Innalillahi wainna ilahi rajiun, Mustasyar PBNU KH Ahmad Syatibi Syarwan wafat, Jumat (15/9), pukul 12.00 WIB. Lahul fatihah...::: NU Online memasuki hari lahir ke-14 pada 11 Juli 2017. Semoga tambah berkah! ::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) :::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id :::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Selamatan Desa dan Halal Bihalal, Budaya Asli Indonesia

Senin, 17 Juli 2017 15:05 Daerah

Bagikan

Selamatan Desa dan Halal Bihalal, Budaya Asli Indonesia
Probolinggo, NU Online
Selamatan desa serta halal bihalal adalah dua budaya yang sangat kental dengan sejarah lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Keduanya adalah budaya asli Indonesia yang tak lekang oleh zaman.

Hal tersebut disampaikan Mustasyar PCNU Kabupaten Probolinggo H Hasan Aminuddin saat menghadiri selamatan desa sekaligus halal bihalal Desa Jambangan, Kecamatan Besuk, Kabupaten Probolinggo, Jumat (14/7) sore.

Dalam kesempatan tersebut Hasan memberikan wawasan tentang asal muasal halal bihalal. Menurutnya, KH Abdul Wahab, seorang tokoh penting Nahdlatul Ulama (NU) sekaligus pendiri Pondok Pesantren Tebuireng adalah pelopor budaya halal bihalal pada tahun 1948 silam.

“Oleh sebab itu, kita masyarakat NU harus bangga dengan budaya ini dan sebagai penerus maka kita wajib untuk meramaikan kegiatan halal bihalal serta mempertahankannya sampai kapan pun,” katanya.

Menurut Hasan, ada korelasi yang kuat antar budaya halal bihalal dan selamatan desa ini yakni untuk memperkuat ukhuwah Islamiyah dan hablumminallah, karena hikmah dari selamatan desa adalah berdoa bersama untuk kemakmuran suatu desa.

“Senjata utama umat Islam adalah doa. Dan doa dari para sesepuh, alim ulama dan para habaib dalam tiap selamatan desa tentunya akan membawa barokah. Karena doa mereka istijabah bagi desa ini,” jelasnya.

Menyikapi tentang fenomena bergesernya akhlakul karimah generasi penerus bangsa pada era globalisasi ini, Hasan menyebut kurangnya kontrol dan teladan dari orang tuanya.

“Berilah contoh yang baik dalam kehidupan sehari-hari. Ajaklah mereka duduk bersama dan bicaralah dari hati ke hati agar apa yang kita sampaikan bisa masuk dan mengena pada hatinya. Insyaallah mereka akan mengingatnya sampai kapan pun,” terangnya.

Seiring dengan pesatnya peredaran gadget dengan segala fitur-fitur dan game yang disukai anak-anak saat ini pun diakui Hasan akan membawa dampak negatif bagi mereka. Dalam kesempatan itu Hasan memberikan solusi terbaik bagi para orang tua dalam menghadapi tren ini.

“Jangan dilarang, namun batasi dengan waktu yang jelas bagi anak-anak kita. Misalnya hanya Sabtu sampai dengan Minggu saja untuk bermain gadgetnya. Kemudian antarkan mereka mengaji Al-Qur'an di TPQ ataupun di mushala tiap hari selepas sekolah. Dengan menyibukkan mereka seperti ini keinginan mereka untuk memainkan gadgetnya akan teredam,” pungkasnya.

Sementara Penjabat Sementara (Pjs) Kepala Desa (Kades) Jambangan Ali Munip sangat mengapresiasi sinergitas antara pemerintah desa dan kecamatan bersama organisasi kemasyarakatan yang ada di tingkat kecamatan seperti GP Ansor dan Banser, sehingga giat yang melibatkan  seluruh elemen ini berjalan lancar. (Syamsul Akbar/Mahbib)