IMG-LOGO
Pustaka

Manuskrip Matematika Islam Nusantara Karya Syekh Khatib Minangkabau

Sabtu 25 Maret 2017 21:0 WIB
Bagikan:
Manuskrip Matematika Islam Nusantara Karya Syekh Khatib Minangkabau
Ini adalah halaman terakhir dari manuskrip kitab “Raudhah al-Hussâb fî ‘Ilm al-Hisâb” karangan seorang ulama Nusantara asal Minangkabau (Sumatera Barat) yang berkarir sebagai guru besar, imam, dan khatib di Masjidil Haram Makkah, yaitu Syekh Ahmad ibn ‘Abd al-Lathîf ibn ‘Abdullâh al-Mankabâwî al-Jâwî tsumma al-Makkî (dikenal dengan Ahmad Khatib Minangkabau, w. 1916).

“Raudhah al-Hussâb” memuat kajian ilmu hitung atau matematika. Kitab ini ditulis dalam bahasa Arab. Keberadaan kitab ini menjadi istimewa, karena terbilang sebagai khazanah intelektual Islam Nusantara yang mengkaji ilmu sains, dalam hal ini adalah matematika, yang sangat langka ditemui, karena rata-rata literatur karya ulama Nusantara kebanyakan mengkaji bidang agama.

Dalam “Raudhah al-Hussâb”, kepakaran Syekh Ahmad Khatib Minangkabau di bidang ilmu sains tampak dengan sangat jelas. Hal ini sekaligus menegaskan kapasitas intelektual beliau yang ensiklopedis dan lintas disiplin ilmu, yang mampu memadukan ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu sains. Dalam bidang sains, selain menulis dalam bidang matematika, Syekh Ahmad Khatib juga menulis dalam bidang astronomi (‘ilm al-falak).

Syekh Ahmad Khatib juga menulis karya lain dalam bidang ilmu matematika, selain kitab “Raudhah al-Hussâb” ini, yaitu “Ma’âlim al-Hussâb fî ‘Ilm al-Hisâb”, yang ditulis dalam bahasa Melayu beraksara Arab (Jawi).

Manuskrip kitab “Raudhah al-Hussâb” tersimpan di Perpustakaan Makkah al-Mukarramah, KSA, dengan nomor kode (?). Syekh Ahmad Khatib Minangkabau menyelesaikan karya ini pada hari Ahad, 19 Zulkaedah 1307 Hijri (bertepatan dengan 8 Juli 1890 M). Manuskrip tersebut adalah manuskrip salinan, yang ditulis oleh murid Syekh Ahmad Khatib, yaitu Syekh Jâdullâh ibn Muhammad Badawî. Jâdullâh menyalin karya gurunya itu di Makkah pada 15 Shafar 1308 Hijri (25 September 1890 M), atau sekitar dua bulan dari masa pengarangannya.

Kondisi manuskrip secara umum bagus dan teks (tulisan) di dalamnya dapat dibaca dengan baik. Bahasa pada naskah adalah bahasa Arab yang ditulis dengan aksara model “naskhî”. Tinta yang digunakan berwarna hitam dan merah. Jumlah keseluruhan naskah 134 halaman, minus halaman pertama.

Dalam katalog Perpustakaan Nasional King Fahd, KSA, disebutkan bahwa “Raudhah al-Hussâb” karya Syekh Ahmad Khatib Minangkabau telah dicetak pada tahun 1310 Hijri (1892 M). Kemungkinan karya ini dicetak oleh Maktabah al-Taraqqî al-Mâjidiyyah yang berbasis di Makkah. Teks “Raudhah al-Hussâb” dicetak bersama teks-teks ilmu matematika berbahasa Arab lainnya, yaitu “Syarh Fath al-Rabb al-Bariyyah ‘alâ Matn al-Sakhâwiyyah” karangan Husain Muhammad al-Mahallî (w. 1757 M).

Saya tidak bisa mengutip pembukaan kitab “Raudhah al-Hussâb” dikarenakan halaman pertama manuskrip ini hilang. Yang bisa dilacak dari keterangan Syekh Ahmad Khatib Minangkabau dalam karyanya ini pada manuskrip ini hanya pada kata penutup. Beliau menulis;

أقول وأنا الفقير الى الله تعالى أحمد خطيب بن عبد اللطيف خطيب الجاوي أحد المدرسين بالمسجد الحرام المكي من تلامذة العالم العلامة البحر الفهامة السيد أبي بكر شطا متعنا الله ببقائه ونفعنا ببركاته. إني فرغت من تسويد هذه العجالة المسماة بروضة الحساب في أعمال الحساب يوم الأحد يوم التاسع عشر من ذي القعدة سنة 1307 سبع وثلثمائة بعد الألف هجرة

(Aku berkata, aku seorang hamba yang faqir kepada Allah Ta’ala, Ahmad Khatib anak Abdul Lathif Khatib dari Jawi [Nusantara], salah satu pengajar di Masjidil Haram di Makkah, juga salah satu murid dari seorang yang alim allamah dan bahr fahhamah Syekh Sayyid Abu Bakar Syatha, semoga Allah memanjangkan usianya dan memberikan kita manfaat dengan keberkahannya. Bahwa aku telah selesai menulis karya ini, yang dinamakan “Raudhah al-Hussâb fî A’mâl al-Hisâb” pada hari Ahad, tanggal Sembilan belas bulan Zulkaedah tahun 1307 Hijri).

Syekh Ahmad Khatib lalu melanjutkan;

فالمرجو ممن أطلع فيه على زلة أو عثر فيه على هفوة أن يصلحه بعد امعان النظر فيه، ويلتمس لي فيه عذرا لأني معترف بقصور فهمي وقلة بضاعتي في هذا الفن وغيره. ولكن الذي أجرأني على هذا الأمر العظيم الشأن وإن لم أكن من فرسان هذا الميدان رجاء الغفو والغفران مع الانتظام في سلك أهل الفضل والعرفان.

(Saya berharap dari orang-orang yang menemukan kesalahan di dalam karya ini, atau mendapati keluputan di sana, agar sudi kiranya ia membetulkannya setalah menelitinya dengan seksama, dan agar ia sudi memaklumi uzurku atas kesalahan itu. Karena akupun mengakui akan kedangkalan pemahamanku dan sedikitnya penguasaanku dalam bidang ini, juga dalam bidang-bidang keilmuan lainnya. Sesungguhnya yang memberanikan diriku untuk menulis dalam bidang yang agung ini, meskipun aku bukan seorang yang ahli di dalamnya, adalah harapanku yang besar akan pengampunan dan pemaafan dari Tuhanku, seraya aku terus berjalan di atas jalur para ahli keutamaan dan ilmu pengetahuan).

Bidang keilmuan sains (matematika dan astronomi) yang dikuasai oleh Syekh Ahmad Khatib pun “menurun” kepada beberapa muridnya dari Nusantara, di antaranya adalah Syekh Ahmad Dahlan Falak (Tremas lalu Semarang, adik kandung Syekh Mahfuzh Tremas dan menantu Kiai Soleh Darat Semarang), Syekh Ahmad Dahlan Darwis (pendiri Muhammadiyyah), Syekh Thahir Jalaluddin Falak (Minangkabau lalu Singapura), Haji Rosul (Abdul Karim Amrullah, ayah HAMKA), dan lain-lain. (A. Ginanjar Sya’ban)


Bagikan:
Jumat 24 Maret 2017 15:0 WIB
Kitab Ulama Damaskus atas Masalah Syekh Siti Jenar di Nusantara Abad Ke-18
Kitab Ulama Damaskus atas Masalah Syekh Siti Jenar di Nusantara Abad Ke-18
Ini adalah halaman pembuka dari kitab “Risâlah ‘Abd al-Ghanî fî Hukm Syath al-Walî” karangan seorang ulama besar dunia Islam yang hidup di peralihan abad ke-17 dan 18 M, yaitu Syekh ‘Abd al-Ghanî ibn Ismâ’îl al-Nâblusî al-Dimasyqî (dikenal dengan ‘Abd al-Ghanî al-Nâblusî, 1050—1143 H/ 1641—1731 M).

Karya ini sangat penting karena berisi pandangan al-Nâbusî terkait polemik masalah teosofi (tasawuf falsafi) dan pantiesme (wahdatul wujud) yang berkembang di Bumi Nusantara pada masa itu. Al-Nâblusî terpanggil untuk turut serta menuangkan fatwa dan pandangannya terkait masalah pemikiran “wahdatul wujud” di yang berkembang di Nusantara dan erat kaitannya dengan sosok dan ajaran Syekh Siti Jenar yang kontroversial.

Fatwa dan pandangan al-Nâblusî ini dituangkan dalam sebuah risalah yang kini manuskripnya tersimpan di Perpustakaan al-Zhâhiriyyah di Damaskus, Suriah, dengan nomor kode 4008. Risalah ini kemudian disunting (tahqîq) oleh Prof. Dr. ‘Abd al-Rahmân al-Badawî dan disisipkan bersama dalam bunga rampai pemikiran para sufi berjudul “Syathahât al-Shûfiyyah” yang diterbitkan Wikâlât al-Mathbû’ât di Kuwait (tanpa tahun). Oleh al-Badawî, risalah karangan al-Nâblusî ini diberi judul “Risâlah li ‘Abd al-Ghanî al-Nâblusî fî Hukm Syath al-Walî”.

Dalam kolofon, al-Nâblusî mengatakan jika karyanya ini diselesaikan pada sore hari Jum’at, 13 Sya’ban tahun 1139 Hijri (bertepatan dengan 4 April 1727 Masehi). Al-Nâblusî menulis;

فرغ ما جرى به قلم الإمداد ورسمه في الطرس روح الاستعداد بصورة اسم عبد الغني في عشية نهار الجمعة الثالث عشر من شعبان لسنة تسع وثلاثين ومائة وألف

Sebenarnya, risalah ini ditulis oleh al-Nâblusî untuk mengembangkan dan melengkapi apa yang telah ditulis oleh guru beliau, yaitu Syekh Ibrâhîm ibn Hasan al-Kûrânî al-Madanî (w. 1690 M). al-Kûrânî, yang juga mahaguru ulama Nusantara di Haramain pada masa abad ke-16 M, atau generasi Syekh ‘Abd al-Ra’ûf ibn ‘Alî al-Jâwî (Abdul Rauf Singkel, w. 1693 M) dan Syekh Yûsuf al-Tâj al-Khalwatî (Yusuf Makassar, w. 1699 M), menulis sebuah risalah berjudul “al-Maslak al-Jalî fî Hukm Syath al-Walî” untuk merespon polemik pemikiran teosofi dan panteisme yang berkembang di Nusantara pada masa itu.

Nah, risalah “al-Maslak al-Jalî fî Hukm Syath al-Walî” karangan al-Kûrânî ini kemudian dikembangkan oleh al-Nâblusî dalam risalahnya yang (diberi) judul “Risâlah ‘Abd al-Ghanî fî Hukm Syath al-Walî.Dalam kata pengantarnya, al-Nâblusî menulis;

أما بعد. فيقول العبد الفقير الى مولاه الخبير عبد الغني المدرس في المقام الحاتمي والمنزل الحاتمي جامع الشيخ الأكبر خطيب العلوم الإلهية على أوج المنبر، حققه الله تعالى بحقائق العرفان وأمده ببدائع الكشف والبيان. وجدتُ رسالة اسمها "المسلك الجلي في حكم شطح الولي" للشيخ الإمام العلامة العمدة المحقق المدقق الفهامة الملا إبراهيم الكوراني المدني رحمه الله تعالى أجاب بها عن سؤال ورد عليه من بعض جزائر جاوه من أقصى بلاد الهند في سنة ست وثمانين وألف.

(Maka berkatalah seorang hamba yang fakir kepada Tuhannya yang maha mengetahui, ‘Abd al-Ghanî, yang mengajar di maqam al-hâtimî [maqam Ibnu ‘Arabi] dan manzil al-hâtimî [rumah Ibnu ‘Arabi] di Masjid Syekh Akbar Ibnu ‘Arabi [di Damaskus], yang menjadi khatib ilmu-ilmu ilahiah di atas mimbar [masjid tersebut], semoga Allah menuntunnya kepada jalan kebenaran ilmu pengetahuan. Aku telah mendapati sebuah risalah berjudul “al-Maslak al-Jalî fî Hukm Syath al-Walî” karangan Syekh Imam Ibrâhîm al-Kûrânî al-Madanî, semoga Allah merahmatinya, yang menjawab di dalam risalah itu akan sebuah pertanyaan yang datang kepadanya dari salah satu pulau di negeri Jawi [Nusantara] di ujung negeri India, pada tahun seribu delapan puluh enam [hijri/ 1675 masehi]).

Bunyi pertanyaan yang datang dari negeri Jawi (Nusantara) tersebut yang kedepankan kepada Syekh Ibrâhîm al-Kûrânî, sebagaimana tertulis dalam “al-Maslak al-Jalî”, adalah sebagai berikut;

ماذا يقولون في قول بعض أهل جاوة، ممن ينسب الى العلم والورى: إن الله نفسنا ووجودنا ونحن نفسه ووجوده. هل له تأويل صحيح كما قال بعض أهل جاوة، أو هو كفر صريح كما يقوله بعض العلماء الواردين اليها ممن يثني عليه بأنه عالم بالعلم الظاهر والباطن. بينوا لنا ما هو الحق بمقتضى قواعد الشرع والتحقيق. أجزل الله لكم الثواب. وأدام لكم الامداد والتوفيق.

(Apa pendapat anda atas sebuah pemikiran salah seorang dari negeri Jawi [Nusantara], yang mana ia dikenal sebagai sosok yang ahli ilmu dan wara: (menurutnya) “Allah adalah wujud [eksistensi] diri kami dan diri kami adalah wujud Allah. Kami adalah Allah dan wujudNya”. Apakah pemikiran ini mendapatkan landasan penafsiran/ penakwilan yang sahih sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian ahli Nusantara, ataukah pemikiran itu adalah sebuah kekafiran yang jelas sebagaimana dikatakan oleh sebagian ulama yang terpuji sebagai ahli ilmu zahir dan batin? Mohon berikan kami penjelasan apakah hakikat sebenarnya pemikiran tersebut sesuai dengan kaidah syariat dan hakikat. Semoga Allah memberikan anda ganjaran, dan melanggengkan imdad dan taufiq-Nya untuk anda).

Syekh ‘Abd al-Ghanî mengatakan, bahwa Syekh Ibrâhîm al-Kûrânî telah menjawab pertanyaan tersebut dengan pendapatnya yang proporsional. Kini giliran Syekh ‘Abd al-Ghanî yang hendak menambahkan jawaban atas pertanyaan tersebut dan memberikan perspektif pemikirannya yang baru atas pertanyaan dari Nusantara itu.

Dalam versi suntingan al-Badawî, jawaban dan ulasan Syekh ‘Abd al-Ghanî atas permasalahan di atas yang berasal dari Nusantara itu tertuang dalam 8 (delapan halaman). Beliau sangat detail dan jeli dalam menyikapi seorang ulama Nusantara yang mengatakan bahwa “Allah adalah wujud kami dan wujud kami adalah Allah”, dengan membaginya ke dalam empat maqam tingkatan, yaitu maqam aghyâr (ghayrullâh), af’âl (fi’lullâh), shifât (shifâtullâh), dan dzât (dzâtullâh).

Sosok “orang Nusantara yang memiliki reputasi sebagai sosok seorang ulama yang saleh, ahli ilmu, dan wara’i” ini menarik untuk ditelisik lebih jauh. Siapakah gerangan dirinya? Adakah ia adalah Syekh Hamzah Fanshuri, Syekh Syamsuddîn Samathrânî, atau Syekh Siti Jenar? Yang mana ketiganya dikenal sebagai tokoh penganut ajaran teosofi dan pantheisme di Nusantara.

Hal lain yang tak kalah menariknya untuk juga ditelisik adalah keberadaan Syekh ‘Abd al-Ghanî al-Nâblusî yang tercatat sebagai salah seorang ulama sentral di zamannya, turut serta menuliskan sebuah karya khusus untuk menanggapi, merespon, dan menjawab sebuah permasalahan pemikiran teosofi dan patheisme yang muncul dan berkembang di belahan bumi yang jauh, yaitu negeri bawah angina (Jawi/ Nusantara). (A. Ginanjar Sya’ban)


Kamis 23 Maret 2017 12:0 WIB
Lebih Mudah dengan Peta Konsep Ulumul Quran
Lebih Mudah dengan Peta Konsep Ulumul Quran
Al-Qur’an ibarat samudera ilmu dan petunjuk yang amat kaya dan melimpah. Siapa saja yang mengajinya laksana sedang berlayar untuk mendapatkan kekayaan alam yang dikandungnya. Meskipun sama-sama mengarungi samudra, namun hasil yang mereka peroleh tidak sama. Ada yang mungkin mendapatkan teri, udang, rajungan, tongkol, tengiri, dan lain-lain. Ada juga yang mungkin mendapatkan mutiara yang terpendam di dalam samudera.    

Banyak hal yang bisa mempengaruhi mereka mendapatkan hasil laut yang berbeda-beda, diantaranya adalah karena perbedaan alat perlengkapan yang digunakan dan perbendaan ilmu pengetahuan teknologi yang dikuasai. Semakin rendah kulitas alat dan ilmu yang digunakan pasti hasil yang dicapai pasti tidak sebagus hasil dari mereka yang menggunakan alat dan ilmu yang berkualitas tinggi. Analogi ini bisa membantu kita memahami mengapa ada banyak simpulan yang berbeda yang dihasilkan dari orang-orang yang membaca dan mempelajari Al-Qur’an yang sama.

Agar kajian terhadap Al-Qur’an menghasilkan ilmu dan petunjuk yang benar dan berkualitas, maka pengajinya harus menguasai ilmu-ilmu standar yang diperlukan dalam mengaji Al-Qur’an (ulumul quran). Ada banyak kitab primer ulumul quran yang telah disusun oleh para ulama terdahulu, diantaranya adalah al-Burhan karya Az-Zarkasyi, al-Itqan karya as-Suyuthy, Manahilul ‘Irfan karya az-Zarqany dan al-Mabahits fi Ulumil Quran karya Mana’ al-Qatthan. Kandungan kitab-kitab ini meliputi tema dan materi standar yang dijadikan acuan para ulama dalam mempelajari kandungan Al-Qur’an.

Mempelajari dan menguasai kandungan kitab-kitab primer tersebut sangat membantu siapa saja dalam mempelajari Al-Qur’an untuk mendapatkan petunjuk darinya. Tanpa itu, maka Al-Qur’an akan dibaca dan dipahami menurut keinginan pembaca sendiri, sehingga mustahil bisa mendatangkan petunjuk sebagaimana yang dikehendakioleh Allah SWT dan RasulNya. Tanpa ilmu-ilmu Al-Qur’an yang standard itu, maka sangat besar kemungkinan Al-Qur’an dipahami semata-mata dari teks yang tertulis. Konsekwensinya adalah berbagai teori analisis teks dan sastra kontemporer dipaksakan sebagai kerangka konsep dalam  membaca dan memahami Al-Qur’an yang bisa jadi simpulan yang dihasilkan sejalan syariat atau bahkan kontraproduktif dengan syariat.  

Dengan mengikuti pembahasan tema-tema standar yang telah dirumuskan oleh para ulama terdahulu dalam kitab-kitab primer itu, Gus Awis, panggilan akrab Dr. Muhammad Afifuddin, MA menyusun sebuah buku berbahasa Arab yang bisa memudahkan para pembelajar pemula dalam ilmu Al-Qur’an dan ilmu tafsir. Buku yang berjudul, “Mawaridul Bayan fii Ulumil Qur'aan” ini berisi dua puluh tujuh pembahasan seputar ilmu Al-Qur’an, ilmu tafsir, dan kajian beberapa kitab tafsir baik yang klasik,  kontemporer maupun beberapa kitab tafsir karya ulama Indonesia. Semuanya disajikan dengan ringkas, singkat dan jelas. Dia menjelaskan, “Pada awalnya, buku pertama tentang Al-Qur’an yang saya susun ini saya niatkan untuk mempermudah para pelajar dalam memahami ilmu Al-Qur’an. Mengingat luas dan banyaknya sub kajian ilmu al-Qur’an, maka saya berusaha menyingkat dengan mengambil inti sari pembahasaannya lalu memetakannya menggunakan tabel, dengan harapan segera dimengerti dan diingat oleh para pelajar”.

Peta konsep ulumul quran adalah kelebihan buku ini. Dosen UINSA Surabaya ini mengemas ulang pokok-pokok pembahasan studi Al-Qur’an dan tafsir dalam bentuk peta konsep. Inilah yang membedakannya dengan buku-buku terdahulu. Dengan kemasan seperti ini, buku ini lebih tepat dijadikan sebagai buku pegangan ringkas mahasiswanya yang sedang mengikuti mata kuliah ulumul quran dan tafsir.     

Bagi orang-orang yang telah mendalami studi Al-Qur’an dan tafsir, buku ini tentu tidak banyak memberikan informasi baru. Tapi mereka tentu akan sangat terbantu mudah mengajarkan materi ilmu quran dan ilmu tafsir, oleh paparan buku ini yang disusun dalam bentuk peta konsep. Materi yang luas dan dalam dapat diringkas dalam sebuah peta konsep, sehingga mudah dipahami dan diingat secara lebih cepat daripada paparan naratif saja. Oleh karena itu, buku ini tetap saja layak dibaca dan dipahami baik oleh pembaca pemula maupun pembaca tingkat lanjut dalam studi Al-Qur’an dan tafsir.

Setelah memaparkan dua puluh tujuh pembahasan hal-hal yang barhubungan dengan ulumul quran dan tafsir, pengasuh pondok pesantren Darul Ulum Peterongan Jombang ini memberikan dua catatan akhir sebagai bentuk pengakuan jujur penyusun buku. Pertama, ilmu ini sangat penting dikuasai oleh siapa saja yang bermaksud memahami dan menafsirkan Al-Qur’an. Dengan perangkat ilmu ini, pembaca Al-Qur’an akan mengetahui metode yang tepat dan benar dalam memahami dan menafsirkan Al-Qur’an.

Kedua, membahas ulumul quran dan tafsir secara komprehensif memerlukan usaha yang sangat maksimal, tidak cukup sekadar ditulis secara singkat dan terbatas seperti buku ini. Oleh karena itu penyusun buku ini menyarankan agar pembaca jangan hanya mencukupkan diri dengan buku ini saja, namun perkayalah dengan wawasan lain agar bisa memberikan pemahaman yang benar terhadap Al-Qur’an dan tafsirnya.

Apa yang penulis baca, pahami, kemudian tulis dalam esai resensi ini bisa jadi berbeda dengan apa yang dibaca dan dipahami oleh orang lain, meskipun objeknya sama. Oleh karena itu, agar mendapatkan pemahaman yang lebih kaya makna, penulis menyarankan kepada para pembaca memiliki dan membaca sendiri buku ini. Bisa jadi pembaca akan mendapatkan mutiara ilmu melebihi apa yang telah penulis paparkan dalam esai resensi ini. Silakan membuktikan sendiri. 

Data Buku

Judul : Mawaaridul Bayaan fii 'Uluumil Qur'aan
Penulis : Dr. Muhammad Afifuddin, MA
Penerbit : Lisan Arabi
Cetakan : Pertama, 2016
Tebal     : 177 Halaman

Peresensi: Nine Adien Maulana, Guru SMA Negeri 2 JombangJawaTimur


Rabu 22 Maret 2017 13:29 WIB
Fiqih Nusantara Abad Ke-18 M Karya Faqih Jalaluddin Aceh
Fiqih Nusantara Abad Ke-18 M Karya Faqih Jalaluddin Aceh
Ini adalah bagian pembuka dari kitab “Hidâyah al-‘Awâm Pada Menyatakan Perintah Agama Islam” yang berisi kajian fiqih Islam madzhab Syafi’i karangan seorang ulama besar Nusantara dari Kesultanan Aceh, yaitu Faqih Jalaluddin al-Âsyî (Faqîh Jalâluddîn ibn Faqîh Kamâluddîn ibn Qâdhî Baginda Khatîb, hidup di abad ke-18 M).

Dalam pembukaan, Faqih Jalaluddin Aceh mengatakan, kitab “Hidâyah al-‘Awâm” ini ditulis pada tanggal 5 Muharram 1140 Hijri (bertepatan dengan 22 Agustus 1727 Masehi), juga pada masa pemerintahan Sultan Alauddin Ahmad Syah Johan Berdaulat Zhillullah fil Alam (dikenal juga dengan Sultan Alauddin Johan Syah, memerintah sepanjang masa 1147—74 H/ 1735—60 M).

Faqih Jalaluddin Aceh menulis;

أما بعد أدفون كمدين درايت مك فد فجرة نبي سريب سراتس أمفت فوله فد ليم هاري بولن محرم زمان فادك سري سلطان يغ بسر كرجائنن لاك يغ مها تغكي درجتن يائت سلطان علاء الدين أحمد شاه جوهن بردولة ظل الله في العالم أدام الله له دولته أمين.

(Adapun kemudian dari itu maka pada Hijrah Nabi Seribu Seratus Empat Puluh pada lima hari bulan Muharram zaman Paduka Seri Sultan yang besar kerajaannya lagi yang maha tinggi derajatnya yaitu Sultan Alauddin Ahmad Syah Johan Berdaulat Zhillullah fil Alam [semoga Allah abadikan kerajaannya] amin).

Sang Sultan telah meminta Faqih Jalaluddin untuk menulis sebuah kitab fiqih madzhab Syafi’i dalam bahasa Jawi (Melayu) agar bisa digunakan pedoman oleh umat Muslim di Kesultanan Aceh dan wilayah Nusantara lainnya. Memang telah ada dua kitab fiqih berbahasa Melayu yang ditulis oleh ulama-ulama sebelumnya, yaitu kitab “al-Shirâth al-Mustaqîm” yang ditulis oleh Syaikh Nûruddîn al-Rânirî pada tahun 1054 Hijri (1644 Masehi) di masa pemerintahan Sulthanah Shafiyatuddîn Tajul Alam (memerintah 1641—75 M), juga kitab “Mirât al-Thullâb” yang ditulis oleh Syaikh Abdul Rauf Singkel pada 1074 Hijri (1663 Masehi) di masa pemerintahan Sulthanah yang sama.

Namun tampaknya Sultan Alauddin Johan Syah ingin juga memiliki kitab fiqih yang aktual dan kontekstual pada zamannya. Karena itulah beliau pun meminta kepada mufti dan ulama sentral Kesultanan Aceh pada zamannya, yaitu Faqih Jalaluddin, untuk menuliskan sebuah kitab. Beliau menulis;

مك تتكال ايت ممنتأ كفد فقير يغ هينا خادم العلماء حاج جلال الدين أنق شيخ يغ عارف بالله شيخ جلال الدين أنق قاضي بكندا خطيب سلمه الله تعالى أوله سؤورغ درفد صحبة رجا ايت يغ تاكوت أكن الله تعالى بهواك سورتكن بكين سوات رسالة يغ سمفن مك أك نماي اكندي هداية العوام فدميتاكن فرنته اكم إسلام

(Maka tatkala itu meminta kepada Faqir yang hina, peayan para ulama, Haji Jalâluddîn anak Syaikh yang arif billâh Syaikh Jalâluddîn anak Qâdhî Baginda Khatib, semoga Allah menyelamatkannya, oleh seorang daripada sahabat raja itu yang takut akan Allah Ta’âlâ, bahwa aku suratkan baginya suatu risalah yang [simpan?] maka aku namai akan dia “Hidâyah al-‘Awâm Pada Menyatakan Perintah Agama Islam”).

Kitab “Hidâyah al-‘Awâm” dimulai dengan kajian pengetahuan teologi Islam dasar, yaitu tentang sifat-sifat yang wajib bagi Allah, yang mustahil dan yang mungkin, demikian juga tentang sifat-sifat yang wajib bagi Rasulullah, yang mustahil, dan yang mungkin. Setelah itu, barulah kandungan kitab mengkaji pasal tentang bersuci dan shalat, dengan segala rujun, syarat, kewajiban, kesunatan, dan lain-lain detailnya. Dikaji juga dalam kitab ini fiqih-fiqih peribadatan lainnya, yaitu zakat, puasa, haji, dan terakhir tentang nikah dan talak.

Kitab “Hidâyah al-‘Awâm” ini dicetak bersama dalam bunga rampai karangan ulama-ulama Aceh lainnya yang terhimpun dalam “Jam’u Jawâmi’ Mushannafât ‘Ulamâ Aceh” yang disunting oleh Syaikh Ismâ’îl ibn ‘Abd al-Muthallib al-Âsyî dan diterbitkan di Kairo oleh Maktabah Musthafâ al-Bâbî al-Halabî pada bulan Muharram tahun 1344 Hijri (1926 Masehi). Bunga rampai tersebut menghimpun sembilan karya ulama Aceh dari setiap abad. Adapun “Hidâyah al-‘Awâm” karya Faqih Jalâluddîn Aceh ini, ia berada pada urutan pertama dalam bunga rampai tersebut.

Wan Muhammad Shagir Abdullah, penulis biografi ulama Nusantara asal Malaysia, mengatakan bahwa nama ayah Faqih Jalâluddîn Aceh dalam kitab versi cetakan bunga rampai “Jam’u Jawâmi’” tersebut keliru ditulis. Di sana tertulis nama Faqih Jalâluddîn anak Syaikh Jalâluddîn anak Qâdhî Baginda Khatîb. Yang benar adalah Faqih Jalâlulldîn anak Syaikh Kamâluddîn (Wan Mohd Shagir Abdullah, Syeikh Jalaluddin Al-Asyi; Kesinambungan Aktiviti Ulama Aceh, surat kabar “Utusan” Malaysia, edisi 04/12/2006).

Faqih Jalaluddin Aceh sendiri adalah murid dari Syaikh Bâbâ Dâwud ibn Ismâ’îl Aghâ al-Rûmî tsumma al-Âsyî (dikenal dengan Baba Dawud), seorang ulama dari Turki-Usmani yang menetap di Kesultanan Aceh, juga murid dari Syaikh Abdul Rauf Singkel (‘Abd al-Raûf ibn ‘Alî al-Fanshûrî al-Jâwî, w. 1693 M), seorang ulama besar Nusantara dari Kesultanan Aceh yang hidup satu generasi sebelumnya.

Faqih Jalâluddîn Aceh dinobatkan sebagai mufti dan imam besar Kesultanan Aceh, sekaligus Qadhi Malikul Adil kesultanan tersebut pada masa pemerintahan Sultan Alauddin Maharaja Lela Ahmad Syah (1139—47 H/ 1727—35 M) dan juga pada masa pemerintahan Sultan Alauddin Johan Syah (1147—74 H/ 1735—60 M).

Selain “Hidâyah al-‘Awâm”, Faqih Jalâluddîn Aceh juga menulis karya lainnya, yaitu “al-Manzhar al-Ajlâ ila al-Martabah al-A’lâ” (ditulis tahun 1152 Hijri/ 1739 Masehi), “Safînah al-Hukkâm fî Talkhîsh al-Khishâm” (ditulis pada bulan Muharram 1153 Hijri/ 1740 Masehi), “al-Hujjah al-Bâlighah ‘alâ al-Jamâ’ah al-Mutakhâshimah” (ditulis pada Muharram 1158 Hijri/ 1745 Masehi), dan “Asrâr al-Sulûk ilâ al-Mala’ al-Mulûm” (tidak diketahui titimangsa penulisannya).

Dari kesemua karya Faqih Jalâluddîn, kitab “Safînah al-Hukkâm”-lah yang menjadi masterpiece dan karya terbesarnya. Kitab ini merupakan pengembangan dari “Hidâyah al-‘Awâm”, yang mengkaji ilmu fiqih Islam, dengan cakupan kajian dan bahasan yang lebih luas dan dalam lagi.

Faqih Jalâluddîn Aceh memiliki seorang anak yang juga menjadi ulama besar di Kesultanan Aceh, yaitu Syaikh Muhammad Zain ibn Faqîh Jalâluddîn al-Âsyî. (A. Ginanjar Sya’ban)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG