IMG-LOGO
Daerah

Diduga HTI via Foto Viral, Ibu Ini Minta Rehabilitasi Nama

Ahad 28 Mei 2017 11:6 WIB
Bagikan:
Diduga HTI via Foto Viral, Ibu Ini Minta Rehabilitasi Nama
Jombang, NU Online
Ibu Sumarni asal Kecamatan Mojowarno Kabupaten Jombang tak menduga fotonya akan viral dan menjadi pembicaraan orang banyak. Ia berfoto dengan dua Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Jombang sembari megang bendera HTI. Akibatnya, sebagian publik  menganggap Ibu Sumarni telah masuk di lingkungan mereka.

Mendengar namanya tercermar, ibu yang sebetulnya aktif di forum-forum Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) setempat ini akhirnya meminta kepada Ketua MWCNU dan Ketua Muslimat NU Mojowarrno untuk merehabilitasi namanya.

"Saya mohon kepada Ketua MWCNU Mojowarno dan Ketua Muslimat NU Mojowarrno, agar nama saya direhabilitasi. Saya bukanlah pengikut HTI dan sampai mati saya akan tetap berkiprah dan berjuang di Nahdlatul Ulama di bawah panji Muslimat NU," ujarnya, Sabtu (27/5).

Ia kemudian bercerita terkait awal mula fotonya mulai viral tepatnya di facebook (fb) dengan nama akun Muslimah Jombang Bersyariah yang diposting pada 21 April 2017 lalu pada pukul 22:00. Akun fb itu juga terdapat 12 like, dua komentar dan 6 kali dibagikan.

Ia mengungkapkan foto itu bermula dari kedatangan dua orang perempuan yang tidak ia kenal di rumahnya. Sebagai tuan rumah dia tidak segan-segan untuk mempersilakan keduanya masuk.

"Setelah dialog singkat seputar kegiatan sehari-hari, lalu salah satu di antaranya mengambil gambar dengan terlebih meminta aktivis Muslimah HTI ini memegang bendera HTI. Hasil foto tersebut  lalu diupload di media sosial, dan diklaim oleh kedua perempuan tersebut bahwa saya ini adalah pengikut HTI,” ujar dia.

Padahal, lanjutnya, sejak kecil dirinya merasa telah dibesarkan di lingkungan NU Mojowarno dan selalu aktif mengikuti kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan MWCNU dan Muslimat NU setempat.

"Saya ingin sampaikan sekali lagi, bahwa saya bukan pengikut HTI. Sejak kecil saya dididik dan diasuh dalam keluarga NU, dan selalu aktif dalam kegiatan-kegiatan NU terutama di Muslimat NU," tutur Ibu Sumarni. (Syamsul Arifin/Alhafiz K)

Tags:
Bagikan:
Ahad 28 Mei 2017 21:15 WIB
Lantaran Logo dan Foto Tokoh NU, Pesantren Al-Qolam Tak Dihancurkan
Lantaran Logo dan Foto Tokoh NU, Pesantren Al-Qolam Tak Dihancurkan
Jombang, NU Online
Pengasuh PPMQ Al-Qolam Papua Barat Ustadz Darto Syaifudin memiliki pengalaman pribadi terkait logo NU dan foto beberapa tokohnya seperti Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari dan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). 

Karena mendirikan pesantren, Ustadz Darto hendak diusir bahkan dibunuh warga sekitar. Ia dianggap ikut serta menyebarkan paham-paham Islam keras yang tak disukai mereka. Namun urung diusir karena di pesantrennya terdapat logo NU dan tokohnya. 

Alumni Madrasatul Qur'an Tebuireng (MQ) ini merantau ke ujung timur Indonesia, Papua Barat, tahun 2000. Di sana ia mulai aktivitas dengan pekerjaannya sebagai penjual ayam. Langganannya adalah warga pendatang dan asli. 

Namun, dalam melakukan penyembelihan, menurut dia, mereka masih belum sempurna secara syar'i. Ia sedikit demi sedikit memberi arahan sebagaimana ajaran Islam yang benar dalam penyembelihan. 

“Alhamdulillah berhasil dan banyak yang mulai meniru,” katanya Jumat (26/5). 

Di Papua Barat, Muslim sangat minoritas. Islam yang minoritas ini pun didominasi aliran garis keras yang gampang mengafirkan kalangan Islam sendiri yang tak sehaluan dengan mereka apalagi orang non-Muslim. Sehingga masayarakat asli merasa terusik. 

Kondisi ini kemudian menjadi hantu saat awal pembangunan PPMQ Al-Qalam. Mereka menolak berdirinya PPMQ Al-Qalam. Pasalnya Ustadz Darto Syaifudin sebagai bagian Islam garis keras. 

Sikap penolakan mereka tidak tanggung, Majelis Rakyat Papua mengepung sekitar pondok dengan dengan membawa berbagai macam senjata tajam  seperti tombak, panah, parang dan sebagainya.

Tak lama kemudian, mereka langsung masuk ke ruang utama pondok. Di saat itulah mereka melihat logo NU, foto Gus Dur, kalender Tebuireng dan MQ, foto Mbah Hasyim Asy’ari. 

Aneh, kepala suku mereka tak melakukan apa-apa, malah kemudian berteriak:

"Berhenti, kau punya pesantren ada hubungan apa dengan Tebuireng dan foto-foto ini?" ungkapnya dengan menirukan logat mereka.

"Saya diam tidak menjawab karena memang kondisi saat itu mencekam. Akhirnya mereka meletakkan senjata, duduk dengan hormat mengikuti kepala suku besarnya. Mereka berteriak:  ‘Gus Dur... Gus Dur,.. Kita punya orang tua NU kita punya Saudara’,” sambung dia.

Pada saat itu juga tanpa diduga, niat mereka tiba-tiba menjadi baik dan mulia. Mereka menyatakan kepada Ustadz Darto akan menjaga pesantrennya. "Pak Ustadz, mulai detik ini kami yang menjaga pesantren ini, kami yang jaga, lalu mereka berteriak bersama-sama tanda mendukung. Alhamdulillah sampai detik ini pesantren kita berdiri dengan dukungan mereka juga”, tuturnya.

Menurut dia, ridho dan doa guru-guru kita di pondok pesantrn sangatlah penting saat mengamalkan ilmu. 

“Sekali lagi, berpeganglah pada Al-Qur’an dan berdakwalah dengan akhlak yang sejuk,” Pesan dia. (Syamsul Arifin/Abdullah Alawi)

Ahad 28 Mei 2017 17:26 WIB
Melestarikan Syiiran dengan Wujudan
Melestarikan Syiiran dengan Wujudan
Wonosobo, NU Online
Syiir Aqaid Seket atau masyarakat biasa menyebutnya wujudan merupakan wujud dari pelestarian budaya syiiran. 

Kata wujudan berasal dari cuplikan syiir yang di dalamnya menjelaskan tentang ajaran tauhid yang wajib diimani. Ajaran tersebut meliputi 20 sifat wajib Allah, 20 sifat muhal (mustahil) bagi Allah, 1 sifat jaiz bagi Allah SWT, 4 sifat wajib bagi rasul, 4 sifat mustahil bagi Rasul, dan 1 sifat jaiz bagi Rasul yang jika dijumlah keseluruhannya menjadi 50 atau seket (dalam bahasa Jawa), sehingga disebut syiir Aqoid Seket.

Wujudan biasanya dilantunkan setiap malam sepanjang Ramadhan setelah shalat Tarawih dan sebelum tadarus Al-Qur’an oleh jamaah secara bersamaan.

“Untuk melantunkan syiir ini biasa diiringi kentongan atau bedug. Akan tetapi, di mushalla ini berbeda, yaitu diiringi terbang Jawa, di mana paduan antara pukulan terbang dan suara. Para penabuh harus melakukan koordinasi dan kerjasama agar menjadi suatu pola yang baik,” tutur Tri Yulianto (19) salah satu penabuh terbang. (27/5) Sabtu malam.
 
“Apa yang kita lantunkan kemudian kita iringi ini termasuk seni rodat atau biasa disebut kemplingan,” imbuhnya.

Syiiran merupakan bentuk karya sastra Islam yang menunjukkan bahwa para mubaligh mengenal betul akan karya-karya Islam, sehingga menuangkannya dalam bentuk bahasa Jawa agar mudah dipahami oleh masyarakat, seperti syiir Aqoid Seket yang menggunakan logat bahasa daerah Wonosobo. Dan yang lebih mengagumkan adalah jenis nada atau vokal yang diciptakan oleh mubaligh menunjukkan karakter suara yang khas, atau lebih terasa sebagai bersahaja seperti orang desa yang hidupnya bersahaja, jujur, tegas, dekat dengan alam dan Tuhan.

Salah satu nadhir mushalla Asy-Syukron Ahmad Shohari (80) mengatakan,”Wujudan itu sendiri dilantunkan setiap malam selama bulan Ramadhan, dan sudah berlangsung bertahun tahun dari generasi ke generasi secara bersamaan, setelah shalat Tarawih. Tidak jelas siapa pengarang syi’ir tersebut. Ada yang menyebutkan itu karya dari KH Abu Darda’ Sigedong, Kepil, Wonosobo, ada pula yang menyebutnya dari KH Asnawi Umar, Pangen, Purworejo. Belum ada penelitian lebih lanjut mengenai hal tersebut, yang jelas ini karya para mubaligh masa lalu, oleh karena itu sebagai wujud budaya kita harus melestarikannya.”  

Syiiran adalah suatu khasanah sastra Islam Jawa yang berbentuk nadhom yang dilagukan sebagai sebuah budaya yang melekat dengan kehidupan di masyarakat. Intinya adalah sebagai pengajaran dan pengamalan dari ajaran agama tentang ketauhidan Ahlussnunnah wal Jama’ah. Dan juga bisa jadi hiburan untuk masyarakat.(Mukhamad Khusni Mutoyyib/Mukafi Niam)
Ahad 28 Mei 2017 17:0 WIB
Ramadhan, IPNU Kecamatan Banyuwangi Sowan Sesepuh
Ramadhan, IPNU Kecamatan Banyuwangi Sowan Sesepuh
Banyuwangi, NU Online
Para pengurus Pimpinan Anak Cabang IPNU Kecamatan Banyuwangi, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, memanfaatkan momentum Ramadhan untuk bersilaturahim kepada para sesepuh.

Sabtu (27/05), mereka berkunjung ke kediaman Rais Syuriah dan Ketua Tanfidziyah Majelis Wakil Cabang NU (MWCNU) kecamatan setempat.

Selain silaturahim tersebut, Rais Syuriah MWCNU Kecamatan Banyuwangi KH Ahmad Shiddiq atau yang akrab disapa Gus Shiddiq memberi nasihat, kaderisasi adalah poin terpenting saat berjuang di ranah IPNU IPPNU.

"Karena hakikinya, saya menilai perjuangan di IPNU-IPPNU ini adalah investasi perjuangan ketika benar-benar saat menjadi pengurus NU. Penting saat sosialisasi ataupun di momen kumpulan pengurus dan anggota, paparkan contoh konkret orang-orang sukses yang berangkat dari organisasi ini," tutur Rais Syuriah Ranting NU Kertosari tahun 1998 itu.

"Misalkan yang sudah jelas di sini adalah Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas. Ceritakan rekam jejak perjuangan dia selama di IPNU hingga menjadi bupati di hadapan kader-kadermu. Ini bukan untuk apa, hanya mereka agar lebih yakin dan benar-benar semangat saat berjuang menegakkan dakwah di bawah panji Nahdlatul Ulama," sambung Gus Shiddiq sembari menunjukkan beberapa berkas kenangan rekam jejaknya saat menjadi ketua osis tahun 1988 di MA Al-Amiriyah Darussalam Blokagung.

Gus Shiddiq juga berpesan, penanaman nilai-nilai akhlakul karimah di masing-masing jiwa kader-kader NU juga dibutuhkan. "Akhlak merupakan perhiasan bagi mereka yang memiliki ilmu. Tak jarang masyarakat sekitar sulit menerima eksistensi mereka yang berilmu dan tak berimbang dengan nilai-nilai akhlakul karimah," tutur wakil rais syuriyah PCNU Kabupaten Banyuwangi periode 2013 ini.

Pengasuh pondok pesantren Al-anwari Kertosari, Kecamatan Banyuwangi ini juga berpesan, jiwa kepemimpinan sejak muda harus terus diasah di setiap kader-kader, selama masih berjuang di banom NU paling muda.

"Saya tegaskan orang-orang yang memiliki jiwa kepemimpinan akan mampu menghadapi segala masalah. Karena tipologi orang memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat, selain bijaksana dalam me-manage sesuatu, juga biasanya mereka memiliki sikap disiplin, ulet, dan konsisten. Pendeknya maksimalkan masa muda kalian untuk berjuang, sebelum datang masa tua," tutup ketua takmir masjid Baitussalam Kertosari mulai tahun 1994.

Senada hal itu, Ketua Tanfidziyah MWCNU Kecamatan Banyuwangi Akhmad Mushollin menyampaikan dalam waktu dekat ini akan fokus mengintensifkan pendidikan kaderisasi.

"Selama ini wujud pendidikan kader  hanya melibatkan malam lailatul ijtima yang dihelat satu bulan sekali. Karena memang di momen tersebut seluruh peserta yang hadir didik dengan mendengarkan wejangan-wejangan yang disampaikan mulai dari jajaran mustasyar, rois, dan sampai ketua tanfidziyah," jelas Gus Musholin.

Dalam waktu dekat ini, lanjutnya, ada agenda perekatan kembali jiwa Nahdliyin melalui sholat tahajud dan hajat. "Masing-masing warga Nahdliyin kita muhasabah dalam suasana keheningan. Pastinya dari sana akan tercerahkan betapa pentingnya kita berjuang di bawah panji Nahdlatul Ulama. Karena adanya keseimbangan antara doktrin dan kontemplasi dari beberapa pakar yang kita undang," tutup Gus Mushollin.

Kunjungan perwakilan pengurus di kediaman rais dan ketua tanfidziyah NU ini dihadiri oleh Ketua PAC IPNU Banyuwangi M. Sholeh Kurniawan beserta sekretaris PAC IPNU Banyuwangi Moh. Setio Aji. (Red: Mahbib)

 

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG