IMG-LOGO
Risalah Redaksi

Raja Salman dan Perilaku Wahabi Lokal

Jumat 10 Maret 2017 15:33 WIB
Bagikan:
Raja Salman dan Perilaku Wahabi Lokal
Kunjungan Raja Salman dari Arab Saudi baru-baru ini mendapat sambutan antusias dari berbagai lapisan masyarakat. Media melakukan liputan berbagai kegiatan yang dilakukan oleh sang Raja. Dari situlah terlihat bagaimana ia berperilaku atau bagaimana ia merespon beragam sambutan dari masyarakat luas. Secara umum, terlihat bahwa sikapnya moderat, tidak sebagaimana gambaran yang tercipta pada pengikut Wahabi yang terkesan kaku dan memandang segala sesuatu dari sudut halal-haram. Tak heran kunjungan tersebut menghasilkan kesepakatan untuk mengembangkan Islam moderat. Dalam MoU tersebut bahkan ada kata-kata yang menyatakan bahwa keragaman tetap bisa dijaga termasuk juga perbedaan dalam paham keagamaan.

Sebagai pemimpin tertinggi dari negara yang menganut wahabisme, tentu tindak-tanduknya mencerminkan sebagian keyakinan yang dianutnya. Kelompok Wahabi di Indonesia selalu merujuk Saudi Arabia sebagai Islam paling otentik, yang mencerminkan tafsir mereka atas teks Al-Qur’an dan Hadits. Tapi ternyata, ketika melihat perilaku Raja Salman, dalam banyak hal, perilakunya tidak jauh berbeda dengan kebiasaan Muslim Indonesia secara umum. Pakaian yang dikenakannya isbal atau sampai di bawah lutut. Wahabi dan Salafi garis keras selalu menekankan haramnya isbal dengan menyertakan sejumlah dalil untuk menguatkan pendapatnya.

Juga tidak terlihat adanya tanda hitam di dahinya sebagaimana terlihat pada kelompok Wahabi di Indonesia. Sudah jamak di Indonesia, shalat selalu menggunakan sajadah. Lalu bagaimana bisa muncul tanda hitam tersebut? Itu yang masih menjadi pertanyaan. Para kiai NU yang menghabiskan malam-malamnya dengan tahajud pun nyaris tidak terlihat ada tanda hitam di keningnya.

Hal lainnya, Raja Saudi Arabia ketujuh ini pada saat pertemuannya dengan Jokowi menyampaikan maksudnya ingin bertatap muka dengan cucu Soekarno. Ia memiliki kenangan indah dalam perjumpaannya dengan presiden pertama RI ini dengan kalimatnya saat berpidato, yaitu “saudara-saudara”. Saat dipertemukan dengan Puan Maharani dan Megawati Soekarnoputri, mereka pun bersalaman dan menerima permintaan untuk berswafoto tanpa canggung. Foto itu akhirnya viral karena mampu menunjukkan sisi kemanusiaan di antara para pemimpin, bukan foto formal berjajar bersama di antara para tokoh yang merupakan sesi resmi dalam setiap kunjungan antar pemimpin pemerintahan. Bagi kelompok Wahabi dan Salafi, bersentuhan tangan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram dianggap berdosa.
 
Apakah Raja Salman tidak cukup memahami ajaran Islam sehingga berperilaku seperti itu? Tentu naif jika mempertanyakan hal tersebut. Ia diajar oleh ulama-ulama istana nomor satu dalam sekolah khusus untuk para pangeran. Bahkan pada usia 10 tahun ia sudah mampu menghafalkan Al-Qur’an 30 juz. Satu prestasi istimewa yang bagi orang Timur Tengah sebagai pengguna bahasa Arab pun susah dicapai.

Jika Arab Saudi berusaha menjadi lebih moderat dan membuka diri dengan dunia luar, kelompok-kelompok Wahabi di Indonesia ingin menjadikan Indonesia seperti Saudi Arabia yang konservatif. Indonesia yang secara alamiah merupakan wilayah terbuka akan dijadikan wilayah yang secara sosial tertutup dan tersegregasi. Laki-laki dan perempuan dipisahkan, ada pemisahan identitas antara kami dan mereka untuk atas dasar perbedaan pemahaman agama. Jika di Saudi Arabia berusaha memperluas akses perempuan terhadap kehidupan publik, kelompok Wahabi di Indonesia berusaha mengurangi akses perempuan dalam kehidupan publik dengan berbasis tafsir-tafsir agama yang di Saudi Arabia sendiri kini dipertanyakan keabsahannya. Visi Saudi 2030 salah satunya mendorong keterlibatan perempuan dalam dunia kerja dari 22 persen menjadi 30 persen.

Saudi yang lebih moderat dalam pandangan keagamaan mulai muncul dalam pemerintahan Raja Abdullah (2005-2015). Ia melakukan sejumlah reformasi seperti mengangkat perempuan sebagai anggota majelis syuro atau MPR-nya Saudi Arabia. Ia mendorong pendidikan bagi rakyat Saudi dan mendirikan King Abdullah University of Science and Technology (KAUST). Di universitas tersebut mahasiswa laki-laki dan perempuan dalam satu kelas. Hal ini merupakan satu yang baru kerena di seluruh Arab Saudi, siswa laki-laki dan perempuan dipisah. Ulama senior Saudi Arabia Syaikh Dr Saad bin Abdul Aziz bin Nassir Shitri dipecat karena secara publik berkomentar bahwa pencampuran laki-laki dan perempuan dalam kelas adalah haram. Raja Abdullah semasa pemerintahannya mengeluarkan dekrit bahwa hanya ulama senior dan mendapat izin raja yang bisa mengeluarkan fatwa. Hal ini sebagai upaya untuk menghentikan adanya fatwa tidak jelas yang dikeluarkan oleh ulama. Pemerintah Saudi sendiri tampaknya kerepotan dengan keberadaan ulama garis keras.

Jika pemerintah Saudi berusaha memoderatkan negerinya dari para ulama konservatif, para pengikutnya di Indonesia dengan leluasa bergerak dan memanfaatkan keluguan Muslim awam bahwa segala sesuatu yang datang dari Saudi Arabia adalah Islam yang otentik. Pemerintah Indonesia bersikap canggung atas keberadaan ulama-ulama garis keras ini: atas nama demokrasi, seoalah setiap orang boleh berbicara apa saja, termasuk mempertanyakan dasar negara atau membahas masalah khilafiyah dengan cara yang tidak santun. Mereka menghakimi bahwa segala sesuatu yang tidak sesuai dengan ajarannya sebagai bid’ah, sesat, bahkan kafir.

Kini banyak khutbah di masjid-masjid di perkotaan atau di perkantoran bernada keras. Mereka, para pengikut Islam konservatif ini, secara perlahan berusaha menguasai ruang-ruang publik keagamaan. Para pengambil kebijakan di masjid perkantoran, entah tidak sadar atau sudah menjadi pengikutnya, memfasilitasi kelompok tersebut. Pejabat negara memfasilitasi orang-orang yang merongrong negara dan mempertanyakan dasar-dasar paling fundamental dari negara. Sungguh ironis. (Mukafi Niam)

Tags:
Bagikan:
Kamis 2 Maret 2017 5:0 WIB
Memaknai Kunjungan Raja Salman
Memaknai Kunjungan Raja Salman
Raja Arab Saudi, Salman bin Abduaziz (kanan) dan Presiden RI Joko Widodo
Sebagai wilayah berpenduduk Muslim terbesar di dunia, hubungan antara Indonesia dan Saudi Arabia sudah terjalan sejak lama, sejak umat Islam mulai ada di negeri ini. Jauh sebelum kerajaan Saudi Arabia terbentuk. Muslim di Nusantara berangkat menuju Makkah dan Madinah untuk menunaikan ibadah haji. Secara emosional, Muslim Indonesia selalu merasa dekat dengan wilayah tempat di mana Nabi Muhammad dilahirkan dan menyebarkan dakwahnya. Muslim Indonesia selalu merindukan untuk bisa mengunjungi dua masjid suci, yaitu Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Pada 2017 ini, Indonesia mendapatkan kuota haji sebesar 221 ribu. Ini merupakan kuota haji terbesar di kuota haji lokal bagi penduduk Saudi Arabia. Jika ditambah dengan jumlah jamaah umrah, maka warga Indonesia yang berkunjung ke Saudi Arabia semakin besar.

Sebagai sesama produsen minyak dunia, Indonesia memiliki hubungan erat dalam bidang ekonomi. Saat Indonesia masih menjadi anggota OPEC karena masih menjadi net exporter, bersama dengan Saudi Arabia, berbagai kebijakan perminyakan dunia dibahas bersama-sama. Kini, negeri dengan padang pasir yang luas tersebut menjadi salah satu pemasok terbesar kebutuhan minyak untuk memenuhi berbagai keperluan industri di Indonesia. Belum lagi jika bicara soal tenaga kerja Indonesia yang pergi mengais Real di negeri tersebut.

Bagi NU, hubungan emosional tersebut juga sangat kental. Para pelopor dan pendiri NU seperti KH Cholil Bangkalan, KH Hasyim Asy’ari, dan KH Wahab Chasbullah merupakan para ulama yang menghabiskan sebagian masa belajarnya di Makkatul Mukarraham. Tradisi tersebut masih terus berlanjut. Bahkan ketua umum PBNU KH Said Aqil Siroj merupakan alumni dari Universitas Ummul Qura Makkah.

Dengan kedekatan-kedekatan tersebut, wajar jika kunjungan Raja Salman yang kini menjadi penguasa tertinggi di Saudi Arabia ini mendapat sambutan yang antusias di Indonesia. Kunjungan terakhir raja Saudi dilakukan oleh Raja Faishal bin Abdul Aziz pada tahun 1970 atau 47 tahun lalu.

Besarnya jumlah anggota rombongan yang dibawa kali ini menunjukkan pentingnya makna yang akan dibangun. 10 orang menteri yang ikut, termasuk menteri energi Saudi Arabia, menandaskan adanya peluang besar kerja sama di bidang ekonomi. Kedua belah pihak memiliki kepentingan agar hubungan ekonomi ini terjalin lebih erat. Turunnya harga minyak belakangan ini telah menyebabkan anjloknya pendapatan pemerintah Saudi Arabia sehingga mengakibatkan terjadinya defisit anggaran tahunan. Dengan demikian, Saudi harus mempersiapkan diri untuk mendiversifikasikan sumber pendapatannya dari berbagai sektor. Indonesia bisa menjadi partner untuk kerja sama ekonomi yang saling menguntungkan.

Yang juga patut mendapat perhatian adalah pentingnya perlindungan bagi para pekerja migran asal Indonesia yang bekerja di Saudi Arabia di berbagai sektor. Kasus-kasus penganiayaan yang sering terjadi telah melukai rasa kemanusiaan kita. Karena itu, Indonesia harus menekan pemerintah Saudi agar sistem ketenagakarjaan dibuat lebih baik sehingga para pekerja keselamatannya sekaligus menerima hak-haknya dengan baik.

Di samping hal-hal yang menarik terkait dengan bidang ekonomi, aspek keagamaan dari Saudi Arabia juga harus menjadi perhatian bersama, khususnya bagi NU. Pandangan keagamaan yang dianut oleh Saudi yang konservatif dengan paham wahabisme selama ini tidak selalu sejalan dengan pandangan mayoritas Islam di Indonesia. Ajaran wahabisme yang cenderung tekstual dan tumbuh di negeri yang tertutup tersebut memaknai secara kaku ajaran-ajaran Islam. Apa yang tidak sesuai dengan pandangannya dianggap bid’ah atau bahkan sesat. Apalagi dengan klaim posisi sebagai pewaris Nabi sehingga segala sesuatu yang berasal dari Arab Saudi dianggap sebagai tafsir paling otentik tentang Islam oleh Muslim awam. Bagi sebagian orang, apa yang datang dari Saudi Arabia masih dianggap sebagai sebuah kebenaran. Islam adalah Arab dan Arab adalah Islam.

Kondisi Indonesia yang merupakan wilayah terbuka dan hidup dengan berbagai macam jenis keragaman memunculkan sikap keagamaan yang toleran dan menghargai harmoni hidup bersama. Perbedaan-perbedaan berusaha dicarikan jalan tengah tanpa menghilangkan hal-hal yang prinsip. Kemungkinan konsolidasi kekuatan wahabisme inilah yang harus kita waspadai dalam kunjungan kali ini mengingat klaim-klaim kebenaran tunggal yang selama ini selalu muncul dari kelompok tersebut telah memiliki potensi merusak harmoni kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia.

Bukan hanya Indonesia yang harus belajar berbagai ilmu agama dari Saudi Arabia. Dengan melihat kondisi yang selama ini selalu hidup dengan tenang dan damai, Saudi bisa belajar Islam indonesia yang ramah yang sangat cocok dengan dunia yang semakin terbuka di era global. Penyelesaian persoalan di Timur Tengah yang selama ini identik dengan menggunakan kekuatan bersenjata dengan tingkat kehancuran yang massif bisa menggunakan pendekatan ala Asia Tenggara yang mengedepankan dialog antartetangga.

Akan ada selalu perbedaan jika kita mencarinya, tetapi Indonesia dan Saudi Arabia sebagai negara Muslim harus mengedepankan hubungan yang saling menghormati dan lebih melihat pada hal-hal besar untuk mencapai kemajuan bersama umat Islam dunia yang kini masih menghadapi berbagai tantangan besar. (Mukafi Niam)

Kamis 2 Maret 2017 3:0 WIB
Belajar Sunnah Nabi dari Imam Sayfuddin al-Amidi
Belajar Sunnah Nabi dari Imam Sayfuddin al-Amidi
Oleh Nadirsyah Hosen

Suatu malam Sayfuddin bermimpi berkunjung ke rumah Imam al-Ghazali. Dalam mimpi itu beliau seolah diberitahu untuk memasukinya dan melihat peti. Dia pun membukanya dan melihat jenazah Imam al-Ghazali. Lalu Sayfuddin menyingkap kafan yang menutupi wajahnya dan menciumnya.

Sayfuddin ini kelak dikenal dengan nama Imam Sayfuddin al-Amidi (1156-1233). Semula beliau mengikuti mazhab Hanbali sewaktu beliau masih kecil sesuai dengan lingkungannya saat itu. Kemudian beliau berguru pada Syekh Abul Qasim ibn Fadlan yang bermazhab Syafi'i. Sayfuddin Amidi juga lebih cocok dengan aqidah Asy'ariyah. Maka jadilah beliau seorang ulama terkemuka dari Mazhab Syafi'i yang Sunni Asy'ari. Dari Baghddad, beliau pindah ke Mesir dimana beliau mendapati fitnah dari sebagian pihak yang menuduhnya sesat, kemudian beliau pindah ke Damaskus dan menulis kitab Ushul al-Fiqh yang sangat terkenal, yaitu kitab al-Ihkam fi Ushul al-Ahkam. Kitab ini merangkum dan menjelaskan masalah dalil dan kaidah istinbath dari empat kitab utama: al-'Amd, al-Mu'tamad, al-Burhan dan al-Mustasfa.

Nama kitab terakhir, al-Mustasfa, merupakan karya Imam al-Ghazali. Inilah pengaruh mimpi spiritual Sayfuddin al-Amidi yang mencium jenazah Imam al-Ghazali. Beliau sendiri menuturkan: "selepas mimpi itu aku berkata pada diriku sendiri untuk mengambil perkataan Imam al-Ghazali. Kemudian dalam waktu singkat aku hafal isi kitab al-Mustasfa karya Imam al-Ghazali".

Murid Imam al-Amidi yang sangat terkenal adalah Syekh Izzudin Abdus Salam. Beliau berkata tentang gurunya: "Tidak saya pelajari kaidah-kaidah pembahasan kecuali dari Imam al-Amidi." Atau di kesempatan lain, "Tidak saya dengar pengajaran yang paling bagus mengenai kitab al-Wasith-nya Imam al-Ghazali seperti yang disampaikan oleh Imam al-Amidi" dan ungkapan-ungkapan senada lainnya yang mengagumi Imam al-Amidi. Syekh Izzudin ini pada masanya digelari Sulthan-nya ulama.

Salah satu pembahasan penting dalam kitab ushul al-fiqh karya Imam al-Amidi adalah mengenai kedudukan Sunnah Nabi. Beliau mengemukakan bagaimana para pakar Ushul al-Fiqh berbeda pandangan mengenai perbuatan Nabi yang menjadi dalil syar'i. Kemudian beliau memaparkan pandangannya.

Pertama, perbuatan Nabi yang merupakan hal biasa yang dilakukan manusia pada umumnya seperti makan, minum, berdiri, dan duduk merupakan perkara mubah yang tidak memiliki konsekuensi hukum.

Saya dapat tambahkan, hal ini dikarenakan semua manusia melakukannya dan Nabi Muhammad juga terikat dengan budaya setempat dalam cara makan dan minum. Ini boleh jadi masuk ke dalam kategori etika saja, bukan kategori hukum. Mengikutinya dibenarkan, tapi tidak menirunya tidak akan berdosa. Saya bisa beri contoh misalnya cara makan Rasul dengan 3 jari memang cocok dengan menu dan pola makan di Arab sana, tapi agak sulit diterapkan di tanah air pas lagi makan sayur lodeh atau di negeri lain yang makan pakai sumpit.

Kedua, ada perbuatan yang khususiyah dilakukan oleh Nabi. Perbuatan yang bagi umatnya sunnah, tapi wajib dilakukan Nabi seperti shalat tahajud. Atau perbuatan yang tidak boleh dilakukan oleh umatnya tapi secara khusus dibenarkan untuk Nabi, seperti menikahi perempuan lebih dari empat, dan berpuasa wishal (terus menerus tanpa berbuka). Sebagai manusia khusus, tentu ada amalan ataupun perlakuan khusus juga untuk beliau SAW. Khususiyah ini tidak berlaku untuk umat Islam dan karenanya tidak masuk kategori hukum.

Ketiga, perbuatan Nabi yang secara tegas dijelaskan sebagai pelaksanaan ataupun penjelasan terhadap ibadah seperti shalat dan haji berdasarkan dalil syar'i yang wjaib dijadikan pedoman oleh umat Islam. Misalnya Rasul bersabda: "ambillah cara manasik hajimu dari saya" atau "shalatlah kamu sebagaimana aku shalat". Perbuatan Rasul dalam hal ibadah kategori inilah yang memiliki konsekuensi hukum.

Penjelasan Imam al-Amidi ini sangat penting untuk meletakkan secara proporsional nilai etika yang masuk kategori sunnah (perbuatan atau tradisi) Rasul dan mana contoh sunnah Rasul yang masuk kategori hukum, dan karenanya bisa bermakna wajib, mandub, atau mubah. Artinya tidak semua hal yang dianggap sunnah Nabi itu hukumnya wajib kita laksanakan seperti yang dijelaskan di atas.

Di atas etika dan hukum ada kategori yang paling puncak yaitu cinta. Mengikuti Rasul berdasarkan kecintaan kita kepada beliau SAW. Ini sudah melampaui kategori yang dipaparkan Imam al-Amidi. Ini hubungan khusus yang hanya bisa dinilai dengan sebuah rintihan dalam hening: Oh Muhammadku.

Indah wajahnya bagai purnama
Siapa melihatnya kan jatuh cinta
(Shalawat Cinta Uje)


Penulis adalah Rais Syuriyah PCI Nahdlatul Ulama Australia - New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School

Jumat 24 Februari 2017 18:30 WIB
Media Sosial untuk Mengawal Kebijakan NU
Media Sosial untuk Mengawal Kebijakan NU
Keberadaan media sosial memunculkan cara komunikasi baru berbasiskan internet. Jejaring intenet yang luas memungkinkan terciptanya keterhubungan yang sangat luas menembus batasan geografis. Kini media sosial membantu mempersempit jarak antara santri dan kiai yang hendak bersilaturrahim, baik untuk sekadar berkangen-kangenan, mendapatkan nasihat-nasihat bijak, dan hikmah hidup.

KH Mustofa Bisri dan KH Salahuddin Wahid merupakan pengguna aktif pengguna aktif Twitter dengan pengikut ratusan ribu. Habib Luthfi memiliki fanpage Facebook dengan like hampir dua juta. Ceramah KH  Anwar Zahid juga sering tampil di Youtube dan menarik ratus ribu pengunjung. Bahkan ada yang ditonton lebih dari dua juta kali. Para ulama tersebut merupakan gambaran dari upaya pemanfaatan teknologi baru untuk berdakwah. Pesantren kini juga membuat akun-akun media sosial untuk menjaga hubungan dengan memberi kemudahan akses informasi kepada masyarakat dan menjaga keterikatan alumni pesantren yang kini sudah saling berjauhan.

Organisasi kemasyarakatan seperti Nahdlatul Ulama (NU) bergerak lebih maju dengan memanfaatkan teknologi internet dengan membuat website dan media sosial untuk menjalin komunikasi dengan para pemangku kepentingannya. Kebijakan-kebijakan dan kegiatan NU dilaporkan melalui website NU Online dan kemudian disebarluarkan melalui media sosial. Kelebihan media sosial salah satunya adalah adanya komunikasi dua arah. Warga atau simpatisan NU dapat memberi komentar dan masukan di kolom komentar. Jika ada hal dianggap kurang sesuai dengan prinsip dan tujuan organisasi, maka langkah yang diambil oleh pengurus organisasi akan mendapat  komentar negatif.

Fasilitas untuk memberikan respon ini bisa menjadi solusi atas problem check and balance di lingkungan NU karena adanya sikap ewuh-pakewuh. Tradisi yang tertanam di lingkungan NU adalah memberi penghormatan yang tinggi kepada para kiai karena mereka telah mendidik dan mengajarkan kepada santri hal-hal yang sangat penting dalam menempuh hidup. Akibatnya, dalam konteks hubungan organisasi yang memerlukan proses pengawalan, ada rasa enggan untuk memberi masukan atau mengkritik kebijakan pimpinan NU yang sebagian besar adalah para kiai. Para aktivis NU yang galak saat mengkritisi kebijakan-kebijakan publik hanya bisa terdiam jika berhadapan dengan para kiai. Aspirasi tersebut kini dapat dengan mudah disampaikan melalui media sosial. Jika opini negatif dari banyak warga NU lebih dominan saat merespon sebuah kebijakan, tentu kebijakan atau tindakan yang dibuat harus dievaluasi ulang. Sudah banyak contoh keberhasilan media sosial untuk memenangkan kepentingan publik di hadapan penguasa, salah satu yang cukup fenomenal adalah pertarungan antara cicak dan buaya, terkait dengan upaya kriminalisasi para komisioner KPK. Hal lainnya adalah tekanan publik atas tuduhan seorang pasien rumah sakit yang menyampaikan keluhan atas pelayanan rumah sakit yang kemudian dianggap melakukan pencemaran nama baik.

Media sosial juga memungkinkan warga NU yang sebelumnya tidak bisa menyampaikan langsung aspirasinya karena tempat tinggalnya di daerah-daerah yang jauh sehingga harus melewati struktur cabang, wilayah dan baru sampai ke pengurus besar agar bisa menyampaikan aspirasinya, kini dengan media sosial bisa langsung memberi masukan atas kebijakan-kebijakan PBNU dalam waktu yang cepat dan seketika. Tentu tetap dengan cara-cara elegan dan akhlak yang mulia.

Satu persoalan penting  yang perlu mendapat pengawalan adalah pelaksanaan khittah saat musim momen-momen politik praktis baik di tingkat nasonal maupun daerah. Warga dapat pengawal jika ada pengurus yang berusaha memenfaatkan NU untuk kepentingan politik pribadinya. Teori agen yang digunakan dalam sektor bisnis menjelaskan bahwa para manajer yang merupakan wakil atau agen dari para pemegang saham untuk memaksimalkan kesejahteraan pemegang saham, seringkali berperilaku untuk memaksimalkan keuntungan dirinya sendiri dengan menggunakan fasiitas perusahaan sementara perusahannya tidak mendapat keuntungan maksimal atau bahkan rugi karena ulah para manajernya. Dalam konteks organisasi teori ini juga berlaku. Para pengurus merupakan wakil atau agen yang dipercaya warga NU untuk menjalankan organisasi sesuai dengan tujuan-tujuan yang telah ditetapkan. Mirip dengan perilaku para manajer, ada kemungkinan para pengurus memanfaatkan posisinya untuk kepentingan dirinya, terutama mereka yang duduk dalam posisi pejabat publik sehingga ada konflik kepentingan. Kepentingan mana yang harus didahulukan, apakah kepentingan NU atau kepentingan pribadi dan golongan politiknya? Belajar dari momen pilkada, saat inilah posisi kepentingan NU untuk menjaga khittah seringkali dalam posisi paling rawan. Pengurus lain dan warga NU bisa mengawal NU melalui media sosial ini. 

Tidak hanya mengawal NU, seperti tetap menjaga garis khittah saat momen-momen politik, yang tak kalah pentingnya adalah menggunakan media sosial untuk mengawal program-program NU. Dalam muktamar ke-33, tiga program prioritas yang menjadi amanah adalah bidang pendidikan, kesehatan, dan ekonomi. Apakah program tersebut sudah dijalankan dengan baik, seberapa jauh kemajuan yang dicapai, apa saja kendalanya? Dan lainnya. Jika warga NU mengetahui perkembangan tersebut secara transparan, sangat besar kemungkinan mereka untuk mau terlibat dan memberikan dukungan yang diperlukan untuk suksesnya program tersebut. (Mukafi Niam)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG