IMG-LOGO
Puisi

Ketika Aku Bertanya


Ahad 12 Maret 2017 09:03 WIB
Bagikan:
Ketika Aku Bertanya
Oleh Eko Nurwahyudin 

Mengapa ketika aku menanyakan tentang kesejahteraan, keadilan, kemanusiaan, kamu malah mengajakku berjalan ke Barat waktu sore hari?

Sembari berceloteh tentang bayang-bayang yang sungguh kasian mengikuti ayunan kaki

Mengapa ketika aku menanyakan tentang banjir lumpur di kampungmu Agustus 2016 lalu yang disebabkan pertambangan di Gunung Tumpang Pitu, kamu malah bilang "Jangan cari gara-gara sama orang pemerintahan!" 

Mengapa ketika aku menanyakan tentang korupsi pembangunan pasar besar kotaku pasca terbakar, kamu malah bilang "Itu bukan urusan lulusan sekolah menengah kejuruan!"

Mengapa ketika aku menanyakan tentang penyebab perseteruan antar perguruan pencak silat di kampung kita atau di seantero Indonesia, kamu malah kembali bertanya, "Siapa yang memulai mengusik duluan?"

Kamu malahan lebih sering terperangkap dengan ikatan persaudaraan seperguruan

Mengapa ketika aku menanyakan tentang Sum Kuning yang diperkosa empat pemuda yang diduga orang berpunya, dituduh PKI sembari ditelanjangi dan dilecehkan (diremas-remas buah dadanya) waktu pemeriksaan, dipenjarakan pula atas dasar menyebar kebohongan, sementara pelakunya gelap gentayangan. Sementara malah Tukismo si tukang bakso di kambing hitamkan dan di penjarakan, kamu tidak tau?

Dan sekarang aku kembali menanyakan tentang korban pemerkosaan seorang mahasiswi oleh seorang sastrawan tenar yang masih gentayangan, kamu pura-pura tidak tau atau benar-benar tidak tau atau malah kamu bersikap tidak mau tau?

Dengan wajah kesal malahan kamu peringatkan aku, "Sudah, urusi saja kuliahmu!"

Mengapa ketika aku menanyakan kriteria puisi yang diakui, kamu malah bilang "Puisi yang sudah tembus koran, menang perlombaan, dan diterima media penerbitan"

Tetapi kamu tidak melihat relasi kuasa media, tidak ragu atas media penerbitan yang banyak cari kontributor untuk rauk keuntungan, dan kamu tidak menanyakan untuk apa, dan untuk siapa puisi itu diciptakan?

Mengapa ketika aku bertanya tentang sastrawan yang menyerukan perlawanan terhadap warisan dan tradisi kolonial maupun Orde Baru, kamu malah memperingatkan, "Pikirkan dulu, jika kamu ikut-ikutan nanti kamu dilingkar hitam dan kemungkinan hari-hari depan kamu dan keluargamu suram, lebih parahnya di tubuhmu mungkin kan kudapati lebam"

Demikianlah ketika kuakhiri puisi ini, tepuk tangan dan segala bentuk pujian tidak usah kamu hujani padaku

Tidak usah kamu hujani padaku !

Yogyakarta, 07 Maret 2017


Penulis dikenal dengan Eko Petruk, kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Rayon Ashram Bangsa Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Tags:
Bagikan:
IMG
IMG