IMG-LOGO
Pustaka

Dari Sarang, Ulama Khos NU Memanggil

Kamis 27 April 2017 18:1 WIB
Bagikan:
Dari Sarang, Ulama Khos NU Memanggil
Jam’iyah Nahdlatul Ulama, khususnya kalangan pesantren telah meletakkan pondasi kuat, baik dalam memperjuangkan kemerdekaan, merancang dasar negara, dan meneguhkan eksistensi kebhinnekaan bangsa Indonesia. Namun, eskalasi gerakan intoleran yang bersumber organisasi-organisasi dengan membawa misi paham transnasional kian menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan persatuan bangsa.

Hal itu termasuk salah satu problem pelik yang seolah organisasinya saat ini ‘dibiarkan’ oleh yang empunya kebijakan. NU dana warganya seolah-olah hanya menjadi pemadam kebakaran saja. Problem pelik lainnya yaitu percaturan politik yang saat tereduksi kepentingan pribadi bahkan tak segan-segan menjual agama untuk mencapai syahwat politiknya. Belum lagi kesenjangan ekonomi yang saat ini semakin menganga antara si kaya dan si miskin, problem, kesejahteraan, dan lain sebagainya.

Menyikapi problem krusial tersebut, para ulama khos NU menggalang pemikiran dan gerakan nyata di Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang, Jawa Tengah pada 16 Maret 2017 lalu. Sebanyak 99 Ulama Khos tersebut merajut sumber daya, baik tenaga dan pikiran untuk mencari jalan terbaik bagi kelangsungan hidup bangsa ini menuju kemajuan dan keberadaban dalam bingkai keberagaman.

Majalah Risalah NU edisi April-Mei 2017 ini mengangkat secara khusus laporan terkait majelis ulama khos tersebut. Selain sajian informasi menarik lain dalam setiap rubrik, Risalah menyajikan taushiyah-taushiyah khusus dari para ulama khos NU seperti KH Maimoen Zubair, KH Tolchah Hasan, KH Ahmad Mustofa Bisri, KH Ma’ruf Amin, KH Dimyati Rois, KH Said Aqil Siroj, KH Nawawi Abdul Jalil, TGH Turmudzi Badruddin, KH Sanusi Baco, KH Abuya Muhtadi Dimyati, KH TK Bagindo M. Letter, dan kiai-kiai khos lain.

Meskipun persoalan yang dibahas adalah masalah-masalah serius, namun para kiai mampu membungkus kegiatan yang dihadiri oleh ribuan jamaah ini dengan situasi santai dan penuh dengan ger-geran. Artinya, para kiai NU yang sedari dulu terkenal dengan berbagai macam humornya ini berusaha tetap cair sehingga jalan keluar yang diharapkan dari problem-problem bangsa pun dapat mengalir deras.

Dari pertemuan ini, para kiai khos dari seluruh penjuru Nusantara menghasilkan Risalah Sarang. Risalah yang berisi lima poin pemikiran sebagai jalan keluar atas problem-problem bangsa ini didahului dengan mengangkat beberapa poin inti yang terdapat dalam Qonun Asasi NU yang ditulis oleh KH Muhammad Hasyim Asy’ari, Pendiri NU. Namun tanpa mengurangi rasa hormat, penulis hanya menampilkan kelima poin Risalah Sarang itu, sebagai berikut:

Bismillahirrahmanirrahim

1. Nahdlatul Ulama senantiasa mengawal Pancasila dan NKRI serta keberadaannya tidak dapat bisa dipisahkan dari keberadaan NKRI itu sendiri. Nahdlatul Ulama mengajak seluruh ummat islam dan bangsa Indonesia untuk senantiasa mengedepankan pemeliharaan negara dengan menjaga sikap moderat dan bijaksana dalam menanggapi berbagai masalah. Toleransi, demokrasi dan terwujudnya akhlakul karimah dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat harus terus diperjuangkan bukan hanya demi keselamatan dan harmoni kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat di Indonesia ini saja, tetapi juga sebagai inspirasi bagi dunia menuju solusi masalah-masalah peradaban yang dihadapi dewasa ini.

2. Lemahnya penegakan hukum dan kesenjangan ekonomi merupakan sumber-sumber utama kegelisahan masyarakat selain masalah-masalah sosial seperti budaya korupsi, rendahnya mutu pendidikan dan sumberdaya manusia, meningkatnya kekerasan dan kemerosotan moral secara umum. Pemerintah diimbau agar menjalankan kebijakan-kebijakan yang lebih efektif untuk mengatasi masalah-masalah tersebut termasuk dengan menerapkan kebijakan-kebijakan yang lebih berpihak kepada yang lemah (afirmatif) seperti reformasi agraria, pajak progresif, pengembangan strategi pembangunan ekonomi yang lebih menjamin pemerataan serta pembangunan hukum ke arah penegakkan hukum yang lebih tegas dan adil dengan tetap menjaga prinsip praduga tak bersalah dalam berbagai kasus yang muncul. Penyelenggaraan negara oleh pemerintah dan unsur-unsur lainnya harus senantiasa selaras dengan tujuan mewujudkan maslahat bagi seluruh rakyat (tasharraful imam manutun bil maslahatirroiyyah).

3. Perkembangan teknologi informasi, termasuk internet dan media-media sosial, serta peningkatan penggunaannya oleh masyarakat membawa berbagai manfaat seperti sebagai sarana silaturahmi nasrul ilmi taawwun alal birri dan sebagainya, tetapi juga mendatangkan dampak-dampak negatif seperti cepatnya penyebaran fitnah dan seruan seruan kebencian, propaganda radikalisme, pornografi, dan halhal lain yang dapat merusak moral dan kerukunan masyarakat. Pemerintah diimbau untuk mengambil langkah-langkah yang lebih efektif baik dalam mengatasi dampak-dampak negatif tersebut maupun pencegahanpencegahannya. Pada saat yang sama para pemimpin masyarakat dihimbau untuk terus membina dan mendidik masyarakat agar mampu menyikapi informasi-informasi yang tersebar secara lebih cerdas dan bijaksana sehingga terhindar dari dampak-dampak negatif tersebut.

4. Para pemimpin negara, pemimpin masyarakat, temasuk pemimpin Nahdlatul Ulama agar senantiasa menjaga kepercayaan masyarakat dengan senantiasa arif dan bijaksana dalam menjalankan tugas masing-masing dengan penuh tanggung jawab adil dan amanah dengan menomorsatukan kemaslahatan masyarakat dan NKRI.

5. Para ulama dalam majlis ini mengusulkan diselenggarakannya forum silaturrahmi di antara seluruh elemen-elemen bangsa untuk mencari solusi berbagai permasalahan yang ada, mencari langkah-langkah antisipatif terhadap kecenderungan-kecenderungan perkembangan di masa depan serta rekonsiliasi diantara sesama saudara sebangsa. Nahdlatul Ulama diminta untuk mengambil inisiatif bagi terwujudnya forum tersebut.

والله الموفق إلى أقوم الطريق

Sarang, 16 Maret 2017

Selain liputan khusus tentang Silaturrahim Nasional Alim Ulama Nusantara tersebut, Majalah Risalah NU juga menyajikan berbagai informasi penting terkait Istighotsah Akbar yang diselenggerakan PWNU Jawa Timur pada 9 April 2017 lalu. Majalah gawangan Mustafa Helmy dan kawan-kawan ini juga mengulik secara mendalam terkait program Kredir Usaha Rakyat (KUR) agar lebih memperhatikan potensi sumber daya yang dimiliki NU.

Selain itu, opini juga siap mengisi input para pembaca dari Sekjen PBNU HA. Helmy Faishal Zaini yang mengangkat judul “Menangkal Radikalisme Lewat Dakwah Virtual”. Juga dari Ketua Lakpesdam PBNU H Rumadi Ahmad yang mengangkat “Moderasi Pemikiran KH Hasyim Muzadi” untuk mengenang kepergian mendiang Ketua Umum PBNU periode 1999-2000 tersebut. Informasi-informasi bergizi bisa dibaca secara langsung dalam Majalah setebal 70 halaman ini. Selamat membaca!

(Fathoni Ahmad)

Bagikan:
Rabu 26 April 2017 16:0 WIB
Ilmu Pedagogik Islam Nusantara Karya KH Hasyim Asy’ari
Ilmu Pedagogik Islam Nusantara Karya KH Hasyim Asy’ari
Ini adalah kitab “Âdâbul ‘Âlim wal Muta’allim” karangan seorang tokoh besar yang menjadi maha guru ulama Nusantara pada masanya, sekaligus juga pendiri Jam’iyyah Nahdlatul Ulama (NU), yaitu Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari (Jombang, Jawa Timur, 1875—1947).

Kitab ini berjudul lengkap “Âdâbul ‘Âlim wal Muta’allim fî Mâ Yahtâju ilaihi al-Muta’allim” dan ditulis dalam bahasa Arab. Kandungan kitab ini berisi kajian ilmu pedagogik Islami, yaitu ilmu yang mengkaji etika, strategi, dan gaya pembelajaran menurut pakem nilai-nilai keislaman, agar ilmu yang dipelajari dapat bermanfaat dan memiliki nilai keberkahan.

Dalam tradisi ilmu pengetahuan Islam, terdapat banyak karya yang lahir dan ditulis dalam bidang kajian ini. Hal ini menimbang sangat prinsip dan urgennya posisi adab (etika) dan akhlak bagi seorang pelajar dan pengajar di mata ajaran agama Islam.

Sekadar menyebut, beberapa karya dalam bidang ini adalah “Ta’lîm al-Muta’allim” karangan al-Zarnûjî, “al-Risâlah al-Mufashshalah li Ahwâl al-Muta’allimîn” karangan Abû al-Hasan al-Qâbisî, “Tadzkirah al-Sâmi’ wa al-Mutakallim” karangan Ibn Jamâ’ah, “al-Jâmi’ li Akhlâq al-Râwî wa Âdâb al-Sâmi’” karangan al-Khatîb al-Baghdâdî, juga kitab “Âdâbul ‘Âlim wal Muta’allim” karangan Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari.

Kitab “Âdâbul ‘Âlim wal Muta’allim” karangan KH. Hasyim Asy’ari ini terbagi ke dalam 8 (delapan) bab, yaitu (1) bab yang menerangkan keutamaan ilmu, ahli ilmu, keutamaan mempelajari dan mengajarkannya, (2) bab yang menerangkan etika seorang penuntut ilmu atas dirinya sendiri, (3) bab yang menerangkan etika seorang penuntut ilmu atas guru-gurunya, (4) bab yang menerangkan etika seorang penuntut ilmu atas pelajarannya, (5) bab yang menerangkan etika seorang pengajar atas dirinya sendiri, (6) bab yang menerangkan etika seorang pengajar atas pelajaran yang diampunya, (7) bab yang menerangkan etika seorang pengajar atas murid-murid yang diajarinya, dan (8) bab yangmenerangkan etika penuntut ilmu dan pengajar ilmu terhadap kitab sebagai sarana belajar mengajar, sekaligus etika menyalin dan mengarang kitab.

Dalam kolofon, KH. Hasyim Asy’ari menyebutkan jika karya ini diselesaikan pada hari Ahad, 22 Jumadil Akhir tahun 1343 Hijri, bersamaan dengan 18 Januari 1925 Masehi. Tertulis di sana;

تم الكتاب الموسوم بآداب العالم والمتعلم. ووافق الفراغ من جمعه صبيحة يوم الأحد اثنين وعشرين جمادى الثانية سنة ألف وثلثمائة وثلاث وأربعين من هجرة سيد المرسلين

(Telah selesai kitab yang dinamakan “Âdâbul ‘Âlim wal Muta’allim”. Selesai penulisannya pada pagi hari Ahad, dua puluh dua Jumada al-Tsâniah tahun seribu tigaratus empat puluh tiga Hijri).

Melihat titimangsa di atas, kitab “Âdâbul ‘Âlim wal Muta’allim” ini ditulis oleh KH. Hasyim Asy’ari sekitar satu tahun sebelum diresmikannya pendirian organisasi Nahdlatul Ulama (NU) yang berhaluan Islam Tradisional Ahlussunnah wal Jama’ah, yang merupakan corak Islam mayoritas (sawâd a’zham) di seluruh dunia Islam pada saat itu. NU didirikan pada 16 Rajab 1344 Hijri (bertepatan dengan 31 Januari 1926 M).

Kitab “Âdâbul ‘Âlim wal Muta’allim” mendapatkan taqrîzh (endorsement) dari ulama-ulama besar Makkah pada masanya, yang juga merupakan sahabat Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari. Taqrîzh tersebut terletak di bagian akhir halaman kitab. Di antara ulama-ulama Makkah yang memberikan taqrîzh atas kitab ini adalah Syaikh Sa’d ibn Muhammad al-Yamânî al-Makkî, Syaikh ‘Abd al-Hamîd Sunbul al-Hadîdî al-Makkî, Syaikh Hasan al-Yamânî al-Makkî, dan Syaikh Muhammad ‘Alî al-Yamânî al-Makkî.

Dalam salah satu taqrîzh, Syaikh ‘Abd al-Hamîd Sunbul al-Hadîdî menulis;

أما بعد. فقد اطلعت على الكتاب المسمى بآداب العالم والمتعلم، للعالم العلامة والنحرير الفهامة الشيخ محمد هاشم بن محمد أشعري الجنباني من علماء جزيرة جاوا، المشهور فيها وفي غيرها من الجزر الإسلامية بالورع والتقوى. فرأيته سفرا موجزا جذابا أدبيا ....

(Ammâ ba’du. Saya telah menelaah kitab “Âdâbul ‘Âlim wal Muta’allim” karangan seorang ulama yang sangat alim, seorang besar yang pemahaman keilmuannya sangat luas, yaitu Syaikh Muhammad Hasyim anak Syaikh Muhammad Asy’ari dari Jombang, yang mana beliau adalah salah satu ulama Pulau Jawa, yang terkenal di sana dan juga di pulau-pulau Nusantara lainnya dengan kewara’an dan ketakwaannya. Aku melihat karya ini sebagai karya yang padat akan kandungan isi, sangat penuh dengan nilai-nilai etika …. )

Ditambahkan oleh Syaikh ‘Abd al-Hamîd Sunbul al-Hadîdî, jika bahasa Arab yang digunakan oleh KH. Hasyim Asy’ari dalam karyanya ini sangat istimewa, sebagai bahasa Arab tingkat susastra tinggi.

Kitab ini baru dicetak sekitar 70 (tujuh puluh) tahun kemudian, yaitu bulan Safar 1415 Hijri (Juli 1994), setelah disunting dan ditashih oleh cucu KH. Hasyim Asy’ari, yaitu KH. Ishom Hadziq (1965—2003). KH. Ishom Hadziq juga memberi pengantar bigrafi singkat kakek beliau dalam bahasa Arab. Versi suntingan tersebut diterbitkan oleh Maktabah al-Turâts al-Islâmî, Pesantren Tebu Ireng, Jombang Jawa Timur, dengan tebal keseluruhan 110 halaman.

Saya mengaji kitab “Âdâbul ‘Âlim wal Muta’allim” hingga khatam dari al-Mukarram Kiyai Nur Khalis Ghazali Magelang ketika belajar di Lirboyo, Kediri (Jawa Timur) dulu. Tercatat pada kitab “Âdâbul ‘Âlim wal Muta’allim” milik saya, pengajian kitab ini dimulai pada hari Ahad 17 Safar 1421 Hijri (20 Mei 2000 Masehi), jam 4 sore, di musholla komplek DS (Darus Salam). Pengajian dikhatamkan pada hari Ahad, 16 Rabi’ul Akhir di tahun yang sama (bertepatan dengan 16 Juli 2000).

Selain “Âdâbul ‘Âlim wal Muta’allim”, KH. Hasyim Asy’ari juga memiliki beberapa kitab karangan lain, yaitu;

(1) Risâlah Ahlis Sunnah wal Jamâ’ah. Kitab ini menjelaskan pemahaman, sejarah, dan konsep akidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah sebagai basis utama dan dasar dari NU.

(2) al-Tibyân fîn Nahy ‘an Muqâtha’atil Arhâm wal Aqârib wal Ikhwân. Kitab ini memuat kajian pentingnya persatuan ummat Islam dan larangan untuk saling berpecah belah (muqâtha’ah al-arhâm) hanya karena berbeda pendapat dan pemikiran.

(3) an-Nûrul Mubîn fî Mahabbah Sayyidil Mursalîn. Kitab ini memuat kajian biografi dan keteledanan Nabi Muhammad SAW serta keharusan ummat Islam untuk meneladani keluhuran akhlak Nabi Muhammad SAW.

(4) al-Tanbîhât al-Wâjibât li Man Yashna’ al-Maulid bi al-Munkarât. Kitab ini memuat peringatan dan larangan bagi pihak-pihak yang merayakan mauled Nabi Muhammad dengan kemungkaran-kemungkaran.

(5) Ziyâdatut Ta’lîqât. Kitab ini merupakan tanggapan atas sebuah nazhaman yang ditulis oleh KH. Abdullah Yasin Pasuruan yang mengkritik pendirian NU.

(6) Hâsyiah ‘alâ Fathir Rahmân bi Syarh Risâlah al-Walî Ruslân. Kitab ini merupakan ulasan panjang (hâsyiah) atas teks “Hikam Ibn Ruslan”, sebuah kitab dalam kajian tasawuf karangan Syaikh Ibn Ruslan.

(7) al-Durar al-Muntasirah fîl Masâil al-Tis’ ‘Asyrah. Kitab ini memuat kajian tasawuf, di dalamnya membahas masalah-masalah tarekat dan kewalian.

(8) Kafful ‘Awâm ‘anil Haudh fî Syirkah al-Islâm. Kitab ini memuat pandangan politik KH. Hasyim Asy’ari atas Partai Sarekat Islam (SI). Kitab ini mendapat tanggapan dari Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau dengan menulis “Tanbîh al-Anâm fî al-Radd ‘alâ Risâlah Kaff al-‘Awâm”.


A. Ginanjar Sya’ban, khadim Pusat Kajian Islam Nusantara (PKIN) Pascasarjana UNU Indonesia, Jakarta


Ahad 16 April 2017 17:30 WIB
Fathur Rahim, Kitab Karya Sultan Idrus Buton
Fathur Rahim, Kitab Karya Sultan Idrus Buton
Ini adalah gambar halaman sampul dari kitab “Fathur Rahîm fî Tauhîd Rabbil ‘Arsyil ‘Adhîm”, dalam versi manuskrip (makhthûth) dan versi edisi teksnya (muhaqqaq), karangan seorang ulama besar Nusantara yang juga Sultan Buton ke-28, yaitu Syekh Muhammad ‘Idrûs ibn Syekh Badr al-Dîn al-Buthûnî, (dikenal dengan Syekh Idrus Buton, w. 1851 M).

Kitab “Fathur Rahîm” menghimpun kajian intisari ajaran agama Islam, mulai dari ajaran tauhid, fiqih, dan tasawuf, termasuk di dalamnya adalah adab berzikir, keutamaan bacaan-bacaan zikir, keutamaan membaca shalawat atas Nabi Muhammad, keutamaan ilmu pengetahuan, para ulama, para penuntutnya, dan orang-orang yang hidup dalam kecintaan atas ilmu.

Syekh Idrus Buton menulis dalam kata pengantarnya;

فيقول العبد الفقير الحقير المعترف بالذنب والتقصير محمد عيدروس قائم الدين بن الفقير بدر الدين البطوني، غفر الله له ولوالديه ولمشايخه ولجميع المسلمين. هذا مختصر في علم العقيدة من أركان الإيمان والإسلام، وفي فضل كلمة الحسنى وغيرها، وآداب الذكر بذلك من مشايخي العظام، وفي فضل الإكثار بالصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم، في كل وقت من الأوقات في الليالي والأيام، وفي فضل العلم والعلماء والمتعلمين والمحبين لهم كلهم أهل الفضل والاحترام, وسميته فتح الرحيم في توحيد رب العرش العظيم.

(Maka berkatalah seorang hamba yang fakir nan hina, yang mengakui akan segala dosa dan kesalahan, Muhammad Idrus Qâimuddîn putra dari [Sultan] Badruddîn dari Buton, semoga Allah berkenan mengampuninya, kedua orang tuanya, guru-gurunya, dan semua orang Muslim. [Ammâ ba’du]. Ini adalah sebuah ringkasan dalam ilmu akidah, dari rukun-rukun iman dan islam, juga dalam menerangkan keutamaan kalimat-kalimat dzikir yang indah dan lainnya, adab berzikir yang aku dapatkan dari para guruku yang agung, juga dalam menerangkan keutamaan memperbanyak bersalawat kepada Nabi Muhammad SAW di setiap masa di siang dan malam, juga dalam menerangkan keutamaan ilmu, para ulama, para penuntut, dan orang-orang yang mencintai ilmu dan ahlinya …)

Manuskrip kitab ini sekarang tersimpan di Buton dan menjadi koleksi Abdul Mulku Zahari Buton (lihat “Katalog Naskah Buton Koleksi Abdul Mulku Zahari”, disunting oleh Achadiati Ikram dkk dan diterbitkan oleh Manassa-YOI di Jakarta pada tahun 2002). Manuskrip ini kemudian didigitalisasi oleh British Library dan menjadi koleksi digital perpustakan tersebut dengan nomor kode EAP212/2/8.

Manuskrip kitab “Fathur Rahîm” tersebut kemudian ditahqiq oleh al-Fadhil al-Muhaqqiq Abu Sabiq Supriyanto Kudus pada tahun 2016 silam. Jumlah keseluruhan kitab “Fathur Rahîm” versi manuskrip setebal 20 halaman, dan dalam versi tahqiqan menjadi 57 halaman, termasuk di dalamnya pengantar pentahqiq dan biografi Syekh Idrus Buton.

Tidak ada kolofon yang menginformasikan kapan dan dimana karya ini diselesaikan. Namun kemungkinan besar karya ini ditulis di Buton, pada rentang kurun masa antara tahun 1824—1851 M. Rentang waktu tersebut merupakan masa menjabatnya Syekh Idrus sebagai Sultan Buton ke-28. Ini baru sebatas pengandaian, bisa jadi titimangsa penulisan karya ini adalah sebelum masa tersebut.

Syekh Sultan Idrus Buton diperkirakan lahir pada tahun 1784 M. Perkiraan ini menimbang ketika dilantik sebagai Sultan Buton ke-28, Syekh Idrus berusia 40 tahun. Ayah beliau adalah Sultan Badruddîn, Sultan Buton ke-27. Sementara kakeknya adalah Sultan Qôimuddîn al-Kabîr, yang merupakan Sultan Buton ke-24.

Idrus kecil tumbuh dalam lingkungan aristokrasi istana Kesultanan Buton, sekaligus dalam lingkungan ilmu pengetahuan dan keislaman yang kental. Pada lingkungan keluarganya itu, dan di Madrasah Kesultanan Buton, Idrus kecil telah menghafal Al-Qur’an sejak kecil dan belajar ilmu-ilmu keislaman dasar.

Hingga paruh kedua abad ke-19 M, Kesultanan Buton tercatat sebagai salah satu kekuatan politik dan ekonomi terbesar di wilayah timur kepulauan Nusantara, selain Kesultanan Ternate dan Tidore, Kesultanan Bone, Kesultanan Bacan, Kesultanan Banjar, Kesultanan Sulu, termasuk kesultanan-kesultanan di kepulauan Sunda Kecil (Nusa Tenggara), seperti Kesultanan Bima, Kesultanan Sumbawa, dan lain-lain.

Ketika masih menjadi pengaran, Idris Buton diamanahi ayahandanya untuk menjadi pemimpin pasukan Kesultanan Buton dalam sebuah perang laut besar di perairan Buton, melawan para perompak dan bajak laut. Pada perang naval tersebut, Pangeran Idris Buton membuktikan kecakapannya sebagai pemimpin, dan pasukannya berhasil mengahalkan sekelompok perompak dan bajak laut tersebut.

Pada tahun 1824, Syekh Idrus dilantik sebagai Sultan Buton ke-28 menggantikan ayahandanya. Beliau pun menyandang gelar Sultan Qôimuddîn Muhammad Idrus ibn Sultan Badruddîn ibn Sultan Qôimuddîn al-Kabir. Beliau menjadi Sultan Buton hingga wafat pada tahun 1851.

Ada banyak proyek reformasi yang dilakukan oleh Sultan Idrus Buton ketika memimpin kesultanan, di antaranya adalah mereformasi undang-undang system tata negara kesultanannya. Selain itu, Sultan Idris Buton juga dikenal sebagai penguasa yang mencintai ilmu pengetahuan, menegakkan hukum dengan adil, mencintai rakyatnya, dan menghormati ulama. Beliau juga dikenal sebagai figure sultan yang ulama, dan ulama yang sultan. Kecenderungan keilmuan sang sultan adalah fiqih dan tasawuf.

Di antara guru-guru utama Syekh Idrus Buton adalah kakeknya sendiri, yaitu Syekh Sultan Qôimuddîn al-Kabîr (w. 1788), juga Syekh Muhammad Sunbul al-Makkî (w. ?), seorang ulama besar Makkah yang datang ke Kesultanan Buton dan mengajar di sana.

Besar kemungkinan Syekh Idrus Buton juga menjadi murid Syekh ‘Abd al-Shamad ibn ‘Abd al-Rahmân al-Jâwî al-Falambânî (dikenal dengan Syekh Abdul Shamad Palembang, w. 1832), kutub utama Nusantara pada zamannya. Hal ini diindikasikan dari banyaknya koleksi kitab-kitab karangan Syekh Abdul Shamad Palembang yang menjadi bacaan dan milik Syekh Idrus Buton.

Genealogi intelektual dan transmisi keilmuan (sanad) Syekh Idrus Buton juga menyambung kepada Syekh Muhammad ibn ‘Abd al-Karîm Sammân al-Madanî (w. 1775), guru utama Syekh Abdul Shamad Palembang, lewat jalur Syekh Muhammad ibn Sumbul al-Makkî.

Sanad keilmuan Syekh dari Idris Buton tersebut tergambar sebagai berikut; Syekh Idris Buton dari Syekh Muhammmad ibn ‘Abd al-Karîm dari Syekh Muhammad Sumbul al-Makkî dari Syekh ‘Abd dari Syekh Musthafâ ibn Kamâluddîn al-Bakrî dari Sammân al-Madanî dari Syekh ‘Alî Effendî dari Syekh Musthafâ Effendî al-Adrânarî dari al-Lathîf dari Syekh dari Syekh ‘Umar al-Fuâdî dari Syekh Ismâ’îl al-Jarûnî dari al-Qarâbisyî dari Syekh dari Syekh Halabî al-Sulthânî al-Aqrânî dari Khalîluddîn al-Tawaqqu’î dari Syekh dari Syekh Abû Zakariyyâ al-Syirwanî dari Muhammad al-Anjânî dari Syekh ‘Umar dari Syekh Marâm al-Khalwatî dari Syekh ‘Izzuddîn dari Shadaruddîn dari Syekh Abû Ishâq Ibrâhîm dari Syekh Akhâ Muhammad al-Bilsî dari al-Khalwatî dari Syekh Syihâbuyddîn dari Syekh Rukdunnîn al-Ahrâwî dari al-Kailânî dari Syekh Quthbuddîn al-Abhârî dari Syekh Rukduddîn al-Najjâsî dari al-Thabrîsyî dari Syekh ‘Umar al-Bakrî dari Syekh ‘Abd al-Qâhir Dhiyâuddîn al-Surhâwardî dari  Syekh Junaid dari Syekh Minsyâ al-Nûrî dari Syekh Muhammad al-Dânirî dari  Syekh dari Syekh Ma’rûf al-Karkhî dari Syekh Sirrî al-Siqthî dari al-Baghdâdî  dari Syekh al-Hasan al-Bashrî dari Syekh Habîb al-A’jamî dari Dâwud al-Tâbî  Rasûlullâh SAW. dari Sahabat ‘Ali ibn Abî Thâlib KRW.  

Syekh Idris Buton meninggalkan banyak karya, baik dalam bidang teologi, yurisprudensi islam, tata negara, dan tasawuf. Mayoritas karya-karya ini ditulis dalam bahasa Arab. Di antara karya-karya tersebut adalah; (1) Raudhah al-Ikhwân fî ‘Ibâdah al-Rahmân, (2) Tahsîn al-Awlâd fî Thâ’ah Rabb al-‘Ibâd, (3) Dhiyâ al-Anwâr fî Tashfiyyah al-Akdâr, (4) Mu’nisah al-Qulûb fî Dzikr wa Musyâhadah ‘Allâm al-Ghuyûb, (5) Tanqiyyah al-Qulûb fî Ma’rifah ‘Allâm al-Ghuyûb, (6) Kasyf al-Hijâb fî Murâqabah al-Wahhâb, (7) Mushbâh al-Râjîn fî Dzikr al-Shalâh wa al-Salâm ‘alâ al-Nabî Syafî’ al-Mudznibîn, (8) Fathur Rahîm fî Tauhîd Rabb al-‘Arys al-‘Adhîm, (9) Durrah al-Ahkâm, (10) Sabîl al-Salâm ilâ Bulûgh al-Marâm, dan lain-lain.

Syekh Idris Buton wafat pada tahun 1851 dan memiliki tiga orang putera, yaitu (1) Sultan Muhammad Isa Buton, (2) Syekh Abdul Hadi Buton, dan (3) Sultan Muhammad Salleh Buton.

A. Ginanjar Sya’ban, khadim Pusat Kajian Islam Nusantara (PKIN) Pascasarjana Islam Nusantara UNU Indonesia, Jakarta


Ahad 16 April 2017 7:3 WIB
Perdebatan Dasar Negara Indonesia Tak Kunjung Usai
Perdebatan Dasar Negara Indonesia Tak Kunjung Usai
"Ringkasnya, Al-Qur’an tampaknya tidak tertarik pada teori khas tentang negara yang harus diikuti oleh umat Islam. Perhatian utama Al-Qur’an ialah agar masyarakat ditegakkan atas keadilan dan moralitas.” (hal. 24)

Saya kira buku yang ditulis Syafii Ma’arif ini menjadi rujukan penting terkait dengan perdebatan panjang penetapan dasar negara Indonesia. Bukan hanya itu, Buya Syafii juga menarik ke belakang hingga zaman Nabi Muhammad, Khulafaur Rasyidin, dan zaman kekhalifahan Islam. Ia menyoroti satu per satu rangkaian peristiwa politik mulai dari zaman nabi hingga saat ini, khususnya apa yang terjadi di Indonesia.

Buku ini terbagi menjadi 4 bab. Bab pertama adalah pendahuluan. Pada bab ini, ia menguraikan poin-poin di bab 2, 3, dan 4. Selain itu, alasan melakukan studi tentang Islam dan Pancasila sebagai sebagai dasar negara juga dijelaskan di bab ini, yaitu ia merasa belum adanya studi yang agak lengkap tentang masalah dasar negara Indonesia.

Bab kedua adalah tentang Islam dan Cita-cita politik. Di sini, ia dengan tegas mengatakan bahwa Al-Qur’an tidak memberikan pola pasti dalam mengelola negara yang harus diikuti oleh umat Islam. Umat Islam bebas menentukan model yang mana, asal asas syuro (musyawarah) harus diterapkan di dalamnya. Karena asas syuro ini lah yang menjadi inti dari Al-Qur’an dalam hal mengatur suatu negara.

Praktik syuro (musyawarah) pertama adalah pertemuan di Balai Banu Saidah untuk menentukan pengganti (khalifah) Nabi Muhammad. Pertemuan ini melibatkan semua pihak; perwakilan dari Muhajiri dan Ansar. Setelah perdebatan yang panjang, maka terpilihlah sahabat Abu Bakar sebagai khalifah.

Namun sayang, praktik syuro (musyawarah) ini tidak berkembang pada zaman dinasti-dinasti Islam setelahnya. Mereka ‘mengaku’ sebagai kerajaan Islam, tetapi menggunakan sistem monarki dalam pergantian pemimpinnya, bukan pola musyawarah sebagaimana yang diajarkan oleh Al-Qur’an.

Bab tiga membahas tentang Islam Indonesia pada abad ke-20. Di bab ini, ia mencoba menguraikan peran dan kontribusi organisasi Islam modern yang bercorak sosio-kegamaan seperti Muhammadiyah, Persis, Al Irsyad, organisasi Islam tradisional seperti NU, dan organisasi Islam politik seperti Sarekat Islam pada zaman penjajahan Belanda dan Jepang. Perlawanan umat Islam kepada penjajah dijelaskan secara rinci dan detil pada bab ini. Ia juga menyinggung permbentukan Masyumi –sebuah partai yang menjadi payung besar ormas Islam- dan perpecahannya hingga membuat ormas Islam itu berjalan sendiri-sendiri.

Bab terakhir, Islam dan Dasar Negara Indonesia. Penulis buku ini menilai, meskipun para pengusung negara Islam tersebut banyak bicara tentang negara yang berdasakan Islam, namun mereka belum berhasil menyusun karya sistematis dan ilmuah tentang konsep negara Islam yang mereka cita-citakan. Mereka yang ingin menjadikan agama Islam sebagai dasar negara Indonesia memandang bahwa mayoritas penduduk Indonesia adalah umat Islam dan Islam jauh lebih unggul dijadikan sebagai dasar negara daripada Pancasila ataupun ideologi lainnya. Maka dari itu, mereka menganggap Islam perlu diterapkan sebagai dasar di negara ini. Pada bab ini pula, penulis buku mengupas tuntas tentang konsep negara Islam yang digagas oleh M. Natsir, Zainal Abidin Ahmad, dan Muhammad Asad.

Antara mereka yang menjadi pendukung Pancasila dan yang mendukung Islam sebagai dasar negara saling serang. Bagi mereka yang mendukung Islam sebagai dasar negara menilai bahwa Pancasila itu sekuler karena sila-sila di dalamnya bukan berasal dari Allah, prinsip-prinsip Pancasila tidak memiliki kebulatan dan kesatuan yang logis, dan lainnya. Sementara yang pendukung Pancasila menolak bahwa Pancasila tidak memiliki kesatuan logika. Mereka juga menolak kalau Pancasila itu adalah sekuler karena mereka menganggap sumber pertama Pancasila adalah Islam.

Meski sudah disetujui bersama dalam sidang BPUPKI tentang Pancasila sebagai dasar negara Indonesia, namun nyatanya kelompok yang ingin menjadikan Islam sebagai dasar negara masih saja terus ada hingga saat ini.

Sebetulnya, buku ini sudah pernah diterbitkan pada tahun 1985 dan tahun 2006. Namun pada tahun 2017 ini, penerbit Mizan kembali menerbitkan buku ini. Saya rasa ini hal yang bagus dan perlu agar bisa menjadi referensi mengingat semakin maraknya kelompok yang ingin merobohkan pondasi Negara Indonesia.   

Pada kata pengantar, Buya Syafii menuturkan bahwa perdebatan soal Islam dan Pancasila sebagai ideologi Negara Indonesia adalah perkara yang sudah usang dan kedaluarsa. Lebih baik, energi yang terkurang untuk perdebatan tersebut diarahkan untuk menyelesaikan segala permasalahan mendasar bangsa ini dan untuk membangun Indonesia yang lebih baik dan sejahtera.

Saya kira buku ini sangat bagus sekali karena kaya akan referensi. Selamat membaca.


Identitas buku
Judul           : Islam dan Pancasila Sebagai Dasar Negara
Penulis        : Ahmad Syafii Maarif
Penerbit      : Mizan
Cetakan       : I, Maret  2017
Tebal             : 312 hlm
ISBN              : 978-602-441-015-5
Peresensi    : A Muchlishon Rochmat

IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG