IMG-LOGO
Opini

Dakwah Nusantara: Inspirasi Peradaban Dunia

Rabu 26 April 2017 17:12 WIB
Bagikan:
Dakwah Nusantara: Inspirasi Peradaban Dunia
foto: wikipedia
Oleh Adi Candra Wirinata
Agama merupakan pedoman hidup yang dianut seluruh manusia di muka bumi. Para ahli perbandingan agama mengenalkan pengetahuannya bahwa ada agama dakwah dan agama non-dakwah. Penentuan ini berdasarkan ada tidaknya tuntutan penyebaran ajaran dalam doktrinnya. Agama dakwah ialah agama yang memiliki kepentingan suci untuk menyebarkan kebenaran dan menyadarkan orang kafir sebagaimana yang dicontohkan sendiri oleh penggagas agama itu dan diteruskan oleh para penggantinya (Arnold, 1970: 25).

Islam adalah agama dakwah, karena di dalam kitab sucinya sering diungkapkan dan telah dibuktikan oleh jejak pembawanya, Rasulullah SAW. Sebagai kebenaran, Islam harus tersebar luas dan penyampaian kebenaran tersebut merupakan tanggung jawab umat Islam secara keseluruhan. Dakwah Islam bukan sebuah propaganda (Ismail, 2011: 12), baik dalam cara, niat, dan tujuannya. Sekalipun mewajibkan umatnya menyiarkan agama, namun Islam tidak menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya. Islam adalah kebenaran, maka sebuah penistaan jika disampaikan dengan kelicikan.

Dakwah merupakan segala bentuk aktivitas penyampaian ajaran Islam kepada orang lain dengan berbagai cara bijaksana agar memahami dan mengamalkan ajaran Islam dalam semua lapangan kehidupan. Islam harus disampaikan secara terbuka, bebas, dan jujur. Maksud kata terbuka dalam berdakwah, cenderung kepada sikap rendah hati, mengakui keterbatasan, dan menerima kritikan dan perbaikan dari luar. Dakwah harus disampaikan secara jujur, tanpa adanya unsur kebohongan, apalagi manipulasi. Juga disampaikan secara bebas, tanpa adanya paksaan. Karena hakikatnya mengislamkan adalah tugas Tuhan (memberi hidayah), manusia hanya diperintah untuk mengingatkan. Jika dipandang lebih manusiawi, pada prinsipnya kebenaran itu sangat jelas dan jiwa manusia sendiri condong kepada kebenaran. Oleh karena itu, dakwah kebenaran harus dilandaskan kepada keyakinan, bahwa kebenaran ini hanya dapat diterima manusia dalam keadaan bebas tanggung jawab.

Dakwah Nusantara: Berbudaya

Perkembangan Islam di Nusantara, khususnya di Jawa, tidak begitu saja menggantikan kebudayaan yang telah ada. Sebagaimana yang telah tercatat dalam sejarah, bahwa Nusantara kaya akan budaya. Oleh karena itu tidak bisa dipertentangkan antara budaya dan agama. Dakwah Islam di Nusantara pertama kali lebih mementingkan keamanan dan kenyamanan rakyat daripada langsung menyebarkan agama. Karena langsung menyebarkan agama tanpa memperhatikan budaya (kemanusiaan) adalah kecerobohan. Dalam sejarah dakwah di Nusantara yang harus didahulukan adalah memenuhi kebutuhan dasar manusia daripada langsung mengajarkan apa itu Islam.

Sebenarnya sejak abad ke-7 M, masyarakat Nusantara telah dipengaruhi oleh ajaran agama Hindu dari India. Namun bagi masyarakat yang telah memiliki hubungan sangat erat dengan budaya mereka, perubahan keyakinan Animisme ke Hindu tidak terlalu banyak membawa perubahan yang berarti. Kepercayaan Animisme tetap kekal meskipun secara formal mereka telah beragama lain. Nusantara sejak abad ke-13 diwarnai oleh konsep Hindu atau sebelumnya telah dipenuhi konsep dewa-raja. Konsep dewa-raja meyakinkan masyarakat bahwa raja adalah orang istimewa dan memiliki unsur-unsur keistimewaan serta kemuliaan tertentu yang terpilih. Manusia terpilih harus diterima sebagai raja dan berhak serta layak menduduki tempat tertinggi dalam masyarakat. Kelayakan menduduki tempat tertinggi ini dilegitimisasi oleh kepercayaan bahwa raja adalah penjelmaan dari dewa yang dalam agama Hindu setaraf dengan Tuhan (Maharsi, 2011: 227).

Kehadiran agama Islam dalam kehidupan masyarakat Nusantara sama sekali tidak menghapus yang berkaitan dengan konsep dewa-raja. Bahkan dalam beberapa segi, Islam terlihat menguatkan lagi pengesahan kedudukan raja itu dengan sedikit perubahan. Raja-raja tidak lagi berasal dari para dewa tetapi merupakan khalifah atau wakil Allah di dunia. Mereka memiliki gelar sebagai bayangan Allah dan berperan memberi perlindungan kepada masyarakat. Raja tetap merupakan orang terpilih karena memiliki sifat-sifat yang lebih daripada manusia biasa. Di samping itu ia memiliki kuasa-kuasa yang khusus dianugerahkan Allah kepadanya. Keyakinan yang muncul melalui agama Hindu tentang kedudukan raja di masyarakat, diperkukuh lagi dengan diperkenalkannya istilah sultan.

Hal ini menandakan bahwa Islam Nusantara telah berhasil menginterpretasikan istilah Islam rahmatan lil alamin dengan sempurna. Islam yang berguna tidak hanya kepada penganutnya, melainkan bagi seluruh ciptaan. Menyebarkan agama bukan berarti menjajah tradisi yang telah ada sebelumnya, melainkan mengingatkan bahwa ada agama yang benar. Islam yang diciptakan sebagai bekal kehidupan manusia inilah yang dimaksud dengan Islam rahmatan lilalamin atau agama yang diperuntukkan bagi seluruh umat manusia. Karena konsep kemanusiaan yang tidak memandang secara parsial harkat dan martabat umat manusia, baik secara individu maupun kelompok.

Memahami Sejarah

Sebagian besar umat Islam di belahan dunia memahami dengan baik bahwa Islam adalah agama yang membawa perdamaian. Penerimaan Islam di seluruh wilayah Nusantara terkesan damai karena disebarkan malalui cara-cara yang sangat adaptif, antara lain dengan mengadopsi dan mempertahankan adat-istiadat penduduk setempat, menguasai bahasa masyarakat setempat dan membebaskan budak-budak belian (Arsyad, 2006: 107). Oleh karena itu, tidak mengherankan jika agama Islam pada umumnya menembus wilayah pedalaman dengan cara-cara damai.

Secara lahir, perjalanan dakwah yang telah tercatat dalam sejarah tentunya sangat tidak relevan dengan kondisi sekarang, namun yang harus dihidupkan kembali dalam peradaban modern ini adalah nilai-nilai dakwahnya, yang lebih mengedepankan pembangunan dan keterbukaan daripada pemaksaan, apalagi kekerasan. Untuk zaman modern ini, para pendakwah –di Indonesia- yang lebih mengedapankan memberi pemahaman tentang keimanan walau harus dengan ujung pedang dan cenderung mengabaikan keamanan adalah pendakwah yang buta akan sejarah. Bagi manusia, keamanan adalah segalanya.

Penulis adalah mahasiswa Program Studi Aqidah dan filsafat Fakultas Ushuluddin dan pemikiran islam, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Sebagian besar umat Islam di belahan dunia memahami dengan baik bahwa Islam adalah agama yang membawa perdamaian. Penerimaan Islam di seluruh wilayah Nusantara terkesan damai karena disebarkan malalui cara-cara yang sangat adaptif, antara lain dengan mengadopsi dan mempertahankan adat-istiadat penduduk setempat, menguasai bahasa masyarakat setempat dan membebaskan budak-budak belian (Arsyad, 2006: 107). Oleh karena itu, tidak mengherankan jika agama Islam pada umumnya menembus wilayah pedalaman dengan cara-cara damai.

Secara lahir, perjalanan dakwah yang telah tercatat dalam sejarah tentunya sangat tidak relevan dengan kondisi sekarang, namun yang harus dihidupkan kembali dalam peradaban modern ini adalah nilai-nilai dakwahnya, yang lebih mengedepankan pembangunan dan keterbukaan daripada pemaksaan, apalagi kekerasan. Untuk zaman modern ini, para pendakwah –di Indonesia- yang lebih mengedapankan memberi pemahaman tentang keimanan walau harus dengan ujung pedang dan cenderung mengabaikan keamanan adalah pendakwah yang buta akan sejarah. Bagi manusia, keamanan adalah segalanya.

Penulis adalah mahasiswa Program Studi Aqidah dan filsafat Fakultas Ushuluddin dan pemikiran islam, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Bagikan:
Rabu 26 April 2017 14:30 WIB
Isra Mi‘raj dan Tantangan Umat Islam Indonesia
Isra Mi‘raj dan Tantangan Umat Islam Indonesia

Oleh Moh. Salapudin

Isra Mi‘raj -perjalanan Rasulullah dari Masjidil Haram di Makah menuju Masjidil Aqsa di Palestina, dilanjutkan ke Sidratul Muntaha menembusi batas-batas langit- adalah salah satu keistimewan dari Allah yang diberikan hanya kepada Nabi Muhammad saw. Pada perjalanan tersebut Rasulullah telah menembus batas-batas materi alam semesta yang menurut catatan berjarak 13,7 miliar tahun cahaya sekaligus memecahkan rekor telah melampaui jarak tersebut (Misbakhudin, 2012). Maka tak pelak jika Al-Qur’an mengabadikannya dan menyebut bahwa Rasulullah telah mendapat tanda-tanda kekuasaan Allah paling besar (An-Najm [53]:13-18).

Mengapa Rasulullah diberi keistimewaan untuk Isra Mi‘raj -peristiwa yang oleh An-Najm digambarkan sebagai tanda kekuasan paling besar?

Rendah Hati

Salah satu jawabannya adalah karena Rasulullah memiliki sikap rendah hati (andhap asor). Dalam suatu kesempatan, Allah pernah memberikan tawaran kepada Muhammad untuk memilih antara menjadi nabi atau menjadi seorang raja (ikhtar baina an takuuna nabiyyan aw takuna malikan). Namun, dengan kerendahan hatinya Nabi Muhammad saw tidak memilih kedua-duanya dan justru menginginkan sekadar menjadi hamba-Nya ('abdu).

Atas kehambaan Rasulullah, Allah kemudian justru mengangkatnya pada tempat paling tinggi (takhatut), tempat di mana Rasulullah dapat berdialog langsung dengan Allah. Jawaban ini diperkuat dengan diksi dalam Al-Qur’an yang baik dalam menerangkan peristiwa Isra pada surat Al-Isra maupun dalam menerangkan Mi‘raj pada surat An-Najm, keduanya menyebut Muhammad dengan kata “abdu”. Lalu apa relevansinya terhadap kehidupan umat Islam saat ini?

Isra Mi‘raj yang dalam artian sebenarnya memang hanya mungkin dilakukan oleh Rasulullah. Namun, dalam makna yang lain, “Isra Mi‘raj” juga dapat ditempuh oleh umat Islam secara umum. Kita dapat menganalogikan Isra Mi‘raj sebagai suatu “kado istimewa” dari Allah. Dan untuk mendapatkan “kado istimewa” tersebut kita diharuskan memiliki sikap rendah hati (tawadhu’).

Sikap rendah hati sangat diperlukan oleh umat Islam saat ini sebab sudah lama umat ini mengidap penyakit saling menyalahkan satu sama lain. Jika dibiarkan terus menerus penyakit tersebut hanya akan membawa konflik dan kerugian di internal umat Islam.Sikap rendah hati menjadi sangat penting karena selalu membawa kita untuk tidak merasa paling benar.Sikap tidak merasa paling benar pada gilirannya akan membawa kita untuk pantang menyalahkan orang lain. Hal ini segaris dengan tuntunan Al-Quran pada surat Al-Fatihah yang kita baca setiap shalat di mana di dalamnya memuat doa “tunjukkanlah jalan yang lurus” (ihdinash shirathal mustaqim). Ayat tersebut, menurut Emha Ainun Nadjib memuat pesan tersirat agar umat Islam, sebenar apa pun, diperintah untuk selalu merasa belum benar.

Toleransi


Dari sikap rendah hati tumbuh sikap tidak merasa paling benar, dan pada akhirnya akan timbul sikap menghargai pendapat dan perilaku orang lain (toleransi). Toleransi (tasamuh) juga merupakan sikap yang selalu dibutuhkan umat Islam Indonesia. Allah telah menegaskan pentingnya toleransi di antaranya dalam surat Al-Baqarah ayat 256, Al-Kafirun ayat 1-6, Al-Ghasiyah ayat 21, Al-Qaaf ayat 45, dan Al-Kahfi ayat 29.

Rasulullah juga telah meneladankan sikap toleransi. Sesaat setelah hijrah ke Madinah, Nabi Muhammad melihat adanya kemajemukan (pluralitas) di sana. Pluralitas tersebut bukan hanya karena perbedaan etnis, tetapi juga perbedaan agama. Selain Islam, ada penganut agama Yahudi dan Nasrani. Melihat pluralitas tersebut, Rasulullah berinisiatif untuk membangun kebersamaan dengan melahirkan apa yang kemudian dikenal dengan nama “Piagam Madinah”. Dalam pandangan Nurcholish Madjid (1992: 195) “Piagam Madinah” merupakan dokumen politik resmi pertama yang meletakkan prinsip kebebasan beragama dan berusaha.

Ada persamaan antara Madinah saat itu dengan Indonesia saat ini, yaitu keduanya memiliki masyarakat yang pluralistis. Negeri ini bukan saja dihuni oleh masyarakat dari pelbagai etnis dan agama, tetapi bahkan juga dibangun oleh pelbagai etnis dan agama. Oleh karena itu, apa yang telah diteladankan Rasulullah melalui Piagam Madinah, sudah semestinya diimplementasikan oleh umat Islam Indonesia. Apalagi sudah disebutkan dalam Pasal 29 UUD 1945 bahwa Indonesia menjamin warganya untuk memeluk agamanya masing-masing dan beribadat sesuai dengan agama dan kepercayaannya.

Pada akhirnya, melalui peringatan Isra Mi‘raj ini, umat Islam Indonesia yang merupakan warga mayoritas pada dasarnya sedang diuji dan ditantang: apakah mereka dapat bersikap rendah hati dan toleran?Jika umat Islam Indonesia ingin diangkat derajatnya, sebagaimana Rasulullah diberi keistimewaan Isra Mi‘raj, maka sudah seharusnya  mereka bersikap rendah hati dan toleran.


Penulis adalah Santri Pondok Pesantren Futuhiyyah Mranggen, Lulusan Fakultas Syariah UIN Walisongo Semarang


Rabu 26 April 2017 7:1 WIB
Indonesia dan Kebangkitan Islam
Indonesia dan Kebangkitan Islam
ilustrasi: islamindonesia.id
Oleh A Muchlishon Rochmat

Islam dan Indonesia adalah dua kata yang hampir saja tidak bisa dipisahkan. Iya, Indonesia adalah negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Dari total 237 jutaan penduduk Indonesia, sekitar 207 jutanya adalah pemeluk agama Islam. Dengan jumlah tersebut menjadikan Indonesia sebagai negara Islam terbesar di dunia.

Indonesia adalah negara dengan penduduk terbesar dunia keempat setelah China (1,38 milyar), India (1,32 milyar), dan Amerika (324 juta). China dan Amerika mampu mengelola penduduknya dengan baik sehingga mereka sekarang menjadi dua poros kekuatan dunia, baik dalam hal ekonomi maupun militer. Begitupun dengan India dan Indonesia yang sedang gencar-gencarnya melakukan perbaikan diri untuk menjadi ‘kekuatan dunia.’ Setidaknya, untuk menjadi ‘pemain dunia’ ada dua hal yang harus dimiliki oleh sebuah negara; ekonomi dan militer yang kuat.

Tahun 2016, pertumbuhan ekonomi Indonesia adalah 5,02 persen. Sedangkan, pendapatan perkapita masyarakat Indonesia mencapai 47,96 juta atau setara dengan 3.065,1 dollar Amerika Serikat. Adapun urusan militer, Global Firepower Index menempatkan kekuatan militer Indonesia pada urutan ke-14 militer sebagai militer terkuat di dunia dan yang paling kuat di Asia Tenggara. 

Terlepas dari tren positif tersebut, Indonesia memiliki sejumlah permasalahan yang cukup krusial. Seperti kesenjangan sosial, kemiskinan, rendahnya mutu pendidikan dan literasi, keterbelakangan, korupsi yang merajalela, dan pengelolaan sumber daya alam yang buruk. 

Memang, pertumbuhan ekonomi kita mencapai angka 5 persen tetapi itu yang menikmati hanya kalangan atas saja. Ada disparitas yang mencolok antara yang kaya dan yang miskin. Berdasarkan data Global Wealth Report tahun 2016, Indonesia menduduki urutan ke-4 sebagai negara paling timpang di dunia, dimana 1 persen orang terkaya menguasai 49,3 persen kekayaan nasional. Badan Pusat Statistik merilis bahwa jumlah masyarakat miskin Indonesia adalah 27,76 juta orang per September 2016.

Tidak hanya itu, di dalam urusan membaca pun Indonesia menempati posisi buncit. Dari 61 negara yang disurvei oleh Central Connecticut State University di New Britain dari tahun 2003 sampai 2014, Indonesia menempati posisi ke-60 atau nomer dua dari belakang terkait dengan minat baca masyarakat. Begitupun dengan publikasi ilmiah di jurnal-jurnal internasional, Indonesia berada di peringkat ke-66 dengan jumlah publikasi ilmiah 918 setahun. Dalam hal korupsi, Indonesia menempati urutan ke-90 dari 176 negara yang disurvei oleh Transparancy International dalam data Indeks Persepsi Korupsi.  

Islam Bangkit dari Indonesia, Mungkihkan?
Tidak sedikit tokoh yang menggelorakan bahwa Islam akan bangkit dari Indonesia. Hal tersebut didasarkan pada situasi dan kondisi yang terjadi di Negara-negara Islam Timur Tengah, yaitu perang saudara yang tak kunjung usai. Maka dari itu, mereka yakin dan optimis bahwa Islam akan bangkit dari negara berpenduduk muslim terbesar di dunia ini. 

Optimisme tersebut bukan tanpa sebab, Ali Masykur Musa di dalam bukunya Membumikan Islam Nusantara: Respon Islam Terhadap Isu-isu Aktual memaparkan setidaknya ada empat hal yang dimiliki Indonesia sebagai syarat untuk menjadi pemimpin peradaban dunia ke depan. Pertama, Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk terbesar ke-4. Apalagi, dalam sepuluh sampai dua puluh tahun ke depan Indonesia akan menikmati bonus demografi. Jika bonus tersebut bisa dikelola dengan baik, maka itu akan ‘mengatrol’ ekonomi dan ‘bargaining position’ Indonesia. 

Kedua, letak Indonesia sangat strategis di dalam geopolitik internasional. Indonesia diapit oleh dua samudra; Hindia dan Pasifik. 40 persen lalu lintas perdagangan dunia berada di dua samudra tersebut. Dengan demikian, wilayah Indonesia sangat penting bagi perdagangan global. 

Ketiga, sumber daya alam Indonesia sangat melimpah. Indonesia dikaruniai Tuhan dengan kekayaan alam yang begitu kaya, baik di darat maupun di laut. Di darat, tanah Indonesia begitu subur. Ada gas, minyak, batubara, semen, dan nikel yang berlimpah di dalam tanah Indonesia. Di laut, kekayaan Indonesia juga melimpah. Bukan hanya sektor minyak dan gas, tetapi juga hasil laut, transportasi laut, pertambangan, bioteknologi, wisata, dan lainnya.

Keempat, Indonesia adalah negara demokrasi terbesar ke-3. Dan uniknya, Indonesia adalah negara berpenduduk muslim terbesar yang mampu menyandingkan demokrasi dan Islam dalam satu tatanan negara. Di dalam praktiknya, tidak mudah menyatukan Islam dan demokrasi. Negara-negara Islam di Timur Tengah belum menemukan titik temu antara Islam, demokrasi, dan nasionalisme. Mereka masih bertengkar dan berperang untuk urusan itu. 

Sebagai masyarakat mayoritas, saya pikir umat Islam adalah yang paling bertanggung jawab terhadap kemajuan dan kemunduran Indonesia. Berbagai macam persoalan di atas tersebut –seperti kemiskinan, kesenjangan sosial, korupsi, dan keterbelakangan- harus diselesaikan dengan baik dan benar jika ingin Indonesia maju.  

Saya yakin jika Islam bangkit, maka Indonesia pun akan bangkit. Tetapi yang menjadi pertanyaan adalah apakah jika Indonesia bangkit, Islam juga akan bangkit? Entahlah. Waallhu ‘alam.

Ketua Keluarga Mathali’ul Falah (KMF) Jakarta dan Sekitarnya

Selasa 25 April 2017 19:2 WIB
Ansor di Era Perang Media
Ansor di Era Perang Media
Oleh M. Fathoni Mahsun

Akhir-akhir ini, sampai pada harlahnya  yang ke-83, Gerakan Pemuda Ansor menjadi media darling, mulai dari tingkat Pengurus Pusat (PP) yang berada di Jakarta sampai yan tingkat Pengurus Anak Cabang (PAC) yang berada di kecamatan-kecamatan. Obyek masalahnya berkisar pada Pilkada, isu kebangsaan dan konfrontasi dengan kelompok-kelompok radikal. Tentu hal tersebut menjadi isu yang ngeri-ngeri sedap, di tengah-tengah kondisi perang media yang terjadi setiap hari.

Kita masih ingat dengan peristiwa yang terjadi di Gedangan Sidoarjo (4/3/2017), dimana Ansor setempat bereaksi dengan kehadirian Khalid Basalama, yang diagendakan mengisi pengajian di Masjid Salahuddin perumahan Puri. Khalid Basalama dipandang sering menyampaikan pengajian-pengajian yang mengumbar kebencian ini, tidak dikehendaki Ansor setempat. Setelah koordinasi dengan Kapolres dan penyelenggara, akhirnya Basalama diganti dengan ustad lain.

Namun berita yang berkembang sebaliknya, Ansor melakukan pembubaran pengajian. Padahal pengajian ketika itu masih berlanjut dengan ustadz pengganti. Namun berita  pembubaran ini sudah kadung menyebar kemana-mana. Sampai-sampai Mahfud MD pun ikut-ikut bereaksi. Pada kondisi demikian, berita tidak hanya tersebar melalui media-media mainstream, tapi juga melalui media-media sosail, seperti Facebook, Twitter, Whatsapp, dan lain-lain. Skemanya biasanya, apa yang tayang di media mainstream kemudian menjadi berita viral di medsos dengan aneka bumbu, sehingga menggelinding bak bola salju. Walhasil kader Ansor sendiri sering kali kabur melihat permasalahan yang terjadi. 

Pilkada Jakarta yang baru saja usai menjadi bukti, dimana secara mengejutkan bahtsul masail Ansor yang dilaksanakan pada  (11-12/3/2017), mengeluarkan keputusan mengenai bolehnya pemimpin non-Muslim. Respon keras segera menyeruak, baik yang datang dari kelompok yang selama ini dikenal berseberangan dengan Ansor, maupun dari kalangan NU sendiri. Dalam konteks Pilkada DKI putaran kedua, keputusan tersebut jelas membangun opini publik bahwa Ansor mendukung incumbent. Suasana seketika menjadi panas, tidak bisa dibayangkan bagaimana ramainya media-media sosial, yang mengiringi gemuruhnya media-media mainstream. 

Menyikapi kesimpang-siuran yang terjadi dari hasil bahtsul masail, Pengurus Pusat Ansor akhirnya harus turun gunung untuk menjelaskan pada kalangan grassroot. Untuk membendung bola liar yang sedang menggelinding, agar kader-kader Ansor di daerah-daerah tahu apa sebenarnya yang terjadi. Gus Latif Malik, salah satu tim yang menandatangani hasil bahtsul masail tersebut, dalam forum Rijalul Ansor PAC Ansor Jombang Kota menjelaskan, Ansor tidak pernah memberikan dukungan pada pemimpin non-Muslim. Karena di Al-Qur’an memang sudah jelas larangan tersebut. 

Namun manakala isu agama dipolitisir sedemikian rupa sehingga memicu potensi konflik, maka Ansor harus bertindak. Dalam hal ini Ansor berusaha menunjukkan konsistensinya menjaga persatuan dan kesatuan NKRI. “Jangan sampai isu agama yang dipolitisir sedemikian rupa, sebagaimana yang dilakukan DI/TII terulang kembali. Sabab kalau itu terjadi maka yang dihadapai adalah negara melalu aparat kemanannya, baik TNI maupun Polri.” Gus Latif juga mengingatkan, dengan kelompok-kelompok Islam yang berhaluan keras tersebut, kita masih bersaudara. Sebagai saudara kalau mereka melakukan hal yang membahayakan, maka harus kita ingatkan sebelum diingatkan oleh orang lain.

Kita mengenal prinsip  cover both side di dunia jurnalistik, yaitu pemberitaan yang berimbang. Dalam berita-berita konfliktatif, prinsip cover both side ini harus dipegang kuat-kuat, dengan wujud mengkonfirmasi dua pihak yang berseberangan. Sebab kalau hanya diambil salah satu pihak saja, maka akan dianggap sebagai berita yang tidak berimbang. 

Penerapan prinsip cover both side ini dalam pengamatan saya menjadi kacamata yang cukup efisien dalam membaca berita. Kalau berita hanya mengeksplor pendapat satu pihak, maka segera saja putuskan: ini berita sampah. Prinsip ini juga biasanya cukup ampuh membedakan bahwa berita yang sedang beredar dibuat media profesional, atau  media tendensius.

Beberapa pihak akhirnya mengkodifikasi mana media-media yang berpihak kepada “kita”, dan mana media-media yang berada di pihak “mereka”. Hal ini dimaksudkan agar Nahdliyin mudah mengidentifikasi sumber berita mana saja yang boleh dikonsumsi, dan sumber berita mana yang tidak boleh dikonsumsi. Tentunya media yang dimaksud bukanlah meda-media mainstream yang sudah akrab di kalangan publik.

Maka, aksi konkritnya adalah dengan membuat daftar media-media yang berseberangan dengan  Aswaja. Lalu daftar tersebut di share ke grup-grup media sosial. Saya mengapresiasi usaha demikian, namun apakah usaha ini sudah cukup? Menurut hemat saya agar masyarakat Nahdliyin, wabil khusus Ansor bisa cerdas memamah berita, harus melengkapi diri dengan kacamata cover both side sebagaimana dijelaskan sebelumnya. Sebab untuk menghafal list media “terlarang” yang ternyata cukup banyak, tidak lah mudah.

Pasca kedatangan Basalama di Gedangan Sidoarjo, Ansor Jawa Timur mendapat PR lagi dengan kedatangan Habib Riziq, yang diagendakan mengisi pengajian di masjid Ampel Surabaya pada (14//4/2017). Ansor Surabaya kali ini yang terpanggil, sebagaimana banyak elemen masyarakat Surabaya lainnya, yang tidak menginginkan Habib Rizieq mengusik kedaimaian dan kerukunan masyarakat Jawa Timur.

Sebagai yang punya wilayah, Ansor Surabaya mempunyai kewajiban moral untuk bersikap. Namun, pengalaman Ansor Sidoarjo nampaknya menjadi catatan penting. Sehingga agar tidak menjadi korban bully, Ansor Surabaya tidak sampai menurunkan massa, mereka hanya berstatemen di media. Tapi kenyataannya, mucul juga berita dengan judul “Berulah Lagi, Ansor Surabaya Mau Gagalkan Pengajian Habib Rizieq di Masjid Ampel”  di http://publik-news.com. Kehadiran Habib Rizieq ini hampir saja luput dari perhatian, karena seluruh elemen NU Jawa Timur ketika itu baru saja mempunyai gawe besar berupa Istighotsah Kubro pada (9/4/2017).

Pola gerakan yang memanfaatkan kelengahan warga Nahdliyin ini terulang kembali, kali ini terjadi di Jombang. Setelah Ansor dan Banser masih kelelahan seusai mengawal Konfercab PCNU Jombang pada (21-23/4/2017), secara mengjutkan tiba-tiba terdengar kabar ada unjuk rasa HTI di dekat RSNU Jombang. Unjuk rasa itu terjadi ketika beberapa anggota Ansor dan Banser masih terlelap, setelah beberapa jam sebelumnya begadang sampai dini hari.

Masihkah para kader Ansor tidak merasa bahwa saat  ini kita sedang berada pada era perang media? Pilihannya adalah bermedsos sebagaimana biasa, atau ambil bagian menjadi pasukan perang Ansor yang saat ini sudah mulai dibentuk. Kalau pilihan kedua yang diambil maka pertama, wajib hukumnya kader Ansor mempunyai Twitter, karena saat ini popularitas berita banyak dipengaruhi oleh trending topik Twitter. Tidak zamannya lagi kader Ansor tidak punya account Twitter, sebab kalau ada undangan nge-twit tidak bisa ikut berperan mendongkrak isu yang sedang diusung. Kedua, kemampuan ber-Facebook tidak cukup hanya dengan update status, tapi juga harus bisa melaporkan account-account penyebar hoax dan berita ujaran kebencian agar segera diblokir oleh Facebook. Tiga, kader Ansor tidak cukup mengkonsumsi meme, tapi juga harus bisa memproduksi meme. 
Sederhana sebenarnya.


Penulis adalah kader Ansor Jombang

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG