Muara Jati yang masih keturunan Raja Sunda, Prabu Niskala Wastu Kancana. Nyai Subang Larang kemudian dijodohkan dengan Raden Pamanah Rasa, Putra Mahkota Kerajaan Pajajaran. Dari rahim Nyai Subang Larang ini kemudian lahir Pangeran Walangsungsang dan Nyimas Rarasantang. 

Sebelum berkenan dipersunting, Nyai Subang Larang mengajukan tiga syarat yang harus dipenuhi yaitu disediakan bintang saketi. Dalam Novel Prabu Siliwangi: Bara Di Balik Terkoyaknya Raja Digdaya (Edelweiss (Pustaka IIMaN Group), 2009) dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan bintang saketi tak lain adalah tasbih, yang merupakan simbol islam. Sehingga sekalipun diperistri seorang raja yang agama negaranya belum Islam, Nyai Subang Larang tetap bersikeras agar diperkenankan melaksanakan wirid dan ritual Islam lainnya. Anak-anaknya kelak harus jadi muslim dan muslimah. 

Perjalanan dakwah Syarif Hidayatullah – kelak dikenal sebagai Sunan Gunung Jati – ke bumi Jawa memetakan apa yang telah dilakukan ibu dan uwaknya, Nyimas Rarasantang dan Pangeran Walangsungsang. Sejarah memang senantiasa berulang. Ketika meninggalkan istana di Palestina – padahal ia telah diangkat sebagai sultan menggantikan almarhum ayahnya – seperti mengulang apa yang dilakukan uwaknya, Pangeran Walangsungsang dan ibunya Nyimas Rarasantang saat meninggalkan Keraton Pakuan Pajajaran.

Syarif Hidayatullah memperdalam nur muhammad dari satu guru mursyid kepada guru lainnya, sama persis seperti yang telah dilakukan Nyimas Rarasantang dan Pangeran Walangsungsang dulu. Langkah Syarif Hidayatullah pun sebenarnya menapak jejak orang tuanya dari arah sebaliknya. Bila perjalanan Nyimas Rarasantang dan Pangeran Walangsungsang bisa dipetakan dari Keraton Pakuan Pajajaran – Amparan Jati – Pasai – Campa – Mekkah, maka langkah Syarif Hidayatullah dimulai dari Palestina – Mekkah – Pasai – Muara Jati – Amparan Jati, lalu menempa diri di Caruban Larang sebelum menjadi bagian dari simpul perjuangan wali songo.

Syarif Hidayatullah lahir di Palestina, ketika kota itu sedang menggeliat menjadi salah satu kota metrolopolis terpenting di timur tengah. Di kota ini ayahnya, Syarif Abdullah memimpin negeri dengan latar belakang sosio culture dimana tiga agama samawi hidup tumbuh berdampingan. Masyarakat islam berdampingan dengan kaum kristiani dan Yahudi, yang ketiganya memiliki sejarah dan keterkaitan dengan kota itu sangat tinggi baik histori maupun religi. 

Hanya seorang pemimpin yang memiliki kekuatan mental untuk mendudukkan ketiga masyarakat yang berbeda secara adil itulah yang akan mampu memimpin Palestina, sebab percikan ketegangan sedikit saja bisa menimbulkan kobaran api. Dan hal itu berhasil dilakukan Syarif Abdullah, yang kemudian menurunkan sikap bijak dan tepa selira itu kepada Syarif Hidayatullah. Watak yang kemudian sangat membantu ketika menghadapi masyarakat Caruban dan Sunda, yang kala itu lebih menonjol sikap sempit wawasan, agak malas, dan tidak memiliki pengetahuan agama yang baik, sehingga melahirkan watak yang mudah menyerah dan gampang tersinggung.

Kenapa Syarif Hidayatullah memilih Jawa? Bila ibunya, Nyimas Rarasantang dan uwaknya, Pangeran Walangsungsang keluar dari Keraton Pakuan Pajajaran terdorong oleh ilham untuk mengejar nur muhammad, Syarif Hidayatullah memilih meninggalkan Palestina setelah selesai mengkaji kitab Usul Kalam. Kitab ini mengisahkan perjalanan keluarga ahlul bait yang tercerai-berai setelah peristiwa perang Jamal dan Shiffin. Nasab dari ayahnya, Syarif Abdullah, merujuk kepada keluarga bagida Ali r.a. Pertemuannya dengan Syaikh Abdullah Sidiq di Samudera Pasai, semakin menentukan bagaimana Syarif Hidayatullah akan menjadi satu titik penting dari perkembangan islam di Jawa. 

Ia kemudian bersinggungan dan saling mempengaruhi dengan para dewan wali yang telah lebih ada. Dengan Sunan Ampel yang bila dirunut akan mempertemukan pada satu leluhur yang sama. Secara historis pertemuan dengan Sunan Ampel adalah membagi daerah dakwah menjadi dua bagian besar di barat dan timur yang dibatasi Sungai Cipamali. Dari Cipamali ke barat sampai Ujung Kulon adalah wilayah dakwah Syarif Hidayatullah, yang tak lain masyarakat Sunda dan pesisir.

Sedangkan dari Cipamali sampai Blambangan yang menjadi wilayah kekuasaan Sunan Ampel, tak lain adalah masyarakat Jawa. Pemisahan ini tidak saja memisahkan dua wilayah, tapi lebih kepada memisahkan dua kultur dan histori yang berbeda – Sunda dan Jawa.  Peristiwa ini akan mengingatkan kita kepada Rakeyan Darmaraja ketika memberi wilayah jajahan kepada putranya, Raden Wijaya. Saat itu tidak ada pemisahan ini, sehingga menyatukan dua kultur yang berbeda itu dihadang banyak hambatan.

Kekuasaan Syarif Hidayatullah mulai terlihat dominan ketika Pangeran Cakrabuana menyerahkan Caruban Larang kepadanya. Ia kemudian berinisiatif menghentikan seba kepada Pakuan Pajajaran dan menyatakan sebagai negeri mandiri. Langkah politis yang kemudian telah melukai perasaan Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi, yang tak lain eyangnya sendiri. Prabu Siliwangi mengutus Tumenggung Jagabaya untuk memberi peringatan kepada Syarif Hidayatullah, tapi siapa yang mengira rombongan itu dihadang pasukan Caruban dan Demak. 

Prabu Siliwangi tidak menyadari bila sebelum langkah itu diambil, Syarif Hidayatullah telah memetakan wilayah dari Cipamali ke barat itu dalam genggamannya dengan menyebarkan ajaran islam di beberapa titik penting. Sehingga ketika Prabu Siliwangi melangkah jauh, wilayah Pajajaran sendiri telah terkepung. Begitu pula ketika Pajajaran berhasil mengikat kerjasama dengan Portugis, Caruban Larang telah mengikat hubungan erat dengan Demak dan Banten, yang terikat tidak saja secara politis melainkan lebih jauh dari itu – mengikat hubungan kekeluargaan melalui pernikahan.

Akhirnya langkah Syarif Hidayatullah sampai pula di Pakuan Pajajaran, bertemu dengan Prabu Siliwangi ketika Banten Surosowan telah berdiri dan Demak telah semakin matang baik secara politis maupun militer. Pertemuan mengharukan itu berakhir ketika Prabu Siliwangi menyetujui untuk menyebarkan islam di mana pun, dengan satu syarat jangan dengan paksaan dan pertumpahan darah. 

Langkah jihad Syarif Hidayatullah berkobar di Sunda Kalapa menghadapi Portugis yang telah disokong Pajajaran. Demikianlah yang bisa ditemukan dalam novel sejarah ini. Tentu saja tidak saja konflik keyakinan dan politis, ketika meretas jihad di bumi leluhur, Syarif Hidayatullah tak bisa menghindari dari kisah dramatis dan romantis, seperti juga yang dialami Nyimas Rarasantang dan Pangeran Cakrabuana ketika memilih keluar dari Keraton Pakuan Pajajaran.
 
Syarif Hidayatullah-di Jawa Barat lebih dikenal dengan Syaikh Sunan Gunung Jati-meninggalkan tanah kelahiran ayahnya untuk berguru kepada beberapa orang guru seperti kepada Syeikh Tajudin al-Kubri selama 2 tahun, Syeikh Athaillah Syazali. Di Baghdad berguru Tasawuf Rasul dan tinggal di pesantren saudara ayahnya selama 2 tahun (Sunarjo, 1983:51). Dalam waktu singkat Syarif Hidayatullah telah mempunyai banyak nama di antaranya Syaid Al kamil, Syeikh Nuruddin Ibrahim Ibnu Maulana Sultan Mahmud al-Khibti.

Nama-nama yang menyiratkan tahapan perjalanan kehidupannya intelektual dan keimanannya dari remaja hingga dewasa. Ketika ayahnnya wafat yang secara historis menjadi penerus kesultanan, dia menolak dan meminta adiknya Syarif Nurullah untuk menggantikan dirinya. Syarif Hidayatullah lebih memilih pergi ke Jawa untuk menyebarkan agama Islam. Dalam perjalanannya ke Jawa, Syarif Hidayatullah singgah di Gujarat. 

Di sana Syaid Kamil betemu dengan Dipati Keling beserta anak buahnya. Dipati Keling dan anak buahnya masuk Islam dan mengabdi pada Syarif Hidayatullah. Kemudian mereka bersama-sama meneruskan perjalannannya menuju Jawa. Sebelum ke Jawa, Syaid Kamil singgah di Pasai. Disini Syarif Hidayatullah berguru kepada Syaid Ishak. Di Pasai mereka tinggal selama dua tahun. Setelah itu, Syaid Kamil dan rombongan meneruskan perjalan menuju ke Jawa, yang diawali dengan persinggahannya di negeri Banten. Di negeri itu sudah banyak yang memeluk agama Islam berkat binaan dari Syaid Rakhmat atau Ali Rakhmatullah seorang guru agama dari Ampel Gading yang kemudian bergelar Susuhunan Ampel.

Setelah bertemu dengan Sunan Ampel, Syarif Hidayatullah diminta untuk meneruskan Ali Rakhmatullah untuk mengajar agama Islam di negeri Banten. Ketika Syaid Rakhmatullah pulang ke Ampel, Syarif Hidayatullah ikut pula ke Ampel guna lebih memperdalam agama Islam. Ketika tiba di Ampel, di sana telah berkumpul para wali. Pada saat itu para wali sedang membagi pekerjaan untuk menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. Setelah bersilaturahmi dengan para wali, maka diatur mengenai siasat penyebaran Islam di Jawa. Saat itu Syaid Kamil atau Syarif Hidayatullah diminta untuk menyebarkan agama Islam di Jawa bagian Barat yaitu di tatar Sunda.

Kisah Syaikh Sunan Gunung Jati – terutama dalam kisah tradisional – lebih banyak dihiasi kisah-kisah mitos. Tentu saja kisah-kisah ini bukan untuk mengacaukan alur sejarah. Kisah-kisah mitos tumbuh dari kecintaan dan penghormatan rakyat yang mungkin berlebihan kepada sosok Syaikh Sunan Gunung Jati ini. Dan dibanding dengan fakta sejarah – terutama sumber primer – tentu kisah bercampur mitos ini terasa lebih dramatik dan tetap mengandung nilai-nilai spiritual dan moral. Sehingga dalam kaitannya untuk mengungkap nilai-nilai luhur yang tak banyak terungkap dalam fakta sejarah primer itulah, pembaca dapat menemukan kisah-kisah bercampur mitos dalam alur novel Suluk Gunung Jati : Novel Perjalanan Ruhani Syaikh Syaikh Syarif Hidayatullah ini. 

Novel Suluk Gunung Jati: Perjalanan Ruhani Syaikh Syarif Hidayatullah, bukanlah laporan dokumenter. Kendati fakta-fakta sejarah menjadi landasan utama, pada akhirnya tetap memerhatikan unsur-unsur dramatik sebuah novel. Sehingga Syaikh Gunung Jati dalam interaksi kesehariannya tetap dipandang sebagai sosok manusia yang memiliki emosi. Sisi romantisme sebagai seorang lelaki dewasa berkelindan dalam alur yang tidak paralel ini. E. Rokajat Asura berhasil menghubungkan dan menyambungkan antara sejarah dan kebenaran mengenai riwayat dan ajaran Sunan Gunung Jati. 

Di dalamnya tersaji tidak hanya dinamika perjuangan dakwah dan konflik politik, penulis juga menampilkan romansa percintaan. Inilah yang menjadikan novel ini manusiawi dan menyentuh hati pembaca. Dengan dasar sumber tertulis maupun cerita tutur, lewat novel ini kita seperti diajak menyelami tafsir atas perjalanan ruhani Syarif Hidayatullah dalam berdakwah. Islam yang diperkenalkan Sunun Gunung Jati adalah Islam yang ramah dan menghargai nilai-nilai budaya lokal. 

Novel sufistik ini menjadi menarik, setidaknya karena dua hal. Pertama, kehadiran novel ini mengisi kelangkaan, untuk tidak dibilang ketiadaan, novel sejarah Islam di Indonesia masa kini. Kedua, lewat novel ini kita diingatkan kembali pada metode dakwah para wali di masa lampau yang bersemangat merangkul, bukan menggertak apalagi menghukum seperti yang mulai marak akhir-akhir ini. Dan sungguh novel ini terbit pada saat yang tepat, saat Indonesia membutuhkan inspirasi untuk kembali belajar ramah dan menghargai nilai-nilai budaya dalam bingkai kebhinekaan. Saya kira, dua hal tersebut sudah cukup untuk menjadikan novel ini wajib 'ain untuk disebarkan dan dibaca.

Data buku:
Judul: Suluk Gunung Jati: Novel Perjalanan Ruhani Syaikh Syarif Hidayatullah 
Penulis: E. Rokajat Asura
Terbit: Agustus, 2016
Tebal: 347 halaman
ISBN: 978-602-7926-26-4
Peresensi: Faried Wijdan, warga NU, tinggal di Depok, Jawa Barat.

Bagikan:
Selasa 14 Februari 2017 9:30 WIB
Kontribusi Cina dalam Islamisasi Nusantara
Kontribusi Cina dalam Islamisasi Nusantara
Proses penyebaran Islam di Nusantara telah melalui babakan sejarah yang sangat panjang. Perihal waktu yang menjadi permulaan tersebarnya agama yang pertama kali diperkenalkan di jazirah Arabia ini, para sarjana berbeda pendapat. Ada yang mengatakan sejak abad ke-7 M, yakni sejak permulaan perkembangan Islam di tanah kelahirannya, abad ke-12 M, dan seterusnya. Namun menurut Azyumardi Azra, proses laju islamisasi Nusantara yang paling cepat baru dimulai sejak abad ke-12 dan 16 M.

Dalam rentang abad ke-12 dan 16 M ini penyebaran Islam di Nusantara mulai terlihat. Sumanto Al Qurtuby yang secara khusus meneliti “islamisasi Nusantara” pada abad ke 15 dan 16 M mulai dari proses penyebarannya hingga agen-agennya menghasilkan kesimpulan yang sangat memukau. Menurutnya, islamisasi di dalam rentang waktu abad 15 dan 16 yang menjadi babakan pertama dan utama tersebarnya Islam secara luas dilakukan oleh “orang-orang Cina Muslim”.

Hasil penelitian Sumanto itu ditulis dalam bukunya yang berjudul “Arus Cina-Islam-Jawa: Peranan Tionghoa dalam Penyebaran Islam di Nusantara Abad 15 & 16” yang diterbitkan oleh penerbit buku-buku pemikiran progresif di Semarang, eLSA Press.

Dalam buku yang berasal dari tesisnya di program magister jurusan Sosiologi Agama Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga itu, secara apik dan teliti Sumanto menyajikan data-data yang sangat lengkap berkaitan dengan penyebaran Islam di Nusantara pada abad ke-15 dan 16 M. Tidak hanya menggunakan sumber-sumber lokal Nusantara seperti Babad Tanah Djawi, Babad Gresik, Babad Tuban, dan yang lainnya, ia juga mendapuk sumber-sumber lain yang berkaitan, seperti sumber-sumber Cina: Ying-yai Sheng-lan, Hsin-cha Sheng-lan, Ming Shi, dan lain-lain, sumber Portugis: Summa Oriental, sumber Arab: ‘Ajaibil Hindi, dan yang lainnya.

Selain menggunakan sumber-sumber tertulis di atas, karya intelektual NU yang kini menjadi pengajar Antropologi Budaya di King Fahd University of Petroleum and Minerals Arab Saudi, juga diperkuat dengan cerita lisan yang berkembang di masyarakat dan situs-situs sejarah seperti makam, masjid, keraton, dan peninggalan sejarah lainnya.

Dalam buku setebal 300 halaman, Sekretaris Jenderal Komunitas Nahdlatul Ulama Amerika dan Kanada itu mendedahkan bahwa keberhasilan islamisasi di Nusantara lebih banyak diperankan orang-orang Cina Muslim yang melakukan perlawatan ke Nusantara pada abad ke 15 dan 16 M, baik karena kepentingan ekonomi, politik, maupun murni untuk berdakwah (hal. 39).

Perjumpaan orang-orang Cina dengan penduduk Nusantara sendiri dimulai sejak awal abad ke 5 M, dua abad sebelum Islam datang di jazirah Arabia. Islam hadir pada abad ke-7 M dan langsung dikenal penduduk Cina pasca Nabi Muhammad wafat. Penyebaran Islam di Cina dimulai ketika Khalifah Utsman bin ‘Affan (644-656 M) mengirim delegasi ke Changan yang dipimpin Sa’ad bin Abi Waqqash yang oleh sumber Cina disebut dengan “utusan Tan-mai-mo-ni” atau dalam bahasa Arab disebut “utusan amirul mukminin” (hal. 56-57).

Bukti-bukti historis penyebaran Islam di Cina abad ke-7 ini antara lain dengan peninggalan Masjid Huaisheng di Kanton (Arab: Kanfu) yang dibangun pada tahun 627 M. Masjid ini menurut para sejarawan seusia dengan Masjid Haram di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah. Selain itu di Guangzhou Cina sendiri dipercaya terdapat makam Sa’ad bin Abi Waqqash yang hingga kini ramai diziarahi umat Islam (hal. xix, 56-57,).

Melalui penelusuran sejarah Islam di Cina, senior scholar di Middle East Institute National of Singapore ini, kemudian membuktikan penyebaran Islam di Nusantara yang disebarkan oleh orang-orang Cina Muslim yang melawat ke negeri ini. Para penyebar Islam di Jawa yang dikenal dengan “Walisongo” sebagian di antaranya adalah orang Cina, dan sebagian lain menikah dan dibantu orang-orang Cina. Pun dengan para raja di Jawa, banyak di antaranya yang orang Cina. Bahkan, Kerajaan Demak yang ditengarahi sebagai kerajaan Islam pertama di Nusantara adalah “rezim Cina” (hal. 243).

Perihal kontribusi Cina Muslim dalam penyebaran Islam di Nusantara ini berhasil didedah secara nyata oleh Sumanto Al Qurtuby, baik melalui penelusuran terhadap “teks-teks kuno” maupun situs-situs sejarah dan keterpengaruhan budaya atau yang disebutnya dengan “Sino-Javanese Muslim Culture”.

Pertanyaannya kemudian, kenapa masyarakat Muslim Indonesia lebih banyak yang meyakini peran orang-orang Arab dalam penyebaran Islam di Nusantara? Buku yang diberi kata pengantar oleh almarhum Prof. Dr. Nurcholish Madjid ini memberikan jawaban: karena sejak kedatangan penjajah Belanda ke Nusantara, orang-orang Cina selalu dijadikan “kambing hitam” atas segala kekacauan yang sebenarnya dilakukan para penjajah Belanda sendiri demi meraup keuntungan ekonomi dan politik (hal. 224-233).

Sedangkan keberadaan Arab-Muslim di Nusantara memiliki sejarah yang “mulus” tanpa ada narasi kekerasan di dalamnya, sehingga seakan-akan perannya dalam islamisasi sangat besar, padahal orang-orang Arab sendiri baru datang ke Nusantara pada akhir abad ke-18. Karena itu kontribusinya dalam penyebaran Islam di Nusantara dipertanyakan, alasannya antara lain watak Arab yang eksklusif, yakni tertutup dan tidak membuka diri untuk bersosialisasi dengan bangsa lain. Selain itu Arab Muslim juga selalu merasa superior, yakni sebagai “trah Islam tertinggi”. Dalam relasinya dengan non Arab, Arab Muslim selalu memposisikan dirinya sebagai “kelas superordinat”, sedangkan Nusantara Muslim berada di “kelas subordinat”. Relasi demikian menurut analisis penulis buku ini, tidak mungkin akan terjadi transformasi kultural dalam kehidupan masyarakat Islam Jawa (hal. 234-236).

‘Ala kulli hal, buku Arus Cina-Islam-Jawa menemukan relevansinya bagi masyarakat Indonesia saat ini yang sedang “demam keturunan Arab” dan mudah terprovokasi dengan isu-isu SARA yang terus direproduksi. Akhirnya, seperti dikatakan Ir Soekarno, bahwa “bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya”.


Data Buku

Judul Buku: Arus Cina-Islam-Jawa: Peranan Tionghoa dalam Penyebaran Islam di Nusantara Abad 15 & 16
Penulis: Sumanto Al Qurtuby
Penerbit: eLSA Press, Semarang
Cetakan: I, Januari 2017
Tebal : Iv + 300 Halaman
Peresensi: Siti Nur Halimah, Pemimpin Redaksi Majalah Justisia LPM Fakultas Syariah dan Hukum UIN Walisongo Semarang.


Senin 13 Februari 2017 11:0 WIB
Tuhan Maha Asyik
Tuhan Maha Asyik
Tuhan sangat asyik ketika Dia tidak kita kurung paksa dalam penamaan-penamaan dan pemaknaan-pemaknaan. Dia tak terdefinisikan, tan keno kinoyo ngopo. Dia tak terkmaknakan. Dia ada sebelum definisi dan makna ada. Tuhan itu anti mainstream. Tuhan itu Maha Asyik ketika kita men-taddaburi-Nya, bukan melogikakan-Nya. Dengan mencampakkan kesombongan dan taklid pada kerendahan hati. Ke manapun kita memandang, di situlah wajah Tuhan.

Sebagai bangsa berKetuhanan yang Maha Esa, saat berniat melakukan reformasi atau islah, ternyata kita melupakan yang paling --atau minimal termasuk yang paling-- pokok. Yaitu mereformasi pandangan kita tentang Tuhan. Ketika kepentingan duniawi  menguasai dan menyibukkan kita, berangsur-angsur Tuhan pun 'tersisih' dari perhatian kita. Kita merasa cukup sudah bertuhan hanya dengan doktrin yang kita dengar dari mulut ke mulut atau teks yang kita baca. 

Berpikir--seperti yang sering dianjurkanNya--jarang kita lakukan sebagai upaya lebih mengenalNya.  Banyak orang bertuhan tanpa mengenal Tuhan dan tanpa berusaha mengenalNya. Bahkan belakangan karena presepsi dan tingkah-laku mereka ini, Tuhan pun terkesankan 'Maha Menyusahkan' atau 'Maha Pemarah' dan agamaNya terkesankan sulit dan berat.

Dalam beriman membutuhkan cara berpikir, bertindak, bernalar yang santai. Tuhan Mahatahu dan Maha Rahim karena sifat Tuhan seperti itu dia tidak mengadili orang berdosa. Beriman dengan santai berarti beragama secara otentik  yakni  orang jujur dirinya dan Dia tidak memanipulasi keberagamaan yang hanya mencari untung dirinya sendiri. 

Beriman adalah belajar melihat realitas dunia bukan sisi gelap dan terang. Beriman memberi dirinya bagi terciptanya damai yang sejati. Keberimanan berarti membangun kesadaran. Membangun kesadaran keberagaman harus menjadi prioritas. Keberagamaan jangan sekadar berwajah kesalehan individual, tetapi juga sosial. 

Kaum beragama tidak boleh menghardik umat dari agama lain. Itulah wajah agama yang manusiawi karena berorientasi altruistik, bukan egoistik. Maka, tiap ibadah harus lebih dilandasi sikap hati yang tulus untuk memberi penghargaan terhadap martabat kemanusiaan.

Beriman berarti mencinta kehidupan karena kehidupan adalah rahim cinta. Dia memberikan dirinya bagi kebahagiaan sesama karena beriman secara sukarela bukan model paksaan. Agama sejati mengajak setiap orang berperilaku jujur dan mau mengampuni. Tuhan Maha Besar. Seorang beriman tidak bisa diukur dari panjangnya doa, dari hal-hal formalisme. Tuhan hanya menginginkan manusia selalu mencintai dengan kesadaran dan menghilangkan kecurigaan dan kebencian.

Buku Tuhan Maha Asyik menggambarkan konsep mengenal Tuhan secara menyeluruh (holistik), yang notebene membutuhkan pengkajian dan pemahaman mendalam, namun di buku ini di sajikan secara "renyah" dan mudah dimengerti dalam bentuk dialog kanak-kanak sehari-hari, dan kontekstual dengan kebudayaan masyarakat Indonesia, khususnya budaya spiritual. Lewat kisah-kisah singkat dan berbagai analogi yang mengena, buku ini mengajak kita meluaskan hati dan pemikiran untuk menampung ide tentang ketuhanan dan keagamaan yang lebih lapang, dan tentunya yang lebih asyik. 

Siapapun dan apa pun latar belakang paham keagamaannya, selama masih punya hati, akan mendapatkan pencerahan dalam pemahaman keagamaan dan akan memandang bahwa keberagaman dalam beragama adalah suatu keniscayaan yang sebetulnya mampu menciptakan keindahan dan harmoni dalam kehidupan dari buku ini. 

Buku yang asyik karena membicarakan "wajah Tuhan" dengan cara memuliakan Tuhan Yang Maha Asyik dan menyeret kita untuk menthawafi pengalaman Tuhan yang mengasyiki hamba-hamba-Nya.

Buku ini hadir di saat yang tepat, di saat bangsa ini dilanda dengan intoleransi, kebencian, syak wasangka antar sesama anak bangsa yang acapkali membajak 'Tuhan' untuk politik jangka pendek dan kepentingan golongan tertentu. Buku ini bisa menjadi cermin yang akan mengoreksi bahkan menampar sikap beragama kita. (Faried Wijdan)

Data buku:
Judul: Tuhan Maha Asyik
Penulis: Sujiwo Tejo dan Dr MN. Kamba
Penerbit: Imania
Terbit: Desember, 2016
ISBN: 9786027926295
Tebal: 245 halaman

Kamis 9 Februari 2017 21:0 WIB
Kisah Menarik dari Penjara Suci
Kisah Menarik dari Penjara Suci
“Kau punya uang Rp.5.000? Pokoknya aman, aku punya lapak (tempat) bagus, sunyi.” Ternyata temanku itu mau mengajak aku nyabu alias konsumsi narkoba. Pada saat itu, hatiku terketuk. Entah kenapa hatiku mengatakan aku harus pergi jauh, jauh sekali. Akhirnya terlintas di benakku sebuah ludah yang pernah kubuang dahulu, ‘pesantren’. Aku pun mengutarakannya kepada ayahku bahwa aku ingin masuk pesantren tapi harus jauh, di Jawa, tapi aku tidak tahu pesantren apa". 

Abu Dohak menceritakannya dengan bahasa yang cair dan mudah dipahami. Ia berasal dari Medan, yang kemudian menempuh pendidikan di sebuah pesantren di Jawa Timur, bahkan akhirnya ia meneruskan sampai kuliah di Hadralmaut, Yaman. Pesantren mampu mengubah hidupnya yang semula gelap menjadi terang.

Pangeran senja menyebut pesantren sebagai  ‘negeri seribu budaya’, bukan karena aneka ragam suku dan bangsa penduduknya saja, lebih dari itu, karena pesantren mengajarkan santrinya merangkai seribu keinginan, seribu mimpi, seribu keajaiban, seribu keistimewaan, seribu keindahan di mata manusia serta di sisi Allah (hal.75).

Sementara Siti Rumiatin mengungkapkan, momen istimewa ketika di pesantren ialah ketika ada acara besar seperti haul, PHBI, Muharram, Mauludan, Haflah Akhirussanah. Adapun momen yang paling menyaedihkan adalah ketika ia mengingat orangtua yang bekerja untuk menghidupinya di “penjara suci itu”, sedangkan ia merasa belum bisa bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu (hal.110).
Selain kisah tersebut, masih banyak kisah-kisah lainnya. Buku ini ditulis oleh 30 santri dari Pesantren Langitan Tubah dan Tebuireng Jombang. Ada suka dan duka, inspirasi dan motivasi, serta humor dan kenakalan kaum santri di dalamnya. 

Mereka bergabung dalam komunitas yang mereka dirikan bernama Pesantren Indonesia Menulis (PIM). Buku ini adalah karya perdana bersama mereka dan akan dilanjut karya-karya selanjutnya. Selain itu, mereka juga ingin mengajak pesantren-pesantren lainnya untuk bisa menulis dan menerbitkan buku. PIM siap membimbing pesantren mana pun yang ingin ditraining menulis. 

Berdasarkan data yang ada, kini di Indonesia telah berdiri lebih dari 25.785 pesantren dengan jumlah 3,65 juta santri. Rasanya sayang jika mereka hanya bergelut di pesantren tanpa berkarya dan dinikmati khalayak umum. 

Secara tidak langsung, buku yang diterbitan oleh Emir Devisi dari Penerbit Erlangga ini menjawab tudingan miring sebagian kalangan yang menyebut bahwa pesantren adalah biang teroris. Padahal pesantren sama sekali tidak mengajarkan hal itu. Terbukti dari kisah-kisah yang dituturkan jujur oleh para santri ini. 

Alhasil, buku ini sangat layak dibaca oleh semua lapisan masyarakat.  Bagi yang tidak kenal pesantren agar kenal dunia pesantren. Bagi yang pernah hidup di pesantren, buku ini bisa sebagai sarana nostalgia. Meski tidak dimungkiri, buku ini banyak istilah santri yang mungkin belum akrab di kalangan umum.

Data Buku
Judul : Kisah dari Bilik Pesantren
Penulis : Fathurrahman, Dkk.
Penerbit         : Emir, Erlangga, Jakarta
Cetakan : Januari 2017
Tebal : 176
ISBN : 978-602-09-3556-0
Kode buku : 808-204-010-0

Peresensi : Nida Husna, Mahasiswi Universitas Indraprasta PGRI (Unindra) Jakarta 
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG