IMG-LOGO
Wawancara

Tantangan Para Dai di Televisi

Sabtu 17 Juni 2017 11:0 WIB
Bagikan:
Tantangan Para Dai di Televisi
KH Cholil Nafis.
Dakwah merupakan salah satu upaya untuk menyebarluaskan Islam. Banyak cara, metode, dan strategi yang digunakan oleh para mubaligh, penceramah, dai, dan ulama di dalam berdakwah untuk menyampaikan kebenaran ajaran Islam kepada umat. Media yang digunakan pun juga begitu variatif. Diantara media yang digunakan untuk berdakwah dan memiliki daya jangkau yang luas di tengah-tengah masyarakat adalah televisi karena hampir setiap rumah pasti memiliki televisi.
  
Di televisi, mereka bisa mendengarkan para dai dan penceramah dengan berbagai macam tema. Apalagi pada saat Bulan Ramadhan, televisi kita penuh dengan konten-konten ceramah keislaman. Program-program di televisi selama Ramadhan pun dikemas dengan membubuhkan atribut-atribut keislaman. Para penceramah pun laris manis pada Bulan Ramadhan.
  
Memang, dakwah dengan televisi memiliki dampak yang begitu efektif, signifikan, dan luas karena memiliki daya jangkau yang begitu luas. Namun demikian, dakwah di televisi tidak lah sesederhana sebagaimana yang kita bayangkan. Ada lika-liku yang melingkupi dakwah di televisi itu sendiri. Terutama saat Bulan Ramadhan tiba, dimana setiap televisi pasti memiliki program ceramah yang dipandu oleh seorang dai atau penceramah.

Lalu, seperti apa serba-serbi dakwah di televisi? Dan mengapa saat Bulan Ramadhan tiba semua stasiun televisi memiliki program yang menampilkan serba-serbi Islam? Untuk menguraikan itu, Jurnalis NU Online Ahmad Muchlishon berkesempatan mewawancari seorang dai yang sering tampil di televisi nasional, KH Muhammad Cholil Nafis.
 
Ia adalah Ketua Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat MUI Pusat dan pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PBNU masa khidmat 2005-2015. Diantara program televisi yang diisinya adalah Damai Indonesiaku yang ditayangkan salah satu stasiun televisi nasional. Berikut wawancaranya:

Saat Ramadhan, semua televisi berbondong-bondong menjadi ‘Islami’. Terkait fenomena itu, bagaimana tanggapan kiai?

Pertama, program televisi itu dibuat sesuai dengan rating karena mereka tidak bisa hidup tanpa sponsor. Dan sponsor itu mengacunya kepada rating.
 
Di Bulan Ramadhan, orang suka menonton acara-acara yang sifatnya berkaitan dengan Ramadhan. Maka mereka menyesuaikan dengan pemirsanya. Kepentingan dengan pemirsanya ini menampilkan ada unsur religinya yang berkaitan dengan Ramadhan itu. Kita ambil aspek positifnya saja. Itu juga memudahkan kita untuk menyampaikan dakwah dan menciptakan suasana lebih terasa Ramadhan. Hal itu tidak kita temukan di negara-negara tetangga seperti Australia dan Singapura yang medianya tidak mendukung itu karena di sana kita minoritas.

Apakah program-program ‘islami’ di televisi tersebut sudah benar-benar mendidik masyarakat atau hanya sekedar mengikuti arus dan mengejar rating saja? 

Kita sedang koordinasi dengan KPI (Komisi Penyiaran Informasi). Insyaallah besok kita publish tentang setengah bulan pemantauan MUI terhadap program-program yang ada saat Ramadhan ini. Jadi ada yang bagus, positif, ilmiah, dan menyentuh kebutuhan publik. Ada juga yang menyampaikan ayatnya tidak benar karena dainya kurang cakap. Ada juga yang tidak proporsional karena banyak guyon dan sebagainya.
 
Kita akan beri penilaian tentang hal itu. Pada akhir Ramadhan kita akan kasih penilaian. Kita akan memberikan penghargaan kepada televisi yang acaranya dianggap bagus. Ada banyak kategori nantinya yang kita buat; kategori ceramah, sinetron, dialog.
 
Dengan memberikan penghargaan tersebut, kita berniat untuk memberikan apresiasi dan mendorong mereka untuk membuat acara yang baik. Sehingga nanti bukan dia yang terbawa rating, tetapi acara yang baik yang bisa mendatangkan rating.

Untuk program yang nilainya di bawah standar, bagaimana menindaklanjuti itu?

Kita akan koordinasi dengan KPI. Kalau itu masih bisa diperbaiki, maka akan dilakukan perbaikan. Tetapi kalau sudah fatal, biasanya kita menggunakan KPI. Karena KPI yang memiliki kewenangan untuk memberikan peringatan, memberi sanksi, dan memberhentikan acara tersebut. 

Perkembangan dakwah di televisi itu seperti apa?

Pertama, ini adalah peluang bagi kita. Dulu orang dakwah itu di televisi itu ada pada retorika yang baik. Pada masa Zainuddin MZ, orang terbawa dan terlena kepada retorika disamping isi. Perkembangan berikutnya adalah bagaimana sentuhan kepada hati. Mungkin banyak dari kita yang galau maka model seperti Aa Gym muncul.
 
Tapi setelah itu, bagaimana kerinduan seseorang akan hal-hal yang bersifat spiritual, ubudiyah. Maka muncullah pola-pola seperti Arifin Ilham, Yusuf Mansur. Pada pola berikutnya adalah yang menghibur atau entertain. Jadi bagaimana dakwah di televisi itu tidak kalah menarik dengan artis, maka muncullah generasi alamarhum Uje dan Zacki Mirza. 

Belakangan ini mulai dari tahun 2015 ke belakang, mulai ada kesadaran masyarakat untuk mengaji benar. Artinya meskipun di televisi dia ingin berguru kepada ustadz yang memang ustadz, bukan hanya ustadz di televisi tetapi di luar televisi. Mereka yang memang benar-benar mendalami agama dan menjawab secara agama. Mereka juga ingin mengaji kepada orang yang memang memberikan gambaran keagamaan. 

Ketika ada seorang ustadz yang menyinggung masalah politik, maka orang kurang suka. Dia ingin apa saja ajaran agamanya, sampaikan saja. Nanti persoalan politik adalah kesimpulan masing-masing. Jadi mereka tidak ingin ustadz masuk atau menyinggung persoalan-persoalan politik yang mengarahkan kepada kelompok politik tertentu.

Kelebihan dakwah dengan televisi?

Pertama, penggunaan frekuensi itu mahal karena orang tidak bisa sekaligus secara bersamaan karena dia harus bergantian dan frekuensi itu terbatas. Sehingga orang-orang yang diberi kesempatan untuk bicara di televisi itu adalah momen yang sangat besar untuk menyampaikan kebaikan. Kedua, dia bisa dengan cepat untuk menyampaikan pesan-pesan keagamaan. 
   
Ada anggapan kalau ustadz di televisi itu adalah ustadz seleb yang hanya pandai beretorika. Bagaimana melihat itu?

Memang sebelumnya seperti itu. Tetapi akhir-akhir ini terutama di program Damai Indonesiaku tidak ada yang seleb. Seperti Habib Ahmad Al Kaff, Habib Nabil, Pak Ahmad Faisal. Di TVRI, ada Pak Kamarudin Dirjen Pendidikan Kemenag, Kiai Wahfiuddin. Jadi memang dicari orang yang terpelajar dalam bidang keagamaan dan mereka bisa membaca fenomena perkembangan yang ada. Mereka memiliki basis keagamaan dan ilmiah. 

Lalu, apa tantangan para dai di televisi?

Pada saat saya masuk media, problem pertama adalah menghadapi kamera. Tidak semua orang yang memiliki kemampuan secara keilmuan bisa mengartikulasikan di depan kamera yang singkat, padat, dan banyak variabel yang harus dikuasai. Jadi dalam waktu lima menit harus bisa menyampaikan dalil, fakta, teori ilmiah. Dan pada saat yang bersamaan kita memberikan humor-humor yang segar, itu tidak mudah.
 
Sebenarnya, dari pihak televisi sudah banyak membuka peluang untuk menjadi dai tetapi kita masih kekurangan sumber daya manusia. Mungkin ada banyak sumber daya tetapi tidak banyak yang mau karena kawatir dianggap riya, harus bergaul dengan artis, dan lainnya.

Kadang-kadang mereka masih menggunakan fiqhul ahkam, artinya dia rigid dengan hukum sedikit-sedikit haram. Padahal saat ini kondisi dakwah kan beda.

Bagaimana mendorong mereka yang memiliki kapasitas tetapi tidak bersedia tampil di televisi karena dianggap riya dan sebagainya itu tadi?
   
Saya pikir kita harus sering mengajak mereka piknik. Bahwa kehidupan di luar itu berbeda dengan yang ada di pesantren-pesantren atau lingkungan keagamaan misalnya. Kita perlu tidak hanya dakwah di masjid. Tidak semua orang siap untuk dakwah di tempat pelacuran, di tempat karaoke, dan di tempat-tempat yang rusak lainnya.

Kesadaran ini harus dibangun dulu, baru setelah itu disiapkan mentalnya. Kadang-kadang kita bisa norak dan kaget kalau tidak siap mental. Bisa-bisa mereka yang baru masuk dunia dai di televisi ikut gaya-gaya artis. Ini butuh karakter yang matang karena kalau tidak matang dia akan terbawa arus dunia artis. 

Terkait dengan dai atau ustadz yang menarget tarif ceramahnya?

Secara pribadi saya tidak pernah mentarif, tetapi yang menanyakan berapa tarif saya banyak. Saya jawab dengan lembut kalau saya tidak meminta tarif. Kalau bagi saya lebih senang ceramah itu sebagai tempat ngaji, bukan sebagai pelengkap dari sebuah kegiatan.
 
Tetapi memang ada teman penceramah yang sepeti itu. Kita tidak bisa ingkari bahwa kehidupan di kota itu menuntut finansial yang lumayan. Kalau mereka tidak ada kerjaan lain dan hanya mengandalkan ceramah, sementara kebutuhan banyak dan apalagi kalau istrinya dua, maka mereka seperti itu.

Saya sering berpesan dan berkoordinasi dengan teman-teman, kalau yang mengundang masjid, pengajian, ya jangan ditarif. Tetapi kalau perusahaan karena untuk syiar dan dianggarkan, sebaiknya saling pengertian antara pihak panitia dan dai nya. Di lapangan, dai juga ada yang dieksploitasi dimana anggaran dari perusahan untuk acara tersebut ratusan juta, tetapi penceramahnya hanya dikasih sejuta.
 
Ada juga teman yang sudah menyetujui untuk hadir di sebuah even, lalu kemudian ia diminta untuk mengisi acara lainnya yang lebih besar maka ia membatalkan yang pertama dan mengambil yang kedua. Tetapi sepanjang yang saya tahu, mayoritas masih takdzim. Tidak semata-mata karena tarif.

Ada dai-dai yang mempermasalahkan masalah-masalah furuiyyah dan membuat gaduh masyarakat, bagaimana itu kiai?

Saya banyak menyelesaikan masalah itu seperti ketika Ustadz Maulana menyampaikan tentang sopir, pilot itu tidak perlu muslim, Syekh Ali Jaber yang menyinggung masalah qurban, Solmed berkenaan dengan tarif, dan lainnya.

Agar saya tugasnya tidak hanya jadi ‘tukang bersih-bersih’, saya sampaikan kepada teman-teman jika menyampaikan masalah-masalah furuiyyah harus cover both side (seimbang) sebagaimana wartawan. Jadi dia harus menerangkan dalil A dan B nya. Misalnya tentang doa qunut saat Salat Subuh, ia harus menjelaskan dalil yang memakai qunut seperti ini. Sementara yang tidak qunut seperti itu. Silahkan dipilih tetapi tidak boleh mencaci yang lain.

Dia boleh menyampaikan itu asalkan tidak menyampaikannya dari satu segmentasi atau firqah dan menyalahkan yang lainnya. Padahal ini masalahnya khilafiyyah. Jadi, hindari pernyataan yang ambigu dan yang menimbulkan salah paham di publik. 

Kalau sudah terjadi dan tidak cover both side bagaimana, kiai? 

Kalau di Damai Indonesiaku, kita diminta untuk menjadi pengawas. Kalau ada protes tentang dai-dai yang menyampaikan khilafiyah dan menyalahkan yang lain, maka mereka akan di-cooling down dan tidak diundang dalam beberapa bulan ke depan. Kalau ke depan dia mau berubah, maka diperbolehkan lagi untuk mengisi.

Kita persilahkan ia menyampaikan pemikirannya, tetapi jangan sampai menimbulkan perdebatan karena nanti kita tidak produktif. Antar pengajian bisa saling bermusuhan, padahal kita ingin memberikan pencerahan dan memberikan perspektif keagamaan dalam menjawab persoalan-persoalan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Tantang dan peluang dakwah ke depan itu seperti apa?

Sekarang, banyak televisi streaming dengan kru yang juga profesional. Mereka menjadi rujukan masyarakat dalam mencari informasi. Ke depan media mainstream itu akan bergeser kepada konten mainstream. Konten-konten tersebut akan di-viralkan dan dilihat banyak orang. Nanti ke depan, konten yang akan menjadi maharaja, bukan mainstream televisi nasional. Bahkan, televisi itu bisa dicurigai karena berafiliasi dengan partai politik tertentu.
 
Sama seperti di media sosial, apabila kontennya bagus maka akan banyak yang membuka. Ke depan, arahnya orang akan lebih cerdas, tidak lagi terbawa oleh simbol-simbol dan predikat. Hal itu nanti juga mempengaruhi pilihan kiai dan ustadz. Kalau dulu orang merujuk kepada kiai putranya kiai besar dan lulusan dari pesantren mana. Seakan-akan kebenaran itu disematkan kepada anaknya kiai besar.

Sekarang, orang bisa menilai dia memang seorang kiai dan anaknya seorang kiai besar, tetapi orang akan lebih tertarik dengan mereka yang mampu mengemas dakwahnya dengan menarik. Orang harus bisa membaca tanda-tanda zaman, kalau tidak maka kita akan tergilas.

Kalau kita mau main di publik, maka kita harus memperhatikan betul konten agar menarik. Orang berdakwah harus memiliki konten yang bagus dan juga bungkus yang bagus. Kemaren, saya mengirim seorang hafidz ke Eropa untuk menjadi imam. Namun karena bacaannya kurang tertata dan bukan seorang qari, maka itu kurang menarik bagi makmum. Itu kalah dengan yang hanya hafal juz tiga puluh tapi bacanya enak karena seorangqari, itu kan sangat menarik bagi makmum.

Ke depan, seorang dai harus menguasai materi dengan mendalam dan juga mampu mengemasnya dengan menarik.

Tags:
Bagikan:
Rabu 14 Juni 2017 3:33 WIB
Siapakah yang Disebut Manusia Qur'ani
Siapakah yang Disebut Manusia Qur'ani
Siapakah yang Disebut Manusia Qur'ani

KH. Muhyiddin Khatib 

Pertanyaan: "Siapakah sebenarnya yang disebut manusia Qur'ani? Apakah orang yang istiqomah membaca Al-Qur'an walau tidak mengerti ma'nanya? Bagaimana jika ada orang suka baca Al-Qur’an  akan tetapi dia sering bersikap dan berprilaku yang melangar isi Al-Qur’an ? Sementara ada seseorang tidak begitu sering membaca Al-Qur’an  akan tetapi dia sentiasa mengamalkan isi Al-Qur’an.

Jawab : Terimkasih anda telah bertanya sesuatu yang amat penting semoga kita diberi kemampuan menjadi manusia Qur'ani lahir batin dan dalam kondisi apapun.

Manusia Qur'ani adalah seseorang yang membaca Al-Qur'an, mengerti ma'nanya dan diberi kemampuan mengamalkannya dalam kehidupan sehari harinya..

(عالما عاملا)

Allah SWT berfirman : 

وإذاقرئ القرأن فاستمعوا له وانصتوا لعلكم ترحمون... 

"Apabila Al-Qur’an  dibacakan maka dengarkanlah dan diamlah kalian agar kalian dapat rahmat".

Allah menggunakana kata kerja mabni maf'ul (قرئ) menunjukkan bahwa perintah itu tidak hanya ditujukan pada orang yang mendengarakan bacaan Al-Qur’an  dari orang lain juga, seseorang yang membaca Al-Qur’an  dan yang mendengarkannya wajib istima' dan inshot (mendengarkan dan diam dalam arti khusyuk). 

Ada terkadang orang yang baca Al-Qur’an  akan tetapi tidak mendengarkan apalagi menyimak isinya, seperti orang yang memaksakan baca Al-Qur’an  akan tetapi hatinya tidak menyatu dengan apa yang dibacanya, membaca Al-Qur’an  sambil lalu melihat dan mendengarkan berita  gosip dan bahkan ikut berghaibah. Sedang Al-Qur’an  dipegang dan dilihatnya, orang yang demikian sama dengan orang yang mencabik-cabik Al-Qur’an  (dhalimun linafsihi), dia baca Al-Qur’an  tapi kerjaannya sering mengadu domba, cerita kejelekan orang lain,  hatinya tidak dikendalikan dari hasad dan dengki, dan beberapa hal lain yang negatif, orang yang sperti ini walau selalu baca Al-Qur’an  akan tetapi hakikatnya menginjak-nginjak Al-Qur’an, naudzu billahi mindzalik.        
                    
Seorang yang mampu mengamalkan isi Al-Qur’an,  walau tidak selalu baca Al-Qur’an  adalah jauh lebih baik dan sempurna daripada membacanya, tapi selalu melanggar isi Al-Qur’an. Bahkan seseorang yang tidak mengerti banyak isi Al-Qur’an  akan tetapi dia mampu mengikuti petunjuk-petunjuk Al-Qur’an,  jauh lebih baik dari orang yang selalu membacanya akan tetapi selalu melanggar apa yang dilarang Al-Qur’an  dan mengabaikan apa yang diperintahkannya.

Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa manusia Qur'ani adalah orang yang mengamalkan isi Al-Qur’an,  sekalipun ia tidak selalu membaca Al-Qur’an. 

Dalam sebuah hadits Aisyah Ummil Mukminin suatu ketika ditanya.

كيف خلق رسول الله صلى الله عليه وسلم؟ قالت.. كان خلقه القرأن.

" Akhlaq Rasulullah SAW adalah Al-Qur’an,"

Dalam sebuah hadits riwayat Imam Bukhori Muslim, dikatakan.

من حمل القرأن واحل حلاله وحرم حرامه دخل الجنة

"Barangsiapa yang membawa ( hafal dan membaca) Al-Qur’an, menghalalkan apa yang dijalankannya dan mengharamkan apa yang diharamkannya maka akan masuk sorga".

Kemudian ada orang yang prilakunya Qur'ani padahal dia tidak faham Al Qur'an, dan bahkan mungkin bisa jadi bukan orang Islam. Perilaku yang begini sungguh merupakan sesuatu yang mulia dari Allah SWT. Di zaman Rasulullah SAW ada seorang perempuan dari Bani Thayyik masuk dalam rangkap orang orang yang ditawan, kemudian perempuan itu menyampaikan kepada Rasulullah SAW,  kalau dia adalah anak si fulan ini dan dia masih kafir. 

Orang tuanya sangat baik akhlaknya, dia murah hati, suka memberi, tidak dendam dan suka membantu orang yang tertindas. Atas kebaikan orang tuanya inilah pada akhirnya Rasulullah melepas anak tersebut karena menghormat atas kebaikan orang tuanya.

والله اعلم بالصواب


* Dosen Ma'had Aly, Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo
Selasa 13 Juni 2017 8:11 WIB
Sekolah Lima Hari, Vakum Dua Hari Mudharatnya Besar
Sekolah Lima Hari, Vakum Dua Hari Mudharatnya Besar
KH Asep Saifuddin Chalim.
Setelah setahun lalu menggulirkan kebijakan Full Day School (FDS) lalu mendapat penolakan dari berbagai kalangan, kali ini Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy membungkus FDS dengan label sekolah lima hiari.

Kebijakan yang kabarnya akan diterapkan pada tahun ajaran baru 2017/2018 ini juga mendapat penolakan dari sejumlah kalangan, tak terkecuali stakeholder pendidikan.
 
Untuk mendapatkan pandangan yang lebih jernih terkait dengan kebijakan sekolah lima hari tersebut, NU Online berkesempatan mewawancarai Ketua UmumPengurus Pusat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PP Pergunu) Dr KH Asep Saifuddin Chalim, Senin (12/6) di Jakarta.

Saat ini Kiai Asep mengelola sejumlah lembaga pendidikan Islam dan umum unggulan berbasis pesantren di bawah Yayasan Amanatul Ummah Pacet, Mojokerto, Jawa Timur. Cabangnya saat ini juga ada di Surabaya. Murid dan santrinya ada yang mukim di pondok dan ada juga yang tidak. Total santri Kiai Asep berkisar 5500 santri belum termasuk yang ada di Surabaya.

Berikut wawancara Fathoni Ahmad dari NU Online dengan KH Asep Saifuddin Chalim yang saat ini juga mengelola Institut KH Abdul Chalim (IKHAC) Mojokerto terkait rencana kebijakan sekolah lima hari.

Bagaimana menurut kiai soal rencana kebijakan sekolah lima hari?

Hari-hari ini jangan menerapkan sekolah lima hari. Anak-anak SMP dan SMA itu belum mampu menguasai diri nanti kalau libur dua hari, itu sangat berbahaya sekali. Kalau memang untuk menghilangkan kelelahan belajar selama lima hari, cukup sehari, karena hari keduanya punya potensi untuk nakal.

Bisa dijelaskan detailnya, kiai?

Ya, anak-anak tidak akan bisa pandai karena ada kevakuman sebab libur dua hari itu, mengangkat kembali untuk memaulai belajar, itu berat sekali kalau tiap minggu vakum semacam ini.
 
Sekarang itu ada HP gadget yang sedang melanda generasi bangsa Indonesia. Gadget itu lebih ganas daripada sabu-sabu. Kalau sabu-sabu menghasilkan khayalan, kalau HP menghasilkan gambar konkret. Sekarang ini banyak anak-anak yang tidak bisa berpisah dengan HP-nya dengan jarak 10 meter. Ini sangat luar biasa, tidak bisa berpisah dengan HP-nya selama 10 menit. 

Kalau seandainya libur sampai dua hari, kemudian hari itu tidak cukup digunakan untuk melepas lelah, tetapi sekaligus setelah lelahnya lepas punya potensi hura-hura lagi. Itu bagaiman dengan keberadaan HP yang sekarang, sementara mereka belum bisa menjadi pengendali terhadap HP itu sendiri.

Bagaimana konsekuensi logis jika kebijakan ini diterapkan?

Kemendikbud mengeluarkan aturan full day school untuk memberi peluang sekolah menarik SPP bulanan. Dengan menarik peluang itu, maka anak-anak mendapatkan biaya yang cukup mahal. Sementara sekolah negeri wali muridnya kan nggak kaya-kaya, kecuali sekolah favorit.

Seperti biaya apa saja, kiai?

Kalau sekolah sampai jam tiga maka perlu makan siang. Makan siang yang efektif dikoordinir sekolah. Ketika dikoordinir sekolah panitianya pasti mengambil fee. Sekolah menariknya akan lebih besar dari selama ini ditolerir.
 
Kalau di Jawa Timur kan ditolerir 250.000. dengan full daya school, maka akan lebih besar untuk membiayai jam-jam oleh guru honorer. Akibatnya akan banyak wali murid yang kesusahan membiayai anak-anaknya.
 
Itu berat sekali, untuk membiayai makan siang, makan siang yang dikoordinir yang nantinya juga ada fee. Kemudian sekolah yang telah mendapatkan perlindungan juga diperkenankan menarik SPP oleh peraturan menteri, itu pasti menarik banyak, karena apa? Untuk membiayai jam-jam tambahan oleh guru-guru tambahan atau pun honorer.

Sejumlah kalangan mengkhawatirkan terbengkalainya Madrasah Diniyah, menurut kiai?

Yang jelas akan mengganggu keberadaan madrasah diniyah di mana anak juga butuh belajar agama. Madrasah diniyah itu kan masuk jam 14.00 sampai jam 16.00. Sekarang kalalu pulang saja jam empat, kapan mau mulai pendidikan keagamaannya.
 
Artinya?

Ini namanya melakukan sesuatu yang belum tentu dengan menghilangkan kemapanan yang sudah baik. Tidak boleh itu, kalau istilah NU kan al-akhdzu bil jadidil aslah, mengambil sesuatu yang baik tetapi dengan tidak menghancurkan sesuatu yang sudah baik. Orang itu harus menjaga yang sudah bagus.
 
Boleh melahirkan sesuatu yang lebih bagus. Tetapi membuat sesuatu yang lebih bagus tentu baik tetapi yang sudah baik dihancurkan, itu tidak boleh. Berat ini Kemendikbud.

Senin 12 Juni 2017 9:7 WIB
Membela NU, Melawan Opini Pihak Seberang dengan Komik
Membela NU, Melawan Opini Pihak Seberang dengan Komik
Beragam cara menyampaikan gagasan, termasuk kejengkelan. Aji Prasetyo menuangkannya melalui komik. Ratusan komik yang dibuatnya secara manual ia sebarkan secara gratis di media sosial. Salah satu karyanya adalah “Apa Sih Maunya NU?”

Komik tersebut dibuka dengan percakapan seseorang berpeci dan berpakaian putih, tapi mimik muka melotot dan menghujat. Ia berkata, “Ada apa dengan Banser NU?! Gereja dijaga, tapi pengajian dibubarkan. Ngaku Islam kok gitu.”

Perkataan itu ditanggap seseorang berbaju Jawa yang bahunya tersampir udeng-udeng hitam. Rambutnya gondrong dan berkacamata. Ia menanggapinya dengan muka santai sambil merokok. “Nah, opini macam begini harus dilurusin.”

Menurut pria gondrong itu, saat ini ada yang mengaku atau disebut ulama oleh pengikutnya, tapi perilakunya gemar mengkafirkan orang lain. Ulama tersebut menyebut tsunami Aceh karena warganya selalu bermaksiat. Tahlilan, ziarah, juga menjadi sasaran dia dengan menyebutnya bid’ah dan sesat. “Jangankan terhadap umat lain, sama sesama Muslim aja suka bikin sakit ati,” katanya. 

Sebagai warga NU, kemampuannya dalam membuat komik ia pergunakan untuk membela dan melawan pihak seberang yang doyan membuat opini tanpa tabayun, bahkan menyalahkan, membid’ahkan, sampai mengkafirkan amaliyah warga NU. 

Untuk mengetahui lebih jauh proses kreatif Aji Prasetyo dalam menciptakan komik, Abdullah Alawi dari NU Online mewawancarainya melalui surat elektronik pada Rabu (7/6). Berikut petikannya. 

Komik Apa Sih Maunya NU? ada berapa seri?

Baru satu itu. Saya memang biasa bikin komik pendek-pendek antara 2 sampai 10 halaman untuk menyodorkan opini pada kasus-kasus tertentu.

Asal-mula membuat komik itu? Diminta orang atau bagaimana?

Enggak. Itu kesadaran sendiri. Bermula dari berbagai anggapan sinis terhadap NU. Lantas saat saya ikut harlah Ansor di Kediri tempo hari, saya mencermati pidato Ketua GP Ansor jatim maupun pusat. Dari sana saya tergerak untuk membuat komik itu. Sebagai warga NU dan pengurus Lesbumi, saya rasa ini kewajiban saya untuk turut merespon black campaign pihak-pihak seberang. Jadi, enggak perlu nunggu diminta.

Itu selesai berapa lama pembuatannya?

Dua jam.

Cara menyebarkannya bagaimana? 

Saya cuma pajang di fanpage saja. Terus ada orang-orang yang upload di Line, IG, diformat pdf lantas disebar di WA dan sebagainya.

Reaksi positif dan negatifnya bagaimana?

Rame.

Bagaimana reaksinya?

Apresiasi jelas ada. Kalo teror belum ada. Mungkin mereka enggak punya nyali kalo akan berurusan sama Banser. Sampe ada "komik jawaban"nya segala. Tapi menurut kawan-kawan, jawabannya enggak menggigit. Sekadar ngeles saja.

Target komik dengan tema itu gimana?

Targetnya adalah tersebar seluas mungkin di masyarakat sosmed. Gimana caranya sebanyak mungkin orang baca tanpa harus bayar. Untuk melawan opini pihak seberang yang suka menyudutkan banser dan NU.

Apa akan ada "Apa Sih Maunya NU 2"?

Bisa jadi, jika nanti ada ide baru utk menangkis serangan-serangan lain.

Sejak kapan menciptakan komik?

Mulai eksis sejak 2007 mas. Dulunya saya musisi. Lantas ada "insiden Ramadhan" di tahun 2007.

Insiden apa?

Aji kemudian memberikan sebuah link toko buku yang memuat jawaban dari pertanyaan tersebut.Link itu memuat esainya berjudul: “Meluapkan Kejengkelan Pencitraan Ramadhan dengan Komik” 


Kita sudah terbiasa melihat para tokoh masyarakat melakukan pencitraan di depan publik. Tapi, karena aku dulu bekerja sebagai musisi, aku termasuk orang yang cukup apes karena punya kesempatan melihat keaslian mereka. Aku jadi tahu siapa saja tokoh masyarakat yang hobi nongkrong di hotel mewah, apa merk whisky favorit mereka, bahkan siapa saja yang hobi main perempuan.


Di awal mula aku menerjuni profesi sebagai musisi, pemandangan tadi kunikmati dengan berbagai pemakluman. Tapi setelah perda larangan live music muncul, mendadak aku jadi sangat muak terhadap mereka. Bulan Ramadhan hanya menjadi ajang pencitraan. Bikin perda untuk mengatur moral, razia sana sini, padahal perilaku mereka sendiri ternyata jauh dari standar moral yang mereka terapkan kepada rakyatnya.


Akhirnya kuputuskan untuk meluapkan kejengkelanku lewat coretan komik dan kuupload di sosmed. Lantas lahirlah komik celotehku yang kuberi judul Ramadhan penuh Hikmah (2007) dan Setan Menggugat (2008). Dua komik pendek itu, yang kini telah diterbitkan dalam kompilasi Hidup Itu Indah (2010), kubuat di bulan Ramadhan.
Keduanya menjadi monumen awal mula aku menerjuni dunia komik untuk mengkritik berbagai hal, seperti kutuangkan dalam esai komik kali ini, tepat sepuluh tahun setelah aku memulai karirku sebagai komikus opini. 

Mau konfirmasi, berarti jumlah karya yang telah disebar?

Komik pendek saya sudah ratusan judul mas. Mulai dari 2007 sampai sekarang.

Semuanya diperjual-belikan?

Hampir semua saya upload di sosmed secara gratis. Baru setelah banyak, saya bukukan dan dijual

Cara membuat komik itu bagaimana, dengan alat tulis secara manual atau dengan semacam program di komputer?

Manual.

Jika ditarik ke belakang, keterampilan bikin komik sudah ada basisnya? Misalnya minat, bakat, kemudian digeluti sejak 2007

Sejak kecil saya suka menggambar. Lantas kuliah di IKIP ambil jurusan senirupa, tapi sayangnya DO. 

Apakah dengan komik bisa mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari?

Dengan cara saya? Tidak. Karena saya biasa menggratiskan komik-komik saya, sebagai cara saya menyebarkan propaganda perdamaian. Teman-teman saya sesama komikus banyak yang memakai komik sebagai satu-satu penghasilan dan banyak yang sukses. Terutama yang bekerja sebagai ilustrator komik-komik luar negeri. Makanya saya masih nyambi sebagai musisi dan mengelola kedai kopi.


IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG