IMG-LOGO
Pesantren

Ribuan Nahdliyin Hadiri Harlah Pesantren SAQA


Kamis 25 Mei 2017 22:17 WIB
Bagikan:
Ribuan Nahdliyin Hadiri Harlah Pesantren SAQA
Probolinggo, NU Online
Ribuan Nahdliyin dari segala penjuru Kabupaten Probolinggo menghadiri peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-21 Pondok Pesantren Syekh Abdul Qadir Al Jailani (SAQA) Desa Rangkang Kecamatan Kraksaan, Rabu (24/5) malam.

Kegiatan ini dihadiri oleh Menteri Sosial (Mensos) Republik Indonesia Hj. Khofifah Indar Parawansa, CEO MNC Grup Hary Tanoesoedibjo serta sejumlah tokoh agama dan tokoh masyarakat baik dari dalam maupun luar Kabupaten Probolinggo.

Kehadiran dua tokoh nasional Mensos Hj. Khofifah Indar Parawansa dan Hary Tanoesoedibjo ini disambut oleh Pengasuh Pondok Pesantren SAQA yang juga A’wan PWNU Jawa Timur H. Hasan Aminuddin didampingi KH Abdul Hafidz Aminuddin serta keluarga besar Pondok Pesantren SAQA.

Peringatan Harlah ke-21 Pondok Pesantren SAQA ini dimeriahkan dengan sejumlah kreasi seni Islami dan paduan suara yang dibawakan oleh santriwan dan santriwati Pondok Pesantren SAQA.
 
Dalam sambutannya H Hasan Aminuddin menyampaikan bahwa Pondok Pesantren SAQA ini didirikan untuk mendukung aktivitas pembelajaran pendidikan agama para santri generasi muda bangsa. Pesantren ini terus istiqomah untuk memberikan pendidikan agama diimbangi pendidikan umum sebagai bekal santri dalam menghadapi perkembangan zaman yang semakin pesat.

“Semoga keberlangsungan pondok pesantren ini senantiasa diberikan kekuatan lahir dan batin oleh Allah SWT. Para wali santri, tentunya proses pembelajaran yang diberikan selama ini masih banyak kekurangan,” katanya.

Dari tahun ke tahun jelas Hasan, Pondok Pesantren SAQA terus berupaya untuk memberikan pendidikan entrepreneur kepada para santrinya. Sebab selain akal dan iman yang kuat, pemberdayaan ekonomi juga harus kuat.

“Urusan politik, pesantren adalah jagonya. Kalau belajar tentang pendidikan agama maupun umum sudah sangat mampu. Tetapi jika berbicara ekonomi masih tertinggal. Oleh karena itu, berilah santri ini kail bukan ikannya. Dengan demikian, santri mampu mengembangkannya dengan baik,” jelasnya.

Menurut Hasan, keberadaan pendidikan pesantren sudah banyak memberikan ketenangan lahir dan batin bagi para orang tua. Sebab tatkala punya anak dan sudah memasuki usia remaja, ada sebuah kekhawatiran dan rasa galau para orang tua. Terlebih dengan pergaulan anak saat ini yang sudah sangat mengkhawatirkan.

“Orang tua itu merasa galau tatkala anaknya keluar rumah dan pulang terlambat. Mereka takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Tetapi dengan anaknya berada di pesantren, mereka merasa tenang karena sudah jelas keberadaannya. Mohon maaf, inilah dunia pesantren,” pungkasnya.

Sementara CEO MNC Grup Hary Tanoesoedibjo menyampaikan ungkapan terima kasih telah diterima dengan baik oleh keluarga besar Pondok Pesantren SAQA. Dirinya berharap agar santri yang lulus bisa memberikan manfaat bagi masyarakat. Pihaknya akan berupaya berpartisipasi untuk bisa ambil bagian demi menciptakan lapangan pekerjaan . 

“Tentunya kita akan lebih banyak bekerja sama dengan Pondok Pesantren Syekh Abdul Qadir Al Jailani agar bisa lebih maju dalam membanngun pondok pesantren di segala bidang kehidupan. Sehingga santri benar-benar siap terjun di masyarakat dengan bekal ilmu dan ketrampilan yang dimilikinya,” katanya.

Sedangkan Mensos RI Khofifah Indar Parawansa banyak mengupas tentang bagaimana peran dan tugas ulama supaya keberadaan pondok pesantren ini mampu memberikan bekal ilmu sebagai benteng dalam meneguhkan aqidah Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja). Serta ketrampilan bagi santrinya sebagai bekal di tengah-tengah masyarakat. (Syamsul Akbar/Abdullah Alawi)

Bagikan:
IMG
IMG