IMG-LOGO
Nasional

Ini Ciri-ciri Travel Umrah yang Ideal

Ahad 30 April 2017 22:50 WIB
Bagikan:
Ini Ciri-ciri Travel Umrah yang Ideal
Jakarta, NU Online
Dalam banyak kesempatan, Direktur ASBIHU Tour and Travel KH Hafidz Taftazani mengungkapkan rasa prihatin dengan banyaknya masyarakat yang tergiur oleh promo biaya umrah yang murah. 

Keprihatinan tersebut semakin bertambah tatkala ditemukan fakta biro-biro perjalanan umrah yang menawarkan biaya umrah, gagal memberangkatkan jamaahnya, padahal jamaah telah membayar biaya seperti yang disyaratkan.

Keinginan masyarakat untuk melaksanakan umrah seakan-akan dimanfaatkan oleh travel-trevel umrah yang ‘nakal’. Oleh karena itu Kiai Hafidz mengajak mengajak travel umrah menjadi travel umrah yang ideal, yaitu yang sehat jasmani dan sehat rohani.

“Sehat jasmani, artinya perusahaan itu profesional dalam menjalankan setiap amanah yang diberikan oleh jamaah. Kemudian sehat rohani, yaitu travel umrah itu harus mampu memiliki tim pembimbing yang handal atau hebat, sehingga mampu memberikan bimbingan yang maksimal kepada jemaah,” kata Kiai Hafidz kepada NU Online, Sabtu (29/4).

Menurut Kiai Hafidz, travel umrah yang ideal mampu menyediakan satu pembimbing untuk melayani kebutuhan 15 jamaah. Selain itu, lanjut Kiai Hafidz, travel umrah yang sehat itu sanggup melakukan kegiatan manasik kepada jemaah sebanyak tiga kali sebelum keberangkatan ke Tanah Suci. 

Travel umrah yang ideal juga memiliki rutinitas pengajian minimal sebulan sekali. Ia memandang penting aktivitas mengaji ini karena dapaat menjadi ajang silaturahim dengan para jamaah maupun calon jamaah. Dalam pengajian juga dapat digunakan untuk saling mengingatkan ajaran Islam, misalnya zakat, infak dan sedekah.

“Selain dapat membayar pajak kepada pemerintah, travel umrah idela juga harus dapat memberikan zakat, infak, dan sedekah kepada yang membutuhkan; memberikan pembinaan, kenyamanan bimbingan dan keamanan kepada jemaah. Itu idealnya,” ujar Kiai Hafidz.

Terkait dengan biaya umrah murah, ia menegaskan travel umrah akan memberikan harga minimal USD 1650.

“Seperti disampaikan Kementerian Agama tahun lalu, bahwa harga minimal umrah sebesar 20 juta rupiah,” tandasnya. (Kendi Setiawan/Abdullah Alawi) 


Bagikan:
Ahad 30 April 2017 21:27 WIB
Hari Buruh, Sarbumusi Ajukan Enam Tuntutan
Hari Buruh, Sarbumusi Ajukan Enam Tuntutan
Jakarta, NU Online 
Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Serikat Buruh Muslimin Indonesia (Sarbumusi) menggelar istighotsah buruh dan konferensi press terkait dengan peringatan hari Buruh pada 1 Mei 2017, di gedung DPP Sarbumusi, Jalan Raden Saleh 1 No. 4 Kenari Senen Jakarta, (30/04). 

Dalam konpres tersebut, Sarbumusi mengajukan enam tuntutan, yaitu, menolak revisi UU nomor 13 tahun 2003 di tahun politik, menolak revisi UU nomor 21 tahun 2000, menolak dan melawan segala bentuk kriminalisasi terhadap para aktifis buruh dan pekerja, menolak politik upah murah, tegakkan hukum dengan tegas terhadap semua kasus-kasus ketenagakerjaan, serta menolak tenaga kerja asing (TKA) tanpa keahlian.

Sekjen DPP Sarbumusi Eko Darwanto menjelaskan kondisi buruh belum beranjak dari berbagai kasus yang belum terselesaikan. Saat ini buruh masih dianggap sebagai bagian dari proses produksi yang bisa diberhentikan kapan saja. Banyak buruh belum mendapatkan hak-haknya.

"Para pengusaha harus mempunyai kesepakatan kerjasama yang baik," ungkap Eko Darwanto.

"Isu tahun ini yang akan dibawa adalah ingin menjadikan kemitrakerjaan secara sentral," lanjut Eko.

Masih dalam forum yang sama, Sekretaris Jenderal Sarbumusi ingin berlakukan sentralisasi ketenagakerjaan dengan menolak otonomi ketenagakerjaan sehingga pengelolaan ketenagakerjaan sejalan dengan kebijakan pemerintah pusat. (Robiatul Adawiyah/Mukafi Niam)
Ahad 30 April 2017 20:37 WIB
Yudi Latif: Keberagaman Indonesia Lahir dari Spiritualitas
Yudi Latif: Keberagaman Indonesia Lahir dari Spiritualitas
Jakarta, NU Online
Cendekiawan Yudi Latif mengungkapkan kegotongroyongan menjadi titik spiritualitas dari kemajemukan yang ada di Indonesia. Hal ini disampaikannya pada Stadium General Temu Kebangsaan Orang Muda di Gedung Kementerian Agama RI, Jalan MH Thamrin Jakarta Pusat, Jumat (28/4).

Ia menyebut warna-warna atau keberagaman di Indonesia sesungguhnya lahir dari nilai spiritualitas.

“Dalam ajaran agama, iman disebut dengan percaya. Percaya berasal dari kata ‘bercahaya.’ Jadi orang yang beriman memancarkan cahaya. Secara realitas kita beragam. Segala sesuatu juga berpasang-pasangan, tetapi saling membutuhkan, karena semuanya merupakan pancaran dari sumber cahaya, yaitu Tuhan,” kata penulis buku Negara Paripurna: Historitas, Rasionalitas, Aktualitas Pancasila. 

Ia meneruskan, spiritualitas memancar ke dunia dengan berbagai warna. Orang melambangkan dengan warna tertentu, dan dengan warna tersebut orang menganggap Tuhan berpihak padanya.

“Itu tergantung warna atau bejana. Dalam konteks Indonesia, Tuhan hadir lewat bejana kesukuan dan kebangsaan. Karenanya kita bisa menjadi orang Sunda seratus persen, orang Jawa seratus persen, tetapi sekaligus orang Islam seratus persen,” lanjut Yudi di hadapan 120 orang muda dari berbagai suku dan agama. 

Pancaran Tuhan akan terlihat bila hati yang melihatnya juga bersih karena di dalam hati yang gelap, satu-satunya yang terpancar hanyalah kegelapan. Sehingga untuk membuat cahaya Tuhan terlihat, hati kita harus dibersihkan. Karena cahaya itu akan terpantul dari hati yang bersih. Dan cara untuk membersihkan adalah dengan spiritualitas.

Yudi menambahkan, spiritualitas berasal dari kata spirtus. Spirtus pada masa lalu sering digunakan sebagai bahan bakar yang memancarkan cahaya.

“Spirtus itu berarti bercahaya. Dari gelap menjadi menyala kembali. Spirtus atau spiritualitas ini akan berdampak menyegarkan kembali jiwa kita,” tambahnya.

Spiritualitas terwujud apabila manusia mampu membangun relasi kasih sayang ke tiga arah, yakni kasih sayang terhadap dunia atas (Tuhan), tengah (sesama manusia), dan bawah (alam semesta).

“Mulai dari kosmologi Batak, atau Illagaligo di Makasar, semua bicara itu yaitu membangun kasih sayang dengan Tuhan, dengan sesama manusia, dan dengan alam semesta.  Kalau ketiga ini menjadi satu kita menyebutnya gotong-royong,” papar Yudi.

Gotong royong juga diajarkan di semua suku yang ada di Indonesia. Ada ‘silih asah, silih asih, silih asuh’ di masyarakat Sunda. Lalu di Maluku ada semangat basudara. Orang Melayu ada istilah ‘asap di gunung garam di laut bertemu dalam belanga’. Di Jawa disebut ‘mamayu hayuning bawana’. Di Kristen disebut ‘kasih’. Dan dalam Islam disebut ‘rahmatan lil alamin’.

“Maka titik sentral dari Pancasila benar dan tepat, yaitu saling mengasihi satu sama lain dalam gotong royong,” tandasnya. (Kendi Setiawan/Abdullah Alawi)

Ahad 30 April 2017 20:1 WIB
Khofifah: Kader Muslimat Jadi Pelopor Keagamaan di Desa-desa
Khofifah: Kader Muslimat Jadi Pelopor Keagamaan di Desa-desa
Tasikmalaya, NU Online
Ketua Umum Muslimat NU Hj Khofifah Indar Parawansa meminta kader Muslimat di Tasikmalaya dan di manapun menjadi pelopor keagamaan di daerah. Menjelang Ramadhan ini, seluruh anggota Muslimat wajib memakmurkan masjid dengan kegiatan-kegiatan ibadah.

"Wajib semua pengurus, anggota dan kader meramaikan masjid. Bukan hanya di bulan Ramadan, tapi bulan-bulan lainnya juga. Minimal Ramadan sekarang kader Muslimat tampak mengisi kegiatan di masjid-masjid," kata Khofifah, Ahad (30/4).

Menurut Khofifah, kader Muslimat harus eksis di kegiatan masyarakat. Ia meminta pengurus Muslimat untuk menyiapkan generasi karena pundak utama organisasi adalah kaderisasi.

"Siapkan kader-kader paham Al-Quran, sunah, ijma’, dan qiyas sesuai aqidah Ahlussunah wal Jamaah An-Nahdiyah," ujarnya.

Pada pertemuan ini ia menyerahkan bantuan sosial kepada Muslimat NU Kabupaten dan Kota Tasikmalaya. Khofifah datang ke Tasikmalaya dalam rangka menghadiri undangan Harlah Ke-94 NU dan Harlah Ke-71 Muslimat. Pada pagi hari ia mengunjungi Pesantren Cipasung. Sementara selepas Zhuhur Khofifah bergerak ke Masjid Agung Kota Tasikmalaya.

Di Cipasung, ribuan Muslimat hadir. Tampak istri Bupati Tasikmalaya Hj Lina Ruzhanul Ulum. (Nurjani/Alhafiz K)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG
IMG