IMG-LOGO
Pustaka

Kitab Ulama Damaskus atas Masalah Syekh Siti Jenar di Nusantara Abad Ke-18

Jumat 24 Maret 2017 15:0 WIB
Bagikan:
Kitab Ulama Damaskus atas Masalah Syekh Siti Jenar di Nusantara Abad Ke-18
Ini adalah halaman pembuka dari kitab “Risâlah ‘Abd al-Ghanî fî Hukm Syath al-Walî” karangan seorang ulama besar dunia Islam yang hidup di peralihan abad ke-17 dan 18 M, yaitu Syekh ‘Abd al-Ghanî ibn Ismâ’îl al-Nâblusî al-Dimasyqî (dikenal dengan ‘Abd al-Ghanî al-Nâblusî, 1050—1143 H/ 1641—1731 M).

Karya ini sangat penting karena berisi pandangan al-Nâbusî terkait polemik masalah teosofi (tasawuf falsafi) dan pantiesme (wahdatul wujud) yang berkembang di Bumi Nusantara pada masa itu. Al-Nâblusî terpanggil untuk turut serta menuangkan fatwa dan pandangannya terkait masalah pemikiran “wahdatul wujud” di yang berkembang di Nusantara dan erat kaitannya dengan sosok dan ajaran Syekh Siti Jenar yang kontroversial.

Fatwa dan pandangan al-Nâblusî ini dituangkan dalam sebuah risalah yang kini manuskripnya tersimpan di Perpustakaan al-Zhâhiriyyah di Damaskus, Suriah, dengan nomor kode 4008. Risalah ini kemudian disunting (tahqîq) oleh Prof. Dr. ‘Abd al-Rahmân al-Badawî dan disisipkan bersama dalam bunga rampai pemikiran para sufi berjudul “Syathahât al-Shûfiyyah” yang diterbitkan Wikâlât al-Mathbû’ât di Kuwait (tanpa tahun). Oleh al-Badawî, risalah karangan al-Nâblusî ini diberi judul “Risâlah li ‘Abd al-Ghanî al-Nâblusî fî Hukm Syath al-Walî”.

Dalam kolofon, al-Nâblusî mengatakan jika karyanya ini diselesaikan pada sore hari Jum’at, 13 Sya’ban tahun 1139 Hijri (bertepatan dengan 4 April 1727 Masehi). Al-Nâblusî menulis;

فرغ ما جرى به قلم الإمداد ورسمه في الطرس روح الاستعداد بصورة اسم عبد الغني في عشية نهار الجمعة الثالث عشر من شعبان لسنة تسع وثلاثين ومائة وألف

Sebenarnya, risalah ini ditulis oleh al-Nâblusî untuk mengembangkan dan melengkapi apa yang telah ditulis oleh guru beliau, yaitu Syekh Ibrâhîm ibn Hasan al-Kûrânî al-Madanî (w. 1690 M). al-Kûrânî, yang juga mahaguru ulama Nusantara di Haramain pada masa abad ke-16 M, atau generasi Syekh ‘Abd al-Ra’ûf ibn ‘Alî al-Jâwî (Abdul Rauf Singkel, w. 1693 M) dan Syekh Yûsuf al-Tâj al-Khalwatî (Yusuf Makassar, w. 1699 M), menulis sebuah risalah berjudul “al-Maslak al-Jalî fî Hukm Syath al-Walî” untuk merespon polemik pemikiran teosofi dan panteisme yang berkembang di Nusantara pada masa itu.

Nah, risalah “al-Maslak al-Jalî fî Hukm Syath al-Walî” karangan al-Kûrânî ini kemudian dikembangkan oleh al-Nâblusî dalam risalahnya yang (diberi) judul “Risâlah ‘Abd al-Ghanî fî Hukm Syath al-Walî.Dalam kata pengantarnya, al-Nâblusî menulis;

أما بعد. فيقول العبد الفقير الى مولاه الخبير عبد الغني المدرس في المقام الحاتمي والمنزل الحاتمي جامع الشيخ الأكبر خطيب العلوم الإلهية على أوج المنبر، حققه الله تعالى بحقائق العرفان وأمده ببدائع الكشف والبيان. وجدتُ رسالة اسمها "المسلك الجلي في حكم شطح الولي" للشيخ الإمام العلامة العمدة المحقق المدقق الفهامة الملا إبراهيم الكوراني المدني رحمه الله تعالى أجاب بها عن سؤال ورد عليه من بعض جزائر جاوه من أقصى بلاد الهند في سنة ست وثمانين وألف.

(Maka berkatalah seorang hamba yang fakir kepada Tuhannya yang maha mengetahui, ‘Abd al-Ghanî, yang mengajar di maqam al-hâtimî [maqam Ibnu ‘Arabi] dan manzil al-hâtimî [rumah Ibnu ‘Arabi] di Masjid Syekh Akbar Ibnu ‘Arabi [di Damaskus], yang menjadi khatib ilmu-ilmu ilahiah di atas mimbar [masjid tersebut], semoga Allah menuntunnya kepada jalan kebenaran ilmu pengetahuan. Aku telah mendapati sebuah risalah berjudul “al-Maslak al-Jalî fî Hukm Syath al-Walî” karangan Syekh Imam Ibrâhîm al-Kûrânî al-Madanî, semoga Allah merahmatinya, yang menjawab di dalam risalah itu akan sebuah pertanyaan yang datang kepadanya dari salah satu pulau di negeri Jawi [Nusantara] di ujung negeri India, pada tahun seribu delapan puluh enam [hijri/ 1675 masehi]).

Bunyi pertanyaan yang datang dari negeri Jawi (Nusantara) tersebut yang kedepankan kepada Syekh Ibrâhîm al-Kûrânî, sebagaimana tertulis dalam “al-Maslak al-Jalî”, adalah sebagai berikut;

ماذا يقولون في قول بعض أهل جاوة، ممن ينسب الى العلم والورى: إن الله نفسنا ووجودنا ونحن نفسه ووجوده. هل له تأويل صحيح كما قال بعض أهل جاوة، أو هو كفر صريح كما يقوله بعض العلماء الواردين اليها ممن يثني عليه بأنه عالم بالعلم الظاهر والباطن. بينوا لنا ما هو الحق بمقتضى قواعد الشرع والتحقيق. أجزل الله لكم الثواب. وأدام لكم الامداد والتوفيق.

(Apa pendapat anda atas sebuah pemikiran salah seorang dari negeri Jawi [Nusantara], yang mana ia dikenal sebagai sosok yang ahli ilmu dan wara: (menurutnya) “Allah adalah wujud [eksistensi] diri kami dan diri kami adalah wujud Allah. Kami adalah Allah dan wujudNya”. Apakah pemikiran ini mendapatkan landasan penafsiran/ penakwilan yang sahih sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian ahli Nusantara, ataukah pemikiran itu adalah sebuah kekafiran yang jelas sebagaimana dikatakan oleh sebagian ulama yang terpuji sebagai ahli ilmu zahir dan batin? Mohon berikan kami penjelasan apakah hakikat sebenarnya pemikiran tersebut sesuai dengan kaidah syariat dan hakikat. Semoga Allah memberikan anda ganjaran, dan melanggengkan imdad dan taufiq-Nya untuk anda).

Syekh ‘Abd al-Ghanî mengatakan, bahwa Syekh Ibrâhîm al-Kûrânî telah menjawab pertanyaan tersebut dengan pendapatnya yang proporsional. Kini giliran Syekh ‘Abd al-Ghanî yang hendak menambahkan jawaban atas pertanyaan tersebut dan memberikan perspektif pemikirannya yang baru atas pertanyaan dari Nusantara itu.

Dalam versi suntingan al-Badawî, jawaban dan ulasan Syekh ‘Abd al-Ghanî atas permasalahan di atas yang berasal dari Nusantara itu tertuang dalam 8 (delapan halaman). Beliau sangat detail dan jeli dalam menyikapi seorang ulama Nusantara yang mengatakan bahwa “Allah adalah wujud kami dan wujud kami adalah Allah”, dengan membaginya ke dalam empat maqam tingkatan, yaitu maqam aghyâr (ghayrullâh), af’âl (fi’lullâh), shifât (shifâtullâh), dan dzât (dzâtullâh).

Sosok “orang Nusantara yang memiliki reputasi sebagai sosok seorang ulama yang saleh, ahli ilmu, dan wara’i” ini menarik untuk ditelisik lebih jauh. Siapakah gerangan dirinya? Adakah ia adalah Syekh Hamzah Fanshuri, Syekh Syamsuddîn Samathrânî, atau Syekh Siti Jenar? Yang mana ketiganya dikenal sebagai tokoh penganut ajaran teosofi dan pantheisme di Nusantara.

Hal lain yang tak kalah menariknya untuk juga ditelisik adalah keberadaan Syekh ‘Abd al-Ghanî al-Nâblusî yang tercatat sebagai salah seorang ulama sentral di zamannya, turut serta menuliskan sebuah karya khusus untuk menanggapi, merespon, dan menjawab sebuah permasalahan pemikiran teosofi dan patheisme yang muncul dan berkembang di belahan bumi yang jauh, yaitu negeri bawah angina (Jawi/ Nusantara). (A. Ginanjar Sya’ban)


Bagikan:
Kamis 23 Maret 2017 12:0 WIB
Lebih Mudah dengan Peta Konsep Ulumul Quran
Lebih Mudah dengan Peta Konsep Ulumul Quran
Al-Qur’an ibarat samudera ilmu dan petunjuk yang amat kaya dan melimpah. Siapa saja yang mengajinya laksana sedang berlayar untuk mendapatkan kekayaan alam yang dikandungnya. Meskipun sama-sama mengarungi samudra, namun hasil yang mereka peroleh tidak sama. Ada yang mungkin mendapatkan teri, udang, rajungan, tongkol, tengiri, dan lain-lain. Ada juga yang mungkin mendapatkan mutiara yang terpendam di dalam samudera.    

Banyak hal yang bisa mempengaruhi mereka mendapatkan hasil laut yang berbeda-beda, diantaranya adalah karena perbedaan alat perlengkapan yang digunakan dan perbendaan ilmu pengetahuan teknologi yang dikuasai. Semakin rendah kulitas alat dan ilmu yang digunakan pasti hasil yang dicapai pasti tidak sebagus hasil dari mereka yang menggunakan alat dan ilmu yang berkualitas tinggi. Analogi ini bisa membantu kita memahami mengapa ada banyak simpulan yang berbeda yang dihasilkan dari orang-orang yang membaca dan mempelajari Al-Qur’an yang sama.

Agar kajian terhadap Al-Qur’an menghasilkan ilmu dan petunjuk yang benar dan berkualitas, maka pengajinya harus menguasai ilmu-ilmu standar yang diperlukan dalam mengaji Al-Qur’an (ulumul quran). Ada banyak kitab primer ulumul quran yang telah disusun oleh para ulama terdahulu, diantaranya adalah al-Burhan karya Az-Zarkasyi, al-Itqan karya as-Suyuthy, Manahilul ‘Irfan karya az-Zarqany dan al-Mabahits fi Ulumil Quran karya Mana’ al-Qatthan. Kandungan kitab-kitab ini meliputi tema dan materi standar yang dijadikan acuan para ulama dalam mempelajari kandungan Al-Qur’an.

Mempelajari dan menguasai kandungan kitab-kitab primer tersebut sangat membantu siapa saja dalam mempelajari Al-Qur’an untuk mendapatkan petunjuk darinya. Tanpa itu, maka Al-Qur’an akan dibaca dan dipahami menurut keinginan pembaca sendiri, sehingga mustahil bisa mendatangkan petunjuk sebagaimana yang dikehendakioleh Allah SWT dan RasulNya. Tanpa ilmu-ilmu Al-Qur’an yang standard itu, maka sangat besar kemungkinan Al-Qur’an dipahami semata-mata dari teks yang tertulis. Konsekwensinya adalah berbagai teori analisis teks dan sastra kontemporer dipaksakan sebagai kerangka konsep dalam  membaca dan memahami Al-Qur’an yang bisa jadi simpulan yang dihasilkan sejalan syariat atau bahkan kontraproduktif dengan syariat.  

Dengan mengikuti pembahasan tema-tema standar yang telah dirumuskan oleh para ulama terdahulu dalam kitab-kitab primer itu, Gus Awis, panggilan akrab Dr. Muhammad Afifuddin, MA menyusun sebuah buku berbahasa Arab yang bisa memudahkan para pembelajar pemula dalam ilmu Al-Qur’an dan ilmu tafsir. Buku yang berjudul, “Mawaridul Bayan fii Ulumil Qur'aan” ini berisi dua puluh tujuh pembahasan seputar ilmu Al-Qur’an, ilmu tafsir, dan kajian beberapa kitab tafsir baik yang klasik,  kontemporer maupun beberapa kitab tafsir karya ulama Indonesia. Semuanya disajikan dengan ringkas, singkat dan jelas. Dia menjelaskan, “Pada awalnya, buku pertama tentang Al-Qur’an yang saya susun ini saya niatkan untuk mempermudah para pelajar dalam memahami ilmu Al-Qur’an. Mengingat luas dan banyaknya sub kajian ilmu al-Qur’an, maka saya berusaha menyingkat dengan mengambil inti sari pembahasaannya lalu memetakannya menggunakan tabel, dengan harapan segera dimengerti dan diingat oleh para pelajar”.

Peta konsep ulumul quran adalah kelebihan buku ini. Dosen UINSA Surabaya ini mengemas ulang pokok-pokok pembahasan studi Al-Qur’an dan tafsir dalam bentuk peta konsep. Inilah yang membedakannya dengan buku-buku terdahulu. Dengan kemasan seperti ini, buku ini lebih tepat dijadikan sebagai buku pegangan ringkas mahasiswanya yang sedang mengikuti mata kuliah ulumul quran dan tafsir.     

Bagi orang-orang yang telah mendalami studi Al-Qur’an dan tafsir, buku ini tentu tidak banyak memberikan informasi baru. Tapi mereka tentu akan sangat terbantu mudah mengajarkan materi ilmu quran dan ilmu tafsir, oleh paparan buku ini yang disusun dalam bentuk peta konsep. Materi yang luas dan dalam dapat diringkas dalam sebuah peta konsep, sehingga mudah dipahami dan diingat secara lebih cepat daripada paparan naratif saja. Oleh karena itu, buku ini tetap saja layak dibaca dan dipahami baik oleh pembaca pemula maupun pembaca tingkat lanjut dalam studi Al-Qur’an dan tafsir.

Setelah memaparkan dua puluh tujuh pembahasan hal-hal yang barhubungan dengan ulumul quran dan tafsir, pengasuh pondok pesantren Darul Ulum Peterongan Jombang ini memberikan dua catatan akhir sebagai bentuk pengakuan jujur penyusun buku. Pertama, ilmu ini sangat penting dikuasai oleh siapa saja yang bermaksud memahami dan menafsirkan Al-Qur’an. Dengan perangkat ilmu ini, pembaca Al-Qur’an akan mengetahui metode yang tepat dan benar dalam memahami dan menafsirkan Al-Qur’an.

Kedua, membahas ulumul quran dan tafsir secara komprehensif memerlukan usaha yang sangat maksimal, tidak cukup sekadar ditulis secara singkat dan terbatas seperti buku ini. Oleh karena itu penyusun buku ini menyarankan agar pembaca jangan hanya mencukupkan diri dengan buku ini saja, namun perkayalah dengan wawasan lain agar bisa memberikan pemahaman yang benar terhadap Al-Qur’an dan tafsirnya.

Apa yang penulis baca, pahami, kemudian tulis dalam esai resensi ini bisa jadi berbeda dengan apa yang dibaca dan dipahami oleh orang lain, meskipun objeknya sama. Oleh karena itu, agar mendapatkan pemahaman yang lebih kaya makna, penulis menyarankan kepada para pembaca memiliki dan membaca sendiri buku ini. Bisa jadi pembaca akan mendapatkan mutiara ilmu melebihi apa yang telah penulis paparkan dalam esai resensi ini. Silakan membuktikan sendiri. 

Data Buku

Judul : Mawaaridul Bayaan fii 'Uluumil Qur'aan
Penulis : Dr. Muhammad Afifuddin, MA
Penerbit : Lisan Arabi
Cetakan : Pertama, 2016
Tebal     : 177 Halaman

Peresensi: Nine Adien Maulana, Guru SMA Negeri 2 JombangJawaTimur


Rabu 22 Maret 2017 13:29 WIB
Fiqih Nusantara Abad Ke-18 M Karya Faqih Jalaluddin Aceh
Fiqih Nusantara Abad Ke-18 M Karya Faqih Jalaluddin Aceh
Ini adalah bagian pembuka dari kitab “Hidâyah al-‘Awâm Pada Menyatakan Perintah Agama Islam” yang berisi kajian fiqih Islam madzhab Syafi’i karangan seorang ulama besar Nusantara dari Kesultanan Aceh, yaitu Faqih Jalaluddin al-Âsyî (Faqîh Jalâluddîn ibn Faqîh Kamâluddîn ibn Qâdhî Baginda Khatîb, hidup di abad ke-18 M).

Dalam pembukaan, Faqih Jalaluddin Aceh mengatakan, kitab “Hidâyah al-‘Awâm” ini ditulis pada tanggal 5 Muharram 1140 Hijri (bertepatan dengan 22 Agustus 1727 Masehi), juga pada masa pemerintahan Sultan Alauddin Ahmad Syah Johan Berdaulat Zhillullah fil Alam (dikenal juga dengan Sultan Alauddin Johan Syah, memerintah sepanjang masa 1147—74 H/ 1735—60 M).

Faqih Jalaluddin Aceh menulis;

أما بعد أدفون كمدين درايت مك فد فجرة نبي سريب سراتس أمفت فوله فد ليم هاري بولن محرم زمان فادك سري سلطان يغ بسر كرجائنن لاك يغ مها تغكي درجتن يائت سلطان علاء الدين أحمد شاه جوهن بردولة ظل الله في العالم أدام الله له دولته أمين.

(Adapun kemudian dari itu maka pada Hijrah Nabi Seribu Seratus Empat Puluh pada lima hari bulan Muharram zaman Paduka Seri Sultan yang besar kerajaannya lagi yang maha tinggi derajatnya yaitu Sultan Alauddin Ahmad Syah Johan Berdaulat Zhillullah fil Alam [semoga Allah abadikan kerajaannya] amin).

Sang Sultan telah meminta Faqih Jalaluddin untuk menulis sebuah kitab fiqih madzhab Syafi’i dalam bahasa Jawi (Melayu) agar bisa digunakan pedoman oleh umat Muslim di Kesultanan Aceh dan wilayah Nusantara lainnya. Memang telah ada dua kitab fiqih berbahasa Melayu yang ditulis oleh ulama-ulama sebelumnya, yaitu kitab “al-Shirâth al-Mustaqîm” yang ditulis oleh Syaikh Nûruddîn al-Rânirî pada tahun 1054 Hijri (1644 Masehi) di masa pemerintahan Sulthanah Shafiyatuddîn Tajul Alam (memerintah 1641—75 M), juga kitab “Mirât al-Thullâb” yang ditulis oleh Syaikh Abdul Rauf Singkel pada 1074 Hijri (1663 Masehi) di masa pemerintahan Sulthanah yang sama.

Namun tampaknya Sultan Alauddin Johan Syah ingin juga memiliki kitab fiqih yang aktual dan kontekstual pada zamannya. Karena itulah beliau pun meminta kepada mufti dan ulama sentral Kesultanan Aceh pada zamannya, yaitu Faqih Jalaluddin, untuk menuliskan sebuah kitab. Beliau menulis;

مك تتكال ايت ممنتأ كفد فقير يغ هينا خادم العلماء حاج جلال الدين أنق شيخ يغ عارف بالله شيخ جلال الدين أنق قاضي بكندا خطيب سلمه الله تعالى أوله سؤورغ درفد صحبة رجا ايت يغ تاكوت أكن الله تعالى بهواك سورتكن بكين سوات رسالة يغ سمفن مك أك نماي اكندي هداية العوام فدميتاكن فرنته اكم إسلام

(Maka tatkala itu meminta kepada Faqir yang hina, peayan para ulama, Haji Jalâluddîn anak Syaikh yang arif billâh Syaikh Jalâluddîn anak Qâdhî Baginda Khatib, semoga Allah menyelamatkannya, oleh seorang daripada sahabat raja itu yang takut akan Allah Ta’âlâ, bahwa aku suratkan baginya suatu risalah yang [simpan?] maka aku namai akan dia “Hidâyah al-‘Awâm Pada Menyatakan Perintah Agama Islam”).

Kitab “Hidâyah al-‘Awâm” dimulai dengan kajian pengetahuan teologi Islam dasar, yaitu tentang sifat-sifat yang wajib bagi Allah, yang mustahil dan yang mungkin, demikian juga tentang sifat-sifat yang wajib bagi Rasulullah, yang mustahil, dan yang mungkin. Setelah itu, barulah kandungan kitab mengkaji pasal tentang bersuci dan shalat, dengan segala rujun, syarat, kewajiban, kesunatan, dan lain-lain detailnya. Dikaji juga dalam kitab ini fiqih-fiqih peribadatan lainnya, yaitu zakat, puasa, haji, dan terakhir tentang nikah dan talak.

Kitab “Hidâyah al-‘Awâm” ini dicetak bersama dalam bunga rampai karangan ulama-ulama Aceh lainnya yang terhimpun dalam “Jam’u Jawâmi’ Mushannafât ‘Ulamâ Aceh” yang disunting oleh Syaikh Ismâ’îl ibn ‘Abd al-Muthallib al-Âsyî dan diterbitkan di Kairo oleh Maktabah Musthafâ al-Bâbî al-Halabî pada bulan Muharram tahun 1344 Hijri (1926 Masehi). Bunga rampai tersebut menghimpun sembilan karya ulama Aceh dari setiap abad. Adapun “Hidâyah al-‘Awâm” karya Faqih Jalâluddîn Aceh ini, ia berada pada urutan pertama dalam bunga rampai tersebut.

Wan Muhammad Shagir Abdullah, penulis biografi ulama Nusantara asal Malaysia, mengatakan bahwa nama ayah Faqih Jalâluddîn Aceh dalam kitab versi cetakan bunga rampai “Jam’u Jawâmi’” tersebut keliru ditulis. Di sana tertulis nama Faqih Jalâluddîn anak Syaikh Jalâluddîn anak Qâdhî Baginda Khatîb. Yang benar adalah Faqih Jalâlulldîn anak Syaikh Kamâluddîn (Wan Mohd Shagir Abdullah, Syeikh Jalaluddin Al-Asyi; Kesinambungan Aktiviti Ulama Aceh, surat kabar “Utusan” Malaysia, edisi 04/12/2006).

Faqih Jalaluddin Aceh sendiri adalah murid dari Syaikh Bâbâ Dâwud ibn Ismâ’îl Aghâ al-Rûmî tsumma al-Âsyî (dikenal dengan Baba Dawud), seorang ulama dari Turki-Usmani yang menetap di Kesultanan Aceh, juga murid dari Syaikh Abdul Rauf Singkel (‘Abd al-Raûf ibn ‘Alî al-Fanshûrî al-Jâwî, w. 1693 M), seorang ulama besar Nusantara dari Kesultanan Aceh yang hidup satu generasi sebelumnya.

Faqih Jalâluddîn Aceh dinobatkan sebagai mufti dan imam besar Kesultanan Aceh, sekaligus Qadhi Malikul Adil kesultanan tersebut pada masa pemerintahan Sultan Alauddin Maharaja Lela Ahmad Syah (1139—47 H/ 1727—35 M) dan juga pada masa pemerintahan Sultan Alauddin Johan Syah (1147—74 H/ 1735—60 M).

Selain “Hidâyah al-‘Awâm”, Faqih Jalâluddîn Aceh juga menulis karya lainnya, yaitu “al-Manzhar al-Ajlâ ila al-Martabah al-A’lâ” (ditulis tahun 1152 Hijri/ 1739 Masehi), “Safînah al-Hukkâm fî Talkhîsh al-Khishâm” (ditulis pada bulan Muharram 1153 Hijri/ 1740 Masehi), “al-Hujjah al-Bâlighah ‘alâ al-Jamâ’ah al-Mutakhâshimah” (ditulis pada Muharram 1158 Hijri/ 1745 Masehi), dan “Asrâr al-Sulûk ilâ al-Mala’ al-Mulûm” (tidak diketahui titimangsa penulisannya).

Dari kesemua karya Faqih Jalâluddîn, kitab “Safînah al-Hukkâm”-lah yang menjadi masterpiece dan karya terbesarnya. Kitab ini merupakan pengembangan dari “Hidâyah al-‘Awâm”, yang mengkaji ilmu fiqih Islam, dengan cakupan kajian dan bahasan yang lebih luas dan dalam lagi.

Faqih Jalâluddîn Aceh memiliki seorang anak yang juga menjadi ulama besar di Kesultanan Aceh, yaitu Syaikh Muhammad Zain ibn Faqîh Jalâluddîn al-Âsyî. (A. Ginanjar Sya’ban)

Selasa 21 Maret 2017 14:32 WIB
Sebuah Buku Cinta untuk Felix Siauw
Sebuah Buku Cinta untuk Felix Siauw
“Membela nasionalisme, nggak ada dalilnya, nggak ada panduannya | membela Islam, jelas pahalanya, jelas contoh tauladannya.”

“Hanya syariah dan khilafah yang mampu menghapuskan kezaliman dan mengangkat penjajahan. Dan itu adalah tuntutan iman.”

Dua pernyataan di atas adalah sebagian dari cuitan Felix Yanuar Siauw di akun twitternya. Ya, Felix Yanuar Siauw, barangkali adalah salah satu sosok fenomenal di mayantara Abad 21 ini. Ia adalah seorang motivator, penulis buku, dan ustadz. Di bio fanpagenya tertulis pengemban dakwah, bersama yang menginginkan tegaknya syariah-khilafah. Jumlah pengikut (followers) twitternya hampir 2 jutaan. Sudah lebih dari 3 jutaan penyuka (likers) di Fanpage pribadinya, dan  setiap posting di Fanpage minimal dibagikan 1000-an pengguna FB. Sebagai seorang motivator, dia pandai mengelaborasikan pesan-pesan motivasional di dalam cerita, dan gesturenya selalu atraktif. Pendengar yang menyimak ceramah-ceramah motivasinya  tidak merasa digurui, namun malah terpikat, melongo, kadang sesenggukan  haru. Ia pandai menarasikan adegan-adegan peristiwa dengan kata dan kalimat yang yahud. Ia mampu berceramah dengan bahasa generasi gaul, bahasanya loe dan gue.  

Setelah menuliskan duo buku masterpiecenya, Yuk Berhijab dan Udah Putusin Aja!, serta novel Muhammad Al Fatih, ia mulai ‘rada berani’ mengeluarkan pernyataan di luar tupoksinya sebagai sosok motivator. Ia bilang bahwa nasionalisme itu tidak ada dalil dan panduannya, halal hukumnya memakai barang-barang bajakan karena hak cipta hanyalah milik Allah (All rights reserved only by Allah), menjadi wanita kuat, mandiri, dan idenpenden itu serem dan tidak baik. Ia kadangkala juga menjelma menjadi seorang pengamat ekonomi dan politik dengan mengeluarkan twit haramnya bekerja di bank konvensional karena dikhawatirkan akan terkontaminasi debu-debu dosa riba, soal dinamika politik di Mesir, penaikan harga BBM adalah termasuk penipuan dan sebuah keharaman yang besar, dan lain-lain. Yang menjadi trade mark pribadinya adalah bahwa khilafah itu adalah bagian daripada pilar keimanan dan menegakkan khilafah (di Indonesia) merupakan perintah Rasulullah Saw.  Ia juga menggugat-gugat dalil soal doa pergantian tahun, istikharah, puasa Tarwiyah, ibadah di malam nishfu Sya’ban, dan amalan sunnah di Bulan Rajab. 

Merespon beberapa pernyataan Felix Yanuar Siauw di akun sosial medianya, Muhammad Sulton Fatoni, penulis Dear Felix Siauw: Sekadar Koreksi Biar Nggak Salah Persepsi mencoba mengoreksi pendapat kontroversi “Ustad Gaul” yang selalu berwawasan global dengan wacana khilafahnya ini yang begitu mudah menentukan hukum. Penulis menyuguhkan fakta-fakta fiqih yang mengindonesia. Beberapa isu yang sempat jadi perdebatan publik ditanggapi dengan paparan yang enggak kalah gaul. Penulis menerapkan laku tawasau bil haq kepada teman sesama Muslim. Laiknya teman akrab yang saling menyampaikan nasihat dalam kerangka cinta, bukan kebencian. Sebagaimana dalam bahasa Arab kata nasihat juga bisa berarti khaatha, yaitu menjahit karena perbuatan penasihat yang selalu menginginkan kebaikan orang yang dinasihatinya diibaratkan memperbaiki pakaiannya yang robek. Penulis sama sekali tidak menjatuhkan, men-underestimate pendapat-pendapat Felix, namun menyajikan argumentasi dan dalil-dalil rajih demi kedamaian dan kebaikan. Penulis melakukan comprehensive review, melihat kembali, menimbang atau menilai pendapat, statetement, ‘fatwa’ Felix Siauw dengan mengetengahkan sanggahan disertai referensi Al Quran Hadis, kitab turats, kitab kuning babon dan muktabarah, data-data sejarah (tawarikh al islam), teori-teori politik, sosial, ekonomi, dan lain-lain. Di dalam buku ini, tidak ditemukan redaksi bahasa yang menyerang dan menyakitkan hati.  Penulis melakukan penilaian secara jujur dan objektif. Beragam argumentasinya masuk akal dan logis. Bukan asal mengkritik! 

Thus, ini sebuah tradisi mulia, menurut hemat peresensi, sebuah mekanisme kritik wacana VS wacana, buku VS buku, dengan penyampaian dan pemaparan yang lugas, santun, dan ilmiah. Tidak saling memojokkan dan menjelekkan. Bak pertarungan wacana antara Imam Al-Ghazali dengan Tahafut al-Falasifah-nya dan  Ibn Rusyd dengan Tahafut at-Tahafut-nya atau polemik antara Bung Karno yang menulis ISLAM SONTOLOYO dengan M. Natsir yang berlangsung sepanjang tahun 1930 - 1935. Sebuah polemik asyik dan intelek  yang nyaris belum ada tandingan bobotnya dala sejarah polemik di Indonesia. 

Semoga buku bercover pink nan imut ini mampu menjadi oase, Islamic Answers bagi remaja/remaji generasi Y dan, Z aktif di sosial media, ABG yang hidup di era transborder data flows yang ingin mengetahui Islam  yang sesungguhnya sehingga tidak mudah terpengaruh oleh arus informasi tentang Islam yang banyak berseliweran di dunia maya, alias tidak instan mengaji agama dari internet. Buku ini berisi tentang keislaman dalam konteks keindonesiaan. Positif untuk dibaca agar masyarakat tahu bahwa di bumi Nusantara sudah sejak lama terjadi proses pengintegrasian antara fiqih dengan kondisi sosial masyarakat, dan berlanjut dalam hukum Islam dengan hukum nasional melalui sarana kebudayaan. Inilah babak lanjutan dialog intensif yang sebelumnya terjadi antara Islam dan kebudayaan Turki, Persia, India, Tiongkok, dan lainnya. Disuguhi dengan fakta fiqih yang mengindonesia. Beberapa isu yang sempat jadi perdebatan publik ditanggapi dengan paparan yang enggak kalah gaul.

Buku ini wajib dibaca setiap followers Felix Siauw dan mereka yang ‘kurang setuju” dengan pendapat-pendapatnya. 

Data Buku:
Judul : Dear Felix Siauw, Sekadar Koreksi Biar Enggak Salah Persepsi
Penulis : M. Sulthan Fatoni              
Penerbit         : Imania
ISBN : 978-602-7926-22-6
Tebal : 210 halaman
Harga : Rp 42.000,-
Kode buku    : XD-11
Terbit :  Maret 2015  
Kategori         : Referensi Islam

Peresensi adalah Faried Wijdan, Alumnus Pondok Pesantren Hadil Iman, MAPK Surakarta
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG