IMG-LOGO
Nasional

85 Persen Kekayaan Indonesia Dikuasai 35 Orang

Sabtu 29 April 2017 9:1 WIB
Bagikan:
85 Persen Kekayaan Indonesia Dikuasai 35 Orang
Jakarta, NU Online
Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama A. Helmy Faishal Zaini membeberkan, jumlah dana yang berputar di Indonesia adalah sekitar 9 triliun. Namun demikian, ia menyayangkan karena perputaran uang terbesar hanya dikuasai oleh segelintir orang saja.

“Delapan puluh lima persennya dari sembilan triliun ini hanya dikuasai oleh tiga puluh lima orang saja,” kata Helmy. Hal itu ia ungkapkan saat memberikan sambutan dalam acara Tasyakuran Harlah Fatayat NU yang Ke-67 di Gedung Serbaguna RJA DPR RI Jakarta, Jumat (28/4) sore. 

Mengutip data dari World Bank, Helmy mengungkapkan, satu persen orang kaya menguasai lima puluh dua persen lebih kekayaan yang ada di Indonesia. “Atau sepuluh persen orang kaya menguasai tujuh puluh empat persen aset nasional,” tegasnya.

Menurut dia, jarak ketimpangan antara yang kaya dan yang miskin di Indonesia sudah sangat memprihatinkan. “Ini lampu merah bagi perekonomian kita,” ucapnya. 

Al-Qur’an, jelas Helmy, sudah memberikan peringatan agar kekayaan tidak hanya dikuasai oleh segelintir orang saja. Namun, ia menilai, peringatan Al-Qur’an tersebut sudah terjadi di Indonesia.

Untuk itu, dia mendorong Fatayat NU untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia agar nanti Nahdliyin memiliki kompetensi dan keterampilan agar mampu bersaing terutama dalam hal perekonomian, baik secara nasional maupun global.

“Tugas Fatayat NU adalah bagaimana menyiapkan sumber daya manusia dan skill Nahdliyin,” tukasnya. 

Berdasarkan data Global Wealth Report tahun 2016, Indonesia menduduki urutan ke-4 sebagai negara paling timpang di dunia. Sedangkan, Badan Pusat Statistik merilis bahwa jumlah masyarakat miskin Indonesia adalah 27,76 juta orang per September 2016. (Muchlishon Rochmat/Abdullah Alawi) 

Bagikan:
Sabtu 29 April 2017 23:49 WIB
Noor Ahmad: Pancasila Paling Sesuai dengan Indonesia
Noor Ahmad: Pancasila Paling Sesuai dengan Indonesia
Kudus, NU Online
Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat menggelar Sekolah Islam Kebangsaan bertajuk Merajut Islam Wasathiyah, Memperkuat Pancasila dan NKRI di Universitas Muria Kudus (UMK), Sabtu (29/4/2017).

Dalam penyelenggaraannya, MUI menggandeng Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UMK dan Majelis Pemuda Islam Indonesia (MPII) Kabupaten Kudus. Sekretaris Dewan Kehormatan MUI Pusat, H Noor Ahmad menyempatkan hadir dalam Sekolah Islam Kebangsaan.

Hadir sebagai narasumber dalam kesempatan ini, Rozihan (pengurus wilayah Muhammadiyah Jateng), Subarkah (dosen Fakultas Hukum UMK), dan Joko Tri Haryanto (peneliti Balai Litbang Kemenag Semarang). Acara dibuka Rektor UMK, Suparnyo.

Noor Ahmad mengutarakan, Indonesia saat ini diterpa oleh berbagai ideologi, baik dari Barat maupun Timur. ''Namun Indonesia memilih Pancasila sebagai kalimatun sawa','' katanya di depan ratusan peserta yang hadir.

Pancasila sebagai kalimatun sawa', menurutnya paling sesuai dengan bangsa Indonesia, karena bisa diterima oleh semua kalangan. ''Di luar itu, Pancasila juga memperhatikan keberagaman  yang ada,'' ungkapnya.

Rozihan dalam materinya berjudul Memahami Komunisme mengutarakan, gerakan komunisme saat ini, tidak sama dengan dulu. ''Bangkitnya PKI saat ini melalui isu Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT). Kalau dulu, melalui gerakan bersenjata dan kekerasan,'' katanya.

Sedang ciri-ciri komunisme yang gampang dipahami, yaitu ateis (tidak mengimani adanya Tuhan), kurang menghargai manusia sebagai individu, dan mengajarkan pertentangan kelas. ''Selain itu, komunisme menghendaki revolusi terus menerus,'' terangnya.

Narasumber lain, Subarkah, mengemukakan, Indonesia merupakan negara plural dengan keyakinan yang beragam dianut rakyatnya. Enam agama resmi yang diakui Indonesia, yaitu Islam, Katholik, Protestan, Hindu, Budha dan Kong Hu-Chu.

''Islam sendiri merupakan agama mayoritas di Indonesia. Kendati begitu, ekspresi sosio kultural dan politik kaum muslimin tidak pernah tunggal, tetapi sangat beragam. Indonesia adalah mozaik kepulauan, etnisitas, agama, serta budaya yang indah dan menawan keragaman itu terjaga dan terpelihara dengan baik,'' paparnya.

Sedang Joko Tri Haryanto, pada kesempatan itu mengulas mengenai Islam Wasathiyah: Islam Keindonesiaan dan Tantangannya. Dia mengatakan, Islam masuk ke Indonesia dengan cara damai oleh Walisongo dengan strategi budaya.

''Islam Indonesia adalah Islam wasathiyah, yaitu berakar pada teologi Ahlusunnah wal Jamaah, menyeimbangkan antara nalar dan teks, tidak ekstrem, menghargai kemajemukan, dan mengutamakan harmoni,'' jelasnya.

Sementara itu, di tengah-tengah kegiatan Sekolah Islam Kebangsaan itu, diisi pula dengan deklarasi Majelis Pemuda Islam Indonesia (MPII) Kabupaten Kudus, yang dipimpin oleh Sugiyono.

Ada tiga poin penting yang dibacakan dalam deklarasi itu; MPPI bertekad membentengi dan mengawal Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika; Memperkuat visi Islam yang berkeindonesiaan, penuh rahmat, toleran, berkemajuan dan kerakyatan; dan Siap melanjutkan tugas keulamaan dengan memperkuat komitmen tafaqquh fiddin. Red: Mukafi Niam
Sabtu 29 April 2017 22:39 WIB
Yenny Wahid Dianugerahi Duta Perdamaian
Yenny Wahid Dianugerahi Duta Perdamaian
Jakarta, NU Online 
Direktur Wahid Foundation Yenny Wahid mendapat penghargaan sebagai Duta Perdamaian dari Universal Peace Federation, lembaga dunia yang concern terhadap isu perdamaian. Penghargaan tersebut diserahkan oleh Mrs Ursula Mclackland (Universal Peace Federation General Secretary for Asia) di Auditorium Gedung Yustinus kampus Unika Atma Jaya Jakarta Sabtu, (29/4).

Yenny mengaku merasa bahagia mendapat penghargaan terebut. Penghargaan ini merupakan sebuah pengakuan dan penghargaan dunia Internasional atas kinerjanya selama ini dalam berjuang menyebarkan perdamaian. 

“Saya terhadar dinobatkan sebagai duta perdamaian oleh lembaga dunia seperti Universal Peace Federation. Ini artinya kinerja kita selama ini direkam secara dan diakui baik oleh dunia luas,” ujar Yenny.

Kebanggaannya yang dirasakan oleh putri Presiden RI ke-4 Abdurrahman Wahid (Gus Dur) bertambah, mengingat Gus Dur pernah mendapat pernghargaan serupa. “Sangat membanggakan, karena Gus Dur juga pernah medapatkan penghargaan yang sama dulu. Komitemen kami meneruskan perjuangan Gus Dur, dimonitor lembaga dunia,” ujarnya.

Penghargaan ini, lanjut Yenny, diyakini akan meningkatkan komitmen para pejuang perdamaian, termasuk dirinya untuk terus meningkatkan kinerja dalam menyebarluaskan perdamaian. Sebab, pengakuan seperti ini, kata dia, merupakan sebuah support positif tersendiri untuk terus melanjutkan perjuangan. 

“Mereka paham tidak mudah memperjuangkan perdamaian di Indonesia, apalagi dalam konteks Indonesia pasca trauma Pilkada DKI Jakarta, penghargaan ini sangat berarti,” pungkasnya.

Sebelumnya, Yenny mendapat penghargaan dari sebagai The Ambassador for Peace Initiative dari UPF (universal Peace federation) yang akan diserahkan oleh Mrs. Ursula Mclackland (Universal Peace federation General Secretary for Asia). Pemberian penghargaan diberikan di Auditorium Gedung Yustinus lantai 15 kampus Unika Atma Jaya jalan Jendral Sudirman 51. Red: Mukafi Niam

Sabtu 29 April 2017 20:46 WIB
Yenny Wahid Ajak Kembalikan Masjid sebagai Sarana Peribadatan
Yenny Wahid Ajak Kembalikan Masjid sebagai Sarana Peribadatan
Jakarta, NU Online
Direktur Wahid Foundation mengajak semua kalangan untuk mengembalikan peran masjid sebagai tempat untuk melakukan ibadah keagamaan dan ritual kesalehan sosial. Hal itu disampaikan dalam acara Peluncuran komunitas Pecinta Masjid Indonesia, di Masjid Istiqlal, Jakarta, Sabtu (29/4).

Yenny menyatakan bahwa upaya menyembuhkan luka-luka akibat pergesekan dan perbedaan pendapat selama proses pilkada DKI merupakan tugas seluruh warga DKI khusunya dan masyarakat pada umumnya. 

"Harus diakui bahwa Pilkada kemarin telah membawa luka, dan luka itu harus disembuhkan supaya tercipta persatuan di DKI dan di Indonesia agar kita punya kekuatan untuk membangun bangsa." Kata Yenny dalam sambutannya. 

Komunitas Masjid, imbuh Yenny dapat memulainya dengan melebarkan tangan utuk kembali merangkul perbedaan dengan kelembutan. Ia mencontohkan masjid, yang membuka diri untuk semua golongan. Masjid Istiqlal tidak semata tempat beribadah bagi umat Muslim, namun juga terbuka untuk dinikmati bagi umat lain. 

“Terbukti banyak para kepala negara sahabat yang datang ke Indonesia biasanya memyempatkan diri unttk untuk berkunjung ke Istiqlal. Mulai dari Obama, Raja Salman dari Saudi, Ratu Denmark sampai Presiden Afghanistan," tambah Yenny. 

Kemenangan Anies-Sandi 

Dalam berbagai kesempatan, tutur Yenny, ia dengan keras membantah tudingan media, terutama media asing, yang menyatakan bahwa kemenangan Anies-Sandi sebagai kemenangan kelompok radikal. 

"Ketika ada media asing yang menyebut bahwa kemenangan Anies-Sandi adalah kemenangan kelompok radikal, saya yang pertama membantahnya ke dunia internasional. Karena di belakang pak Anies ada tim sukses yang berdasarkan kebhinekaan. Juga banyak terdapat kelompok non-Muslim di sana. Jadi tidak betul kalau kemenangan Anies adalah kemenangan kelompok radikal" papar Yenny yang mendapat sambutan hangat dari peserta launching.

Yenny Wahid hadir di masjid Istiqlal sebagai salah seorang deklarator komunitas Pecinta Masjid Indonesia bersama dengan nama-nama lain seperti Ust. Yusuf Mansur, Dude Herlino,Teuku Wisnu dan sejumlah nama lain. Selain para deklarator komunitas ini, tampak Anies Baswedan berada di tengah-tengah acara tersebut. Red: Mukafi Niam
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG