IMG-LOGO
Nasional

Sarung Miliki Potensi dalam Pemberdayaan Ekonomi Pesantren

Sabtu 8 April 2017 0:3 WIB
Bagikan:
Sarung Miliki Potensi dalam Pemberdayaan Ekonomi Pesantren
Jakarta, NU Online
Direktur Jenderal Industri Tekstil, Kulit, dan Aneka, Kementerian Perindustrian RI Muhdori mengungkapkan tradisi bersarung yang dilakukan warga NU dan pondok pesantren, memiliki potensi dan peluang positif dilihat dari pemberdayaan ekonomi pesantren.  

Hal tersebut disampaikannya saat menjadi pembicara pada Seminar Nasional “Sarung Nusantara” yang digelar Lembaga Takmir Masjid Nahdltaul Ulama (LTMNU) di Gedung PBNU Jakarta Pusat, Kamis (6/4).

“Industri tekstil, di dalamnya termasuk industri sarung, menempati urutan ketiga penghasil devisa negara. Nilai ekspor tahun 2016 sebesar US$ 11,78 miliar (8,22 persen ekspor nasional), dengan surplus USD 4,73 miliar; berkontribusi 1,18 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional pada tahun 2016. Industri tekstil juga merupakan satu dari sepuluh industri prioritas dan industri andalan Indonesia 2015-2035,” urai Muhdori.

Muhdori menyebut, pada tahun 2015, dari sisi penyerapan tenaga kerja, industri tersebut menyerap tenaga kerja langsung sejumlah 2,69 juta orang. Angka ini setara dengan 17,03 persen dari total tenaga kerja industri manufaktur yang bersifat padat karya.

Oleh karena itu ia mendorong pesantren memanfaatkan peluang tersebut. “Contohnya bila di Cirebon saja ada 27 pesantren dengan rata-rata 200 santri per pesantren. Lalu koperasi pesantren membeli sarung dengan harga dasar 45 ribu dijual 50 ribu, itu akan ada keuntungan untuk pesantren. Jelas ini upaya pemberdayaan umat lewat sarung,” terangnya.

Belum lagi, kata Mudhori bila pesantren bisa memproduksi sarung sendiri, tentu optimalisasi pemberdayaan ekonomi dapat dilakukan.

Ia juga mengatakan pengembangan tekstil tidak terbatas hanya sarung. “Ketika musim haji, kiai dan satri pondok pesantren minimal kalau tidak berangkat haji bisa bertindak sebagai pemandu manasik. Sekaligus ini bisa dipersiapkan dengan mengenalkan produk pendukung ibadah haji dan umrah,” lanjut Muhdori.

Bicara tentang bisnis, kata Muhdori, tidak akan ada habisnya ketika dikaitkan dengan pondok pesantren. “Karena itu pondok pesantren dan NU harus memanfaatkan betul peluang ini, selagi masih terbuka,” tandasnya. (Kendi Setiawan/Fathoni)

Tags:
Bagikan:
Sabtu 8 April 2017 22:1 WIB
Kemendes PDTT Buka Akses Pasar Budidaya Kerapu Pandeglang
Kemendes PDTT Buka Akses Pasar Budidaya Kerapu Pandeglang
Pandeglang, NU Online
Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) menggandeng perusahaan swasta dan importir untuk membuka pasar para pembudidaya ikan kerapu di Kecamatan Panimbang, Pandeglang. Komitmen tersebut juga diwujudkan dengan adanya penandatangan Memorandum of Understanding (MoU) dengan PT. Prindo bersama Koperasi Alam Bahari KJA Panimbang.

“Saya meyakini budidaya ikan kerapu ini adalah salah satu upaya untuk meningkatkan perekonomian masyarakat Kabupaten Pandeglang. Dengan dibawanya para pengusaha dan importir ini, diharapkan bisa membantu pemasaran para pembudidaya," ujar Mendes PDTT, Eko Sandjojo, saat menghadiri panen raya ikan kerapu di Desa Cipanon, Kecamatan Panimbang, Pandeglang, Kamis (6/4).

Budidaya ikan kerapu ini, lanjut Menteri Eko, diharapkan dapat menjadi salah satu potensi unggulan dari daerah Pandeglang. Para pembudidaya pun tidak perlu merasa terlalu khawatir dengan pangsa pasar yang ada. Adanya MoU yang telah disepakati tersebut akan menjadi pintu masuk untuk akses pasar yang lebih luas.

Bupati Pandeglang, Irna Narulita, mengungkapkan, adanya bantuan dari Kemendes PDTT sebesar Rp 15 miliar untuk pengembangan budidaya ikan kerapu di wilayahnya memberi manfaat signifikan terhadap produktivitas para pembudidaya. Bantuan tersebut, lanjut Irna, merupakan wujud nyata perhatian yang serius dari pemerintah pusat kepada daerah tertinggal.

“Awalnya per tahun kami memproduksi sebanyak 12 ton. Dengan adanya bantuan dari pemerintah, kini setiap tahun bisa menghasilkan 40 ton,” ujarnya.

Irna menambahkan, dengan ditetapkannya Pandeglang sebagai bagian dari Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Lesung, dirinya berkomitmen untuk terus mengembangkan usaha budidaya ikan kerapu ini. Geliat ekonomi yang terus tumbuh diharapkan dapat terus menekan angka ketertinggalan desa di wilayahnya.

"Konsentrasi kita kini kepada kelompok pembudidaya ikan jaringan terapung dan kelompok nelayan lainnya agar mereka tambah semangat. Ke depan, kita akan bantu mereka dengan pakan, pendampingan teknik budidaya ikan, dan teknik pembesaran," kata Irna.

Salah seorang pembudidaya ikan kerapu, Bakereng, menuturkan, bantuan yang diberikan oleh Kemendes PDTT dalam pengembangan hasil tangkapannya sangat dirasakan manfaatnya oleh para pembudidaya.

“Rata pengasilan kami setiap kali panen dapat untug satu pembudiya bisa dapat Rp 5 juta. Alhamdulilah juga setiap tahunnya secara umum selalu ada kenaikan," ungkapnya.

Terdapat 44 kelompok pembudidaya ikan kerapu di Kecamatan Panimbang ini. Pertumbuhan ekonomi di Kecamatan Panimbang tersebut diharapkan akan mendorong aktivitas ekonomi di wilayah lainnya sebagai upaya mengentaskan desa tertinggal yang ada di Pandeglang. (kemendesa.go.id/Mahbib)


Sabtu 8 April 2017 18:30 WIB
Cak Nun: Tugas Negara Ayomi Rakyat
Cak Nun: Tugas Negara Ayomi Rakyat
Foto Emha Ainun Nadjib (wartaislami.com)
Kudus, NU Online
Budayawan Indonesia Emha Ainun Nadjib mengingatkan bahwa kekacauan yang dirasakan kini disebabkan Negara belum bisa memenuhi tugasnya sebagai pengayom rakyat. Menurutnya, tugas Negara adalah menjaga nyawa, martabat, dan harta rakyatnya. 

"Kalau tiga itu terpenuhi maka bereslah semua urusannya," tutur pria yang akrab disapa Cak Nun ini pada acara Sinau Bareng Cak Nun dan Kiai Kanjeng di Lapangan SMP 1 Dawe, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Jumat (07/04/17).

Suami Novia Kolopaking itu juga menyayangkan tingkah para pejabat negara yang tidak menyadari tugasnya tersebut. Salah satunya disebabkan karena dunia pendidikan nasional belum menyentuh kepada ranah menyadarkan anak.
 
Emha kemudian meruntut tingkatan pengajaran di sekolah dengan tadris (memelajari), tahfidh (menghafal), taklim (mengucapkan), ta'lim (ngelmoni), ta'rif (mendalami), dan penyempurnaan dari itu semua.

"Pendidikan kita baru sampai tingkatan taklim dan sudah merasa puas, merasa sudah menguasai, padahal masih ada banyak tingkatan yang lebih tinggi," katanya.

Di samping itu, Cak Nun juga mengingatkan kepada para pemuda supaya tidak mempunyai ambisi menjadi penguasa. Untuk itu, pemuda Indonesia harus selalu memerbaiki kualitas dirinya dengan banyak berbuat kebaikan. 

"Seseorang dihargai bukan sebab ucapannya, tetapi perbuatannya. Buat hal baik dan biarkan orang yang menilaimu dan memintamu memimpin mereka," tandasnya.

Dalam kesempatan itu, Cak Nun mendoakan 10-15 tahun lagi Indonesia akan punya generasi yang hebat. Generasi milenial yang mampu mengelola negara dan bersaing melebihi negara-negara di Eropa dan negara maju lainnya.

Kegiatan Sinau Bareng Cak Nun ini dalam rangka reuni perak 25 tahun alumni Sekolah Menengah Pertama (SMP) 1 Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. (M. Farid/Qomarul Adib/Mahbib)
Sabtu 8 April 2017 12:2 WIB
Kenapa Ya Ahlal Wathan Berbahasa Arab? Ini Jawaban Kiai Said
Kenapa Ya Ahlal Wathan Berbahasa Arab? Ini Jawaban Kiai Said
Jakarta, NU Online
Lagu Subbanul Wathon karangan KH Wahab Chasbullah merupakan lagu yang sering dinyanyikan warga Nahdlatul Ulama (NU). Lagu ini didengungkan setiap kali pengurus NU menyelenggarakan acara. Biasanya, lagu ini dinyanyikan setelah lagu Indonesia Raya.  

Terkait lagu Subbanul Wathon ini, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama memiliki pengalaman menarik. Tepatnya saat ia menghadiri sebuah acara yang diselenggarakan oleh NU Jawa Timur. Seperti biasa, acara dibuka dengan menyanyikan lagu karangan Kiai Wahab ini. Saat Kiai Said memberikan ceramah, tiba-tiba ada seorang yang mengangkat tangannya dan bertanya tentang lagu tersebut.

“Katanya lagu nasionalis. Kenapa Ya Ahlal Wathan menggunakan bahasa Arab?” kata Kiai Said menirukan orang yang mengangkat tangannya tersebut saat memberikan mauidhoh hasanah pada acara Istigotsah untuk Jakarta Damai di Jakarta, Jumat (7/4) malam.

Mendengar itu, Kiai Said mengaku terperangah, namun ia langsung menjawab pertanyaan tersebut dengan jawaban yang tidak terduga-duga. “Kalau pakai bahasa Indonesia, maka ditangkap Belanda. Karena itu kan lagu penyemangat santri,” jawabnya enteng.

Mendengar jawaban Kiai Said ini, peserta istighotsah pun berubah menjadi riuh karena tawa yang tak tertahan lagi. 

Maka dari itu, lanjut Kiai Said, lagu tersebut menggunakan bahasa Arab agar Belanda tidak mengetahui kalau yang dilafalkan itu adalah lagu penyemangat untuk memerdekakan Indonesia dari penjajahan.

“Paling Belanda ngira kalau mereka yang melafalkan Ya Ahlal Wathan itu sedang tahlil. Padahal itu lagu untuk mengusir mereka,” jelas Kiai Said.

Berikut adalah terjemahan lagu Ya Ahlal Wathan: 

Pusaka hati wahai tanah airku, cintaku dalam imanku. Jangan halangkan nasibmu, bangkitlah hai bangsaku. Pusaka hati wahai tanah airku, Cintaku dalam imanku, jangan halangkan nasibmu, bangkitlah hai bangsaku, Indonesia negriku engkau panji martabatku. Siapa datang mengancammu, kan binasa di bawah durimu. (Muchlishon Rochmat/Abdullah Alawi)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG