IMG-LOGO
Opini

Gaya Dakwah Sunan Kalijaga dalam Kidung Kawedar

Selasa 18 Juli 2017 9:36 WIB
Bagikan:
Gaya Dakwah Sunan Kalijaga dalam Kidung Kawedar
Sunan Kalijaga (Ilustrasi)
Oleh Faried Wijdan

Sunan Kalijaga bisa dikatakan salah satu tokoh sentral dalam proses penyebaran Islam di Tanah Jawa. Pendekatannya unik. Sunan Kalijaga yang melihat keadaan masyarakat Jawa pada waktu itu, di mana masyarakatnya masih kental dengan tradisi Hindu, Buddha, dan kepercayaan-kepercayaan lama melakukan pendekatan seni dan budaya. Dia mencoba menyerap budaya dan tradisi yang sudah ada untuk menyebarkan ajaran-ajarannya. Dia berkeliling dari satu tempat ke tempat lain, memasuki daerah-daerah terpencil.

Sunan Kalijaga melakukan penyebaran Islam dengan cara yang up todate, nut jaman kelakone (menurut semangat zaman). Ia mempergunakan falsafah empan papan atau local setting, di mana bumi dipijak, di situ adat dijunjung. Sunan Kalijaga memperkenalkan Islam selapis demi selapis melalui pendekatan budaya dan kearifan lokal (local wisdoms) Jawa, yang waktu itu masih didominasi oleh agama Syiwa-Buddha. Beliau tidak sekaligus memperkenalkan Islam secara frontal, melainkan dengan memadukan istilah-istilah Islam dengan istilah-istilah dalam agama yang masih berlaku. Hasilnya, Islam diadopsi orang Jawa secara damai, tanpa kekerasan dan perang yang memakan korban jiwa, dan harta benda serta trauma. Kanjeng Sunan Kalijaga berdakwah dengan style mengecam dan membuang nilai-nilai agama dan kepercayaan lama masyarakat, terutama yang sudah menjadi kebiasaan hidup sehari-hari. Beliau menyusupkan nilai-nilai baru ke dalam agama, kepercayaan, tata cara, dan adat kebiasaan hidup yang sudah ada sebelumnya. Nilai-nilai lama dibungkus selapis demi selapis, digeser sedikit demi sedikit. Dengan metode dakwah yang seperti itulah, maka Nusantara, khususnya pulau Jawa, diislamkan, sehingga sekarang menjadi negara dengan penganut agama Islam terbesar di dunia. 


Sebagai ulama, budayawan, dan sekaligus seniman, Sunan Kalijaga menciptakan banyak karya seni, di mana itu menggambarkan pendiriannya. Dia menciptakan dua perangkat gamelan,yang semula bernama Nagawilaga dan Guntur Madu, kemudian dikenal dengan nama Nyai Sekati (lambang dua kalimat syahadat). Wayang, yang pada zaman Majapahit dilukis di atas kertas lebar sehingga disebut wayang beber, oleh Sunan Kalijaga dijadikan satu-satu, dibuat dari kulit kambing, yang sekarang dikenal dengan nama wayang kulit. Banyak lakon-lakon yang digubah untuk kepentingan ini. Di  antaranya yang terkenal adalah lakon Jimat Kalimasada, Dewa Ruci, dan Petruk Dadi Ratu.

Banyak teori yang menyatakan mudahnya orang  Jawa masuk agama Islam. Antara lain, karena Islam tidak mengenal kasta, tidak seperti agama yang mereka anut sebelumnya. Beberapa bentuk seni budaya diadopsi dan disinergikan dengan seni budaya yang berasal dan bernuansa Arab, tempat asal Islam. Pendekatan budaya yang dilakukan Njeng Sunan Kali dalam memperkenalkan Islam ibarat menyebar biji di tanah yang subur.

Ketika masyarakat Jawa sedang mengalami zaman peralihan, dari Kerajaan Majapahit ke Kesultanan Demak. Demikian pula dalam hal agama dan kepercayaan. Mereka menganut agama Hindu-Buddha atau  Syiwa-Buddha, Kapitayan, dan percaya bahkan banyak yang memuja roh-roh halus. Mereka juga sangat memercayai hal-hal gaib dan mistis, serta mengaitkan hampir semua aspek kehidupan dengan hal tersebut. Dalam suasana kehidupan yang seperti itulah agama Islam diperkenalkan oleh para pendakwah, yang kemudian dikenal sebagai para wali, dan diberi sebutan atau nama panggilan “Sunan”. Dua dari para wali itu adalah Sunan Bonang dan muridnya, Sunan Kalijaga. Mereka dikenang masyarakat sampai sekarang karena jago berdakwah menggunakan media kesenian, terutama musik tradisional gamelan berserta tembang-tembang Jawa dan wayang. 

Salah satu dari tembang tadi adalah sebuah tembang suluk atau tembang dakwah Islam, yang dikenal dengan tiga nama, yaitu Kidung Kawedar atau Kidung Rumekso Ing Wengi, atau juga Kidung Sariro Ayu. Kepada masyarakat yang sangat memercayai hal-hal gaib dan mistis, Sunan Kalijaga menciptakan Suluk Kidung Kawedar yang didendangkan dengan irama Dhandanggula bernuansa meditatif-kontemplatif. Dikemas dan diberi sugesti sebagai mantra sakti, guna mengatasi segala problem kehidupan masyarakat sehari-hari. Beliau tidak sekaligus memperkenalkan Islam secara frontal, melainkan dengan memadukan istilah-istilah Islam dengan istilah-istilah dalam agama yang masih berlaku. Hasilnya, Islam diadopsi orang Jawa secara damai, tanpa kekerasan dan perang yang memakan korban jiwa dan harta benda serta trauma.

Suluk Kidung Kawedar, yang terdiri dari 46 pupuh atau bait ini dikenal memiliki berapa nama lain, yaitu Kidung Sarira Ayu, sesuai dengan bunyi teks dalam bait ketiga, dan Kidung Rumekso Ing Wengi, sesuai bunyi teks di awal kidung, sebagaimana kita lazim menyebut Al-Ikhlâsh dengan nama Surat Qulhu, atau Surat Al-Insyirâh dengan sebutan Surat Alam Nasyrah. Kidung Kawedar adalah sebuah kidung pujian dalam bentuk puisi Jawa, yang pengungkapannya dilakukan dengan menyanyi, yang disebut sebagai macapat, dalam irama Dhandanggula. Macapat sebagai metrum atau irama puisi Jawa, berasal dari kata maca papat-papat (membaca empat-empat), yaitu cara membacanya berirama dalam setiap empat suku kata.

Bait pertama menggambarkan kehebatan tembang pujian, yang enak didengar sekaligus sakti mandraguna ini. Kidung ini mampu menjaga kita di malam hari, melindungi kita dari segala macam penyakit dan hal-hal buruk, melindungi dari gangguan jin dan setan, menangkal ilmu hitam dan segala hal buruk yang bisa mencelakai kita, sampai-sampai diibaratkan dapat mengubah api yang panas menjadi air nan sejuk bila menghampiri kita, seperti kisah Kanjeng Nabi Ibrahim ketika dibakar. Para pencuri menjauh, tidak ada yang berani mengganggu diri dan hak milik kita. Dengan piawinya, Njeng Sunan Kali meramu Kidung Kawedar dengan pembukaan yang pas untuk semua orang di setiap jaman, lebih-lebih waktu itu, yakni keselamatan. Islam sendiri bermakna selamat dan pasrah kepada kehendak Allah. Kidung itu dibuka dengan kata-kata yang bermakna mistis, magis untuk menolak bala: penyakit, bencana dan gangguan makhluk halus. Guna-guna, tenung, teluh, santet, niat jahat, pencuri, binatang buas, senjata tajam, kayu dan tanah wingit dan hama penyakit semuanya menyingkir, tidak mempan. Perawan tua dapat segera dapat jodoh dan orang gila dapat sembuh.Semua musuh menjadi sayang, jatuh cinta kepada membaca kidung ini.

Bait kedua masih menggambarkan kehebatan kidung mantera ini. Hama dan penyakit menyingkir. Siapa pun makhluk Allah yang melihat kita menjadi iba dan menaruh kasih sayang. Pun segala ilmu kesaktian, tiada yang bisa mencelakai kita, lantaran akan menjadi bagai kapuk yang sangat ringan lagi lembut, jatuh ke atas besi nan keras lagi kuat. Semua racun menjadi tawar, semua binatang buas menjadi jinak. Segala jenis tumbuh-tumbuhan, pohon, kayu, tanah sangar atau angker serta sarang-sarang binatang yang dilindungi aura gaib, tiada yang perlu ditakuti lagi.

Bait ketiga masih diawali dengan pameran kekuatan gaib sang kidung yang luar biasa, seolah bisa membuat air lautan menjadi asat atau mengering. Dilanjutkan dengan iming-iming, pesona gambaran kehidupan serba nyaman dan selamat sejahtera. Kepada masyarakat Jawa, yang percaya adanya para dewa dengan para bidadarinya, Sunan Kalijaga mulai memasukkan daya tarik dan istilah-istilah baru secara lepas-lepas, yakni butir-butir ajaran Islam. 

Siapa yang membaca kidung ini akan dijaga oleh para malaikat dan rasul, yang bahkan telah menyatu pada diri kita. Semua “manunggal”, menyatu dalam dirinya. Sejumlah nama nabi disebut: Adam sebagai hati, Syits sebagai otak, Musa sebagai ucapan, Isa sebagai nafas, Yakub sebagai telinga, Yusuf sebagai rupa, Daud sebagaisuara, Sulaiman sebagai kesaktian, Ibrahim sebagai nyawa, Idris sebagai rambut, Nuh di jantung, Yunus di otot dan Muhammad (saw) sebagai mata/penglihatan. Hal-hal baru itulah yang sesungguhnya menjadi inti kekuatan kidung mantera pujian ini. Sunan Kalijaga mulai memperkenalkan istilah dan nama-nama baru kepada masyarakat, yaitu malaikat, rasul, Adam, Syits dan Musa. Pengenalan istilah, tokoh, dan sejarah Islam tersebut dilanjutkan dalam bait keempat dan kelima, sekaligus menjelaskan hikmah dan karamahnya di dalam diri manusia, apabila mempercayai dan mampu menghayatinya. Sunan Kalijaga menceriterakan tentang sejarah Islam dan para nabi sebagaimana dikisahkan dalam Al-Quran, serta para sahabat dan keluarga Kanjeng Nabi Muhammad Saw. Nama-nama mereka disebutkan seraya mengikuti pola pikir orang Jawa yang menyenangi cerita wayang, terutama tentang tokoh-tokoh sakti yang manjing, merasuk menyatu dalam jiwa raga seorang tokoh wayang yang lain, sehingga tokoh yang dirasuki menjadi sakti mandraguna. Disebut juga nama para sahabat dan keluarga Muhammad telah menyatu dalam dirinya. Patimah (Fatimah) putri Nabi Muhammad sebagai sumsum, Baginda Ngali (Ali) kulit, Abubakar darah, Ngumar (Umar) daging dan Ngusman (Usman) sebagai tulangnya.


Dalam Suluk Kidung Kawedar ini Sunan Kalijaga juga memperkenalkan beberapa surat dan ayat Al-Qur'an, yang dianggap ampuh. Di antaranya surat Al-Ikhlas, yang disebutnya Surat Kulhu, karena dibuka dengan Qulhu, surat An’Aam, yang disebut suratul Ngam Ngam. Maklum, orang Jawa dulu sulit mengucap bunyi huruf Arab ‘ain. Sehingga, ada orang Jawa yang namanya Sangidu (dari Sayyidu), Sangit (dari Sayyid),  Fatongah (dari Fathonah). Ayat Kursi yang dikenal luasampuh untuk mengusir segala macam godaan juga disebut. Kidung itu diyakini begitu ampuh, hingga jika dibaca di laut, air laut pun mengering (segara asat).Mungkin berlebihan. Tapi, itulah yang tertulis dan dipercaya banyak orang untuk mencapai keselamatan hidup.

Sunan Kali juga mengenalkan Allah, sebutan Tuhan dalam bahasa Arab, bahasa yang dipakai Al-Qur'an. Orang Jawa sebelummya sudah mempunyai beberapa sebutan untuk Tuhan, seperti Pangeran, Gusti Pangeran, Hyang Widhi Wasa, Hyang Kang Murbeng Dumadi, Gusti Kang Maha Kuwasa, Hyang Tunggal (nama dewa dalam pewayangan), Hyang Suksma Kawekas dan setelah Islam masuk, yang sering digunakan adalah Gusti Allah. Beberapa sebutan itu dipakai Sunan Kali. Maksud dari berbagai sebutan nama Tuhan itu adalah sama, yakni Yang Satu, Yang Tunggal, Yang Maha Esa itu seperti disebut  dalam Suratul Kulhu. (Lebih lengkap soal Tafsir Suluk Kidung Kawedar bisa dipelajari dari buku Islam Mencintai Nusantara: Jalan Dakwah Sunan Kalijaga, karya: B. Wiwoho, terbitan Pustaka IIMaN, 2017).

Sangat menarik mendaras dan memahami Suluk Kidung Kawedar ini dalam bingkai besar pemahaman ulang atas upaya penerapan Islam dalam ruang budaya (dalam hal ini Jawa terutama) yang dilakukan oleh para wali, terutama Sunan Kalijaga. Hal ini menjadi sangat penting, setidaknya mengingat fakta bahwa semakin  ke sini semakin banyak generasi baru yang bukan saja tidak memahami bagaimana para pendahulu berjuang menerapkan Islam secara bertahap lewat jalur budaya; tapi bahkan lebih jauh lagi, malah menganggap para pendahulu tersebut seolah sebagai peletak dasar dari apa yang secara  tergesa mereka kategorikan sebagai kesyirikan atau, setidaknya tradisi bid’ah.

Inilah desain dakwah Islam yang rahmatan lil alamin. Ia mendatangi siapa saja dengan cinta dan kasih. Islam berhasil merasuk ke dalam jiwa manusia Nusantara, terutama Jawa, melalui jalur yang sangat lembut. Seyogyanya para pendakwah di zaman ini meniru “Jurus” Sunan Kalijaga dalam menanamkan Islam di dada orang Jawa; melalui taktik modifikasi budaya yang tak menyakiti siapapun—dengan mengajarkan tauhid sebagaimana isi dari Kidung Kawedar. Sudah seharusnyalah Islam berwajah ramah. Islam tidak berantitesa dengan kearifan lokal manapun. Islam justru menyempurnakannya. Islam akan merasuk paripurna dalam hati melalui jalan yang lembut penuh cinta, bukannya dengan teriakan kemarahan dan pedang yang terhunus. Inilah DNA Islam di Nusantara, memposisikan agama sebagai jembatan perekat, bukan penyekat berbagai kehidupan sosial dan budaya.

Penulis adalah Penggandrung Sejarah Nusantara

Bagikan:
Selasa 18 Juli 2017 16:30 WIB
Perihal Keselamatan Agama di Luar Islam
Perihal Keselamatan Agama di Luar Islam
Ilustrasi (dn.pt)
Oleh M. Kholid Syeirazi

Sebagaimana ditunjukkan Al-Qur’an dan Hadits, Islam dapat dipahami dalam dua pengertian, yaitu semua agama tauhid yang dibawa para nabi dan rasul, dan nama bagi agama yang dibawa Nabi Muhammad SAW. Al-Qur’an menunjukkan kesatuan umat manusia, anak cucu Adam, yang menyembah Allah (QS. al-Anbiya’/21: 92) dan terikat penjanjian primordial untuk mengesakan-Nya (QS. al-A’râf/7: 172). Manusia kemudian terpecah-belah dan Allah mengutus para nabi dan rasul untuk menegakkan agama tauhid (QS. al-Baqarah/2: 213).

Ibrahim adalah tokoh penting yang diutus Allah untuk memulihkan monoteisme. Ajaran nabi sesudahnya, termasuk Ismail, Ishak, Yakub dan keturunannya, Musa, ‘Isa, dan Nabi Muhammad adalah kesinambungan dari monoteisme Ibrahim (QS. Ali Imran/3: 84; QS. an-Nisa’/4: 125). Agama itu disebut sebagai Islam, yang arti generiknya adalah pasrah dan tunduk kepada Allah. Pengikutnya, dari dulu hingga sekarang, disebut sebagai Muslim/Muslimin atau أمة مسلمة (QS. al-Hajj/22: 78; QS. Ali Imran/3: 85, 52; QS. Al-Baqarah/2: 128; QS. Yusuf/12: 101; QS. An-Naml/27: 31; QS. Yunus/10: 84). Hanya Islam agama di sisi Allah (QS. Ali Imran/3: 19). Siapa yang mencari selain Islam sebagai agamanya, niscaya tertolak (QS. Ali Imran/3: 85). Menimbang konteks dan pertaliannya, dua ayat terakhir berbicara tentang Islam dalam makna generik, yaitu agama tauhid.
 
Hadits sahih riwayat Bukhari-Muslim menegaskan kesatuan misi para nabi. Mereka semua adalah saudara seayah, berbeda-beda ibu, tetapi agamanya satu, yaitu agama tauhid atau Islam dalam pengertian asal:

الْأَنْبِيَاءُ إِخْوَةٌ مِنْ عَلَّاتٍ وَأُمَّهَاتُهُمْ شَتَّى وَدِينُهُمْ وَاحِدٌ (متفق عليه)

Jumlah nabi dan rasul banyak sekali. Kisahnya sebagian diceritakan oleh Al-Qur’an, sebagian besar tidak (QS. an-Nisa’/4: 164). Menurut riwayat, jumlah nabi mencapai 124.000 orang, sementara Rasul hanya 315 (Jalâluddin as-Suyûthi, Ad-Durrul Mantsûr fit Tafsîr al-Ma’tsûr. Beirut: Dâr al-Kutub al-Ilmiyah, 2000, h. 104-105). Nabi Muhammad menjelaskan kesinambungan ajaran para nabi. Perumpamaannya seperti rumah yang dibangun, yang terus disempurnakan dan diperindah, kecuali fondasinya yang tidak berubah. Menurut Nabi, agama yang dibawanya, Islam, adalah fondasi itu sendiri:

عن أَبي هريرةَ  رضي اللّه عنه أنّ رسول الَّه صلّى اللَّه عليه وسلّمَ قال إن مثلي ومثل الأنبياء من قبلي كمثل رجل بنى بيتاً فأحسنه وأجمله إلا موضع لبنة من زاوية فجعل الناس يطوفون به ويعجبون له ويقولون : هلا وضعت هذه اللبنة ؟ قال : فأنا اللبنة وأنا خاتم النبيين (رواه البخاري)


Islam dalam pengertian kedua adalah nama agama yang dibawa Nabi dan Rasul pamungkas, yaitu Nabi Muhammad SAW. Al-Qur’an menyebut Islam sebagai agama sempurna yang dibawa Nabi Muhammad (QS. al-Maidah/05: 3). Islam bukan hanya telah disempurnakan doktrin-doktrin pokoknya (meliputi أصول العقيدة dan أصول الشريعة), tetapi agama yang menyempurnakan ajaran-ajaran Nabi sebelumnya. Islam hadir untuk mengembalikan manusia ke jalan yang lurus (الصراط المستقيم), jalan yang dilalui para Nabi, Rasul, dan orang-orang saleh. Dalam perjalanannya, jalan itu belok dan menyimpang karena dikorupsi para pengikutnya.Begitu Islam hadir, sebagianjalan (syariat) itu diganti atau diluruskan, sebagian lain dipertahankan, diakomodasi, dan diserap sebagai syariat Islam dengan sejumlah perubahan.  

Jalan Keselamatan

Muncul pertanyaan, apakah kehadiran Islam yang dibawa Nabi Muhammad membatalkan atau me-nasakh jalan keselamatan lain di luar Islam? Artinya, selain Islam yang dibawa Nabi Muhammad, tidak ada keselamatan. Begitu Islam hadir, jalan keselamatan lain yang ada seperti Yahudi dan Nasrani otomatis tertutup dan tidak absah. Mereka semua celaka dan tempatnya kekal di neraka. Benarkah demikian?

Pertama, semua agama mengusung klaim keselamatan eksklusif, termasuk agama-agama samawi (Yahudi, Nasrani, dan Islam). Ketika Islam datang, Nabi bukan hanya ditolak oleh kaum pagan, tetapi juga oleh Ahlul Kitab (Yahudi dan Nasrani). Mereka mengklaim agamanya yang paling benar dan pemeluk agamanya yang selamat.

Al-Qur’an (QS. al-Baqarah/2: 111) mencatat klaim Yahudi dan Nasrani yang mendaku paling berhak atas surga. Allah membantah klaim ini dan menegaskan siapa saja yang memasrahkan dirinya kepada Allah (أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ) dan berbuat kebajikan (وَهُوَ مُحْسِنٌ), baginya pahala di sisi Rabb-nya, tidak ada kekhawatiran, dan tidak pula bersedih hati (QS. al-Baqarah/2: 112). Di ayat lain, Allah menegaskan ganjaran itu tidak mengikuti angan-angan mereka (orang Islam dan Ahlul Kitab). Siapa saja yang beriman dan mengerjakan amal saleh, dia akan masuk surga (QS. an-Nisa’/4: 124).

Klaim keselamatan eksklusif kaum Nasrani bertahan berabad-abad, menjelma dalam dogma Extra Ecclesiam Nulla Salus (di luar Gereja, tidak ada keselamatan). Dalam Islam, klaim monopoli kebenaran juga berlaku. Banyak sekali ayat pendukung klaim kebenaran eksklusif. Bagi sebagian kelompok, QS. Ali Imran/3: 19, 85 serta QS. al-Maidah/05: 3 sering dipakai sebagai dalil kebenaran eksklusif Islam. Bagi sebagian yang lain, ayat-ayat itu justru menyimpan pesan-pesan Islam yang inklusif.

Kedua, untuk menjawab pertanyaan adakah di luar Islam jalan keselamatan atau pengampunan, saya ingin memulainya dengan sebuah hikayat. Salman al-Farisi, salah seorang sahabat Nabi ternama, dulunya adalah pemeluk Majusi sebagaimana umumnya orang Persia. Dia lantas bertemu dengan seorang pendeta Nasrani yang mengajaknya menjadi pengikut Yesus dan mengajarinya kitab Injil. Suatu saat, ketika sedang berkunjung ke Baitul Makdis, sang pendeta berkata akan datang masanya seorang nabi pamungkas dari bangsa Arab. Dia berpesan agar Salman beriman dan menjadi pengikutnya bila berjumpa. Selain ada tanda kenabian di punggungnya, ciri lainnya adalah dia menolak sedekah, tetapi menerima hadiah.

Salman, bersama temannya—Ibn Malik, kemudian berangkat ke Madinah. Dia menjumpai Nabi dan mengitaribeliauuntuk mencari tanda kenabian di punggungnya. Nabi mengerti kehendak Salman dan menyingkap jubahnya. Di situ ada cap kenabian. Salman lantas membeli domba dan roti untuk diberikan kepada Nabi. Nabi bertanya, ‘apa ini?’ Dijawab Salman, ‘sedekah.’ Nabi menolak dan menyuruhnya diberikan ke orang lain. Salman lantas membeli lagi roti dan daging dan memberikannya kepada Nabi. Nabi bertanya, ‘apa ini?’ Dijawab, ‘hadiah.’ Nabi menerima dan mengajaknya makan bersama. Salman yakin inilah Nabi yang diceritakan pendeta itu. Dia lantas menceritakan perihal pendeta Nasrani dan teman-temannya. Mereka puasa, shalat, dan percaya bakal datangnya Nabi Muhammad yang diutus. Setelah Salman selesai memuji-muji mereka, Nabi berkata: “Hai Salman, mereka termasuk ahli neraka.” Salman merasa dunia gelap dan sesak dengan jawaban Nabi dan berkata: “Jika mereka menjumpaimu, mereka akan membenarkanmu dan mengikutimu.” Lantas turunlah ayat:

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالنَّصَارَى وَالصَّابِئِينَ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلا خَوْفٌ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ(البقرة: ٦٢)عَلَيْهِمْ

“Sesungguhnya, orang-orang Mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Sabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekuatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”

Nabi lantas memanggil Salman, mengabarkan turunnya ayat ini dan berkata: “Siapa yang mati mengikuti agama Isa dan mati di (zaman) Islam sebelum mendengar risalahku, niscaya dia dalam kebaikan. Tetapi siapa sudah mendengar risalahku tetapi tidak mengimaniku, dia binasa”:

من مات على دين عيسى ومات على الإسلام قبل أن يسمع بي فهوعلى خير. ومن سمع بي اليوم ولم يؤمن بي فقد .(اخرجه الطبري) هلك

Hikayat ini diceritakan oleh Thabari dan as-Suyuthi dalam kitab tafsir mereka yang otoritatif, sebagai sebab turunnya QS. al-Baqarah/2: 62 (Lihat, Ibn Jarîr at-Thabarî, Jâmi’ al-Bayân ‘an Ta’wil Âyi-l Qur’ân. Beirut: Dâr al-A’lâm dan Dâr Ibn Hazm, 2002, juz 1, h. 423-426; Jalâluddin as-Suyûthi, Ad Durrul Mantsûr fit Tafsîr al-Ma’tsûr. Beirut: Dâr al-Kutub al-Ilmiyyah, 2000, juz 1, h. 143-145). Ayat ini mengoreksi jawaban Nabi, menegaskan bahwa mereka (Ahlul Kitab) berhak atas pahala dan kebaikan mereka tidak akan sia-sia.

Menurut Ibn Abbas, ayat ini di-nasakh dengan QS. Ali Imran/3: 85, tetapi tidak menurut Thabari. Mengutip pendapat Ibn Abbas, Ar-Razi menyebut mereka yang beriman kepada Allah sebelum risalah Nabi Muhammad SAW seperti Qass Ibn Sa’idah, pendeta Bahira, Hubaib Ibn Najjar, Zayd ibn ‘Amr ibn Nufail, Waraqah ibn Nawfal, Salman al-Farisi, Abu Dzarr al-Ghifari, dan Negus—punya tempat dan pahala di sisi Tuhan (Muhammad ar-Râzi Fakhruddin, Tafsîr al-Kabîr wa Mafâtih al-Ghaib. Beirut: Dâr a-Fikr, 2005, juz 1 h. 102).

Dalam versi lain yang diriwayatkan Muslim, Nabi bersabda:

عن أبي هريرة عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه قال والذي نفس محمد بيده لا يسمع بي أحد من هذه الأمة يهودي ولا نصراني ثم يموت (رواه مسلم) ولم يؤمن بالذي أرسلت به إلا كان من أصحاب النار

Ayat ini dan hadits Nabi menegaskan dua hal. Pertama, pahala mu’min sebelum datangnya Islam ditetapkan di sisi Tuhan. Kedua, mereka yang terjangkau risalah Nabi wajib tunduk, membenarkan, dan mengikuti. Sepuluh tahun sesudahnya, turun ayat dengan kandungan serupa:

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالصَّابِئُونَ وَالنَّصَارَى مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ
(المائدة: ٦٩)

“Sesungguhnya, orang-orang Mukmin, orang-orang Yahudi, Sabiin dan orang-orang Nasrani, siapa saja (di antara mereka) yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian, dan beramal saleh, maka tidak ada kekuatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”

Dua ayat ini sering dikutip sebagai dalil tentang ajaran Islam yang inklusif. Rashid Ridha, dalam Tafsîr al-Manâr, mengambil kesimpulan berani bahwa syarat keselamatan dan pengampunan adalah dua hal, yaitu iman yang benar dan berbuat baik. Kata Rashid Ridha (Tafsîr al-Manâr, Beirut: Dâr al-Ma’rifah, 1993, juz 1, h. 336):

فالله يقول إنّ الفوز لا يكون بالجنسيّات الدينيّة وإنّما يكون بإيمان صحيح له سلطان على النفس، وعمل يصلح به حال الناس، ولذلك نفى كون الأمر عند الله بحسب أماني المسلمين أو أماني أهل الكتاب، وأثبت كونه بالعمل الصالح مع الإيمان الصحيح.

Kesimpulan serupa diambil al-Ghazali bahwa rahmat dan ampunan Allah akan menjangkau orang beriman dan beramal saleh (Abû Hâmid Muhammad al-Ghazâlî, Faishal al-Tafriqah Baina-l Islâm wa-z Zandaqah. Damascus: Dâr al-Bairuty, 1993, h. 88). Pengampunan tidak berarti tidak diadili dan disiksa. Masing-masing orang akan dihisab sesuai iman, amal, dan perbuatannya. Kata al-Ghazali (ibid., h. 83):

إن الرحمة تشمل كثيراً من الأمم السالفة، وإن كان أكثرُهم يُعرَضون على النار، إما عرضة خفيفة حتى في لحظة أو في ساعة، وإما في مدة، حتى يطلق عليهم بعث النار، بل أقول: إن أكثر نصارى الروم والترك في هذا الزمان تشملهم الرحمة إن شاء الله تعالى، أعني الذين هم في أقاصي الروم والترك، ولم تبلغهم الدعوة.

“Rahmat Allah menjangkau umat-umat terdahulu, meskipun kebanyakan mereka akan dilemparkan (dulu) ke neraka: ada yang disiksa  ringan, disiksa sekejap, sesaat, atau semasa sehingga mereka bisa disebut sebagai delegasi neraka. Menurut pendapat saya, mayoritas umat Kristen Romawi dan Turki pada zaman sekarang tercakup rahmat Allah, insya Allah, yakni mereka yang berada di pelosok-pelosok negeri Romawi dan Turki yang tidak terjangkau dakwah (Islam).”

Islam diyakini sebagai agama yang paling benar, tetapi tidak semua orang terjangkau risalah Muhammad. Menurut al-Ghazali, ada tiga jenis kelompok orang terhadap dakwah Nabi. Pertama, mereka yang sama sekali tidak pernah mendengar dakwah Nabi Muhammad SAW. Meraka akan diampuni. Kedua, mereka yang telah mendengar risalah Nabi beserta bukti-buktinyata tetapi ingkar dan kafir. Mereka ini sesat dan akan disiksa kekal di neraka. Ketiga, mereka yang mendengar Nabi Muhammad, tetapi tidak menerima informasi yang lengkap tentang sifat dan kepribadiannya atau malah memperoleh versi yang buruk sejak kecil tentang Nabi yang pembohong. Mereka, seperti kelompok pertama, juga akan diampuni. Al-Ghazali juga menambahkan kategori lain yaitu orang yang terus mencari informasi tentang Islam (اشتغل بالنظر والطلب) dan tidak ceroboh (لم يقصِّر), tetapi menemui ajal sebelum menerima Islam (ادركه الموت قبل تمام التحقيق). Ia akan diampuni berkat kasih sayang Allah.  

Yang dilaknat oleh al-Qur’an adalah orang kafir yang zalim, congkak, dan mendustakan Nabi setelah melihat bukti-bukti yang nyata (بينة), seperti orang-orang kafir Quraisy dan sebagian Ahlul Kitab pada saat itu. Merekalah diancam akan dilempar ke neraka selama-lamanya, sebagaimana ditegaskan QS. an-Nisâ’/4: 115, 168; QS. al-A’râf/7: 40, QS. al-Baqarah/2: 161-162; dan QS. an-Nabâ’/78: 31-32.

Al-Qur’an menunjukkan bahwa kafir bukan sekadar persoalan doktrin yang sesat (kufur akidah), tetapi juga perilaku jahat dan culas serta congkak dan khianat sebagaimana ditunjukkan oleh Ahlul Kitab pada saat dakwah Nabi. Tidak semua Ahlul Kitab dicela al-Qur’an. Sebagian Ahlul Kitab disebut mukmin dan dipuji, meskipun mayoritas mereka adalah fasik (QS. Ali Imran/3: 110, 199). Mereka yang fasik adalah para pelaku korupsi, yang ‘mengorupsi’ firman Allah dengan melakukan tahrîf (QS. al-Baqarah/2: 75; QS. Ali Imran/3: 86; an-Nisa’/4: 46) dan juga yang memakan harta orang lain dengan batil, rakus, dan kikir (QS. at-Tawbah/9: 34). Terhadap sebagian Ahlul Kitab yang mu’min, baik, dan rendah hati, Allah menjanjikan pahala dan surga (QS. al-Mâidah/5: 82-85). Ahlul Kitab yang belum menerima risalah Nabi Muhammad, tidak boleh dipaksa konversi (QS. al-Baqarah/2: 256). Nabi bahkan menyerukan titik temu teologis (كلمة سواء) yaitu menyembah Allah dan tidak syirik (QS. Ali Imran/3: 64). Mereka yang tidak menunjukkan permusuhan dan berbuat jahat, Islam mengajarkan keharusan berbuat baik dan bersikap adil (QS. al-Mumtahanah/60: 8-9).  

Lantas orang bertanya, lantas apa bedanya Muslim yang taat, yang mematuhi perintah dan menjauhi larangan, dengan non-Muslim yang tidak menjalankanshalat, tidak membayar zakat, tidak puasa dan pergi haji? Al-Qur’an menjelaskan bahwa kedudukan mereka berbeda-beda di akhirat. Mereka akan diadili sesuai dengan amal perbuatannya sebagaimana dijelaskan oleh QS. al-Hajj/22: 17:

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالصَّابِئِينَ وَالنَّصَارَى وَالْمَجُوسَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا إِنَّ اللَّهَ يَفْصِلُ بَيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ  (الحج: ١٧)

“Sesungguhnya (kepada) orang-orang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Sabiin, orang-orang Nasrani, orang-orang Majusi dan orang-orang musyrik, Allah akan memberi keputusan di antara mereka pada hari kiamat. Sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu.”

Orang-orang mu’min yang mengikuti syariat Nabi Muhammad SAW akan diganjar oleh Allah dengan surga dan diberi karunia terbesar untuk ‘menatap’ wajah-Nya. Itulahpuncak kebahagiaan (غاية السعادة) dan kenikmatan (نهاية اللذات) yang diraih hamba Allah yang beriman dan bertakwa (QS. al-A’raf/7: 156). Sementara non-Muslim, menimbang kasih sayang Allah yang melebihi murka-Nya (perhatikan QS. al-An’âm/6: 54), akan mendapat ampunan setelah diadili dan dihukum, kecuali mereka yang congkak, korup, dan menentang risalah Islam setelah jelas baginya bukti dan kebenarannya seperti Abu Jahal dan Abu Lahab.  Mereka kekal di dalamnya.

Jika surga bertingkat-tingkat, surga bagi non-Muslim yang diberi ampunan mungkin lebih rendah tingkatnya dibanding surga bagi Muslim, sebagaimana dinyatakan al-Ghazali. Bisa juga mereka berada di al-A’râf, tempat tertinggi di antara surga dan neraka. Tercakup sebagai penghuni al-A’râf, kata al-Ghazali, adalah mereka yang tidak pernah merima risalah Islam, orang gila dan pengidap keterbelakangan mental, dan anak-anak orang kafir yang meninggal yang tidak pernah melawan maupun patuh kepada Tuhan selama di dunia (Abû Hâmid Muhammad al-Ghazâlî, Ihyâ Ulûmiddîn. Beirut: Dar al-Fikr, cet ke-3, tt, juz 4, h. 32). Hanya Allah yang tahu, dan Dialah yang Maha Berkehendak (فَعَّالٌ لِمَا يُرِيدُ) untuk memindahkan manusia dari neraka ke surga (QS. Hud/11: 106-108).

Takhtim


Saya bukan seorang pluralis universalis yang menyatakan semua agama sama. Saya seorang inklusivis yang meyakini agama saya sebagai jalan keselamatan tetapi tidak menafikan jalan keselamatan agama lain dengan dua syarat kunci: iman dan amal saleh. Keselamatan bertingkat-tingkat menurut al-Ghazali (ibid., h. 26-33). Tingkat tertinggi adalah al-Fâizûn (الفائزون); mereka adalah mu’min arif (العارفون) yang memperoleh kebahagiaan karena iman dan amalnya.

Tingkat kedua adalah an-Nâjûn (الناجون) yaitu mereka yang diselamatkan karena ampunan Allah, tanpa kebahagiaan dan kemenangan (دون السعادة والفوز). Mereka berdosa, tetapi diampuni. Kategori di bawahnya adalah  al-Mu’addzabûn (المعذبون), yaitu sekelompok pendosa yang masih menyimpan secuil iman. Mereka akan diangkat dari neraka setelah tuntas menerima penebusan. Kategori terbawah adalah al-Hâlikûn (الهالكون), yaitu kafir pencela yang akan dilaknat selama-lamanya (الايسين من رحمة الله). Pada akhirnya, berkat keluasan kasih sayang Allah, mereka semua akan masuk surga, kecuali segelintir kafir yang congkak, culas, zalim, dan dusta.

Saya bukan pengikut Zakir Naik yang menyatakan siapa saja yang di luar Islam akan celaka dan tempatnya kekal di neraka. Dalam logika Naik, orang sebaik Bunda Theresa, karena beragama Kristen, sama-sama penghuni neraka seperti Hitler atau Fir’aun. Jika tanpa kualifikasi, logika ini bertentangan dengan muatan QS. al-Baqarah/2: 62, QS. al-Mâidah/5: 62, QS. al-Hajj/22: 17, QS. al-Baqarah/2: 111, dan QS. Ali Imran/3: 199. Lebih adil untuk dikatakan bahwa siapa saja yang percaya Tuhan akan dihisab sesuai dengan amal dan perbuatannya. Setiap bulir kebaikan tidak akan sia-sia di sisi Tuhan, apa pun agamanya. Dan hanya Tuhan yang berwenang menghukum atau mengampuni hambanya yang bersalah.Wallahu a’lam.


Penulis adalah Sekretaris Jenderal PP ISNU

Selasa 18 Juli 2017 9:0 WIB
Pendidikan Berbasis Pancasila
Pendidikan Berbasis Pancasila
Oleh A Muchlishon Rochmat

Dari dulu hingga hari ini, selalu saja ada resistensi terhadap Pancasila sebagai dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bahkan di dalam sejarahnya, ada beberapa kelompok –dengan ideologi yang mereka usung- melakukan pemberontakan terhadap pemerintah yang sah untuk mengganti dasar negara. Partai Komunis Indonesia (PKI) dengan ideologi komunisnya dan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) dengan ideologi Islamnya berupaya untuk mengganti Pancasila. Namun dengan langkah tegas yang diambil pemerintah, mereka bisa dilumpuhkan.

Saat ini, lagi-lagi ada kelompok yang berupaya kembali untuk ‘menggoyang’ Pancasila sebagai dasar negara. Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) adalah salah satu kelompok yang paling getol menyuarakannya. Oleh karena itu, meski agak telat, presiden menerbitkan perpu tentang ormas yang isinya membubarkan ormas yang anti-Pancasila. Ini patut kita apresiasi bersama demi keutuhan negara kita.   

Pancasila sebagai ideologi dan dasar kehidupan berbangsa dan bernegara kita seharusnya kita pelajari, gali, telusuri, dan aplikasikan ke dalam setiap aspek kehidupan kita sebagai warga Negara Indonesia ini. Bukan lagi untuk dipertanyakan, ditolak, ataupun diganti. 

Prof. HAR. Tilaar selalu mempertanyakan tentang arah pendidikan nasional kita. Bagaimana kita mau maju kalau kita tidak mengetahui arah pendidikan nasional kita. Bukankan Bung Karno pernah mengatakan bahwa pendidikan adalah panglima pembangunan suatu bangsa. Kalau panglimanya saja tidak tahu mau kemana, bagaimana nasib kerajaan dan rakyatnya. Sungguh ironi memang, bongkar pasang kebijakan dan arah pendidikan sering terjadi seiring dengan pergantian menterinya. 

Di dalam bukunya Finnish Lesson, Pasi Salberg menasihati kita bahwa untuk membangun suatu pendidikan yang top seperti Finlandia, suatu bangsa tidak bisa meniru kesuksesan sistem pendidikan suatu bangsa, tapi ia harus menggali dan merumuskan sistem pendidikannya sendiri dengan memperhatikan sejarah perkembangan pendidikan, nilai-nilai, dan budayanya sendiri. Maka dari itu, sistem pendidikan bangsa Indonesia haruslah digali dan dikembangkan dari apa yang ‘ada’ di Indonesia sendiri. Dan Pancasila adalah mutiara yang dimiliki bangsa Indonesia. Pancasila adalah saripati nilai-nilai bangsa ini yang diberhasil dirumuskan oleh Bung Karno. 

Ada yang salah dengan pendidikan kita. Tidak sedikit para ahli dan praktisi pendidikan kita yang menyoroti pendidikan kita hanya mementingkan kecerdasan kognitif belaka, otaknya yang dibangun bukan jiwanya. Sehingga banyak outputnya yang tidak mencerminkan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia yang dikenal sopan, santun, ramah, beretika, dan jujur. 

Pendidikan berbasis Pancasila bisa menjadi alternatif yang perlu kita terus upayakan agar arah pendidikan kita jelas. Di dalam Pancasila, ada lima nilai yang perlu terus kita gali; ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, permusyawaratan dan keadilan. Kelima nilai tersebut bisa kita sisipkan, integrasikan, dan formulasikan ke dalam sistem pendidikan kita. 

Pertama, pendidikan yang berketuhanan. Pendidikan yang berketuhanan adalah pendidikan yang mengajarkan sikap kejujuran dimanapun siswa berada. Hal itu didasarkan bahwa Tuhan akan selalu mengawasi dan melihat siapa saja kapanpun dan dimanapun mereka berada. Sehingga tidak akan ada lagi praktik mencontek, jual-beli soal, dan kongkalikong nilai. Mereka dididik untuk bersikap jujur sejak dini.

Kedua, pendidikan yang berkemanusiaan. Paulo Freire pernah mengatakan bahwa pendidikan adalah proses menjadikan manusia. Proses pendidikan menjadikan siswa didiknya sadar akan perannya dia nantinya, bukan hanya mengejar nilai-nilai yang bagus di sekolah semata. Pendidikan yang berkemanusiaan lebih mengedepankan kepedulian siswa terhadap teman, keluarga, lingkungan, dan bahkan bangsanya. Ia akan lebih sadar dengan posisi dan peran yang akan nanti ia sandang.

Ketiga, pendidikan yang mempersatukan atau pendidikan multikulturalisme. Indonesia terdiri dari suku, agama, ras, etnik, budaya dan bahasa yang berbeda-beda. Maka seharunya pendidikan yang dicanangkan haruslah yang mampu mempersatukan, bukan saling curiga dan membeda-bedakan kita. Pendidikan multikulturalisme menjadi sebuah keharusan di Indonesia. Inti dari pendidikan multikulturalisme adalah saling menerima, terbuka, dan mengahargai perbedaan yang ada diantara peserta didik, baik agama, budaya, ras, etnik, bahasa, dan lainnya.

Keempat, pendidikan permusyawaratan. Musyawarah bisa menjadi solusi apabila ada konflik, perselisihan, pertikaian dan permasalahan lainnya. Di dalam dunia pendidikan, nilai-nilai musyawarah bisa diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar. Sehingga mereka tidak menang-menangan sendiri.

Terakhir, pendidikan yang berkeadilan. Pendidikan bukan hanya milik orang yang memiliki (the haves), tapi juga untuk seluruh warga negara. Pemerintah sudah mencanangkan program wajib belajar dua belas tahun, gratis dari SD hingga SMA. Namun sayangnya, wajib belajar yang katanya gratis ini masih saja oknum yang menarik bayaran.  

Pemerintah tentunya harus lebih fokus dan memberi perhatian lebih terhadap sistem pendidikan kita, mengingat pendidikan kita yang masih carut-marut. Sebenarnya tidak susah-susah amat, pemerintah tinggal memanggil para ahli dan praktisi pendidikan untuk duduk bersama-sama merumuskan dan menyelesaikan permasalahan pendidikan yang ada. Tentunya itu harus dibarengi dengan niatan yang tulus untuk memajukan pendidikan Indonesia. Dan saya kira permasalahan pendidikan kita akan terurai kalau pemerintah benar-benar mau membenahinya.


Penulis adalah Wasekjen MPII Pusat, Jurnalis NU Online.

Selasa 18 Juli 2017 5:0 WIB
Tahun Ajaran Baru: Resinergi Tripusat Pendidikan
Tahun Ajaran Baru: Resinergi Tripusat Pendidikan
Ilustrasi.
Oleh Muhammad Makhdum

Tahun pelajaran baru bagi siswa sekolah tepat dimulai hari ini. Artinya, hiruk-pikuk aktivitas dalam dunia pendidikan sekolah mulai bergeliat. Awal tahun pelajaran merupakan momen istimewa, tidak hanya bagi para siswa, tetapi juga bagi para orang tua, dan tentunya para guru dan pihak sekolah. 

Bagi siswa, akan ada sekolah baru, setidaknya kelas baru, teman baru, maupun suasana belajar yang baru. Bagi orang tua, akan ada secercah harapan yang disematkan untuk masa depan putra-putrinya. Bagi para guru dan pihak sekolah, inilah saatnya menyambut gembira tunas-tunas muda, memberikan mereka layanan pendidikan dengan sebaik-baiknya dalam rangka menunaikan tugas yang mulia, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. 

Tahun pelajaran baru merupakan momentum yang tepat untuk membangun kembali sinergitas dalam dunia pendidikan. Lupakan sejenak tarik ulur kebijakan sekolah lima hari atau full day school dengan segala polemiknya. Guru dan sekolah harus kembali fokus pada menciptakan iklim pembelajaran yang menyenangkan, memberikan ruang seluas mungkin bagi pengembangan potensi anak didiknya. 

Penjabaran UUD 1945 tentang pendidikan dituangkan dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003. Pada pasal 3 disebutkan bahwa, “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”

Untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang tepat, ada tiga elemen penting yang tidak dapat dipisahkan, ketiganya harus seiring sejalan, bersinergi dan berkolaborasi, yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat. Ketiga elemen itu disebut dengan tripusat pendidikan. Sinergitas tripusat pendidikan akan mendorong terwujudnya lingkungan pendidikan yang selaras, serasi, dan seimbang demi tercapainya tujuan pendidikan nasional. 

Menciptakan harmoni keluarga

Tempat pendidikan yang pertama bermula dari keluarga. Keluarga adalah tempat pendidikan yang paling otonom. Para orang tua, mau tidak mau, ahli tidak ahli, harus menjadi pendidik bagi anak-anaknya. Dalam ajaran Islam terkenal sebuah adagium “Al-Umm madrasatul ula” bahwa Ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya. 

Pendidikan yang terjadi di dalam keluarga berlangsung sangat alamiah dan wajar. Tanpa kelas, bangku dan papan tulis, serta jadwal yang mengikat, anak-anak mendapatkan pembelajaran dari pengalaman sehari-hari, sehingga dasar-dasar pandangan hidup, sikap hidup serta ketrampilan hidup banyak tertanam sejak anak berada di tengah-tengah orang tuanya.

Dalam dan dari keluarga orang mempelajari banyak hal, dimulai dari bagaimana berinteraksi dengan orang lain, menyatakan keinginan dan perasaan, menyampaikan pendapat, bertutur kata, bersikap, berperilaku, hingga bagaimana menganut nilai-nilai tertentu sebagai prinsip dalam hidup. Intinya, keluarga merupakan basis pendidikan bagi setiap orang. 

Ki Hajar Dewantoro (1961) menuturkan bahwa suasana kehidupan keluarga merupakan sebaik-baik tempat untuk melakukan pendidikan individu maupun sosial. Oleh karena itu keluarga adalah tempat pendidikan yang sempurna untuk melangsungkan pendidikan kearah pembentukan pribadi yang utuh. Dalam hal ini, orang tua memiliki peran yang sangat vital dalam memberikan teladan bagi anak-anaknya. Menciptakan harmoni dalam keluarga adalah langkah paling nyata dalam mewujudkan keberhasilan pendidikan anak-anak (Berns, 2007). 

Konsep pendidikan keluarga dilakukan oleh orang tua terhadap anak atas dorongan kasih sayang dalam bentuk kewajiban dan akan dipertanggung jawabkan dihadapan Tuhan. Secara kodrati, setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci, menjadikannya baik atau buruk, berbudi atau asusila, cendekia atau andia adalah mutlak tanggung jawab orang tua. Di sinilah letak tanggung jawab orang tua untuk mendidik anak-anaknya, karena anak adalah amanat Tuhan yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban.

Maka tak elok jika orang tua menyerahkan sepenuhnya pendidikan anaknya hanya kepada sekolah. Dengan dalih sudah membiayai semua keperluan sekolahnya, orang tua berlepas diri dalam mengawasi aktivitas anaknya. Ironisnya, ketika guru berusaha mendisiplinkan siswa dengan memberikan hukuman, orang tua siswa justru melaporkan guru kepada pihak berwajib dengan tuduhan pelanggaran hak asasi manusia, padahal perilaku anaknya tersebut telah melampaui batas. 

Sekolah yang memanusiakan manusia 

Membangun sekolah, pada hakikatnya adalah membangun manusia. Karena siswa bukan sebuah robot, maka proses pembelajaran, target keberhasilan sekolah, hingga sistem penilaiannya harus manusiawi. Sekolah yang manusiawi adalah sekolah yang adalah yang dibina dan diarahkan oleh guru-guru yang mendidik dengan hati, mampu menghargai berbagai jenis kecerdasan siswanya dan menjembatani kesulitan pemahaman siswa karena berbagai hal menjadi lebih mudah dan diterima.

Sekolah unggulan bukanlah yang menitik beratkan pada the best input, menyeleksi siswa dengan standar tes formal berbasis kognitif dan menyaratkan siswa yang pandai-pandai saja, akan tetapi berbasis the best process, yaitu menciptakan proses pembelajaran yang kreatif dan mampu mengakomodasi berbagai gaya belajar siswa. Penilaian siswa juga harus dilakukan secara autentik, yakni memotret kompetensi siswa secara seimbang dalam ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. 

Peran masyarakat 

Pendidikan dalam masyarakat berlangsung ketika anak-anak untuk beberapa waktu lepas dari asuhan keluarga dan berada di luar dari pendidikan sekolah. Dalam masyarakat, anak berinteraksi dengan anggota masyarakat yang heterogen, benda-benda dan berbagai peristiwa yang akan bersenyawa membentuk pengalaman hidup. Masyarakat perlu mewariskan nilai-nilai, sikap, pengetahuan, keterampilan, dan perilaku positif lainnya agar anak dapat beradaptasi dan melanjutkan eksistensinya.

Kepribadian anak dapat tumbuh dan berkembang sesuai lingkungan sosialnya. Karena kepribadian adalah gejala sosial, maka kepribadian individu bertalian erat dengan budaya lingkungan. Anak yang hidup dalam lingkungan orang-orang berpendidikan (akademisi) cenderung suka belajar, dalam lingkungan yang religius cenderung menjadi tekun beribadah. Demikian juga anak yang berada dalam lingkungan yang keras dan jahat cenderung suka memberontak dan berlaku kriminal. Di tengah merosotnya mentalitas dan moral anak-anak usia sekolah, maka orang tua, guru, dan pemimpin masyarakat harus cermat dalam menciptakan lingkungan sosial yang menguntungkan perkembangan individu (Gunawan, 2000). 

Urgensi resinergi 

Realitas tergerusnya mentalitas dan moral anak sekolah mengharuskan adanya resinergi tripusat pendidikan dalam rangka mengubah wajah pendidikan ke arah yang lebih baik. Hal paling mendasar yang perlu diperhatikan yaitu adanya partisipasi aktif keluarga, sekolah, dan masyarakat sesuai dengan perannya masing-masing.

Partisipasi tripusat pendidikan akan sangat menentukan masa depan anak bangsa. Dalam kerangka teoritisnya, lingkungan keluarga meletakkan dasar-dasar pendidikan di rumah tangga, terutama dalam segi pembentukan kepribadian, nilai moral, dan agama sejak kelahirannya. Lingkungan sekolah dapat memperkaya pengalaman belajar dengan berbagai disiplin ilmu dan keterampilan.

Orang tua mengawasi dan menilai hasil didikan sekolah dalam kehidupan sehari-hari, sedangkan lingkungan masyarakat ikut berperan dalam mengontrol, membina serta menciptakan lingkungan yang kondusif dan bersahabat. Jika bisa dilakukan, resinergi adalah kado manis di awal tahun pelajaran baru. 

Penulis adalah pemerhati pendidikan, saat ini mengajar di SMP Negeri 2 Tambakboyo, Kabupaten Tuban, Jawa Timur.
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG