IMG-LOGO
Pustaka

Fiqih Nusantara Abad Ke-18 M Karya Faqih Jalaluddin Aceh

Rabu 22 Maret 2017 13:29 WIB
Bagikan:
Fiqih Nusantara Abad Ke-18 M Karya Faqih Jalaluddin Aceh
Ini adalah bagian pembuka dari kitab “Hidâyah al-‘Awâm Pada Menyatakan Perintah Agama Islam” yang berisi kajian fiqih Islam madzhab Syafi’i karangan seorang ulama besar Nusantara dari Kesultanan Aceh, yaitu Faqih Jalaluddin al-Âsyî (Faqîh Jalâluddîn ibn Faqîh Kamâluddîn ibn Qâdhî Baginda Khatîb, hidup di abad ke-18 M).

Dalam pembukaan, Faqih Jalaluddin Aceh mengatakan, kitab “Hidâyah al-‘Awâm” ini ditulis pada tanggal 5 Muharram 1140 Hijri (bertepatan dengan 22 Agustus 1727 Masehi), juga pada masa pemerintahan Sultan Alauddin Ahmad Syah Johan Berdaulat Zhillullah fil Alam (dikenal juga dengan Sultan Alauddin Johan Syah, memerintah sepanjang masa 1147—74 H/ 1735—60 M).

Faqih Jalaluddin Aceh menulis;

أما بعد أدفون كمدين درايت مك فد فجرة نبي سريب سراتس أمفت فوله فد ليم هاري بولن محرم زمان فادك سري سلطان يغ بسر كرجائنن لاك يغ مها تغكي درجتن يائت سلطان علاء الدين أحمد شاه جوهن بردولة ظل الله في العالم أدام الله له دولته أمين.

(Adapun kemudian dari itu maka pada Hijrah Nabi Seribu Seratus Empat Puluh pada lima hari bulan Muharram zaman Paduka Seri Sultan yang besar kerajaannya lagi yang maha tinggi derajatnya yaitu Sultan Alauddin Ahmad Syah Johan Berdaulat Zhillullah fil Alam [semoga Allah abadikan kerajaannya] amin).

Sang Sultan telah meminta Faqih Jalaluddin untuk menulis sebuah kitab fiqih madzhab Syafi’i dalam bahasa Jawi (Melayu) agar bisa digunakan pedoman oleh umat Muslim di Kesultanan Aceh dan wilayah Nusantara lainnya. Memang telah ada dua kitab fiqih berbahasa Melayu yang ditulis oleh ulama-ulama sebelumnya, yaitu kitab “al-Shirâth al-Mustaqîm” yang ditulis oleh Syaikh Nûruddîn al-Rânirî pada tahun 1054 Hijri (1644 Masehi) di masa pemerintahan Sulthanah Shafiyatuddîn Tajul Alam (memerintah 1641—75 M), juga kitab “Mirât al-Thullâb” yang ditulis oleh Syaikh Abdul Rauf Singkel pada 1074 Hijri (1663 Masehi) di masa pemerintahan Sulthanah yang sama.

Namun tampaknya Sultan Alauddin Johan Syah ingin juga memiliki kitab fiqih yang aktual dan kontekstual pada zamannya. Karena itulah beliau pun meminta kepada mufti dan ulama sentral Kesultanan Aceh pada zamannya, yaitu Faqih Jalaluddin, untuk menuliskan sebuah kitab. Beliau menulis;

مك تتكال ايت ممنتأ كفد فقير يغ هينا خادم العلماء حاج جلال الدين أنق شيخ يغ عارف بالله شيخ جلال الدين أنق قاضي بكندا خطيب سلمه الله تعالى أوله سؤورغ درفد صحبة رجا ايت يغ تاكوت أكن الله تعالى بهواك سورتكن بكين سوات رسالة يغ سمفن مك أك نماي اكندي هداية العوام فدميتاكن فرنته اكم إسلام

(Maka tatkala itu meminta kepada Faqir yang hina, peayan para ulama, Haji Jalâluddîn anak Syaikh yang arif billâh Syaikh Jalâluddîn anak Qâdhî Baginda Khatib, semoga Allah menyelamatkannya, oleh seorang daripada sahabat raja itu yang takut akan Allah Ta’âlâ, bahwa aku suratkan baginya suatu risalah yang [simpan?] maka aku namai akan dia “Hidâyah al-‘Awâm Pada Menyatakan Perintah Agama Islam”).

Kitab “Hidâyah al-‘Awâm” dimulai dengan kajian pengetahuan teologi Islam dasar, yaitu tentang sifat-sifat yang wajib bagi Allah, yang mustahil dan yang mungkin, demikian juga tentang sifat-sifat yang wajib bagi Rasulullah, yang mustahil, dan yang mungkin. Setelah itu, barulah kandungan kitab mengkaji pasal tentang bersuci dan shalat, dengan segala rujun, syarat, kewajiban, kesunatan, dan lain-lain detailnya. Dikaji juga dalam kitab ini fiqih-fiqih peribadatan lainnya, yaitu zakat, puasa, haji, dan terakhir tentang nikah dan talak.

Kitab “Hidâyah al-‘Awâm” ini dicetak bersama dalam bunga rampai karangan ulama-ulama Aceh lainnya yang terhimpun dalam “Jam’u Jawâmi’ Mushannafât ‘Ulamâ Aceh” yang disunting oleh Syaikh Ismâ’îl ibn ‘Abd al-Muthallib al-Âsyî dan diterbitkan di Kairo oleh Maktabah Musthafâ al-Bâbî al-Halabî pada bulan Muharram tahun 1344 Hijri (1926 Masehi). Bunga rampai tersebut menghimpun sembilan karya ulama Aceh dari setiap abad. Adapun “Hidâyah al-‘Awâm” karya Faqih Jalâluddîn Aceh ini, ia berada pada urutan pertama dalam bunga rampai tersebut.

Wan Muhammad Shagir Abdullah, penulis biografi ulama Nusantara asal Malaysia, mengatakan bahwa nama ayah Faqih Jalâluddîn Aceh dalam kitab versi cetakan bunga rampai “Jam’u Jawâmi’” tersebut keliru ditulis. Di sana tertulis nama Faqih Jalâluddîn anak Syaikh Jalâluddîn anak Qâdhî Baginda Khatîb. Yang benar adalah Faqih Jalâlulldîn anak Syaikh Kamâluddîn (Wan Mohd Shagir Abdullah, Syeikh Jalaluddin Al-Asyi; Kesinambungan Aktiviti Ulama Aceh, surat kabar “Utusan” Malaysia, edisi 04/12/2006).

Faqih Jalaluddin Aceh sendiri adalah murid dari Syaikh Bâbâ Dâwud ibn Ismâ’îl Aghâ al-Rûmî tsumma al-Âsyî (dikenal dengan Baba Dawud), seorang ulama dari Turki-Usmani yang menetap di Kesultanan Aceh, juga murid dari Syaikh Abdul Rauf Singkel (‘Abd al-Raûf ibn ‘Alî al-Fanshûrî al-Jâwî, w. 1693 M), seorang ulama besar Nusantara dari Kesultanan Aceh yang hidup satu generasi sebelumnya.

Faqih Jalâluddîn Aceh dinobatkan sebagai mufti dan imam besar Kesultanan Aceh, sekaligus Qadhi Malikul Adil kesultanan tersebut pada masa pemerintahan Sultan Alauddin Maharaja Lela Ahmad Syah (1139—47 H/ 1727—35 M) dan juga pada masa pemerintahan Sultan Alauddin Johan Syah (1147—74 H/ 1735—60 M).

Selain “Hidâyah al-‘Awâm”, Faqih Jalâluddîn Aceh juga menulis karya lainnya, yaitu “al-Manzhar al-Ajlâ ila al-Martabah al-A’lâ” (ditulis tahun 1152 Hijri/ 1739 Masehi), “Safînah al-Hukkâm fî Talkhîsh al-Khishâm” (ditulis pada bulan Muharram 1153 Hijri/ 1740 Masehi), “al-Hujjah al-Bâlighah ‘alâ al-Jamâ’ah al-Mutakhâshimah” (ditulis pada Muharram 1158 Hijri/ 1745 Masehi), dan “Asrâr al-Sulûk ilâ al-Mala’ al-Mulûm” (tidak diketahui titimangsa penulisannya).

Dari kesemua karya Faqih Jalâluddîn, kitab “Safînah al-Hukkâm”-lah yang menjadi masterpiece dan karya terbesarnya. Kitab ini merupakan pengembangan dari “Hidâyah al-‘Awâm”, yang mengkaji ilmu fiqih Islam, dengan cakupan kajian dan bahasan yang lebih luas dan dalam lagi.

Faqih Jalâluddîn Aceh memiliki seorang anak yang juga menjadi ulama besar di Kesultanan Aceh, yaitu Syaikh Muhammad Zain ibn Faqîh Jalâluddîn al-Âsyî. (A. Ginanjar Sya’ban)

Bagikan:
Selasa 21 Maret 2017 14:32 WIB
Sebuah Buku Cinta untuk Felix Siauw
Sebuah Buku Cinta untuk Felix Siauw
“Membela nasionalisme, nggak ada dalilnya, nggak ada panduannya | membela Islam, jelas pahalanya, jelas contoh tauladannya.”

“Hanya syariah dan khilafah yang mampu menghapuskan kezaliman dan mengangkat penjajahan. Dan itu adalah tuntutan iman.”

Dua pernyataan di atas adalah sebagian dari cuitan Felix Yanuar Siauw di akun twitternya. Ya, Felix Yanuar Siauw, barangkali adalah salah satu sosok fenomenal di mayantara Abad 21 ini. Ia adalah seorang motivator, penulis buku, dan ustadz. Di bio fanpagenya tertulis pengemban dakwah, bersama yang menginginkan tegaknya syariah-khilafah. Jumlah pengikut (followers) twitternya hampir 2 jutaan. Sudah lebih dari 3 jutaan penyuka (likers) di Fanpage pribadinya, dan  setiap posting di Fanpage minimal dibagikan 1000-an pengguna FB. Sebagai seorang motivator, dia pandai mengelaborasikan pesan-pesan motivasional di dalam cerita, dan gesturenya selalu atraktif. Pendengar yang menyimak ceramah-ceramah motivasinya  tidak merasa digurui, namun malah terpikat, melongo, kadang sesenggukan  haru. Ia pandai menarasikan adegan-adegan peristiwa dengan kata dan kalimat yang yahud. Ia mampu berceramah dengan bahasa generasi gaul, bahasanya loe dan gue.  

Setelah menuliskan duo buku masterpiecenya, Yuk Berhijab dan Udah Putusin Aja!, serta novel Muhammad Al Fatih, ia mulai ‘rada berani’ mengeluarkan pernyataan di luar tupoksinya sebagai sosok motivator. Ia bilang bahwa nasionalisme itu tidak ada dalil dan panduannya, halal hukumnya memakai barang-barang bajakan karena hak cipta hanyalah milik Allah (All rights reserved only by Allah), menjadi wanita kuat, mandiri, dan idenpenden itu serem dan tidak baik. Ia kadangkala juga menjelma menjadi seorang pengamat ekonomi dan politik dengan mengeluarkan twit haramnya bekerja di bank konvensional karena dikhawatirkan akan terkontaminasi debu-debu dosa riba, soal dinamika politik di Mesir, penaikan harga BBM adalah termasuk penipuan dan sebuah keharaman yang besar, dan lain-lain. Yang menjadi trade mark pribadinya adalah bahwa khilafah itu adalah bagian daripada pilar keimanan dan menegakkan khilafah (di Indonesia) merupakan perintah Rasulullah Saw.  Ia juga menggugat-gugat dalil soal doa pergantian tahun, istikharah, puasa Tarwiyah, ibadah di malam nishfu Sya’ban, dan amalan sunnah di Bulan Rajab. 

Merespon beberapa pernyataan Felix Yanuar Siauw di akun sosial medianya, Muhammad Sulton Fatoni, penulis Dear Felix Siauw: Sekadar Koreksi Biar Nggak Salah Persepsi mencoba mengoreksi pendapat kontroversi “Ustad Gaul” yang selalu berwawasan global dengan wacana khilafahnya ini yang begitu mudah menentukan hukum. Penulis menyuguhkan fakta-fakta fiqih yang mengindonesia. Beberapa isu yang sempat jadi perdebatan publik ditanggapi dengan paparan yang enggak kalah gaul. Penulis menerapkan laku tawasau bil haq kepada teman sesama Muslim. Laiknya teman akrab yang saling menyampaikan nasihat dalam kerangka cinta, bukan kebencian. Sebagaimana dalam bahasa Arab kata nasihat juga bisa berarti khaatha, yaitu menjahit karena perbuatan penasihat yang selalu menginginkan kebaikan orang yang dinasihatinya diibaratkan memperbaiki pakaiannya yang robek. Penulis sama sekali tidak menjatuhkan, men-underestimate pendapat-pendapat Felix, namun menyajikan argumentasi dan dalil-dalil rajih demi kedamaian dan kebaikan. Penulis melakukan comprehensive review, melihat kembali, menimbang atau menilai pendapat, statetement, ‘fatwa’ Felix Siauw dengan mengetengahkan sanggahan disertai referensi Al Quran Hadis, kitab turats, kitab kuning babon dan muktabarah, data-data sejarah (tawarikh al islam), teori-teori politik, sosial, ekonomi, dan lain-lain. Di dalam buku ini, tidak ditemukan redaksi bahasa yang menyerang dan menyakitkan hati.  Penulis melakukan penilaian secara jujur dan objektif. Beragam argumentasinya masuk akal dan logis. Bukan asal mengkritik! 

Thus, ini sebuah tradisi mulia, menurut hemat peresensi, sebuah mekanisme kritik wacana VS wacana, buku VS buku, dengan penyampaian dan pemaparan yang lugas, santun, dan ilmiah. Tidak saling memojokkan dan menjelekkan. Bak pertarungan wacana antara Imam Al-Ghazali dengan Tahafut al-Falasifah-nya dan  Ibn Rusyd dengan Tahafut at-Tahafut-nya atau polemik antara Bung Karno yang menulis ISLAM SONTOLOYO dengan M. Natsir yang berlangsung sepanjang tahun 1930 - 1935. Sebuah polemik asyik dan intelek  yang nyaris belum ada tandingan bobotnya dala sejarah polemik di Indonesia. 

Semoga buku bercover pink nan imut ini mampu menjadi oase, Islamic Answers bagi remaja/remaji generasi Y dan, Z aktif di sosial media, ABG yang hidup di era transborder data flows yang ingin mengetahui Islam  yang sesungguhnya sehingga tidak mudah terpengaruh oleh arus informasi tentang Islam yang banyak berseliweran di dunia maya, alias tidak instan mengaji agama dari internet. Buku ini berisi tentang keislaman dalam konteks keindonesiaan. Positif untuk dibaca agar masyarakat tahu bahwa di bumi Nusantara sudah sejak lama terjadi proses pengintegrasian antara fiqih dengan kondisi sosial masyarakat, dan berlanjut dalam hukum Islam dengan hukum nasional melalui sarana kebudayaan. Inilah babak lanjutan dialog intensif yang sebelumnya terjadi antara Islam dan kebudayaan Turki, Persia, India, Tiongkok, dan lainnya. Disuguhi dengan fakta fiqih yang mengindonesia. Beberapa isu yang sempat jadi perdebatan publik ditanggapi dengan paparan yang enggak kalah gaul.

Buku ini wajib dibaca setiap followers Felix Siauw dan mereka yang ‘kurang setuju” dengan pendapat-pendapatnya. 

Data Buku:
Judul : Dear Felix Siauw, Sekadar Koreksi Biar Enggak Salah Persepsi
Penulis : M. Sulthan Fatoni              
Penerbit         : Imania
ISBN : 978-602-7926-22-6
Tebal : 210 halaman
Harga : Rp 42.000,-
Kode buku    : XD-11
Terbit :  Maret 2015  
Kategori         : Referensi Islam

Peresensi adalah Faried Wijdan, Alumnus Pondok Pesantren Hadil Iman, MAPK Surakarta
Senin 20 Maret 2017 11:11 WIB
Al-Durrah al-Bahiyyah, Fatwa Ulama Kurdistan atas Masalah Islam Nusantara Abad Ke-18
Al-Durrah al-Bahiyyah, Fatwa Ulama Kurdistan atas Masalah Islam Nusantara Abad Ke-18
Dalam manuskrip berjudul “Tarjamah al-Syikkh Muhammad Sulaimân al-Kurdî” (koleksi perpustakaan King Saud University, Riyadh, dengan nomor kode 5628) yang berisi sejarah hidup dan karya-karya Syekh Muhammad ibn Sulaimân al-Kurdî al-Madanî (w. 1780 M), didapati sebuah data dan informasi penting terkait sejarah Islam Nusantara, yaitu adanya salah satu karya beliau yang berjudul “al-Durrah al-Bahiyyah fî Jawâb al-As’ilah al-Jâwiyyah”.

Syekh Muhammad ibn Sulaimân al-Kurdî al-Madanî adalah salah seorang ulama besar dunia Islam asal Kurdistan yang lahir di Damaskus dan berkarir di Madinah pada abad ke-18 M. Beliau tercatat sebagai mufti Madinah di zamannya, sekaligus menjadi guru utama dari beberapa ulama Nusantara di kota suci itu pada masa tersebut (seperti Syekh Abdul Shamad Palembang, Syekh Arsyad Banjar, Syekh Abdul Wahhab Bugis, dan lain-lain), di samping Syekh Muhammad ibn ‘Abd al-Karîm al-Sammân al-Madanî (w. 1775 M).

Menyimak judulnya, kitab “al-Durrah al-Bahiyyah fî Jawâb al-As’ilah al-Jâwiyyah” sudah bisa dipastikan berisi kumpulan fatwa Syekh Muhammad ibn Sulaimân al-Kurdî atas beberapa persoalan yang datang dari Nusantara. Sayangnya, hingga saat ini, keberadaan manuskrip kitab ini belum berhasil ditemukan, sehingga masalah-masalah Nusantara apa saja yang diajukan kepada Syekh al-Kurdî tidak dapat terlacak, demikian pula halnya dengan jawaban fatwa yang diberikan oleh beliau.

Prof. Azyumardi Azra dalam “Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII” (Bandung: Mizan, 2004, hal. 137), menyinggung keberadaan karya ini. Prof. Azra menulis; “pada abad ke-18 M, (Muhammad ibn) Sulaimân al-Kurdî, seorang ulama Haramain terkemuka juga menjadi guru sekelompok murid dari Melayu-Indonesia, menulis sebuah karya berjudul “al-Durrat al-Bahiyyah fî Jawâb al-Asilat al-Jâwiyyah”. Semua ini menunjukkan adanya wacana regio-intlektual yang kuat di antara para murid melayu-indonesia dan para ulama di Haramain dan tanggung jawabnya terhadap pembaharuan religio-intlektual di kalangan kaum muslimin Jawi”.

Adanya sebuah isyarat akan keberadaan kitab berjudul “al-Durrah al-Bahiyyah” karangan Syekh Muhamad ibn Sulaimân al-Kurdî ini setidaknya dapat menjadi bukti tambahan lain tentang sejarah jaringan intelektual ulama Nusantara-Haramain pada abad ke-18 M. Bahwa antara Muslim Nusantara dengan jantung intelektual dunia Islam, yaitu Makkah dan Madinah, terdapat hubungan yang erat dan kuat, yang salah satunya dibuktikan oleh adanya surat meminta fatwa (risâlah al-istiftâ) yang dikirimkan oleh Muslim Nusantara ke salah seorang ulama sentral Madinah saat itu, dalam hal ini adalah Syekh Muhammad ibn Sulaimân al-Kurdî.

Syekh Muhammad ibn Sulaimân al-Kurdî pun menjawab pertanyaan-pertanyaan Muslim Nusantara tersebut melalui sebuah risalah yang diberi judul ““al-Durrah al-Bahiyyah fî Jawâb al-As’ilah al-Jâwiyyah”.

Hal ini sekaligus menegaskan bahwa hubungan dan jaringan intelektual Muslim Nusantara-Haramain itu tidak terputus, karena pada generasi sebelumnya, yaitu pada abad ke-17 M, seorang ulama asal Kurdistan yang juga berkarir di Madinah, yaitu Syekh Ibrâhîm ibn Hasan al-Kûrânî al-Madanî (w. 1690 M), yang juga guru utama ulama Nusantara di Haramain pada generasi Syekh ‘Abd al-Raûf ibn ‘Alî al-Jâwî (Syekh Abdul Rauf Singkel, w. 1693 M) dan Syekh Yûsuf al-Tâj al-Khalwatî al-Jâwî (Syekh Yusuf Makassar, w. 1699 M), telah menulis sebuah risalah dengan tema serupa.

Risalah yang ditulis oleh Syekh Ibrâhîm al-Kûrânî di atas berjudul “al-Jawâbât al-Gharâwiyyah li al-Masâ’il al-Jâwiyyah al-Juhriyyah”. Risalah ini menghimpun fatwa Syekh Ibrâhîm al-Kûrânî atas lima permasalahan yang dikemukakan oleh umat Muslim Nusantara dari wilayah “Johor” di Semenanjung (kini Malaysia). Karena itu pulalah, dalam judul disebutkan “al-Asilah al-Jâwiyyah al-Juhriyyah” (Soalan-soalan [dari] Negeri Jawi Johor). Risalah ini selesai ditulis pada hari Selasa, 25 Shafar tahun 1070 Hijri (11 November 1659 M).

Kembali ke Syekh Muhammad ibn Sulaimân al-Kurdî. Di Nusantara, ada sebuah karya beliau yang cukup populer dan masih dikaji khususnya di kalangan pesantren tradisional (Nahdlatul Ulama). Karya tersebut adalah “al-Hawâsyî al-Madaniyyah ‘alâ Syarh al-Muqaddimah al-Hadhramiyyah” yang mengkaji bidang fikih madzhab Syafi’i. “al-Hawâsyî al-Madaniyyah” merupakan “hâsyiah” (ulasan panjang) atas kitab “al-Manhaj al-Qawwîm” karya al-Imâm Ibn Hajar al-Haitamî al-Makkî (w. 1566 M), yang merupakan “syarh” (komentar/ penjelasan) atas “matn” (teks) “Masâ’il al-Ta’lîm” atau “al-Muqaddimah al-Hadhramiyyah” karya Syekh ‘Abdullâh ibn ‘Abd al-Rahmân Bâ-Fadhal al-Hadhramî (w. 1512 M).

Kitab “al-Hawâsyî al-Madaniyyah” karangan Syekh Muhammad ibn Sulaimân al-Kurdî ini berkerabat dengan kitab hâsyiah “Mauhibah Dzî al-Fadhal ‘alâ Syarh Muqaddimah Bâ-Fadhal” atau “al-Manhal al-‘Amîm ‘alâ syarh al-Manhaj al-Qawwîm” (dikenal juga dengan “Hâsyiah al-Tarmasî”) karangan seorang ulama Nusantara yang berkarir di Makkah, yaitu Syekh Muhammad Mahfûzh ibn ‘Abdullâh ibn ‘Abd al-Mannân al-Tarmasî al-Makkî (dikenal dengan Syekh Mahfuzh Tremas, w. 1920 M).

Abu Daudi dalam bukunya “Maulana Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari (Tuan Haji Besar)” yang diterbitkan oleh Madrasah Sullam al-Ulum (Martapura: 1996, hal. 29) mengatakan bahwa Syekh Muhammad Arsyad Banjar meminta fatwa kepada gurunya Syekh Muhammad Sulaimân al-Kurdî tentang keadaan Sultan Banjar yang memungut pajak dan mengenakan hukuman denda bagi mereka yang meninggalkan shalat Jum’at dengan sengaja, serta berbagai masalah lainnya.

Syekh Muhammad Sulaimân al-Kurdî pun menjawab pertanyaan Syekh Arsyad Banjar tersebut. Dikatakan oleh Daudi, bahwa naskah fatwa jawaban tersebut sampai sekarang masih ada dan tetap tersimpan dengan baik pada salah seorang zuriat Syekh Arsyad Banjar yang tinggal di desa Dalam Pagar Martapura, Kalimantan Selatan.

Diceritakan pula oleh Daudi, bahwa Syekh Arsyad Banjar pulang ke negerinya di Kesultanan Banjar atas anjuran dari gurunya Syekh Muhammad ibn Sulaimân al-Kurdî itu, padahal Syekh Muhammad Arsyad Banjar saat itu hendak melanjutkan pengembaraan intelektual ke Mesir dan berencana belajar di Al-Azhar. Oleh Syekh Muhammad ibn Sulaimân al-Kurdî, Syekh Muhammad Arsyad Banjar disuruh pulang ke Banjar guna menyebarkan ilmu pengetahuan yang telah didapat di Haramain. (A. Ginanjar Sya’ban)

Kamis 16 Maret 2017 17:0 WIB
Kitab Fiqih Mazhab Syafi’i Terbesar Abad 20 Karya Ulama Nusantara
Kitab Fiqih Mazhab Syafi’i Terbesar Abad 20 Karya Ulama Nusantara
Ini adalah kitab “Mauhibah Dzî al-Fadhal Hâsyiah ‘alâ Syarh Ibn Hajar ‘alâ Muqaddimah Bâ-Fadhal” atau “al-Manhal al-‘Amîm bi Hâsyiah al-Manhaj al-Qawwîm” karangan seorang ulama besar dunia Islam yang hidup di abad ke-14 Hijri (akhir abad ke-19 M dan awal abad ke-20 M) dan bermukim di Makkah, yang berasal dari Nusantara (Tremas, Jawa Timur), yaitu Syaikh Muhammad Mahfûzh ibn ‘Abdullâh ibn ‘Abd al-Mannân al-Tarmasî tsumma al-Makkî (dikenal dengan Syaikh Mahfuzh Tremas, w. 1920 M). 

Kitab ini dikenal juga dengan nama “Hâsyiah al-Tarmasî”, yang tercatat sebagai karya terbesar dalam fiqih madzbah Syafi’i di seluruh dunia Islam yang ditulis pada abad ke-14 Hijri. Karena itu tidaklah mengherankan jika karya ini dikaji dan dirujuk di pelbagai belahan dunia Islam yang penduduknya menganut fiqih mazhab Syafi’i, mulai dari Haramain, Mesir, Suriah, Irak, Kurdistan, Dagestan (Russia), India, dan tentu saja Asia Tenggara (Jawi/Nusantara).

“Mauhibah Dzî al-Fadhl” merupakan hâsyiah (ulasan panjang atau komentar atas komentar) atas kitab “al-Manhaj al-Qawwîm” karangan al-Imâm al-Hâfizh Ibn Hajar al-Haitamî al-Makkî (w. 1566 M). “al-Manhaj al-Qawwîm” sendiri adalah syarh (penjelasan atau komentar) atas matn (teks) kitab “al-Muqaddimah al-Hadhramiyyah fî Fiqh al-Sâdah al-Syâfi’iyyah” atau yang dikenal dengan “Masâil al-Ta’lîm” (dan “al-Mukhtashar al-Kabîr”) karangan Syaikh ‘Abdullâh ibn ‘Abd al-Rahmân Bâ-Fadhal al-Hadhramî (w. 1512 M). 

Keterkaitan antar teks di atas dapat dipetakan dan digambarkan sebagai berikut;

1. متن "المقدمة الحضرمية في فقه السادة الشافعية" أو "مسائل التعليم" أو "المختصر الكبير" أو "مقدمة بافضل" للفقيه عبد الله بن عبد الرحمن الحضرمي.
2. شرح "المنهج القويم على مسائل التعليم" للحافظ ابن حجر الهيتمي المكي.
3. حاشية "المنهل العميم على شرح مسائل التعليم" أو "موهبة ذي الفضل على شرح ابن حجر لمقدمة بافضل" للشيخ محمد محفوظ الترمسي الجاوي ثم المكي.

Matan (teks) “Muqaddimah Bâ-Fadhal” atau “Masâ’il al-Ta’lîm” dan syarh (penjelasan)-nya “al-Manhaj al-Qawwîm” adalah literatur rujukan utama dan kitab pusaka dalam khazanah fiqih mazhab Syafi’I selama berabad-abad lamanya. Ada beberapa ulama yang menulis kitab hâsyiah (ulasan panjang) atas syarh “al-Manhaj al-Qawwîm” tersebut, seperti Syaikh Muhammad ibn Sulaimân al-Kurdî al-Madanî, w. 1194 H/ 1780 M (Hawâsyî Madaniyyah) dan Syaikh ‘Abdullâh ibn Sulaimân al-Jarhazî, w. 1201 H/ 1786 M (Hâsyiah al-Jarhazî). 

Memasuki abad ke-14 Hijri, syarh “al-Manhaj al-Qawwîm” tersebut kemudian di-hâsyiah oleh Syaikh Mahfuzh Tremas. Karena itulah, tidak berlebihan jika ada yang mengatakan kitab “Hâsyiah al-Tarmasî” ini sebagai kitab fiqih mazhab Syafi’i terbesar di abad tersebut. 

Dalam kata pengantar “hâsyiah”-nya ini, Syaikh Mahfuzh Tremas menulis;

أما بعد. فيقول العبد الراجي رضا ربه الغني محمد محفوظ بن عبد الله الترمسي وفقه الله للتقوى والسعادة ورزقه الحسنى وزيادة. هذه تقريرات رائقة وحواش فائقة سميتها "موهبة ذي الفضل على شرح مقدمة بافضل" حداني على ذلك وإن لم أكن أهلا لما هنالك، كثرة نفعه للطلبة الأنجاب، فعسى أن ينيلني بها دعاء رجل صالح ممن له رغبة في ذلك الكتاب

(Maka berkatalah seorang hamba yang mengharapkan rido Tuhannya yang Maha Kaya, Muhammad Mahfûzh ibn ‘Abdullâh al-Tarmasî, semoga Allah senantiasa menuntunnya dalam ketakwaan dan kebahagiaan, dan memberinya karunia kebaikan. Ini adalah sebuah penjelasan yang gamblang dan ulasan yang panjang lebar. Aku menamakannya “Mauhibah Dzî al-Fadhl ‘alâ Syarh Muqaddimah Bâ-Fadhal”. Seseorang (lelaki salih) telah menyuruhku untuk menuliskannya, meskipun aku bukanlah seorang yang ahli dalam bidang itu. Semoga Allah menjadikannya bermanfaat bagi para pelajar. Aku berharap, dengan kitab hâsyiah ini, aku bisa memperoleh doa seorang lelaki salih (tersebut) yang menghendaki ditulisnya kitab ini).

Dalam kolofon, disebutkan jika karya ini diselesaikan di Makkah pada masa menjelang zuhur, hari Sabtu 4 Rabî’ al-Tsânî 1327 Hijri (bertepatan dengan 24 April 1909 M). Tertulis di bagian paling akhir kitab;

وكان الفراغ من تسويد هذه الحاشية وتحريرها في بمكة المكرمة قبيل أذان الظهر يوم السبت المبارك رابع الربيع الثاني سنة 1327، والله سبحانه وتعالى أعلم.

Kitab ini kemudian dicetak berkali-kali di beberapa penerbitan Timur Tengah, seperti di Makkah, Kairo, Beirut, dan lain-lain. Cetakan terbaru adalah versi Maktabah Dâr al-Minhâj, Jeddah, KSA (pada tahun 2011), dengan tebal sebanyak VII (tujuh) volume (jilid). Cetakan lama berada dalam IV (empat) jilid. Terdapat beberapa endorsement (taqrîzh) dari beberapa ulama besar Haramain atas kitab ini, seperti “taqrîzh” dari Sayyid ‘Abdullâh Shadaqah ibn Zainî Dahlân al-Makkî, Sayyid Abû Bakar ibn Thâhâ al-Saqqâf, dan Muhammad Sâmî ibn ‘Abd al-Jalil Barâdah. 

Dalam kata pengantar atas edisi cetak yang diterbitkan oleh Dâr al-Minhâj, Dr. Muhammad ‘Abd al-Rahmân al-Ahdal dari Unversitas Thaif, KSA, mengatakan bahwa kitab “Hâsyiah al-Tarmasî” ini adalah kitab fiqih mazhab Syafi’i terbesar dan terluas bahasannya yang ditulis oleh ulama bukan saja pada abad ke-14 Hijri, melainkan pada periode “muta’akhkhirîn” (late periode, 12-14 Hijri/ 17-20 M). (A. Ginanjar Sya’ban)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG