IMG-LOGO
Trending Now:
Opini

Kembali ke Fitrah Khalifah di Muka Bumi

Ahad 25 Juni 2017 15:15 WIB
Bagikan:
Kembali ke Fitrah Khalifah di Muka Bumi

Oleh Rafiuddin D Soaedy

Tanggal 1 Syawal selalu disambut gembira oleh seluruh umat Islam. Setelah sebulan lamanya mereka menahan diri dari hal-hal yang dilarang serta memperbanyak ibadah, tibalah saatnya merayakan hari Idul Fitri.

Idul Fitri, secara harfiah berarti kembali ke awal penciptaan. Dari situ dapat ditarik pemahaman bahwa, pada momen Idul Fitri ini, setiap umat Islam diharapkan bisa kembali ke fithrahnya yang suci. Untuk mendapat kesucian laiknya bayi yang belum terkontaminasi polusi dunia, tentu dosa-dosa harus terhapuskan.

Dosa kepada Allah dapat terhapuskan melalui tobat dan ibadah selama Ramadhan, tetapi dosa kepada sesama manusia tak akan terhapuskan sebelum terjadi pemaafan. Karena itu, dalam tradisi umat Islam di negara-negara Asia Tenggara, Idul Fitri dirayakan dengan halal bihalal, yakni bersilaturrahim satu sama lain untuk bermaaf-maafan. Itulah tradisi Islam yang sangat luhur hasil kreativitas Wali Songo yang tetap bertahan hingga kini di segala penjuru bumi Nusantara.

Bagi umat Islam, siklus Idul Fitri seolah memberi kesempatan mengulang perjalanan hidup sekaligus menjadi semacam pelabuhan bagi hasrat untuk kembali ke fitrah. Hasrat kembali ke fitrah ini berada pada lapis terdalam nurani manusia sebagai konsekuensi dari ikrar primordialnya di hadapan Allah. Dijelaskan dalam Al-Qur’an, ketika cikal bakal manusia masih berada di alam ruh, Allah bertanya, "Bukankah aku ini Tuhanmu?" Manusia menjawab, "Betul, kami bersaksi" (QS al-A’raf: 172).

Peristiwa ikrar dalam proses penciptaan itulah yang kemudian membuat manusia memiliki potensi hanif, yakni sikap cenderung untuk beriman, sikap yang condong pada kebenaran dan keadilan. Sikap


inilah yang menyebabkan Ibrahim tak pernah berhenti menyelidiki fenomena dan hukum-hukum alam untuk mencari causa prima hingga pada akhirnya ia berhasil mengenal Allah. Sikap hanif ini pula yang mendorong Muhammad untuk menyepi ke gua hira hinga mendapat wahyu yang pertama dari Allah. Pendek kata, sikap hanif adalah aktualisasi fitrah manusia sebagai hamba Allah.

Fitrah manusia, selain bertalian dengan ikrar primordialnya, juga terkait dengan desain penciptaannya. Allah mendesain manusia lebih dari sekadar sebagai hamba, karena di dalam diri manusia melekat pula status sebagai khalifah. Sebelum Adam diciptakan menjadi manusia pertama, terlebih dahulu Allah menginformasikan kepada para malaikat bahwa tak lama lagi akan ada khalifah di muka bumi (QS al-Baqarah: 30).

Makna khalifah di muka bumi, menurut Abdullah ibn Abbas, seorang penafsir Al-Qur’an terkemuka periode Sahabat, adalah wakil Allah di dunia. Sebagai wakil Allah, manusia bertanggung jawab untuk mengurus dunia dan segala isinya. Dunia harus dikelola sebaik mungkin untuk keberlangsungan kehidupan seluruh makhluk, terutama umat manusia itu sendiri.

Sebagai khalifah, manusia dibekali akal budi dan hawa nafsu. Akal budi membimbing manusia untuk mendapatkan ilmu pengetahuan dan iman. Capaian ilmu dan iman itulah yang kemudian membuat manusia mampu membedakan baik dan buruk serta benar dan salah, yang pada gilirannya menentukan tingkat kematangan spiritualnya.

Di sisi lain, hawa nafsu mendorong manusia untuk mencari kesenangan-kesenangan duniawi. Karena memiliki hawa nafsu, manusia punya hasrat biologis (biological needs) dan hasrat untuk berkuasa (will to power). Keduanya menawarkan kesenangan yang bersifat sesaat.

Hasrat meraih kesenangan dunia yang dibisikkan hawa nafsu itu dapat melenakan manusia sehingga lupa akan tanggung jawabnya. Karena itu, dalam ajaran Islam, hawa nafsu harus diperangi tetapi tidak untuk dimatikan, melainkan untuk dikendalikan. Pengendalian hawa nafsu dilakukan oleh iman dan ilmu pengetahuan. Iman memberi koridor pada hasrat-hasrat biologis supaya kesenangan ragawi mendapat pembenaran secara spiritual. Sementara ilmu pengetahuan memacu hasrat berkuasa untuk melakukan kreativitas sehingga tidak menghasilkan sesuatu yang destruktif, melainkan menghasilkan peradaban.

Salah satu capaian tertinggi peradaban dalam sejarah umat manusia adalah terciptanya tatanan sosial dalam bentuk negara. Melalui negara, manusia bisa membangun tertib sosial sehingga memudahkan pelaksanaan tugas-tugasnya sebagai khalifah di muka bumi. Pada mulanya negara merupakan organisasi sederhana yang dipimpin seorang raja (atau ratu) dengan kekuasaan yang tidak ada batasnya. Raja yang bertanggung jawab dalam menjalankan kekuasaannya layak mendapat gelar khalifah, sebagaimana Allah menyematkan gelar itu kepada Raja Daud (QS as-Shaad: 26).

Seiring perkembangan ilmu pengetahuan umat manusia, konsep negara kini telah mengenal berbagai bentuk dan memiliki beragam sistem pengelolaan kekuasaan yang tentu dapat memudahkan tugas-tugas kekhalifahan. Dewasa ini, boleh dikata setiap negara telah menerapkan pembagian dan pendelegasian kekuasaan. Itu berarti, tanggung jawab sebagai khalifah tidak lagi terpusat pada satu lokus jabatan tertentu. Setiap jabatan dalam organisasi negara modern memiliki beban tanggung jawab sebesar kekuasaan (kewenangan) yang melekat padanya.

Pada faktanya, tidak mudah menjalankan kekuasaan secara bertanggung jawab. Penyelewengan kekuasaan kerap tak terhindarkan manakala pemangku jabatan dihadapkan pada kepentingan pribadi, kelompok, maupun ideologinya. Kepentingan-kepentingan itu dituruti biasanya karena menjanjikan kesenangan, atau setidaknya mengurangi ancaman, sehingga menyebabkan sang pemangku jabatan lalai akan tanggung jawabnya sebagai khalifah.

Oleh sebab itu, pada momentum Idul Fitri ini, kembali ke fitrah sebaiknya tidak hanya dimaknai sebagai kembali menjadi hamba Allah yang suci, tetapi juga mencakup pengertian kembali menjadi khalifah Allah di muka bumi secara bertanggung jawab. Tekad kembali ke fitrah sebagai khalifah ini perlu diiringi dengan usaha keras untuk meningkatkan iman dan ilmu pengetahuan.

Allah berjanji akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu pengetahuan (QS al-Mujadalah:11). Mereka pantas ditinggikan derajatnya karena memiliki visi dan kompetensi. Hanya orang yang memiliki visi dan kompetensi memadailah yang dapat mengambil peran dan tanggung jawab sebagai khalifah, sehingga derajatnya pun layak ditinggikan sebagaimana ditinggikannya derajat Raja Daud.


Penulis adalah alumnus Pondok Pesantren Nurul Jadid Probolinggo, peminat masalah filsafat dan ketatanegaraan, tinggal di Jakarta.

Tags:
Bagikan:
Ahad 25 Juni 2017 19:5 WIB
Dulag, Ekspresi Urang Sunda di Hari Raya
Dulag, Ekspresi Urang Sunda di Hari Raya
Oleh Abdullah Alawi

Di dalam bahasa Sunda ada istilah baju, sandal, sarung, atau kopiah “dulag”. Benda-benda itu artinya barang bagus atau baru dibeli. Kata “dulag” biasanya dihubungkan dengan pakaian. Jarang atau mungkin juga tidak pernah dikaitkan dengan, misalnya rumah dulag, ponsel dulag, laptop dulag, atau mobil dulag. 

Meski demikian, menurut saya, kata tersebut sangat terbuka untuk dihubungkan dengan benda-benda tersebut pada konteks sekarang. Namun, yang pasti kata tersebut berkaitan erat dengan hari raya Idul Fitri. 

Pada zaman dahulu, pakaian baru dan bagus sepertinya hanya didapatkan ketika menjelang hari raya. Setahun sekali. Semuanya seolah sepakat mendapatkannya selepas bersusah payah menjalani puasa selama sebulan. Sebagai imbalan. Namanya imbalan, tentu saja bukan barang biasa. Harus bagus dan baru. Soal barang tersebut didapat dengan berutang atau menyicil, itu urusan lain. Meski demikian, orang yang tak berpuasa pun turut ingin mendapatkan baju dulag.  

Jika pakaian dulag tak didapatkan, seorang anak akan menangis kepada orang tuanya. Seorang istri akan merengek kepada suaminya. Ada nuansa kesedihan di situ. Kesedihan tersebut diekspresikan pada ringkasan suara dulag “Dag dulugdug dag”. Kata tersebut dipelesetkan “hayang baju teu kabedag” (ingin baju, tapi tak mampu mendapatkannya). 

Apakah dulag? Kata ini berkaitan dengan bedug, dalam KBBI daring disebut beduk. Tapi saya menyesuaikan dengan lidah orang Sunda, bedug. Dulag adalah suara bedug yang dipukul diiringi suara kentongan dengan irama tertentu. Sementara ngadulag, kata kerjanya.  

Berbeda dengan alat musik seperti gitar atau piano, ngadulag tak memiliki aturan tertentu dalam memainkannya. Cara memainkan tidak diperhitungkan, tapi hasil suara atau iramanya. Jika iramanya enak didengar, maka akan dinilai bagus. 

Berbeda pula dengan alat musik lain, ngadulag hanya dilakukan di dua hari raya dan selama bulan puasa. Pada hari raya ngadulag semalam suntuk. Sementara bulan puasa hanya sesekali, biasanya selepas tarawih dan saat membangunkan untuk sahur.  

Pada malam hari raya, ngadulag dilakukan selepas isya sampai subuh. Suara itu mengiringi takbiran. Orang-orang, anak-anak maupun dewasa, kecuali perempuan, berkumpul di masjid. Orang tua biasanya takbiran. Sementara anak muda ngadulag. Kadang diiring pula dengan mercon atau petasan. Masjid menjadi pusat keramaian.

Keramaian itulah kemudian melahirkan peribahasa “jauh ka bedug anggang ka dulag” (jauh dari bedug, jauh dari dari dulag). Peribahasa ini mengsyaratkan suasana yang sepi. Suasana tersebut tak ada keriuhrendahan seperti adanya ngadulag.  

Sejak kapan istilah ngadulag muncul di Sunda? Saya tidak tahu persis. Namun, di buku Dongeng enten ti Pasantren” Karya Rahmatullah Ading Afandie atau biasa disingkat RAF muncul istilah tersebut. Sebagaimana diakui pengarangnya, meski pertama kali diterbitkan tahun 1961, kisah otobiografi tersebut mengangkat latar kisah tahun 1943, awal pendudukan Jepang di Indonesia. Pengarang mengisahkan saat ia menjadi santri. Dulag pun ada beberapa jenis berikut seninya. 

“Demi ngadulag tea di pasantren mah aya senina. Malah nakol kohkol oge aya senina. Da beda atuh, kohkol memeh dur bedug, kohkol munajat jeung saterusna. Kitu deui ngadulag. Kapan aya dulag kuramas, dulag janari, dulag tadarus, dulag malem Lebaran. Beda-beda eta teh. Tara pacorok. Tara aya dulag tadarus malem Lebaran atawa dulag janari dipake tengah poe mun lilikuran.”

“Di pesantren, ngadulag ada seninya. Memukul kentongan juga ada seninya. Ada perbedaan memukul kentongan sebelum memukul bedug waktu shalat, kentongan munajat, dan seterusnya. Dulag pun ada dulag keramas, dulag janari, dulag tadarus, dulag malam lebaran. Semuanya berbeda. Tidak tumpang tindih. Tidak ada dulag tadarus di malam lebaran atawa dulag janari (dini hari) dilakukan di siang hari.”

Hingga kini, meski telah ada pengeras suara, urang Sunda masih melakukan ngadulag di malam lebaran. Tapi sepengetahuan saya, beberapa jenis dulag yang disebutkan pada buku tersebut, sudah jarang ada yang mengetahuinya. 

Lalu, jika bedug kemudian dianggap bid’ah, maka sebagian ekspresi kegembiraan orang Sunda di hari raya akan hilang. Kalaupun orang membid’ahkan tersebut tetap gembira tanpa bedug, tanpa ngadulag di malam lebaran, ia akan kehilangan kekayaan berbahasa. Tak ada lagi istilah baju dulag, sarung dulag atau kopiah dulag. 

Selamat ngadulag, selamat berhari raya.  

Ahad 25 Juni 2017 7:30 WIB
Idul Fitri: Gerbang Kemuliaan dan Kebajikan
Idul Fitri: Gerbang Kemuliaan dan Kebajikan
ilustrasi: ist
Oleh: Muhammad Makhdum
Idul Fitri adalah momen istimewa, terutama bagi kaum muslimin yang telah usai melaksanakan ibadah puasa. Selama kurun waktu usia kita, berbilang Idul Fitri telah kita lalui, termasuk di penghujung bulan Ramadhan tahun ini. Secara harfiah, Idul Fitri bermakna kembali berbuka (ifthar) setelah sebulan berpuasa. Idul Fitri juga sering dimaknai dengan kembali kepada kesucian (fitrah). Karena sesungguhnya, manusia dilahirkan ke dunia dalam keadaan suci, terlepas siapapun yang menjadi ibunya. Sejak lahir manusia telah dibekali Allah SWT dengan sifat hanif (lurus), pengasih, penyayang, pemaaf, dan jauh dari keangkuhan yang mampu mengantarkan manusia baik ke arah kebaikan dan kedamaian. 

Dalam perspektif teologi Islam, kembali kepada fitrah memiliki arti kembali ke asal kesucian, menuju asal eksistensi manusia. Seyyed Hossein Nasr (2003), seorang guru besar teologi dan filsafat Islam di George Washington University, menjelaskan bahwa dengan mencapai fitrah, berarti manusia kembali kepada axis, yakni pusat atau poros eksistensi kemanusiaannya serta menjauhi lingkaran luar yang jauh dari sifat-sifat kemanusiaan itu sendiri. 

Setelah sebulan penuh kita berjuang menahan lapar, dahaga, dan nafsu dunia, maka Idul Fitri ibarat hari pembebasan dan kemenangan dari semua bentuk hawa nafsu yang membelenggu jiwa kita. Itu artinya bahwa kemenangan Idul Fitri yang kita rayakan merupakan simbol gugurnya dosa-dosa yang telah kita lakukan. Segunung dosa itulah yang membuat diri kita terasa kotor di mata manusia dan hina di hadapan Allah SWT. Akan tetapi benarkah bahwa kemenangan batin tersebut telah kita rasakan dalam setiap momen Idul Fitri yang telah kita lalui? 

Sejatinya, kemenangan Idul Fitri baru terjadi manakala jiwa kita telah bersih dari segala sifat dengki, iri hati, sombong, angkuh, termasuk merasa paling benar sendiri. Dengan kata lain, kemenangan yang fitri dapat diraih jika kita telah terhindar dari segala bentuk kegelapan hati. Tanpa kita sadari, sesungguhnya kegelapan hati tersebut telah membuat kita buta dengan penderitaan dan tuli terhadap keluh-kesah sesama sehingga semakin menjauhkan manusia dari keridhaan Allah SWT. 

Seyyed Hossein Nasr menjelaskan bahwa manusia memiliki dua alam, yaitu alam spiritual (lahut), dan alam fisikal (nasut). Gelapnya hati seseorang merupakan indikator bahwa manusia semakin jauh dari axis-nya dan telah gagal mengembangkan unsur-unsur spiritual (lahut) yang suci dalam dirinya sendiri. Kegelapan hati hanya bisa lenyap jika seseorang telah tersentuh dengan cahaya ilahi. Hamba yang telah tercerahkan dengan cahaya Tuhan akan merdeka dari berbagai keterikatan budaya materialistik dan hegemoni kepentingan yang cenderung menyesatkan. 

Hati yang telah tercerahkan layaknya metamorfosis seekor ulat yang menjijikkan menjadi kupu-kupu yang cantik dan mempesonakan. Untuk mendapatkan pencerahan tersebut, seekor ulat harus melakukan ritual “puasa” di dalam kepompong yang sempit pada kurun waktu yang cukup lama. Begitu masanya tiba, ulat tersebut akan bertransformasi menjadi kupu-kupu, sehingga yang tampak hanyalah keindahan dan kelembutan yang mampu menyejukkan mata dan hati setiap orang yang memandangnya. 

Lalu, seberapa banyak manusia yang telah beruntung mengalami transformasi menuju kemuliaan? Yang pasti, selama manusia itu menjalankan puasa dengan penuh keimanan dan hanya mengharap keridhaan Tuhan, maka akan mengalami kondisi yang demikian. Melalui puasa, semua kotoran yang membutakan nurani kemanusiaan akan tersucikan sehingga kaca hati akan kembali bening berkilauan. Manusia dengan derajat tersebut akan selalu mengundang kecintaan dan menjadi sumber kedamaian bagi siapa saja yang berada di sekelilingnya. 

Meskipun demikian, selagi kita masih dalam kategori manusia awam, maka tidak ada jaminan bahwa pencerahan yang telah kita peroleh akan berlangsung selamanya. Dalam titik tertentu, manusia bisa kembali tergoda oleh perbuatan dosa dan pelampiasan syahwat duniawi. Hal tersebut terjadi tidak lain karena manusia masih dikuasai oleh unsur-unsur lahiriahnya (nasut) yang berupa hawa nafsu dan dorongan syahwat belaka. Akan tetapi bahwa setidak-tidaknya orang yang pernah tercerahkan akan lebih terkendali hawa nafsunya sehingga menjadi lebih santun dan penyabar. 

Ambisi pribadi maupun kelompok barangkali juga masih tetap ada, hanya saja akan menjadi lebih jinak dan tidak terlalu vulgar untuk ditunjukkan di muka umum sehingga seolah buta dan tuli terhadap kepentingan orang lain. Itulah mengapa Ramadhan berlangsung setiap tahun, tidak lain agar manusia mendapatkan momentum untuk terus bersiklus dalam mengasah unsur lahut-nya, sehingga dapat meningkatkan derajat kemuliannya setahap demi setahap selama kurun waktu hidupnya.

Dengan demikian Idul, Fitri lebih tepat diartikan sebagai titik kulminasi (axis) dalam pencarian jati diri seseorang akan sifat-sifat kemanusiaannya yang sejati. Artinya, Idul Fitri justru bukan merupakan akhir dari masa berpuasa. Idul Fitri semestinya harus kita jadikan sebagai pintu gerbang menuju kehidupan bermasyarakat yang lebih santun dan beretika. 

Marilah kita rayakan Idul Fitri ini sebagai momentum untuk memperbaiki kualitas hubungan kemanusiaan, menghindarkan segala bentuk konflik kepentingan yang mengarah pada rapuhnya hubungan sosial kemasyarakatan. Bahkan sangat mungkin karena imbas puasa Ramadhan dan pemahaman yang utuh mengenai Idul Fitri mampu membawa kita untuk saling berlomba memberikan manfaat sebesar-besarnya kepada orang lain, bukan malah memanfaatkan orang lain untuk kepentingan diri pribadi atau kelompoknya sendiri. 

Selamat Idul Fitri, Taqabalallahu minna wa minkum. Mohon Maaf Lahir dan Batin.

Penulis adalah ketua PAC GP Ansor Kecamatan Widang Kabupaten Tuban
Ahad 25 Juni 2017 4:31 WIB
Memaknai Sebenar-benarnya Hakikat Idul Fitri
Memaknai Sebenar-benarnya Hakikat Idul Fitri
Ilustrasi: ketupat lebaran.
Oleh Fathoni Ahmad

Bangsa Indonesia tidak hanya memaknai Idul Fitri atau Lebaran sebagai hari raya maupun hari kemenangan saja, tetapi juga memaknainya sebagai bentuk penguatan silaturrahim di antara keluarga, tetangga, dan masyarakat dengan saling memaafkan dari lubuk hati yang paling dalam. Tradisi maaf-memaafkan ini tidak lepas dari makna Idul Fitri itu sendiri. Kelapangan dada dalam makna ini turut mewarnai Idul Fitri sehingga masyarakat Indonesia menyebutnya Lebaran (asal kata lebar, artinya lapang).

Tradisi saling berkunjung dan bersilaturrahim ini bahkan tidak terdapat pada umat Islam di negara lain. Setelah menunaikan sholat Idul Fitri, mereka langsung beranjak ke rumah masing-masing dan hanya merayakannya dengan keluarga. Berbeda dengan Indonesia yang mampu menciptakan harmonisasi kehidupan untuk memaknai Idul Fitri sebagai hari kemenangan dan kembali suci bersama masyarakat banyak.
 
Alasan kuatnya menyambung silaturrahim di momen Idul Fitri inilah yang turut menciptakan tradisi mudik atau pulang kampung menjelang lebaran tiba. Berkumpul bersama keluarga, saudara, dan handai taulan di kampung kelahiran. Bahkan yang belum sempat pulang kampung menjelang lebaran karena tidak mendapatkan tiket mudik maupun masih harus bertugas di kota, mereka melakukannya pasca lebaran.

Berbagai kuliner dan makan khas juga dikreasikan masyarakat muslim Indonesia untuk menyambut datangnya hari raya Idul Fitri. Opor ayam, kupat (ketupat), kue lepat, dan makanan-makanan khas lainnya. Makanan khas tersebut juga bukan hanya sebatas makanan, tetapi mempunyai filosofi dan makna yang sangat dalam.
 
Seperti kupat yang mempunyai kepanjangan ngaku lepat. Bahasa Jawa tersebut mempunyai arti mengaku salah. Mengakui segenap kekhilafan, dosa, dan kesalahan merupakan hakikat kembali pada kesucian sesuai esensi Idul Fitri. Sebab itu, meminta maaf dan memberi maaf harus menjadi kesadaran bersama untuk memaknai hakikat Idul Fitri dalam arti yang sebenar-benarnya.

Dalam genggaman umat Islam di Indonesia, salah satu hari besar dalam Islam ini menyatukan berbagai unsur, yakni nilai-nilai agama, penguatan identitas bangsa, penumbuhan tradisi dan budaya positif melalui silaturrahim, serta peneguhan cinta tanah air yang diejawantahkan melalui tradisi mudik atau pulang kampung.
 
Dengan kata lain, muara dari hari kemenangan ini selain meningkatkan kesalehan transedental, juga menguatkan kesalehan sosial sebagai tujuan utama manusia dalam beragama. Kesalehan sosial ini akan membentuk keterbukaan pola pikir, keluasan pandangan, tenggang rasa, dan toleransi terhadap seluruh umat manusia, apapun suku, etnis, budaya, ras, dan agamanya.

Beragama yang benar

Pada bagian ini, penulis ingin mengungkapkan keterangan Muhammad Quraish Shihab dalam buku anggitannya Membumikan Al-Qur’an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat (Mizan, 1999). Mufasir kenamaan asal Indonesia ini memberikan penjelasan substantif mengenai hakikat Idul Fitri dengan bahasa yang lugas dan membumi.

Megurai arti Idul Fitri, Quraish Shihab mengartikan bahwa Id berarti kembali dan fithr dapat diartikan agama yang benar atau kesucian atau asal kejadian. Kalau umat Islam memahaminya sebagai agama yang benar, maka hal itu menuntut keserasian hubungan karena keserasian tersebut merupakan tanda keberagaman yang benar.
 
Dalam hal ini, Nabi Muhammad SAW bersabda, Al-Din Al-Muamalah. Nasihat menasihati dan tenggang rasa juga termasuk ajaran agama karena Nabi SAW juga bersabda, Al-Din Al-Nashihah. Dengan demikian, setiap yang ber-Idul Fitri harus sadar bahwa setiap orang dapat melakukan kesalahan; dan dari kesadarannya itu ia bersedia untuk memberi dan menerima maaf.

Fithrah berarti kesucian. Ini dapat dipahami dan dirasakan maknanya pada saat seorang hamba duduk merenung sendirian. Ketika pikiran mulai tenang, kesibukan hidup atau haru hati telah dapat teratasi, akan terdengar suara nurani yang mengajaknya berdialog, mendekat bahkan menyatu dengan suatu totalitas wujud Yang Maha Mutlak, yang mengantarnya untuk menyadari betapa lemahnya manusia di hadapan-Nya, dan betapa kuasa dan perkasanya Yang Maha Agung itu.

Suara yang didengar itu adalah suara fithrah manusia, suara kesucian. Setiap orang memiliki fithrah itu, terbawa serta olehnya sejak kelahiran, walaupun sering terabaikan karena kesibukan dan dosa-dosa sehingga suaranya begitu lemah hanya sayup-sayup terdengar. Suara itulah yang dikumandangkan pada Idul Fithri, yakni Allahu Akbar, Allahu Akbar

Jika kalimat pengagungan Allah itu tertancap dalam jiwa, maka akan hilanglah segala ketergantungan kepada unsur-unsur lain selain Allah semata. Tiada tempat bergantung, tiada tempat menitipkan harapan, tiada tempat mengabdi, kecuali kepada-Nya. Ketika hal itu terjadi pada seseorang, terjadilah apa yang seperti dilukiskan oleh ulama kenamaan Ibnu Sina dalam Al-Isyarat wa Tanbihat (Disadur dari Abdul Halim Mahmud, Al-Tafkir Al-Falsafiy fi Al-Islam, Dar Al-Kutub Al-Lubnaniy, 1982) sebagai berikut:

Orang tersebut menjadi arif, yang bebas dari ikatan raganya. Dalam dirinya terdapat ikatan yang tersembunyi, namun pada dirinya sendiri tampak sebagai sesuatu yang nyata. Ia selalu gembira, banyak senyum. Betapa tidak, sejak ia mengenal-Nya, hatinya dipenuhi oleh kegembiraan. Dengan melihat Yang Maha Suci, semua dianggapnya sama, karena memang semua makhluk Allah. Semua wajar mendapatkan Rahmat, baik yang taat maupun yang bergelimang dosa. Ia tidak akan mengintip-intip kelemahan orang, tidak pula mencari kesalahannya. Ia tidak akan marah, tidak pula tersinggung, walaupun melihat yang mungkar sekalipun, karena jiwanya selalu diliputi Rahmat dan kasih sayang, dan karena ia memandang keindahan, ia melihat sir Allah (rahasia Allah) terbentang ke dalam qudrat-Nya. Bila ia mengajak kepada kebaikan, ia akan melakukannya dengan lemah lembut, tidak dengan kekerasan, tidak pula dengan kecaman, kritikan yang melukai atau ejekan. Ia akan selalu menjadi pemaaf. Betapa tidak, sedang di dadanya sedemekian lapang, sehingga tidak ada tempat bagi kesalahan orang lain. Ia tidak akan menjadi pendendam. Bagaimana ia mampu mendendam, sedang seluruh ingatannya hanya tertuju kepada Yang Maha Suci lagi Maha Agung itu.

Terkait dengan kesucian, menurut Quraish Shihab kesucian adalah gabungan tiga unsur, yaitu benar, baik dan indah. Sehingga seseorang yang ber-Idul Fitri dalam arti kembali ke kesuciannya akan selalu berbuat yang indah, benar, dan baik. Bahkan lewat kesucian jiwanya itu, ia akan memandang segalanya dengan pandangan positif. Ia selalu mencari sisi-sisi yag baik, benar, indah. Mencari yang indah melahirkan seni, mencari yang baik menimbulkan etika, dan mencari yang benar menghasilkan ilmu.

Dengan pandangan yang demikian, ia akan menutup mata terhadap kesalahan, kejelakan, dan keburukan orang lain. Kalaupun itu terlihat, selalu dicarinya nilai-nilai positif dalam sikap negatif tersebut. Dan kalau pun itu tak ditemukannya, ia akan memberinya maaf bahkan berbuat baik kepada yang melakukan kesalahan. Selamat berlebaran!
 
Penulis adalah Pengajar di Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Jakarta.

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG