IMG-LOGO
Pustaka

Mengawal Masa Depan dengan 'Teknologi Ruh'

Kamis 6 April 2017 9:3 WIB
Bagikan:
Mengawal Masa Depan dengan 'Teknologi Ruh'
Saat kita masih kecil dulu, kita akan langsung menjawab dengan tegas dan tanpa ragu-ragu ketika ada orang yang menanyakan tentang cita-cita atau mau jadi apa nanti. Tetapi, ketika kita sudah menginjak masa remaja –dan bahkan dewasa, kita menjadi bingung dan ragu ketika ada orang yang bertanya tentang mau jadi apa kita dalam rentang waktu sepuluh tahun ke depan. Atau apa yang akan kita hasilkan dalam waktu sepuluh tahun ke depan. Banyak orang yang menjawabnya dengan jawaban yang tidak yakin dan tidak begitu jelas.  

Kenapa bisa demikian? Karena kita masyarakat Indonesia kurang terlatih untuk merencanakan masa depan dengan perkiraan-perkiraan yang dibuat. Tradisi berfikir jauh ke depan kita belum terlatih secara baik dan benar. Biasanya, kita hanya memikirkan hal-hal yang berbau masa depan maksimal dalam rentang waktu lima, belum sampai dua puluh hingga lima puluh tahun ke depan.  

Selain itu, ada hal-hal lain yang menyebabkan kita tidak terbiasa merencanakan masa depan, diantaranya adalah faktor ketidaktahuan, faktor tidak mau mendahului takdir Tuhan, faktor tidak mau kecewa, faktor ingin mengalir saja seperti air, faktor tidak tahu potensi diri atau tidak mengenal diri sendiri sehingga bingung mau melakukan apa ke depannya, dan lain sebagainya. Meski masa depan menjadi hak prerogatif Tuhan, tetapi apabila kita mampu merencanakan dan mengawal segala sesuatu yang menjadi syarat atas terjadinya masa depan yang tidak kita inginkan, maka kita setidaknya hal-hal yang tidak sesuai harapan kita tersebut bisa dihindari seminimal mungkin. 

Melalui buku Teknologi Ruh Pendamping Teknis Untuk Mengawal Masa Depan, Ali Sobirin El-Muannatsy, sang penulis buku, berusaha untuk memberikan buku panduan (guidance book) kepada kita untuk merencanakan dan mengawal masa depan dengan apik dan benar sehingga kita bisa meraih masa depan yang kita harapkan. Ali Sobirin El-Muannatsy –biasa disapa Also- memandang masa depan itu seperti bola bekel. Secara umum, bola bekel itu liar dan tidak jelas arahnya. Begitupun dengan masa depan kita. 

Namun demikian, kalau seandainya kita mengetahui karakteristik bola bekel tersebut seperti sudut, model, bentuk titik pantul, arah angin, dan keadaan lingkungan, maka kita akan bisa menebak dan mengetahui arah pantulanya itu meski kadang tidak setepat (se-presisi) yang kita rencanakan. Masa depan juga begitu. Harus kita kawal agar sesuai dengan treknya sehingga sampai kepada apa yang kita cita-citakan. 

Mengetahui diri adalah kunci dari segalanya. Di dalam salah satu bab, Also menyajikan tendensi dan pertanyaan-pertanyaan yang mengusik ‘ketenangan’ diri seseorang. Ia merangsang seseorang untuk mengenali dirinya sendiri, dari mana ia berasal dan mau kemana. 

Ada sebuah adagium yang menyatakan bahwa aku berpikir maka aku ada. Also menjadikan adagium tersebut sebagai tendensi untuk menjadi salah satu upaya untuk mengawal masa depan. Contohnya, saat kita memiliki pikiran, citra atau mencitrakan diri sebagai seorang politisi. Maka lingkungan di luar kita akan memperlakukan kita sebagai seorang politisi. Maka dari itu, penulis menyarankan kepada kita untuk memperkuat citra diri agar respon lingkungan kita juga kuat.

Masih banyak yang dibahas di dalam buku ini, mulai dari bagaimana mengetahui kelemahan dan kekuatan diri, bagaimana kita harus bangga kepada khazanah diri, kekuatan doa, keyakinan sebagai sumber energi, mukjizat jiwa, dan lain-lainnya.  

Pada dasarnya, buku ini ditulis dengan berlandaskan kepada ajaran-ajaran Islam. Namun demikian, buku ini tidak hanya ditujukan untuk mereka yang beragama Islam saja tetapi juga siapa saja karena prinsip yang disajikan di dalam buku ini tidak akan bertentangan dengan agama-agama lainnya.

Judul yang dipakai pun menarik, Teknologi Ruh. Teknologi merupakan teknik yang diciptakan untuk mempermudah untuk melakukan atau mengendalikan sesuatu. Sementara ruh yang dimaksud di sini bukankan ruh dengan makna ontologisnya, tetapi lebih kepada sistem kerja perasaan dan pikiran. Buku ini diharapkan menjadi teknologi yang mempermudah dan mengendalikan ‘ruh’ kita.  

Singkatnya, buku setebal 312 halaman ini merupakan buku yang mengupas tentang inti dan rahasia kehidupan. Sangat menarik dan mudah dicerna karena penulis memberikan perumpamaan (tamsil) atau cerita di sela-sela menjelaskan tema utama yang diangkat. Oleh karena itu, buku ini sangat cocok bagi siapa saja yang ingin mengawal masa depannya. Bahasa yang digunakan pun begitu ringan, renyah, dan tidak garing. Selamat membaca. 

Identitas Buku:
Judul : Teknologi Ruh; Pendamping Teknis Untuk Mengawal Masa Depan
Penulis         : Ali Sobirin El-Muannatsy 
Tebal : 312
Cetakan : Pertama, Maret 2017
Penerbit : ISTIQLAL INDONESIA
ISBN : 978-979-17416-2-0
Peresensi : Muchlishon Rochmat

Bagikan:
Kamis 6 April 2017 9:51 WIB
Sirajut Thalibin, Syarah Kiai Ihsan Jampes atas Kitab Tasawuf Imam al-Ghazali
Sirajut Thalibin, Syarah Kiai Ihsan Jampes atas Kitab Tasawuf Imam al-Ghazali
Ini adalah kitab “Sirâjut Thâlibîn” karangan seorang ulama besar Nusantara asal Jampes, Kediri (Jawa Timur), Syekh Ihsân ibn Dahlân al-Jamfasî al-Kadîrî al-Jâwî (dikenal dengan nama Syekh Ihsan Jampes, w. 1952 M), yang merupakan komentar dan penjelasan (syarh) atas kitab tasawuf “Minhâjul ‘Âbidîn” karangan Hujjah al-Islâm al-Imâm al-Ghazzâlî (w. 1111 M).

Kitab “Sirâjut Thâlibîn” ditulis dalam bahasa Arab. Hingga saat sekarang, kitab ini adalah satu-satunya kitab syarh atas teks “Minhâjul ‘Âbidîn” yang paling populer dan berdar luas di seluruh penujuru dunia Islam. Karena itu, tidaklah mengherankan jika kitab karangan Kiai Jampes ini dicetak oleh banyak penerbit di Timur Tengah, sekaligus dipelajari dan dijadikan rujukan otoritatif dalam kajian bidang tasawuf di banyak institusi pendidikan dunia Islam.

Al-Imâm al-Ghazzâlî sendiri memiliki tiga buah karya utama dalam bidang tasawuf, yaitu “Minhâjul ‘Âbidîn” yang kemudian di-syarh oleh Kiai Jampes (Sirâjut Thâlibîn), lalu “Bidâyah al-Hidâyah” yang kemudian di-syarh oleh Syekh Nawawi al-Bantanî al-Jâwî, w. 1897 M (Murâqî al-‘Ubûdiyyah), dan “Ihyâ ‘Ulûm al-Dîn” yang kemudian di-syarh oleh Syekh Muhammad Murthadhâ al-Zabîdî, w. 1790 (Ithâf al-Sâdah al-Muttaqîn).

Kitab “Bidâyah al-Hidâyah” dan “Ihyâ ‘Ulûmal-Dîn” diterjemahkan dan disyarah ke dalam bahasa Melayu untuk pertamakalinya oleh Syekh Abdul Shamad Palembang (w. 1832 M). Versi Melayu “Bidâyah” adalah “Hidâyah al-Sâlikîn”, sementara versi Melayu “Ihyâ” adalah “Sair al-Sâlikîn”.

Kembali ke kitab "Siraj al-Thalibin". Dalam kolofon, didapati keterangan jika karya agung ini diselesaikan di Kampung Jampes, Kediri, pada siang hari Selasa, 29 Sya’ban tahun 1351 Hijri. Data ini bertepatan dengan 28 Desember 1932 Masehi. Tertulis dalam kolofon;

وكانت مدة تهذيبه مع شواغل الدهر وإبلائه ثمانية أشهر إلا أياما، آخرها في نهار الثلاثاء التاسع والعشرين من شعبان المكرم الذي هو من شهور سنة إحدى وخمسين بعد الثلثمائة والألف من هجرة من له تمام العز والشرف. وذلك بمنزلي في محلة جمفس ببلد كديري من بلاد جاوة

(Adapun masa penulisan kitab ini adalah delapan bulan kurang beberapa hari lamanya, akhir kali diselesaikannya pada siang hari Selasa, tanggal 29 bulan Sya’ban tahun 1351 Hijri. Selesai di rumahku di desa Jampes, negeri Kediri, salah satu dari negeri-negeri Jawi [Nusantara]).

Keterangan dalam kolofon di atas sekaligus memberikan informasi lain yang sangat mencengangkan, yaitu kitab syarh setebal lebih 1000 halaman ini diselesaikan oleh Syekh Ihsan Jampes hanya kurang dalam jangka masa delapan bulan lamanya.

Dalam pengantarnya, Syekh Ihsan Jampes menulis;

فيقول المرتجي من ربه الغفران. الفقير الى رحمته: إحسان بن المرحوم محمد دحلان. الجمفسي ثم الكديري. أصلح له الله الحال والشان. وستر عيوبه في الدارين. هذا شرح وجيز ومنيف، وتحرير رائق وشريف، على كتاب "منهاج العابدين الى جنة رب العالمين" للإمام الهمام مقتدي الخاص والعام، حجة الإسلام، وبركة الأنام، وقطب رحا دائرة الإسلام، الذي ملأ ذكر كمالاته الخافقين في مسامع الأعلام، وقام صيت كتابه مقام الشمس في رابعة النهار، وعنت وجوه الأفاضل اليه من سائر الأقطار، أبي حامد محمد بن محمد بن محمد الغزالي، سقى الله ضريحه صوب الغفران المتوالي. وضعته تذكرة لنفسي وللقاصرين مثلي من أبناء جنسي. وسميته "سراج الطالبين على منهاج العابدين

(Maka berkatalah hamba yang mengarap dari Tuhannya akan pengampunan. Seorang yang fakir kepada rahmatNya: Ihsan anak Muhammad Dahlan dari Jampes Kediri … Ini adalah sebuah syarh [penjelasan] yang ringkas dan ulasan yang halus atas kitab “Minhâjul ‘Âbidîn ilâ Jannah Rabbil ‘Âlamîn” karangan …… al-Imâm al-Ghazzâlî. Aku menuliskan syarh ini sebagai pengingat untuk diriku, dan bagi orang-orang yang kurang pandai sepertiku. Aku namakan syarh ini dengan “Sirâjut Thâlibîn”).

Kitab ini mendapatkan endorsement (taqrîzh) dari Hadratussyekh KH Muhammad Hasyim Asy’ari yang merupakan sahabat dekat Syekh Ihsan Jampes dan beberapa ulama besar Jawa lainnya. Endorsement ini termuat dalam versi cetakan Dâr al-Fikr Lebanon (tanpa tahun) atas kitab ini. KH Hasyim Asy’ari mengatakan bahwa kitab “Sirâjut Thâlibîn” adalah salah satu kitab tasawuf terbaik yang ditulis pada zamannya. KH Hasyim Asy’ari juga mengisyaratkan Syekh Ihsan Jampes sebagai sosok “maestro keilmuan Islam dari Nusantara yang keilmuannya ibarat samudera tiada tepian”.

Syekh Ihsan Jampes dilahirkan di Jampes, Kediri, pada tahun 1901 M. ayahnya adalah KH Dahlan bin KH Soleh, pengasuh pesantren di Jampes. Kakek beliau, KH Soleh, berasal dari Bogor, Jawa Barat, yang kemudian hijrah ke Kediri di Jawa Timur. Syekh Ihsan memiliki adik kandung yang juga terkenal alim, yaitu KH Marzuqi Dahlan, kelak menjadi pengasuh Pesantren Lirboyo Kediri setelah dinikahkan dengan putri KH Abdul Karim Manaf Lirboyo.

Di antara guru utama Syekh Ihsan Jampes adalah para ulama besar tanah Jawa pada zaman itu, yaitu KH Kholil Bangkalan (Madura), KH Khozin Bendo (Pare), KH Idris Jamsaren (Solo), dan KH Soleh Darat (Semarang).

Hal yang menarik dari sosok Syekh Ihsan Jampes adalah penguasaannya akan bahasa Arab yang matang, meski tidak pernah belajar dan bermujawarah di Makkah atau negeri Arab lainnya. Tingginya citarasa bahasa Arab beliau dapat tercermin dari karya-karya beliau yang ditulis dalam bahasa Arab dan diterbitkan di Timur Tengah.

Di antara karya-karya beliau adalah; (1) Sirâjut Thâlibîn syarah atas Minhâjul ‘Âbidîn karangan al-Imâm al-Ghazzâlî, (2) Manâhijul-Imdâd syarah atas kitab Irsyâdul-‘Ibâd karangan Syekh Zainuddîn al-Malîbârî, (3) Tashrîhul-‘Ibârât syarah atas kitab falak Natîjah al-Mîqât karangan guru beliau, yaitu Syekh Muhammad Shâlih ibn ‘Umar al-Jâwî (Kiai Soleh Darat Semarang), dan (4) Irsyâdul Ikhwân fî Hukm Syarbil Qahwah wad Dukhân yang mengkaji tentang hukum meminum kopi dan menghisap asap (rokok).

Syekh Ihsan Jampes wafat pada 25 Dzulhijjah tahun 1371 Hijri (September 1952 M) dan dikebumikan di Jampes, Kediri. (A. Ginanjar Sya’ban)

Rabu 5 April 2017 15:50 WIB
Kitab Anti-Wahabi Berbahasa Sunda Karya Ajengan Sempur Purwakarta
Kitab Anti-Wahabi Berbahasa Sunda Karya Ajengan Sempur Purwakarta
Ini adalah halaman sampul dan halaman awal dari kitab “Îdhâh al-Karâthaniyyah fî Mâ Yata’allaq bi Dhalâlâh al-Wahhâbiyyah” karangan seorang ulama Nusantara dari Tatar Pasundan, yaitu Ajengan Tubagus Bakri bin Seda dari Sempur (Karaton), Plered, Purwakarta, Jawa Barat (dikenal juga dengan Mama Ajengan Sempur, w. 1975 M).

“Îdhâh al-Karâthaniyyah” ditulis oleh pengarangnya untuk merespon gerakan Wahhabisme yang berhaluan puritan, yang pada mulanya muncul di Nejd, Semenanjung Arabia (kini Saudi Arabia) di bawah prakarsa Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhâb al-Najdî dan mulai berkembang di Nusantara sejak awal abad ke-20 M. Kemunculan gerakan baru ini menuai banyak respon dari ulama-ulama besar dunia Islam, termasuk ulama-ulama Nusantara.

Selain “Îdhâh al-Karâthaniyyah” yang ditulis oleh Ajengan Sempur Purwakarta, terdapat kitab-kitab lain yang ditulis oleh ulama Nusantara lainnya untuk merespon gerakan Wahhabisme, seperti “al-Nushûsh al-Islâmiyyah fî al-Radd ‘alâ al-Wahhâbiyyah” karangan KH. Faqih Abdul Jabbar Maskumambang (Gresik, Jawa Timur), “al-Kawâkib al-Lammâ’ah fî Bayân ‘Aqîdah Ahl al-Sunnah wa al-Jamâ’ah” karangan KH. Abdul Fadhol Senori (Tuban, Jawa Timur), “Hujjah Ahl al-Sunnah wa al-Jamâ’ah” karangan KH. Ali Maksum Krapyak (Yogyakarta), “al-Fatâwâ al-‘Aliyyah” karangan Tuanku Khatib Muhammad Ali Padang, dan lain-lain.

Kitab “Îdhâh al-Karâthaniyyah” sendiri ditulis dalam bahasa Sunda beraksara Arab (di Sunda dikenal dengan istilah Remyak atau Pegon). Tebal kitab 47 halaman dalam format cetak batu. Tak ada titimangsa yang menjelaskan tarikh penulisan kitab ini. 

Dalam menulis karya ini, Ajengan Sempur merujuk kepada kitab-kitab berbahasa Arab yang ditulis oleh para ulama Makkah, seperti “al-Durar al-Saniyyah fî al-Radd ‘alâ al-Wahhâbiyyah” karangan Sayyid Ahmad Zainî Dahlân al-Makkî, mufti madzhab Syafi’i di Makkah yang juga guru dari para ulama Nusantara pada masanya, juga kitab “al-Shawâ’iq al-Muhriqah” karangan Syaikh Ibn Hajar al-Haitamî al-Makkî. Ajengan Sempur menulis;

سئنيا2نا دجرو كتاب ائى منغ نوقيل تنا كتاب درر السنية في الرد على الوهابية كراغن شيخ العلماء سيد أحمد دحلان أنو جادي مفتى شافعي بهل جغ تنا كتاب صواعق المحرقة كراغن ابن حجر الهيتمي جع تنا ليان

(Saenya-enyana di jero kitab ieu meunang nukil tina kitab Durar al-Saniyyah fî al-Radd ‘alâ al-Wahhâbiyyah karangan Syaikhul Ulama Sayyid Ahmad Dahlan anu jadi mufti Syafi’i baheula, jeung tina kitab Shawâ’iq al-Muhriqah karangan Ibnu Hajar al-Haitamî jeung tina liyana/Sesungguhnya di dalam kitab ini dapat menukil dari kitab Durar al-Saniyyah fî al-Radd ‘alâ al-Wahhâbiyyah karangan Syaikhul Ulama Sayyid Ahmad Dahlan yang menjadi mufti Syafi’i dulu, juga dari kitab Shawâ’iq al-Muhriqah karangan Ibnu Hajar al-Haitamî, juga dari kitab-kitab lainnya).

Kitab ini dibagi ke dalam delapan pasal. Pasal pertama mengkaji hadits yang menerangkan kemunculan seseorang dari Nejd yang kelak membuat fitnah besar di Semenanjung Arabia. pasal kedua menerangkan dalil-dalil Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) dalam perkara ziarah Nabi. Pasal ketiga menerangkan sosok Muhammad ibn Abdul Wahhab dari Nejd, Muhammad Abduh dari Mesir, dan para pengikutnya di Nusantara. Pasal keempat menerangkan tentang perkara tawassul. Pasal kelima menerangkan tentang keharusan umat Muslim mengambil ilmu dari para ulama yang rabbani yang menjadi “sawad a’zham” atau jumhur, yang kapasitas keilmuannya jelas, juga memiliki sanad, bukan kepada sembarang ulama. Pasal ketujuh menerangkan hadits yang melarang bersuhbat dengan pihak yang membenci para sahabat dan anak cucu Rasulullah, dan anjuran untuk senantiasa mengikuti ajaran para ulama salafus shalih. Pasal kedelapan menerangkan tentang sosok Ahmad Surkati al-Sudani, seorang Sudan yang menjadi pendiri gerakan al-Irsyad yang berhaluan modernis di Indonesia pada tahun 1914 M. 

Tentang pengarang sosok ini, yaitu Ajengan Sempur, beliau bernama lengkap Tubagus Ahmad Bakri bin Tubagus Saida bin Tubagus Hasan Arsyad yang berasal dari Pandeglang, Banten. Kakeknya, yaitu Tubagus Hasan Arsyad, adalah qadi dan ulama sentral di Kesultanan Banten pada zamannya. 

Ajengan Sempur pernah belajar kepada Syaikhona Kholil Bangkalan, Sayyid Utsman Betawi, Kiyai Soleh Cirebon, Kiyai Soleh Darat Semarang, Kiyai Ma’shum Lasem, Kiyai Syathibi Gentur, dan ulama-ulama besar Nusantara lainnya. Beliau lalu pergi ke Makkah dan belajar di sana selama beberapa tahun. Di antara guru-guru beliau di Makkah adalah Syaikh Raden Mukhtar Natanagara (Syaikh Mukhtâr ‘Athârid al-Bûghûrî al-Makkî), Syaikh Mahfuzh al-Tarmasî al-Makkî, Syaikh Muhammad Marzûqî al-Bantanî al-Makkî, Syaikh ‘Alî ibn Husain al-Mâlikî al-Makkî, Syaikh ‘Alî Kamâl al-Hanafî al-Makkî, Syaikh Shâlih Bâ-Fadhal al-Hadhramî al-Makkî, Syaikh ‘Abd al-Karîm al-Dâgastânî al-Makkî, dan lain-lain.

Selain ““Îdhâh al-Karâthaniyyah”, Ajengan Sempur juga menulis beberapa karya lainnya yang kebanyakan ditulis dalam bahasa Sunda beraksara Arab, yaitu; (1) “Maslak al-Abrâr”, (2) “Futûhât al-Taubah”, (3) “Fawâid al-Mubtadî”, (4) “al-Mashlahah al-Islâmiyyah fî al-Ahkâm al-Tauhîdiyyah”, (5) “Ishlâh al-Balîd fî Tarjamah al-Qaul al-Mufîd”, (6) “al-Risâlah al-Waladiyyah”, (7) “Maslak al-Hâl fî Bayân Kasb al-Halâl”, (8) “Tanbîh al-Ikhwân”, (9) “al-Râihah al-Wardiyyah”, (10) “Tanbîh al-Muftarrîn”, (11) “Nashîhah al-‘Awwâm”, (12) “Risâlah al-Mushlihât”, (13) “Tabshirah al-Ikhwân”, dan lain-lain. (A. Ginanjar Sya’ban)

Selasa 4 April 2017 14:31 WIB
Bedah I’rab Ayat-ayat Al-Qur'an
Bedah I’rab Ayat-ayat Al-Qur'an
Salah satu ciri khas pesantren di Jawa pada umumnya adalah mengaji kitab-kitab berbahasa Arab yang tidak berharakat (kitab gundul). Ada juga yang menyebutkan kitab kuning, karena sebagian besar kitab-kitab klasik itu dicetak dengan kertas berwarna kuning. Kiai menerjemahkan per kata (lafadz) dengan memperhatikan kedudukan masing-masing lafadz dalam susunan kalimat. Santri mengikutinya dengan mencatat terjemahannya di bawah lafadz asal. Dengan model pengajian ini, santri tidak sekadar mengetahui terjemah lafadz, namun juga mengetahui kedudukan masing-masing lafadz baik menurut kaidah nahwu maupun sharaf, sehingga pemahaman mereka atas makna teks menjadi lebih dalam.

Lafadz yang berkedudukan sebagai subyek (mubtada’) pasti disebut terjemahnya adalah utawi, sedangkan yang berkududukan sebagai predikat (khabar) selalu disebut terjemahnya adalah iku. Hal ini berlaku dalam kalimat nominal (jumlah ismiyyah). Jika susunannya adalah kalimat verbal yang terdiri dari (fi’il dan fa’il), maka terjemah lafadz kerja (fiil) pasti akan diikuti keterangan waktu lampau, sekarang atau akan datang (wus, lagi, arep). Jika kedudukan lafadz itu menjadi subyek (fa’il), maka pasti dengan tegas terjemahnya diucapkan dengan ungkapan sapa (jika subyek berakal) atau apa (jika subyek tidak berakal). Ada banyak lagi contoh terjemah yang menujukkan kedudukan lafadz dalam suatu kalimat, misal, ing menujukan obyek, halih menunjukkan hal, apane menunjukkan tamyiz, rupane menunjukkan badal dan masih banyak lagi yang lainnya. 

Model pengajian seperti ini secara sistematis telah melatih santri atau murid menjadi peka terhadap struktur kalimat (tarkib) dan perubahan i’rabnya. Struktur minimal kalimat adalah terdiri dari subyek dan predikat, sedangkan yang lengkap adalah subyek, predikat, obyek dan keterangan. Hal ini juga berlaku pada bahasa Arab. Adapun i’rab adalah perubahan akhir kalimat dalam bahasa Arab karena perbedaan unsur (‘amil) yang memasukinya baik secara tampak lafadznya maupun secara perkiraan. Misalnya lafadz al-kitaab; dalam keadaan tertentu lafadz itu harus dibaca al-kitaabu, al-kitaaba, atau al-kitaabi karena menempati kedudukan yang berbeda.        

Mungkin karena diidentikkan dengan Al-Qur'an yang berbahasa Arab, kajian teori gramatika bahasa Arab di pesantren selama ini dipersepsi sebagai sesuatu hampir-hampir sakral. Buktinya tingkat senioritas kompetensi santri seringkali dilekatnya dengan berapa banyak bait-bait nadham kitab Imrithy atau Alfiyah ibn Malik. Tidak semua pesantren menganjurkan atau bahkan mewajibkan santri menghafal Al-Qur'an, tapi sebaliknya santri terkondisikan untuk menghafal bait-bait nadham dalam kedua kitab itu, padahal ia bukan kitab suci yang membacanya bernilai ibadah (almuta’abbad bi tilaawatihi).

Didorong semangat untuk melestarikan tradisi keilmuan dan pembelajaran di pesantren seperti ini, Muhammad Afifuddin Dimyathi (Gus Awis), pengasuh Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso, Peterongan, Jombang menyusun sebuah buku berbahasa Arab dengan judul, Shafaaul Lisaan Fii I’raabil Quraan. Buku ini memang ditujukan untuk para pemula dalam studi bahasa Al-Qur'an, khususnya para santri dan mahasiswanya, sehingga hanya berisi analisis i'rab tiap lafadz dan kalimat ayat-ayat Al-Qur'an yang terpilih dengan menggunakan metode i'rab yang telah dikenal di pondok pesantren. 

Penyusun buku ini sepertinya ingin memadukan antara penguasaan gramatika bahasa Arab dan pembelajaran kitab suci Al-Qur'an, sehingga sikap santri dalam menyakralkan ilmu diarahkan secara tepat pada kitab suci Al-Qur'an. Kitab Imrithy atau Alfiyah ibn Malik memang penting untuk belajar gramatika bahasa Arab, namun tidak sepatutnya disakralkan melebihi penyakralan terhadap kitab suci Al-Qur'an.

Penyusun buku ini yang juga alumnus MAPK/MAKN Jember menganalisis kandungan i’rab tiga surat Al-Quran pilihan, yaitu: QS. Al-Fatihah, QS. As-Sajadah, dan Al-Insan. Ketiga surat ini sangat populer di pesantren, khususnya di pesantren Gus Awis, karena sering dibaca khususnya dalam shalat Shubuh hari Jumat. Dengan obyek kajian tiga surat al-Quran itu, pembaca buku ini diharapkan memperoleh dua manfaat sekaligus. Manfaat pertama adalah pembaca akan mampu belajar mendalami penarapan ilmu nahwu dan sharaf. Manfaat kedua adalah membaca, belajar dan memahami ayat-ayat dan  kandungan kitab suci Al-Qur'an yang secara langsung memiliki nilai ibadah.     

Menurut penyusun buku ini ketiga surat Al-Qur'an tersebut memiliki variasi i’rab yang sangat beraneka macam, sehingga merepresentasikan i’rab yang terkandung dalam seluruh ayat-ayat Al-Qur'an. Dengan mengkajinya, maka pembaca akan mempu memformulasikan i’rab yang terdapat dalam ayat dan surat yang lain secara mandiri.      

Kompetensi menganalisis i’rab suatu kalimat sangat diperlukan dalam kajian tafsir Al-Qur'an. Ketidaktepatan analisis i’rab bisa mengubah makna secara fatal. Sebagai misal, dalam QS. Fatir ayat 28, seharusnya makna yang tepat adalah hanya saja yang takut kepada Allah diantara hamba-hambanya adalah ulama. Makna ini diperoleh jika lafadz Allah dalam ayat itu dibaca Allaaha. Sebaliknya maknanya bisa berubah sangat fatal, jika lafadz Allah dibaca Allaahu, sehingga terjemahnya menjadi hanya saja Allah takut kepada hamba-hambaNya yang ulama. Lafadznya sama, namun jika dibaca Allaaha atau Allaahu, ternyata maknanya sudah bertentangan 180 derajat. Oleh karena itu ilmu I’rab menjadi salah satu ilmu penting dalam memahami ayat-ayat Al-Qur'an khususnya. 

Selama ini analisis i’rab seringkali hanya digunakan untuk membedah kalimat bahasa Arab biasa. Melalui bukunya ini dosen UIN Sunan Ampel Surabaya ini mengajak pembaca untuk langsung menerapkannya dalam analisis ayat-ayat Al-Qur'an. Ini adalah karya yang patut diapresiasasi karena menjadi sarana mempopulerkannya dalam kajian-kajian bahasa Arab. Santri atau murid tidak sekadar membaca dan menganalisis kalimat bahasa Arab biasa, namun langsung diarahkan kepada analisis bahasa kitab suci Al-Qur'an yang mengandung berbagai keutamaan yang tidak dijumpai dalam bahasa Arab biasa.

Alhasil, siapa saja yang membaca dan mempelajari kandungan buku ini pasti akan melakukan dua aktifitas mulia sekaligus, yaitu mengaji dan mengkaji ayat-ayat Al-Qur'an. Pembaca juga akan mendapatkan sisi sakral dan gramatikal di dalam buku ini. Jika penasaran, silakan miliki dan membacanya sendiri untuk membuktikannya.  

Data Buku
Judul Buku : Shafaaul Lisaan Fii I’raabil Quraan
Penulis         : Muhammad Afifuddin Dimyathi
Penerbit         : Lisan Arabi
Alamat           : Sidoarjo, Jawa Timur
Cetakan         : Pertama : 2016 M / 1437 H                              
Halaman : 117 halaman

Peresensi
Nine Adien Maulana, Guru Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti SMA Negeri 2 Jombang
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG