IMG-LOGO
Nasional

Al Azhar Mesir Undang Ketum PBNU

Senin 27 Februari 2017 7:30 WIB
Bagikan:
Al Azhar Mesir Undang Ketum PBNU
Jakarta, NU Online
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Kiai Said Aqil Siroj bertemu Duta Besar Mesir untuk Indonesia, Ahmed Amr Ahmed Moawad di Kedutaan Mesir, Jakarta, Ahad (26/2).

Pertemuan tokoh dua negara tersebut membahas beberapa hal termasuk agenda Kiai Said yang diundang untuk berceramah di Universitas Al-Azhar Kairo.

“Kehormatan bagi kami Muslim Indonesia dapat kesempatan berbicara di depan para cendikia Mesir, utamanya di hadapan para alim Al-Azhar,” kata Kiai Said kepada Ahmed.

Menurut Kiai Said, kesempatan berkunjung ke Mesir akan dimanfaatkan untuk menjalin kerja sama di bidang pendidikan, sehingga transmisi keilmuan Islam antara Indonesia dan Mesir semakin kuat dan terjaga.

“Ahlussunnah wal Jamaah itu mereferensi kepada ulama Sunni di Mekkah, Madinah dan Al-Azhar, di era ini Al-Azhar dan Nahdlatul Ulama memegang peran strategis,” kata kiai said.

Di samping itu Kiai Said juga akan menyampaikan komitmen NU bersama-sama masyarakat dunia untuk mengupayakan perdamaian dunia Islam. Masyarakat Mesir yang punya basis peradaban punya kesamaan dengan Muslim Indonesia.

“Perdamaian dunia Islam perlu kita dorong bersama-sama sehingga beberapa negara mayoritas muslim yang saat ini masih berkonflik dapat secepatnya menyadari dan melakukan recovery,” ujar Kiai Said.

Atas harapan Kiai Said, Ahmed menyambut baik dan berharap misi NU ke Mesir berjalan baik dan berhasil.

“Kita sekarang silaturahim agar hubungan dan harapan kita berjalan dengan baik,” kata Ahmed. (Red: Mahbib)

Tags:
Bagikan:
Senin 27 Februari 2017 23:20 WIB
Menpora Ingin AMI Lakukan Terobosan Baru
Menpora Ingin AMI Lakukan Terobosan Baru
Jakarta, NU Online
Menpora Imam Nahrawi berharap organisasi kepemudaan baru yang bernama Anak Muda Indonesia (AMI) cepat beradaptasi dan bisa menunjukkan organisasi yang bermanfaat untuk bangsa. Hal itu disampaikan Menpora Imam Nahrawi saat menerima Sekjen AMI Al Ghazali Musa`ad bersama rombongan di lantai 10, Kemenpora, Jakarta, Senin (27/2). 
 
Pada pertemuan tersebut, Menpora yang didampingi oleh Sekretaris Deputi Pengembangan Pemuda Imam Gunawan dan Staf Khusus Kepemudaan Zainul Munasichin memberikan apresiasi kepada AMI sebagai organisasi baru. 

"Saya senang ada organisasi kepemudaan baru AMI yang saya harapkan bisa menjadi organisasi anak muda dalam melakukan kegiatan-kegiatan yang memberikan manfaat untuk bangsa. Jadi bukan hanya sakadar organisasi pemuda yang jalan ditempat," kata Menpora.
 
"AMI harus melakukan terobosan-terobosan baru dalam melakukan kegiatan yang nantinya bisa menjadi wadah bagi anak muda untuk kreatif dan inovatif dalam hal apapun. Mengenai undangan pelantikan dan rapat kerja nasional AMI pertama insyaallah akan saya usahakan hadir, karena saya masih harus melihat agenda yang lainnya," tambah Menpora. 
 
Sementara Sekjen AMI Al Ghazali Musa'ad berterima kasih telah diterima oleh Menpora. "Saya berharap banyak pak Menteri nanti bisa hadir pada acara pelantikan dan rapat kerja nasional pertama kita. Kita sebagai organisasi baru akan terus berusaha memberikan yang terbaik dan bermanfaat," kata Al Ghazali. (Red-Zulfa)
Senin 27 Februari 2017 21:4 WIB
PP GP Ansor Umrahkan Janda Almarhum Ketua Ranting
PP GP Ansor Umrahkan Janda Almarhum Ketua Ranting
Rembang, NU Online
Ketua Umum Pimpinan Pusat GP Ansor H Yaqut Cholil Qoumas memberangkatkan umrah janda dari almarhum Ansori, Ketua Pimpinan Ranting GP Ansor Desa Pasarbanggi Kecamatan Rembang. Ansori meninggal akibat kecelakaan beberapa waktu lalu.

Gus Yaqut didampingi Ketua GP Ansor Rembang Hanies Cholil Barro' menyambangi dan menyerahkan tali asih umrah tersebut kepada Mustarikhah (38) di kediaman yang bersangkutan di Desa Pasarbanggi, Senin (27/2) siang.

Seusai penyerahan tali asih umrah persembahan Sorban Nusantara Tour and Travel, Gus Yaqut mengatakan, penghargaan ini diberikan antara lain karena Mustarikhah merupakan istri dari salah seorang kader Ansor yang meninggal setahun lalu.

"Ini sebagai penghargaan Ansor terhadap salah satu kadernya. Kader kita ini sudah meninggal. Kita ingin mengumrahkan istrinya agar di sana bisa merasa lebih berkah. Bisa lebih leluasa mendoakan suami dan perjuangan suaminya selama ini," tuturnya.

Menurut Yaqut, penghargaan itu memang belum seberapa dibandingkan dengan jasa kadernya yang diberikan kepada GP Ansor, bangsa, negara, dan terlebih kepada jam'iyah Nahdlatul Ulama. Tetapi perhatian ini merupakan bagian dari penghargaan Ansor kepada kader-kadernya.

"Kita juga insya Allah memberangkatkan umrah orang tua Riyanto, seorang Banser Mojokerto yang meninggal saat menyelamatkan rumah ibadah dari pemboman. Dan satu korban lagi di Mojokerto yang selamat tetapi kehilangan satu matanya, insya Allah kita umrahkan pula," imbuhnya.

Sementara itu, Mustarikhah menyatakan bersyukur kepada Allah, karena cita-citanya untuk bisa berziarah ke makam Nabi Muhammad segera bisa terwujud. Ia juga menyatakan tidak menyangka mendapatkan penghargaan tali asih dari Ansor. Ia mengucapkan terima kasih.

"Alhamdulillah sangat bersyukur bisa sowan Kanjeng Nabi. Sebelumnya sudah ada krentek (niat). Saya juga sudah mendaftar haji, tetapi baru akan berangkat 2038. Barangkali, dikehendaki oleh Allah untuk umrah. Saya amalkan dawuh dari para kiai dan saya mengimani," ujarnya.

Pada kesempatan itu, janda dua anak itu semakin aktif setelah ditinggal meninggal suaminya dalam mengajar di Taman Pendidikan Al-Quran (TPQ) di desa setempat. Ia menyatakan siap berangkat umrah. Dua anaknya nanti, akan dititipkan kepada kakak perempuannya.

"Suami meninggal 5 Februari 2016. Belum genap setahun, memang rasanya berat. Tetapi setelah berjalan setahun ini, saya seperti bersemangat lagi. Anak saya tiga, tapi yang satu meninggal. Tinggal dua. Yang satu kelas 3 MTs, yang kedua umur 19 bulan," terang perempuan yang penghafal Al Qur'an itu.

Setelah menerima tali asih umrah dari Gus Yaqut, GP Ansor Rembang siap melakukan pengawalan terhadap Mustarikhah dalam mengurus kelengkapan administrasi seperti paspor dan kelengkapan lain, dengan harapan dapat dipermudah. (Ahmad Asmui/Alhafiz K)
Senin 27 Februari 2017 19:14 WIB
Mustolih Siroj: Masyarakat Perlu Tahu Peraturan soal Lembaga Filantropi
Mustolih Siroj: Masyarakat Perlu Tahu Peraturan soal Lembaga Filantropi
Jakarta, NU Online
Dosen Fakultas Syariah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Mustolih Siroj mengungkapkan ada banyak perspektif dan undang-undang yang mengatur penyelenggaraan filantropi. Sayangnya, kebanyakan masyarakat tidak mengetahui hal tersebut.

“Kalau filantropi mengarah pada keagamaan khususnya Muslim diatur oleh UU Nomor 23 Tahun 2011 Tentang Pengelolaan Zakat. Itu juga ada turunannya, karena ada PP Nomor 14 Tahun 2014. Karena leading sector-nya Baznas (Badan Amil Zakat Nasional), maka ada peraturan-peraturan Baznas,” kata Mustolih kepada NU Online seusai mengisi acara Ngobrol Filantropi (Ngopi) di Saung Cendol Huis, Ciputat, Tangerang Selatan, Ahad (26/2).

Ia melanjutkan, filantropi untuk non-Muslim diatur UU Nomor 9 Tahun 1961 beserta turunannya tentang pengumpulan uang dan barang. Demikian juga untuk wakaf, kebencanaan, penanganan fakir miskin, juga ada undang-undang dan regulasinya.

Karena itu, katanya, undang-undang yang mengatur penyelenggaraan filantropi sebenarnya sangat kuat. Kuatnya undang-undang yang mengatur filantropi perlu diketahui masyarakat, karena lembaga filantropi melakukan pengumpulan donasi publik.

“Ini juga untuk melindungi donatur agar lebih tenang dalam penyaluran dananya,” tegasnya.

Mustolih menambahkan, lembaga filantropi juga dituntut untuk semakin kredibel dengan adanya UU Nomor 14 Tahun 2008 Tentang Keterbukaan Infomasi Publik. Apabila lembaga filantropi semakin kredibel dan transparan, masyarakat akan semakin percaya.

“Tulang punggung dan pilar utama penyelenggaraan filantropi itu trust, kepercayaan. Kalau tidak punya itu ya tidak profesional. Karena ketika masyarakat tidak percaya apa gunanya ada lembaga-lembaga itu?” lanjut Mustolih.

Terkait dengan hal itu, ia menilai NU Care-LAZISNU (Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shadaqah Nahdlatul Ulama) sudah mulai bergerak menjadi lembaga yang kredibel dan transparan, dan menyesuaikan diri dengan undang-udang filantropi yang berlaku.

“NU Care-LAZISNU yang diberi izin Kemenag, salah satu pertimbangannya adalah transparansi dalam laporan keuangan, lalu penerima manfaat dan spektrumnya seperti apa. Kalau lembaga ZIS tidak transparan dalam audit juga tidak akan dipercaya, dan itu membahayakan mereka sendiri,” ungkapnya.

Ia mendorong NU Care LAZISNU juga memperkuat kepercayaan masyarakat dengan mengaplikasikan UU nomor 14 tahun 2008, tentang keterbukaan informasi publik.

Masyarakat berhak mengetahui pengelolaan zakat, keuangannya seperti apa, pengelolaan SDM seperti apa, lalu audit keuangan, pembagian antara asnaf yang 8, juga menjadi hal yang nantinya menjadi penilaian dan kepercayaan publik.

“NU kan umatnya banyak. Tidak ada alasan untuk tidak transapran dalam pelaporan LAZISNU. Langkah penyempurnaan laporan, misalnya bagaimana annual report yang lengkap dan komperhansif setiap tahun agar dinilai masyarakat,” pungkas Mustolih. (Kendi Setiawan/Mahbib)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG