IMG-LOGO
Nasional

Peringati Harlah Kelima, LPOI Tetap Nasionalis Religius

Kamis 1 Juni 2017 22:25 WIB
Bagikan:
Peringati Harlah Kelima, LPOI Tetap Nasionalis Religius
Jakarta, NU Online
Pada 1 Juni lima tahun lalu, 13 organisasi massa (ormas) Islam bersepakat untuk membentuk suatu perkumpulan dengan nama Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI). Lembaga tersebut dikukuhkan di gedung PBNU, Jakarta. LPOI yang diketuai KH Said Aqil Siroj ini memperingati Hari Lahir (Harlah) yang ke-5 di lantai 8, Gedung PBNU, Kamis (1/6).

Kiai Said menjelaskan, LPOI mempunyai  kesepahaman terhadap empat pilar; Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI, Undang-Undang Dasar 1945. LPOI juga menyatakan penolakannya terhadap gerakan-gerakan Islam yang radikal. 

“Yang penting ketika ada hal-hal yang bersifat nasional, dan penting, menyikapi ISIS, menyikapi Alqaeda kita selalu sama. Sikap kita menyikapi terorisme-radikalisme, Ansorut Tauhid, Ansorud Daulah, Jihad Islami, Majelis Mujahidin selalu kita ikuti gerakan mereka,” jelas pria kelahiran Kempek, Cirebon ini.

Ia menuturkan, LPOI berisi ulama yang nasionalis. “Kita bukan ormas yang aneh atau neko-neko,” katanya. “Kita tetap nasionalis religius,” tambahnya.

Menurutnya, di Timur Tengah tidak ada satu nama pun yang mempunyai prinsip nasionalis yang religious. “Jadi, kalau ulama tidak nasionalis, kalau nasionalis bukan ulama,” tegas pria lulusan Universitas Ummul Qura Arab Saudi ini.

Tampak hadir pada acara tersebut, Menko Polhukam Wiranto, Wakil Ketua DPD-RI Oesman Sapta Odang dan segenap Pegurus Besar Nahdlatul Ulama.

Adapun ke-13 ormas tersebut terdiri dari Nahdlatul Ulama, Al-Irsyad, Al-Islamiyah, Syarikat Islam Indonesia, Persis, Matlaul Anwar, Az-Zikra, Al-Ittihadiyah, Al-Wasliyah, Ikatan Dai Indonesia, Persatuan Umat Islam, Persatuan Islam Tionghoa Indonesia, Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti). (Husni Sahal/Abdullah Alawi)

Bagikan:
Kamis 1 Juni 2017 20:40 WIB
HARI LAHIR PANCASILA
Mun’im DZ: NU yang Merumuskan Ketuhanan Jadi Sila Pertama
Mun’im DZ: NU yang Merumuskan Ketuhanan Jadi Sila Pertama
Jakarta, NU Online
Pancasila lahir pada 1 Juni 1945 ketika Bung Karno (Soekarno) berpidato dalam sidang BPUPKI. Namun dalam rumusan Bung Karno itu, sila “Ketuhanan" berada pada urutan kelima. Nahdlatul Ulama (NU) merumuskan “Ketuhanan” menjadi sila pertama.

Demikian disampaikan Wakil Sekjen Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Abdul Mun’im DZ di Jakarta, Kamis (1/6/2017). Bagi NU, rumusan lima sila yang diajukan oleh Bung Karno itu belum filosofis.

Urutan lima sila atau “panca sila” yang diajukan oleh Bung Karno dalam Sidang BPUPKI 1 Juni 1945 adalah 1)Kebangsaan Indonesia; 2)Internasional atau perikemanusiaan; 3)Mufakat atau demokrasi; 4) Kesejahteraan sosial; dan 5) Ketuhanan.

Menurut Mun’im yang menulis buku “Piagam Kebangsaan” itu, para kiai NU terutama yang terlibat dalam sidang BPUPKI dan PPKI menyampaikan bahwa rumusan Bung Karno tentang Pancasia masih belum sempurna.

KH Wahid Hasyim pada waktu itu menilai Pancasila yang dirumuskan Soekarno masih belum sistematik. Misalnya, Ketuhanan diletakkan di bagian belakang atau sila kelima. Disampaikan bahwa urutan yang disampaikan belum filosofis, terkait peempatan aspek theos, antrophose, dan kosmos

“Bagi NU, rumusan Bung Karno itu juga belum ‘taam’ dan belum bisa disebut ‘kalam’, apalagi 'qoulan tsaqilan'. NU setuju usulan Bung Karno tapi urutannya ditata ulang. Ketuhanan ada di sila pertama. Jadi, penempatan ‘Ketuhanan’ pada sila pertama ini bukan semata-mata karena masalah keagamaan. Tetapi ini terkait sistematika konsep filosofis,” kata Mun’im.

Berdasarkan musyawarah yang panjang akhirnya keluar rumusan Pancasila dengan urutan sila-silanya dan kalimatnya yang teratur seperti saat ini. Istilah-istilah yang digunakan juga sangat sederhana dan mudah dipahami oleh rakyat Indonesia.

Pancasila:  1)Ketuhanan Yang Maha Esa; 2)Kemanusiaan yang adil dan beradab; 3)Persatuan Indonesia; 4) Kerakyatan yang dpimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan; 5)Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Terkait hari kelahiran Pancasila, menurut Mun’im, kalangan NU sudah bersepakat bahwa Pancasila lahir pada 1 Juni 1945, yakni ketika Soekarno menyebutkan istilah “Pancasila” pada sidang sidang Badan Penyelidik Usaha Kemerdekaan Indonesia atau BPUPKI tersebut.

“Jumhur ulama NU sudah ma’lum mutlaq bahwa Pancasila lahir 1 Juni 1945 ketika Bung Karno (Soekarno) berpidato dalam sidang BPUPKI. Ketika itu Dr Radjiman (Wedyodiningrat) menanyakan perihal pidato Bung Karno, semua anggota BPUPKI secara aklamasi menerima,” kata Mu’nim DZ.

Menurutnya, perdebatan seputar tanggal kelahiran Pancasila hanya diciptakan oleh beberapa orang. Ia menyebut nama Nugroho Nutosusanto dan belakangan AM Fatwa, antara lain yang memicu perdebatan mengenai hari lahir Pancasila. “Kalau ijma’ NU Pancasila lahir tanggal 1 Juni 1945,” pungkasnya. (A. Khoirul Anam)
Kamis 1 Juni 2017 20:29 WIB
Ormas-Ormas Islam Indonesia Dukung Pemerintah Bubarkan HTI
Ormas-Ormas Islam Indonesia Dukung Pemerintah Bubarkan HTI
Jakarta, NU Online 
Sekitar 13 oraganisasi massa (ormas) Islam yang tergabung di Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) mendukung pemerintah untuk membubarkan HIzbut Tahrir Indonesia.  Pernyataan tersebut disampaikan di gedung PBNU, Jakarta, Kamis (1/6).

Ketiga belas ormas Islam tersebut adalah Nahdlatul Ulama, Persatuan Islam, Al-Irsyad Al-Islamiyah, Mathlaul Anwar, Ittihadiyah, Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI), Ikadi, Azzikra, Syarikat Islam Indonesia, Alwashliyah, Persatuan Tarbiyah Islamiyah, Persatuan Ummat Islam, dan HBMI. 

Pernyataan ormas-ormas tersebut disampaikan Sekretaris Umum LPOI  Lutfi A. Tamimi didampingi Ketua Umum LPOI KH Said Aqil Siroj dan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Republik Indonesia  Wiranto dan Ketua DPD RI Osman Sapta Odang. 

Selain mendukung pembubaran HTI, LPOI juga mendukung untuk menjaga keutuhan NKRI, mendukung presiden untuk mengemban jabatan sampai akhir periode, pemberantasan narkoba, dan terorisme. 

Berikut pernyataan lengkap LPOI tersebut. 


1. Membela dan menjaga keutuhan NKRI berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

2. Mendukung Presiden sebagai kepala negara yang dipilih secara konstitusional sampai masa jabatannya berakhir. 

3. Mendukung upaya pemerintah dalam memerangi terorisme dan radikalisme dalam segala bentuk.

4. Mendukung pemerintah dalam memerangi narkoba dan korupsi

5. Menindak tegas ormas-ormas radikal dan media sosial yang memecah belah bangsa

6. Lembaga Persahabatan Ormas Islam mendukung Pemerintah Republik Indonesia membubarkan Hizbut Tahrir Indonesia. 


(Abdullah Alawi)

Kamis 1 Juni 2017 19:45 WIB
Masyarakat Moderat Harus Diperjuangkan
Masyarakat Moderat Harus Diperjuangkan
Jakarta, NU Online
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj mengungkapkan, untuk menjadi umat yang moderat harus diperjuangkan meski di dalam Al-Quran Allah telah menjadikan umat Islam sebagai umat yang moderat.

Waja’alnakum ummatan wasathon. Saya jadikan kamu umat yang moderat. Kata ja’ala (menjadikan) itu walau failnya (subjek) Allah, (kata ganti) na itu Allah, tetapi harus diperjuangkan terus menerus. Beda dengan kholaqo (menciptakan), kalau kholaqo monoploli Allah dan yang lain tidak ikut campur,” urai Kiai Said saat menutup acara Pelatihan Dai-Daiyah Kader NU 2017 di Gedung PBNU, Kamis (1/6).

Kiai Said menambahkan, umat yang moderat harus diperjuangkan agar umat Islam hadir di tengah masyarakat, baik dalam hal keagamaan, peradaban, pendidikan, budaya, dan kemajuan dalam bermasyarakat.

Agama Islam, lanjutnya, bukan hanya soal aqidah dan syariat saja, tetapi Islam juga mengatur bagaimana masyarakat yang beragama, maju, modern, bermartabat. 

“Ada dua jenis kemajuan, yaitu kemajuan di bidang agama, akhlak, dan ilmu disebut dengah tsaqofah dan kemajuan di bidang ekonomi dan kesejahteraan disebut hadharah. Jika dua-duanya maju,  maka orangnya disebut mutamaddin. Masyarakatnya disebut madinah,” urainya. 

Menurut dia, moderat hanya akan bisa diraih kalau dibarengi dengan kecerdasan. Ia menilai, ada beberapa ulama yang berjasa dalam meletakkan pinsip-prinsip moderat seperti Imam Syafi’i di dalam bidang syariah, Imam Ghazali di bidang Tasawuf, serta Imam Al Asy’ari dan Al Maturidi dalam bidang akidah.

Wasathan itu bisa kita jangkau kalau kita berilmu,” ucapnya. (Muchlishon Rochmat/Zunus)   

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG