IMG-LOGO
Daerah

NU Care Bantul Beri Bantuan Pengobatan dan Sembako Lansia

Selasa 27 Juni 2017 11:5 WIB
Bagikan:
NU Care Bantul Beri Bantuan Pengobatan dan Sembako Lansia
Bantul, NU Online
NU Care LAZISNU Kabupaten Bantul melakukan silaturahmi ke sejumlah titik di Kabupaten Bantul, Senin (26/6). Dalam kegiatan yang bekerja sama dengan Griya Bimbel Nurus Yogyakarta, NU Care LAZISNU Bantul juga menyerahkan paket sembako dan dana kesehatan, serta pendataan warga Nahdliyin.

Direktur Griya Bimbel Nurus Fenny Nursulistyarini mengatakan, pendataan dilakukan dengan melihat langsung kondisi para penerimanya, guna memeriksa kelayakan pihak penerima bantuan paket sembako agar tepat pada sasaran.

Sementara Direktur NU Care Bantul Rustam Nawawi menyebutkan, pendataan dilakukan di Jokerten RT 06 Timbulharjo, Sewon.

“Selain mendata, kami juga memberikan paket sembako kepada lansia yang sedang sakit tua, Mbah Pujo. Beliau memag sudah sepuh (tua), ada gangguan pada pendengaran dan ingatan. Sehari-harinya hanya di tempat pembaringan,” kata Direktur NU Care Bantul Rustam Nawawi.

Sementara bantuan dana kesehatan pengobatan diberikan kepada Naila Faiza Az-Zahra yang ukuran kepalanya semakin membesar karena menderita hydrocephalus.

“Naila adalah putri dari pasangan Dedi Jamaluddin dan Siti Purwati, aktivis IPPNU Bantul dan Korps Dakwah Mahasiswa STIQ An-Nur, Bantul,” tambahnya.

Sebelumnya, NU Care Kabupaten Bantul memberikan bantuan berupa seekor kambing berikut dua anaknya kepada Widodo, warga Samen Sumbermulyo Bambanglipuro Bantul.

“Pemberian modal usaha berupa kambing ini agar dapat berkembang biak, dan kelak kalau sudah berhasil dapat ditularkan ke warga masyarakat lainnya yang membutuhkan,” terang Rustam.

Selain itu, selama Ramadhan lalu, NU Care Bantul juga memberikan santunan kepada anak yatim piatu dan dhuafa. Pihaknya menyampaikan terima kasih kepada para donatur atas kepercayaannya kepada NU Care Bantul.

Untuk memperluas jangkauan donatur, NU Care Bantul telah menyediakan GOZAK, yakni layanan pembayaran zakat, infak dan sedekah melalui NU Care Bantul, di mana petugas yang mendatangi donatur. Masyarakat yang berminat dapat menghubungi melalui nomor telepon 0857-2999-0013. (Kendi Setiawan/Alhafiz K)
Bagikan:
Selasa 27 Juni 2017 13:4 WIB
Rekonsiliasi Pilkada DKI Jakarta Melalui Idul Fitri
Rekonsiliasi Pilkada DKI Jakarta Melalui Idul Fitri
Jember, NU Online
Perbedaan politik, pilihan, dan cara pandang dalam menyikapi sesuatu, seharusnya melebur saat Idul Fitri tiba. Sebab, dalam Idul Fitri ada pesan rekonsiliasi (islah). Hal ini ditegaskan Katib Syuriyah PCNU Jember Ustadz MN Harisudin saat menjadi khatib dalam shalat Idul Fitri di Masjid Nurul Hadi, kompleks Perkantoran Perhutani, Jember, Ahad (25/6).

Menurutnya,  Idul Fitri menjadi media yang sangat penting untuk menjalin kembali benang yang kusut dan tali yang telah lepas antarpersonal dan komunitas. Hubungan yang terkoyak karena perbedaan cara pandang dan sikap pada ghalibnya selesai dengan cara rekonsiliasi ketika Idul Fitri.

"Karena di dalam rekonsiliasi terdapat bangunan sikap saling memaafkan antarsesama," kata Harisudin.

Dewan Pakar  Masjid Indonesia Kabupaten Jember ini menambahkan, rekonsiliasi  adalah ekspresi keteladanan yang terpancar dalam perilaku Nabi Muhammad SAW. Hal ini bisa dilihat saat beliau memenangi perang di Mekah. Para kafir Quraisy yang dulu memusuhi dan memerangi langsung dikatakan antum thulaqa (kalian orang yang merdeka).

Padahal seperti diketahui, mereka adalah orong-orang yang sangat membenci, mencaci maki, bahkan berupaya membunuh Rasulullah. "Karena sifat Rasulullah tergambar dalam ayat wal afinan anin nas. (Ali Imron ayat 134). Artinya, pemberi maaf kepada manusia. Tokoh agung, Rasulullah SAW bukan tipe manusia pendendam terhadap sesama," lanjutnya.

Selain memberi pesan rokonsiliasi, Idul Fitri juga mengajarkan manusia untuk tidak bergaya hidup konsumtif. Dewasa ini, lanjut Ustadz Harisudin, konsumerisme cenderung menjadi gaya hidup masyarakat modern. Ini terjadi karena secara faktual ditopang oleh kehadiran materialisme dan hedonisme. Jika materialisme adalah aliran yang memuja benda dan berfokus pada benda, maka hedonisme adalah sebentuk gaya hidup yang menyandarkan kebahagiaan pada kenikmatan belaka.

Hal ini tercermin dalam takaran makan orang yang tiba-tiba dua kali lipat atau bisa jadi lebih daripada hari biasa di malam hari Ramadhan, lalu "balas dendam" terhadap penderitaan puasa di siang hari Ramadhan. Juga, gemerlap hidup manusia yang secara umum mengukur kesuksesan dengan gelimang materi yaitu rumah mewah, mobil banyak, baju mewah, dan kemewahan-kemewahan konsumtif lainnya.

"Oleh karena itu, puasa Ramadhan mempunyai tujuan besar yaitu mengendalikan nafsu konsumerisme secara berlebihan. Mereka yang menang di hari yang fitri bukan mereka yang bergelimang barang konsumsi, melainkan mereka yang bertambah ketaatan dan ketakwaan kepada Tuhan," ungkapnya. (Aryudi A Razaq/Alhafiz K)

Selasa 27 Juni 2017 12:2 WIB
Idul Fitri, Momentum Silaturahmi Nasional Pascapilkada DKI Jakarta
Idul Fitri, Momentum Silaturahmi Nasional Pascapilkada DKI Jakarta
Banyumas, NU Online
Idul Fitri 1438 H alangkah baiknya digunakan sebagai ajang silaturahmi nasional untuk saling bermaafan sesama anak bangsa dan sesama manusia. Hal itu disampaikan KH Habib Mahfud ketika ditemui di kediamaanya di kompleks Pondok Pesantren Miftahul Huda Pesawahan Rawalo Banyumas, Selasa (27/6).

"Karena gelaran politik (Pilkada DKI) kemarin, seolah-olah kita menjadi bangsa yang terpecah pecah, tersekat-sekat, karena hanya beda pilihan atau beda pendapat sedikit saja. Idul Fitri tahun ini alangkah baiknya kita gunakan sebagi ajang saling silaturahmi, saling memaafkan dan saling berjabat tangan lagi," lanjutnya.

Idul Fitri juga merupakan budaya yang penting bagi bangsa Indonesia karena bisa menjadi pengingat bahwa kita ini berbeda tapi satu, kita berbeda tapi bisa disatukan.

"Kita ini sebenarnya bineka, tapi sepertinya sekarang kita lupa bahwa kita bineka. Ingat bangsa Indonesia itu bineka tunggal ika," tegas Rektor Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran Miftahul Huda itu.

Mudik juga bukan hanya berarti sebatas kembali ke kampung halaman. Mudik juga bisa diartikan lebih luas lagi, yaitu kembali ke fitrah manusia, kembali ke fitrah bangsa Indonesia, dan kembali ke sejarahnya.

"Makna mudik yang tepat sekarang adalah kita kembali menjadi bangsa Indonesia yang sebenar-benarnya, yang berbineka, yang hubbul wathan," kata kiai muda yang aktif di GP Ansor itu.

Pluralitas, lanjut KH Habib Mahfud, bukan suatu yang dibuat-buat, tapi merupakan nikmat yang harus disyukuri, supaya bisa lita'aruf.

"Kalau sudah seperti itu, ingsa Allah kita telah menjadi manusia yang saleh secara ritual dan sosial," pangkas Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda Rawalo ini. (Kifayatul Akhyar/Alhafiz K)
Selasa 27 Juni 2017 9:0 WIB
Habib Muhammad Minta Jamaah Perkuat Pengamalan Pancasila
Habib Muhammad Minta Jamaah Perkuat Pengamalan Pancasila
Banyumas, NU Online 
Umat Islam, khususnya jamaah Nahdlatul Ulama diimbau untuk memperkuat pengamalan Pancasila dalam kehidupan beragama, berbangsa, dan bernegara. Karena, Pancasila beserta pilar kebangsaan dan kenegaraan Indonesia sesuai dengan ajaran Islam rahmat seluruh alam.

Hal itu disampaikan Habib Muhammad Al-Habsyi pada khutbah Idul Fitri di Masjid Jami' At Taqwa, Desa Kranggan, Kecamatan Pekuncen. Di masjid perbatasan Banyumas-Brebes itu, Habib Muhammad mengingatkan Pancasila telah sesuai dengan ajaran Islam yang tertera dalam Al-Qur’an dan Hadist hingga 'urf (adat kebiasaan yang baik) warga masyarakat.

"Lima sila itu telah sesuai denga berbagai ayat di dalam Qur'an. Misalkan sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa yang sesuai dengan surat Al-Ikhlas. Bagaimana Islam menyuruh manusia berbuat adil dan kebajikan itu sesuai dengan kemanusiaan yang adil dan beradab," jelasnya.

Selain itu dalam sila ketiga, Persatuan Indonesia, umat Islam telah menyadari bahwa manusia diciptakan berbangsa, bersuku dan berbagai latar belakang lainnya untuk saling mengenal dan bersaudara. Sementara itu dalam Islam juga telah menyuruh manusia untuk senantiasa memelihara musyawarah dan sesuai dengan sila keempat hingga umat Islam didorong untuk saling membantu saudaranya yang lain agar tercipta keadilan sosial.

"Dengan mengamalkan Pancasila itu sama dengan mengamalkan nilai-nilai keagamaan sebagaimana disepakati para ulama. Makanya, NKRI sudah final dan harus terus dijaga bersama dari berbagai nilai dan gerakan yang merongrongnya," jelas Ketua Majelis Wakil Cabang NU Pekuncen tersebut.

Habib Muhammad mendorong warga Banyumas untuk semakin waspada dan semakin gencar untuk merapatkan barisan untuk menangkal berbagai paham dan gerakan yang bisa mengancam NKRI dan persatuan umat Islam. Momen Idul Fitri diharapkan jadi semangat baru warga Islam khususnya Nahdliyin untuk memerangi gerakan radikal, narkoba hingga penyimpangan sosial agama lainnya.

"Banyumas masuk rangking ketiga Narkoba di Jawa Tengah. Ini harus menjadi perhatian kita bersama. Peredaran miraspun masih ada makanya kita harus bisa bersikap dan carilah rezeki yang halal, baik dan berkah meski sedikit," jelas dia yang menyinggung masih adanya peredaran tuak di sejumlah wilayah Banyumas.(Susanto/Abdullah Alawi)


IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG