IMG-LOGO
Tokoh

KH Zainal Abidin, Pendiri Pesantren Tertua di Blora

Jumat 30 Juni 2017 20:7 WIB
Bagikan:
KH Zainal Abidin, Pendiri Pesantren Tertua di Blora
Setiap tanggal 13 Rabiul Awwal, kompleks Pondok Pesantren Mambaul Huda Desa Talokwohmojo Kecamatan Ngawen Kabupaten Blora dipadati ribuan jamaah. Pasalnya, hari itu merupakan puncak peringatan haul KH Zainal Abidin. Almarhum dikenal sebagai pendiri Mambaul Huda, pondok pesantren tertua di Kabupaten Blora Jawa Tengah. 

KH Zainal Abidin adalah putra bungsu Longko Pati, tokoh agama asal Nganguk Pati yang kemudian hijrah ke Blora. Di tempat baru, tepatnya di Desa Banjarwaru Kecamatan Ngawen, Zainal Abidin dilahirkan. 

Pada zamannya, sosok KH Zainal Abidin tampak menonjol dalam hal pengetahuan agama. Tak pelak, tokoh dari Desa Talokwohmojo tertarik untuk menikahkan putrinya Nyai Kaminah dengan pemuda Zainal. 

Selanjutnya, sang mertua mewakafkan sebidang tanah untuk keperluan syiar Islam. Maka, pada 1900 dibangunlah sebuah 'langgar' alias musala kecil untuk pengajian Alquran dan kitab kuning oleh KH Zainal Abidin. Selain itu, sejak 1908 Almarhum KH Zainal Abidin juga dikenal sebagai mursyid Tarekat Naqsabandiyah Kholidiyah. Sanad tarekat diperolehnya dari KH Ahmad Rowobayan Padangan Bojonegoro.  

"Sejak saat itu beliau resmi mendapat izin mengajar dan membaiat santri-santri tarekat," ujar K Munir, salah satu cucu almarhum.

KH Zainal Abidin tercatat dua kali menikah. Dari istri pertama Nyai Kaminah, almarhum dikaruniai delapan orang anak. Sedangkan dari istri kedua Nyai Ruqayah, beliau dikaruniai lima orang anak. 

Almaghfurlah KH Zainal Abidin wafat pada 1922, dikebumikan di lingkungan pesantren Talokwohmojo. Sepeninggal almarhum, kepengasuhan pesantren dilanjutkan oleh KHA Hasan dari tahun 1922 hingga 1942. 

Sepeninggal Kiai Hasan tahun 1942, estafeta kepemimpinan pesantren dilanjutkan oleh KH Ismail. Sebelum mengurus pesantren, kiai yang merupakan murid kinasih KH Kholil Kasingan Rembang ini sempat berguru kepada Syekh Hasyim Asyari di Tebuireng. 

Semasa kepemimpinan KH Ismail (1942-1956), pesantren Mambaul Huda mengalami perkembangan cukup pesat. Santri dari luar daerah mulai berdatangan. 

Sepeninggal KH Ismail, pengasuh pesantren dilanjutkan oleh KH Nachrowi. Sejak saat itu, pengasuh santri syariat dan santri tarekat mulai dipisahkan. KH Nachrowi mengasuh santri tarekat, sedangkan santri syariat dipercayakan pada KH Abbas bin Zainal Abidin. 

KH Abbas meninggal dunia pada 1976. Sepuluh tahun kemudian KH Nachrowi menyusul menghadap Sang Ilahi. KH Nachrowi mengasuh pesantren selama 34 tahun, yakni dari tahyn 1965 hingga 1980.

Konon nama Mambaul Huda muncul di masa duet kepemimpin KH Nachrowi dan KH Abbas. Sepeninggal KH Nachrowi, pengasuh santri tarekat berturut-turut dilanjutkan oleh KH Musthofa Nachrowi dan KH Labib bin Musthofa.

Adapun urutan pengasuh santri syariat setelah KH Ismail adalah KH Abbas bin Zainal Abidin. "Saat ini diteruskan oleh KH Ali Ridlo dan KH Idrus," ujar K Munir, Sekretaris Desa Talokwohmojo.

Markas Perjuangan
Di masa silam, Pesantren Mambaul Huda adalah salah satu tempat berhimpunnya ulama dan pejuang. Saat pemberontakan PKI tahun 1948, misalnya, Mambaul Huda menjadi tempat bernaungnya rakyat maupun pejabat. 

Betapa tidak? Akhir September 1948 Blora dikuasai PKI Muso yang hendak membentuk pemerintahan baru. Bahkan, Bupati Blora dan sejumlah tokoh pun menjadi korban kebiadaban PKI saat itu. 

Semasa agresi Belanda II tahun 1949 Mambaul Huda menjadi markas pertahanan tentara dan para sukarelawan pejuang. (Akhmad Saefudin, penulis Buku 17 Ulama Banyumas)

Tags:
Bagikan:
Jumat 30 Juni 2017 12:1 WIB
Prof. Soenarjo, Menteri Dalam Negeri dari NU
Prof. Soenarjo, Menteri Dalam Negeri dari NU
Prof. Mr. R.H. A. Soenarjo, selanjutnya Mr. Narjo adalah Menteri Dalam Negeri dari NU pada zaman Orde Lama, penyelenggara pemilu pertama di Indonesia 1955. Ia juga salah seorang tokoh pembangun Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, dan IAIN-IAIN lainnya yang pada perkembangannya menjadi Universitas Islam Negeri (UIN). 

Mr. Narjo adalah putra dari seorang penghulu pada zaman penjajahan Belanda bernama Raden Iman Nasiruddin Imamdipuro. Sebagaimana ayahnya, kakek Mr. Narjo, Zaenal Mustopo, juga adalah seorang penghulu. Zaenal Mustopo dikenal sebagai seorang dermawan. Dari kekayaannya, ia membangu sebuah masjid besar di tengah-tengah kota Sragen. 

Mr. Narjo lahir 15 Mei 1908 di Sragen. Pada masa kecilnya, ia menempuh pendidikan di sekolah umum milik Belanda. Setamat di sekolah itu, ia melanjutkan ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO, setingkat SMP) di Surakarta. Kemudian masuk ke Algemeene Middelbare School (AMS, setingkat SMA) jurusan bahasa-bahasa timur yang juga di Surakarta. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan ke Rechts Hooge School (RHS, Sekolah Tinggi Hukum). Ia tamat pada perguruan itu pada tahun 1941.

Pengetahuan agama ia dapatkan dengan mengaji sehabis maghrib kepada ayahnya sendiri. Mengaji dijalaninya selama tinggal bersama orang tuanya di Sragen. Kepada ayahnya ia khatam belajar membaca Al-Qur’an. Kemudian ketika di Surakarta, ia mengaji di Pesantren Manba’ul Ulum, Jamsaren, untuk beberapa waktu. Pelajaran ilmu agama ia dapatkan juga dari K.R.T.P. Tapsiranom di Pengulon Solo. 

Ketika di Jakarta, meski ia tidak belajar ilmu agama secara khusus, ia sering bergaul dengan tokoh-tokoh agama. Di samping itu, ia sering membaca buku-buku agama. Buku yang banyak dibacanya adalah Tafsir Al-Quran dalam bahasa Belanda. 

Mr. Narjo memulai karirnya dengan bekerja sebagai pegawai Kantor Pusat Statistik Jakarta. Namun tampaknya nasib telah menentukannya menjadi salah seorang pionir di Departemen Agama, karena tak lama kemudian, ia diangkat menjadi Panitera di Mahkamah Islam Tinggi, wilayah Jawa dan Madura. Jabatannya kemudian diganti Moh. Djunaidi pada tahun 1948.

Sebetulnya sejak proklamasi kemerdekaan, Mr. Narjo tidak aktif mengemban jabatan itu karena ia bersama Prof. Dr. A Rasjidi dan KH Fathurrohman Kafrawi diberi tugas mengatur struktur Departemen Agama. Kemudian ia menjadi sekretaris jenderal departemen tersebut pada Menteri KH Masykur dari NU. 

Setelah masa perang berlalu, Pemerintahan RI kembali ke Jakarta (sempat dipindahkan ke Yogyakarta), ia diangkat Menteri Agama KH Wahid Hasyim menjadi Sekretaris Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri. Wahid Hasyim menugaskannya untuk membentuk PTAIN dalam kedudukannya sebagai Pejabat Tinggi Departemen Agama. 

Di samping jabatannya pejabat tinggi Departemen Agama, ia juga memberikan kuliah pada mahasiswa. Mata kuliah yang dipegangnya adalah “Asas-asas Hukum Tatanegara” dan “Asas-asas Hukum Perdata”. 

Kemudian Mr. Narjo kemudian terjun ke area politik melalui Partai NU. Ia menjadi menteri mewakili NU dalam beberapa kabinet. Ia tercatat menjadi Menteri Dalam Negeri mengganti Prof. Hazirin mulai 19 November 1954 pada Kabinet Ali Sastroamidjojo I dari Partai Nasional Indonesia. Dalam Kabinet Burhanuddin Haraharap dari Masyumi ia menduduki jabatan yang sama dan tetap mewakili NU (12 Agustus 1995 sampai dengan 24 Maret 1956). Tapi ia mundur bersama seluruh menteri dari NU pada 19 Januari 1956.

Dalam kabinet Ali Sastroamidjojo II dari Partai Nasional Indonesia, ia mengemban jabatan yang sama mewakili NU sejak 9 Januari 1957. Sampai kabinet jatuh, ia merangkap jabatan Menteri Kehakiman ad interim.  Pada Kabinet Djuanda (Kabinet Karya) menjabat Menteri Agraria. Pada kabinet yang sama, pada tahun 1958, ia menjabat Menteri Agama ad interim.

Ia juga pernah menjadi anggota Konstituante pada tahun 1956 sampai dengan 1959 mewakili Partai NU. Jabatan lembaga legislatif ini diperolehnya lagi ketika ia menjadi anggota DPR-GR pada tahun 1960 sampai dengan 1968 mewakili Golongan (cendekiawan). Ia menjadi anggota DPR/MPR pada tahun 1978 sampai dengan 1982 dari Partai Persatuan Pembangunan. 

Dari hasil perkawinannya dengan Hj. Umi Salamah (menikah tahun 1952), Mr. Narjo dikaruniai empat putra dan empat putri. Seluruh putra dan putrinya berhasil lulus dari Perguruan Tinggi. Tapi ia menekankan supaya anak-anaknya merasakan belajar ilmu agama sebagaimana dirinya. KH Anwar Musyadad, ajengan asal Garut, Jawa Barat, yang pernah jadi Wakil Rais Aam PBNU mengajar anak-anaknya dalam ilmu agama. 

Mr. Narjo meninggal pada tahun 1996 Bethesda Yogyakarta karena serangan stroke. Ia dimakamkan di Sragen di samping pusara istrinya. (Abdullah Alawi , disarikan dari: Machasin, Lima Tokoh IAIN Sunan Kalijaga: Prof. Mr. R.H.A. Soenarjo)
 
Kamis 8 Juni 2017 10:5 WIB
Ajengan Tubagus Bakri Merespon Gerakan Wahabisme
Ajengan Tubagus Bakri Merespon Gerakan Wahabisme
Bagaimana Mama Sempur merespon gerakan Wahhabisme dari Nejd? Sebagai ajengan yang hidup di Jawa Barat, beliau menulis buku dalam bahasa Sunda sebagai panduan untuk menghadapi gerakan politik yang menggunakan baju agama tersebut. Mama Sempur ataua Ajengan Tubagus Ahmad Bakri bin Tubagus Seda, demikian nama lengkapnya, menulis buku “Îdhâh al-Karâthaniyyah fî Mâ Yata’allaq bi Dhalâlâh al-Wahhâbiyyah”.

“Îdhâh al-Karâthaniyyah” ditulis oleh pengarangnya untuk merespon gerakan Wahhabisme yang berhaluan puritan, yang pada mulanya muncul di Nejd, semenanjung Arabia (kini Saudi Arabia) di bawah prakarsa Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhâb al-Najdî dan mulai berkembang di Nusantara sejak awal abad ke-20 M. Kemunculan gerakan ini menuai banyak respon dari ulama-ulama besar dunia Islam, termasuk ulama-ulama Nusantara.

Selain “Îdhâh al-Karâthaniyyah” yang ditulis oleh Ajengan Sempur Purwakarta, terdapat kitab-kitab lain yang ditulis oleh ulama Nusantara lainnya untuk merespon gerakan Wahhabisme, seperti “al-Nushûsh al-Islâmiyyah fî al-Radd ‘alâ al-Wahhâbiyyah” karangan KH. Faqih Abdul Jabbar Maskumambang (Gresik, Jawa Timur), “al-Kawâkib al-Lammâ’ah fî Bayân ‘Aqîdah Ahl al-Sunnah wa al-Jamâ’ah” karangan KH. Abdul Fadhol Senori (Tuban, Jawa Timur), “Hujjah Ahl al-Sunnah wa al-Jamâ’ah” karangan KH. Ali Maksum Krapyak (Yogyakarta), “al-Fatâwâ al-‘Aliyyah” karangan Tuanku Khatib Muhammad Ali Padang, dan lain-lain.

Kitab “Îdhâh al-Karâthaniyyah” sendiri ditulis dalam bahasa Sunda beraksara Arab (di Sunda dikenal dengan istilah Remyak atau Pegon). Tebal kitab 47 halaman dalam format cetak batu. Tak ada titimangsa yang menjelaskan tarikh penulisan kitab ini.

Sampul dan halaman pertama kitab Îdhâh al-Karâthaniyyah fî Mâ Yata’allaq bi Dhalâlâh al-Wahhâbiyyah. Dalam menulis karya ini, Ajengan Sempur merujuk kepada kitab-kitab berbahasa Arab yang ditulis oleh para ulama Makkah, seperti “al-Durar al-Saniyyah fî al-Radd ‘alâ al-Wahhâbiyyah” karangan Sayyid Ahmad Zainî Dahlân al-Makkî, mufti madzhab Syafi’i di Makkah yang juga guru dari para ulama Nusantara pada masanya, juga kitab “al-Shawâ’iq al-Muhriqah” karangan Syaikh Ibn Hajar al-Haitamî al-Makkî. Ajengan Sempur menulis:

سئنيا2نا دجرو كتاب ائى منغ نوقيل تنا كتاب درر السنية في الرد على الوهابية كراغن شيخ العلماء سيد أحمد دحلان أنو جادي مفتى شافعي بهل جغ تنا كتاب صواعق المحرقة كراغن ابن حجر الهيتمي جع تنا ليان

(Saenya-enyana di jero kitab ieu meunang nukil tina kitab Durar al-Saniyyah fî al-Radd ‘alâ al-Wahhâbiyyah karangan Syaikhul Ulama Sayyid Ahmad Dahlan anu jadi mufti Syafi’i baheula, jeung tina kitab Shawâ’iq al-Muhriqah karangan Ibnu Hajar al-Haitamî jeung tina liyana/ Sesungguhnya di dalam kitab ini dapat menukil dari kitab Durar al-Saniyyah fî al-Radd ‘alâ al-Wahhâbiyyah karangan Syaikhul Ulama Sayyid Ahmad Dahlan yang menjadi mufti Syafi’i dulu, juga dari kitab Shawâ’iq al-Muhriqah karangan Ibnu Hajar al-Haitamî, juga dari kitab-kitab lainnya).

Kitab ini dibagi ke dalam delapan pasal. Pasal pertama mengkaji hadits yang menerangkan kemunculan seseorang dari Nejd yang kelak membuat fitnah besar di Semenanjung Arabia. pasal kedua menerangkan dalil-dalil Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) dalam perkara ziarah Nabi. Pasal ketiga menerangkan sosok Muhammad ibn Abdul Wahhab dari Nejd, Muhammad Abduh dari Mesir, dan para pengikutnya di Nusantara. Pasal keempat menerangkan tentang perkara tawassul. Pasal kelima menerangkan tentang keharusan umat Muslim mengambil ilmu dari para ulama yang rabbani yang menjadi “sawad a’zham” atau jumhur, yang kapasitas keilmuannya jelas, juga memiliki sanad, bukan kepada sembarang ulama. Pasal ketujuh menerangkan hadits yang melarang bersuhbat dengan pihak yang membenci para sahabat dan anak cucu Rasulullah, dan anjuran untuk senantiasa mengikuti ajaran para ulama salafus shalih. Pasal kedelapan menerangkan tentang sosok Ahmad Surkati al-Sudani, seorang Sudan yang menjadi pendiri gerakan al-Irsyad yang berhaluan modernis di Indonesia pada tahun 1914 M.

Tentang pengarang sosok ini, yaitu Ajengan Sempur, beliau bernama lengkap Tubagus Ahmad Bakri bin Tubagus Seda bin Tubagus Hasan Arsyad yang berasal dari Pandeglang, Banten. Kakeknya, yaitu Tubagus Hasan Arsyad, adalah qadi dan ulama sentral di Kesultanan Banten pada zamannya.

Ajengan Sempur pernah belajar kepada Syaikhona Kholil Bangkalan, Sayyid Utsman Betawi, Kiyai Soleh Cirebon, Kiyai Soleh Darat Semarang, Kiyai Ma’shum Lasem, Kiyai Syathibi Gentur, dan ulama-ulama besar Nusantara lainnya. Beliau lalu pergi ke Makkah dan belajar di sana selama beberapa tahun. Di antara guru-guru beliau di Makkah adalah Syaikh Raden Mukhtar Natanagara (Syaikh Mukhtâr ‘Athârid al-Bûghûrî al-Makkî), Syaikh Mahfuzh al-Tarmasî al-Makkî, Syaikh Muhammad Marzûqî al-Bantanî al-Makkî, Syaikh ‘Alî ibn Husain al-Mâlikî al-Makkî, Syaikh ‘Alî Kamâl al-Hanafî al-Makkî, Syaikh Shâlih Bâ-Fadhal al-Hadhramî al-Makkî, Syaikh ‘Abd al-Karîm al-Dâgastânî al-Makkî, dan lain-lain.

Selain ““Îdhâh al-Karâthaniyyah”, Ajengan Sempur juga menulis beberapa karya lainnya yang kebanyakan ditulis dalam bahasa Sunda beraksara Arab, yaitu; (1) “Maslak al-Abrâr”, (2) “Futûhât al-Taubah”, (3) “Fawâid al-Mubtadî”, (4) “al-Mashlahah al-Islâmiyyah fî al-Ahkâm al-Tauhîdiyyah”, (5) “Ishlâh al-Balîd fî Tarjamah al-Qaul al-Mufîd”, (6) “al-Risâlah al-Waladiyyah”, (7) “Maslak al-Hâl fî Bayân Kasb al-Halâl”, (8) “Tanbîh al-Ikhwân”, (9) “al-Râihah al-Wardiyyah”, (10) “Tanbîh al-Muftarrîn”, (11) “Nashîhah al-‘Awwâm”, (12) “Risâlah al-Mushlihât”, (13) “Tabshirah al-Ikhwân”, dan lain-lain. (Ahmad Ginanjar Sya’ban)

Ahad 14 Mei 2017 10:0 WIB
Mbah Liem Pencetus ‘NKRI Harga Mati, Pancasila Jaya’
Mbah Liem Pencetus ‘NKRI Harga Mati, Pancasila Jaya’
KH Muslim Rifai Imampuro (Mbah Liem).
KH Muslim Rifai Imampuro atau yang akrab dipanggil Mbah Liem tergolong kiai yang bersahaja, nyentrik, sering berpenampilan nyleneh, misal dalam menghadiri beberapa acara. Saat memyampaikan pidatonya di muka umum sering berpakaian ala tentara, memakai topi berdasi bersepatu tentara tapi sarungan.

Bahkan pada saat prosesi upacara pemakaman Mbah Liem pun juga tergolong tidak seperti umumnya, saat jenazah dipikul dari rumah duka menuju makam di Joglo Perdamaian Umat Manusia sedunia di komplek pesantren diarak dengan tabuhan hadroh “sholawat Thola’al Badrun alainaa” proses pemakamanya seperti Tentara menggunakan tembakan salto yang dipimpin langsung oleh TNI/Polri hal ini dilaksanakan sesuai wasiatnya.

Mbah Liem seolah menutupi indentitasnya bahkan hingga kini putra-purtinya tidak mengetahui persis tanggal lahirnya. Salah satu putra Mbah Liem yang bernama Gus Muh mengatakan Mbah Liem lahir pada tanggal 24 April 1924 namun begitu Gus Muh sendiri belum begitu yakin. Soal identitas Mbah Liem hanya sering mengatakan kalau beliau dulu adalah bertugas sebagai Penjaga Rel kereta Api. Tentang silsilah pada akhir akhir hayatnya menurut informasi dari Gus Jazuli putra menantunya bahwa Mbah Lim pernah menulis di kertas bahwa ia masih keturunan keraton Surakarta. 

Kiprah Mbah Liem di NU dan untuk NKRI belum banyak orang yang tahu apalagi mendokumentasikannya, hanya setelah beliau wafat sudah mulai ada yang menulis artikel atau cerita-cerita mengenai Mbah Liem di web/blog dan di medsos. Mbah Liem dikenal sangat dekat dengan Gus Dur bahkan jauh sebelum Gus Dur menjadi presiden kedua kiai ini sudah saling akrab. 

Banyak orang mengatakan bahwa Mbah Liem adalah Guru spiritualnya Gus Dur. Dalam struktur NU baik mulai tingkat bawah hingga pengurus besar nama Mbah Lim tidak pernah tercatat sebagai pengurus namun kiprahnya dalam menjaga dan membesarkan NU tidak absen sedikitpun. Mbah Liem walaupun tidak pernah menjadi pengurus NU namun selalu mejadi rujukan para kiai dalam menahkodai NU, bahkan Mbah Liem hampir pasti selalu hadir  dalam setiap acara-acara PBNU mulai dari Konbes, Munas hingga Muktamar NU.

Setelah berkelana nyantri ke berbagai pondok pesantren terutama nyantri pada kiai Shirot Solo, Mbah Liem akhirnya hijrah ke Klaten tinggal di dusun Sumberejo Desa Troso Kecamatan Karanganom lalu mendirikan Pondok Pesantren Al-Muttaqien Pancasila Sakti. Nama pesantrren tergolong unik dan sudah pasti merupakan bukti konsistensi Mbah Liem dalam mencintai dan menjaga NKRI dan Pancasila. 

Pada kurun tahun 1983 kelompok Islam radikal atau bisa disebut islam transnasional mulai mempersoalkan lagi Pancasila sebagai dasar negara dan mempertanyakan lagi relevansi Pancasila dengan Islam. Gagasan kelompok radikal yang mulai menyoal lagi Pancasila dipandang oleh para kiai NU sangat membahayakan keutuhan NKRI dan Pancasila maka NU segera menyikapi dengan mengadakan Munas Alim Ulama Nahdlatul Ulama di Sukorejo, Situbondo Jawa Timur dengan hasil sebagai berikut:

1. Pancasila sebagai dasar dan falsafah Negara Republik Indonesia bukanlah agama, tidak dapat menggantikan Agama dan tidak dapat dipergunakan untuk menggantikan kedudukan Agama.

2. Sila ketuhanan Yang Maha Esa sebagai dasar Negara Republik Indonesia menurut pasal 29 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945, yang menjiwai sila sila yang lain, mencerminkan tauhid menurutpengertian keimanan dalam Islam.

3. Bagi Nahdlatul Ulama, Islam adalah akidah dan syariat, meliputi aspek hubungan manusia dengan Allah dan hubungan antar manusia.

4. Penermaan dan pengalaman pancasila merupakan perwujudan dari upaya umat ilsam Indonesia untuk menjalankan syariat agamannya.

5. Sebagai konsekuensi dari sikap di atas Nahdlatul Ulama berkewajiban mengamankan pegertian yang benar tentang Pancasila dan pengamalannya yang murni dan konsekuen oleh semua pihak.

Semenjak Pancasila sebagai dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia mulai dipersoalkan oleh kelompok radikal maka para kiai terutama Mbah Liem dalam setiap acara apapun terus mengatakan dan mendoakan agar NKRI Pancasila Aman Makmur Damai HARGA MATI. 

Mbah Liem kalau berpidato selalu judul utamanya adalah tentang kebangsaan dan kenegaraan, kurang lebih kalimatnya “mugo-mugo NKRI Pancasila Aman Makmur Damai Harga Mati” (Semoga NKRI Pancasila Aman Makmur Damai Harga Mati).

Di masjid Pondoknya Mbah Liem setiap setelah iqomat sebelum sholat berjama’ah selalu diwajibkan membaca do’a untuk umat islam, bangsa dan negara Indonesia, berikut Doanya:

Subhanaka Allahumma wabihamdika tabaroka ismuka wa ta’ala jadduka laa ilaha Ghoiruka.

“Duh Gusti Alloh Pangeran kulo, kulo sedoyo mbenjang akhir dewoso dadosno lare ingkang sholeh, maslahah, manfaat dunyo akherat bekti wong tuo, agomo, bongso maedahe tonggo biso nggowo becik ing deso, soho NEGORO KESATUAN REPUBLIK INDONESIA PANCASILA KAPARINGAN AMAN, MAKMUR, DAMAI. Poro pengacau agomo lan poro koruptor kaparingono sadar-sadar, Sumberejo wangi berkah ma’muman Mekah.”

Menurut kesaksian Habib Luthfi bin Yahya dalam buku Fragmen Sejarah NU karya Abdul Mun’im DZ mengatakan, pada saat Panglima TNI Jenderal Benny Moerdani datang ke Pesantren Al-Muttaqien Pancasila Sakti Klaten, Mbah Liem meneriakkan yel, NKRI Harga Mati...! NKRI Harga Mati...! NKRI Harga Mati...! Pancasila Jaya, maka sejak itulah yel-yel NKRI Harga Mati menjadi jargon, slogan tidak hanya di NU tapi di beberapa pihak seperti di TNI. Jadi slogan atau jargon “NKRI Harga Mati, Pancasila Jaya” dicetuskan oleh KH Muslim Rifai Imampuro atau Mbah Liem.

Ali Mahbub, Wakil Ketua PW GP Ansor Jawa Tengah.
    

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG