IMG-LOGO
Nasional

Mari Beribadah Umrah di Ramadhan Bersama ASBIHU

Jumat 21 April 2017 16:0 WIB
Bagikan:
Mari Beribadah Umrah di Ramadhan Bersama ASBIHU
Jakarta, NU Online
Bulan Ramadhan menjadi momentum berharga bagi setiap Muslim untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT. Bulan Ramadhan juga menawarkan begitu banyak keutamaan dan kemuliaan karena ibadah yang dijalankan akan mendapat pahala yang berlipat. 

Salah satu amalan istimewa di Ramadhan adalah melaksanakan ibadah umrah. Dalam sebuah hadist dijelaskan, “Umrah di bulan Ramadhan seperti berhaji bersama Rasulullah” (HR. Bukhari).

Karenanya banyak umat Islam yang menginginkan dapat melakukan ibadah umrah pada bulan Ramadhan.

Memenuhi niat suci umat Islam di Indonesia yang ingin melaksanakan ibadah umrah di bulan Ramadhan, ASBIHU Tour and Travel membuka paket perjalanan umrah Ramadhan. Perjalanan umrah Ramadhan dijadwalkan pada 28 Mei 2017. Umrah Ramadhan bersama ASBIHU adalah paket sembilan hari.

Ada keistimewaan dalam pelaksanaan umrah bersama ASBIHU, di antaranya pelaksanaan manasik yang sesuai ajaran ahlussunah wal jamaa dan ziarah ke makam-makam sahabat Nabi. 

Dengan layanan maksimal dan mengacu pada kepuasan jamaah, Umrah Ramdhan ASBIHU dilaksanakan selama sembilan hari. Pesawat yang digunakan adalah Oman Air, dengan rute Jakarta-Madinah. Biaya yang diperlukan untuk paket Umrah Ramadhan terbilang sangat terjangkau, yakni hanya sebesar Rp24 juta rupiah.

Masyarakat yang ingin mengikuti umrah Ramadhan bersama ASBIHU dapat mendaftarkan diri melalui kantor pusat ASBIHU di Jalan Basuki Rahmad No 12 Balimester-Jakarta Timur, atau menghubungi nomor telepon 021-8590-0265 dan 0812-1881-2972. (Kendi Setiawan/Abdullah Alawi)

Bagikan:
Jumat 21 April 2017 22:3 WIB
Anggia Ermarini Minta Kader Fatayat Mampu Deteksi Gerakan Radikal
Anggia Ermarini Minta Kader Fatayat Mampu Deteksi Gerakan Radikal
Jakarta, NU Online
Ketua Umum Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) Anggia Ermarini menyampaikan banyak potensi yang dimiliki kader Fatayat. Menurutnya, potensi tersebut bisa menjadi sarana bagi para perempuan dalam mendidik anak-anaknya, dalam menanamkan nilai-nilai keindonesiaan, keislaman, dan tentang budaya.

“Perempuan sebagai pendidik dan pengajar utama di keluarga ini mempunyai peran yang sangat luar biasa,” kata Anggia saat memberikan sambutan pada Sarasehan Pencegahan Paham Radikal Terorisme dan Peluncuran Daiyah Anti-Radikalisme Bersama Fatayat NU di Hotel Papandayan, Bandung, Jumat (21/4).

Menurutnya, akhir-akhir ini perempuan dan anak sudah menjadi bidikan sebagai pengantin dalam aksi terorisme.

Karena itu, ia berharap kepada para kadernya yang ada di bawah dan mempunyai peran di masyarakat seperti menjadi guru, ustadzah, atau kader posyandu agar menyebarkan keterampilan dalam mendeteksi gerakan yang membahayakan.

“Impian saya, Fatayat NU yang di lapangan, semua yang ada di masyarakat, semua yang ada di komunitas, ini mampu mendeteksi bahwa ada di sekitar kita gerakan-gerakan yang membahayakan bagi komunitas atau negara kita, ini menjadi tantangan kita,” terang perempuan berkaca mata ini.

Kerja sama Fatayat NU dan BNPT sudah sangat tepat dalam rangka menanggulangi aksi radikalisme dan terorisme.

“Bagaimana Fatayat ini mampu memberikan kontribusi yang besar untuk isu radikalisme terutama,” ujarnya. (Husni Sahal/Alhafiz K)
Jumat 21 April 2017 21:1 WIB
Jadilah Konsumen Cerdas
Jadilah Konsumen Cerdas
Jakarta, NU Online
Berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 13 Tahun 2012 tanggal 20 April merupakan Hari Konsumen Nasional. Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Mustolih Siradj mengatakan, adanya Hari Konsumen Nasional, masyarakat hendaknya menjadi konsumen yang cerdas dan kritis. 

“Pelaku usaha juga harus menghormati hak dan martabat konsumen sebagaimana UU No.8/1999 tentang Perlindungan Konsumen (Jo UU No 14/2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik). Salah satu hak mendasar konsumen adalah hak mendapatkan informasi dan transparansi,” ungkap Mustolih, Kamis (20/4).

Menurutnya di Indonesia kesadaran konsumen akan hak-hak mereka masih rendah. Hal itu disebabkan konsumen yang umumnya permisif dan tidak mau repot.

“Juga kurangnya sosialisasi dan  kedudukan pelaku usaha yang selalu merasa superior. Padahal menurt UU Perlindungan Konsumen dan International Consumer Protection, kedudukan pelaku usaha dan konsumen sama dan sederajat,” imbuhnya.

Berdasakan Pasal 4 UU No.8/1999 tentang Perlindungan Konsumen, disebutkan hak-hak konsumen adalah (a) hak atas kenyamanan, keamanan dan keselamatan dalam mengkonsurnsi barang dan/atau jasa; (b) hak untuk memilih barang dan/atau jasa serta mendapatkan barang dan/atau jasa tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan; (c) hak atas informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa.

Selain itu, hak konsumen adalah (d) hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang dan/atau jasa yang digunakan; (e) hak untuk mendapatkan advokasi, perlindungan, dan upaya penyelesaian sengketa perlindungan konsumen secara patut; (f) hak untuk mendapat pembinaan dan pendidikan konsumen; (g) hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif; (h) hak untuk mendapatkan komnpensasi, ganti rugi dan/atau penggantian, apabila barang dan/atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya; dan (i) hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya. (Kendi Setiawan/Abdullah Alawi)

Jumat 21 April 2017 20:15 WIB
Bagir Manan: Media Islam Tak Boleh Konfrontasikan Islam dengan Pancasila
Bagir Manan: Media Islam Tak Boleh Konfrontasikan Islam dengan Pancasila
Jakarta, NU Online
Mantan ketua Dewan Pers Indonesia Bagir Manan menyerukan kepada pihak-pihak yang mengklaim dirinya sebagai media Islam untuk tidak melupakan lingkungan sekitarnya. Selain mematuhi aturan yang ada, mereka dituntut untuk memperhatikan negara tempat mereka hidup.

Bagir mengingatkan wacana yang digulirkan pun hendaknya tak mengarah pada isu pengubahan sistem negara Indonesia.

“Tolong jaga, jangan sampai orang mengonfrontasikan Islam dengan Pancasila,” katanya dalam forum Workshop Penyusunan Standar Literasi Media Islam Online, Jumat (21/4) di Hotel Lumire, Jakarta Pusat.

Ia sadar bahwa selama ini radikalisme dan berita palsu atau hoax kerap dialamatkan kepada media-media Islam. Citra ini, menurutnya, masih bisa direduksi pelan-pelan dengan cara memperbaiki kualitas media Islam.

“Hendaknya pers Islam menjadi bagian dari upaya untuk meningkatkan mutu, baik mutu intelektual, mutu ekonomi, mutu sosial dan tentu saja mutu keagamaan kita. Jadi jika agama dikatakan rahmatan lil alamin, (jargon itu) betul-betul riil,” paparnya.

Menurut Bagir, pers lebih dari sekadar penyampai informasi. Pers juga memiliki fungsi pendidikan, pembentuk atau pengarah opini publik.

Mantan ketua Dewan Pers Indonesia selama dua periode ini juga mengingatkan kepada media-media Islam bila memang benar-benar dimaksudkan sebagai lembaga pers untuk memenuhi standar profesionalisme.

“Standar-standar pers yang baku harus kita perhatikan, cek dan ricek, cover both side, dan sebagainya,” tutur Ketua Mahkamah Agung RI periode 2001-2008 ini.

Terkait media daring yang menjamur sekarang ini, ia berpendapat ada penurunan kualitas khususnya berkenaan dengan tingkat akurasi. Mungkin karena memprioritaskan kecepatan tayang, media online sering tak mengindahkan tingkat validitas isi berita. Kelemahan lain juga ada pada manajemen yang cenderung tidak bagus.

“Tanggung jawab juga bisa rendah. Padahal, satu kali berita muncul, seseorang bisa sudah jadi korban atau diuntungkan,” jelasnya.

Lokakarya ini digelar Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam bekerja sama dengan Majelis Ulama Indonesia dan diikuti sejumlah perwakilan media-media Islam, baik elektronik, cetak, maupun daring. (Mahbib)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG