::: NU Online memasuki hari lahir ke-14 pada 11 Juli 2017. Semoga tambah berkah! ::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Tantangan Para Dai di Televisi

Sabtu, 17 Juni 2017 11:00 Halaqoh

Bagikan

Tantangan Para Dai di Televisi
KH Cholil Nafis.
Dakwah merupakan salah satu upaya untuk menyebarluaskan Islam. Banyak cara, metode, dan strategi yang digunakan oleh para mubaligh, penceramah, dai, dan ulama di dalam berdakwah untuk menyampaikan kebenaran ajaran Islam kepada umat. Media yang digunakan pun juga begitu variatif. Diantara media yang digunakan untuk berdakwah dan memiliki daya jangkau yang luas di tengah-tengah masyarakat adalah televisi karena hampir setiap rumah pasti memiliki televisi.
  
Di televisi, mereka bisa mendengarkan para dai dan penceramah dengan berbagai macam tema. Apalagi pada saat Bulan Ramadhan, televisi kita penuh dengan konten-konten ceramah keislaman. Program-program di televisi selama Ramadhan pun dikemas dengan membubuhkan atribut-atribut keislaman. Para penceramah pun laris manis pada Bulan Ramadhan.
  
Memang, dakwah dengan televisi memiliki dampak yang begitu efektif, signifikan, dan luas karena memiliki daya jangkau yang begitu luas. Namun demikian, dakwah di televisi tidak lah sesederhana sebagaimana yang kita bayangkan. Ada lika-liku yang melingkupi dakwah di televisi itu sendiri. Terutama saat Bulan Ramadhan tiba, dimana setiap televisi pasti memiliki program ceramah yang dipandu oleh seorang dai atau penceramah.

Lalu, seperti apa serba-serbi dakwah di televisi? Dan mengapa saat Bulan Ramadhan tiba semua stasiun televisi memiliki program yang menampilkan serba-serbi Islam? Untuk menguraikan itu, Jurnalis NU Online Ahmad Muchlishon berkesempatan mewawancari seorang dai yang sering tampil di televisi nasional, KH Muhammad Cholil Nafis.
 
Ia adalah Ketua Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat MUI Pusat dan pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PBNU masa khidmat 2005-2015. Diantara program televisi yang diisinya adalah Damai Indonesiaku yang ditayangkan salah satu stasiun televisi nasional. Berikut wawancaranya:

Saat Ramadhan, semua televisi berbondong-bondong menjadi ‘Islami’. Terkait fenomena itu, bagaimana tanggapan kiai?

Pertama, program televisi itu dibuat sesuai dengan rating karena mereka tidak bisa hidup tanpa sponsor. Dan sponsor itu mengacunya kepada rating.
 
Di Bulan Ramadhan, orang suka menonton acara-acara yang sifatnya berkaitan dengan Ramadhan. Maka mereka menyesuaikan dengan pemirsanya. Kepentingan dengan pemirsanya ini menampilkan ada unsur religinya yang berkaitan dengan Ramadhan itu. Kita ambil aspek positifnya saja. Itu juga memudahkan kita untuk menyampaikan dakwah dan menciptakan suasana lebih terasa Ramadhan. Hal itu tidak kita temukan di negara-negara tetangga seperti Australia dan Singapura yang medianya tidak mendukung itu karena di sana kita minoritas.

Apakah program-program ‘islami’ di televisi tersebut sudah benar-benar mendidik masyarakat atau hanya sekedar mengikuti arus dan mengejar rating saja? 

Kita sedang koordinasi dengan KPI (Komisi Penyiaran Informasi). Insyaallah besok kita publish tentang setengah bulan pemantauan MUI terhadap program-program yang ada saat Ramadhan ini. Jadi ada yang bagus, positif, ilmiah, dan menyentuh kebutuhan publik. Ada juga yang menyampaikan ayatnya tidak benar karena dainya kurang cakap. Ada juga yang tidak proporsional karena banyak guyon dan sebagainya.
 
Kita akan beri penilaian tentang hal itu. Pada akhir Ramadhan kita akan kasih penilaian. Kita akan memberikan penghargaan kepada televisi yang acaranya dianggap bagus. Ada banyak kategori nantinya yang kita buat; kategori ceramah, sinetron, dialog.
 
Dengan memberikan penghargaan tersebut, kita berniat untuk memberikan apresiasi dan mendorong mereka untuk membuat acara yang baik. Sehingga nanti bukan dia yang terbawa rating, tetapi acara yang baik yang bisa mendatangkan rating.

Untuk program yang nilainya di bawah standar, bagaimana menindaklanjuti itu?

Kita akan koordinasi dengan KPI. Kalau itu masih bisa diperbaiki, maka akan dilakukan perbaikan. Tetapi kalau sudah fatal, biasanya kita menggunakan KPI. Karena KPI yang memiliki kewenangan untuk memberikan peringatan, memberi sanksi, dan memberhentikan acara tersebut. 

Perkembangan dakwah di televisi itu seperti apa?

Pertama, ini adalah peluang bagi kita. Dulu orang dakwah itu di televisi itu ada pada retorika yang baik. Pada masa Zainuddin MZ, orang terbawa dan terlena kepada retorika disamping isi. Perkembangan berikutnya adalah bagaimana sentuhan kepada hati. Mungkin banyak dari kita yang galau maka model seperti Aa Gym muncul.
 
Tapi setelah itu, bagaimana kerinduan seseorang akan hal-hal yang bersifat spiritual, ubudiyah. Maka muncullah pola-pola seperti Arifin Ilham, Yusuf Mansur. Pada pola berikutnya adalah yang menghibur atau entertain. Jadi bagaimana dakwah di televisi itu tidak kalah menarik dengan artis, maka muncullah generasi alamarhum Uje dan Zacki Mirza. 

Belakangan ini mulai dari tahun 2015 ke belakang, mulai ada kesadaran masyarakat untuk mengaji benar. Artinya meskipun di televisi dia ingin berguru kepada ustadz yang memang ustadz, bukan hanya ustadz di televisi tetapi di luar televisi. Mereka yang memang benar-benar mendalami agama dan menjawab secara agama. Mereka juga ingin mengaji kepada orang yang memang memberikan gambaran keagamaan. 

Ketika ada seorang ustadz yang menyinggung masalah politik, maka orang kurang suka. Dia ingin apa saja ajaran agamanya, sampaikan saja. Nanti persoalan politik adalah kesimpulan masing-masing. Jadi mereka tidak ingin ustadz masuk atau menyinggung persoalan-persoalan politik yang mengarahkan kepada kelompok politik tertentu.

Kelebihan dakwah dengan televisi?

Pertama, penggunaan frekuensi itu mahal karena orang tidak bisa sekaligus secara bersamaan karena dia harus bergantian dan frekuensi itu terbatas. Sehingga orang-orang yang diberi kesempatan untuk bicara di televisi itu adalah momen yang sangat besar untuk menyampaikan kebaikan. Kedua, dia bisa dengan cepat untuk menyampaikan pesan-pesan keagamaan. 
   
Ada anggapan kalau ustadz di televisi itu adalah ustadz seleb yang hanya pandai beretorika. Bagaimana melihat itu?

Memang sebelumnya seperti itu. Tetapi akhir-akhir ini terutama di program Damai Indonesiaku tidak ada yang seleb. Seperti Habib Ahmad Al Kaff, Habib Nabil, Pak Ahmad Faisal. Di TVRI, ada Pak Kamarudin Dirjen Pendidikan Kemenag, Kiai Wahfiuddin. Jadi memang dicari orang yang terpelajar dalam bidang keagamaan dan mereka bisa membaca fenomena perkembangan yang ada. Mereka memiliki basis keagamaan dan ilmiah. 

Lalu, apa tantangan para dai di televisi?

Pada saat saya masuk media, problem pertama adalah menghadapi kamera. Tidak semua orang yang memiliki kemampuan secara keilmuan bisa mengartikulasikan di depan kamera yang singkat, padat, dan banyak variabel yang harus dikuasai. Jadi dalam waktu lima menit harus bisa menyampaikan dalil, fakta, teori ilmiah. Dan pada saat yang bersamaan kita memberikan humor-humor yang segar, itu tidak mudah.
 
Sebenarnya, dari pihak televisi sudah banyak membuka peluang untuk menjadi dai tetapi kita masih kekurangan sumber daya manusia. Mungkin ada banyak sumber daya tetapi tidak banyak yang mau karena kawatir dianggap riya, harus bergaul dengan artis, dan lainnya.

Kadang-kadang mereka masih menggunakan fiqhul ahkam, artinya dia rigid dengan hukum sedikit-sedikit haram. Padahal saat ini kondisi dakwah kan beda.

Bagaimana mendorong mereka yang memiliki kapasitas tetapi tidak bersedia tampil di televisi karena dianggap riya dan sebagainya itu tadi?
   
Saya pikir kita harus sering mengajak mereka piknik. Bahwa kehidupan di luar itu berbeda dengan yang ada di pesantren-pesantren atau lingkungan keagamaan misalnya. Kita perlu tidak hanya dakwah di masjid. Tidak semua orang siap untuk dakwah di tempat pelacuran, di tempat karaoke, dan di tempat-tempat yang rusak lainnya.

Kesadaran ini harus dibangun dulu, baru setelah itu disiapkan mentalnya. Kadang-kadang kita bisa norak dan kaget kalau tidak siap mental. Bisa-bisa mereka yang baru masuk dunia dai di televisi ikut gaya-gaya artis. Ini butuh karakter yang matang karena kalau tidak matang dia akan terbawa arus dunia artis. 

Terkait dengan dai atau ustadz yang menarget tarif ceramahnya?

Secara pribadi saya tidak pernah mentarif, tetapi yang menanyakan berapa tarif saya banyak. Saya jawab dengan lembut kalau saya tidak meminta tarif. Kalau bagi saya lebih senang ceramah itu sebagai tempat ngaji, bukan sebagai pelengkap dari sebuah kegiatan.
 
Tetapi memang ada teman penceramah yang sepeti itu. Kita tidak bisa ingkari bahwa kehidupan di kota itu menuntut finansial yang lumayan. Kalau mereka tidak ada kerjaan lain dan hanya mengandalkan ceramah, sementara kebutuhan banyak dan apalagi kalau istrinya dua, maka mereka seperti itu.

Saya sering berpesan dan berkoordinasi dengan teman-teman, kalau yang mengundang masjid, pengajian, ya jangan ditarif. Tetapi kalau perusahaan karena untuk syiar dan dianggarkan, sebaiknya saling pengertian antara pihak panitia dan dai nya. Di lapangan, dai juga ada yang dieksploitasi dimana anggaran dari perusahan untuk acara tersebut ratusan juta, tetapi penceramahnya hanya dikasih sejuta.
 
Ada juga teman yang sudah menyetujui untuk hadir di sebuah even, lalu kemudian ia diminta untuk mengisi acara lainnya yang lebih besar maka ia membatalkan yang pertama dan mengambil yang kedua. Tetapi sepanjang yang saya tahu, mayoritas masih takdzim. Tidak semata-mata karena tarif.

Ada dai-dai yang mempermasalahkan masalah-masalah furuiyyah dan membuat gaduh masyarakat, bagaimana itu kiai?

Saya banyak menyelesaikan masalah itu seperti ketika Ustadz Maulana menyampaikan tentang sopir, pilot itu tidak perlu muslim, Syekh Ali Jaber yang menyinggung masalah qurban, Solmed berkenaan dengan tarif, dan lainnya.

Agar saya tugasnya tidak hanya jadi ‘tukang bersih-bersih’, saya sampaikan kepada teman-teman jika menyampaikan masalah-masalah furuiyyah harus cover both side (seimbang) sebagaimana wartawan. Jadi dia harus menerangkan dalil A dan B nya. Misalnya tentang doa qunut saat Salat Subuh, ia harus menjelaskan dalil yang memakai qunut seperti ini. Sementara yang tidak qunut seperti itu. Silahkan dipilih tetapi tidak boleh mencaci yang lain.

Dia boleh menyampaikan itu asalkan tidak menyampaikannya dari satu segmentasi atau firqah dan menyalahkan yang lainnya. Padahal ini masalahnya khilafiyyah. Jadi, hindari pernyataan yang ambigu dan yang menimbulkan salah paham di publik. 

Kalau sudah terjadi dan tidak cover both side bagaimana, kiai? 

Kalau di Damai Indonesiaku, kita diminta untuk menjadi pengawas. Kalau ada protes tentang dai-dai yang menyampaikan khilafiyah dan menyalahkan yang lain, maka mereka akan di-cooling down dan tidak diundang dalam beberapa bulan ke depan. Kalau ke depan dia mau berubah, maka diperbolehkan lagi untuk mengisi.

Kita persilahkan ia menyampaikan pemikirannya, tetapi jangan sampai menimbulkan perdebatan karena nanti kita tidak produktif. Antar pengajian bisa saling bermusuhan, padahal kita ingin memberikan pencerahan dan memberikan perspektif keagamaan dalam menjawab persoalan-persoalan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Tantang dan peluang dakwah ke depan itu seperti apa?

Sekarang, banyak televisi streaming dengan kru yang juga profesional. Mereka menjadi rujukan masyarakat dalam mencari informasi. Ke depan media mainstream itu akan bergeser kepada konten mainstream. Konten-konten tersebut akan di-viralkan dan dilihat banyak orang. Nanti ke depan, konten yang akan menjadi maharaja, bukan mainstream televisi nasional. Bahkan, televisi itu bisa dicurigai karena berafiliasi dengan partai politik tertentu.
 
Sama seperti di media sosial, apabila kontennya bagus maka akan banyak yang membuka. Ke depan, arahnya orang akan lebih cerdas, tidak lagi terbawa oleh simbol-simbol dan predikat. Hal itu nanti juga mempengaruhi pilihan kiai dan ustadz. Kalau dulu orang merujuk kepada kiai putranya kiai besar dan lulusan dari pesantren mana. Seakan-akan kebenaran itu disematkan kepada anaknya kiai besar.

Sekarang, orang bisa menilai dia memang seorang kiai dan anaknya seorang kiai besar, tetapi orang akan lebih tertarik dengan mereka yang mampu mengemas dakwahnya dengan menarik. Orang harus bisa membaca tanda-tanda zaman, kalau tidak maka kita akan tergilas.

Kalau kita mau main di publik, maka kita harus memperhatikan betul konten agar menarik. Orang berdakwah harus memiliki konten yang bagus dan juga bungkus yang bagus. Kemaren, saya mengirim seorang hafidz ke Eropa untuk menjadi imam. Namun karena bacaannya kurang tertata dan bukan seorang qari, maka itu kurang menarik bagi makmum. Itu kalah dengan yang hanya hafal juz tiga puluh tapi bacanya enak karena seorangqari, itu kan sangat menarik bagi makmum.

Ke depan, seorang dai harus menguasai materi dengan mendalam dan juga mampu mengemasnya dengan menarik.