IMG-LOGO
Pustaka

Fathur Rahim, Kitab Karya Sultan Idrus Buton

Ahad 16 April 2017 17:30 WIB
Bagikan:
Fathur Rahim, Kitab Karya Sultan Idrus Buton
Ini adalah gambar halaman sampul dari kitab “Fathur Rahîm fî Tauhîd Rabbil ‘Arsyil ‘Adhîm”, dalam versi manuskrip (makhthûth) dan versi edisi teksnya (muhaqqaq), karangan seorang ulama besar Nusantara yang juga Sultan Buton ke-28, yaitu Syekh Muhammad ‘Idrûs ibn Syekh Badr al-Dîn al-Buthûnî, (dikenal dengan Syekh Idrus Buton, w. 1851 M).

Kitab “Fathur Rahîm” menghimpun kajian intisari ajaran agama Islam, mulai dari ajaran tauhid, fiqih, dan tasawuf, termasuk di dalamnya adalah adab berzikir, keutamaan bacaan-bacaan zikir, keutamaan membaca shalawat atas Nabi Muhammad, keutamaan ilmu pengetahuan, para ulama, para penuntutnya, dan orang-orang yang hidup dalam kecintaan atas ilmu.

Syekh Idrus Buton menulis dalam kata pengantarnya;

فيقول العبد الفقير الحقير المعترف بالذنب والتقصير محمد عيدروس قائم الدين بن الفقير بدر الدين البطوني، غفر الله له ولوالديه ولمشايخه ولجميع المسلمين. هذا مختصر في علم العقيدة من أركان الإيمان والإسلام، وفي فضل كلمة الحسنى وغيرها، وآداب الذكر بذلك من مشايخي العظام، وفي فضل الإكثار بالصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم، في كل وقت من الأوقات في الليالي والأيام، وفي فضل العلم والعلماء والمتعلمين والمحبين لهم كلهم أهل الفضل والاحترام, وسميته فتح الرحيم في توحيد رب العرش العظيم.

(Maka berkatalah seorang hamba yang fakir nan hina, yang mengakui akan segala dosa dan kesalahan, Muhammad Idrus Qâimuddîn putra dari [Sultan] Badruddîn dari Buton, semoga Allah berkenan mengampuninya, kedua orang tuanya, guru-gurunya, dan semua orang Muslim. [Ammâ ba’du]. Ini adalah sebuah ringkasan dalam ilmu akidah, dari rukun-rukun iman dan islam, juga dalam menerangkan keutamaan kalimat-kalimat dzikir yang indah dan lainnya, adab berzikir yang aku dapatkan dari para guruku yang agung, juga dalam menerangkan keutamaan memperbanyak bersalawat kepada Nabi Muhammad SAW di setiap masa di siang dan malam, juga dalam menerangkan keutamaan ilmu, para ulama, para penuntut, dan orang-orang yang mencintai ilmu dan ahlinya …)

Manuskrip kitab ini sekarang tersimpan di Buton dan menjadi koleksi Abdul Mulku Zahari Buton (lihat “Katalog Naskah Buton Koleksi Abdul Mulku Zahari”, disunting oleh Achadiati Ikram dkk dan diterbitkan oleh Manassa-YOI di Jakarta pada tahun 2002). Manuskrip ini kemudian didigitalisasi oleh British Library dan menjadi koleksi digital perpustakan tersebut dengan nomor kode EAP212/2/8.

Manuskrip kitab “Fathur Rahîm” tersebut kemudian ditahqiq oleh al-Fadhil al-Muhaqqiq Abu Sabiq Supriyanto Kudus pada tahun 2016 silam. Jumlah keseluruhan kitab “Fathur Rahîm” versi manuskrip setebal 20 halaman, dan dalam versi tahqiqan menjadi 57 halaman, termasuk di dalamnya pengantar pentahqiq dan biografi Syekh Idrus Buton.

Tidak ada kolofon yang menginformasikan kapan dan dimana karya ini diselesaikan. Namun kemungkinan besar karya ini ditulis di Buton, pada rentang kurun masa antara tahun 1824—1851 M. Rentang waktu tersebut merupakan masa menjabatnya Syekh Idrus sebagai Sultan Buton ke-28. Ini baru sebatas pengandaian, bisa jadi titimangsa penulisan karya ini adalah sebelum masa tersebut.

Syekh Sultan Idrus Buton diperkirakan lahir pada tahun 1784 M. Perkiraan ini menimbang ketika dilantik sebagai Sultan Buton ke-28, Syekh Idrus berusia 40 tahun. Ayah beliau adalah Sultan Badruddîn, Sultan Buton ke-27. Sementara kakeknya adalah Sultan Qôimuddîn al-Kabîr, yang merupakan Sultan Buton ke-24.

Idrus kecil tumbuh dalam lingkungan aristokrasi istana Kesultanan Buton, sekaligus dalam lingkungan ilmu pengetahuan dan keislaman yang kental. Pada lingkungan keluarganya itu, dan di Madrasah Kesultanan Buton, Idrus kecil telah menghafal Al-Qur’an sejak kecil dan belajar ilmu-ilmu keislaman dasar.

Hingga paruh kedua abad ke-19 M, Kesultanan Buton tercatat sebagai salah satu kekuatan politik dan ekonomi terbesar di wilayah timur kepulauan Nusantara, selain Kesultanan Ternate dan Tidore, Kesultanan Bone, Kesultanan Bacan, Kesultanan Banjar, Kesultanan Sulu, termasuk kesultanan-kesultanan di kepulauan Sunda Kecil (Nusa Tenggara), seperti Kesultanan Bima, Kesultanan Sumbawa, dan lain-lain.

Ketika masih menjadi pengaran, Idris Buton diamanahi ayahandanya untuk menjadi pemimpin pasukan Kesultanan Buton dalam sebuah perang laut besar di perairan Buton, melawan para perompak dan bajak laut. Pada perang naval tersebut, Pangeran Idris Buton membuktikan kecakapannya sebagai pemimpin, dan pasukannya berhasil mengahalkan sekelompok perompak dan bajak laut tersebut.

Pada tahun 1824, Syekh Idrus dilantik sebagai Sultan Buton ke-28 menggantikan ayahandanya. Beliau pun menyandang gelar Sultan Qôimuddîn Muhammad Idrus ibn Sultan Badruddîn ibn Sultan Qôimuddîn al-Kabir. Beliau menjadi Sultan Buton hingga wafat pada tahun 1851.

Ada banyak proyek reformasi yang dilakukan oleh Sultan Idrus Buton ketika memimpin kesultanan, di antaranya adalah mereformasi undang-undang system tata negara kesultanannya. Selain itu, Sultan Idris Buton juga dikenal sebagai penguasa yang mencintai ilmu pengetahuan, menegakkan hukum dengan adil, mencintai rakyatnya, dan menghormati ulama. Beliau juga dikenal sebagai figure sultan yang ulama, dan ulama yang sultan. Kecenderungan keilmuan sang sultan adalah fiqih dan tasawuf.

Di antara guru-guru utama Syekh Idrus Buton adalah kakeknya sendiri, yaitu Syekh Sultan Qôimuddîn al-Kabîr (w. 1788), juga Syekh Muhammad Sunbul al-Makkî (w. ?), seorang ulama besar Makkah yang datang ke Kesultanan Buton dan mengajar di sana.

Besar kemungkinan Syekh Idrus Buton juga menjadi murid Syekh ‘Abd al-Shamad ibn ‘Abd al-Rahmân al-Jâwî al-Falambânî (dikenal dengan Syekh Abdul Shamad Palembang, w. 1832), kutub utama Nusantara pada zamannya. Hal ini diindikasikan dari banyaknya koleksi kitab-kitab karangan Syekh Abdul Shamad Palembang yang menjadi bacaan dan milik Syekh Idrus Buton.

Genealogi intelektual dan transmisi keilmuan (sanad) Syekh Idrus Buton juga menyambung kepada Syekh Muhammad ibn ‘Abd al-Karîm Sammân al-Madanî (w. 1775), guru utama Syekh Abdul Shamad Palembang, lewat jalur Syekh Muhammad ibn Sumbul al-Makkî.

Sanad keilmuan Syekh dari Idris Buton tersebut tergambar sebagai berikut; Syekh Idris Buton dari Syekh Muhammmad ibn ‘Abd al-Karîm dari Syekh Muhammad Sumbul al-Makkî dari Syekh ‘Abd dari Syekh Musthafâ ibn Kamâluddîn al-Bakrî dari Sammân al-Madanî dari Syekh ‘Alî Effendî dari Syekh Musthafâ Effendî al-Adrânarî dari al-Lathîf dari Syekh dari Syekh ‘Umar al-Fuâdî dari Syekh Ismâ’îl al-Jarûnî dari al-Qarâbisyî dari Syekh dari Syekh Halabî al-Sulthânî al-Aqrânî dari Khalîluddîn al-Tawaqqu’î dari Syekh dari Syekh Abû Zakariyyâ al-Syirwanî dari Muhammad al-Anjânî dari Syekh ‘Umar dari Syekh Marâm al-Khalwatî dari Syekh ‘Izzuddîn dari Shadaruddîn dari Syekh Abû Ishâq Ibrâhîm dari Syekh Akhâ Muhammad al-Bilsî dari al-Khalwatî dari Syekh Syihâbuyddîn dari Syekh Rukdunnîn al-Ahrâwî dari al-Kailânî dari Syekh Quthbuddîn al-Abhârî dari Syekh Rukduddîn al-Najjâsî dari al-Thabrîsyî dari Syekh ‘Umar al-Bakrî dari Syekh ‘Abd al-Qâhir Dhiyâuddîn al-Surhâwardî dari  Syekh Junaid dari Syekh Minsyâ al-Nûrî dari Syekh Muhammad al-Dânirî dari  Syekh dari Syekh Ma’rûf al-Karkhî dari Syekh Sirrî al-Siqthî dari al-Baghdâdî  dari Syekh al-Hasan al-Bashrî dari Syekh Habîb al-A’jamî dari Dâwud al-Tâbî  Rasûlullâh SAW. dari Sahabat ‘Ali ibn Abî Thâlib KRW.  

Syekh Idris Buton meninggalkan banyak karya, baik dalam bidang teologi, yurisprudensi islam, tata negara, dan tasawuf. Mayoritas karya-karya ini ditulis dalam bahasa Arab. Di antara karya-karya tersebut adalah; (1) Raudhah al-Ikhwân fî ‘Ibâdah al-Rahmân, (2) Tahsîn al-Awlâd fî Thâ’ah Rabb al-‘Ibâd, (3) Dhiyâ al-Anwâr fî Tashfiyyah al-Akdâr, (4) Mu’nisah al-Qulûb fî Dzikr wa Musyâhadah ‘Allâm al-Ghuyûb, (5) Tanqiyyah al-Qulûb fî Ma’rifah ‘Allâm al-Ghuyûb, (6) Kasyf al-Hijâb fî Murâqabah al-Wahhâb, (7) Mushbâh al-Râjîn fî Dzikr al-Shalâh wa al-Salâm ‘alâ al-Nabî Syafî’ al-Mudznibîn, (8) Fathur Rahîm fî Tauhîd Rabb al-‘Arys al-‘Adhîm, (9) Durrah al-Ahkâm, (10) Sabîl al-Salâm ilâ Bulûgh al-Marâm, dan lain-lain.

Syekh Idris Buton wafat pada tahun 1851 dan memiliki tiga orang putera, yaitu (1) Sultan Muhammad Isa Buton, (2) Syekh Abdul Hadi Buton, dan (3) Sultan Muhammad Salleh Buton.

A. Ginanjar Sya’ban, khadim Pusat Kajian Islam Nusantara (PKIN) Pascasarjana Islam Nusantara UNU Indonesia, Jakarta


Bagikan:
Ahad 16 April 2017 7:3 WIB
Perdebatan Dasar Negara Indonesia Tak Kunjung Usai
Perdebatan Dasar Negara Indonesia Tak Kunjung Usai
"Ringkasnya, Al-Qur’an tampaknya tidak tertarik pada teori khas tentang negara yang harus diikuti oleh umat Islam. Perhatian utama Al-Qur’an ialah agar masyarakat ditegakkan atas keadilan dan moralitas.” (hal. 24)

Saya kira buku yang ditulis Syafii Ma’arif ini menjadi rujukan penting terkait dengan perdebatan panjang penetapan dasar negara Indonesia. Bukan hanya itu, Buya Syafii juga menarik ke belakang hingga zaman Nabi Muhammad, Khulafaur Rasyidin, dan zaman kekhalifahan Islam. Ia menyoroti satu per satu rangkaian peristiwa politik mulai dari zaman nabi hingga saat ini, khususnya apa yang terjadi di Indonesia.

Buku ini terbagi menjadi 4 bab. Bab pertama adalah pendahuluan. Pada bab ini, ia menguraikan poin-poin di bab 2, 3, dan 4. Selain itu, alasan melakukan studi tentang Islam dan Pancasila sebagai sebagai dasar negara juga dijelaskan di bab ini, yaitu ia merasa belum adanya studi yang agak lengkap tentang masalah dasar negara Indonesia.

Bab kedua adalah tentang Islam dan Cita-cita politik. Di sini, ia dengan tegas mengatakan bahwa Al-Qur’an tidak memberikan pola pasti dalam mengelola negara yang harus diikuti oleh umat Islam. Umat Islam bebas menentukan model yang mana, asal asas syuro (musyawarah) harus diterapkan di dalamnya. Karena asas syuro ini lah yang menjadi inti dari Al-Qur’an dalam hal mengatur suatu negara.

Praktik syuro (musyawarah) pertama adalah pertemuan di Balai Banu Saidah untuk menentukan pengganti (khalifah) Nabi Muhammad. Pertemuan ini melibatkan semua pihak; perwakilan dari Muhajiri dan Ansar. Setelah perdebatan yang panjang, maka terpilihlah sahabat Abu Bakar sebagai khalifah.

Namun sayang, praktik syuro (musyawarah) ini tidak berkembang pada zaman dinasti-dinasti Islam setelahnya. Mereka ‘mengaku’ sebagai kerajaan Islam, tetapi menggunakan sistem monarki dalam pergantian pemimpinnya, bukan pola musyawarah sebagaimana yang diajarkan oleh Al-Qur’an.

Bab tiga membahas tentang Islam Indonesia pada abad ke-20. Di bab ini, ia mencoba menguraikan peran dan kontribusi organisasi Islam modern yang bercorak sosio-kegamaan seperti Muhammadiyah, Persis, Al Irsyad, organisasi Islam tradisional seperti NU, dan organisasi Islam politik seperti Sarekat Islam pada zaman penjajahan Belanda dan Jepang. Perlawanan umat Islam kepada penjajah dijelaskan secara rinci dan detil pada bab ini. Ia juga menyinggung permbentukan Masyumi –sebuah partai yang menjadi payung besar ormas Islam- dan perpecahannya hingga membuat ormas Islam itu berjalan sendiri-sendiri.

Bab terakhir, Islam dan Dasar Negara Indonesia. Penulis buku ini menilai, meskipun para pengusung negara Islam tersebut banyak bicara tentang negara yang berdasakan Islam, namun mereka belum berhasil menyusun karya sistematis dan ilmuah tentang konsep negara Islam yang mereka cita-citakan. Mereka yang ingin menjadikan agama Islam sebagai dasar negara Indonesia memandang bahwa mayoritas penduduk Indonesia adalah umat Islam dan Islam jauh lebih unggul dijadikan sebagai dasar negara daripada Pancasila ataupun ideologi lainnya. Maka dari itu, mereka menganggap Islam perlu diterapkan sebagai dasar di negara ini. Pada bab ini pula, penulis buku mengupas tuntas tentang konsep negara Islam yang digagas oleh M. Natsir, Zainal Abidin Ahmad, dan Muhammad Asad.

Antara mereka yang menjadi pendukung Pancasila dan yang mendukung Islam sebagai dasar negara saling serang. Bagi mereka yang mendukung Islam sebagai dasar negara menilai bahwa Pancasila itu sekuler karena sila-sila di dalamnya bukan berasal dari Allah, prinsip-prinsip Pancasila tidak memiliki kebulatan dan kesatuan yang logis, dan lainnya. Sementara yang pendukung Pancasila menolak bahwa Pancasila tidak memiliki kesatuan logika. Mereka juga menolak kalau Pancasila itu adalah sekuler karena mereka menganggap sumber pertama Pancasila adalah Islam.

Meski sudah disetujui bersama dalam sidang BPUPKI tentang Pancasila sebagai dasar negara Indonesia, namun nyatanya kelompok yang ingin menjadikan Islam sebagai dasar negara masih saja terus ada hingga saat ini.

Sebetulnya, buku ini sudah pernah diterbitkan pada tahun 1985 dan tahun 2006. Namun pada tahun 2017 ini, penerbit Mizan kembali menerbitkan buku ini. Saya rasa ini hal yang bagus dan perlu agar bisa menjadi referensi mengingat semakin maraknya kelompok yang ingin merobohkan pondasi Negara Indonesia.   

Pada kata pengantar, Buya Syafii menuturkan bahwa perdebatan soal Islam dan Pancasila sebagai ideologi Negara Indonesia adalah perkara yang sudah usang dan kedaluarsa. Lebih baik, energi yang terkurang untuk perdebatan tersebut diarahkan untuk menyelesaikan segala permasalahan mendasar bangsa ini dan untuk membangun Indonesia yang lebih baik dan sejahtera.

Saya kira buku ini sangat bagus sekali karena kaya akan referensi. Selamat membaca.


Identitas buku
Judul           : Islam dan Pancasila Sebagai Dasar Negara
Penulis        : Ahmad Syafii Maarif
Penerbit      : Mizan
Cetakan       : I, Maret  2017
Tebal             : 312 hlm
ISBN              : 978-602-441-015-5
Peresensi    : A Muchlishon Rochmat

Jumat 14 April 2017 4:1 WIB
Islam Cinta di Zaman Kacau
Islam Cinta di Zaman Kacau
Buku yang bertajuk Islam Tuhan Islam Manusia ini terbagi  menjadi empat bagian pertama; masalah umat manusia dan umat Islam,  bisa dikatakan saat ini kita berada di zaman kacau, karena semua orang menjadi ahli di berbagai bidang. Padahal mereka tanpa keahliahan yang mumpuni. Tak jarang mereka produksi informasi-informasi bohong dengan mudahnya menyebarkannya kemasyarakat luas. Kadang melalui facebook dan website/blog, yang bisa dibuat dengan instan, lebih mudah lagi melalui WA broadcast, aku twitter dan sebgaianya. (hal 36).

Selanjutnya Khazanah Pemikiran Islam, sebagai sumber bagi pemecahan masalah, sebab posisi akal dalam Islam, sehingga al-Quran menggunakan berbagai derivasi dari kata ini, secara berulang-ulang. Belum lagi sinonim atau kata kata yang terkait dengannya. Sedimikian sehingga hadis dengan tegas menyatakan,”Tak ada agama bagi orang yang tak punya (menggunakan) akal.” (hal 71)

Karena itu, sudah sewajarnya agama ditafsirkan sejalan dengan kepentingan perkembangan manusia dari zaman ke zaman. Tanpa itu semua, agama akan kehilangan relevansinya dan tak lagi memiliki dampak bagi kehidupan umat manusia.

Melalui Buku Islam Tuhan, Islam Manusia; Agama dan Spiritualitas di Zaman Kacau,  Haidar Bagir berbicara tentang tafsir agamaserta bagaimana tafsir agama tersebut bisa menjawab kebutuhan manusia. Buku ini merupakan hasil perenungan Haidar Bagir dalam kurun satu dekade terakhir. Lewat sumber tulisan yang tersebar di berbagai  yang lebih dari 100 tulisan. (hal xxvii).

Sebagai orang beriman, kita yakin bahwa agama berasal dari Tuhan. Tapi, agama juga mengambil bentuk sebagai agama manusia, segera setelah dia berpindah dari khazanah ketuhanan kepada wilayah kemanusiaan. Artinya, manusia tidak pernah bisa bicara tentang agama kecuali dalam konteks manusia. Menyadari hal itu, maka seorang penganut agama mestinya tidak terkejut dan gagap untuk menerima kenyataan bahwa di kalangan agama yang sama terdapat begitu banyak perbedaan pendapat.

Selain itu agama diturunkan oleh Tuhan untuk manusia. Artinya, adalah suatu kesalahan jika kita mengembangkan pemahaman atas agama yang dilepaskan dari kebutuhan manusia.

Karena itu, sudah sewajarnya agama ditafsirkan sejalan dengan kepentingan perkembangan manusia dari zaman ke zaman. Tanpa itu semua, agama akan kehilangan relevansinya dan tak lagi memiliki dampak bagi kehidupan umat manusia.

Melalui buku bunga rampai ini Haidar Bagir menyerukan akan pentingnya mengembalikan spiritualitas dan cinta dalam kehidupan beragama. Sebab dengan cinta sajalah, agama Islam akan cepat berkembang dan akan lebih memanusiakan manusia.

Ajakan ini tentu tidak lepas dari makin menjamurnya faham dan tindakan radikal yang lahir dari (tafsir) agama. Sehingga dengan mudah ditemui fenomena saling mengkafirkan dan menyesatkan satu sama lain, bahkan dalam satu agama sendiri. Juga karena krisis yang mendera masyarakat seperti maraknya berita hoax yang menjadi pemicu berbagai konflik dan kesalahfahaman. 

Dengan mengembalikan cinta dan spiritualitas dalam ajaran Islam akan menyadarkan kita bagaimana membangun hubungan dengan sesama manusia, karena inti dari agama adalah akhlak (budi pekerti). Diluar agama-agama Timur yang memang dipandang sebagai agama berorientasi kasih-Islam pada analisi lebih dalam agama yang kental bernuansa spiritual (kerohanian) dan cinta. Aspek Islam yang satu ini diwakili oleh aliran tasawuh, yang sudah mapan sebagai aspek Islam sejak dini dalam sejarah doktrin agama ini. (hal. 228)

Dapat disimpulkan apabila Islam yang mengedapkan cinta dapat memberikan ketenangan dan kedamaian di dunia yang sekarang sedang kacau oleh isu-isu sara yang dibuat-buat. Maka buku ini diharapkan sedikit mampu menjawab isu tersebut dan layak dibaca semua masyarakat umum. 
 
Identitas buku 
Judul : Islam Tuhan Islam Manusia
Penulis : Haidar Bagir
Penerbit: Mizan
Cetakan : I, Maret  2017 
Tebal : 288 hlm
ISBN : 978-602-441-016-2
Peresensi: Niam At-Majha, Pengurus Lakpesdam NU Pati.

Kamis 13 April 2017 17:15 WIB
Kitab Fiqih Manasik Berbahasa Sunda Karya KH Ma’mun Nawawi Cibarusah
Kitab Fiqih Manasik Berbahasa Sunda Karya KH Ma’mun Nawawi Cibarusah
Ini adalah halaman sampul dan halaman pembuka dari kitab “I’ânatun Nâsik fî Bayânil Manâsik” karangan seorang ulama Nusantara dari Cibogo, Cibarusah (Bogor—Bekasi), yaitu Ajengan Raden Ma’mun Nawawi bin Anwar (dikenal dengan Mama Cibogo atau Mama Cibarusah, w. 1395 H/ 1975 M).

Sang pengarang, yaitu KH. Raden Ma’mun Nawawi, adalah murid langsung dari para ulama besar Ahlussunnah Nusantara generasi awal abad ke-20 M, yaitu Hadratussyekh KH. Hasyim Asy’ari (Jombang), Syekh Manshur ibn Abdul Hamid (dikenal dengan Guru Mansur Betawi), Syekh Muhammad Bakri ibn Sayyida (dikenal dengan Ajengan Sempur, Purwakarta), dan Syekh Mukhtar ‘Athârid al-Bûghûrî tsumma al-Makkî (ulama besar Makkah asal Bogor).

Kitab “I’ânatun Nâsik” berisi kajian tentang fiqih manasik ibadah haji dan umroh secara lengkap dan komprehensif, termasuk menyinggung sedikit perbedaan hukum-hukum manasik haji menurut empat madzhab. Kitab ini ditulis dalam bahasa Sunda beraksara Arab (dikenal dengan remyak atau pegon).

Dalam kolofon, didapati keterangan jika kitab ini diselesaikan di Cibarusah, pada 27 Muharram tahun 1374 Hijri (bertepatan dengan 25 September 1954 Masehi). Kitab ini kemudian dicetak oleh penerbit “al-Barokah” Bogor (tanpa tahun cetak). Versi cetakan kitab ini bertebal 91 halaman. Saya mendapatkan naskah kitab ini dari penerbitnya langsung yang juga sebuah kedai kitab di kawasan Pasar Anyar, dekat Stasiun Bogor, pada bulan Oktober tahun lalu (2016).

Dalam kata pengantarnya, KH. Ma’mun Nawawi mengatakan bahwa penulisan karya ini dilakukan karena adanya desakan dari beberapa kolega untuk tersedianya sebuah buku (kitab) yang dapat dijadikan panduan umat Muslim Sunda dalam permasalahan tata cara manasik ibadah haji dan umrah secara detail. Pengarang pun memenuhi permintaan tersebut dengan menuliskan karya ini.

Sebagaimana yang ditulis oleh pengarang;

أما بعد. مك عنديكا همب أنو كجدا ضعيفنا رادين حج مأمون نووي السباغوي غفر الله له ذنوبه والمساوي، كوتنا سريغنا ساببراها دو2لوران انو ككه كاسم كوريغ هياغ دفغنولسكن مناسك سرغ انو فتالي كاديا على مذهب الشافعي كلوان بهاس سوندا

(Ammâ ba’du. Maka ngendika hamba anu kacida doipna Raden Haji Ma’mun Nawawi Cibogo, pamugi Allah ngahampura kana dosa-dosa manehna jeung kana kalepatana. Ku tina seringna sababaraha dulur-duluran anu keukeuh ka simkuring hayang dipangnuliskeun manasik sareng anu patali ka dinya kalayan Madzhab Syafi’i kalawan Bahasa Sunda// Maka berkatalah hamba yang sangat lemah, Raden haji Ma’mun Nawawi dari Cibogo, semoga Allah mengampuni dosa-dosanya dan kesalahannya. Oleh karena seringnya beberapa saudara yang bersikeras meminta saya untuk dibuatkan sebuah risalah tentang manasik haji dan umrah dan hal-hal yang berkaitan dengannya dalam fiqih madzhab Syafi’i dalam bahasa Sunda …)

Dalam redaksi selanjutnya, dikatakan oleh KH. Ma’mun Nawawi bahwa dalam upaya penyusunan kitab manasik ini, beliau hanya mengutip dari beberapa kitab rujukan fiqih madzhab Syafi’i, tanpa melakukan penambahan di dalamnya. Sayangnya, kitab-kitab apa saja yang dijadikan rujukan di sini tidak disebutkan secara terperinci.

Pengarang kitab ini,yaitu KH. Raden Ma’mun Nawawi Cibarusah, sebagaimana telah disinggung di atas, adalah murid langsung dari para ulama besar Ahlussunnah Nusantara generasi awal abad ke-20 M. beliau dilahirkan di Cibogo, Cibarusah (perbatasan Bogor—Bekasi) pada tahun 1334 H/ 1915 M. ayahnya bernama KH. Raden Anwar, seorang ulama besar Pasundan dari Cibarusah.

Setelah mendapatkan tempaan pendidikan dari ayahnya sendiri, pada tahun 1930 (ketika berusia 15 tahun), Ma’mun Nawawi kemudian belajar kepada KH. Tubagus Bakri di Sempur, Plered, Purwakarta, yang kelak menjadi mertuanya. Di sana beliau belajar selama 7 tahun lamanya. Beliau kemudian pergi ke Makkah untuk melaksanakan ibadah haji sekaligus bermujawarah di sana selama dua tahun (1937-1939). Di Tanah Suci, KH. Ma’mun Nawawi belajar kepada ulama-ulama besar Makkah.

Di antara guru-guru beliau di Makkah adalah Syekh Mukhtâr ‘Athârid al-Bûghûrî al-Jâwî tsumma al-Makkî, seorang ulama besar hadits di Masjidil Haram asal Bogor, juga kepada Syekh Bâqir ibn Nûr al-Jukjâwî tsumma al-Makkî, , seorang ulama besar di Masjidil Haram asal Yogyakarta. Selain kepada keduanya, KH. Ma’mun Nawawi juga belajar kepada Sayyid ‘Alawî ibn ‘Abd al-‘Azîz al-Mâlikî al-Makkî, Syekh ‘Umar Hamdan al-Mahrasî, dan lain-lain.

Pada tahun 1939, KH. Ma’mun Nawawi pulang ke Cibarusah. Sang ayah, KH. Raden Anwar, menyuruh Ma’mun Nawawi untuk pergi ke Jawa Timur dan belajar kepada beberapa ulama di sana. Beliau pun belajar kepada Hadratus Syekh KH. Hasyim Asy’ari di Tebu Ireng (Jombang) dan Syekh Muhammad Ihsan Dahlan (Jampes, Kediri). KH. Ma’mun Nawawi juga belajar lagi kepada KH. Manshur Abdul Hamid di Batavia (Guru Mansur Betawi).

Setahun kemudian, yaitu pada tahun 1940, KH. Ma’mun Nawawi mendirikan pesantren “al-Baqiyatus Solihat” di kampung halamannya di Cibogo, Cibarusah. Pesantren tersebut pun segera berkembang menjadi salah satu pusat keilmuan Islam yang besar. Jumlah pelajarnya mencapai ribuan.

Ketika terjadi revolusi kemerdekaan Republik Indonesia tahun 1945, KH. Ma’mun Nawawi Cibarusah, bersama-sama dengan KH. Noer Ali Bekasi (pendiri Pesantren At-Taqwa Bekasi) dan KH. Raden Abdullah bin Nuh Cianjur (pendiri pesantren al-Ihya Bogor), atas perintah guru mereka Hadratus Syekh KH. Hasyim Asy’ari, keduanya pun membentuk dan memimpin Laskar Hizbullah (tentara perjuangan kemerdekaan RI berbasis pesantren) region Krawang-Bekasi-Bogor dan sekitarnya. Pesantren Cibarusah pun menjadi markas utama pelatihan militer bagi ribuan Laskar Hizbullah.

Selain dikenal sebagai ulama pejuang, KH. Ma’mun Nawawi juga dikenal sebagai ulama yang produktif melahirkan karya tulis. Upaya ini meneruskan ikhtiar yang telah dilakukan oleh mertua beliau, yaitu KH. Tubagus Bakri Sempur Purwakarta, yang juga produktif menulis kitab. Kebanyakan karya KH. Ma’mun Nawawi ditulis dalam bahasa Sunda beraksara Arab, dalam pelbagai bidang keilmuan Islam.

Di antara karya-karya beliau adalah; (1) I’ânatun Nâsik fî Bayânil Manâsik, (2) al-Taisîr fî ‘Ilmil Falak, (3) Bahjatul Wudlûh, (4) Hikâyatul Mutaqaddimîn, (5) Îdlâtul Mubhamât, (6) Risâlatuz Zakâh, (7) Kasyful Humûm wa al-Ghumûm, dan lain-lain.

KH Ma’mun Nawawi wafat di Cibarusah pada bulan Muharram 1395 Hijri (bertepatan dengan Februari 1975 M). Pesantren Cibarusah kini diampu oleh putra beliau, yaitu KH Raden Jamaluddin Ma’mun. Ilâ rûh KH Ma’mun Nawawi, al-Fâtihah. (A. Ginanjar Sya’ban)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG