IMG-LOGO
Trending Now:
Nasional

Guru Besar UIN Malang Nilai Mahasiswa ‘Sarungan’ itu Cerdas-cerdas

Ahad 9 April 2017 16:0 WIB
Bagikan:
Guru Besar UIN Malang Nilai Mahasiswa ‘Sarungan’ itu Cerdas-cerdas
Imam Suprayoga (kiri)
Jakarta, NU Online
Guru Besar UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Imam Suprayoga mengatakan, mahasiswa yang menerapkan pola pesantren termasuk memakai sarung dan menghafal Al-Qur’an memiliki kecerdasan di atas mahasiswa pada umumnya. Kecerdasan tersebut membuahkan prestasi, di antaranya dalam perolehan IPK, kemampuan berbahasa, dan kemampuan dalam menyusun skripsi.

“Saya masih ingat pertama kali mahasiswa yang diberi hafalan Al-Quran dan hafal 30 juz ternyata mahasiswa dari jurusan Fisika. Tahun berikutnya yang terbaik dari jurusan Matamatika hafal 30 juz. Tahun berikutnya mahasiswa Matematika lagi, kemudian mahasiswa jurusan Ekonomi hafal 30 juz, bahkan skripsinya ditulis dalam bahasa Arab,” katanya saat mengisi Seminar Sarung Nasional bertema “Sarung sebagai Identitas Budaya Indoneia” yang diselenggarakan Lembaga Takmir Masjid (LTM) PBNU di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Kamis (6/4) lalu.

Selain berprestasi hafal Al-Qur’an dan nilai indeks prestasi kumulatif (IPK) yang tinggi, ada juga mahasiswa  yang menulis skripsi dengan sembilan bahasa, yaitu Bahasa Korea, Mandarin, Inggris, Jepang, Arab, Rusia, Indonesia, Jawa, dan Bahasa Banyuwangi. Sehingga pihak kampus sampai kesulitan mencari penguji.

“Ternyata memang luar biasa anak pesantren kalau dipelihara kok bisa menulis skripsi sembilan bahasa. Ya memang satu. Tetapi satu ini perlu disampaikan, alumni pesantren yang sarungan itu loh, jadi sarungan juga hebat loh,”  ungkapnya disambut tepuk tangan hadirin.

Dari berbagai prestasi tersebut, Imam lalu membuka kesempatan kepada para mahasiswa yang hafal Al-Qur’an minimal 10 juz untuk dibebaskan seluruh biaya pendidikanya.

“Saya pikir waktu itu yang bisa hafal Al-Qur’an antara 10 sampai 15 mahasiswa. Ternyata waktu itu sudah 70 dan pernah mencapai 150 mahasiswa,” kata Imam. Kembali ucapannya disambut tepukan riuh hadirin.

Pada kesempatan tersebut hadir pula sejarawan yang juga Ketua Lesbumi KH Agus Sunyoto, Bupati Purwakarta Dedy Mulyadi; Direktur Industri Tekstil, Kulit, Alas Kaki, dan Aneka Muhdori; dan Ahmad Nusolahardo dari Behaestex.

Ketua LTM PBNU KH Mansur Sairozy mengatakan, seminar sarung merupakan langkah awal dari rencana besar festival sarung yang akan dilangsungkan dalam waktu dekat. Ia menegaskan LTM PBNU terus menerus melakukan upaya inovasi dalam rangka makmurkan rumah Allah yakni masjid dan musala. (Husni Sahal/Kendi Setiawan/Mahbib)

Bagikan:
Ahad 9 April 2017 23:42 WIB
Jika Jokowi Kasih Sepeda, Menpora Tradisikan Bagi Bola
Jika Jokowi Kasih Sepeda, Menpora Tradisikan Bagi Bola
Tegal, NU Online
Kebiasaan memberi pertanyaan dan yang benar akan mendapat hadiah bola tampaknya menjadi tradisi baru Menpora Imam Nahrawi ketika melakukan kunjungan kerja (kunker) ke tiap daerah. Pemandangan itu terlihat seperti ketika memberikan kuliah umum STAI Bakti Negara (STAIBN) Tegal dan menyerahkan trophy Juara Umum Porsema NU ke-10 di Pondok Pesantren Al Adalah, Padasari Jatinegara, Tegal.
 
Saat memberikan kuliah umum di STAIBN, Ahad (9/4), Menpora sebelum membagikan bola menceritakan sedikit perjalanan hidupnya ketika masih menjalani masa-masa kuliah. Menurut menteri asal Bangkalan Madura ini, setiap mahasiswa dan mahasiwi harus berani bermimpi setinggi mungkin dalam hal apapun. Namun mimpi tersebut harus diiringi dengan kerja keras. 
 
"Saya dulu tidak pernah bermimpi untuk menjadi menteri, namun mimpi saya ketika kuliah adalah menjadi orang yang bermanfaat bagi masyarakat. Sebagai mahasiswa saya dulu selain kuliah juga menjadi jasa penulis kaligrafi dan alhamdulilah dari hasil tersebut bisa membiayai saya hingga lulus sekolah. Jadi pesan saya teruslah bekerja keras untuk menggapai mimpi mu," kata Menpora. 
 
Usai menceritakan singkat perjalanan hidupnya ketika masa kuliah, Menpora langsung membuka tanya-jawab dengan mahasiswa, dan yang bisa menjawab pertanyaan langsung mendapatkan bola. "Ayo siapa yang bisa menjawab pertanyaan dari pembicara, nanti yang benar akan mendapatkan bola," kata Menpora. Salah satu pembicara pun melemparkan pertanyaan, dari kampus manakah Menpora berasal..?. Pertanyaan tersebut langsung di jawab salah satu mahasiswa. "Pak Menpora berasal dari IAIN Sunan Ampel Surabaya," jawab salah satu mahasiswa dan jawaban itu benar.                    
 
Pemandangan yang sama juga ditunjukkan Menpora ketika mengunjungi Pondok Pesantren Al Adalah, Padasari Jatinegara, Tegal. Kepada salah satu anak kecil dari ponpes tersebut, Menpora memberikan pertanyaan yakni, siapakah pendiri Nahdlatul Ulama..? tanya Menpora. Dengan cerdas anak tersebut langsung menjawab KH Hasyim Al Asy'ari. Karena jawaban tersebut benar, anak tersebut langsung mendapat bola dari Menpora dan sambutan tepuk tangan dari masayarakat. 
 
Tradisi bagi-bagi bola tersebut tampaknya menjadi tradisi baru yang dilakukan Menpora untuk memotivasi  masyarakat yang ada di daerah untuk berolahraga. "Kalau bisa bola ini dibuat berolahraga ya, meskipun lapangannya belum maksimal, namun jangan memupuskan semangat untuk berolahraga ya," pesan Menpora. (Red-Zulfa)
Ahad 9 April 2017 20:10 WIB
Inilah Maklumat PWNU Jatim dalam Istighotsah Kubro
Inilah Maklumat PWNU Jatim dalam Istighotsah Kubro
Sidoarjo, NU Online
Istighotsah Kubro PWNU Jatim yang diselenggarakan di Stadion Gelora Delta, Sidoarjo Jawa Timur salah satunya mengeluarkan maklumat  yang dibacakan oleh Wakil Rais Syuriah PWNU Jatim, KH Anwar Iskandar. Berikut makmulat yang terdiri dari lima poin.

Pertama, menjaga agama dari hal-hal yang bisa merusak baik dari agama sebagaimana ulama zaman dahulu menyebarkan Islam yang damai dan teduh.

Kedua, menjaga NKRI dari segala hal yang bisa merusak dari sisi manapun.

Ketiga, menjaga amanah seraya menegakkan keadilan sosial pemimpin agama, politik, masyarakat dan lain-lain, agar tidak terjadi kesenjangan sosial yang semakin parah sehingga menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah.

Keempat, menjaga umat dari kebangkrutan rakyat dan masalah sosial, dan agama agar berharga di mata masyarakat dan Allah SWT.

Kelima, menjaga persatuan dan kesatuan Indonesia dengan cara menjaga kedamain ketentraman dan keamanan, tidak cepat emosi dengan bermuhasabah atau introspeksi diri dan kesadaran kalau selalu dilihat Allah dan selalu bermunajat.

KH Anwar Iskandar menegaskan bahwa maklumat tersebut hendaknya dilaksanakan oleh seluruh warga NU di Jatim agar kondisi basis warga NU ini tetap kondusif.

"Maklumat ini adalah renungan dari para kyai NU atas keadaan masyarakat dan umat di Jatim dan Indonesia saat ini," ujar KH Anwar Iskandar, Ahad (9/4). Red: Mukafi Niam
Ahad 9 April 2017 17:30 WIB
Gus Ali: Istighotsah Bukan Sekadar Wirid dan Dzikir
Gus Ali: Istighotsah Bukan Sekadar Wirid dan Dzikir
Sidoarjo, NU Online
Pengasuh Pondok Pesantren Bumi Shalawat Progresif Sidoarjo KH Agoes Ali Masyhuri mengatakan, doa adalah tiang agama, penerang langit dan bumi. Jika umat ini mempunyai khazanah spiritual yang diwujudkan dengan doa, insyaallah solusi dari Allah akan turun, bencana akan diangkat. Karena senjata orang mukmin adalah doa.

Apabila seseorang mau berdoa, lanjut kiai yang akrab disapa Gus Ali ini, hal itu menunjukkan bahwa tiang-tiang agama yang di ada hati orang tersebut masih berdiri tegak. Semakin kuat keimanan seseorang, semakin kuat istiqamah dalam berdoa. Itulah kekayaan bangsa Indonesia yang sulit ditandingi bangsa-bangsa lain.
 
"Kita banyak mengalami ketimpangan, bencana melanda di mana-mana, tapi di sisi lain, manusia mempunyai hubungan vertikal yang kuat kepada Allah, sehingga di sana banyak rentetan jalan keluar dan keberkahan senantiasa diberikan kepada manusia," kata Gus Ali saat memberikan keterangan kepada awak media usai istighotsah kubro, di stadion Gelora Delta Sidoarjo, Sidoarjo, Jawa Timur, Ahad (9/4).
 
Gus Ali berharap, melalui momen istighotsah ini mampu menjadi sebuah langkah cerdas dan positif bagi siapa pun yang hadir dan menyaksikan bahwa kekuatan doa dan kekuatan umat Islam tidak bisa dipandang sebelah mata. Jaya dan tidaknya Republik Indonesia, katanya, sangat ditentukan dengan jaya dan tidaknya Islam di Indonesia. Jaya dan tidaknya Islam di Indonesia sangat ditentukan dengan jaya atau tidaknya Nahdlatul Ulama.
 
"Kalau di Indonesia ini saya contohkan seperti bus, penumpang terbesar adalah umat Islam. Bila bus ini berjalan lancar dan aman, yang menikmati adalah umat Islam. Apabila bus ini jalannya oleng sampai nabrak dan terbakar, korban terbesar adalah umat Islam dan korban kedua adalah jamiyah Nahdlatul Ulama," katanya.
 
Gus Ali menyatakan bahwa kegiatan istighotsah ini jangan dipandang sekadar wirid dan dzikir. Akan tetapi sebuah upaya merangkul umat, menyatukan umat dalam satu barisan mengawal NKRI agar tetap utuh, mengawal ukhuwah wathaniyah (persaudaraan kebangsaan), basyariyah (persaudaraan kemanusiaan), nahdlyiyah (persaudaraan ke-NU-an), dan Islamiyah (persaudaraan keislaman). Semuanya itu tetap dikawal dengan semangat, gairah dan kesadaran baru. (Moh Kholidun/Mahbib)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG