IMG-LOGO
Nasional
HARI BUKU

KH Ali Yafie: Bagi Saya, Membaca Buku Kewajiban Mutlak

Ahad 23 April 2017 19:1 WIB
KH Ali Yafie: Bagi Saya, Membaca Buku Kewajiban Mutlak
Jakarta, NU Online 
Selepas maghrib pertengahan Februari tahu lalu, saya bersama seorang teman sowan kepada kiai besar negeri ini. Ia pernah menjadi Ketua Umum Majelis Ulama (MUI) Pusat dan memimpin ormas terbesar dunia, yaitu menjadi Penjabat Rais ‘Aam PBNU zaman Ketua Umum KH Abdurrahman Wahid. Dialah KH Ali Yafie.  

Maghrib dengan sisa-sisa hujan waktu itu. Bintaro, Jakarta Selatan, basah. Sepertinya orang-orang malas keluar karena kebetulan juga hari itu libur sehingga jalanan lengang. Kami dengan mudah menuju rumah kiai kharismatik yang dikenal sebagai ahli fiqih tersebut. 

Kami sampai ke kediaman kiai yang telah berusia 90 tahun tersebut itu. Ia lahir di Donggala, Sulawesi Tengah pada September 1926 setelah beberapa bulan para kiai mendirikan Nahdlatul Ulama di Jawa Timur. Sebuah organisasi yang kelak akan dipuncakinya.   

Kami berjamaah shalat maghrib dengan imam salah seorang putranya, Helmi Ali. Tak lama kemudian Kiai Ali Yafi diperiksa darah oleh keluarganya. Itu hal rutin yang dilakukan kepadanya tiap menjelang malam. Tak ada penyakit serius yang mendera masa tuanya. Tidak ada. Ia tak banyak beraktivitas lagi karena memang telah tua.   

Tentang kesahatan itu, salah satu yang menjadi pertanyaan kami ketika mengobrol dengan kiai berperawakan kurus putra bungsu KH Muhammad Yafie tersebut. 

Helmi Ali kemudian memapah Kiai Ali Yafi ke ruangan tengah. Ia berbaju batik panjang, bercelana hitam, bersandal, dan tentu saja berkopiah hitam. Duduk dia di sebuah kursi, di depan sebuah lemari yang berderet buku-buku. Buku dari ragam jenis cabang keilmuan. 

Setelah bersalaman dengannya, teman saya langsung bertanya, biasanya istirahat tiap pukul berapa, Kiai? Kiai Ali menjawab, rata-rata tidur pukul 11 malam. Suaranya masih terdengar jelas. 

Teman saya menyusul dengan pertanyaan lain. Apa resepnya menjaga kesehatannya. Ia menjawab, hiduplah dengan teratur, makan dan istirahat yang teratur. Teratur. Teratur. Teratur. Dan tak pernah kenyang makan dan minum. 

Menurut pengakuannya, kiai yang merupakan cucu Syekh Abdul Hafidz Bugis itu tak pernah tahu rasanya kenyang makan dan minum sampai umurnya menjelang seabad. Tak pernah! 

“Makan teratur tidur teratur. Kita dididik oleh ayah tidak boleh kenyang,” katanya.

Sementara untuk menjaga ingatan, ia adalah orang yang tak pernah berhenti membaca kitab kuning dan buku. Buku apa saja. Mulai dari fikih, sastra, politik, sosial, sampai cerita silat. Dan tentu saja rutin mendaras Al-Qur’an. 

“Bagi saya membaca buku adalah kewajiban pertama karena ayat pertama itu iqro, bacalah. Sebelum orang disuruh sembahyang, disuruh membaca dulu. Buat saya itu, kewajiban mutlak. Jadi Saya tidak pernah tidak membaca dalam satu hari,” jelasn penulis buku Menggagas Fiqih Sosial (1994) itu. (Abdullah Alawi)

Ahad 23 April 2017 23:33 WIB
Kelakar Kiai Hasyim saat Mengader Kader Muhammadiyah
Kelakar Kiai Hasyim saat Mengader Kader Muhammadiyah
Depok, NU Online
H Cholil Nafis menuturkan, KH Hasyim Muzadi adalah sosok yang mendorongnya untuk menjadi penceramah. Ia mengaku tidak memiliki latar belakang pendakwah karena ia belajar di bidang syariah. Cholil menceritakan, pada tahun 2012 ia diminta Kiai Hasyim untuk mengisi acara ceramah di salah satu stasiun televisi. 

“Dari situ, saya menjadi pendakwah dan dipilih jadi ketua dakwah gara-gara Kiai Hasyim,” jelasnya.

Hal itu ia ungkapkan dalam acara bedah buku Dakwah Bil Hikmah: Reaktualisasi Ajaran Walisongo di Depok, Ahad (23/4) sore.

Namun demikian, ia menjelaskan, Kiai Hasyim merekomendasikan dua orang untuk mengisi acara ceramah di salah satu stasiun televisi tersebut, yaitu dirinya dan Fahmi Salim dari Muhammadiyah. 

Melihat sikap Kiai Hasyim yang merekomendasikan orang Muhammadiyah, Cholil bertanya dan meminta klarifikasi akan hal tersebut. “Pak kiai, kenapa njenengan pilih Fahmi Salim (Muhammadiyah) untuk mengisi ceramah?” cerita Kiai Cholil.

Pertanyaan Kiai Cholil tersebut dijawab enteng Kiai Hasyim. “Dia (Fahmi Salim) orang NU yang ke Muhammadiyah. Kita NU-kan dia lagi,” kata Kiai Cholil menirukan jawaban Kiai Hasyim disusul gelak tawa peserta yang hadir.

Lebih jauh, Kiai Cholil menjelaskan, Kiai Hasyim menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh masyarakat umum saat berdakwah. “Ia menggunakan terminologi yang mudah dipahami banyak orang,” urainya. (Muchlishon Rochmat/Mukafi Niam)
Ahad 23 April 2017 22:32 WIB
Muhammad Adnan: Kiai Hasyim Orang NU 24 Karat
Muhammad Adnan: Kiai Hasyim Orang NU 24 Karat
Depok, NU Online
Mantan Ketua PWNU Jateng Muhammad Adnan dalam perbincangannya dengan Kiai Hasyim sering disinggung klasifikasi tipe-tipe orang NU; ada orang NU yang dua puluh karat dan ada orang NU yang sekarat. “Mungkin beliau adalah contoh orang NU yang 24 karat,” tegasnya.

Hal ini disampaikannya saat menjadi narasumber dalam acara Bedah Buku Biografi KH Ahmad Hasyim Muzadi:Ngaji Hidup Mengasah Kehidupan di Pesantren Mahasiswa Al Hikam Depok, Ahad (23/4) sore.

Lebih jauh alumni Universitas Hiroshima itu menjelaskan, Kiai Hasyim memimpin NU seperti seorang kiai memimpin pesantrennya. “Beliau menganggap pengurus wilayah sebagai keluarga besar. Beliau memposisikan diri sebagai orang tua,” urainya.

Ia memiliki pandangan, KH Hasyim Muzadi atau akrab disapa Kiai Hasyim adalah orang yang memiliki ilmu laduni. Penilaiannya tersebut dilandasi atas dua hal. Pertama, saat Kiai Hasyim memberikan humor dalam ceramah ia mengaku tahu akhir dan arah humor yang dilontarkannya, namun demikian ia mengatakan tertawa saja dengan guyonan Kiai Hasyim.

“Saya tahu kalau ending-nya akan seperti itu, tapi saya masih bisa tertawa,” katanya saat.
 
Kedua, orang yang mendengarkan ceramahnya Kiai Hasyim tidak akan merasa bosan dan tidak capek. “Kalau beliau yang ceramah. Kita tidak sadar sudah beberapa jam mendengarkan ceramah beliau,” ucapnya.

Terkait dengan isi buku, Adnan menilai, ada dua hal yang menjadi fokus bahasan, pertama keuletan dn kesungguhan Kiai Hasyim dalam memimpin NU. Ia menjelaskan, Kiai Hasyim menyediakan waktu untuk umat sehari semalam. 

“Malah yang mengundang bupati, menolak. Tetapi kalau yang mengundang kiai, ia pasti hadir,” jelasnya.

Kedua, Kiai Hasyim lebih mengutamakan kepentingan dan keutuhan bangsa dari pada kepentingan NU. Menurut Adnan, Kiai Hasyim memiliki pandangan bahwa apabila bangsa Indonesia baik, maka NU pun akan baik.

“Ketika bangsanya sehat, maka NU nya sehat,” pungkasnya. (Muchlishon Rochmat/Mukafi Niam) 
Ahad 23 April 2017 22:17 WIB
Renungan Rajab Gus Mus
Renungan Rajab Gus Mus
Jakarta, NU Online
Bulan Rajab termasuk bulan spesial. Kitab I‘anatut Thalibin menyebutkan, “Rajab" adalah turunan dari kata “tarjib” yang berarti mengagungkan atau memuliakan. Dulu, masyarakat Arab memuliakan Rajab di atas bulan lainnya. Rajab biasa juga disebut “Al-Ashabb” yang berarti “yang mengucur” atau menetes”. Dijuluki begitu sebab derasnya tetesan kebaikan pada bulan ketujuh dalam kalender hijriah ini.

Bulan Rajab bisa juga dikenal dengan sebutan “Al-Ashamm” atau “yang tuli”, karena tidak terdengar gemerincing senjata pasukan perang pada bulan ini. Julukan lain untuk bulan Rajab adalah “Rajam” yang berarti melempar. Dinamakan demikian karena musuh dan setan-setan pada bulan ini dikutuk dan dilempari sehingga mereka tidak jadi menyakiti para wali dan orang-orang saleh.

Rajab juga istimewa karena pada bulan ini pula Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad dilakukan. Jika Isra’ merupakan perjalanan dari Masjid al-Haram menuju Masjid al-Aqsha, maka mi’raj adalah perjalanan naik ke langit hingga Sidratul Muntaha. Kewajiban shalat lima waktu bagi umat Rasulullah adalah di antara buah dari peristiwa ajaib tersebut.

Bertepatan dengan peringatan Isra’ dan Mi’raj pada 27 Rajab 1438 yang jatuh pada 24 April 2017, Mustasyar PBNU KH A Mustofa Bisri menuliskan sebuah refleksi yang ia unggah di Facebook pribadi, Ahad (23/4) malam. Berikut tulisan yang ia beri judul “Renungan Rajab” itu:

:: Renungan Rajab ::

Bisakah kita menjumpai penguasa tertinggi negeri ini, presiden misalnya, atau setidaknya petinggi tertinggi propinsi kita, gubernur, kapan saja kita mau?

Kalau pun bisa, paling setahun sekali, pada saat diadakan acara open house.

Nah ini Penguasanya petinggi yang Mahatinggi, Penguasa segala, mengadakan open house sehari lima kali. Bukankah ini Kemurahan yang luar biasa bagi hamba sekecil kita ini? Bahkan tidak itu saja. Ia bahkan membuka pintu untuk kita kapan saja. Tengah malam atau dini hari sekali pun, Ia menerima pesowanan kita. Malah menawarkan, "Adakah yang punya hajat? Adakah yang memohon ampun? Adakah yang ingin meminta sesuatu?"

Lalu bagaimana kita yang kerdil ini menyikapi KemahamurahanNya itu? Apakah kita penuh semangat menghadap, sebagaimana misalnya bila kita diterima presiden atau gubernur?

(Red: Mahbib)

IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG