IMG-LOGO
Pustaka

Islam Cinta di Zaman Kacau

Jumat 14 April 2017 4:1 WIB
Bagikan:
Islam Cinta di Zaman Kacau
Buku yang bertajuk Islam Tuhan Islam Manusia ini terbagi  menjadi empat bagian pertama; masalah umat manusia dan umat Islam,  bisa dikatakan saat ini kita berada di zaman kacau, karena semua orang menjadi ahli di berbagai bidang. Padahal mereka tanpa keahliahan yang mumpuni. Tak jarang mereka produksi informasi-informasi bohong dengan mudahnya menyebarkannya kemasyarakat luas. Kadang melalui facebook dan website/blog, yang bisa dibuat dengan instan, lebih mudah lagi melalui WA broadcast, aku twitter dan sebgaianya. (hal 36).

Selanjutnya Khazanah Pemikiran Islam, sebagai sumber bagi pemecahan masalah, sebab posisi akal dalam Islam, sehingga al-Quran menggunakan berbagai derivasi dari kata ini, secara berulang-ulang. Belum lagi sinonim atau kata kata yang terkait dengannya. Sedimikian sehingga hadis dengan tegas menyatakan,”Tak ada agama bagi orang yang tak punya (menggunakan) akal.” (hal 71)

Karena itu, sudah sewajarnya agama ditafsirkan sejalan dengan kepentingan perkembangan manusia dari zaman ke zaman. Tanpa itu semua, agama akan kehilangan relevansinya dan tak lagi memiliki dampak bagi kehidupan umat manusia.

Melalui Buku Islam Tuhan, Islam Manusia; Agama dan Spiritualitas di Zaman Kacau,  Haidar Bagir berbicara tentang tafsir agamaserta bagaimana tafsir agama tersebut bisa menjawab kebutuhan manusia. Buku ini merupakan hasil perenungan Haidar Bagir dalam kurun satu dekade terakhir. Lewat sumber tulisan yang tersebar di berbagai  yang lebih dari 100 tulisan. (hal xxvii).

Sebagai orang beriman, kita yakin bahwa agama berasal dari Tuhan. Tapi, agama juga mengambil bentuk sebagai agama manusia, segera setelah dia berpindah dari khazanah ketuhanan kepada wilayah kemanusiaan. Artinya, manusia tidak pernah bisa bicara tentang agama kecuali dalam konteks manusia. Menyadari hal itu, maka seorang penganut agama mestinya tidak terkejut dan gagap untuk menerima kenyataan bahwa di kalangan agama yang sama terdapat begitu banyak perbedaan pendapat.

Selain itu agama diturunkan oleh Tuhan untuk manusia. Artinya, adalah suatu kesalahan jika kita mengembangkan pemahaman atas agama yang dilepaskan dari kebutuhan manusia.

Karena itu, sudah sewajarnya agama ditafsirkan sejalan dengan kepentingan perkembangan manusia dari zaman ke zaman. Tanpa itu semua, agama akan kehilangan relevansinya dan tak lagi memiliki dampak bagi kehidupan umat manusia.

Melalui buku bunga rampai ini Haidar Bagir menyerukan akan pentingnya mengembalikan spiritualitas dan cinta dalam kehidupan beragama. Sebab dengan cinta sajalah, agama Islam akan cepat berkembang dan akan lebih memanusiakan manusia.

Ajakan ini tentu tidak lepas dari makin menjamurnya faham dan tindakan radikal yang lahir dari (tafsir) agama. Sehingga dengan mudah ditemui fenomena saling mengkafirkan dan menyesatkan satu sama lain, bahkan dalam satu agama sendiri. Juga karena krisis yang mendera masyarakat seperti maraknya berita hoax yang menjadi pemicu berbagai konflik dan kesalahfahaman. 

Dengan mengembalikan cinta dan spiritualitas dalam ajaran Islam akan menyadarkan kita bagaimana membangun hubungan dengan sesama manusia, karena inti dari agama adalah akhlak (budi pekerti). Diluar agama-agama Timur yang memang dipandang sebagai agama berorientasi kasih-Islam pada analisi lebih dalam agama yang kental bernuansa spiritual (kerohanian) dan cinta. Aspek Islam yang satu ini diwakili oleh aliran tasawuh, yang sudah mapan sebagai aspek Islam sejak dini dalam sejarah doktrin agama ini. (hal. 228)

Dapat disimpulkan apabila Islam yang mengedapkan cinta dapat memberikan ketenangan dan kedamaian di dunia yang sekarang sedang kacau oleh isu-isu sara yang dibuat-buat. Maka buku ini diharapkan sedikit mampu menjawab isu tersebut dan layak dibaca semua masyarakat umum. 
 
Identitas buku 
Judul : Islam Tuhan Islam Manusia
Penulis : Haidar Bagir
Penerbit: Mizan
Cetakan : I, Maret  2017 
Tebal : 288 hlm
ISBN : 978-602-441-016-2
Peresensi: Niam At-Majha, Pengurus Lakpesdam NU Pati.

Bagikan:
Kamis 13 April 2017 17:15 WIB
Kitab Fiqih Manasik Berbahasa Sunda Karya KH Ma’mun Nawawi Cibarusah
Kitab Fiqih Manasik Berbahasa Sunda Karya KH Ma’mun Nawawi Cibarusah
Ini adalah halaman sampul dan halaman pembuka dari kitab “I’ânatun Nâsik fî Bayânil Manâsik” karangan seorang ulama Nusantara dari Cibogo, Cibarusah (Bogor—Bekasi), yaitu Ajengan Raden Ma’mun Nawawi bin Anwar (dikenal dengan Mama Cibogo atau Mama Cibarusah, w. 1395 H/ 1975 M).

Sang pengarang, yaitu KH. Raden Ma’mun Nawawi, adalah murid langsung dari para ulama besar Ahlussunnah Nusantara generasi awal abad ke-20 M, yaitu Hadratussyekh KH. Hasyim Asy’ari (Jombang), Syekh Manshur ibn Abdul Hamid (dikenal dengan Guru Mansur Betawi), Syekh Muhammad Bakri ibn Sayyida (dikenal dengan Ajengan Sempur, Purwakarta), dan Syekh Mukhtar ‘Athârid al-Bûghûrî tsumma al-Makkî (ulama besar Makkah asal Bogor).

Kitab “I’ânatun Nâsik” berisi kajian tentang fiqih manasik ibadah haji dan umroh secara lengkap dan komprehensif, termasuk menyinggung sedikit perbedaan hukum-hukum manasik haji menurut empat madzhab. Kitab ini ditulis dalam bahasa Sunda beraksara Arab (dikenal dengan remyak atau pegon).

Dalam kolofon, didapati keterangan jika kitab ini diselesaikan di Cibarusah, pada 27 Muharram tahun 1374 Hijri (bertepatan dengan 25 September 1954 Masehi). Kitab ini kemudian dicetak oleh penerbit “al-Barokah” Bogor (tanpa tahun cetak). Versi cetakan kitab ini bertebal 91 halaman. Saya mendapatkan naskah kitab ini dari penerbitnya langsung yang juga sebuah kedai kitab di kawasan Pasar Anyar, dekat Stasiun Bogor, pada bulan Oktober tahun lalu (2016).

Dalam kata pengantarnya, KH. Ma’mun Nawawi mengatakan bahwa penulisan karya ini dilakukan karena adanya desakan dari beberapa kolega untuk tersedianya sebuah buku (kitab) yang dapat dijadikan panduan umat Muslim Sunda dalam permasalahan tata cara manasik ibadah haji dan umrah secara detail. Pengarang pun memenuhi permintaan tersebut dengan menuliskan karya ini.

Sebagaimana yang ditulis oleh pengarang;

أما بعد. مك عنديكا همب أنو كجدا ضعيفنا رادين حج مأمون نووي السباغوي غفر الله له ذنوبه والمساوي، كوتنا سريغنا ساببراها دو2لوران انو ككه كاسم كوريغ هياغ دفغنولسكن مناسك سرغ انو فتالي كاديا على مذهب الشافعي كلوان بهاس سوندا

(Ammâ ba’du. Maka ngendika hamba anu kacida doipna Raden Haji Ma’mun Nawawi Cibogo, pamugi Allah ngahampura kana dosa-dosa manehna jeung kana kalepatana. Ku tina seringna sababaraha dulur-duluran anu keukeuh ka simkuring hayang dipangnuliskeun manasik sareng anu patali ka dinya kalayan Madzhab Syafi’i kalawan Bahasa Sunda// Maka berkatalah hamba yang sangat lemah, Raden haji Ma’mun Nawawi dari Cibogo, semoga Allah mengampuni dosa-dosanya dan kesalahannya. Oleh karena seringnya beberapa saudara yang bersikeras meminta saya untuk dibuatkan sebuah risalah tentang manasik haji dan umrah dan hal-hal yang berkaitan dengannya dalam fiqih madzhab Syafi’i dalam bahasa Sunda …)

Dalam redaksi selanjutnya, dikatakan oleh KH. Ma’mun Nawawi bahwa dalam upaya penyusunan kitab manasik ini, beliau hanya mengutip dari beberapa kitab rujukan fiqih madzhab Syafi’i, tanpa melakukan penambahan di dalamnya. Sayangnya, kitab-kitab apa saja yang dijadikan rujukan di sini tidak disebutkan secara terperinci.

Pengarang kitab ini,yaitu KH. Raden Ma’mun Nawawi Cibarusah, sebagaimana telah disinggung di atas, adalah murid langsung dari para ulama besar Ahlussunnah Nusantara generasi awal abad ke-20 M. beliau dilahirkan di Cibogo, Cibarusah (perbatasan Bogor—Bekasi) pada tahun 1334 H/ 1915 M. ayahnya bernama KH. Raden Anwar, seorang ulama besar Pasundan dari Cibarusah.

Setelah mendapatkan tempaan pendidikan dari ayahnya sendiri, pada tahun 1930 (ketika berusia 15 tahun), Ma’mun Nawawi kemudian belajar kepada KH. Tubagus Bakri di Sempur, Plered, Purwakarta, yang kelak menjadi mertuanya. Di sana beliau belajar selama 7 tahun lamanya. Beliau kemudian pergi ke Makkah untuk melaksanakan ibadah haji sekaligus bermujawarah di sana selama dua tahun (1937-1939). Di Tanah Suci, KH. Ma’mun Nawawi belajar kepada ulama-ulama besar Makkah.

Di antara guru-guru beliau di Makkah adalah Syekh Mukhtâr ‘Athârid al-Bûghûrî al-Jâwî tsumma al-Makkî, seorang ulama besar hadits di Masjidil Haram asal Bogor, juga kepada Syekh Bâqir ibn Nûr al-Jukjâwî tsumma al-Makkî, , seorang ulama besar di Masjidil Haram asal Yogyakarta. Selain kepada keduanya, KH. Ma’mun Nawawi juga belajar kepada Sayyid ‘Alawî ibn ‘Abd al-‘Azîz al-Mâlikî al-Makkî, Syekh ‘Umar Hamdan al-Mahrasî, dan lain-lain.

Pada tahun 1939, KH. Ma’mun Nawawi pulang ke Cibarusah. Sang ayah, KH. Raden Anwar, menyuruh Ma’mun Nawawi untuk pergi ke Jawa Timur dan belajar kepada beberapa ulama di sana. Beliau pun belajar kepada Hadratus Syekh KH. Hasyim Asy’ari di Tebu Ireng (Jombang) dan Syekh Muhammad Ihsan Dahlan (Jampes, Kediri). KH. Ma’mun Nawawi juga belajar lagi kepada KH. Manshur Abdul Hamid di Batavia (Guru Mansur Betawi).

Setahun kemudian, yaitu pada tahun 1940, KH. Ma’mun Nawawi mendirikan pesantren “al-Baqiyatus Solihat” di kampung halamannya di Cibogo, Cibarusah. Pesantren tersebut pun segera berkembang menjadi salah satu pusat keilmuan Islam yang besar. Jumlah pelajarnya mencapai ribuan.

Ketika terjadi revolusi kemerdekaan Republik Indonesia tahun 1945, KH. Ma’mun Nawawi Cibarusah, bersama-sama dengan KH. Noer Ali Bekasi (pendiri Pesantren At-Taqwa Bekasi) dan KH. Raden Abdullah bin Nuh Cianjur (pendiri pesantren al-Ihya Bogor), atas perintah guru mereka Hadratus Syekh KH. Hasyim Asy’ari, keduanya pun membentuk dan memimpin Laskar Hizbullah (tentara perjuangan kemerdekaan RI berbasis pesantren) region Krawang-Bekasi-Bogor dan sekitarnya. Pesantren Cibarusah pun menjadi markas utama pelatihan militer bagi ribuan Laskar Hizbullah.

Selain dikenal sebagai ulama pejuang, KH. Ma’mun Nawawi juga dikenal sebagai ulama yang produktif melahirkan karya tulis. Upaya ini meneruskan ikhtiar yang telah dilakukan oleh mertua beliau, yaitu KH. Tubagus Bakri Sempur Purwakarta, yang juga produktif menulis kitab. Kebanyakan karya KH. Ma’mun Nawawi ditulis dalam bahasa Sunda beraksara Arab, dalam pelbagai bidang keilmuan Islam.

Di antara karya-karya beliau adalah; (1) I’ânatun Nâsik fî Bayânil Manâsik, (2) al-Taisîr fî ‘Ilmil Falak, (3) Bahjatul Wudlûh, (4) Hikâyatul Mutaqaddimîn, (5) Îdlâtul Mubhamât, (6) Risâlatuz Zakâh, (7) Kasyful Humûm wa al-Ghumûm, dan lain-lain.

KH Ma’mun Nawawi wafat di Cibarusah pada bulan Muharram 1395 Hijri (bertepatan dengan Februari 1975 M). Pesantren Cibarusah kini diampu oleh putra beliau, yaitu KH Raden Jamaluddin Ma’mun. Ilâ rûh KH Ma’mun Nawawi, al-Fâtihah. (A. Ginanjar Sya’ban)

Rabu 12 April 2017 8:54 WIB
Kitab Teologi-Yurisprudensi-Tasawuf Karya Syekh Saleh Rawa
Kitab Teologi-Yurisprudensi-Tasawuf Karya Syekh Saleh Rawa
Ini adalah halaman sampul dan halaman terakhir dari kitab “Bidâyatul Mubtadî wa ‘Umdatul Awlâdi” karangan seorang ulama Nusantara asal Rawa (Rao, Minangkabau) yang hidup dan berkarir di Makkah pada akhir abad ke-18 M dan awal abad ke-19 M, yaitu Syekh Muhammad Shâlih Râwah (dikenal dengan Syekh Saleh Rawa atau Syekh Saleh Rao, w. 1272 H/ 1856 M).

Kitab “Bidâyatul Mubtadî wa ‘Umdatul Awlâdi” berisi ringkasan kajian akan tiga ilmu paling prinsip dan pokok dalam ajaran agama Islam, yaitu ilmu tauhid (teologi), ilmu fikih (yurisprudensi), dan ilmu tasawuf (esoterisme Islam). Kitab ini ditulis dalam bahasa Melayu beraksara Arab (Jawi).

Pada halaman depan kitab ini, nama pengarang tidak dicantumkan. Di sana hanya tertulis judul kitab dan sub-judulnya saja, sekaligus keterangan jika nama pengarang tidak mau disebutkan karena “tidak ingin riya dan menjaga diri”.

Keterangan jika kitab “Bidâyatul Mubtadî wa ‘Umdatul Awlâdi” adalah karya Syikh Saleh Rawa didapati pada halaman terakhir kitab ini, tepatnya pada kolom editor (pentashih) pada versi cetakan Maktabah Musthafâ al-Bâbî al-Halabî, Kairo, pada tahun 1374 Hijri/ 1955 Masehi (setebal 38 halaman). Tertulis di sana;

فقد تم بحمد الله تعالى طبع كتاب بداية المبتدى وعمدة الأولاد للعلامة الفاضل الشيخ صالح الجاوي في العقائد وما يلزم الإنسان من أعمال الشريعة التي تنصلح بها القلوب ويزول عنها الفساد مترجما باللغة الجاوية نشرا للشريعة الغراء في تلك الأرجاء

(Telah selesai seraya memuji Allah Ta’ala, proses pencetakan kitab “Bidâyatul Mubtadî wa ‘Umdatul Awlâdi” karangan al-‘Allâmah al-Fâdhil Syekh Shâlih al-Jâwî, dalam menerangkan masalah-masalah tauhid dan hal-hal yang diharuskan bagi manusia mengetahuinya daripada perkara syari’at yang dapat memperbaiki hati dan menghilangkan kerusakan. Karya ini ditulis dalam bahasa Jawi [Melayu] dalam rangka menyebarkan ajaran agama Islam di seluruh wilayah negeri Jawi itu).

Dalam kata pengantarnya, Syekh Saleh Rawa mengatakan jika kitab ini merupakan sebuah risalah kecil yang ringkas, yang menghimpun kajian atas perkara-perkara yang harus diketahui oleh setiap Muslim yang mukallaf, dari ilmu tauhid dan fikih. Beliau menulis;

أما بعد. فهذا تعليق لطيف فيما لابد للمكلف معرفته ومعرفة مثله من عقائد الإيمان وأحكام عبادة الرحمن. وسميته بداية المبتدى وعمدة الأولاد

(Ammâ ba’du. Maka ini adalah sebuah catatan yang lembut, yang menerangkan hal-hal yang harus diketahui oleh setiap Muslim yang mukallaf, daripada masalah-masalah akidah keimanan dan masalah-masalah hukum ibadah. Aku namakan karya ini dengan “Bidâyatul Mubtadî wa ’Umdatul Awlâdi”).

Dalam kolofon, dikatakan bahwa kitab ini diselesaikan oleh pengarangnya pada waktu pagi hari Ahmad, di awal bulan Jumadil Akhir tahun 1254 Hijri (bersamaan dengan bulan Agustus 1938 Masehi). Tertulis di sana;

وكان الفراغ من تسويد هذا البياض يوم الأحد المبارك وقت الصبح في غرة شهر جمادى الآخرة سنة أربع وخمسين ومائتين بعد الألف من الهجرة النبوية

(Dan telah selesai penulisan karya ini pada hari Ahad yang diberkati, di waktu pagi, pada awal bulan Jumadil Akhir tahun 1254 Hijri).

Pengarang kitab ini, yaitu Syekh Saleh Rawa, tidak banyak diketahui oleh para pengkaji sejarah keislaman di Nusantara dan literaturnya. Padahal, beliau adalah salah satu tokoh besar dalam sejarah dan jaringan intelektual ulama Nusantara—Timur Tengah di awal abad ke-19 M, meneruskan tongkat estafet generasi sebelumnya, yaitu generasi Syekh Abdul Shamad Palembang, Syekh Arsyad Banjar, Syekh Dauwd Pattani, dan Syekh Abdul Rahman Betawi.

Syekh Saleh Rawa satu generasi dengan Syekh Muhammad Azhari ibn Abdullah Palembang, Syekh Muhammad Ali ibn Abdul Rasyid Sumbawa, Syekh Isma’il al-Khalidi Minang, Syekh Abdul Ghani Bima, Syekh Ahmad Khatib Sambas, Syekh Idris Buton, Syekh Abdul Manan Dipamanggala (Tremas), Syekh Hasan Besari (Ponorogo), Syekh Abdul Hamid (Pangeran Diponegoro), dan lain-lain.

Biografi Syekh Saleh Rawa terlacak dalam beberapa kitab hagiografi (“tarâjim” dan “thabaqât”) ulama Makkah yang hidup di abad ke-13 Hijri (19 Masehi), seperti kitab “al-Mukhtashar min Nasyr al-Nûr wa al-Zuhr” karya Syekh Abdullâh Mirdâd (hal. 214), “A’lâmul Makkiyyîn” karya al-Mu’allimî (j. I/ hal. 450), “Fadh al-Malik al-Wahhâb al-Muta’âlî” karya ‘Abd al-Sattâr al-Dihlawî (hal. 706), dan “al-Mukhtashar al-Hâwî fî Tarâjim ‘Ulamâ Bilâd Jâwî” karya alfaqir (hal. 47).

Nama lengkap Syekh Saleh Rawa adalah Muhammad Shâlih Râwah ibn Muhammad Murîd al-Khalwatî al-Sammânî al-Râwî al-Jâwî. Beliau dilahirkan di Kampung Roa (Rawa, Sumatera Barat/ Minangkabau), namun tidak terlacak tarikh kelahirannya.

Beliau lalu pergi ke Makkah dan mermujawarah di sana. Di Kota Suci itu, beliau belajar kepada Syekh Daud Pattani, Syekh Abdul Shamad Palembang, dan Syekh Arsyad Banjar. Beliau juga belajar kepada Syekh Ahmad al-Marzûqî al-Dharir al-Makkî dan Syekh ‘Utsmân al-Dimyâthî al-Makkî. Setelah menempa masa pembelajaran yang cukup lama, beliau kemudian mendapatkan ijazah (lisensi) untuk mengajar di Masjidil Haram.

Syekh Saleh Rawa menulis beberapa karya, di antaranya; (1) “Bidâyatul Mubtadî” yang kita bicarakan ini, dan (2) “Fattul Mubîn” yang diselesaikan pada Zulhijjah tahun 1272 Hijri (Agustus 1856 Masehi). Beliau wafat di Makkah pada tahun 1272 H (1856 M) dan dikuburkan di Pemakaman Ma’la, Makkah. (A. Ginanjar Sya’ban)


Senin 10 April 2017 15:0 WIB
Fiqih Islam Berbahasa Melayu Karya Syaikh Dawud Pattani
Fiqih Islam Berbahasa Melayu Karya Syaikh Dawud Pattani
Ini adalah halaman sampul dari kitab “Sullamul Mubtadî fî Ma’rifah Tharîqatil-Muhtadî” karangan seorang ulama besar Nusantara dari Kesultanan Melayu Pattani (kini Thailand Selatan), yaitu Syaikh Dâwûd ibn ‘Abdullâh al-Fathânî (dikenal dengan Syaikh Dawud Pattanil, w. 1847 M).

Kitab “Sullamul Mubtadî” berisi kajian fiqih Islam bagian ibadah dan mu’amalah secara lengkap dan ringkas yang ditulis dalam bahasa Melayu beraksara Arab (Jawi). Saya mendapatkan versi cetak dari kitab ini edisi terbitan Maktabah Musthafâ al-Bâbî al-Halabî, Kairo, dengan tahun cetak 1354 Hijri (1935 Masehi), dengan tebal 52 halaman.

Kitab ini sangat populer keberadaannya di kawasan Melayu Semenanjung (kini Malaysia dan Thailand Selatan), serta di beberapa kawasan di Aceh, Palembang, Medan, dan sebagian kawasan Melayu Sumatra lainnya. Di beberapa pesantren dan instutusi pendidikan Islam di kawasan tersebut, kitab “Sullamul Mubtadî” masih lestari dikaji dan diajarkan hingga saat sekarang ini.

Dalam kata pengantarnya, Syaikh Dawud Pattani menjelaskan jika kitab ini ditulis untuk merangkum pengetahuan hukum Islam secara ringkas. Beliau menulis;

وبعد. فهذه رسالة صغيرة الحجم كثيرة الفوائد وعظيمة المنافع وكفاية لعوام المسلمين في معرفة ما أوجب عليهم من فروض العين. وسميتها سلم المبتدى في معرفة طريقة المهتدي

(Maka ini adalah sebuah risalah yang kecil ukurannya namun banyak faedahnya dan agung manfaatnya, sekaligus mencukupi bagi orang-orang awam dari umat Muslim untuk mengetahui apa-apa yang wajib atas mereka dari kewajiban-kewajiban agama. Aku menamakannya “Sullamul Mubtadî fî Ma’rifah Tharîqatil Muhtadî”).

Pada halaman sampul, judul kitab ini dilengkapi dengan sub-judul yang menegaskan jika isi kajian kitab ini berdasarkan manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja). Tertulis di sana: “Sullamul Mubtadî fî Ma’rifah Tharîqatil Muhtadî” … “Pada Bicara Ushûluddîn Atas Jalan Ahlussunnah wal Jamâ’ah dan Hukum Fiqih”.

Penegasan ini tampaknya perlu disampaikan oleh Syaikh Dawud Pattani, mengingat pada masa kitab ini ditulis, tengah muncul sebuah aliran baru dalam sejarah pemikiran Islam, yaitu kelompok Wahhabisme yang diprakarsai oleh Muhammad ibn ‘Abdul Wahhâb dari Nejd (w. 1793 M) yang berhaluan puritan dan berseberangan dengan ulama mayoritas (sawâd a’zham) yang berhaluan Ahlussunnah wal Jama’ah. Kelompok Wahhabisme tidak mengakui madzhab fiqih dalam Islam, cenderung mengkafirkan, membid’ahkan, dan memusyrikkan ajaran dan amalan kelompok Muslim lain yang tidak sealiran dengan mereka. Meski demikian, kelompok ini gemar mengusung jargon kamuflatif, yaitu “ajaran Sunnah, ajaran Salaf, ajaran Islam yang murni yang paling sesuai Alqur’an dan hadits”. Kelompok ini pada masa-masa awal kemunculannya mendapat reaksi penolakan dari jumhur ulama Muslim di hampir seluruh belahan dunia Islam.

Adapun isi kitab “Sullam al-Mubrtadî”, maka ia dibagi ke dalam satu (1) bab dan enam belas (16) kitab (sub-kajian). Satu bab tersebut mengkaji khusus tentang masalah keimanan (aqidah atau theology), sementara ke-16 sub-kajian tersebut mencakup; (1) hukum shalat, (2) hukum zakat, (3) hukum puasa, (4) hukum haji [nusuk], (5) hukum hewan sembelihan dan akekah, (6) hukum jual beli, (7) hukum waris dan wasiat, (8) hukum nikah, (9) hukum rujuk dan iddah, (10) hukum jinayat [pidana], (11) hukum hudud, (12) hukum jihad, (13) hukum pacuan kuda dan memanah, (14) hukum sumpah dan nazar, (15) hukum saksi dan kehakiman, dan (16) hukum membebaskan perbudakan.

Kitab “Sullam al-Muhtadî” ini kemudian di-syarh (penjelasan dan komentar) oleh cucu sang pengarang dari jalur ibu, yaitu Syaikh Muhammad Nûr ibn Muhammad ibn Ismâ’îl al-Fathhânî al-Makkî (dikenal dengan Syaikh Nur Pattani, w. 1363 H/ 1943 M). Syarh tersebut berjudul “Kifâyatul Muhtadî fî Syarhi Sullamil Mubtadî” yang ditulis di Makkah pada tahun 1351 H/ 1932 M.

Dalam kolofon, diterangkan bahwa kitab ini diselesaikan pada hari Senin, tanggal 13 Rajab tahun 1252 Hijri (bertepatan dengan 20 Oktober 1836 M). Melihat titimangsa ini, penulisan karya “Sullamul Mubtadî” menjadi estafet penerus penulisan kitab fiqih Islam dalam bahasa Melayu yang ditulis sebelumnya, yaitu “Sabîl al-Muhtadîn fî al-Tafaqquh bi Amr al-Dîn” karangan Syaikh Muhammad Arsyad Banjar (selesai ditulis pada tahun 1193 Hijri/ 1779 Masehi).

Syaikh Dawud Pattani menulis;

تله سمفرناله مقصود فقير الى الله تعالى داود عبد الله فطاني درفد مترجمهكن رسالة يغبرنما سلم المبتدى في بيان طريق المهتدى حامدا ومسلما على خاتم النبيين وسيد المرسلين محمد صلى الله عليه وسلم وشرف وجد وعظم فدهاري اثنين تيك بلس هاري بولن شوال الاصم فد هجرة نبي عليه أفضل الصلاة وأزكي التسليم سريب دوراتس ليم فوله دوا

(Telah sempurnalah maksud hamba yang fakir kepada Allah Ta’ala Dâwûd ibn ‘Abdullâh al-Fathânî daripada meterjemahkan risalah yang bernama “Sullamul Mubtadî fî Bayân Tharîqil-Muhtadî [ ………. ] pada hari Isnin 13 hari bulan Syawwal al-Asham pada Hijrah Nabi 1252).

Data kolofon di atas adalah data yang terdapat pada cetakan al-Halabi Kairo (1354 H/ 1935 M). Ketika saya membandingkan data ini dengan data yang terdapat pada versi cetakan al-Hidayah House, Kuala Lumpur (2012), tampaknya ada kesalahan penulisan nama bulan pada data versi cetaka al-Halabi Kairo tersebut. Yang benar, data seharusnya seharusnya adalah bulan “Rajab”, bukan “Syawwal”, karena (1) julukan “al-Asham” untuk bulan Hijri adalah “Rajab” dan bukan “Syawwal”, dan (2) ketika dilihat kalender Hijri pada 13 Syawwal 1252 Hijri, didapati harinya adalah “Jum’at”. Sementara Syaikh Dawud mengatakan selesai penulisannya hari “Senin”. Sementara tanggal 13 Rajab 1252 sama dengan hari “Senin”.

Pengarang kitab ini, yaitu Syaikh Dawud Pattani, tercatat sebagai ulama Nusantara dari Pattani terbesar sepanjang sejarahnya. Beliau lahir di Kampung Kerisik, Pattani, sebuah perkampungan tua yang dipercaya sebagai titik tolak berkembangnya agama Islam di wilayah itu. Syaikh Maulana Malik Ibrahim, salah satu tokoh Wali Songo dikabarkan lebih dulu berdakwah di Kerisik sebelum akhirnya pindah ke Gresik di Jawa Timur.

Tahun kelahiran Syaikh Dawud Pattani belum terlacak, tetapi diperkirakan pada paruh kedua abad ke-18 M. Jejak langkah dan pemikiran Syaikh Dawud mulai terlacak dengan jelas setelah beliau berada di Haramain (Makkah dan Madinah). Syaikh Dawud berada di Kota Suci itu satu angkatan (meski lebih yunior) dengan Syaikh Abdul Shamad Palembang, Syaikh Arsyad Banjar, Syaikh Nafis Banjar, dan Syaikh Abdul Rahman Betawi. Hanya saja, ketika nama-nama yang disebut itu kembali pulang ke Nusantara, Syaik Dawud Pattani tetap berada di Haramain dan mengajar di Masjidil Haram hingga akhir hayatnya.

Syaikh Dawud Pattani tercatat sangat produktif menulis. Di antara karya tulis beliau adalah; (1) Nahjur Râghibîn wa Subulul Muttaqîn, ditulis tahun 1234 H/ 1818 M, (2) Hidâyaul Muta’allimîn wa ‘Umdatul Mu’allimîn, ditulis tahun 1244 H/ 1828 M, (3) Fathul Mannân li Shafwah Zubad Ibn Ruslân, ditulis tahun 1249 H/ 1832 M, (4) Bughyah al-Thullâb yang merupakan ringkasan dari “Sabîlul Muhtadîn” karya Syaikh Arsyad Banjar, (5) Sullamul Mubtadî yang kita bicarakan ini, selesai ditulis tahun 1252 H/ 1836 M, (6) al-Jawâhirus Saniyyah, ditulis tahun 1252 H/ 1836 M, (7) Furû’ul Masâ’il wa Ushûlul Wasâ’il, ditulis tahun 1254 H/ 1838 M, dan lain-lain. Karya-karya Syaikh Dawud diterbitkan di Timur Tengah (Makkah dan Kairo) dan tentu saja di Nusantara (Pattani, Malaysia, dan Indonesia).

Syaikh Dawud wafat di Thaif pada 1264 H/ 1847 M. (A. Ginanjar Sya’ban)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG