IMG-LOGO
Trending Now:
Pesantren

Lima Remaja Nias Utara Dapat Beasiswa Nyantri dari NU Care LAZISNU

Ahad 16 Juli 2017 16:34 WIB
Bagikan:
Lima Remaja Nias Utara Dapat Beasiswa Nyantri dari NU Care LAZISNU

Depok, NU Online
Lima remaja asal Nias Utara, mengikuti program Beasiswa Sejuta Santri yang diadakan oleh NU Care LAZISNU. Mereka akan menjalani “nyantri”di Pesantren Annahdlah Islamic Boarding School, Depok Jawa Barat.

Kelima  santri asal Nias Utara ini adalah Didi Supriandi Aceh, asal Lahewa, Nias Utara, Aulia Rahman Zebua, Adward hafizh Zalukhu, Abdul Hafiz Zalukhu, dan Muhammad Yusfansyah. Kelimanya tiba di Depok, Sabtu (15/7) setelah menempuh perjalanan dengan pesawat, dan menembus kemacetan dari bandara Soekarno Hatta di Cengkareng.

Ketua PCNU Kabupaten Nias Utara, M Yusuf Zebua menyampaikan, program beasiswa santri yang diterima Kabupaten Nias Utara baru kali ini diadakan. 

“Saya berterimakasih kepada Rais Aam PBNU KH Maruf Amin, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Ketua LAZISNU Pak Syamsul Huda, dan seluruh tim di NU Care LAZISNU,” katanya saat mengantar kelima kader remajanya.

Yusuf menceritakan, keberangkatan lima calon santri asal Nias Utara penerima beasiswa dilepas keluarga melalui bandara. Suasana haru dan sedih tercipta karena para santri akan berpisah dengan orangtua mereka untuk menimba ilmu di pulau Jawa.

Ikut menghantar, Rais Syuriah PCNU Nias Utara, Ahmad Nur Zalukhu dan memberikan pembekalan kepada kelima santri. 

“Saya minta santri yang berangkat mondok ini harus istiqamah dalam menunutut ilmu. Karena  akan dididik dengan baik dan nanti bisa menjadi Duta Aswaja di Nias Utara melalui PCNU Nias Utara,” kata Yusuf menirukan Rais Syuriah PCNU Nias Utara. (Kendi Setiawan/Muslim Abdurahman)

Bagikan:
Sabtu 15 Juli 2017 22:13 WIB
SMK Al-Falah, SMK NU di Pati Kidul dengan Segudang Prestasi.
SMK Al-Falah, SMK NU di Pati Kidul dengan Segudang Prestasi.
22 tahun sudah SMK Al-Falah berkiprah di dunia pendidikan. Sejak berdiri tahun 1995, sumbangsihnya dalam mencerdaskan anak bangsa begitu besar.

Di bawah naungan yayasan pendidikan Islam Al-Falah- yang yang didirikan oleh KH Habib Hasan, tokoh NU kecamatan Winong,SMK Al-Falah mengarungi masa hingga tak terasa sudah berkembang sedemikian rupa. Dari data resmi terbaru siswa Al-Falah berjumlah 1345 yang berasal dari berbagai penjuru Pati.

Pada awal berdirinya SMK Al-Falah hanya membuka jurusan akuntansi. Namun,  seiring dengan antusiasme masyarakat dan tuntutan pendidikan yang mesti menyesuaikan perkembangan zaman maka dibukalah jurusan teknik komputer dan jaringan, otomotif, farmasi dan teknik mesin.

SMK yang dipimpin oleh Mukhlisin ini, memiliki fasilitas yang terbilang lengkap. Di dalamnya, terdapat 35 kelas, masjid, asrama, aula, laboratorium komputer, perpustakaan, lap. futsal, lap. bola volley, lap. basket. minimarket, gedung teater, klinik dan masih banyak lagi lainnya.  

Tenaga pengajar yang dimiliki SMK Al-Falah berjumlah 70 orang dengan beragam disiplin ilmu. Latar belakang mereka dari berbagai universitas terkemuka seperti Undip,UGM, UMY, IKIP Malang dan lainnya.

Dengan fasilitas yang lengkap, tenaga pengajar yang profesional juga sistem pendidikan yang terpadu, tentu sudah semestinya SMK Al-Falah masuk dalam daftar sekolah idaman.

Bagi masyarakat Winong dan sekitarnya sudah sangat mengenal dengan SMK Al-Falah, yang beralamat di Jl. Winong-Pucak Wangi, RT 01 desa Pekalongan, Kec. Winong, Kab. Pati. Lingkungan khas alam pedesaan pantura yang sangat asri dan sejuk, menciptakan suasana belajar mengajar siswa sangat kondusif membuat para siswa semangat belajar dalam kesehariannya.

Bukti nyata dari kesungguhan siswa tersebut bisa dilihat dari jejeran piala, medali juga piagam yang tertata rapi di lemari kantor SMK Al-Falah.

Piala, medali juga piagam tersebut adalah prasasti atas prestasi siswa Al-Falah baik tingkat nasional maupun lokal diberbagai bidang di antaranya adalah juara 1 teater nasional tingkat SMU/sederajat, juara 1 futsal Bupati Pati cup tingkat SMU/sederajat, juara 1 marathon se-Karesidenan Pati tingkat SMU/sederajat, juara 1 festival film pendek, juara 1 bola volley se-Kecamatan Winong tingkat SMU/sederajat, juara 3 lomba karya tulis ilmiah se-Jateng dan DIY tingkat SMU/sederajat. 

Dengan sederet pencapaian prestasinya ini tentu bisa menjadi tolak ukur betapa Al-Falah mampu memberi warna di kancah pendidikan Indonesia. Dengan beragam keunggulan yang dimilikinya seperti fasilitas belajar dan ruang praktik yang representatif, tenaga pengajar yang profesional, kurikulum terpadu, biaya pendidikan yang terjangkau juga sederet prestasi yang telah diraihnya SMK Al-Falah memiliki visi menjadi SMK rujukan. 

"Al-Falah bervisi menjadi SMK rujukan, mohon bantuan dan do'anya," ujar Mukhlisin ketika memberi sambutan dalam reuni alumni angkatan 1997, 1998, dan 1999 yang digelar awal Juli lalu. Alumni SMK Al-Falah bertebaran di mana-mana. Tak sedikit yang melanjutkan studi ke perguruan tinggi dan banyak juga yang langsung diserap oleh dunia usaha.

Sebagai lembaga pendidikan yang bernaung di bawah LP Ma'arif NU tentu SMK Al-Falah sangat konsisten menjaga dan mewariskan aqidah, nilai-nilai dan tradisi NU.

Untuk mewujudkan amanah mulia itu SMK Al-Falah menerapkan sistim pendidikan terpadu, perpaduan antara kurikulum Kemendikbud dan kurikulum pesantren salaf NU. Untuk kurikulum Dikbud diterapkan dari pagi sampai menjelang sore yang selanjutnya menerapkan kurikulum pesantren salaf seperti hadist, fiqh, tafsir, nahwu, sharaf, sirah, muhadarah dan lainnya. 

Selain itu ada kegiatan mingguan, bulanan dan tahunan khas NU seperti tahlilan, barzanji, manaqiban juga peringatan haul. Adapun ektrakurikulernya  meliputi kegiatan wajib dan pilihan. Kegiatan wajibnya pramuka, sementara pilihannya banyak; karate, marawis, drama, teater, marchind band, jurnalistik, kajian ilmiah dan tari Nusantara.

Selain itu ada juga kegiatan yang dilakukan di luar lingkungan sekolah di antaranya renang, ziarah ke makam orang-orang shaleh juga studi banding.

Dengan gemblengan yang sedemikian komplitnya, para siswa diharapkan kelak siap menjadi pengawal aqidah aswaja dan mentransformasikan kemampuan dan keterampilannya ketika sudah berada di tetengah masyarakat.(Alfathiy/Mukafi Niam)
Jumat 14 Juli 2017 17:15 WIB
Riyadlul Banin, Jejak Geliat Nyantri di Mojogeneng
Riyadlul Banin, Jejak Geliat Nyantri di Mojogeneng
Jombang, NU Online
Pondok Pesantren Riyadlul Banin Mojogeneng, Gedangan, Mojowarno Jombang dulu menjadi tempat santri belajar. Sudah banyak santri yang lulus mempelajari kitab kuning, lantas mempraktikkannya baik dalam keseharian atau diajarkan pada masyarakat. Sayangnya, ketika Ustadz Dlomirin, pengasuh pesantren tersebut berpulang ke Rahmatullah, Riyadlul Banin berangsur-angsur ditinggalkan santrinya. Saat ini (2017) bersisa 5 orang santri kalong saja, itu pun hanya belajar mengaji Al-Qur’an.

Ketika memasuki Dusun Mojogeneng Desa Gedangan Mojowarno Jombang kita tidak akan tahu kalau dulu ada sebuah pesantren, tempat santri belajar Al-Qur’an dan kitab kuning. Bahkan ketika sampai di rumah pengasuh pesantren tersebut kita hanya menjumpai bangunan rumah sebagaimana hunian lain yang ada di dusun itu. Akan tetapi, ketika masuk lebih dalam, maka akan terlihat sebuah pesantian yang diberi nama Pondok Pesantren Riyadlul Banin.

Pondok tersebut tidak cukup luas, hanya sekitar 3 x 6 meter persegi. Ketika memasukinya harus menaiki 4 anak tangga. Sebab, pondok tersebut berbentuk panggrok atau panggung. Bangunannya khas dan klasik. Berdinding gedek, berlantai dan berpagar bambu. Di dalamnya hanya ada satu bilik saja yang digunakan untuk sholat berjamaah dan mengaji. Ada dua rak yang digantung sebagai tempat Al-Qur’an dan kitab. Selain itu, sebuah mikrofon disediakan sebagai pengeras ketika mengaji.

Pondok Pesantren Riyadlul Banin didirikan 15 tahun lalu, sekitar tahun 2002, usai ustadz Dlomirin muda merampungkan pendidikannya di Pondok Pesantren Lirboyo selama 7 tahun. Sebelumnya, ia nyantri di Pesantren Tebuireng selama 6 tahun.

Hj. Mahsunah, ibunda Ustadz Dlomirin menuturkan, dulu putranya itu pamit untuk menghafal kitab Alfiyah ke Pesantren Lirboyo agar bisa diajarkan. Dan sepanjang nyantri, Ustadz Dlomirin muda kerap riyadlah mulai dari berjalan kaki ketika awal berangkat nyantri ke Pesantren Lirboyo, hingga tidak makan nasi, akan tetapi makan jagung.

Ustadz Dhomirin termasuk pribadi yang sederhana. Menurut penuturan Hj Mahsunah, salah satu wujud kesederhanaannya adalah bangunan pondok pesantren yang berdinding gedhek, yang sekalipun tidak direnovasi menjadi gedhong. “Saya pernah menawarkan untuk direnovasi dan ditembok, dia (Ustadz Dlomirin, red) tetap tidak mau. Masjid saja sudah banyak digedhong, masak pondoknya tetap gedhek. Bahkan, sampai ia wafat, ada santrinya yang diimpeni (dapat mimpi) agar bangunannya tetap dibiarkan seperti sedia kala,” kenang wanita 75 tahun itu. Alhasil, bangunan pondok tetap berdinding sesek dan berlantai pring.

Untuk itu, pondok tersebut hanya diperkokoh saja dengan mengganti pondasinya menggunakan lumpang. “Warga dengan sukarela menyerahkan lumpang sebagai pondasi atau kaki penyangga, agar bisa kokoh berdiri dan tidak ambruk ketika santri naik-turun pondok,” ungkap wanita tamatan Madrasah Muallimat Cukir tersebut.

Di awal, Pondok Pesantren Riyadhul Banin mendidik sampai 40 santri putra dan putri. Santri-santri tersebut berasal dari desa sekitar, seperti Menganto, Gedangan, Berjo, Gondek dan beberapa desa lain. Santri putri tidur di rumah pengasuh, sedangkan santri putra di pondok panggung tersebut. Pengajian kitab dilaksanakan secara sorogan dan bandongan setiap bakda subuh dan maghrib. Diantara mereka ada yang sampai mumpuni membaca kitab kuning untuk diajarkan.

Sayangnya, Ustadz Dlomirin tidak berusia panjang. Ia berpulang ke Rahmatullah dikarenakan sakit dengan meninggalkan seorang istri dan seorang putra. Usai kepergian Ustadz Dhomirin, Pondok Pesantren Riyadlul Banin sempat vakum tanpa satu pun aktivitas pengajian. Hingga akhirnya perawatan dan pengajian diteruskan oleh kakak iparnya, dengan mengajar ngaji Al-Qur’an.

“Tidak ada yang bisa meneruskan. Kitab-kitabnya (Ustadz Dlomirin, red) tersimpan di kamarnya, masih rapi. Sekarang santrinya ada 5, hanya mengaji Al-Qur’an dan istiqomah rutin jamaah maghrib,” tuturnya

Menurut Hj. Mahsunah, sekarang ini tidak mudah mengajak anak muda untuk belajar agama. Alih-alih kitab kuning, istiqomah membaca Al-Qur’an saja juga sudah sangat jarang. “Anak zaman sekarang susah. Pamitnya ngaji, tapi mampirnya ke tempat lain. Ya, ada 5 santri kalong saja sekarang ini. Semoga walaupun santrinya sedikit bisa menjadi jariyah,” ungkapnya.

Meski tidak mendapat dukungan dari manapun, Hj. Mahsunah dan menantunya bertekad untuk merawat dan tetap membuka pengajian Al-Qur’an bagi siapa saja yang ingin mengaji di pondok Riyadhul Banin tersebut. (Robiah/Mahbib)

Ahad 9 Juli 2017 17:3 WIB
Punya Peran Penting, Santri Tak Perlu Malu Tampilkan Identitas
Punya Peran Penting, Santri Tak Perlu Malu Tampilkan Identitas
Jakarta, NU Online
Pesantren dan santri selalu terlibat dalam setiap peristiwa penting di Indonesia. Salah satunya dalam perumusan dasar negara Pancasila. Peran santri dalam kehidupan berbangsa dan bernegara tidak bisa diabaikan. Dengan peranan sepenting itu santri tidak perlu malu menunjukkan identitas kesantriannya.

Demikian disampaikan Pengasuh Pesantren HM Al-Mahrusiyah Lirboyo KH Melvien Zainul Asyiqin (Gus Iing) dalam acara Halal Bihlalal dan Haul Masyayikh Lirboyo di Yayasan Umdaturasikhien, Cakung, Jakarta Timur, Ahad (9/8).

"Jangan malu menjadi santri. Yang menggagas dasar-dasar Indonesia salah satunya adalah (perwakilan) santri," kata Gus Iing di hadapan ratusan santri dan alumni Al-Mahrusiyah se-Jabodetabek yang hadir dalam acara itu.

Kepada ratusan santri dan alumni Al-Mahrusiyah, Gus Iing juga menekankan pentingnya melanjutkan peran yang telah diambil santri zaman dahulu. Peran penting itu, lanjut Gus Iing, harus dipertahankan dan dikembangkan santri masa sekarang.

Peran penting itu, lanjut Gus Iing, bisa ditanggung santri masa sekarang dengan syarat mengusai pengetahuan kemasyarakatan yang memadai. Santri, seperti terlihat pada sosok KH Hasyim Asyari dan santri sezamannya, tidak hanya paham masalah akhirat tapi juga dunia, yaitu urusan kebangsaan dan kenegaraan.

"Santri zaman dulu paham masalah dunia dan akhirat sekaligus," tegas Gus Iing.

Halal Bihalal dan Haul Masyayikh Lirboyo digelar oleh Ikatan Silaturahim Keluarga Al-Mahrusiyah (Istikmal) Jabodetabek. Selain ceramah agama, acara juga diisi istighotsah kubro yang melibatkan warga dari sejumlah majelis taklim di Jakarta. (Red Alhafiz K)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG