IMG-LOGO
Daerah

Inilah Persyaratan Umrah Asbihu

Kamis 1 Juni 2017 23:23 WIB
Bagikan:
Inilah Persyaratan Umrah Asbihu
Jakarta, NU Online
Dari waktu ke waktu semakin banyak masyarakat Muslim Indonesia yang ingin menjalankan ibadah umrah. Namun, mereka kadang bertanya apa saja syarat-syarat mengikuti perjalanan ibadah umrah. 

Sekretaris ASBIHU Tour and Travel H Nasir Maqsudi mengungkapkan, ASBIHU sebagai salah satu perusahaan jasa layanan umrah yang handal dan telah berpengalaman memberangkatkan jamaah umrah, mengatakan persyaratan ibadah umrah bersama ASBIHU sangatlah mudah.

“Menyerahkan formulir atau pernyataan mengikuti ibadah umrah, paspor yang masih berlaku minimal 7 bulan; nama yang tertera pada paspor harus terdiri dari 3 suku kata, misalnya Sobah Hafidz Taftazni,” kata Nasir kepada NU Online belum lama ini.

Syarat lainnya, kata Nasir, menyerahkan pas foto berwarna dan terbaru ukuran 4x6  sebanyak 6 lembar dengan back ground warna putih dan wajah harus tampak 80% dari ukuran foto. Kartu kuning atau suntik maningitis juga harus diserahkan.

“Lalu buku nikah asli bagi suami istri, akta lahir asli bagi anak-anak, akta lahir asli bagi wanita di bawah 45 tahun,” lanjutnya.

Bagi wanita berusia di bawah 45 tahun yang berangkat tanpa muhrim dikenakan biaya pembuatan dokumen. Dan yang sangat penting, semua persyaratan harus sudah diterima paling lambat 2 bulan sebelum keberangkatan.

Untuk masyarakat yang berminat mengikuti perjalanan umrah ASBIHU dapat menghubunginya di nomor telepon 0812-1881-2927. (Kendi Setiawan/Zunus)

Bagikan:
Kamis 1 Juni 2017 23:2 WIB
Dakwah yang Mendamaikan Sangat Dibutuhkan
Dakwah yang Mendamaikan Sangat Dibutuhkan
Banyuwangi, NU Online
Rais Syuriah Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Banyuwangi KH Ahmad Shiddiq mengatakan, keberadaan Nahdlatul Ulama tidak dapat dipisahkan dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), juga tidak bisa dipisahkan dengan kemerdekaan bangsa Indonesia.

Baginya, NU berkontribusi banyak dalam membangun fundamen negeri ini. "Karena NU mampu menancapkan nilai-nilai toleransi di tengah-tengah perbedaan untuk membangun fondasi negara, yaitu Undang-undang, Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI," jelas kiai yang akrab disapa Gus Shiddiq ini di hadapan ratusan Nahdliyin saat tugas sambutan safari Ramadhan di Masjid Al-Fatah, Mojosari, Banyuwangi.

Menurutnya, metode dakwah yang menyebarkan nilai-nilai kedamaian untuk konteks saat ini sangat dibutuhkan. “Sesuai dengan ciri khas agama Islam yang membawa rahmat bagi seluruh alam. Bukan Islam yang mengajarkan radikalisme dan  terorisme yang nyaris mencerai beraikan ukhwah islamiyah dan basyariah dalam konteks berbangsa dan bernegara saat ini," tutur pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwari ini.

Gus Shiddiq kemudian mengambil contoh kasus ketika proses awal berdirinya NU dengan tekanan terbesar ketika terjadi perubahan di timur tengah, yakni saat Abdul Aziz bin Abdul Rahman atau dikenal dengan sebutan Ibnu Saud menguasai Makkah-Madinah.

"Ibnu Saud ini (yang) berpandangan Wahabi hendak menerapkan asas tunggal Wahabi dan memberangus madzhab-madzhab lain di dua tempat suci orang Islam dan ingin menghancurkan situs-situs peninggalan Nabi yang dianggap dapat menyeret di lembah kemusyrikan," terang Gus Shiddiq.

Pada akhirnya, NU mengirimkan delegasi guna menyampaikan keberatan kepada Raja Abdul Aziz di bawah payung organisasi yang diberi nama Nahdlatul Ulama.

"Contoh di atas adalah model dakwah yang santun, damai, dan terukur  sebagaimana telah dicontohkan oleh ulama-ulama dalam penyelesaian konflik. Dan itu sukses. Sehingga kita dan anak cucu kita masih dapat menikmati situs-situs peninggalan Nabi," jelas Gus Shiddiq.

"Beda itu biasa, akan tetapi ketika perbedaan itu disikapi dengan adanya pendekatan keilmuan, secara otomatis akan timbul kebijaksanaan setiap ranah perbedaan," tegas Gus Shiddiq. (M. Sholeh Kurniawan/Mahbib)

Kamis 1 Juni 2017 20:42 WIB
Politisi Jatim: HTI, Partai Politik yang Tidak Mau Ikut Pemilu
Politisi Jatim: HTI, Partai Politik yang Tidak Mau Ikut Pemilu
Jember, NU Online
Politisi Partai NasDem Jawa Timur Moch. Eksan menegaskan, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) adalah partai politik. Gerakan yang dilakukan targetnya adalah kekuasaan. Cuma bedanya, dalam usahanya meraih  kekuasaan, HTI tidak mau ikut pemilu dan tidak menerima sistem politik kenegaraan dan kepartaian di Indonesia. 

Menurut Eksan, mereka mengklaim diri sebagai gerakan dakwah, tapi misi dakwahnya adalah merebut kekuasaan. 

"Itu apa bedanya dengan partai politik. Mereka menilai sistem kenegaraan kita, kufur," tukas Moch. Eksan pada Dialog Publik yang digelar Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Islam Jember (UIJ) di aula UIJ, Rabu (31/5).

Menurut Eksan, cita-cita HTI untuk mendirikan khlafah islamiyah sangat bertolak belakang dengan pandangan mayoritas umat Islam Indonesia. Saat-saat awal perbicangan soal bentuk negara Indonesia, umat Islam, dalam hal ini Nahdlatul Ulama menyatakan Indonesia adalah darus salam, bukan darul islam. Sedangkan Muhammadiyah, mengistilahkan darul 'ahdi.

Dikatakannya, kedua istilah tersebut intinya sama; Indonesia bukan negara agama, tapi negara aman dan damai bagi semua pemeluk agama yang beraneka ragam, yang itu akhirnya dibingkai dalam NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). 

"Kedua organisasi itu ikut berjuang mendirikan NKRI sebagai ladang jihad untuk  mendirikan negara dan membentuk pemerintah dalam rangka hirasatit-din (memelihara agama) dan wasiayatid-dunya (mengelola dunia)," lanjutnya.

Karena itu, kebijakan pemerintah yang telah "membekukan" HTI beberapa waktu lalu adalah langkah yang sangat tepat sebagai upaya untuk melindungi ideologi negara dan menjaga keutuhan NKRI yang terus-menerus mereka rongong. 

"Propaganda penggantian sistem dan kampanye sistem khilafah islamiyah sebagai alternatif dari sistem yang berlaku, sudah jelas keluar dari bingkai keindonesiaan," tambahnya. (Aryudi A. Razaq/Abdullah Alawi)
 

Kamis 1 Juni 2017 18:0 WIB
LAZISNU Jombang Target Santuni 1000 Anak Yatim Selama Ramadhan
LAZISNU Jombang Target Santuni 1000 Anak Yatim Selama Ramadhan
Ilustrasi.
Jombang, NU Online 
Lembaga Amil Zakat Infaq dan Sedekah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) Kabupaten Jombang, Jawa Timur menargetkan dapat menyantuni 1000 anak yatim pada Bulan Ramadhan inu. Selain itu LAZISNU  juga berupaya memberikan terhadap 1000 Marbot musholla, penjaga jalan dan guru TPQ di Jombang.

Menurut salah satu Pengurus LAZISNU Jombang, Acmad Zainudin, kegiatan ini merupakan bukti keseriusan Nahdlatul Ulama dalam membantu umat dan menjaga amanat dari para donatur untuk menyalurkan dana mereka.

"LAZISNU sekarang sudah punya perencanaan yang matang dan komitmen untuk menjaga amat dari donatur," jelasnya, Rabu (31/5).

Untuk mencapai target tersebut, LAZISNU Jombang sebelum Ramadhan sudah menggerakkan seluruh kader dan relawan untuk lebih aktif berkomunikasi dengan para calon donatur serta turun langsung ke lapangan.

Keterbukaan dalam pengelolaan dana donatur menjadi modal utama LAZISNU untuk menarik lebih banyak para ‘aghniya' yang ingin menitipkan hartanya.

"Kepercayaan dan keterbukaan ciri khas kami dalam mengelola dana umat," tambahnya.

Gok Dien sapaan akrabnya mengharapkan bantuan dari semua umat Islam, terkhusus warga NU untuk menyukseskan acara santunan 1000 anak yatim ini dengan menitipkan sebagian hartanya ke LAZISNU.

LAZISNU juga mencetak voucher sumbangan dengan nominal Rp20.000 dimana uang tersebut akan diberikan ke pihak yang berhak mengirimanya.

"Masyarakat yang ingin menyumbang silakan transfer ke Rekening Bank Syariah Mandiri 7019992211 atas nama LAZISNU atau datang ke kantor kami," tutup Gok Dien. (Syamsul Arifin/Fathoni)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG