::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Sulaiman Zuhdi, Kiai Tarekat, Seni, hingga Ekonomi

Sabtu, 15 Juli 2017 18:01 Tokoh

Bagikan

Sulaiman Zuhdi, Kiai Tarekat, Seni, hingga Ekonomi
KH Sulaiman Zuhdi Affandi merupakan salah seorang kiai yang tidak hanya pandai dalam bidang agama, namun juga sebagai pengamal tarekat, tepatnya Naqsyabandiyyah-Khalidiyyah. Tetapi yang lebih istimewa lagi adalah beliau mempunyai keahlian yang tidak biasa untuk seukuran kiai-kiai pada zamannya. Kelebihan itu, beliau mampu menciptakan tenaga pembangkit listrik bertenaga air tahun 1938, kemudian beliau juga membuat pabrik rokok, membuat pabrik kain tenun (tekstil), dan menyamak kulit hewan.

Pondok Pesantren Mojopurno-Magetan, adalah tempat kediamanan Sulaiman dan keluarganya. Pondok tersebut tidak hanya berfungsi sebagai tempat masyarakat belajar agama saja, tetapi disana tempat warga masyarakat bekerja meningkatkan taraf ekonominya. Sulaiman sebenarnya bukan penduduk asli Mojopurno-Magetan, ia adalah orang pendatang dari Kebonsari, Madiun. Kobonsari sendiri merupakan tempat belajar agama dan thoriqah (olah batin melalui dzikir kepada Allah).  Ketika itu sebagaian santri Kebonsari yang berasal dari Magetan meminta kepada keluarga NdalemKebonsari supaya mengirimkan salah seorang kiainya ke Magetan.

Maka sekitar antara tahun 1929-1930 ndalem menunjuk Sulaiman untuk ke Magetan. Sebelum benar-benar tinggal di Magetan, Sulaiman terlebih dahulu memohon petunjuk kepada Allah SWT. Setelah melalui istikharah dan pertimbangan yang matang, maka Sulaiman berketetapan hati bertempat tinggal di Desa Mojopurno sebagai tempat dan pusat kegiatan dakwah serta kemasyarakatannya.

Pertama-tama yang dilakukannya adalah dengan membangun masjid di Mojopurno. Mojopurno pada saat itu adalah tempat maksiat, liar, banyak para pemabuk, tukang judi, perampok, suka datang ke punden, dan keburukan-keburukan lainnya, serta masyarakatnya yang masih banyak hidup dalam kemiskinan. Tanah tempat dimana masjid dibangun oleh Sulaiman dikenal sebagai tempat yang sangat angker saat itu. Keberhasilan Sulaiman membangun masjid dan menghilangkan keangkeran tempat tersebut mendatangkan nilai tersendiri dan secara tidak langsung membawa pengakuan masyarakat akan keunggulan pribadinya.

Sedikit demi sedikit masyarakat banyak yang berdatangan ke kediaman Sulaiman. Pertama kali yang datang kepadanya adalah santri-santri Kebonsari yang dari Magetan, kehadiran Sulaiman sedikit memudahkan mereka belajar, sebab mereka tidak perlu jauh-jauh datang ke Madiun. Didukung dengan tidak hanya terbatas pada keahlian agama dan tarekat saja, tetapi kemampuannya menciptakan peluang dan lapangan ekonomi, Sulaiman tidak butuh waktu yang lama untuk merubah masyarakat Mojopurno menjadi orang-orang yang taat menjalankan perintah dan menjauhi larangan agamanya.

Sempat Sulaiman mengalami kesulitan bagaimana cara mengumpulkan masyarakat ke masjidnya. Di tengah-tengah berpikir mencari cara, ketika itu di tempat lain tidak jauh dari Desa Mojopurno menggelar acara reog yang di datangkan dari Ponorogo. Saat itu masyarakat Mojopurno keluar dari rumah-rumah mereka beramai-ramai untuk menonton pertunjukan reog di desa tetangga tersebut. Dari sana muncullah ide Sulaiman, bahwa untuk mengumpulkan masyarakat berada di satu tempat harus mengadakan acara besar dan salah satu pertunjukan yang berhasil menyedot perhatian masyarakat adalah reog.

Sulaiman kemudian mengundang reog Ponorogo kira-kira tahun 1933. Sulaiman mengkonsep reog tersebut dalam rangka untuk hari-hari besar Islam semisal peringatan Isra’ Mi’raj, Maulid Nabi Muhammad SAW, peringatan Tahun Baru Hijriah (Muharram), dan hari-hari besar Islam lainnya. Sulaiman menggelar peringatan hari-hari besar Islam tersebut berlangsung tiga hari. Tidak hanya Reog yang ditmpilkan dalam semarak hari besar Islam, disana juga ditampilkan tonel. Tonel adalah Sebuah lakon sandiwara yang diciptakan oleh Sukarno, di dalamnya berisi secara halus mengajak masyarakat supaya sadar akan pentingnya harkat dan martabat serta harga diri suatu bangsa. Mengajarkan kewajiban dan hak individu untuk hidup merdeka bebas dari penjajahan. Dengan konsep acara yang demikian, setiap Sulaiman mengadakan hari peringatan besar Islam pihak penjajah Belanda selalu datang mengawasi dan memata-matainya.

Perjuangan Sulaiman tidak sebatas menggelar acara dan pertunjukannya saja supaya masyarakat senang datang ke tempatnya, tetapi ia juga menyediakan konsumsinya juga untuk masyarakat yang hadir. Ketika itu piring beling adalah barang langka dan istimewa, selesai acara tidak jarang piring-piring beling itu di bawa pulang oleh orang-orang yang hadir. Dengan raut muka yang kesal suatu ketika istri Sulaiman pernah bertanya kepadanya kenapa masyarakat suka membawa piringnya, Sulaiman memberi jawaban kepada sang isteri dengan jawaban sederhana. Ia mengatakan, nanti kalau mereka sudah mampu membeli sendiri mereka tidak akan membawa pulang piring-piring itu lagi. Mendengar jawaban dari sang suami demikian, isteri Sulaiman hanya bisa terima dan bersabar.

Benar saja, kira-kira pada tahun 1937 masyarakat Mojopurno menunjukkan perubahan yang positif, banyak perubahan sikap dalam diri mereka. Pada sekitar tahun tersebut ketika diselenggarakan kembali peringatan hari-hari besar Islam masyarakat sudah membawa konsumsi sendiri-sendiri dalam bentuk julen. Julen adalah bentuk miniatur masjid atau mushalla yang didalamnya di isi dengan beraneka makanan serta buah-buahan. Masyarakat membawa julen dari desa masing-masing dengan di pikul beramai-ramai di bawa ke Desa Mojopurno, tepatnya di kediaman Sulaiman. Setelah selesai acara meniatur-miniatur masjid dan mushalla yang berisi aneka makanan tersebut mereka buka dan kemudian mereka makan bersama-sama.

Sulaiman tidak berhenti hanya penataan pada tingkah dan prilaku masyarakat, tetapi ia berjuang pula melalui usaha pada peningkatan taraf hidup ekonomi masyarakat. Bersama beberapa penduduk yang sekaligus muridnya ia mendirikan pabrik rokok, melatih masyarakat membuat kain tenun (tekstil), menyamak kulit hewan (sapi, kambing), ia juga salah seorang yang menciptakan tenaga pembangkit listrik dengan melalui rekayasa air. Kekuatan daya salur pembangkit listrik tenaga air ini mampu hingga sejauh satu kilo meter. Bagi masyarakat, ini merupakan teknologi yang luar biasa untuk ukuran jaman saat itu. Ketika itu hanya masyarakat di Desa Mojopurno yang bisa menikmati lampu listrik berkat tangan Sulaiman dimana di daerah yang lain di Magetan masih jauh menggunakan lampu teplok.

Sulaiman juga di kenal sebagai pejuang gigih kemerdekaan di barisan tentara Hizbullah. Ia merupakan salah satu komandan dan panutan dalam kesatuannya yang berkedudukan di Mojokerto. Disamping itu, Sulaiman sangat di kenal oleh masyarakat Magetan sebagai gusti lider, yaitu orang yang ditakuti oleh para perampok dan pencoleng. Ketika di Magetan ada perampok dan pencoleng, maka Sulaiman yang paling diharapkan kehadirannya oleh masyarakat mengusir para perampok-perampok itu. Pada masa kemerdekaan, Sulaiman menjadi penasehat Buapati Magetan, M. Ng. Sudibjo. 

Sulaiman Meninggal dunia pada 1948 September bersama Bupati Magetan tersebut, mereka berdua meninggal oleh keganasan PKI ketika melakukan petualangan politik di Madiun, yang dikenal dengan Madiun Affair. (Moh. Yusuf)