IMG-LOGO
Daerah

Semangat Kiai Rasyid Kembangkan ASBIHU Magelang

Senin 27 Maret 2017 21:30 WIB
Bagikan:
Semangat Kiai Rasyid Kembangkan ASBIHU Magelang
Jakarta, NU Online
Koordinator Pusat Informasi dan Pelayanan ASBIHU Tour and Travel Magelang, KH Abdurrosyid Ahmad, mengatakan ada sejumlah alasan mengapa dirinya sangat bersemangat bergabung bersama ASBIHU.

“Dapat berkontribusi langsung terhadap kebutuhan dana operasional NU di semua tingkatan kepengurusan, juga mendapat bimbingan kiai-kiai NU dalam pelaksanaan ibadah umrah,” tutur Kiai Rosyid, panggilan akrabnya, Ahad (26/3).

Selain kedua hal di atas, ia juga memiliki alasan lainnya. Pelaksanaan ibadah umrah bersama ASBIHU mengedepankan ajaran Ahlussunah wal Jamaah An-Nahdliyah, hal itu dipandang dapat menyelamatkan akidah umat dari rongrongan paham-paham lain yang dilancarkan melalui pelayanan umrah. 

Dari segi pengembangan ekonomi, Kiai Royid menilai bergabung bersama ASBIHU dapat menjadi wadah peningkatan kesejahteraan warga nahdliyin.

Area ASBIHU Magelang meliputi Kabupaten dan Kota Magelang, dan Temanggung. Peluncuran ASBIHU Tours and Travel Kota/Kabupaten Magelang dilaksanakan pada 6 Maret 2016. Sementara untuk wilayah Temanggung pada 26 Maret 2016.

Untuk mengkondisikan kesiapan jamaah, ASBIHU Magelang menggelar berbagai kegiatan, salah satunya manasik umrah. "Manasik ini kita buat seperti keadaan atau kondisi sebenarnya saat jamaah mengikuti manasik di tanah suci. Jarak tempuh kita buat sama dengan jarak tempuh yang dilakukan di tanah suci,” ungkapnya. 

Bukan hanya jarak tempuh, lanjut Kiai Rasyid, untuk waktu pelaksanaannya pun disesuaikan dengan waktu saat nanti jamaah ada di sana. “Karena menurut hemat saya, calon jamaah umroh akan mendapat gambaran nyata dari manasik yang dilakukan sebelum berangkat," terang Kiai Rosyid.

Saat ini ASBIHU Magelang tengah membuka pendaftaran perjalanan Umrah Ramadlan. Jamaah Magelang dan sekitarnya yang merencanakan perjalanan umrah melalui ASBIHU baik umrah reguler maupun Ramadlan, dapat menghubungi Kiai Rasyid di nomor HP/WA 0856-4053-8700. (Kendi Setiawan/Fathoni)

Tags:
Bagikan:
Senin 27 Maret 2017 20:45 WIB
Apa itu Organisasi? Ternyata Banyak yang Tak Tahu
Apa itu Organisasi? Ternyata Banyak yang Tak Tahu
Banyuwangi, NU Online
"Siapa yang tahu organisasi?" pertanyaan pembuka yang disampaikan oleh wakil ketua bidang Kaderisasi Alkaisu Dana Habibi dihadapan ratusan peserta sosialisasi IPNU-IPPNU. Ahad (27/3) malam di Ponpes Minhajut thulab, Krikilan, Kecamatan Glenmore, Kabupaten Banyuwangi.

Beberapa menit peserta yang terdiri dari SMPN 3 Glenmore dan SMAN 1 Glenmore tak ada yang berani menjawab. Dana sapaan akrabnya menerangkan, organisasi adalah kelompok kerja sama antara orang-orang yang diadakan untuk mencapai tujuan bersama.

"Sehingga nantinya, apapun beban masalah yang sedang dan akan kita hadapi terasa ringan karena diputuskan jalan keluar dan diselesaikan bersama," terang Dana, sembari menjelaskan maqolah (ungkapan) suatu kemungkaran yang terorganisasi akan mampu menghancurkan kebaikan tanpa terorganisir.

Pasalnya banyak sekali macam organisasi yang mungkin kalian semua ikuti. Seperti: organisasi pelajar, keagamaan, dan kemasyarakatan dengan berbagai nama dan identitas.

"Di sini saya menegaskan untuk kalian semua memilih organisasi yang berada di bawah naungan Nahdlatul Ulama. Selain organisasi keagamaan dan kemasyarakatan, di sini juga wadah ajaran agama yang penuh toleran, moderat, dan tidak radikal," terang Dana.
.
Disamping itu, para senior banyak yang yang telah membuktikan kenikmatan berorganisasi dan menjadi tokoh-tokoh yang sukses berkat perantara keterlibatan perjuangan di bawah naungan Nahdlatul Ulama.

"Seperti Bapak Zainut Tauhid, Ibu Khofifah Indar Parawansa, Bapak Abdullah Azwar Anas, dan tokoh-tokoh sukses lainnya," jelas Dana.

Wakil ketua bidang kaderisasi PC IPNU Banyuwangi ini, juga berharap semoga kelak seluruh ratusan pelajar putra-putri yang hadir menjadi regenerasi NU yang militan.

"Langkah konkrit sedekah banom termuda Nahdlatul Ulama adalah terus melanjutkan roda kaderisasi organisasi ini. Seperti yang saat ini sedang dan akan terus kita lakukan," tegas Dana. 

Gelaran sosialisasi ini juga dihadiri oleh pengurus harian PC IPNU IPPNU Banyuwangi beserta puluhan Majelis Almuni. (M. Sholeh Kurniawan/Mukafi Niam)
Senin 27 Maret 2017 19:41 WIB
Haul Mbah Muhammad Karim, Ketua Pertama NU Gembong
Haul Mbah Muhammad Karim, Ketua Pertama NU Gembong
Gembong, NU Online
Pada hari Jum’at sampai Ahad (24-26 Maret 2017) Yayasan Bani Karim, Yayasan Al-Ma’arif Gembong, dan Pondok Pesantren Shofa Azzahro Gembong Pati mengadakan peringatan Haul ke-33 Mbah Muhammad Karim. Kegiatan Haul Mbah Karim dipusatkan di Ponpes Shofa Azzahro Gembong. Diawali dengan khataman Qur’an bil-ghoib, bin-nadhor, pawai atau karnaval mengelingi Desa Gembong, tahlil umum di makam Mbah Karim, dan santunan anak yatim/piatu.

Puncak dari kegiatan Haul Mbah Karim diisi dengan pengajian akbar oleh KH. Syarofuddin Qoimas dari Rembang Jawa Tengah, hadir pula Bupati Pati H. Haryanto, MM, M.Si, Ketua Tanfidziah PCNU Pati KH. Ali Munfaat, M.Pd, Ketua FKUB Dr. KH. Ahmad Khoiron, M.Pd, KH. Rusdi anggota DPRD Kabupaten Pati, Kapolsek Gembong, Koramil Gembong, Kepala Desa Gembong, dan para kiai, santri, wali santri, alumni, dan masyarakat Kecamatan Gembong sekitarnya.

Mbah Muhammad Karim sendiri adalah seorang kiai yang lahir sekitar tahun 1890an dan meninggal di tahun 1984. Sewaktu masih remaja, Karim muda nyantri di Piji Dawe Kudus yang diasuh oleh KH Shiddiq dan kemudian melanjutkan nyantri di kakeknya Mbah Sahal Mahfudz (mantan Rais Aam PBNU) yang bernama KH. Salam Kajen Margoyoso Pati. Kemudian setelah selesai mondok dan menikah, ia diamanahi untuk memimpin NU di Gembong Kab. Pati, sehingga beliau menjadi Ketua NU pertama di Gembong Kabupaten Pati.

Secara garis besar, terdapat tiga perjuangan inti dari Mbah Karim. Pertama seorang pejuang kemerdekaan, karena kontribusinya dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, rumah beliau menjadi saksi bagaimana para pejuang menjadikan kediaman Mbah Karim sebagai tempat transit dan menjadikannya sebagai tempat untuk menyimpan senjata. Atas hal itulah, akhirnya membuat nama Mbah Karim menjadi salah satu daftar orang yang dicari untuk ditangkap Belanda. Namun, menurut penuturan mantan santri Mbah Karim yang bernama Mbah Abdullah Gembong, bahwa berkali-kali Belanda mencoba menangkap Mbah Karim tetapi selalu gagal. Mbah Abdullah meyakini bahwa kejadian tersebut terjadi lantaran karomah Mbah Karim yang memang sejak remaja sudah terbiasa tirakat dan puasa. Perjuangan itu pun terus berlanjut sampai pada masa penjajahan Jepang dan pemberontakan PKI 1965.

Kedua, seorang pejuang pendidikan di Kecamatan Gembong Pati, lantaran surau yang dibangun pada tahun 1927 menjadi saksi bagaimana anak-anak dan remaja-remaja di Gembong di waktu itu bisa mendapatkan pendidikan mengaji, pendidikan shalat, sampai pendidikan kanuragan. Bahkan dari surau sederhana itupun akhirnya berkembang di tahun 1971 bertransformasi menjadi lembaga pendidikan yang besar dengan nama Yayasan al-Ma’arif Gembong yang mengelola pendidikan mulai dari jenjang PAUD, TK, MI, MTs, MA, SMK dan Pondok Pesantren Shofa Azzahro yang sudah meluluskan ribuan murid dan santri.

Ketiga, seorang pejuang Islam dan Nahdlatul Ulama di Kecamatan Gembong. Hidup Mbah Karim hampir seluruhnya dihabiskan untuk berjuang untuk mengembangkan Islam dan Nahdlatul Ulama’ di Kecamatan Gembong Pati. Sampai-sampai pada waktu itu, di zaman sebelum kemerdekaan dan awal-awal kemerdekaan beliau untuk dakwah di desa-desa pelosok di wilayah Gembong harus berangkat sore dan pulangnya menjelang subuh, mengingat ditempuh jalan kaki dengan medan yang berat. Perjuangan itu terus dijaga dan diistiqomahi sampai beliau meninggal dunia pada tahun 1984. 

Kini, perjuangan Mbah Karim Gembong dilanjutkan oleh putra-putri beliau, menantu dan cucu-cucunya, di antaranya adalah seperti KH. Imam Shofwan putra kedua dari Mbah Karim adalah seorang muballigh, mantan anggota DPRD Fraksi PPP periode 1982-1987 Kabupaten Pati, mantan Ketua Tanfidziah PCNU Kabupaten Pati tahun 2009-2014, dan sekarang adalah Mustasyar PCNU Kabupaten Pati. Putra ketiga, almarhum KH. Muhammad Sudirman mantan Ketua MUI Kecamatan Gembong, putra keempat KH. Nur Kholid mantan Ketua Tanfidziah MWC NU Kecamatan Margorejo Kab. Pati periode 2010-2015, putra kelima KH. Abdul Qohar Ketua Yayasan al-Ma’arif Gembong periode 2010-sampai sekarang, dan Kiai Sholikhin Ketua Tanfidziah MWC NU Kecamatan Gembong periode 2014-sampai sekarang. Ditambah lagi Nyai Hj. Fatimatuzzahro menantu beliau merupakan muballighoh ternama di Kabupaten Pati sekaligus Ketua Muslimat NU PAC Gembong dari tahun 1994-sampai sekarang, dan menantu lain Ibu Maria Ulfah adalah Ketua Fatayat PAC Kec. Gembong dari tahun 2006-sampai sekarang. Salah satu cucu dari Mbah Karim yang sudah bergerak di tengah-tengah masyarakat yaitu Faiz Aminuddin, MA Kaprodi PMI IPMAFA dan Sekretaris LTN NU Kabupaten Pati periode 2014-sampai sekarang.

Untuk itulah, dengan diadakan Haul KH. Muhammad Karim yang ke-33 harapannya bisa tetap menghidupkan ajaran-ajaran dari beliau seperti nilai-nilai keikhlasan dan kedermawanan beliau, sekaligus dapat memberikan spirit dan juga inspirasi kepada keluarga, santri, serta masyarakat untuk bisa melanjutkan perjuangan-perjuangan yang pernah beliau rintis. Red: Mukafi Niam
Senin 27 Maret 2017 17:20 WIB
Halaqah Pra-Konfercab NU Jombang Petakan Paham Anti-NKRI
Halaqah Pra-Konfercab NU Jombang Petakan Paham Anti-NKRI
Jombang, NU Online
Untuk yang ketiga kalinya jelang Konferensi Cabang (Konfercab) Nahdlatul Ulama (NU) Jombang segenap panitia membahas persoalan aktual khususnya di Kota Santri. Sejumlah hasil pembahasan dimaksudkan sebagai bahan materi rekomendasi Konfercab. 

Kali ini penanggung jawab kegiatan pra Konfercab yang diinisiasi Lakpesdam NU gelar halaqah dengan tema Peta dan Bahaya Kelompok Anti-NKRI dan Pancasila di Jombang, Ahad (26/3) di aula Yayasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang.

Marwanto, Kasat Intelkam Polres Jombang yang didapuk menjadi salah satu pembicara menjelaskan selama ini dirinya tak menampik keberadaan kelompok-kelompok anti NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) berkembang di wilayah Jombang. 

Ia menyebutkan beberapa kelompok tersebut diantaranya Gafatar, HTI, FPI dan YKPP. Kelompok inilah yang pernah tumbuh membangun kekuatan massa di Jombang.

"HTI di Jombang memang ada bahkan sampai saat ini perkiraan 150 kepengurusan HTI. Dulu juga ada Gafatar di Jombang, bahkan ada sekretarisnya, selain itu YKPP. Kemudian FPI juga ada meski saat ini kepemimpinannya masih vakum, hanya 15 orang kepengurusannya," jelasnya.

Ia menambahkan, kelompok anti NKRI dan Pancasila secara umum bisa diketahui pola dakwah yang mereka pakai di lingkungan masyarakat, yang kesemuanya cenderung eksklusif, fanatik dan semacamnya. Menurutnya, beberapa kelompok yang diketahui di atas melakukan pendekatan-pendekatan dengan pola dakwah demikian.

"Adapun ciri-cirinya adalah mereka bersikap Intoleransi, fanatik, eksklusif, revolusioner cenderung menggunakan cara-cara kekerasan dan seterusnya," ujarnya di hadapan puluhan peserta halaqoh.

Beragam pola dakwah ini, lanjutnya, biasanya dipakai untuk menyerang berbagai objek pula. Selain ideologi, tatanan kemasyarakatan, pemerintahan juga terhadap perekonomian masyarakat. 

"Tidak hanya ideologi yang menjadi target mereka, namun juga integrasi masyarakat, ekonomi, pemerintahan," imbuh dia.

Untuk itu kegiatan halaqoh pra Konfercab dirasa sangat tepat untuk membangun sinergi antar berbagai pihak untuk bersama-sama menyelamatkan intervensi mereka di tengah-tengah masyarakat. 

"Kami minta dukungan NU agar kelompok radikal tidak berkembang di Indonesia khususnya di Jombang," ungkapnya.

Untuk diketahui Konfercab NU Jombang akan berlangsung pada 22-23 April 2017 mendatang di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang. (Syamsul Arifin/Fathoni)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG