IMG-LOGO
Trending Now:
Nasional

Rukun Universitas ala Imam Suprayoga

Jumat 7 April 2017 15:35 WIB
Bagikan:
Rukun Universitas ala Imam Suprayoga
Jakarta, NU Online
Rasa prihatin melihat lulusan perguruan tinggi Islam kurang mendalami keilmuan Islam, membuat Imam Suprayoga merenung. Apalagi perguruan tinggi Islam didirikan berangkat salah satunya dari semangat melahirkan ulama yang intelek, dan intelek yang ulama.

Hal itu disampaikan Imam saat mengisi Seminar Nasional Sarung Nusantara di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Kamis (6/4).

“Setelah saya lihat perguruan tinggi Islam di Indonesia dari Aceh sampai ke wilayah timur, kalau disebut ulama kok begitu, mau disebut intelek kok ya begitu. Sepertinya kurang jelas ya,” cerita Imam disambut tawa hadirin.

Renungan Imam membuahkan beberapa ide dan akhirnya terwujud dalam sejumlah gerakan. Ketika ia menjabat sebagai rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang, kampus tersebut tidak hanya dimanfaatkan untuk kegiatan perkuliahan akademik. Siang hari perkuliahan berlangsung seperti kampus lainnya. Tetapi pada sore malam harinya dimanfaatkan sebagaimana pola pengajaran di pondok pesantren.

Tidak hanya dalam pola kegiatan dan pengajaran, tetapi juga dalam tata cara berpakaian. Bila pada pagi hari mahasiswa berpakaian umum, seperti bercelana panjang; pada kegiatan sore dan malam hari mahasiswa mengenakan seperti pakaian di pondok pesantren, yakni bersarung dan memakai kopiah.

“Bahkan pada pagi hari ada mahasiswa yang mengenakan pakaian seperti di pesantren, yakni bersarung. Dan kita izinkan itu,” lanjut Imam.

Imam sendiri sangat tertarik saat melihat Usman Mansur, waktu itu menjabat sebagai dekan, yang berpenampilan memakai sarung, sandal selop, berjasa dan kopiah.

“Kok anggun sekali kalau dilihat. Maka saya mengembangkan dunia kampus seperti dunia pesantren. Akibatnya rektor tidak pernah didemo karena memakai sarung,” kata Imam kembali disambut tawa hadirin.

Karena pola tersebut, suasana kampus lalu berubah menjadi santi yang mahasiswa dan mahasiswa yang santri.

Perubahan tersebut bukan karena dilihat dari pakaian, tetapi kegiatan yang dilakukan yang memang khas pesantren, seperti kewajiban salat berjamaah, zikir, pengajian kitab kuning, khotmul Quran, istigotsah.

“Setelah itu orang pada bertanya kalau di universitas ada pesantren, lalu strukturnya bagaimana, posisi kiai di mana, rektor di mana? Dan kampus ini mau dibawa ke mana? Saya jawab, kampus nggak akan dibawa ke mana-mana tetap di sini,” lanjut Imam. Kembali para hadirin tertawa.

Menurut Imam, mudah saja menjawab kegelisahan orang akan hal tersebut. Karena waktu itu ia lalu membuat rukun universitas. 

“Rukun universitas itu harus harus ada kiai, harus ada masjid, dan harus ada pesantren,” tegas Imam. (Kendi Setiawan/Mukafi Niam)
Bagikan:
Jumat 7 April 2017 23:1 WIB
Undar Bahas Toleransi dan Kebebasan Beragama dalam Diskusi Nasional
Undar Bahas Toleransi dan Kebebasan Beragama dalam Diskusi Nasional
Jombang, NU Online 
Isu toleransi dan kebebasan beragama di Indonesia akhir-akhir ini menjadi perbincangan yang cukup serius. Kasus pelanggaran terhadap hak atas kebebasan beragama atau berkeyakinan justru marak terjadi.

Intoleransi, kekerasan, dan intimidasi serta persekusi tidak bisa dihindarkan, bahkan negara menjadi bagian dalam perbuatan tidak manusiawi itu, melalui pembiaran hingga kebijakan yang diskriminatif dan intoleran.

Tindakan kelompok ekstremis dan intoleran yang bertindak melanggar hukum dan konstitusi terhadap kelompok lain tentunya sangat mengancam keberagaman dalam Bhinneka Tunggal Ika yang telah menjadi fondasi bangsa Indonesia.

Demikian itulah yang menjadi latar belakang gelaran Diskusi Nasional Toleransi dan Kebebasan Beragama di Indonesia oleh Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Darul Ulum (Undar) Jombang bekerja sama dengan The Asia Foundation, Kamis (6/4) di aula kampus setempat.

Diskusi dengan konsep dua sesi ini dibuka H.M. Mudjib Mustain (Rektor Undar Jombang). Hadir pada kesempatan ini Budhy Munawar Rachman selaku Program Officer Religious Freedom and Human Rights dan PUSAM Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Asisten 1 Setdakab Jombang, Wakapolres Jombang, Kodim 0814 Jombang, Syamsul Arifin (Direktur Pusam UMM), Kepala Kesbangpol Kabupaten Jombang, Ketua FKUB Kabupaten Jombang KH. Isrofil Amar, Kepala Kemenag Kabupaten Jombang, kalangan akademisi, tokoh lintas agama, LSM dan mahasiswa. 

Pada kesempatan yang sama, Dekan FISIP Undar H. Machwal Huda meresmikan Pusat Studi Hak Asasi Manusia (Pusham) Fisipol Universitas Darul Ulum yang dilanjutkan dengan penandatanganan memorandum of understanding (MoU) antara Pusham Fisipol dan Pusam UMM yang disaksikan Rektor Universitas Darul Ulum Jombang, Asisten 1 Setdakab Jombang dan Program Officer The Asia Foundations.

Khudrotun Nafisah Ketua Pusham Fisipol mengungkapkan Pusat Studi Hak Asasi Manusia ini diharapkan menjadi mitra strategis antara institusi perguruan tinggi dan pemerintah daerah. 

"Mitra ini dimaksudkan dalam rangka keberlanjutan program- program maupun kebijakan yang mendukung perwujudan toleransi dan kebebasan beragama dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia," ujarnya. (Syamsul Arifin/Fathoni)

Jumat 7 April 2017 22:55 WIB
PBNU: Sukseskan Pilkada Jakarta dengan Saling Hargai Beda Pilihan
PBNU: Sukseskan Pilkada Jakarta dengan Saling Hargai Beda Pilihan
Jakarta, NU Online
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj mengajak kepada seluruh warga DKI Jakarta untuk menjaga keamanan dan ketertiban pada Pilkada putaran kedua yang akan diselenggarakan pada 19 April mendatang. 

“Mari kita yang akan ke TPS wujudkan keamanan dan tampilkan keramahan. Mari jadikan Pilkada sebagai pesata demokrasi,” katanya saat memberikan berceramah pada Istigotsah untuk Jakarta Damai yang diselenggarakan PBNU, Jumat (7/4) malam. 

Ia juga mengimbau untuk bersama-sama mensukseskan Pilkada dengan cara saling menghargai meski berbeda dalam menentukan pilihan.

Kiai Said meminta kepada warga Jakarta untuk menerima siapa pun nanti yang akan menang. “Gak usah bertengkar, gak usah caci maki. Siapa pun yang menang, kita terima,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Metro Jakarta Pusat Suyudi Ario Seto mengaku, polisi memiliki tugas dan kendala yang banyak terutama dalam pengamanan Pilkada DKI Jakarta putaran kedua. Oleh karena itu, ia mengajak kepada semua elemen bangsa untuk bahu  membahu menciptakan keamanan dan ketertiban di masyarakat.

“Terutama NU sebagai ormas terbesar dan tertua,” katanya.

Ia mengaku yakin jika polisi bersinergi dengan NU maka akan tercipta situasi yang lebih kondusif dan aman. Ia juga berharap, kerja sama yang selama ini telah ia jalin dengan NU bisa terus dijaga.

“Saya sangat berharap kerja sama yang telah kita bangun tetap kita jaga,” ungkapnya.

Istigotsah tersebut diselenggarakan dengan maksud untuk menciptakan suasana Jakarta yang aman, damai, dan kondusif selama putaran kedua Pilkada DKI Jakarta pada April nanti.

Selain Kapolres Metro Jakarta Pusat, acara tersebut juga dihadiri oleh Kepala Badan Intelijen dan Keamanan Polri Lutfi Lubihanto, Direktur Bimas Polda Metro Priyo Mujihad. (Muchlishon Rochmat/Abdullah Alawi)

Jumat 7 April 2017 22:32 WIB
Kiai Said: Islam Agama Mulia, Belalah dengan Cara Mulia
Kiai Said: Islam Agama Mulia, Belalah dengan Cara Mulia
Jakarta, NU Online
Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengungkapkan, agama Islam adalah agama yang mulia dan santun. Oleh karena itu, cara membelanya pun harus dengan cara yang mulia dan santun.

Hal tersebut dikatakannya saat mengisi “Istighotsah untuk Jakarta Damai” di halaman gedung PBNU Jakarta Pusat, Jumat (7/4) malam.

“Nahdlatul Ulama menerima dua amanat yaitu amanat diniyah (agama) dan amanat wathaniyah (kebangsaan). Agama Islam agama yang benar, dakwah untuk mengajak umat dengan cara yang benar. Islam agama yang sempurna, maka lakukan dakwah dengan cara sempurna. Islam agama yang mulia, lakukan dakwah dengan cara mulia,” urai Kiai Said.

Ia menyatakan ibarat bus yang bagus, cara calo yang ingin mencari penumpang pun harus baik. “Ayo naik bus saya, ada full AC, snack, supirnya bagus,” kata Kiai Said.

Bukan sebaliknya, mengenalkan bus yang bagus tetapi dengan cara yang buruk dan penuh ancaman.

“Ayo ikut ke sana. Kalau nggak mau saya bakar, saya gebukin. Kira-kira orang senang dan mau naik bus enggak? Jadi calo kok ngancam, ya orang malah nggak jadi naik bus itu,” kata Kiai Said.

Demikian juga dengan Islam. Walau Islam agama yang baik, bila cara mengajak orang mengamalkan Islam dengan cara yang jelek, kasar, congkak sombong, maka maka orang akan muak dan benci.

Cara yang santun dan lembut dalam mengenalkan Islam, kata Kiai Said, sesungguhnya telah dicontohkan oleh Rasullullah Muhammad SAW. Ketika memimpin masyarakat Yastrib, penduduknya ada yang Muslim dan non-Muslim; ada pribumi asli, ada pendatang.

“Tetapi Rasul memberlakukan mereka dengan cara yang sama di mata hukum, pelayanan fasilitas, hak dan kewajiban. Enggak pandang bulu sukunya apa, warna kulit, bahasa, budaya tradisi, partai, dan pilihan gubernurnya,” tambah Kiai Said.

Dalam menyambut pemilihan gubernur DKI Jakarta putaran kedua, Kiai Said mengingatkan agar masyarakat tidak terpancing permusuhan walaupun pilihan mereka berbeda.

“Silakan beda pilihan. Yang senang Ahok pilih Ahok. Yang senang Anies pilih Anies. Yang nggak seneng pilih yang lain, nggak usah demo,” tegas Kiai Said.

Ia berharap dalam pemilihan gubernur putaran kedua, masyarakat Jakarta tetap damai, solid, akur, rukun dan damai. (Kendi Setiawan/Mahbib)


IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG