::: NU Online memasuki hari lahir ke-14 pada 11 Juli 2017. Semoga tambah berkah! ::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Belajar dari 100 Kisah Inspiratif

Sabtu, 08 Juli 2017 09:30 Pustaka

Bagikan

Belajar dari 100 Kisah Inspiratif
Ada yang mengatakan bahwa kisah merupakan cermin bagi hidup seseorang. Sebuah kisah akan menyajikan berbagai hal yang sudah terjadi di masa lampau. Ada banyak kisah perjalanan hidup seseorang yang diabadikan, baik itu kisah sedih, susah, bahagia, senang, dan lain sebagainya, sehingga dengan adanya kisah tersebut kita bisa mengambil pelajaran atau ibrah untuk kebaikan kehidupan kita pada saat ini. Layaknya sebuah cermin, kisah akan membantu kita untuk menampilkan atau memperlihatkan konsekuensi yang akan kita terima sebab adanya suatu sikap atau keputusan yang kita ambil.

Dari berbagai kisah yang ada, baik yang tertulis maupun yang tidak, itu merupakan cerminan bagi kehidupan kita saat ini. Dalam Al-Qur’an misalnya, Allah telah memastikan untuk mengabadikan jasad Firaun di dunia, agar orang-orang yang hidup setelahnya bisa mengambil pelajaran dari kisah perjalanan hidup sang raja zalim tersebut, sehingga mereka tahu bahwa jika berbuat kejahatan di muka bumi maka hasilnya akan seperti ini, dan begitu pun sebaliknya.

Ada beberapa kisah yang diabadikan dalam Al-Qur’an, kisah orang-orang yang baik dan ada juga kisah orang-orang jahat yang berujung pada sebuah penyesalan, hal ini menandakan bahwa sebuah kisah amatlah penting sebagai bahan koreksi diri. Selain dalam Al-Qur’an, hadits-hadits Nabi juga banyak menampilkan berbagai macam kisah yang dialami oleh Nabi sendiri ataupun para sahabatnya. Bisa dikatakan bahwa hadits itu sendiri merupakan kisah agung yang sangat patut untuk kita ketahui dan pelajari.

Dalam buku Setan Pun Hafal Ayat Kursi disajikan lebih dari 100 kisah yang dituturkan oleh Rasulullah, para sahabat, dan orang bijak, yang dihimpun dari hadits, kitab-kitab karya ulama klasik, dan sebagian dikutip dari manuskrip (makhtuthat) yang belum diterbitkaan, sehingga menjadikan kisah ini penuh hikmah, sarat makna, dan sangat bermanfaat. Tidak sembarang kisah yang penulis sajikan di buku ini, karena yang diambil hanya teks-teks yang mu'tamad, dihimpun dari 150 kitab klasik yang masih jarang kita temui, sehingga penghimpunan pun berlangsung lama.

Setidaknya-tidaknya ada delapan bab (kisah) yang penulis hadirkan di sini, di antaranya ada yang khusus mengisahkan tentang bahayanya durhaka atau menyakiti hati orang tua. Dalam satu riwayat yang diceritakan oleh Awam bin Hausyab, suatu ketika selepas Ashar ia lewat di sebuah area kuburan, tiba-tiba ada satu kuruban yang terbelah dan muncullah mayat laki-laki berbadan manusia dan berkepala keledai dari dalam kuburan, kemudian dia meraung tiga kali persis raungan keledai. Setelah ditelusuri ternyata semasa hidupnya dia selalu minum arak (mabuk-mabukan), dan ketika dinasihati oleh ibunya ia membentak dan menganggap ibunya sama seperti keledai (halaman 130).

Begitu pun dengan riwayat Malik bin Dinar, ia berkata, suatu ketika nabi beserta keluarganya melewati kuburan Baqi, seketika itu beliau mendengar suara orang meminta pertolongan dari dalam kuburan, setelah dihampiri tiba-tiba kuburan itu terbelah dan keluarlah mayat seorang pemuda dengan muka yang sangat hitam dan seluruh tubuhnya diikat dengan tali-tali dan rantai besi. Si mayat mengaku bahwa ia menjadi demikian karena ibunya tidak meridhainya, lantaran ia pernah menyakiti dan melemparkan ibunya ke dalam tungku, karena ia lebih berpihak dan membela istrinya yang sedang mendapat perlakuan kurang baik dari ibunnya (halaman 160).

Dari penggalan dua kisah tersebut, kita bisa mengambil ibrah bahwa kita wajib berbakti kepada kedua orang tua, dan sangat tidak pantas untuk membentak dan apalagi menyakiti hatinya, karena hal ini berkaitan dengan keadaan kita setelah meninggal dunia. Keridhaan orang tua sangat kita harapkan karena akan mengantarkan kita ke jalan yang lebih baik, di dunia maupun di akhirat. Mungkin ketika masih di dunia, kita tidak merasakan apa-apa walaupun kita sering durhaka kepada orang tua, bahkan kita merasa lebih puas, sehingga perbuatan jelek terhadap orang tua terus kita tingkatkan, mulai di rumah kita sendiri hingga ke pengadilan.

Buku ini hadir sebagai cermin bagi setiap perbuatan kita, sebuah cermin yang akan menampakkan konsekuensi-konsekuensi yang akan kita tanggung sebagai balasan dari apa yang telah kita perbuat. Para pembaca bisa mengambil banyak hikmah dari setiap rentetan kisah yang tersaji dengan bahasa yang sangat ringan, renyah, dan mengalir seperti air. Judul yang diletakkan di sampul depan, “Setan Pun Hafal Ayat Kursi”, diambil dari satu kisah yang ada dalam buku ini, dan pada bab terakhir (bab delapan) diulas tuntas perihal setan dan sekutunya, juga perbedaannya dengan jin dan iblis, dijelaskan pula tentang keutamaan Ayat Kursi, yang salah satunya dapat mengusir setan.

Data Buku
Judul        : Setan pun Hafal Ayat Kursi: 100 Kisah Penyegar Iman
Penulis        : Aep Saepulloh Darusmanwiati
Penerbit     : Qaf
Cetakan     : 2016
ISBN         : 978-602-73761-2-0
Tebal         : 341 halaman

Peresensi, Saiful Fawait, adalah mahasiswa Istitut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) Guluk-Guluk, Sumenep