IMG-LOGO
Nasional

Kemenag Akan Gelar Dialog Pimpinan Ormas Islam Tingkat Nasional

Rabu 7 Juni 2017 2:3 WIB
Bagikan:
Kemenag Akan Gelar Dialog Pimpinan Ormas Islam Tingkat Nasional
Jakarta, NU Online 
Kementerian Agama akan menyelenggarakan Dialog Pimpinan,Tokoh Ormas Islam Tingkat Nasional. Dialog ini akan dilaksanakan di Jakarta tanggal 9-11 Juni 2017 mendatang dengan mengusung tema "Modernisme Islam sebagai Keharusan".

Direktur Penais Khoiruddin menjelaskan bahwa dialog akan dihadiri oleh 154 orang peserta. Menurutnya, peserta kegiatan ini terdiri dari Ketua Ormas Islam baik di tingkat pusat maupun tingkat provinsi, para Kepala Bidang Penerangan Agama Islam, Zakat dan Wakaf Kanwil Kementerian Agama Provinsi di seluruh Indonesia serta peserta dari lingkungan Ditjen Bimas Islam.

Sedangkan narasumber yang akan dihadirkan di antaranya adalah Menteri Agama, Sekjen Kemenag, Plt. Dirjen Bimas Islam, Sekretaris Ditjen Bimas Islam, Ketua Umum MUI, Ketua Umum PBNU, Ketua Umum PP Muhammadiyah, Azyumardi Azra dan Valentino Dinsi.

Khoiruddin menyampaikan harapan Menag terhadap kegiatan Dialog Pimpinan Ormas Islam Tingkat Nasional ini, selain dapat menjalin silaturahim dengan para tokoh ormas juga diharapkan dapat menata permasalahan-permasalahan umat.

"Salah satunya adalah mengenai seruan untuk bermuamalah yang baik melalui media sosial," ujarnya sebagaimana disampaikan kepada kemenag.go.id seusai melaporkan persiapan Nuzulul Quran dan Kegiatan Dialog Pimpinan Ormas Islam Tingkat Nasional kepada Menteri Agama, Selasa (6/6).

Berkaitan dengan hal tersebut, ia menjelaskan bahwa dalam Dialog dengan Pimpinan Ormas Islam tersebut juga akan dilakukan sosialisasi fatwa MUI No. 24 Tahun 2017 mengenai Hukum dan Pedoman Bermuamalah melalui Media Sosial. (Red: Abdullah Alawi)

Bagikan:
Rabu 7 Juni 2017 22:16 WIB
KH Maimoen Zubair: Masa Kekhalifahan Sudah Habis
KH Maimoen Zubair: Masa Kekhalifahan Sudah Habis
Rembang, NU Online 
Mustasyar PBNU KH Maimoen Zubair mengatakan, kemerdekaan Indonesia diraih tidak mudah. Harus melalui perjuangan yang panjang. Menurutnya, umat Islam punya peran penting dalam perjuangan kemerdekaan melalui resolusi jihad yang dikeluarkan oleh para kiai sepuh.

"Bulan Ramadhan punya arti penting bagi bangsa Indonesia. Kebangkitan Nasional pada 1908 terjadi saat Ramadan. Demikian pula momen Sumpah Pemuda tahun 1928. Proklamasi kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1945, juga bertepatan dengan hari kedelapan bulan Ramadan," katanya pada taushiyah Safari Ramadan Kapolri Jenderal Tito Karnavian yang berlangsung di rumah KH Mustofa Bisri di lingkungan Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Kelurahan Leteh, Rembang, Selasa (6/6) sore.

Pengasuh Pondok Pesantren Al Anwar Sarang tersebut menegaskan Indonesia harus mempertahankan konsep negara kesatuan yang berasaskan Pancasila seperti sekarang ini.

Menurutnya, masa kekhalifahan sudah habis dengan berakhirnya era Khulafaur Rasyidin, dimulai Abu Bakar hingga Ali bin Abi Thalib.

"Masa kekhalifahan sudah habis. Untuk Indonesia, konsep kenegaraan yang cocok adalah seperti sekarang ini. Kemerdekaan Indonesia menjadi inspirasi bagi negara-negara di belahan dunia lain. Terbukti dengan digelarnya Konferensi Asia Afrika I di Bandung," beber kiai akrab disapa Mbah Moen sebagaimana ditulis Tribun Jateng.

Saking cintanya kepada Indonesia dan Pancasila, Mbah Moen mengaku di kediamannya memajang lambang nasional burung garuda di tempat yang tinggi. Oleh sebagian kalangan, ia dinilai sebagai kiai yang aneh.

"Biarlah saya dianggap kiai yang aneh," tutur Mbah Moen.

Kiai sepuh ini bercerita, semasa ibu kota Indonesia pindah ke Yogyakarta, Presiden Soekarno pernah bertandang ke Rembang. Dalam kesempatan itu, sang proklamator menyitir sebuah ayat Al-Qur’an dalam Surat Ar Rum.

"Saya masih ingat, beliau meyakini proses kemerdekaan Indonesia layaknya perjuangan Nabi Muhammad yang tengah berada di tengah peperangan besar," paparnya.

Mbah Moen menandaskan Islam tak boleh dimonopoli oleh suatu bangsa.

"Pada zaman Nabi, yang membesarkan Islam bukan hanya bangsa Arab. Panglima perang yang tangguh kala itu, Salman Alfarisi, berasal dari bangsa Persia," tuturnya.

Dalam mengatasi perpecahan di Indonesia, Mbah Moen berpesan agar para elite nasional lebih dulu bersatu. Jika yang berada di level atas sudah bersatu, yang ada di tataran bawah atau akarrumput juga mudah disatukan. (Red: Abdullah Alawi)

Rabu 7 Juni 2017 21:16 WIB
Dua Jam Ciptakan Komik untuk Melawan Penghujat
Dua Jam Ciptakan Komik untuk Melawan Penghujat
Jakarta, NU Online 
Komikus Aji Prasetyo menciptakan komik berjudul “Apa Sih Maunya NU?” Komik itu ia sebarkan di media sosial. Kemudian tersebar dari grup satu grup lain. Komik itu pun ditanggapi komik juga oleh pihak yang merasa tersindir. Juga di media sosial. 

Komik itu dibuka dengan percakapan seseorang berpeci dan berpakaian putih, tapi mimik muka melotot dan menghujat. Ia berkata, “Ada apa dengan Banser NU?! Gereja dijaga, tapi pengajian dibubarkan. Ngaku Islam kok gitu.”

Perkataan itu ditanggap seseorang berbaju Jawa yang bahunya tersampir udeng-udeng hitam. Rambutnya gondrong dan berkacamata. Ia menanggapinya dengan muka santai sambil merokok. “Nah, opini macam begini harus dilurusin.”

Menurut pria gondrong itu, saat ini ada yang mengaku atau disebut ulama oleh pengikutnya, tapi perilakunya gemar mengkafirkan orang lain. Ulama tersebut menyebut tsunami Aceh karena warganya selalu bermaksiat. Tahlilan, ziarah, juga menjadi sasaran dia dengan menyebutnya bid’ah dan sesat. “Jangankan terhadap umat lain, sama sesama Muslim aja suka bikin sakit ati,” katanya. 

Menurut Aji, komik itu ia ciptakan selam dua jam. Ia membuatnya selepas turut serta dalam Apel Banser di Kediri beberapa waktu lalu. “Saya ikut harlah Ansor di Kediri 20 Mei. Lantas saya nggambar dan upload tanggal 23 mei,” katanya ketika dihubungi NU Online dari Jakarta, Rabu (7/6). 

Ia mengaku, komik itu diciptakan untuk melawan opini pihak seberang yang suka menyudutkan Banser dan NU.

Aji Prasetyo adalah pengurus Lesmbaga Seni Budaya Muslim Indonesia. Ia telah melahirkan ratusan komik yang diunggah bebas di media sosial. Beberapa di antaranya dijual di toko buku, misalnya Teroris Visual, Kidung Malam; Kompilasi Komik Tukang Tutur, Hidup Itu Indah. (Abdullah Alawi) 

Rabu 7 Juni 2017 19:30 WIB
50 Tahun Pendudukan Israel di Palestina, NU Desak Pemerintah Hentikan Akses Ekonomi
50 Tahun Pendudukan Israel di Palestina, NU Desak Pemerintah Hentikan Akses Ekonomi
Jakarta, NU Online 
Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Nahdlatul Ulama (LAKPESDAM NU) dengan Amnesty International Indonesia (AII) menggalang petisi 50 tahun pelanggaran HAM Israel terhadap Palestina di Gedung HDI Hive Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (7/6). Petisi rencananya akan digalang selama 6 bulan kedepan. 

Ketua Lakpesdam NU Rumadi Ahmad yang didaulat membacakan petisi menyatakan bahwa selama 50 tahun ini, Israel telah mencerabut ribuan orang Palestina dari tanah mereka, menduduki dan secara ilegal menggunakannya untuk membuat tempat tinggal yang dikhususkan bagi warga Israel. 

Selain itu, lanjut dia,  rumah-rumah maupun kehidupan warga Palestina juga dihancurkan, kebebasan bergerak, akses atas air, tanah, dan sumber daya alam dibatasi. 

"Komunitas-komunitas telah diserang secara kekerasan oleh militer dan penduduk Israel. Kita harus bertindak sekarang," katanya tegas. 

Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini menyerukan agar negara-negara, termasuk Indonesia untuk menghentikan akses ekonomi yang memelihara pendudukan ilegal Israel dan memperburuk derita warga Palestina.

Rumadi menjelaskan bahwa, isu ini bukan hanya mengenai Israel mengambil alih tanah dan sumber daya alam Palestina secara ilegal, lebih dari itu, banyak pemerintah negara dunia membiarkan masuknya suplai barang-barang yang produksi di wilayah pendudukan Israel ke pasar, dan membolehkan perusahaan di negara-negaranya untuk menjalankan usaha di wilayah itu. 

"Ini menguntungkan pendudukan Israel atas Palestina,"katanya. 

Berikut 3 poin petisi untuk mendesak pemerintah:
  1. Melarang masuknya suplai barang-barang yang diproduksi di wilayah pendudukan Israel ke pasar Indonesia;
  2. Menghentikan perusahaan Indonesia yang menjalankan usahanya di area pendudukan ilegal Israel atau mengakhiri perdagangan produk dengan Israel;
  3. Membantu memutus rantai kekerasan dan pelanggaran HAM yang diderita warga Palestina yang hidup dibawah pendudukan Israel. 
(Husni Sahal/Zunus)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG