IMG-LOGO
Wawancara

Sekolah Lima Hari, Vakum Dua Hari Mudharatnya Besar

Selasa 13 Juni 2017 8:11 WIB
Bagikan:
Sekolah Lima Hari, Vakum Dua Hari Mudharatnya Besar
KH Asep Saifuddin Chalim.
Setelah setahun lalu menggulirkan kebijakan Full Day School (FDS) lalu mendapat penolakan dari berbagai kalangan, kali ini Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy membungkus FDS dengan label sekolah lima hiari.

Kebijakan yang kabarnya akan diterapkan pada tahun ajaran baru 2017/2018 ini juga mendapat penolakan dari sejumlah kalangan, tak terkecuali stakeholder pendidikan.
 
Untuk mendapatkan pandangan yang lebih jernih terkait dengan kebijakan sekolah lima hari tersebut, NU Online berkesempatan mewawancarai Ketua UmumPengurus Pusat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PP Pergunu) Dr KH Asep Saifuddin Chalim, Senin (12/6) di Jakarta.

Saat ini Kiai Asep mengelola sejumlah lembaga pendidikan Islam dan umum unggulan berbasis pesantren di bawah Yayasan Amanatul Ummah Pacet, Mojokerto, Jawa Timur. Cabangnya saat ini juga ada di Surabaya. Murid dan santrinya ada yang mukim di pondok dan ada juga yang tidak. Total santri Kiai Asep berkisar 5500 santri belum termasuk yang ada di Surabaya.

Berikut wawancara Fathoni Ahmad dari NU Online dengan KH Asep Saifuddin Chalim yang saat ini juga mengelola Institut KH Abdul Chalim (IKHAC) Mojokerto terkait rencana kebijakan sekolah lima hari.

Bagaimana menurut kiai soal rencana kebijakan sekolah lima hari?

Hari-hari ini jangan menerapkan sekolah lima hari. Anak-anak SMP dan SMA itu belum mampu menguasai diri nanti kalau libur dua hari, itu sangat berbahaya sekali. Kalau memang untuk menghilangkan kelelahan belajar selama lima hari, cukup sehari, karena hari keduanya punya potensi untuk nakal.

Bisa dijelaskan detailnya, kiai?

Ya, anak-anak tidak akan bisa pandai karena ada kevakuman sebab libur dua hari itu, mengangkat kembali untuk memaulai belajar, itu berat sekali kalau tiap minggu vakum semacam ini.
 
Sekarang itu ada HP gadget yang sedang melanda generasi bangsa Indonesia. Gadget itu lebih ganas daripada sabu-sabu. Kalau sabu-sabu menghasilkan khayalan, kalau HP menghasilkan gambar konkret. Sekarang ini banyak anak-anak yang tidak bisa berpisah dengan HP-nya dengan jarak 10 meter. Ini sangat luar biasa, tidak bisa berpisah dengan HP-nya selama 10 menit. 

Kalau seandainya libur sampai dua hari, kemudian hari itu tidak cukup digunakan untuk melepas lelah, tetapi sekaligus setelah lelahnya lepas punya potensi hura-hura lagi. Itu bagaiman dengan keberadaan HP yang sekarang, sementara mereka belum bisa menjadi pengendali terhadap HP itu sendiri.

Bagaimana konsekuensi logis jika kebijakan ini diterapkan?

Kemendikbud mengeluarkan aturan full day school untuk memberi peluang sekolah menarik SPP bulanan. Dengan menarik peluang itu, maka anak-anak mendapatkan biaya yang cukup mahal. Sementara sekolah negeri wali muridnya kan nggak kaya-kaya, kecuali sekolah favorit.

Seperti biaya apa saja, kiai?

Kalau sekolah sampai jam tiga maka perlu makan siang. Makan siang yang efektif dikoordinir sekolah. Ketika dikoordinir sekolah panitianya pasti mengambil fee. Sekolah menariknya akan lebih besar dari selama ini ditolerir.
 
Kalau di Jawa Timur kan ditolerir 250.000. dengan full daya school, maka akan lebih besar untuk membiayai jam-jam oleh guru honorer. Akibatnya akan banyak wali murid yang kesusahan membiayai anak-anaknya.
 
Itu berat sekali, untuk membiayai makan siang, makan siang yang dikoordinir yang nantinya juga ada fee. Kemudian sekolah yang telah mendapatkan perlindungan juga diperkenankan menarik SPP oleh peraturan menteri, itu pasti menarik banyak, karena apa? Untuk membiayai jam-jam tambahan oleh guru-guru tambahan atau pun honorer.

Sejumlah kalangan mengkhawatirkan terbengkalainya Madrasah Diniyah, menurut kiai?

Yang jelas akan mengganggu keberadaan madrasah diniyah di mana anak juga butuh belajar agama. Madrasah diniyah itu kan masuk jam 14.00 sampai jam 16.00. Sekarang kalalu pulang saja jam empat, kapan mau mulai pendidikan keagamaannya.
 
Artinya?

Ini namanya melakukan sesuatu yang belum tentu dengan menghilangkan kemapanan yang sudah baik. Tidak boleh itu, kalau istilah NU kan al-akhdzu bil jadidil aslah, mengambil sesuatu yang baik tetapi dengan tidak menghancurkan sesuatu yang sudah baik. Orang itu harus menjaga yang sudah bagus.
 
Boleh melahirkan sesuatu yang lebih bagus. Tetapi membuat sesuatu yang lebih bagus tentu baik tetapi yang sudah baik dihancurkan, itu tidak boleh. Berat ini Kemendikbud.

Tags:
Bagikan:
Senin 12 Juni 2017 9:7 WIB
Membela NU, Melawan Opini Pihak Seberang dengan Komik
Membela NU, Melawan Opini Pihak Seberang dengan Komik
Beragam cara menyampaikan gagasan, termasuk kejengkelan. Aji Prasetyo menuangkannya melalui komik. Ratusan komik yang dibuatnya secara manual ia sebarkan secara gratis di media sosial. Salah satu karyanya adalah “Apa Sih Maunya NU?”

Komik tersebut dibuka dengan percakapan seseorang berpeci dan berpakaian putih, tapi mimik muka melotot dan menghujat. Ia berkata, “Ada apa dengan Banser NU?! Gereja dijaga, tapi pengajian dibubarkan. Ngaku Islam kok gitu.”

Perkataan itu ditanggap seseorang berbaju Jawa yang bahunya tersampir udeng-udeng hitam. Rambutnya gondrong dan berkacamata. Ia menanggapinya dengan muka santai sambil merokok. “Nah, opini macam begini harus dilurusin.”

Menurut pria gondrong itu, saat ini ada yang mengaku atau disebut ulama oleh pengikutnya, tapi perilakunya gemar mengkafirkan orang lain. Ulama tersebut menyebut tsunami Aceh karena warganya selalu bermaksiat. Tahlilan, ziarah, juga menjadi sasaran dia dengan menyebutnya bid’ah dan sesat. “Jangankan terhadap umat lain, sama sesama Muslim aja suka bikin sakit ati,” katanya. 

Sebagai warga NU, kemampuannya dalam membuat komik ia pergunakan untuk membela dan melawan pihak seberang yang doyan membuat opini tanpa tabayun, bahkan menyalahkan, membid’ahkan, sampai mengkafirkan amaliyah warga NU. 

Untuk mengetahui lebih jauh proses kreatif Aji Prasetyo dalam menciptakan komik, Abdullah Alawi dari NU Online mewawancarainya melalui surat elektronik pada Rabu (7/6). Berikut petikannya. 

Komik Apa Sih Maunya NU? ada berapa seri?

Baru satu itu. Saya memang biasa bikin komik pendek-pendek antara 2 sampai 10 halaman untuk menyodorkan opini pada kasus-kasus tertentu.

Asal-mula membuat komik itu? Diminta orang atau bagaimana?

Enggak. Itu kesadaran sendiri. Bermula dari berbagai anggapan sinis terhadap NU. Lantas saat saya ikut harlah Ansor di Kediri tempo hari, saya mencermati pidato Ketua GP Ansor jatim maupun pusat. Dari sana saya tergerak untuk membuat komik itu. Sebagai warga NU dan pengurus Lesbumi, saya rasa ini kewajiban saya untuk turut merespon black campaign pihak-pihak seberang. Jadi, enggak perlu nunggu diminta.

Itu selesai berapa lama pembuatannya?

Dua jam.

Cara menyebarkannya bagaimana? 

Saya cuma pajang di fanpage saja. Terus ada orang-orang yang upload di Line, IG, diformat pdf lantas disebar di WA dan sebagainya.

Reaksi positif dan negatifnya bagaimana?

Rame.

Bagaimana reaksinya?

Apresiasi jelas ada. Kalo teror belum ada. Mungkin mereka enggak punya nyali kalo akan berurusan sama Banser. Sampe ada "komik jawaban"nya segala. Tapi menurut kawan-kawan, jawabannya enggak menggigit. Sekadar ngeles saja.

Target komik dengan tema itu gimana?

Targetnya adalah tersebar seluas mungkin di masyarakat sosmed. Gimana caranya sebanyak mungkin orang baca tanpa harus bayar. Untuk melawan opini pihak seberang yang suka menyudutkan banser dan NU.

Apa akan ada "Apa Sih Maunya NU 2"?

Bisa jadi, jika nanti ada ide baru utk menangkis serangan-serangan lain.

Sejak kapan menciptakan komik?

Mulai eksis sejak 2007 mas. Dulunya saya musisi. Lantas ada "insiden Ramadhan" di tahun 2007.

Insiden apa?

Aji kemudian memberikan sebuah link toko buku yang memuat jawaban dari pertanyaan tersebut.Link itu memuat esainya berjudul: “Meluapkan Kejengkelan Pencitraan Ramadhan dengan Komik” 


Kita sudah terbiasa melihat para tokoh masyarakat melakukan pencitraan di depan publik. Tapi, karena aku dulu bekerja sebagai musisi, aku termasuk orang yang cukup apes karena punya kesempatan melihat keaslian mereka. Aku jadi tahu siapa saja tokoh masyarakat yang hobi nongkrong di hotel mewah, apa merk whisky favorit mereka, bahkan siapa saja yang hobi main perempuan.


Di awal mula aku menerjuni profesi sebagai musisi, pemandangan tadi kunikmati dengan berbagai pemakluman. Tapi setelah perda larangan live music muncul, mendadak aku jadi sangat muak terhadap mereka. Bulan Ramadhan hanya menjadi ajang pencitraan. Bikin perda untuk mengatur moral, razia sana sini, padahal perilaku mereka sendiri ternyata jauh dari standar moral yang mereka terapkan kepada rakyatnya.


Akhirnya kuputuskan untuk meluapkan kejengkelanku lewat coretan komik dan kuupload di sosmed. Lantas lahirlah komik celotehku yang kuberi judul Ramadhan penuh Hikmah (2007) dan Setan Menggugat (2008). Dua komik pendek itu, yang kini telah diterbitkan dalam kompilasi Hidup Itu Indah (2010), kubuat di bulan Ramadhan.
Keduanya menjadi monumen awal mula aku menerjuni dunia komik untuk mengkritik berbagai hal, seperti kutuangkan dalam esai komik kali ini, tepat sepuluh tahun setelah aku memulai karirku sebagai komikus opini. 

Mau konfirmasi, berarti jumlah karya yang telah disebar?

Komik pendek saya sudah ratusan judul mas. Mulai dari 2007 sampai sekarang.

Semuanya diperjual-belikan?

Hampir semua saya upload di sosmed secara gratis. Baru setelah banyak, saya bukukan dan dijual

Cara membuat komik itu bagaimana, dengan alat tulis secara manual atau dengan semacam program di komputer?

Manual.

Jika ditarik ke belakang, keterampilan bikin komik sudah ada basisnya? Misalnya minat, bakat, kemudian digeluti sejak 2007

Sejak kecil saya suka menggambar. Lantas kuliah di IKIP ambil jurusan senirupa, tapi sayangnya DO. 

Apakah dengan komik bisa mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari?

Dengan cara saya? Tidak. Karena saya biasa menggratiskan komik-komik saya, sebagai cara saya menyebarkan propaganda perdamaian. Teman-teman saya sesama komikus banyak yang memakai komik sebagai satu-satu penghasilan dan banyak yang sukses. Terutama yang bekerja sebagai ilustrator komik-komik luar negeri. Makanya saya masih nyambi sebagai musisi dan mengelola kedai kopi.


Kamis 8 Juni 2017 12:1 WIB
Soal Pembubaran HTI, Ini Penjelasan Mahfud MD
Soal Pembubaran HTI, Ini Penjelasan Mahfud MD
Moh. Mahfud MD (foto: detik).
Awal Mei 2017 lalu, Pemerintah RI membubarkan organisasi anti-Pancasila Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Terkait dengan pembubaran ini, masyarakat Indonesia menilai langkah pemerintah sudah tepat karena langsung membubarkan organisasi yang mengancam keutuhan NKRI. Namun menurut sejumlah pihak, pembubaran tersebut tetap harus konstitusional.

Selain itu, kejadian bom bunuh diri di Terminal Bis Trans Jakarta di Kampung Melayu yang terjadi di Bulan Mei juga cukup menguras perhatian Indonesia, terutama masyarakat Jakarta. Masyarakat juga terbelah menyikapi hal ini; ada yang menganggap kejadian itu hanya pengalian isu dan buatan atau setingan saja dan ada yang beranggapan bahwa itu memang benar-benar kelakuan teroris.

Agar masyarakat memiliki pandangan yang lebih jernih terkait dengan HTI dan tindakan kriminal terorisme, Jurnalis NU Online A. Muchlishon Rochmat berkesempatan mewawancarai Guru Besar Hukum Tata Negara yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Kehormatan Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Moh. Mahfud MD yang baru-baru ini juga dilantik menjadi salah seorang Pengarah di Unit Kerja Presiden-Penanaman Ideologi Pancasila (UKP-PIP). Berikut petikan wawancaranya:

Bagaimana Prof Mahfud melihat fenomena HTI? Kenapa baru sekarang HTI “digebuk” ramai-ramai?

Saya kira pemerintah tidak terlambat. Tetapi kalau orang gebuki HTI kan sudah lama. Mempersoalkan HTI itu sudah lama. Tanggal 12, 13, 14 Agustus Tahun 2007, Hasyim Muzadi itu sudah teriak-teriak bahwa HTI itu berbahaya karena tanggal 12-nya itu ada acara Konferensi Hizbut Tahrir Internasional. Ada beberapa kesimpulan dari konferensi tersebut.

Pertama ingin membentuk negara transnasional mulai dari Thailand, seluruh Asia Tenggara sampai ke Australi. Kedua, demokrasi itu haram. Itu kan bertentangan dengan negara kita. Kita menganut negara nasional, bukan transnasional dan kita menghalalkan demokrasi. Sehingga waktu itu Hasyim Muzadi teriak, orang-orang juga sudah memperingatkan. Itu tahun 2007, artinya sepuluh tahun yang lalu.

Tetapi waktu itu kan pemerintah belum bertindak Prof?

Waktu pemerintah tidak mengambil sikap sampai-sampai beberapa tahun setelah itu karena dibiarin, HTI mengadakan pengajian akbar di GBK Senayan. Saya kira lebih dari seratus ribu orang yang hadir. Dan pidato-pidatonya masih ada di youtube, yakni ingin mengganti Negara Indonesia yang berdasar Pancasila. Tidak boleh misalnya pemimpin itu harus dipilih secara demokrasi, harus diserahkan kepada ulama.

Waktu itu saya protes, masa polisi membiarkan itu dan itu disiarkan langsung oleh TVRI lagi, TV pemerintah kan. Saya protes apakah stasiun TV itu mau cari uang iklan dengan mengorbankan prinsip bernegara yang begitu penting.
 
Terkait pembubaran HTI, Bagaimana pandangan Prof?

Memang agak problematik secara yuridis karena pembubaran HTI atau ormas itu kan melalui peringatan terlebih dahulu. Peringatan satu, dua, tiga. Sampai enam kali peringatan. Baru dihentikan bantuannya, kalau tidak ada bantuannya dihentikan kegiatannya. Terus diminta putusan pengadilan agar dicabut badan hukumnya. Itu yuridisnya.

Itu memang sekarang menjadi problem karena instrumen hukum yang ada tidak bisa langsung membubarkan HTI seperti sekarang. Tetapi kalau kembali ke filosofinya, kenapa dulu menggunakan peringatan-peringatan itu kan sebenarnya kegiatan tindakan fisik, bukan tindakan filosofis. Kalau aturan fisik dibuat karena dahulu orang suka melakukan sweeping. Kalau besok sweeping lagi, besok kamu diperingatkan. Melanggar lagi diperingatkan. Itu yang tindakan fisik.

Ternyata HTI langsung masuk ke filosofinya. Tidak melakukan tindakan yang bisa diperingatkan. Itu sudah pernyataan jati diri bahwa dia berjuang untuk mendirikan khilafah. Itu pernyataan yang sangat nyata dan itu disampaikan kemana-mana secara terbuka. 

Apakah pembubaran HTI bertolak dengan demokrasi yang menjamin kebebasan?

Menurut saya, demokrasi itu meniscayakan adanya kebebasan untuk berpendapat. Tetapi ada dua hal yang tidak boleh dilanggar; pertama jangan merusak ideologi NKRI dan yang kedua jangan menyebabkan pemerintahan lumpuh. Kalau pemerintah lumpuh, gerakan apapun akan sangat membahayakan rakyat.

Bolehlah berdemokrasi dan berbicara memperjuangkan keadilan, tetapi kalau memperjuangkan keadilan dengan mengganti dasar negara itu hukum administrasinya bisa dibubarkan. Sementara hukum pidananya bisa saja itu menjadi makar. Tergantung pada sampai sejauh apa langkah-langkah yang dilakukan.

Tetapi mereka menyatakan bahwa HTI tidak anti Pancasila?

Kalau saya, mereka mengucapkan sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang dilakukan. Hizbut Tahrir dan pahamnya secara terbuka di pidato yang didengar jutaan orang itu tidak setuju demokrasi.

Berarti begini, kalau Ismail Yusanto mengatakan HTI itu tidak anti Pancasila berarti HTI sudah bubar sendiri karena dia semula anti Pancasila. Kalau tidak anti Pancasila, bukan HTI lagi. Di samping pernyataan-pernyataan terbuka itu, mereka bergerak kemana-mana dan gerakannya itu nyata. Gerakannya itu menyatakan Indonesia berdasarkan Pancasila itu sudah gagal, oleh karena itu harus diberi alternatif baru, yaitu khilafah.

Lalu saya tanya, khilafah itu dimana ajarannya? Mereka tidak tahu. Khilafah itu kan tidak ada di Al-Qur’an dan Sunnah. Mereka menyebut khilafah-khilafah. Itu kan cipataan manusia. Ciptaan Bani Umayyah, ciptaan Bani Abbasiyah yang semuanya merupakan hasil istinbath terhadap apa yang mereka anggap benar.
 
Pembela HTI mengataka HTI itu ada. Justru dengan mengatakn ada itu menandakan dan menjadi bukti bahwa khilafah itu tidak ada. Sekarang ada Uni Emirat Arab, ada Kesultanan Brunei, ada Republik Libya, Tunisia, Iran, Pakistan. Semua ngaku Islam kok beda-beda, kalau di Al-Qur’an dan As-Sunnah ada pasti tidak beda-beda. Karena Al-Qur’an dan Sunnah tidak mengajarkan, maka bisa ditafsirkan bahwa sistem pemerintahan itu diserahkan kepada masing-masing bangsa. Dan bangsa Indonesia sudah membuat sistem pemerintahannya sendiri. Sistem pemerintahan kalau dibahasa Arabkan kan khilafah. Di Indonesia, khilafah Indonesia namanya.

Kalau ada pejabat negara yang gabung dan mendukung HTI?

Seharusnya tidak boleh kecuali ikut pengajian-pengajiannya. Tetapi kalau ideologinya tidak boleh. Seharusnya mereka dicopot karena sudah tidak sesuai lagi dengan syarat menjadi pejabat, yaitu setia kepada Pancasila dan UUD. Kalau dengan sadar dia mendukung khilafah yang diperjuangakn HTI, berarti dia tidak setia pada Pancasila dan UUD. Kalau ada pejabat kayak gitu, mundur saja.

Kita boleh beda pilihan politik dalam kehidupan sehari-hari, tetapi kalau ada yang merongrong negara dan ingin mengganti Pancasila pemerintah harus tegas dan rakyat harus mendukung pemerintah untuk menindak karena itu berbahaya.

Tapi, banyak adavokat yang siap pasang badang terkait pembubaran HTI?

Ya silahkan saja. Itu kan hak juga. Pasti dia tidak membela ideologinya. Paling dia akan mengatakan HTI itu tidak ingin mengganti Pancasila. Nah, tinggal buktikan. Tetapi kalau tidak ingin mengubah Pancasila, berarti sudah tidak ada HTI nya. Advokat tidak akan berani mengatakan bahwa HTI memang ingin mengganti Pancasila. Advokat itu menyamarkan hal yang sudah jelas. Ditafsir-tafsirkan bahwa HTI tidak anti Pancasila. 

Kalau terorisme, bagaimana Prof menilai?

Semua ulama mengatakan teroris itu sesat dan yang tidak mengatakan sesat kan terorisnya sendiri. Terorisme itu membuat kerusuhan dan membunuh orang secara masal di tempat-tempat umum. Itu dilarang oleh agama apapun. 

Teroris itu apa sih alasannya. Kalau orang mengatasnamakan agama Islam menteror karena merasa tidak mendapatkan keadilan di negeri ini, bukan hanya orang Islam. Semua, masa mau jadi teroris semua. 

Anggapan bahwa teroris itu pejuang Islam karena sudah mati demi memperjuangkan tegaknya Islam?
Itu harus diperangi oleh negara. Teman-temannya sendiri memang menaggap mereka itu pejuang. Kalau seperti itu, ya harus diperangi.

Kalau pelaku bom bunuh diri Prof?

Menurut saya, orang yang sok menteror atas nama agama lalu bunuh diri agar masuk surga itu adalah mereka yang tidak mengerti agama. Dan sama dengan mereka yang genti ingin mengganti Pancasila dengan khilafah. Biasanya mereka baru belajar agama. Kalau diajak berdebat mereka tidak akan pernah menang. 

Beberapa kali kejadian bom bunuh diri dianggap sebagai pengalihan isu atau setting-an. Bagaimana menurut Prof?

Saya ndak tahu kalau itu. Saya ndak akan masuk ke wilayah yang seperti itu karena motif dari sebuah teror itu bisa karena orang yang ingin masuk surga, tetapi ada yang setting-an juga. Itu makanya di dalam ilmu teror ada namanya state terorism. State terorism itu adalah teror yang diciptakan oleh aparat.

Misalnya kamu dipancing untuk melakukan perlawanan. Kamu anak Islam jangan diam saja diperlakukan tidak adil, lawan dong. Sesudah melawan kamu ditangkap yang memancing tadi. Itu bisa untuk membuat orang takut agar tidak melakukan tindakan yang sesungguhnya.

Dulu, komando jihad itu hasil penelitiannya adalah ada orang disuruh memancing orang di Jawa Barat agar melawan kepada pemerintah. Di sana menggumpal, mereka mau berjuang betul. Mereka merasa ini memang benar-benar jihad. Lawan pemerintah itu. Sesudah mereka matanga untuk melawan, yang mancing itu balik ke Jakarta dan menagkapi orang-orang itu. Orang yang tidak tahu menganggap bahwa itu benar-benar jihad demi Islam bukan pancingan.

Lalu bagaimana dengan anggapan yang berbeda terkait bom bunuh diri?

Itu tidak bisa dihindari. Pasti ada yang mendukung apa yang dilakukan oleh polisi dan menganggapnya hebat karena mampu membekuk teroris. Dan yang satunya bilang ini setting-an. Tetapi polisi tidak boleh ragu tekait hal itu. kalau teror ya teror. Mana ada sebuah tindakan polisi yang dianggap benar, selalu disalahkan. Tetapi kalau tidak bertindak, mereka dianggap kecolongan.

Oleh sebab itu, silahkan polisi mengatur sendiri. Kita tidak bisa mengatakan jangan dong itu setting-an. Kita kan tidak tahu juga, tetapi polisi harus tegas. jangan takut dibilang men-setting karena pasti ada yang bilang setting. Tetapi kalau polisi diam, dia disalahkan oleh seluruh negeri kalau ada gejala teror.

Itu aturan-aturan politiknya dan penegakan hukumnya. Moralnya, supaya jangan men-setting. Bahwa dituduh men-setting itu biasa, tetapi melakukan setting.***

Sabtu 3 Juni 2017 3:6 WIB
Diaspora Warga NU di Luar Negeri
Diaspora Warga NU di Luar Negeri
Nahdlatul Ulama (NU) adalah organisasi sosial kemasyarakatan Islam terbesar di dunia. Menurut data Lembaga Survei Indonesia yang terbaru, ada sekitar 91 jiwa warga NU di seluruh dunia. Kepengurusan NU tersebar di seluruh provinsi di Indonesia, mulai dari tingkat kabupaten kota hingga desa. Selain itu, NU juga semakin menyebar ke luar Indonesia dan terbentuklah beberapa pengurus cabang istimewa di luar negeri. 

Setidaknya, saat ini ada dua puluh lima lebih Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) yang tersebar di lima benua, mulai dari Negara-negara Asia, Timur Tengah, Afrika, Eropa, Australia, dan benua Amerika. 

Apa sebetulnya fungsi, peran, dan yang seharusnya dilakukan oleh PCINU? Dan juga apa yang semestinya dilakukan pengurus pusat NU terkait dengan keberadaan PCINU-PCINU tersebut?

Untuk menadapatkan jawaban itu semua, jurnalis NU Online A. Muchlishon Rochmat berkesempatan mewawancarai mantan Sekretaris Tanfidziyah PCINU Inggris Raya (United Kingdom) 2001-2004 yang sekarang menjabat sebagai Ketua PCNU Kota Bogor Ifan Haryanto. Berikut petikan wawancara Insinyur Planologi ITB sekaligus Master lulusan Birmingham University, dan Doktor lulusan IPB tersebut:

Bisa diceritakan awal mula terbentuknya PCINU?

Sebenarnya diaspora NU di luar negeri sudah cukup banyak, tetapi kepengurusan luar negeri NU dibentuk secara formal sebagai lembaga itu belum banyak. Yang ada sejak awal itu KMNU (Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama) yang ada di luar negeri. Ada KMNU Mesir, ada KMNU di Negara-negara Timur Tengah, tetapi mereka belum terlembagakan sebagai pengurus NU luar negeri.

Tahun 2001, mahasiswa-mahasiswa NU di beberapa kota di Inggris seperti Birmingham, Leeds, dan sebagainya menyelenggarakan pengajian, tahlilan, shalawatan, dan sebagainya. Suatu saat, kita kedatangan tamu Duta Besar Indonesia untuk Qatar Abdul Wahid Maktub. Dia kaget melihat ada banyak warga Indonesia yang ada di Inggris yang mengadakan pengajian-pengajian. Lalu ia bertanya, apakah NU sudah ada di Inggris?  

Memang, NU sudah ada tetapi secara formal belum ada. Pak Wahid kemudian mengontak Pak Hasyim Muzadi dan memberitahukan adanya potensi-potensi untuk mendirikan NU Cabang Inggris Raya. Kemudian, Pak Kiai Hasyim datang dengan beberapa pengurus pusat NU untuk melantik dan memberikan SK kepada Pengurus NU di Inggris Raya. 

Pada saat melantik, Pak Kiai Hasyim menyampaikan bahwa ke depan kebesaran atau pusat Islam akan bergeser. Tidak lagi di Timur Tengah. Dan akan bergeser ke timur, Indonesia. Apa yang disampaikan Pak Kiai Hasyim itu betul. Arab Spring itu terjadi pada awal-awal tahun dua ribuan. Irak hancur, Libya hancur, Syiria dihancurkan. 

Oleh karena itu, sebagai organisasi Islam terbesar NU harus mempersiapkan diri. Mulai dari sumber daya manusia dan menyiapkan infrastruktur hingga level dunia dengan mendirikan PCINU-PCINU. 

Iya, selain itu sebetulnya anak-anak muda NU ini menangkap ada lawan di sana, kelompok Islam garis keras. Pada Gus Dur jadi presiden, kelompok Islam garis keras sering menjadikan Gus Dur sebagai bahan bulian di Yahoo Group. Ini juga yang membuat temen-temen NU luar negeri untuk mendirikan pengurus cabang luar negeri. 

Berarti, PCINU Inggris Raya menjadi PCINU pertama yang didirikan?

Dulu belum ada istilah pengurus cabang istimewa, adanya NU Inggris Raya. Iya, yang pertama ber-SK. Sebelumnya sudah ada KMNU-KMNU, tetapi mereka belum ber-SK.   

Bagaimana PCINU berkembang ke negara-negara lain?

Bermula dari Yahoo Group KMNU lintas negara, lalu berkembang menjadi PCINU-PCINU. Kita berkomunikasi satu sama lain. Yang kuliah di Jerman kemudian mendirikan PCINU Jerman, di Belanda juga demikian, dan beberapa negara yang lainnya. 

Menurut Anda, apa sebetulnya peran PCINU?

Menurut hemat kami, potensi-potensi NU belum dimanfaatkan secara maksimal oleh jamiyyah Nahdlatul Ulama maupun Indonesia. Jadi, dulu idenya simpel. Menurut saya Pak Hasyim memiliki gagasan yang luar biasa. Beliau menyampaikan bahwa anak-anak muda NU di luar negeri ini bisa difungsikan sebagai semacam duta besarnya NU yang ada di luar negeri untuk kepentingan apa saja seperti atase.

Mereka bisa mencarikan beasiswa kuliah untuk Nahdliyin yang ada di Indonesia untuk bidang formal. Dalam bidang non formal, mereka juga bisa teribat. Contohnya dulu ada pembebasan wartawan di Afganistan. Itu juga banyak melibatkan mahasiswa-mahasiswa NU yang posisinya ada di sana. Itu sebetulnya diplomasi jalur ganda yang dilakukan oleh mahasiswa, bukan resmi.

Artinya mereka mahasiswa-mahasiswa NU yang berada di luar negeri itu bisa kita manfaatkan sebagai perwakilan NU untuk berbagai macam kepentingan, mulai dari ekonomi, politik, sosial, budaya, dan lainnya. 

PCINU ini sangat strategis. Ke depan bisa dimanfaatkan untuk bagi NU. Bukan hanya untuk menyerbarkan paham aswaja atau NU ke luar, tetapi juga kita gunakan PCINU sebagai second track diplomacy untuk kepentingan-kepentingan NU di berbagai bidang seperti pendidikan, sosial, budaya, politik, dan lainnya. 

Pernah ada agenda bersama antar-PCINU?

Kemarin ada acara halaqah internasional yang diselenggarakan GP Ansor di Jombang yang datang hampir empat puluh perwakilan PCINU luar negeri. Ini yang eks-eks atau PCINU yang sudah menetap di Indonesia ya. 

Kita memang belum memiliki agenda yang resmi. Paling kalau pas Muktamar NU, mereka yang masih aktif kuliah pada datang dan membuat acara bersama. Begitupu, mereka yang sudah settle (menetap) di Indonesia. Tetapi kita ada grup WA dan kita aktif berkomunikasi antar PCINU. 

Menarik, PCINU aktif yang masih studi di luar dan eks PCINU?

PCINU memiliki dua konteks, yaitu mereka yang masih aktif menjadi mahasiswa dan mereka yang sudah kembali di Indonesia. Di negara-negara Eropa dan Amerika, rata-rata mereka menempuh studi S2 dan S3, tetapi kalau di Negara-negara Timur Tengah S1. 

Sedangkan mereka yang settle (menetap) di Indonesia adalah para profesional, dosen, dan pengusaha. 

Sejauh ini, apakah peran PCINU sudah dimaksimalkan?

Sejauh ini, peran PCINU belum dimanfaatkan secara maksimal. Padahal, hampir di setiap negara besar ada PCINU. Ini infrastruktur yang luar biasa. Bagi PCINU yang masih aktif atau masih berada di luar negeri bisa difungsikan peran mereka sebagai embassy atau duta besar dari NU. 

Nah, eks PCINU ini bagaimana bisa diarahkan dan difungsikan. Bukan berarti mereka ini nganggur. Mereka sudah berada di top management. Bukan mereka meminta pekerjaan, tetapi mereka malah banyak memberi pekerjaan orang. Namun, bagaimana mereka ini bisa dimanfaatkan oleh NU.

Bagaimana caranya agar peran PCINU baik yang masih aktif dan eks itu bisa maksimal?

Saya melihat NU itu sebagai bayang-bayangnya Indonesia. Struktur yang ada di pemerintahan Indonesia, mestinya di NU juga ada. Seperti Kementerian Luar Negeri yang mengurusi urusan-urusan luar negeri. Begitupun dengan NU, ada ketua urusan luar negeri yang seharusnya benar-benar mengurusi urusan-urusan luar negeri seperti PCINU-PCINU, beasiswa, dan lainnya. ia harus concern mensinergikan dan memanfaatkan PCINU-PCINU yang ada. 

Di Hong Kong ada ratusan ribu Nahdliyin. Mereka juga tersebar di bebera negara-negara maju lainnya. Ini kah potensi yang luar biasa. Kalau ada informasi terkait banyak hal yang strategis, mereka kan bisa dimanfaatkan dan fungsikan. Untuk memfungsikan mereka bagaimana caranya itu kan bisa kita diskusikan bersama. Wadahnya mereka sudah ada, sudah PCINU, tinggal bagaimana mereka difungsikan. Ini potensi yang tidak bisa diabaikan. Sayang sekali kalau tidak difungsikan. Banyak profesor, doktor, engeener, ahli teknik, ahli mesin, ada ahli elektro, dan lainnya. 

Untuk memanfaatkan dan memfungsikan mereka tidak harus dijadikan sebagai pengurus struktural, tetapi bagaimana energi positif mereka bisa dimanfaatkan. Ini PR kita bersama.



IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG