IMG-LOGO
Pesantren

Riyadlul Banin, Jejak Geliat Nyantri di Mojogeneng

Jumat 14 Juli 2017 17:15 WIB
Bagikan:
Riyadlul Banin, Jejak Geliat Nyantri di Mojogeneng
Jombang, NU Online
Pondok Pesantren Riyadlul Banin Mojogeneng, Gedangan, Mojowarno Jombang dulu menjadi tempat santri belajar. Sudah banyak santri yang lulus mempelajari kitab kuning, lantas mempraktikkannya baik dalam keseharian atau diajarkan pada masyarakat. Sayangnya, ketika Ustadz Dlomirin, pengasuh pesantren tersebut berpulang ke Rahmatullah, Riyadlul Banin berangsur-angsur ditinggalkan santrinya. Saat ini (2017) bersisa 5 orang santri kalong saja, itu pun hanya belajar mengaji Al-Qur’an.

Ketika memasuki Dusun Mojogeneng Desa Gedangan Mojowarno Jombang kita tidak akan tahu kalau dulu ada sebuah pesantren, tempat santri belajar Al-Qur’an dan kitab kuning. Bahkan ketika sampai di rumah pengasuh pesantren tersebut kita hanya menjumpai bangunan rumah sebagaimana hunian lain yang ada di dusun itu. Akan tetapi, ketika masuk lebih dalam, maka akan terlihat sebuah pesantian yang diberi nama Pondok Pesantren Riyadlul Banin.

Pondok tersebut tidak cukup luas, hanya sekitar 3 x 6 meter persegi. Ketika memasukinya harus menaiki 4 anak tangga. Sebab, pondok tersebut berbentuk panggrok atau panggung. Bangunannya khas dan klasik. Berdinding gedek, berlantai dan berpagar bambu. Di dalamnya hanya ada satu bilik saja yang digunakan untuk sholat berjamaah dan mengaji. Ada dua rak yang digantung sebagai tempat Al-Qur’an dan kitab. Selain itu, sebuah mikrofon disediakan sebagai pengeras ketika mengaji.

Pondok Pesantren Riyadlul Banin didirikan 15 tahun lalu, sekitar tahun 2002, usai ustadz Dlomirin muda merampungkan pendidikannya di Pondok Pesantren Lirboyo selama 7 tahun. Sebelumnya, ia nyantri di Pesantren Tebuireng selama 6 tahun.

Hj. Mahsunah, ibunda Ustadz Dlomirin menuturkan, dulu putranya itu pamit untuk menghafal kitab Alfiyah ke Pesantren Lirboyo agar bisa diajarkan. Dan sepanjang nyantri, Ustadz Dlomirin muda kerap riyadlah mulai dari berjalan kaki ketika awal berangkat nyantri ke Pesantren Lirboyo, hingga tidak makan nasi, akan tetapi makan jagung.

Ustadz Dhomirin termasuk pribadi yang sederhana. Menurut penuturan Hj Mahsunah, salah satu wujud kesederhanaannya adalah bangunan pondok pesantren yang berdinding gedhek, yang sekalipun tidak direnovasi menjadi gedhong. “Saya pernah menawarkan untuk direnovasi dan ditembok, dia (Ustadz Dlomirin, red) tetap tidak mau. Masjid saja sudah banyak digedhong, masak pondoknya tetap gedhek. Bahkan, sampai ia wafat, ada santrinya yang diimpeni (dapat mimpi) agar bangunannya tetap dibiarkan seperti sedia kala,” kenang wanita 75 tahun itu. Alhasil, bangunan pondok tetap berdinding sesek dan berlantai pring.

Untuk itu, pondok tersebut hanya diperkokoh saja dengan mengganti pondasinya menggunakan lumpang. “Warga dengan sukarela menyerahkan lumpang sebagai pondasi atau kaki penyangga, agar bisa kokoh berdiri dan tidak ambruk ketika santri naik-turun pondok,” ungkap wanita tamatan Madrasah Muallimat Cukir tersebut.

Di awal, Pondok Pesantren Riyadhul Banin mendidik sampai 40 santri putra dan putri. Santri-santri tersebut berasal dari desa sekitar, seperti Menganto, Gedangan, Berjo, Gondek dan beberapa desa lain. Santri putri tidur di rumah pengasuh, sedangkan santri putra di pondok panggung tersebut. Pengajian kitab dilaksanakan secara sorogan dan bandongan setiap bakda subuh dan maghrib. Diantara mereka ada yang sampai mumpuni membaca kitab kuning untuk diajarkan.

Sayangnya, Ustadz Dlomirin tidak berusia panjang. Ia berpulang ke Rahmatullah dikarenakan sakit dengan meninggalkan seorang istri dan seorang putra. Usai kepergian Ustadz Dhomirin, Pondok Pesantren Riyadlul Banin sempat vakum tanpa satu pun aktivitas pengajian. Hingga akhirnya perawatan dan pengajian diteruskan oleh kakak iparnya, dengan mengajar ngaji Al-Qur’an.

“Tidak ada yang bisa meneruskan. Kitab-kitabnya (Ustadz Dlomirin, red) tersimpan di kamarnya, masih rapi. Sekarang santrinya ada 5, hanya mengaji Al-Qur’an dan istiqomah rutin jamaah maghrib,” tuturnya

Menurut Hj. Mahsunah, sekarang ini tidak mudah mengajak anak muda untuk belajar agama. Alih-alih kitab kuning, istiqomah membaca Al-Qur’an saja juga sudah sangat jarang. “Anak zaman sekarang susah. Pamitnya ngaji, tapi mampirnya ke tempat lain. Ya, ada 5 santri kalong saja sekarang ini. Semoga walaupun santrinya sedikit bisa menjadi jariyah,” ungkapnya.

Meski tidak mendapat dukungan dari manapun, Hj. Mahsunah dan menantunya bertekad untuk merawat dan tetap membuka pengajian Al-Qur’an bagi siapa saja yang ingin mengaji di pondok Riyadhul Banin tersebut. (Robiah/Mahbib)

Tags:
Bagikan:
Ahad 9 Juli 2017 17:3 WIB
Punya Peran Penting, Santri Tak Perlu Malu Tampilkan Identitas
Punya Peran Penting, Santri Tak Perlu Malu Tampilkan Identitas
Jakarta, NU Online
Pesantren dan santri selalu terlibat dalam setiap peristiwa penting di Indonesia. Salah satunya dalam perumusan dasar negara Pancasila. Peran santri dalam kehidupan berbangsa dan bernegara tidak bisa diabaikan. Dengan peranan sepenting itu santri tidak perlu malu menunjukkan identitas kesantriannya.

Demikian disampaikan Pengasuh Pesantren HM Al-Mahrusiyah Lirboyo KH Melvien Zainul Asyiqin (Gus Iing) dalam acara Halal Bihlalal dan Haul Masyayikh Lirboyo di Yayasan Umdaturasikhien, Cakung, Jakarta Timur, Ahad (9/8).

"Jangan malu menjadi santri. Yang menggagas dasar-dasar Indonesia salah satunya adalah (perwakilan) santri," kata Gus Iing di hadapan ratusan santri dan alumni Al-Mahrusiyah se-Jabodetabek yang hadir dalam acara itu.

Kepada ratusan santri dan alumni Al-Mahrusiyah, Gus Iing juga menekankan pentingnya melanjutkan peran yang telah diambil santri zaman dahulu. Peran penting itu, lanjut Gus Iing, harus dipertahankan dan dikembangkan santri masa sekarang.

Peran penting itu, lanjut Gus Iing, bisa ditanggung santri masa sekarang dengan syarat mengusai pengetahuan kemasyarakatan yang memadai. Santri, seperti terlihat pada sosok KH Hasyim Asyari dan santri sezamannya, tidak hanya paham masalah akhirat tapi juga dunia, yaitu urusan kebangsaan dan kenegaraan.

"Santri zaman dulu paham masalah dunia dan akhirat sekaligus," tegas Gus Iing.

Halal Bihalal dan Haul Masyayikh Lirboyo digelar oleh Ikatan Silaturahim Keluarga Al-Mahrusiyah (Istikmal) Jabodetabek. Selain ceramah agama, acara juga diisi istighotsah kubro yang melibatkan warga dari sejumlah majelis taklim di Jakarta. (Red Alhafiz K)

Senin 12 Juni 2017 11:3 WIB
Madrasah Aliyah Unggulan WH Tambakberas Santuni Ratusan Yatim
Madrasah Aliyah Unggulan WH Tambakberas Santuni Ratusan Yatim
Jombang, NU Online
Ratusan yatim piatu dan dhuafa memadati halaman Madrasah Aliyah Unggulan KH Abdul Wahab Hasbullah (MAU WH)Tambakberas Jombang. Tampak pula sejumlah tetangga sekitar yang berbaur dengan para guru, karyawan dan siswa-siwi madrasah ini. Mereka berkumpul dalam kegiatan peringatan nuzulul Quran dan buka puasa bersama tetangga dan yatim piatu, Ahad (11/6) petang.

"Tadi siang telah kami serahkan setidaknya 300 paket zakat fitrah kepada tetangga sekitar madrasah," kata Faizun Amir selaku Kepala MAU WH.

Dan pada sore hari juga dibagikan 129 tali asih kepada para dhuafa khususnya yatim piatu. Mereka juga diundang untuk mengikuti acara buka bersama dengan seluruh siswa dan pimpinan, guru serta karyawan MAU WH.

Menurut Ustadz Faizun, tradisi memberikan tali asih kepada tetangga telah menjadi bagian tidak terpisahkan dari MAU WH. "Jumlahnya dari tahun ke tahun alhamdulillah terus bertambah," kata alumnus pascasarjana Universitas Islam Malang tersebut. Ini juga sebagai sarana untuk kian mengakrabkan antara madrasah dan tetangga sekitar.

"Kepedulian kepada warga sekitar turut ditanamkan kepada para siswa dan siswi MAU WH," katanya. Hal tersebut dibuktikan dengan kegiatan sapa tetangga yang rutin diselenggarakan sebulan sekali, yakni tanggal 17. Pada kegiatan tersebut para siswa dan siswi membagikan paket sembako kepada tetangga sekitar madrasah yang dianggap kurang mampu.

Pembina  MAU WH Nyai Hj Mundjidah Wahab mengapresiasi ikhtiar yang dilakukan madrasah selama ini. "Sehingga tetangga adalah bagian tidak terpisahkan demi kemajuan madrasah," kata Hj Munjidah yang juga Ketua Muslimat NU Jombang tersebut.

Dengan dukungan tetangga serta para yatim piatu diharapkan madrasah ini kian diminati masyarakat dan mampu mengantarkan alumninya menjadi insan berguna di manapun berada, lanjutnya.

"Mohon doanya agar pada tahun mendatang, kegiatan ini semakin ditingkatkan jumlah santunan yang diterima, serta kian banyak pula warga yang diundang," tandas perempuan yang juga Wakil Bupati Jombang ini.

Kegiatan dipungkasi dengan pemberian santunan dan bingkisan, serta buka puasa bersama. Tampak ratusan anak yatim piatu dan tetangga sekitar madrasah ceria menerima tali asih yang diberikan. (Ibnu Nawawi/Alhafiz K)

Ahad 11 Juni 2017 10:4 WIB
Mahasiswi Nurul Jadid Paiton Gelar Diskusi Publik
Mahasiswi Nurul Jadid Paiton Gelar Diskusi Publik
Probolinggo, NU Online
Kelompok mahasiswa (Pomas) putri Nurul Jadid Paiton Kabupaten Probolinggo menggelar diskusi tentang feminisme dan Islam dalam konteks keindonesiaan kini di Aula IAI Nurul Jadid, Sabtu (10/6).

Diskusi ini diikuti oleh para pimpinan pada 3 (tiga) perguruan tinggi di Nurul Jadid Paiton (STT, IAI dan STIKes), jajaran pengasuh putri, pengurus pesantren dan mahasantri dari 3 perguruan tinggi Nurul Jadid Paiton.

Hadir sebagai penyaji adalah Lailatul Fitriyah, alumnus hubungan international dan kandidat doktor di Universitas Notre Dome Amerika Serikat. Laila adalah alumnus Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton.

Rektor IAI Nurul Jadid KH Abdul Hamid Wahid mengatakan, kegiatan ini bertujuan untuk memberi wawasan dan membahas salah satu isu yang sering dihadapi oleh Muslimah berupa feminisme.

“Bagaimana kita dapat memposisikan dengan benar dan tepat dalam memaknai dan mengaplikasikan dalam kehidupan. Demikian pula bagaimana kita belajar pada bangsa lain di belahan dunia ini dalam isu tersebut. Mengingat pembicara sebagai alumni juga belajar di negeri Paman Sam,” katanya.

Menurut Kiai Abdul Hamid Wahid, sebetulnya isu ini sudah lama ada di tengah-tengah masyarakat. “Tapi mungkin berkembang dalam implementasinya sesuai perkembangan keadaan,” jelasnya.

Sementara penyaji Lailatul Fitriyah mengatakan bahwa sudah saatnya konsep feminisme dibumikan di Indonesia. Akan tetapi masyarakat Indonesia masih alergi dengan konteks itu, karena semuanya dianggap dari Barat.

“Oleh karena itu, persepsi negatif itu harus dihilangkan, agar roh feminisme bisa diterapkan secara universitas,” ungkapnya. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG
IMG