IMG-LOGO
Trending Now:
Daerah

PMII Prihatin Maraknya Kekerasan terhadap Perempuan


Rabu 1 Maret 2017 02:30 WIB
Bagikan:
PMII Prihatin Maraknya Kekerasan terhadap Perempuan
Jepara, NU Online
Forum Kajian Jender (FKJ) yang tergabung dalam Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jepara, Jawa Tengah, mengaku prihatin dengan maraknya kekerasan terhadap perempuan, khususnya di Jawa Tengah.

Keprihatinan itu diwujudkan dengan penyelenggaraan Seminar dan Pemilihan Duta Genre (Generasi Berencana) tingkat pelajar SLTA se-Kabupaten Jepara di Gedung Pringgitan, belakang Pendapa Kabupaten Jepara, Senin (27/02) pagi.

Berdasarkan data catatan tahunan hingga tahun 2015, kekerasan terhadap perempuan mencapai 321.753 kasus, sedangkan data dari sumber yang ditangani pengadilan agama berjumlah 305.535 kasus.

Sementara lembaga layanan mitra Komnas Perempuan menemukan 16.217 kasus. Berdasarkan kasusnya, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) menjadi kasus tertinggi di tahun ini yaitu mencapai 147 kasus atau 29 persen, Kekerasan Dalam Pacaran (KDP) mencapai 98 kasus atau 19,8 persen, prostisusi ada 35 kasus atau 7.06 persen, perbudakan seksual 32 kasus atau 6,5  persen, traffiking 18 kasus atau 3,6 , pelecehan seksusal 15 kasus atau 3,02 persen dan buruh migran sebanyak 7 kasus atau 1,4 persen, jika dilihat dari jenis kekerasannya, di tahun 2016 ini kasus kekerasan seksusal masih mendominasi.

Dari 871 perempuan korban kekerasan, sebanyak 700 atau 80,4 persen perempuan mengalami kekerasan seksual. Tingginya angka kekerasan seksual tidak hanya di Jawa Tengah saja tetapi catatan komnas perempuan juga menunjukkan kecenderungan serupa.

Ketua Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Muji Susanto, mengatakan kekerasan terhadap anak dan perempuan sudah menjadi extra ordinary crime (kejahatan yang sangat luar biasa), dari 1,2 juta penduduk Jepara, sepertiganya adalah anak-anak diperkirakan 400 ribu jiwa.

"Berdasarkan penelitian menggunakan data sampling random ke sekolah-sekolah dari ujung Utara hingga ujung selatan Jepara, 8 dari 10 siswa SMP sederajat sudah pernah ciuman dan lihat film porno, sedangkan 8 dari 10 siswa SLTA sederajat pernah lihat film porno dan ciuman bahkan 1 dari 10 siswa lainnya pernah melakukan hubungan intim," ungkapnya.

Ketua FKJ PMII Jepara Uswatun Hasanah, mengatakan remaja merupakan bagian dari potensi bagi pembangunan bangsa di masa depan, di sisi lain remaja juga rentan terhadap berbagai permasalahan seperti nikah muda, perilaku seks pra nikah, penyalahgunaan narkotik, psikotropika, dan zat aditif (Napza) dan penularan HIV/AIDS dan penyakit menular seksual lainnya.

Demikian juga, Ketua PMII Cabang Jepara Erkham Sobri mengatakan, tingginya kasus kekerasan seksual tidak diiringi dengan membaiknya kasus pemenuhan hak-hak korban, seperti layanan medis yang harus berbayar, adanya impunitas pelaku koban kekerasan seksusal yang dimediasi dan di damaikan dengan pelaku.

Hal ini karena ketiadaan undang-undang yang mampu menghapuskan kekerasan dari mulai pencegahan, penanganan, perlindungan dan pemulihan secara menyeluruh dan terintregasi.

"Keberadaan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual yang saat ini sudah masuk dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas) tahun 2016 penting untuk segera dibahas dan disahkan karena ini merupakan kewajiban Negara dalam menghapuskan kekerasan terhadap perempuan termasuk kekerasan seksual sebagaimana diatur di dalam instrument hukum HAM baik nasional maupun internasional. Namun hingga saat ini, RUU tersebut belum segera dibahas di DPR RI," ungkap Erkham S sebagaimana rilis yang diterima NU Online.

Dengan hadirnya Pemilihan Duta Genre dan sosialisasi ini, dalam rangka promosi program Genre, berharap peserta pemilihan Duta Pelajar Genre tahun 2017 memperoleh sosok motivator yang akan membantu dalam mensosialisasikan program Genre di lingkungan sekolah, terlebih bisa mengurangi kenakalan remaja di kabupaten Jepara. (Syaiful Mustaqim/Mahbib)

Bagikan:
IMG
IMG