IMG-LOGO
Wawancara

Siapakah yang Disebut Manusia Qur'ani

Rabu 14 Juni 2017 3:33 WIB
Bagikan:
Siapakah yang Disebut Manusia Qur'ani
Siapakah yang Disebut Manusia Qur'ani

KH. Muhyiddin Khatib 

Pertanyaan: "Siapakah sebenarnya yang disebut manusia Qur'ani? Apakah orang yang istiqomah membaca Al-Qur'an walau tidak mengerti ma'nanya? Bagaimana jika ada orang suka baca Al-Qur’an  akan tetapi dia sering bersikap dan berprilaku yang melangar isi Al-Qur’an ? Sementara ada seseorang tidak begitu sering membaca Al-Qur’an  akan tetapi dia sentiasa mengamalkan isi Al-Qur’an.

Jawab : Terimkasih anda telah bertanya sesuatu yang amat penting semoga kita diberi kemampuan menjadi manusia Qur'ani lahir batin dan dalam kondisi apapun.

Manusia Qur'ani adalah seseorang yang membaca Al-Qur'an, mengerti ma'nanya dan diberi kemampuan mengamalkannya dalam kehidupan sehari harinya..

(عالما عاملا)

Allah SWT berfirman : 

وإذاقرئ القرأن فاستمعوا له وانصتوا لعلكم ترحمون... 

"Apabila Al-Qur’an  dibacakan maka dengarkanlah dan diamlah kalian agar kalian dapat rahmat".

Allah menggunakana kata kerja mabni maf'ul (قرئ) menunjukkan bahwa perintah itu tidak hanya ditujukan pada orang yang mendengarakan bacaan Al-Qur’an  dari orang lain juga, seseorang yang membaca Al-Qur’an  dan yang mendengarkannya wajib istima' dan inshot (mendengarkan dan diam dalam arti khusyuk). 

Ada terkadang orang yang baca Al-Qur’an  akan tetapi tidak mendengarkan apalagi menyimak isinya, seperti orang yang memaksakan baca Al-Qur’an  akan tetapi hatinya tidak menyatu dengan apa yang dibacanya, membaca Al-Qur’an  sambil lalu melihat dan mendengarkan berita  gosip dan bahkan ikut berghaibah. Sedang Al-Qur’an  dipegang dan dilihatnya, orang yang demikian sama dengan orang yang mencabik-cabik Al-Qur’an  (dhalimun linafsihi), dia baca Al-Qur’an  tapi kerjaannya sering mengadu domba, cerita kejelekan orang lain,  hatinya tidak dikendalikan dari hasad dan dengki, dan beberapa hal lain yang negatif, orang yang sperti ini walau selalu baca Al-Qur’an  akan tetapi hakikatnya menginjak-nginjak Al-Qur’an, naudzu billahi mindzalik.        
                    
Seorang yang mampu mengamalkan isi Al-Qur’an,  walau tidak selalu baca Al-Qur’an  adalah jauh lebih baik dan sempurna daripada membacanya, tapi selalu melanggar isi Al-Qur’an. Bahkan seseorang yang tidak mengerti banyak isi Al-Qur’an  akan tetapi dia mampu mengikuti petunjuk-petunjuk Al-Qur’an,  jauh lebih baik dari orang yang selalu membacanya akan tetapi selalu melanggar apa yang dilarang Al-Qur’an  dan mengabaikan apa yang diperintahkannya.

Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa manusia Qur'ani adalah orang yang mengamalkan isi Al-Qur’an,  sekalipun ia tidak selalu membaca Al-Qur’an. 

Dalam sebuah hadits Aisyah Ummil Mukminin suatu ketika ditanya.

كيف خلق رسول الله صلى الله عليه وسلم؟ قالت.. كان خلقه القرأن.

" Akhlaq Rasulullah SAW adalah Al-Qur’an,"

Dalam sebuah hadits riwayat Imam Bukhori Muslim, dikatakan.

من حمل القرأن واحل حلاله وحرم حرامه دخل الجنة

"Barangsiapa yang membawa ( hafal dan membaca) Al-Qur’an, menghalalkan apa yang dijalankannya dan mengharamkan apa yang diharamkannya maka akan masuk sorga".

Kemudian ada orang yang prilakunya Qur'ani padahal dia tidak faham Al Qur'an, dan bahkan mungkin bisa jadi bukan orang Islam. Perilaku yang begini sungguh merupakan sesuatu yang mulia dari Allah SWT. Di zaman Rasulullah SAW ada seorang perempuan dari Bani Thayyik masuk dalam rangkap orang orang yang ditawan, kemudian perempuan itu menyampaikan kepada Rasulullah SAW,  kalau dia adalah anak si fulan ini dan dia masih kafir. 

Orang tuanya sangat baik akhlaknya, dia murah hati, suka memberi, tidak dendam dan suka membantu orang yang tertindas. Atas kebaikan orang tuanya inilah pada akhirnya Rasulullah melepas anak tersebut karena menghormat atas kebaikan orang tuanya.

والله اعلم بالصواب


* Dosen Ma'had Aly, Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo
Bagikan:
Selasa 13 Juni 2017 8:11 WIB
Sekolah Lima Hari, Vakum Dua Hari Mudharatnya Besar
Sekolah Lima Hari, Vakum Dua Hari Mudharatnya Besar
KH Asep Saifuddin Chalim.
Setelah setahun lalu menggulirkan kebijakan Full Day School (FDS) lalu mendapat penolakan dari berbagai kalangan, kali ini Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy membungkus FDS dengan label sekolah lima hiari.

Kebijakan yang kabarnya akan diterapkan pada tahun ajaran baru 2017/2018 ini juga mendapat penolakan dari sejumlah kalangan, tak terkecuali stakeholder pendidikan.
 
Untuk mendapatkan pandangan yang lebih jernih terkait dengan kebijakan sekolah lima hari tersebut, NU Online berkesempatan mewawancarai Ketua UmumPengurus Pusat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PP Pergunu) Dr KH Asep Saifuddin Chalim, Senin (12/6) di Jakarta.

Saat ini Kiai Asep mengelola sejumlah lembaga pendidikan Islam dan umum unggulan berbasis pesantren di bawah Yayasan Amanatul Ummah Pacet, Mojokerto, Jawa Timur. Cabangnya saat ini juga ada di Surabaya. Murid dan santrinya ada yang mukim di pondok dan ada juga yang tidak. Total santri Kiai Asep berkisar 5500 santri belum termasuk yang ada di Surabaya.

Berikut wawancara Fathoni Ahmad dari NU Online dengan KH Asep Saifuddin Chalim yang saat ini juga mengelola Institut KH Abdul Chalim (IKHAC) Mojokerto terkait rencana kebijakan sekolah lima hari.

Bagaimana menurut kiai soal rencana kebijakan sekolah lima hari?

Hari-hari ini jangan menerapkan sekolah lima hari. Anak-anak SMP dan SMA itu belum mampu menguasai diri nanti kalau libur dua hari, itu sangat berbahaya sekali. Kalau memang untuk menghilangkan kelelahan belajar selama lima hari, cukup sehari, karena hari keduanya punya potensi untuk nakal.

Bisa dijelaskan detailnya, kiai?

Ya, anak-anak tidak akan bisa pandai karena ada kevakuman sebab libur dua hari itu, mengangkat kembali untuk memaulai belajar, itu berat sekali kalau tiap minggu vakum semacam ini.
 
Sekarang itu ada HP gadget yang sedang melanda generasi bangsa Indonesia. Gadget itu lebih ganas daripada sabu-sabu. Kalau sabu-sabu menghasilkan khayalan, kalau HP menghasilkan gambar konkret. Sekarang ini banyak anak-anak yang tidak bisa berpisah dengan HP-nya dengan jarak 10 meter. Ini sangat luar biasa, tidak bisa berpisah dengan HP-nya selama 10 menit. 

Kalau seandainya libur sampai dua hari, kemudian hari itu tidak cukup digunakan untuk melepas lelah, tetapi sekaligus setelah lelahnya lepas punya potensi hura-hura lagi. Itu bagaiman dengan keberadaan HP yang sekarang, sementara mereka belum bisa menjadi pengendali terhadap HP itu sendiri.

Bagaimana konsekuensi logis jika kebijakan ini diterapkan?

Kemendikbud mengeluarkan aturan full day school untuk memberi peluang sekolah menarik SPP bulanan. Dengan menarik peluang itu, maka anak-anak mendapatkan biaya yang cukup mahal. Sementara sekolah negeri wali muridnya kan nggak kaya-kaya, kecuali sekolah favorit.

Seperti biaya apa saja, kiai?

Kalau sekolah sampai jam tiga maka perlu makan siang. Makan siang yang efektif dikoordinir sekolah. Ketika dikoordinir sekolah panitianya pasti mengambil fee. Sekolah menariknya akan lebih besar dari selama ini ditolerir.
 
Kalau di Jawa Timur kan ditolerir 250.000. dengan full daya school, maka akan lebih besar untuk membiayai jam-jam oleh guru honorer. Akibatnya akan banyak wali murid yang kesusahan membiayai anak-anaknya.
 
Itu berat sekali, untuk membiayai makan siang, makan siang yang dikoordinir yang nantinya juga ada fee. Kemudian sekolah yang telah mendapatkan perlindungan juga diperkenankan menarik SPP oleh peraturan menteri, itu pasti menarik banyak, karena apa? Untuk membiayai jam-jam tambahan oleh guru-guru tambahan atau pun honorer.

Sejumlah kalangan mengkhawatirkan terbengkalainya Madrasah Diniyah, menurut kiai?

Yang jelas akan mengganggu keberadaan madrasah diniyah di mana anak juga butuh belajar agama. Madrasah diniyah itu kan masuk jam 14.00 sampai jam 16.00. Sekarang kalalu pulang saja jam empat, kapan mau mulai pendidikan keagamaannya.
 
Artinya?

Ini namanya melakukan sesuatu yang belum tentu dengan menghilangkan kemapanan yang sudah baik. Tidak boleh itu, kalau istilah NU kan al-akhdzu bil jadidil aslah, mengambil sesuatu yang baik tetapi dengan tidak menghancurkan sesuatu yang sudah baik. Orang itu harus menjaga yang sudah bagus.
 
Boleh melahirkan sesuatu yang lebih bagus. Tetapi membuat sesuatu yang lebih bagus tentu baik tetapi yang sudah baik dihancurkan, itu tidak boleh. Berat ini Kemendikbud.

Senin 12 Juni 2017 9:7 WIB
Membela NU, Melawan Opini Pihak Seberang dengan Komik
Membela NU, Melawan Opini Pihak Seberang dengan Komik
Beragam cara menyampaikan gagasan, termasuk kejengkelan. Aji Prasetyo menuangkannya melalui komik. Ratusan komik yang dibuatnya secara manual ia sebarkan secara gratis di media sosial. Salah satu karyanya adalah “Apa Sih Maunya NU?”

Komik tersebut dibuka dengan percakapan seseorang berpeci dan berpakaian putih, tapi mimik muka melotot dan menghujat. Ia berkata, “Ada apa dengan Banser NU?! Gereja dijaga, tapi pengajian dibubarkan. Ngaku Islam kok gitu.”

Perkataan itu ditanggap seseorang berbaju Jawa yang bahunya tersampir udeng-udeng hitam. Rambutnya gondrong dan berkacamata. Ia menanggapinya dengan muka santai sambil merokok. “Nah, opini macam begini harus dilurusin.”

Menurut pria gondrong itu, saat ini ada yang mengaku atau disebut ulama oleh pengikutnya, tapi perilakunya gemar mengkafirkan orang lain. Ulama tersebut menyebut tsunami Aceh karena warganya selalu bermaksiat. Tahlilan, ziarah, juga menjadi sasaran dia dengan menyebutnya bid’ah dan sesat. “Jangankan terhadap umat lain, sama sesama Muslim aja suka bikin sakit ati,” katanya. 

Sebagai warga NU, kemampuannya dalam membuat komik ia pergunakan untuk membela dan melawan pihak seberang yang doyan membuat opini tanpa tabayun, bahkan menyalahkan, membid’ahkan, sampai mengkafirkan amaliyah warga NU. 

Untuk mengetahui lebih jauh proses kreatif Aji Prasetyo dalam menciptakan komik, Abdullah Alawi dari NU Online mewawancarainya melalui surat elektronik pada Rabu (7/6). Berikut petikannya. 

Komik Apa Sih Maunya NU? ada berapa seri?

Baru satu itu. Saya memang biasa bikin komik pendek-pendek antara 2 sampai 10 halaman untuk menyodorkan opini pada kasus-kasus tertentu.

Asal-mula membuat komik itu? Diminta orang atau bagaimana?

Enggak. Itu kesadaran sendiri. Bermula dari berbagai anggapan sinis terhadap NU. Lantas saat saya ikut harlah Ansor di Kediri tempo hari, saya mencermati pidato Ketua GP Ansor jatim maupun pusat. Dari sana saya tergerak untuk membuat komik itu. Sebagai warga NU dan pengurus Lesbumi, saya rasa ini kewajiban saya untuk turut merespon black campaign pihak-pihak seberang. Jadi, enggak perlu nunggu diminta.

Itu selesai berapa lama pembuatannya?

Dua jam.

Cara menyebarkannya bagaimana? 

Saya cuma pajang di fanpage saja. Terus ada orang-orang yang upload di Line, IG, diformat pdf lantas disebar di WA dan sebagainya.

Reaksi positif dan negatifnya bagaimana?

Rame.

Bagaimana reaksinya?

Apresiasi jelas ada. Kalo teror belum ada. Mungkin mereka enggak punya nyali kalo akan berurusan sama Banser. Sampe ada "komik jawaban"nya segala. Tapi menurut kawan-kawan, jawabannya enggak menggigit. Sekadar ngeles saja.

Target komik dengan tema itu gimana?

Targetnya adalah tersebar seluas mungkin di masyarakat sosmed. Gimana caranya sebanyak mungkin orang baca tanpa harus bayar. Untuk melawan opini pihak seberang yang suka menyudutkan banser dan NU.

Apa akan ada "Apa Sih Maunya NU 2"?

Bisa jadi, jika nanti ada ide baru utk menangkis serangan-serangan lain.

Sejak kapan menciptakan komik?

Mulai eksis sejak 2007 mas. Dulunya saya musisi. Lantas ada "insiden Ramadhan" di tahun 2007.

Insiden apa?

Aji kemudian memberikan sebuah link toko buku yang memuat jawaban dari pertanyaan tersebut.Link itu memuat esainya berjudul: “Meluapkan Kejengkelan Pencitraan Ramadhan dengan Komik” 


Kita sudah terbiasa melihat para tokoh masyarakat melakukan pencitraan di depan publik. Tapi, karena aku dulu bekerja sebagai musisi, aku termasuk orang yang cukup apes karena punya kesempatan melihat keaslian mereka. Aku jadi tahu siapa saja tokoh masyarakat yang hobi nongkrong di hotel mewah, apa merk whisky favorit mereka, bahkan siapa saja yang hobi main perempuan.


Di awal mula aku menerjuni profesi sebagai musisi, pemandangan tadi kunikmati dengan berbagai pemakluman. Tapi setelah perda larangan live music muncul, mendadak aku jadi sangat muak terhadap mereka. Bulan Ramadhan hanya menjadi ajang pencitraan. Bikin perda untuk mengatur moral, razia sana sini, padahal perilaku mereka sendiri ternyata jauh dari standar moral yang mereka terapkan kepada rakyatnya.


Akhirnya kuputuskan untuk meluapkan kejengkelanku lewat coretan komik dan kuupload di sosmed. Lantas lahirlah komik celotehku yang kuberi judul Ramadhan penuh Hikmah (2007) dan Setan Menggugat (2008). Dua komik pendek itu, yang kini telah diterbitkan dalam kompilasi Hidup Itu Indah (2010), kubuat di bulan Ramadhan.
Keduanya menjadi monumen awal mula aku menerjuni dunia komik untuk mengkritik berbagai hal, seperti kutuangkan dalam esai komik kali ini, tepat sepuluh tahun setelah aku memulai karirku sebagai komikus opini. 

Mau konfirmasi, berarti jumlah karya yang telah disebar?

Komik pendek saya sudah ratusan judul mas. Mulai dari 2007 sampai sekarang.

Semuanya diperjual-belikan?

Hampir semua saya upload di sosmed secara gratis. Baru setelah banyak, saya bukukan dan dijual

Cara membuat komik itu bagaimana, dengan alat tulis secara manual atau dengan semacam program di komputer?

Manual.

Jika ditarik ke belakang, keterampilan bikin komik sudah ada basisnya? Misalnya minat, bakat, kemudian digeluti sejak 2007

Sejak kecil saya suka menggambar. Lantas kuliah di IKIP ambil jurusan senirupa, tapi sayangnya DO. 

Apakah dengan komik bisa mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari?

Dengan cara saya? Tidak. Karena saya biasa menggratiskan komik-komik saya, sebagai cara saya menyebarkan propaganda perdamaian. Teman-teman saya sesama komikus banyak yang memakai komik sebagai satu-satu penghasilan dan banyak yang sukses. Terutama yang bekerja sebagai ilustrator komik-komik luar negeri. Makanya saya masih nyambi sebagai musisi dan mengelola kedai kopi.


Kamis 8 Juni 2017 12:1 WIB
Soal Pembubaran HTI, Ini Penjelasan Mahfud MD
Soal Pembubaran HTI, Ini Penjelasan Mahfud MD
Moh. Mahfud MD (foto: detik).
Awal Mei 2017 lalu, Pemerintah RI membubarkan organisasi anti-Pancasila Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Terkait dengan pembubaran ini, masyarakat Indonesia menilai langkah pemerintah sudah tepat karena langsung membubarkan organisasi yang mengancam keutuhan NKRI. Namun menurut sejumlah pihak, pembubaran tersebut tetap harus konstitusional.

Selain itu, kejadian bom bunuh diri di Terminal Bis Trans Jakarta di Kampung Melayu yang terjadi di Bulan Mei juga cukup menguras perhatian Indonesia, terutama masyarakat Jakarta. Masyarakat juga terbelah menyikapi hal ini; ada yang menganggap kejadian itu hanya pengalian isu dan buatan atau setingan saja dan ada yang beranggapan bahwa itu memang benar-benar kelakuan teroris.

Agar masyarakat memiliki pandangan yang lebih jernih terkait dengan HTI dan tindakan kriminal terorisme, Jurnalis NU Online A. Muchlishon Rochmat berkesempatan mewawancarai Guru Besar Hukum Tata Negara yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Kehormatan Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Moh. Mahfud MD yang baru-baru ini juga dilantik menjadi salah seorang Pengarah di Unit Kerja Presiden-Penanaman Ideologi Pancasila (UKP-PIP). Berikut petikan wawancaranya:

Bagaimana Prof Mahfud melihat fenomena HTI? Kenapa baru sekarang HTI “digebuk” ramai-ramai?

Saya kira pemerintah tidak terlambat. Tetapi kalau orang gebuki HTI kan sudah lama. Mempersoalkan HTI itu sudah lama. Tanggal 12, 13, 14 Agustus Tahun 2007, Hasyim Muzadi itu sudah teriak-teriak bahwa HTI itu berbahaya karena tanggal 12-nya itu ada acara Konferensi Hizbut Tahrir Internasional. Ada beberapa kesimpulan dari konferensi tersebut.

Pertama ingin membentuk negara transnasional mulai dari Thailand, seluruh Asia Tenggara sampai ke Australi. Kedua, demokrasi itu haram. Itu kan bertentangan dengan negara kita. Kita menganut negara nasional, bukan transnasional dan kita menghalalkan demokrasi. Sehingga waktu itu Hasyim Muzadi teriak, orang-orang juga sudah memperingatkan. Itu tahun 2007, artinya sepuluh tahun yang lalu.

Tetapi waktu itu kan pemerintah belum bertindak Prof?

Waktu pemerintah tidak mengambil sikap sampai-sampai beberapa tahun setelah itu karena dibiarin, HTI mengadakan pengajian akbar di GBK Senayan. Saya kira lebih dari seratus ribu orang yang hadir. Dan pidato-pidatonya masih ada di youtube, yakni ingin mengganti Negara Indonesia yang berdasar Pancasila. Tidak boleh misalnya pemimpin itu harus dipilih secara demokrasi, harus diserahkan kepada ulama.

Waktu itu saya protes, masa polisi membiarkan itu dan itu disiarkan langsung oleh TVRI lagi, TV pemerintah kan. Saya protes apakah stasiun TV itu mau cari uang iklan dengan mengorbankan prinsip bernegara yang begitu penting.
 
Terkait pembubaran HTI, Bagaimana pandangan Prof?

Memang agak problematik secara yuridis karena pembubaran HTI atau ormas itu kan melalui peringatan terlebih dahulu. Peringatan satu, dua, tiga. Sampai enam kali peringatan. Baru dihentikan bantuannya, kalau tidak ada bantuannya dihentikan kegiatannya. Terus diminta putusan pengadilan agar dicabut badan hukumnya. Itu yuridisnya.

Itu memang sekarang menjadi problem karena instrumen hukum yang ada tidak bisa langsung membubarkan HTI seperti sekarang. Tetapi kalau kembali ke filosofinya, kenapa dulu menggunakan peringatan-peringatan itu kan sebenarnya kegiatan tindakan fisik, bukan tindakan filosofis. Kalau aturan fisik dibuat karena dahulu orang suka melakukan sweeping. Kalau besok sweeping lagi, besok kamu diperingatkan. Melanggar lagi diperingatkan. Itu yang tindakan fisik.

Ternyata HTI langsung masuk ke filosofinya. Tidak melakukan tindakan yang bisa diperingatkan. Itu sudah pernyataan jati diri bahwa dia berjuang untuk mendirikan khilafah. Itu pernyataan yang sangat nyata dan itu disampaikan kemana-mana secara terbuka. 

Apakah pembubaran HTI bertolak dengan demokrasi yang menjamin kebebasan?

Menurut saya, demokrasi itu meniscayakan adanya kebebasan untuk berpendapat. Tetapi ada dua hal yang tidak boleh dilanggar; pertama jangan merusak ideologi NKRI dan yang kedua jangan menyebabkan pemerintahan lumpuh. Kalau pemerintah lumpuh, gerakan apapun akan sangat membahayakan rakyat.

Bolehlah berdemokrasi dan berbicara memperjuangkan keadilan, tetapi kalau memperjuangkan keadilan dengan mengganti dasar negara itu hukum administrasinya bisa dibubarkan. Sementara hukum pidananya bisa saja itu menjadi makar. Tergantung pada sampai sejauh apa langkah-langkah yang dilakukan.

Tetapi mereka menyatakan bahwa HTI tidak anti Pancasila?

Kalau saya, mereka mengucapkan sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang dilakukan. Hizbut Tahrir dan pahamnya secara terbuka di pidato yang didengar jutaan orang itu tidak setuju demokrasi.

Berarti begini, kalau Ismail Yusanto mengatakan HTI itu tidak anti Pancasila berarti HTI sudah bubar sendiri karena dia semula anti Pancasila. Kalau tidak anti Pancasila, bukan HTI lagi. Di samping pernyataan-pernyataan terbuka itu, mereka bergerak kemana-mana dan gerakannya itu nyata. Gerakannya itu menyatakan Indonesia berdasarkan Pancasila itu sudah gagal, oleh karena itu harus diberi alternatif baru, yaitu khilafah.

Lalu saya tanya, khilafah itu dimana ajarannya? Mereka tidak tahu. Khilafah itu kan tidak ada di Al-Qur’an dan Sunnah. Mereka menyebut khilafah-khilafah. Itu kan cipataan manusia. Ciptaan Bani Umayyah, ciptaan Bani Abbasiyah yang semuanya merupakan hasil istinbath terhadap apa yang mereka anggap benar.
 
Pembela HTI mengataka HTI itu ada. Justru dengan mengatakn ada itu menandakan dan menjadi bukti bahwa khilafah itu tidak ada. Sekarang ada Uni Emirat Arab, ada Kesultanan Brunei, ada Republik Libya, Tunisia, Iran, Pakistan. Semua ngaku Islam kok beda-beda, kalau di Al-Qur’an dan As-Sunnah ada pasti tidak beda-beda. Karena Al-Qur’an dan Sunnah tidak mengajarkan, maka bisa ditafsirkan bahwa sistem pemerintahan itu diserahkan kepada masing-masing bangsa. Dan bangsa Indonesia sudah membuat sistem pemerintahannya sendiri. Sistem pemerintahan kalau dibahasa Arabkan kan khilafah. Di Indonesia, khilafah Indonesia namanya.

Kalau ada pejabat negara yang gabung dan mendukung HTI?

Seharusnya tidak boleh kecuali ikut pengajian-pengajiannya. Tetapi kalau ideologinya tidak boleh. Seharusnya mereka dicopot karena sudah tidak sesuai lagi dengan syarat menjadi pejabat, yaitu setia kepada Pancasila dan UUD. Kalau dengan sadar dia mendukung khilafah yang diperjuangakn HTI, berarti dia tidak setia pada Pancasila dan UUD. Kalau ada pejabat kayak gitu, mundur saja.

Kita boleh beda pilihan politik dalam kehidupan sehari-hari, tetapi kalau ada yang merongrong negara dan ingin mengganti Pancasila pemerintah harus tegas dan rakyat harus mendukung pemerintah untuk menindak karena itu berbahaya.

Tapi, banyak adavokat yang siap pasang badang terkait pembubaran HTI?

Ya silahkan saja. Itu kan hak juga. Pasti dia tidak membela ideologinya. Paling dia akan mengatakan HTI itu tidak ingin mengganti Pancasila. Nah, tinggal buktikan. Tetapi kalau tidak ingin mengubah Pancasila, berarti sudah tidak ada HTI nya. Advokat tidak akan berani mengatakan bahwa HTI memang ingin mengganti Pancasila. Advokat itu menyamarkan hal yang sudah jelas. Ditafsir-tafsirkan bahwa HTI tidak anti Pancasila. 

Kalau terorisme, bagaimana Prof menilai?

Semua ulama mengatakan teroris itu sesat dan yang tidak mengatakan sesat kan terorisnya sendiri. Terorisme itu membuat kerusuhan dan membunuh orang secara masal di tempat-tempat umum. Itu dilarang oleh agama apapun. 

Teroris itu apa sih alasannya. Kalau orang mengatasnamakan agama Islam menteror karena merasa tidak mendapatkan keadilan di negeri ini, bukan hanya orang Islam. Semua, masa mau jadi teroris semua. 

Anggapan bahwa teroris itu pejuang Islam karena sudah mati demi memperjuangkan tegaknya Islam?
Itu harus diperangi oleh negara. Teman-temannya sendiri memang menaggap mereka itu pejuang. Kalau seperti itu, ya harus diperangi.

Kalau pelaku bom bunuh diri Prof?

Menurut saya, orang yang sok menteror atas nama agama lalu bunuh diri agar masuk surga itu adalah mereka yang tidak mengerti agama. Dan sama dengan mereka yang genti ingin mengganti Pancasila dengan khilafah. Biasanya mereka baru belajar agama. Kalau diajak berdebat mereka tidak akan pernah menang. 

Beberapa kali kejadian bom bunuh diri dianggap sebagai pengalihan isu atau setting-an. Bagaimana menurut Prof?

Saya ndak tahu kalau itu. Saya ndak akan masuk ke wilayah yang seperti itu karena motif dari sebuah teror itu bisa karena orang yang ingin masuk surga, tetapi ada yang setting-an juga. Itu makanya di dalam ilmu teror ada namanya state terorism. State terorism itu adalah teror yang diciptakan oleh aparat.

Misalnya kamu dipancing untuk melakukan perlawanan. Kamu anak Islam jangan diam saja diperlakukan tidak adil, lawan dong. Sesudah melawan kamu ditangkap yang memancing tadi. Itu bisa untuk membuat orang takut agar tidak melakukan tindakan yang sesungguhnya.

Dulu, komando jihad itu hasil penelitiannya adalah ada orang disuruh memancing orang di Jawa Barat agar melawan kepada pemerintah. Di sana menggumpal, mereka mau berjuang betul. Mereka merasa ini memang benar-benar jihad. Lawan pemerintah itu. Sesudah mereka matanga untuk melawan, yang mancing itu balik ke Jakarta dan menagkapi orang-orang itu. Orang yang tidak tahu menganggap bahwa itu benar-benar jihad demi Islam bukan pancingan.

Lalu bagaimana dengan anggapan yang berbeda terkait bom bunuh diri?

Itu tidak bisa dihindari. Pasti ada yang mendukung apa yang dilakukan oleh polisi dan menganggapnya hebat karena mampu membekuk teroris. Dan yang satunya bilang ini setting-an. Tetapi polisi tidak boleh ragu tekait hal itu. kalau teror ya teror. Mana ada sebuah tindakan polisi yang dianggap benar, selalu disalahkan. Tetapi kalau tidak bertindak, mereka dianggap kecolongan.

Oleh sebab itu, silahkan polisi mengatur sendiri. Kita tidak bisa mengatakan jangan dong itu setting-an. Kita kan tidak tahu juga, tetapi polisi harus tegas. jangan takut dibilang men-setting karena pasti ada yang bilang setting. Tetapi kalau polisi diam, dia disalahkan oleh seluruh negeri kalau ada gejala teror.

Itu aturan-aturan politiknya dan penegakan hukumnya. Moralnya, supaya jangan men-setting. Bahwa dituduh men-setting itu biasa, tetapi melakukan setting.***

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG