IMG-LOGO
Opini

Jangan Mudah Menganggap Orang Lain Munafik

Senin 20 Februari 2017 13:13 WIB
Bagikan:
Jangan Mudah Menganggap Orang Lain Munafik
Oleh Nadirsyah Hosen

Buya Hamka diminta menshalati jenazah Bung Karno. Sebagian pihak mencegah Buya Hamka dengan alasan Bung Karno itu Munafik dan Allah telah melarang Rasul menshalati jezanah orang Munafik (QS al-Taubah:84). Buya Hamka menjawab kalem, "Rasulullah diberitahu sesiapa yang Munafik itu oleh Allah, lha saya gak terima wahyu dari Allah apakah Bung Karno ini benar Munafik atau bukan." Maka Buya Hamka pun menshalati jenazah Presiden pertama dan Proklamator Bangsa Indonesia.

Itulah sikap ulama yang shalih. Beliau sadar bahwa memberi label terhadap orang lain merupakan hak prerogatif Allah. Ciri-ciri Munafik yang disebutkan dalam Al-Qur’an seharusnya membuat kita mawas diri, bukan malah digunakan untuk menyerang sesama Muslim, apalagi hanya karena perbedaan pilihan politik.

Larangan buat Rasul menshalati jenazah orang Munafik itu karena doa Rasul maqbul jadi tidak selayaknya Rasul turut mendoakan kaum Munafik. Akan tetapi para sahabat yang lain tetap menshalatkan orang yang diduga Munafik karena para sahabat tidak tahu dengan pasti mereka itu benar-benar Munafik atau tidak. Rasul hanya menceritakan bocoran dari langit sesiapa yang Munafik itu kepada sahabat yang bernama Huzaifah. Huzaifah tidak pernah mau membocorkannya meski didesak Umar bin Khattab. Walhasil Umar tidak ikut menshalati jenazah bila dia lihat diam-diam Huzaifah tidak ikut menshalatinya, tetapi Umar sebagai khalifah tidak pernah melarang sahabat lain untuk ikut menshalati jenazah tersebut. Belajarlah kita dari sikap Umar, Huzaifah dan Buya Hamka.

Masalah kepemimpinan umat itu buat Ahlussunnah wal Jama'ah (Aswaja) bukan perkara aqidah. Lihat saja rukun iman dan rukun Islam kita tidak menyinggung soal kepemimpinan. Ini perkara siyasah, bukan aqidah. Jadi, Aswaja tidak akan mudah mengkafirkan atau memunafikkan orang lain hanya gara-gara persoalan politik. Kalau ada yang sampai tega mengkafirkan sesama Muslim hanya karena persoalan politik dapat dipastikan dia bukan bagian dari Aswaja.

Kitab Aqidah Thahawiyah yang menjadi pegangan ulama salaf mengingatkan kita semua:

‎. لا ننزل أحد منهم جنة ولا نارا، ولا نشهد عليهم بكفر ولا شرك ولا بنفاق ما لم يظهر منهم شيء
‎ من ذلك، ونذر سرائرهم إلى الله تعالى

"Kami tidak memastikan salah seorang dari mereka masuk surga atau neraka. Kami tidak pula menyatakan mereka sebagai orang kafir, musyrik, atau munafik selama tidak tampak lahiriah mereka seperti itu. Kami menyerahkan urusan hati mereka kepada Allah ta’ala".

Begitulah berhati-hatinya para ulama salaf menilai status keimanan orang lain. Apa yang tampak secara lahiriah bahwa mereka itu shalat, menikah secara Islam, berpuasa Ramadhan, maka cukup mereka dihukumi secara lahiriah sebagai Muslim, di mana berlaku hak dan kewajiban sebagai sesama Muslim, seperti berta'ziyah, menshalatkan dan menguburkan mereka. Masalah hati mereka, apakah ibadah mereka benar-benar karena Allah ta'ala itu hanya Allah yang tahu. Itulah sebabnya Buya Hamka tidak ragu memimpin shalat jenazah Bung Karno.

Imam al-Ghazali juga telah mengingatkan kita semua dalam kitabnya Bidayah al-Hidayah:

‎ولا تقطع بشهادتك على أحد من أهل القبلة بشرك أو كفر أو نفاق؛ فإن المطلع على السرائر هو الله تعالى، فلا تدخل بين العباد وبين الله تعالى، واعلم أنك يوم القيامة لا يقال لك: لِم لمَ تلعن فلانا، ولم سكت عنه؟ بل لو لم تعلن ابليس طول عمرك، ولم تشغل لسانك بذكره لم تسأل عنه ولم تطالب به يوم القيامة. وإذا لعنت أحدا من خلق الله تعالى طولبت به،

“Janganlah engkau memvonis syirik, kafir atau munafik kepada seseorang ahli kiblat (orang Islam). Karena yang mengetahui apa yang tersembunyi dalam hati manusia hanyalah Allah SWT. Jangan pula engkau ikut campur dalam urusan hamba-hamba Allah dengan Allah SWT. Ketahuilah, bahwa pada hari kiamat kelak engkau tidak akan ditanya : 'mengapa engkau tidak mau mengutuk si Anu? Mengapa engkau diam saja tentang dia?' Bahkan seandainya pun kau tidak pernah mengutuk Iblis sepanjang hidupmu, dan tidak menyebutnya sekalipun, engkau pun tidak akan ditanyai dan tidak akan dituntut oleh Allah nanti di hari kiamat. Tetapi jika kau pernah mengutuk seseorang makhluk Allah, kelak kau akan dituntut (pertanggungjawabannya oleh Allah SWT)".

Belakangan ini di medsos seringkali banyak yang berkomentar "anda Muslim?" untuk meragukan dan mempertanyakan keislaman orang lain hanya karena berbeda pendapat. Atau menjadi viral saat ini ajakan untuk tidak menshalatkan jenazah mereka yang memilih pemimpin non-Muslim karena dianggap Munafik. Penjelasan saya di atas telah menunjukkan bahwa sikap meragukan keislaman orang lain dan mudah memvonis orang lain Munafik adalah sikap yang tidak pantas dilakukan sesama Muslim. Para sahabat Nabi dan ulama salaf akan berhati-hati dalam soal ini.

Mari kita jaga ukhuwah keislaman, ukhuwah kebangsaan, dan ukhuwah kemanusiaan.

Penulis adalah Rais Syuriyah PCI Nahdlatul Ulama Australia - New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School

Tags:
Bagikan:
Ahad 19 Februari 2017 9:3 WIB
Tanggapan atas Kisah Berdirinya NU Versi Habib Luthfi (III-Habis)
Tanggapan atas Kisah Berdirinya NU Versi Habib Luthfi (III-Habis)
Oleh: Muhammad Ali Rahman

Mengacu pada data peristiwa sejarah yang diuraikan pada tulisan terdahulu (Baca:Tanggapan atas Kisah Berdirinya NU Versi Habib Luthfi (I) dan Tanggapan atas Kisah Berdirinya NU Versi Habib Luthfi (II), sangat tidak memungkinkan terjadinya peristiwa di Masjidil Haram yang melibatkan Kiai Hasyim Asy’ari pada tahun-tahun itu.

Kemudian, untuk memperjelas bagaimana sulitnya transportasi menuju Makkah, saat itu, di antaranya kita bisa cermati perjuangan Kiai NU ketika hendak mengirim utusannya ke Muktamar Alam Islami. Langkah awal, harus mencari dana, yang akhirnya terkumpul sebesar f 1500.28,5 (mata uang Hindia Belanda). Pendanaan siap, dan KHR Asnawi, Kudus (Jawa Tengah), sebagai utusan pun juga siap. Langkah berikutnya, Kiai Wahab menghubungi perusahaan pelayaran di Tanjung Perak, Surabaya. Ternyata, setelah beliau sampai di pelabuhan Tanjung Perak, kapal yang menuju Arab Saudi sudah berangkat. Maka gagallah pemberangkatan Kiai Asnawi untuk menghadiri muktamar di Makkah.

Dua tahun kemudian, utusan NU yang diwakili oleh Kiai Wahab dan Syaikh Ghanaim, baru bisa berangkat, yakni pada 19 Maret 1928 M, dan tiba di Makkah pada 7 Mei 1928 M. Utusan NU ini pun bukan untuk mengikuti muktamar, melainkan menemui langsung Raja Arab Saudi, Abdul Aziz Al-Saud, guna menyampaikan surat dari NU.

Uraian ini, baru persoalan transportasi, belum lagi ketatnya pengawasan pihak Raja Abdul Aziz Al-Saud terhadap semua bentuk kegiatan Aswaja di Hijaz. Pada tahun-tahun itu sulit melakukan diskusi di Masjidil Haram yang berkaitan dengan Aswaja. Satu misal, diinformasikan surat kabar Pewarta Surabaya, yang memberitakan nasib ulama asal Indonesia, yakni KH Mukhtar. Beliau nyaris dihukum mati, atau diusir dari Hijaz, hanya karena menjawab pertanyaan jamaah, mengenai sunnahnya membaca "ushalli" menjelang shalat, dengan merujuk pada kitab Tuhfah. 

Berikutnya, kita cermati kembali tugas Kiai Hasyim seperti diceritakan Habib Luhtfi. Setelah dari Habib Hasyim di Pekalongan, beliau menemui salah seorang gurunya, yakni Syaikhona Kholil, di Bangkalan. Setelah bertemu. terjadilah dialog:

Syaikhona  :  Laksanakan apa niatmu. Saya ridha seperti ridhanya Habib Hasyim. Tapi saya  juga minta tolong, nama saya jangan ditulis. 


Kiai Hasyim:  Bagaimana Kiai, kok tidak mau ditulis semua? 


Syaikhona   :  Kalau mau tulis silakan, tapi sedikit saja. 


Di luar konteks ketidakmungkinan seperti yang penulis urai tadi, keterangan dan rangkaian kalimat ini ganjil; dari sisi tatakrama atau pun dari sisi fakta. 

Pertama, Syaikhona Kholil adalah guru Kiai Hasyim. Sebagai seorang santri, apalagi santri di masa itu, lazimnya mendahulukan gurunya sebelum yang lain. Namun dalam cerita itu, Kiai Hasyim menemui Habib Hasyim terlebih dadulu, baru ke Syaikhona. Secara georafis pun, jarak tempuh dari Tebuireng lebih dekat ke Bangkalan ketimbang ke Pekalongan.

Hal lain. cerita ini menimbulkan kesan, ridhanya Syaikhona terhadap niatan santrinya, setelah diridhai Habib Hasyim. Serta mengesankan, kedua tokoh itu sama-sama memiliki tingkatan spiritual, dalam pengertian adikodrati yang tinggi. Sehingga, jarak yang jauh antara Makkah-Indonesia, dan antara Pekalongan-Bangkalan bisa disadapnya. 

Kedua, dialog antara Syaikhona dan Kiai Hasyim digambarkan begitu akrab. Sementara jika merujuk pada keterangan Kiai As’ad Syamsul Arifin, ketika tahun 1920 M, sebanyak 66 ulama seluruh Indonesia datang ke Bangkalan, ingin bertemu Syaikhona guna memohon petunjuk terkait dengan gerakan aliran baru anti madzhab, mereka terlebih dahulu menemui Kiai Muntaha, menantu Syaikhona, yang tinggal di daerah berbeda di Bangkalan.

Setelah para ulama itu menjelaskan maksudnya, sebagaimana ditirukan oleh Kiai As’ad, satu di antara mereka berkata:

“Bagaimana Kiai Muntaha, mohon dihaturkan ke Kiai Kholil, karena kami tidak berani sowan langsung. Kami semua sudah sama-sama azam untuk bertemu Hadratus Syaikh Kiai Kholil. Kami tidak ada yang berani kalau bukan panjenengan yang mengantarkan…”

Kisah ini menggambarkan betapa kharismatiknya Syaikhona serta tawadhu’-nya para ulama saat itu.

Ketiga, cerita ini terbalik dengan keterangan Kiai As’ad Syamsul Arifin, di mana Kiai Hayim yang datang menemui Syaikhona menyampaikan amanat dari ulama di Haramain. Sedangkan dalam keterangan Kiai As’ad, beliau diutus Syaikhona untuk menemui Kiai Hasyim, yang menjadi jawaban dari istikharahnya berkenaan dengan gagasan akan membentuk wadah bagi Ulama Aswaja—seperti diurai di atas. 

Keempat, terkait dengan narasumber. Kiai As’ad Syamsul Arifin adalah santri Syaikhona, pelaku peristiwa, menyampaikan sendiri kisahnya, dijelaskan dengan tahun peristiwanya, dan termasuk juga pendiri NU. Secara data, keterangan Kiai As’ad, ada bukti rekamannya, bahkan tidak hanya satu kali kisah itu disampaikan. Setidak-tidaknya, yang penulis tahu ada dua rekaman, walau redaksinya agak beda, tapi intinya sama. Kisah itu juga pernah disampaikan ke Chairul Anam ketika mewawancarai untuk materi buku Pertumbuhan & Perkembangan NU.

Sedangkan keterangan Habib Luthfi, yang katanya didapat dari Kiai Irfan, tidak dilengkapi dengan penjelasan siapa tokoh Kiai Irfan yang dimaksud. Apakah beliau terlibat langsung saat peristiwa di Masjidil Haram tersebut, sehingga mengetahui kisahnya. Apakah semasa dengan Syaikhona dan Habib Hasyim dan seterusnya dan sebagainya. Terlepas siapa Kiai Irfan, yang pasti, keterangan Kiai As’ad Syamsul Arifin yang runutannnya jelas dan selaras dengan data-data tertulis tentang pembentukan NU, sehingga memenuhi syarat ilmiah dalam standar penulisan sejarah.

***

Dari semua uraian di atas, menjadi jawaban, mana yang bisa diterima, mana yang tidak. Adapun keterangan: “Dan ternyata sejarah tersebut juga dicatat oleh Gus Dur,” kiranya tidak perlu diurai lebih lanjut. Sebab tidak ada penjelasan, dicatat dalam bentuk apa, di mana, dan seperti apa rinciannya. Sedangkan Gus Dur sudah wafat, yakni pada 29/12/2009 M; sementara kisah itu disampaikan pada 2010 M—sebagaimana diurai di atas.

Namun demikian, jika Habib Luthfi, sebagai shahibul kisah memiliki bukti materi yang kuat dari apa yang dikisahkan, sebaiknya didiskusikan dalam forum ilmiah dengan melibatkan berbagai pihak, terutama para penulis sejarah NU yang selama ini menjadi rujukan. Dengan demikian akan lebih jernih dan jelas, sehingga tidak timbul kerancuan yang ujungnya bisa saja dapat mengaburkan sejarah NU dari aslinya. 

Demikian tanggapan penulis, semoga bermanfaat dan mohon maaf jika terdapat kesalahan. Wallahu a’lam.


Penulis tercatat sebagai pengurus di salah satu Lembaga dan Banom NU; penulis buku "Riwayat Syaikhona Kholil Bangkalan, Isyarah & Perjuangan di Balik Berdirinya NU", "Istighatsah An-Nahdliyah", "Syair Gus Dur", dan lain-lain. 

Ahad 19 Februari 2017 6:1 WIB
Meletakkan Pondasi Kesehatan di Pesantren
Meletakkan Pondasi Kesehatan di Pesantren
Foto: ilustrasi pesantren.
Oleh Ahmad Yahya

Ketika kita berbicara tentang pondok pesantren, maka tidak terlepas dari sosok santri, dasar terpenting untuk mendukung kegiatan santri di pondok pesantren adalah jaminan dan perlindungan kesehatan bagi santri maupun unsur-unsur yang terlibat didalamnya. Di pondok pesantrenlah lahir pejuang-pejuang Islam, di pondoklah Al-Quran di hapal, di pondoklah hadits Nabi Muhammad SAW dijelaskan dan di pondoklah tertanam tauhid dan manisnya iman.

Setiap jiwa menghendaki kesehatnnya terjamin, kesehatan merupakan pintu gerbang menuju kebahagiaan. Tanpa tubuh yang sehat akan sulit bagi kita untuk produktif dan menikmati berbagai hal dalam kehidupan. Hampir setiap orang mengerti dan memahami akan pentingnya kesehatan. Akan tetapi tidak sedikit pula yang belum menyadari dan berusaha untuk menjaga aset terpenting tersebut. Ketika tubuh sudah lemah dan tak berdaya karena sakit, kita hanya mampu menyesali dan baru menghargai kesehatan.

Kesehatan menurut World Health Organization (WHO) adalah suatu keadaan fisik, mental dan sosial  yang utuh, bukan hanya bebas dari penyakit atau kecacatan dalam segala aspek yang berhubungan dengan sistem tubuh, fungsi serta prosesnya. 

Kesehatan sangat penting untuk semua orang terutama remaja. Masa remaja merupakan periode transisi dari anak-anak menjadi dewasa, mereka adalah generasi penerus bangsa yang harus dipersiapkan untuk menjadi generasi yang sehat jasmani, rohani dan mental spiritual. 

Masa remaja juga merupakan masa menuntut ilmu, dimana mereka tidak hanya menuntut ilmu di sekolah pemerintah, tetapi juga mereka ada yang memilih untuk menuntut ilmu di lingkungan pondok pesantren. Pondok pesantren merupakan tempat untuk mendidik santri menjadi orang yang bertaqwa, berakhlak mulia serta memiliki kecerdasan yang tinggi.

Santri-santri yang berada di pondok pesantren merupakan anak didik yang pada dasarnya sama saja dengan anak didik di sekolah-sekolah umum yang harus berkembang dan merupakan sumber daya yang menjadi generasi penerus pembangunan yang perlu mendapat perhatian khusus terutama kesehatan dan pertumbuhannya. 

Sisi lain kultur dari pondok pesantren yang sering diabaikan adalah kesehatan santri, biasanya masih banyak pesantren yang melestarikan kultur tradisional di mana santri di pesantren dituntut untuk berperilaku sesuai life-style tradisional demi melestarikan kultur. Dan adapula yang sudah memiliki infrastruktur modern, tetapi yang menerapkan life-style modern ini belum banyak jumlahnya. 

Permasalahan kesehatan yang dihadapi santri-santri tidak berbeda dengan permasalahan yang dihadapi anak sekolah umum, bahkan bagi santri yang mondok akan bertambah lagi dengan masalah kesehatan lingkungan yang ada di pondok pesantren yang mereka tempati.

Permasalahan konkrit kesehatan secara umum yang terjadi dipondok pesantren antara lain berkaitan dengan kesehatan lingkungan, misal ; sampah yang berserakan di lingkungan pesantren, lantai pesantren jarang dipel, air limbah tidak mengalir kedalam got  sehingga menjadi sarang nyamuk, bak mandi jarang di kuras saluran air mandi tersumbat oleh sampah, kasur tidak dijemur.

Berkaitan dengan masalah tingkah laku ; piring tidak segera dicuci sebelum dan sesudah makan, sisa makanan yg berserakan di pesantren, pakaian yang sudah digunakan bergantungan di dalam asrama, santri tidur dilantai, tanpa selimut dan alas tidur, ember sabun, sepatu dan sandal diletakkan sembarangan di dalam asrama, bantal sering dipakai bersama-sama, menghidangkan makanan tidak ditutup, sesudah BAB tidak cuci tangan dengan sabun dan WC tidak disiram sampai bersih, pakaian basah dijemur di dalam asrama.

Berkaitan dengan masalah Gizi; mie dijadikan makanan pokok, menu makanan kurang bervariasi, santri tidak sarapan pagi, mengambil porsi makanan yang tidak sesuai. Berkaitan dengan masalah sarana dan prasarana; ruang asrama tidak sesuai dengan jumlah penghuni, kurangnya obat-obat ringan dan P3K, kurangnya tempat menjemur pakaian.

Kemudian muncullah beberapa penyakit yang sering muncul di pondok pesantren, seperti ; gatal dan scabies [gudiken], sesak napas, demam, pingsan, batuk pilek, maag, nyeri ringan, nyeri kolik, dan lain sebagainya. 

Pondasi kesehatan untuk santri

Kenyataan dan perilaku yang kurang terpuji tersebut  harus dirubah ke arah perilaku yang lebih baik dan higienis, karena pangkal kesehatan dimulai dari perilaku kita sendiri. Pertanyaannya adalah kapan lagi? Ya hari ini dan mulai sekarang.   

Beberapa solusi untuk meletakkan pondasi kesehatan di pondok pesantren adalah pertama, pembentukan dan Pelatihan tim UKS (Unit Kesehatan Santri). Kedua, penyuluhan kesehatan secara berkala. Ketiga, mengadakan pelatihan kader kesehatan kepada santri. Keempat, membuat pos kesehatan pondok pesantren (Poskestren). Kelima, membuat kelompok diskusi reproduksi kesehatan (khusus santri putri). Keenam, menyidiakan obat yang cukup lengkap di Pondok pesantren. Ketujuh, bekerjasama dengan rumah sakit terdekat atau perguruan tinggi yang membidangi masalah kesehatan. 

Memahamkan akan pentingnya kesehatan di pondok pesantren adalah sesuatu hal yang sangat penting, karena kesehatan santri merupakan ujung tombak dari suksesnya para santri untuk meraih cita-citanya, serta meneruskan perjuangan ulama, kiai dan tegaknya agama Allah SWT. Wallahu a’lam.

Penulis adalah Ketua Lembaga Ilmu Pengetahuan dan Sosial Masyarakat IMAN Institute, Alumni Pondok Pesantren Al Fattaah-Setinggil-Demak, Tinggal di Kota Semarang, Jawa Tengah.


Sabtu 18 Februari 2017 10:6 WIB
Tanggapan atas Kisah Berdirinya NU Versi Habib Luthfi (II)
Tanggapan atas Kisah Berdirinya NU Versi Habib Luthfi (II)

Oleh: Muhammad Ali Rahman 

Mengenai keganjilan yang dimaksud di tulisan bagian pertama (Baca: Tanggapan atas Kisah Berdirinya NU Versi Habib Luthfi (I)), penulis akan mengurai secara garis besarnya saja. Pada alinea pertama, sebagaimana tertera di atas, dijelaskan: "Menjelang berdirinya NU beberapa ulama besar kumpul di Masjidil Haram…” Para ulama itu menyimpulkan sudah sangat mendesak untuk membentuk wadah bagi terjaganya ajaran Aswaja, kemudian ulama Haramain melakukan istikharah, lalu mengutus Kiai Hasyim Asy’ari untuk pulang ke Indonesia…” Sampai di sini, sudah timbul pertanyaan. Apakah saat peristiwa itu, Kiai Hasyim masih mondok di Makkah atau dalam rangka yang lain? 

Kalau dikatakan “Menjelang berdirinya NU,” berarti tidak lama selang waktunya dari peristiwa tersebut. Sedangkan di akhir abad XIX, yakni pada tahun 1899 M, Kiai Hasyim sudah mulai merintis pesantren di Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Sehingga, menjelang berdirinya NU, di paroh awal abad XX, beliau sudah menyandang predikat sebagai ulama besar. Dalam kata lain, saat menjelang berdirinya NU, Kiai Hasyim tidak mukim di Makkah. Lantas, keberadaan beliau di Makkah, seperti dituturkan Habib Luthfi, dalam rangka apa? Mungkin dalam rangka yang lain, misalkan sedang berhaji. Tapi apa mungkin, sebab: 

Pertama, beliau sudah menunaikan ibadah haji, dan dua kali bermukim di Makkah. Tahun 1892 M, beliau dihadiahi naik haji bersama istri, oleh Kiai Ya’kub, guru sekaligus mertuanya, lalu mukim di Makkah selama satu tahun. Kemudian, dalam rentang waktu tahun 1893 M, mondok lagi ke Makkah, sampai kembalinya ke tanah air lalu mendirikan pesantren. 

Kedua, saat itu orang naik haji butuh waktu berbulan-bulan karena naik kapal laut, sementara posisi beliau adalah pengasuh pesantren dan kondisi Indonesia sedang dijajah Belanda. 

Karena kemungkinan tersebut di atas rasanya tidak mungkin, penulis lalu mencoba merujukkan pada keterangan Kiai As’ad Syamsul Arifin, Situbondo. Di mana, pada 1923 M, terjadi pertemuan para ulama di kediaman KH Mas Alwi Abdul Aziz (Kawatan, Surabaya, Jawa Timur), membahas masalah aliran baru yang antimazhab. Salah satu hasil pertemuan itu, diutuslah empat orang kiai untuk istikharah di setiap makam Wali Songo, serta empat orang kiai lagi diutus ke Madinah. Walau dikatakan, diutus ke Madinah, bisa saja mampir ke Makkah. Namun, Kiai As’ad tidak menyebut kehadiran Kiai Hasyim dalam pertemuan itu, serta tidak menyebut nama-nama kiai yang diutus ke Madinah. Karenanya, sulit diidentifikasikan dengan keterangan Habib Luthfi terkait dengan pertemuan ulama di Masjidil Haram yang kemudian mengutus Kiai Hasyim pulang ke Indonesia.

Menilik uraian penulis di atas ini, mungkin pembaca menilainya masih agak remang-remang. Selanjutnya mari kita elaborasikan dengan penjelasan Chairul Anam dalam Pertumbuhan & Perkembangan NU. Dalam buku tersebut dijelaskan, pada 1924 M, ketika pertahanan Syarif (Raja) Husein mulai lemah atas serbuan pasukan Abdul Aziz Al-Saud di Hijaz; Kiai Wahab Hasbullah menyampaikan gagasan kepada Kiai Hasyim, selaku guru dan ulama terkemuka saat itu, untuk membentuk wadah bagi Ulama Aswaja. Mendapat gagasan itu, Kiai Hasyim tidak serta merta merestuinya. Walau beliau menerima, namun ditanggapi dengan sangat hati-hati. Sebab jika salah mengambil keputusan, bisa berakibat fatal. Menurut Kiai As’ad Syamsul Arifin, walau gagasan itu diterima, namun sebagai ide atau wacana. “Hadratus Syaikh (demikian Kiai As’ad memanggil Kiai Hasyim) ingin melapor dulu kepada Allah SWT melalui istikharah…” 

Kenyataan seperti diungkap di atas, terbalik dengan sikap Kiai Hasyim, seperti diceritakan Habib Luthfi, ketika beliau diutus pulang ke Indonesia untuk menemui Habib Hasyim dan Syaikhona Kholil, yang ternyata beliau berdua menyetujui, dengan catatan: “…tapi tolong saya jangan ditulis.” Hingga akhirnya: ”Kiai Hasyim Asy’ari pun merasa lega dan puas.”

Nah, jika informasi ini benar, semestinya Kiai Hasyim langsung mendirikan wadah bagi terjaganya ajaran Aswaja tersebut—bukan atas gagasan dari Kiai Wahab. Sebab, beliau sudah menerima mandat dari ulama di Haramain, serta direstui pula oleh Syaikhona Kholil, selaku gurunya. Atau, setidak-tidaknya, ketika beliau menerima gagasan dari Kiai Wahab, bak gayung bersambut, karena sebelumnya sudah mendapat mandat dan restu. Tapi faktanya, Kiai Wahab harus menunggu lama, yakni antara tahun 1924 sampai awal 1926 M, untuk mendapat restu dari Kiai Hasyim. Chairul Anam dan Kiai As’ad, menjelaskan, Kiai Hasyim merestui gagasan Kiai Wahab, setelah beliau mendapat jawaban dari istikharahnya melalui isyarah dari Syaikhona Kholil—selengkapnya dapat dibaca dalam: Pertumbuhan & Perkembangan NU (1985).

Penjelasan di atas, kiranya sudah cukup terang. Agar jadi benderang, sekarang kita coba mencari kemungkinan lain. Misalkan: mungkin saja peristiwa di Masjidil Haram itu terjadi pada tahun 1924 M, atau setelah Kiai Wahab menyampaikan gagasannya, dan atau pada tahun 1925 M, alias menjelang bulan-bulan berdirinya NU—sebaimana Habib Luthfi mengatakan: “Menjelang berdirinya NU...” Hal ini bisa dijawab sebagai berikut: 

1-Pada tahun 1924 M, sedang terjadi perang antara pasukan penguasa setempat, Raja Husein, menghadapi serbuan pasukan keluarga penguasa Najd, Abdul Aziz Al-Saud. Apa mungkin dalam situasi perang. Kiai Hasyim berangkat ke Makkah. Belum lagi jika bicara soal alat transportasi yang masih menggunakan kapal laut, serta tidak mudah. 

   2-Sebagaimana uraian di atas, Chairul Anam menulis: pada tahun 1924 M, Kiai Wahab menyampaikan gagasannya kepada Kiai Hasyim. Dalam rekaman ceramah Kiai As’ad Syamsul Arifin (yang penulis miliki), beliau menjelaskan: pada tahun 1924 M, dua kali diutus Syaikhona Kholil menemui Kiai Hasyim di Tebuireng, Jombang. Pertama, untuk mengantarkan tongkat. Yang kedua, mengantarkan tasbih. Untuk kepergiannya yang kedua menemui Kiai Hasyim, Kiai As’ad mengatakan, “Tahun 1924 akhir…” Ini artinya, dalam rentang waktu tahun 1924 M, Kiai Hasyim berada di tanah air. 

3-Kalau peristiwa di Masjidil Haram itu terjadi pada tahun 1925 M, di tahun ini, tepatnya 24 April, Syaikhona Kholil wafat, setelah sebelumnya beliau sakit. Apa mungkin—anggaplah—tahun 1924 M akhir Kiai Hasyim masih di Tebuireng, kemudian awal 1925 M, beliau bertolak dari Makkah ke tanah air, lalu menemui Habib Hasyim di Pekalongan, Jawa Tengah, selanjutnya menemui Syaikhona Kholil di Bangkalan, Madura, Jawa Timur? Selain persoalan biaya; bagaimana dengan lamanya perjalanan, pulang pergi Makkah-Tebuireng, baik perjalanan darat atau ketika naik kapal laut, yang bisa berbulan-bulan, serta tidak mudah. Belum lagi persoalan lain, tahun 1925 M, Hijaz dikuasai Abdul Aziz Al-Saud yang melarang berbagai kegiatan Aswaja. (Bersambung)


     Penulis tercatat sebagai pengurus di salah satu Lembaga dan Banom NU; penulis buku "Riwayat Syaikhona Kholil Bangkalan, Isyarah & Perjuangan di Balik Berdirinya NU", "Istighatsah An-Nahdliyah", Syair Gus Dur, dan lain-lain.


IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG