IMG-LOGO
Internasional

Ketum PBNU: Nabi Muhammad Dirikan Negara Bukan Berasas Agama

Selasa 7 Maret 2017 15:48 WIB
Bagikan:
Ketum PBNU: Nabi Muhammad Dirikan Negara Bukan Berasas Agama
Kairo, NU Online 
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj di sela-sela kegiatanya dalam muktamar Muslim Council of Elders di Mesir, menyempatkan hadir di tengah-tengah kita dalam acara Dialog Kebangsaan yang di selenggarakan PCINU Mesir dengan tema “Peran Ulama Nusantara dalam Peradaban Dunia” di Aula Fakultas al-Lughah Al-Arabiyah Universitas al-Azhar asy-Syarif, Darrasah, Kairo 1 Maret 2017. 

Acara tersebut dimulai dengan pembacaan Simtudduror oleh kawan-kawan LSBNU Mesir juga dimeriahkan oleh tim seni marawis dari Kekeluargaan Mahasiswa Jakarta. Qori' andalan Masisir Abdul Ghoni Njaih juga turut serta melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran dengan suara merdunya. 

Dalam sesi selanjutnya Ilman Abdul Haq selaku ketua Tanfidzyah PCINU Mesir menyampaikan bahwa "pertemuan ini adalah pertemuan dua simbol besar kemoderatan Islam, NU dan Al-Azhar" tuturnya. 

Selain dialog turut diisi dengan pelantikan JATMANU serta peluncuran sistem wakaf sekretariat PCINU Mesir.

Duta Besar Luar Biasa Berkuasa Penuh (LBBP) RI untuk Mesir, Helmy Fauzi telah dua kali hadir dalam acara besar yang di selenggarakan PCINU Mesir. Kali ini ia menyampaikan beberapa poin terkait tema pembahasan. 

Ia mengatakan bahwa Islam Nusantara telah terbukti mampu memberikan kontribusi nyata dalam membangun peradaban dunia. Ia juga menyinggung point penting dalam muktamar yang digelar oleh Muslim Council of Elders, utamanya menyangkut tema. 

Ia menyampaikan bahwa topik yang sedang dibahas dalam muktamar tersebut, sebenarnya sudah tuntas dibahas oleh NU, "Apa yang dibahas oleh Muslim Council of Elders saat ini sudah pernah dibahas oleh NU sejak lama dan sudah selesai”, ucap beliau di iringi riuh tepuk tangan para hadirin.

Setelah itu, acara pun dilanjutkan menuju acara puncak yaitu, dialog kebangsaan yang dinarasumberi oleh Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dan dimoderatori oleh kandidat doktoral Universitas al-Azhar asy-Syarif juga aktivis senior Said Aqil Siradj (SAS) Center, Moh. Aonul Abied Syah.

Dalam dialog tersebut Kiai Said mengawali pemaparannya dengan menegaskan bahwa Islam bukan hanya tentang akidah dan syariah, tapi lebih dari itu, Islam adalah agama, budaya, peradaban sekaligus kemanusiaan, "Islam bukan sekadar agama, akidah dan syariah, akan tetapi Islam adalah agama, budaya, peradaban dan kemanusiaan,” tegasnya.

Hal ini dijelaskan dengan memberikan visualisasi historis dari bagaimana Islam dalam perjuangan awal di masa Nabi SAW. Secara runtut ia mengulas sejarah Islam dimulai dari peristiwa hijrahnya Muslim Mekah atau Muhajirin menuju madinah.

Kiai Said mengutarakan bahwa dari perpindahan ini, Islam menemui perjumpaannya dengan sebuah masyarakat yang plural, berbeda-beda suku, agama dan keturunan. Atas dasar keberagaman tersebut, Nabi SAW pun mencetuskan piagam Madinah yang ditujukan untuk mengatur kehidupan bermasyarakat di Madinah. 

Kiai Said menerangkan bahwa hal itu merupakan awal mula Nabi SAW mendirikan negara yang dilandaskan pada asas konstitusi madani bukan pada agama. “Sejak awal, Nabi SAW membangun sebuah negara berdasarkan civilitation bukan berdasarkan agama,” terangnya. 

Sedangkan, lanjutnya, yang menjadi pertimbangan konstitusi adalah bukan persoalan beda agama, suku ras dan budaya, melainkan tentang persoalan keadilan dan pelanggaran norma adat dan budaya.

Selanjutnya, Kiai Said mengarahkan pembahasan menuju topik Islam Nusantara. Ia mengatakan jika dilihat dari sejarah, terdapat beberapa kesamaan dalam awal penyebaran Islam di Madinah dengan Islam Nusantara. 

Ia menjelaskan bahwa kesuksesan penyebaran Islam di Nusantara tidak bisa terlepas dari faktor budaya. Menurutnya, dalam penyebaran Islam di Nusantara, budaya lokal disulap menjadi sebuah infrastruktur yang mendukung penyebaran agama, "Budaya dijadikan infrastruktur oleh agama, bukan menghapusnya, akan tetapi menguatkanya,” tambahnya.

Dalam pandangan Kiai Said, hal yang perlu dipertahankan dulu di dalam kehidupan bernegara adalah tanah air, "Tanah air dulu kita pertahankan, baru bicara tentang Islam,” teganya. 

Hal ini, kata dia, sesuai dengan sikap yang dicontohkan salah satu figur ulama nasionalis Nusantara sekaligus pendiri NU, Hadratussyekh Hasyim Asy’ari. 

Oleh sebab itu, kenapa di awal dialognya Kiai Said mengatakan bahwa apa yang dibahas oleh Muslim Council of Elders sekarang tentang kebebasan, kewarganegaraan, keberagaman dan integrasi, sudah dipikirkan lebih dahulu oleh kiai kita, KH Hasyim Asy'ari. (Muhammad Abid Aun/Abdullah Alawi)

Bagikan:
Sabtu 4 Maret 2017 13:30 WIB
Rangkaian Ziarah Warnai Kunjungan Kiai Said ke Mesir
Rangkaian Ziarah Warnai Kunjungan Kiai Said ke Mesir
Kairo, NU Online
Usai mengahadiri Konferensi Internasional di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, KH Said Aqil Siroj beserta rombongan melakukan ziarah ke makam para sahabat, tabiin, tabiit-tabiin dan ulama. Di antaranya ziarah ke makam Sayyidina Husain bin Ali bin Abu Tholib di kawasan Old Kairo. 

"Ayo kita tahlil," ajak Kiai Said ketika berada di pintu masuk makam Sayyidina Husain. 

Tahlil dengan bacaan khas Indonesia pun berkumandang. Kiai Said memimpin langsung bacaan tahlil. Suasana khusyuk tercipta hingga tahlil usai. Kiai Said kemudian memberikan sedikit nasihat kepada para mahasiswa NU yang mengikuti ziarah.

"Kalian harus membiasakan ziarah ke makam, langsung mendatangi makamnya meski didoakan dari rumah juga sampai ke ahli kubur. Karena kita ini NU," kata pengasuh Pesantren Ats Tsaqofah Ciganjur ini.

Setelah tahlil di makam Sayyidina Husain bin Ali bin Abu Tholib, Kiai Said mengajak untuk ziarah ke makam Ibn Atha'illah as-Sakandari. Sufi besar ini sangat mempengaruhi Kiai Said Aqil di samping Syaikh as-Syadzili.

"Masih ada waktu, kita ke makam Syaikh Ibn Atha'illah," kata Kiai Said usai meninggalkan makam Sayyidina Husain.

Selesai tahlil di makam Syaikh Ibn Atha'illah, Kiai Said Aqil kembali mengingatkan pentingnya ziarah kubur. Di samping itu, ia juga menyinggung kehidupan Syaikh Ibn Atha'illah. 

"Ilmu yang tinggi, luas wawasan itu tidak ada artinya saat seseorang tidak mampu menghadirkan kekhusyukan di dalam hatinya," ujar Kiai Said Aqil. 

Karena itu, imbuh Kiai Said, sejak dini hati manusia harus dilatih agar selalu berzikir kepada Allah.

"Menjadikan hati kita khusyuk tempat bersemayamnya Allah," tutur Kiai Said Aqil. Berikutnya rombongan menju ke ke makam Imam Waqi'. (Dhamiry Alghazaly/Zunus)

Sabtu 4 Maret 2017 2:0 WIB
Cara Ketum PBNU Ajak Gerakkan Wakaf Uang NU Mesir
Cara Ketum PBNU Ajak Gerakkan Wakaf Uang NU Mesir
Kairo, NU Online
Di tengah-tengah orasi kebangsaan tentang peran ulama Nusantara di Gedung Fakultas Bahasa Arab Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj mengajak ratusan peserta dialog untuk ikut serta dalam gerakan wakaf uang.

Gerakan wakaf uang tersebut diinisiasi Pengurus Cabang Istimewa Mesir Nahdlatul Ulama (PCINU) Mesir untuk memperlancari kegiatan ke-NU-an di sana, termasuk pembangunan sekretariat PCINU Mesir.

"Bismillahirrahmanirrahim, gerakan wakaf uang PCI NU Mesir, resmi saya luncurkan," kata Kiai Said dalam sambutannya di hadapan sekitar 750 warga Indonesia di Kairo, Rabu (1/3).

Ajakan wakaf uang disambut pertama kali oleh Kiai Said Aqil sendiri. Sembari berdiri, Kiai Said membuka tasnya dan mengambil beberapa lembar mata uang dolar US. "Saya wakaf 1000 US Dolar. Silakan yang lain menyusul," katanya.

Disusul kemudian wakaf 1000 US Dolar dari Duta Besar RI untuk Mesir Helmy Fauzi. Kemudian 2000 US Dolar dari Tubagus Mansyur, salah satu pengurus Syuriyah PCINU Mesir. Berikutnya ratusan peserta dialog yang lain ikut serta waqaf.  Dalam waktu singkat di forum tersebut telah terkumpul dana ratusan juta rupiah.

Selain menyaksikan peluncuran gerakan waqaf uang PCINU Mesir, Kiai Said juga melantik pengurus baru Jam'iyah Ahlith Thariqah al-Mu'tabarah An-Nahdliyah (Jatman) PCINU Mesir. (Red: Mahbib)

Jumat 3 Maret 2017 8:0 WIB
Ketika Kiai Said Ajak WNI di Mesir Ziarah ke Makam Cucu Rasulullah dan Ulama
Ketika Kiai Said Ajak WNI di Mesir Ziarah ke Makam Cucu Rasulullah dan Ulama
Kiai Said di makam Sayyidina Husain.
Kairo, NU Online
Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj tidak ingin melewatkan tradisi ziarah ke makam tokoh-tokoh penting di Mesir selama lawatannya dalam kegiatan Konferensi Internasional. Dengan mengajak Warga Negara Indonesia (WNI), dia menziarahi makam para sahabat, tabiin, tabiit-tabiin dan ulama. Di antaranya ziarah ke makam Sayyidina Husain bin Ali bin Abu Thalib di kawasan Old Kairo.

“Ayo kita tahlil,” ajak Kiai Said kepada WNI di Mesir setiba di makam Sayyidina Husain, cucu Rasulullah SAW, Kamis (2/3) waktu setempat.

Tahlil dengan bacaan khas Indonesia itu pun berkumandang. Kiai Said didapuk menjadi imam tahlil. Suasana benar-benar khusyuk hingga tahlil usai. Kiai Said pun sedikit memberikan nasihat kepada para mahasiswa NU dan WNI yang mengikuti ziarah.

“Kalian harus membiasakan ziarah ke makam, langsung mendatangi makamnya, meski didoakan dari rumah juga sampai ke ahli kubur. Karena kita ini NU,” tutur Kiai Said.

Setelah tahlil di makam Sayyidina Husain bin Ali bin Abi Thalib, Kiai asal Kempek Cirebon ini mengajak ziarah ke makam Penulis Kitab Al-Hikam, Ibnu Athaillah as-Sakandari. Sufi besar ini turut memberikan pengaruh kepada Kiai Said di samping Syekh as-Syadzili.

“Masih ada waktu, kita ke makam Syekh Ibnu Athaillah,” ajak Pengasuh Pondok Pesantren Al-Tsaqafah Ciganjur, Jakarta Selatan ini.

Selesai tahlil di makam Syekh Ibnu Athaillah, Kiai Said Aqil kembali mengingatkan pentingnya ziarah kubur. Di samping itu juga mengenang kehidupan Syekh Ibnu Athaillah.

“Ilmu yang tinggi, luas wawasan itu tidak ada artinya saat seseorang tidak mampu menghadirkan kekhusyukan di dalam hatinya,” ujar Guru Besar Ilmu Tasawuf ini.

Karena itu, imbuh Kiai Said, sejak dini hati manusia harus dilatih agar selalu berdzikir kepada Allah. “Jadikan hati kita khusyuk karena di situ tempat bersemayamnya nur dan hidayah Allah,” kata Kiai Said. (Red: Fathoni)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG