IMG-LOGO
Daerah

Jamaah Pengajian Seni Sanggar Jubah Rilis Album Kedua Bertema Cinta Tanah Air

Senin 27 Februari 2017 20:35 WIB
Bagikan:
Jamaah Pengajian Seni Sanggar Jubah Rilis Album Kedua Bertema Cinta Tanah Air
Pacitan, NU Online 
Jamaah Pengajian Seni Sanggar Jubah Pesantren Al Fattah Kikil Arjosari Pacitan Pimpinan Gus Hammam Fathullah meluncurkan album kedua berjudul Hubbul Wathan Minal Iman. Ahad malam (26/2). Peluncuran album itu dirangkaikan dengan penyerahan hadiah kepada para pemenang festival rebana klasik se-Kabupaten Pacitan tingkat SD/MI dan umum.

Menurut Gus Hammam, album yang digarapnya ini sengaja disuguhkan untuk memberikan penyegaran di tengah kondisi bangsa yang sedang mengalami degradasi rasa cinta terhadap tanah air.

Tema besar Hubbul Wathan Minal Iman yang memiliki arti cinta tanah air sebagian daripada iman ini diharap mampu menumbuhkan kembali semangat kecintaan terhadap NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika.

"Cinta terhadap negara bisa diungkapkan (lewat apa saja), salah satunnya dengan seni musik islami," tuturnya saat berbincang dengan NU Online usai acara peluncuran.

Gus Hammam yang merupakan pencipta lagu Mars Gerakan Ayo Mondok itu mengatakan, Album kedua yang dirilis Sanggar Jubah ini menggabungkan kolaborasi musik tradisional kepesantrenan, Jazz, Dangdut, Gambus dan Rock. Sebelumnya Sanggar Jubah pernah merilis album perdana pada tahun 2014.

Album ini berisikan 10 komposisi lagu shalawat, yaitu Iftitah Instrumentalia, Mars Ayo Mondok, Kun Anta, Syair Golek Ilmu, Hubbul Wathan Minal Iman, Sallahu ala Muhammad, Sirru Linaili, Shifatullah, Shollu Alannuril, dan Bongkar (Feat. OI Pacitan).

"Itulah yang menjadi dasar Sanggar Jubah menggarap aransemen dan lagu-lagu yang berbeda. Memiliki unsur pepiling, namun dengan kemasan yang kreatif," ujar alumni pesantren Krapyak Yogyakarta itu.

Masih kata Gus Hammam, semua lagu dalam album ini dinyanyikan dan direkam sendiri oleh para santri Pesantren Al Fattah Kikil Arjosari Pacitan. Diapun merasa bangga para santri memiliki minat dan perhatian besar terhadap dunia seni.

"Siapa yang tidak suka dengan musik. Namun seyogyanya (dalam menggarap lagu) harus ada pesan dan tujuan dalam setiap nada dan liriknya," pungkas putera kedua KH Burhanuddin HB itu.

Jamaah pengajian seni Sanggar Jubah merupakan satu-satunya sanggar seni pesantren di Pacitan yang paling aktif melakukan pementasan. Dalam setiap penampilan, Sanggar Jubah selalu menampilkan konsep pementasan yang berbeda dalam setiap penampilanya. 

Acara peluncuran album kedua ini digelar di halaman pesantren Al Fattah Kikil Arjosari. Sanggar Jubah menyuguhkan lagu-lagunya di hadapan para penonton dengan apik. Wakil Bupati Pacitan Yudi Sumbogo berkesempatan hadir menyaksikan peluncuran ini.

Sementara itu, festival Rebana klasik se-Kabupaten Pacitan tingkat pelajar SD/MI dan umum yang digelar pada Sabtu dan Ahad (25-26/2) diikuti sebanyak 40 grup Rebana. 

Festival yang bertema Indahnya Shalawat Ciptakan Indonesia Damai ini digelar dalam rangka menyemarakkan usia lima windu kebangkitan pesantren Al Fattah Kikil Arjosari Pacitan sekaligus dalam rangka peluncuran album kedua Jamaah Pengajian Seni Sangar Jubah. 

Tahun ini, Panitia mendatangkan dewan juri yang sangat berkompeten dalam bidangnya, yaitu Gus Aminullah dari Jamiyyah Ahbabul Musthofa Yogyakarta, Rachmat Soemitro, dari Krapyak Yogyakarta dan Muttaqin, dari Pacitan.

Adapun aspek penilaian dalam festival ini yakni pada bidang olah vokal, instrumen dan penampilan. (Zaenal Faizin/Mukafi Niam)
Bagikan:
Senin 27 Februari 2017 23:25 WIB
Anggota Banser Harus Miliki Jiwa Korsa
Anggota Banser Harus Miliki Jiwa Korsa
Probolinggo, NU Online
Ketua Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kota Kraksaan Taufiq menyampaikan bahwa menjadi anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser) harus memiliki jiwa korsa. Yakni, semangat kebersamaan, persatuan dan kesatuan terhadap suatu korps senasib dan sepenanggungan.

Hal tersebut disampaikan Taufiq dalam Pendidikan dan Pelatihan Dasar (Diklatsar) Banser yang digelar PC GP Ansor Kota Kraksaan Kabupaten Probolinggo di lereng Gunung Argopuro Desa Segaran Kecamatan Tiris Kabupaten Probolinggo, Sabtu dan Ahad (25-26/2) sore.

“Saya meminta agar dalam setiap anggota Banser tertanam jiwa korsa dengan penuh tanggung jawab disertai dengan dedikasi untuk sesuatu hal yang mulia. Tentunya juga demi kegiatan yang bersifat kebajikan dan kebaikan serta tolong menolong dengan mengedepankan rasa kebersamaan,” katanya.

Diklatsar Banser sendiri diikuti oleh 340 orang peserta. Selama kegiatan mereka mendapatkan beragam materi dari beberapa narasumber yang dihadirkan oleh PC GP Ansor Kota Kraksaan. “Dengan kegiatan ini, tentunya Banser akan mendapatkan amunisi baru yang siap membesarkan NU dan menjadi benteng ulama NU,” jelasnya.

Ratusan anggota Banser ini terlihat semangat mengikuti rangkaian Diklatsar Banser. Meskipun hujan disertai dengan angin kencang, tetapi mereka tetap antusias mengikuti tahapan demi tahapan. “Mudah-mudahan apa yang kami lakukan ini mendapatkan rido Allah dan barokahnya para ulama NU,” kata salah satu peserta. (Syamsul Akbar/Mukafi Niam)
Senin 27 Februari 2017 23:1 WIB
Perkuat NU, Percaya Kekuatan Sendiri
Perkuat NU, Percaya Kekuatan Sendiri
Tangerang Selatan, NU Online
Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Tangerang Selatan KH Mohammad Thohir mengatakan dalam upaya kemandirian NU di wilayah Tangerang Selatan, harus dilakukan sendiri oleh warga NU di wilayah tersebut. 

“Kita wajib mempercayakan penyelesaian urusan yang ada dengan kemampuan diri kita sendiri. Jangan hanya menungu-nunggu bantuan dari pihak luar,” kata Kiai Thohir pada kegiatan Ngobrol Filantropi (Ngopi) yang digelar NU Care Tangerang Selatan, di Saung Cendol Huis, Ciputat, Ahad (26/2).

Menurutnya saling mengingatkan secara intensif juga harus dilakuan, termasuk dalam menggerakkan semangat filantropi atau kedermawanan. Tujuannya untuk membentuk jaringan baru dan memperbesar jaringan yang sudah ada.

Ia menyambut baik upaya yang dilakukan NU Care Tangsel yang menggerakkan semangat filantropi di wilayah PCNU Tangsel. Diharapkan semangat tersebut dapat menular dilakukan oleh lembaga dan banom lainnya, agar saling bekerjasama dan mendukung di bawah payung hukum NU Care dalam pengumpulan dan penyaluran dana zakat, infak, dan sedekah. 

“Lembaga dan banom lain tidak usah ada kecemburuan. IPNU, IPPNU, GP Ansor, Maarif, ISNU, Pagar Nusa, PMII, Fatayat, LKNU dan semuanya harus bergerak bersama dengan NU Care LAZISNU. Pengumpulan ZIS dari masyarakat dilakukan bersama NU Care. Toh dalam pemanfaatannya semua lembaga tersebut dapat menggunakan dana yang ada yang terkumpul oleh NU Care. Misalnya anak-anak IPNU atau PMII dapat mengajukan beasiswa kepada NU Care. Begitu juga LDNU kalau mau mengadakan pelatihan dapat memanfaatkan dana NU Care,” urai Kiai Thohir.

Ia menegaskan semangat filantropi NU Care bersama semua lembaga dan banom menjadi bagian penting untuk penguatan NU di Tangerang Selatan. 

Pada kesempatan tersebut, para peserta selain mendengarkan paparan juga berdiskusi dan melakukan komitmen untuk memajukan NU Tangerang Selatan dengan semangat filantropi bersama NU Care.

Ari, salah satu peserta dari GP Ansor Tangsel yang turut hadir, mengatakan pihaknya sangat mendukung inisiatif NU Care Tangsel. 

“Banser, GPAnsor akan menggandeng NU Care LAZISNU dalam pengambilan ZIS di acara-acara yang kami selenggarakan. Juga iuran anggota akan dimasukkan dalam pencatatan dan didonasikan melalui NU Care,” kata Ari. (Kendi Setiawan/Mukafi Niam)
Senin 27 Februari 2017 22:22 WIB
Paduan Suara MTs Binaul Ummah Bakar Semangat Nasionalisme Peserta Konferwil Fatayat ke-XI
Paduan Suara MTs Binaul Ummah Bakar Semangat Nasionalisme Peserta Konferwil Fatayat ke-XI
Yogyakarta, NU Online
Pada acara perhelatan Konferwil Fatayat NU DIY ke-XI, Sabtu-Ahad (25/26), paduan suara dari MTs Binaul Ummah membakar semangat nasionalisme dan semangat ke-NU-an peserta yang hadir. Ada tiga lagu yang ditampilkan oleh paduan suara MTs Binaul Ummah yakni Mars Syubbanul Wathon, Mars Fatayat dan Syi’ir NU. 

“Indonesia negeriku, engkau panji martabatku, siapa datang mengancammu kan binasa di bawah dulimu. Siapa datang mengancammu kan binasa di bawah dulimu!, demikian salah satu lirik Mars Syubbanul Wathon karya Kiai Wahab Hasbullah yang menggetarkan arena Konferwil Fatayat ke-XI. 

Selain menyanyikan lagu bernafaskan nasionalisme, mereka juga menyanyikan syi’ir NU yang secara tidak langsung memberikan pengetahuan kepada para peserta yang hadir tentang NU dalam acara pembukaan Konferwil Fatayat tersebut. 

Tahun 26 laire NU. Ijo-ijo benderane NU. Gambar jagad simbole NU. Bintang songo lambange NU,” ujar mereka kompak. 

Pelatih paduan suara sekaligus guru di MTs Binaul Ummah, Heri Kiswanto mengungkapkan bahwa hanya butuh waktu latihan selama tiga minggu dan delapan kali tatap muka. 

“Sebenarnya siswa memiliki potensi yang bagus dalam hal seni olah suara. Saya berharap ke depan, para siswa diberikan ruang lebih banyak untuk belajar musik,” tegas Heri. 

Sebagai pelatih, Heri juga menegaskan kagum dengan lagu Syubbanul Wathan. 

“Lagu Syubbanul Wathan bukan sekadar lagu biasa. Lagu tersebut termasuk lagu yang memiliki ruh yang dapat menggetarkan dan membangkitkan kembali jiwa nasionalisme kaum santri, baik itu yang menyanyikan maupun yang mendengarkan lagu itu,” tandas Heri. 

Penampilan paduan suara MTs Binaul Ummah yang menyanyikan lagu bernapaskan nasionalisme mendapatkan apresiasi yang luas dari tamu undangan dan peserta yang hadir. (Nur Rokhim/Mukafi Niam) 
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG