IMG-LOGO
Puisi

Puisi untuk Harlah Ke-57 PMII

Ahad 23 April 2017 18:56 WIB
Puisi untuk Harlah Ke-57 PMII
Oleh : el-Asy’ari

Detik terus berjalan bagai aliran sungai
Tidak begitu deras, namun perlahan pasti
Gemericik airnya menghantarkan gelombang bunyi
Begitu nyaring merasuki rongga hati
Sesamabil memejamkan mata, penuh hikmat merefleksikan diri
Sungguh indah, sangat tenang sekali

Namun, terkadang ku buka mata sesekali
Tersenyum manis menyapa kanan kiri
Terlihat segerombolan kecil rumput menari-nari
Ada juga jangkrik-jangkrik kecil yang entah mungkin mereka sedang bernyanyi
Tak terasa senyumku bertambah lebar menghiasi
Terbawa arus suasana begitu alami
Hehehehe . . , kenapa menyenangkan sekali?
Entahlah, mungkin ini bahagia sederhana yang sedang ku nikmati
Sangat tenang, indah dan mendamaikan hati

Detik tetap berjalan dalam langkah kaki
Menyapa senja, sampai jumpa matahari
Tidak selamanya, hanya saja waktu mengharuskan berotasi
Kita akan bertemu lagi penuh senyuman di esok pagi
Gelappun semakin datang membersamai
Angin yang menari begitu halus menambah suasana semakin sunyi
Terlihat olehku sekelumit cahaya hari ini
Tidak setiap saat ada, tapi tidak asing bagi diri ini
Nampak lilin berjajar terhiaskan oleh sang api
Sepertinya hari ini ada yang merayakan hari jadi
Suasana kuning biru penuh menghiasi
Selamat Hari Lahir ke-57 Pergerakanku wahai PMII

Banyak sekali panjatan harapan dan do’a
Sebuah ketulusan yang ingin ku sampaikan dalam bentuk kata
Bukan sebuah pemaksaan atau permintaan yang mengada-ngada
Tapi memang benar dari hatiku untuk kebaikanmu semata
Aku ingin PMII tak hanya unggul dalam wacana saja
Tapi juga diikuti dengan realisasi nyata
Aku ingin PMII tak hanya fokus dalam diskusi bergadang malam saja
Tapi juga mengindahkan sholat shubuh beserta qobliyahnya yang banyak harta
Aku  ingin PMII tak hanya memikirkan indonesia saja
Tapi juga meningkatkan ibadah wajib terutama
Aku ingin PMII memang benar salah satu tempatku berjuang kepada-Nya
Karena sudah banyak yang aku korbankan untuk bersanding denganmu wahai sahabat-sahabatiku yang berbahagia

Memutus sahabat lama
Memutus kepercayaan yang ada
Memutus karir di organisasi internal mahasiswa
Memutus hubungan dengan orang-orang hebat yang terikat kata sayang dan cinta
Bukan karena aku, tapi karena aku memilihmu sebagai bagian dari jiwa
Semua itu diluar dugaan cerita
Sungguh, tanganku ingin kembali meraihnya
Tapi semua itulah yang harus ku terima
Bukan untuk siapa-siapa
Tapi untuk bergandengan tangan dengan kalian dan dengan PMII semata

Dan sekarang kuning biru menjadi warna
Identitas diri yang bersandingkan nama
Mudah melangkah kaki di sini ku kira
Sejak sang bidadari melahirkanku telah lama ku kenal nama Aswaja
Tangga atas sudah ku capai dalam organisasi mahasiswa
Nyatanya adalah tak sesuai dengan praduga
Ideologis, adalah hal yang tak ku pahami
Buku, adalah pemikiran yang sulit ku megerti
Diskusi, adalah argumen tinggi yang pikiranku tak sampai
Wacana, adalah kesajaan yang terkadang tidak aku sukai

Otakku berputar memikirkan sesuatu yang entah mungkin itu solusi
Apa aku memang butiran debu di PMII?
Apa aku memang orang yang tak pandai?
Apa aku memang tak bisa memberikan apa-apa dari diri ini?
Atau apa mungkin memang bukan tempat disini?

Ya Allah Ya Rabbi . .
Pernah ku mengabdi pada kiai menjadi seorang santri
Pernah ku merasakan kejamnya profesionalitas organisasi
Pernah ku berjuang dalam medan tumpah darah merebut panji
Pernah ku tanpa pantang menyerah memanjat gunung yang tinggi
Dan aku juga pernah merasakan jalan berkerikil dengan telanjang kaki
Dari itu semua apa tidak ada yang bisa ku beri ?
Semua itu ku lakukan untuk meningkatkan kapabilitas diri dan mengabdi
Bukan untuk diri sendiri saja melainkan juga untuk orang-orang di sekitar yang aku sayangi

Aku memang bodoh akan ideologi, tapi aku suka berkarya memainkan seni
Aku memang tidak suka bergelut dengan buku pemikiran, tapi aku suka buku dengan narasi indah dan penuh motivasi
Aku memang tak jago dalam berdiskusi, tapi aku lihai tersenyum manis memberikan energi
Aku memang tidak suka berangan tinggi dalam wacana, tapi aku lincah memberikan kebaikan dalam eksekusi
Dan aku tidak suka bermulut besar saja, tapi aku akan sangat senang bila tangan kakiku memberikan sesuatu hal yang pasti

Wahai pergerakanku PMII
Ma’afkan butiran debu ini
Aku memang tak begitu memahami ideologi
Tapi aku yakin, ada suatu hal yang bisa aku berikan dari diri ini

Aku hanyalah anak desa yang mempunyai banyak mimpi
Aku adalah pemuda yang tak suka banyak bicara tapi penuh semangat melangkahkan kaki
Aku adalah Mahasiswa Farmasi yang ingin mengobati orang lain dalam mengabdi
Dan aku suka bidang psikologi untuk bisa membahagiakan dan menyemangati

Dalam lautan Kuning Biru sekarang aku berdiri
Untuk kesatuan dan kebaikan Merah Putih yang suci
Denganmu pergerakanku wahai PMII
Dalam kebimbangan, aku masih bersamamu disini

Surakarta, 17 April 2017

Penulis adalah aktivis PMII Komisariat Kentingan Cabang Kota Surakarta Mahasiswa Farmasi UNS angkatan 2014 

Tags:
Bagikan:
IMG
IMG